Bab 1

Ruangan itu begitu pengap, tampak sesosok tinggi dengan tubuh atletis tengah menghajar seseorang di depannya. Tapi yang cukup menyebalkan, walau sudah di pukul sedemikian rupa, sumpah serapah tetap saja keluar dari mulut si pesakit.

"Sekali lagi aku tahu kamu mengusik panti asuhan itu, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang !" Ancam Dru,salah satu anak buah Ryuu, pemimpin Red Eagle.

Setelah mengatakan hal itu, sosok itu melangkah pergi, meninggalkan laki-laki yang di tengah kesakitannya masih menyumpah serapah. Masih di dengarnya suara pistol menyalak sebelum pintu di tutup, sekedar menakuti tanpa membunuh.

Sosok itu melangkah keluar dari rumah yang juga memiliki ruang rahasia sebagai markas dari Red Eagle, organisasi rahasia yang diikutinya, yang sudah dianggap sebagai keluarga baginya.

Dru menaiki motor besarnya, menaiki kuda besi itu menuju tempat favoritnya.Sebuah tanah kosong yang sepi, jauh dari pemukiman. Menatap bintang, merindukan keluarga aslinya yang entah dimana.

Dru duduk di atas motor, menatap pekatnya langit malam dengan tatapan tajam, seperti malam-malam yang telah berlalu. Tangannya terlihat masih berdarah seusai bertarung melawan beberapa orang yang masuk ke wilayah mereka dan mengacau pada panti asuhan yang berada di bawah pengawasan mereka. Sebelum akhirnya menawan pemimpinnya yang habis dihajarnya tadi. Tangannya sempat terkena sabetan pisau musuh. Hingga ia terpaksa melukai balik musuhnya walau tidak sampai mati, tapi cukup membuat jera.Sedangkan pistol hanya digunakan untuk menakuti saja. Ryuu tidak mengijinkan ada korban nyawa jika tidak mendesak. Pemimpinnya itu makin bijak dalam memimpin. Semua bisnis dijalankan dengan baik, penghasilan bersih kelompok mereka, dari beberapa usaha yang dijalankan. Tapi jual beli senjata tetap dijalankan, mereka mendapat pasokan yang diawasi langsung oleh Ryuu.

Dru menarik nafas, dunia hitam yang digeluti semenjak masih berusia empat belas tahun. Sebenarnya Devan atau yang lebih dikenalnya sebagai Ryuu, sudah berusaha menjauhkan dirinya dari dunia yang tidak akan bisa ditinggalkannya jika sudah masuk ke dalamnya. Tapi bersama Devan, serta Scarlett yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri, dan juga para saudara di organisasi membuatnya nyaman. Dru seperti menemukan saudara yang tidak dimilikinya selama ini.

Dru atau tepatnya Drupadi, dibesarkan di panti asuhan sejak masih bayi, tidak mengenal siapa orang tuanya. Saat berusia sembilan tahun, diangkat anak oleh suami istri yang terlihat baik, tapi malah memperlakukannya dengan sangat buruk. Saat Beranjak remaja, dirinya hendak dijamah oleh Ayah Angkatnya, saat itu Devan yang dikenalnya sebagai Ryuu, dan juga Scarlett yang menolongnya.Scarlet Menghabisi Ayah angkatnya, di depan matanya tanpa ampun. Kematian mengenaskan dengan leher terkena pisau yang cukup dalam.

Semenjak hari itu, ia selalu ingin bersama Devan dan juga Ryuu. Dengan kepintarannya, ia bisa melacak keberadaan Ryuu dan juga Scarlett. Ia yang dengan cepat juga mengetahui Identitas Ryuu.Memaksa dua sahabat itu mengajaknya serta.

Karena hal itu juga ia masuk untuk mengambil jurusan yang berhubungan dengan komputer dan segala perangkatnya. Dia dipercaya untuk memprogram dan juga meng hack program musuh. Tapi selain itu, Dru juga belajar bagaimana berteman dengan aliran listrik. Serta segala macam keterampilan yang harus dikuasai pengawal terlatih.

Satu-satunya benda yang dimilikinya aalah cincin dengan model dua tangan memeluk yang saat ini sudah sangat pas di jarinya. Cincin itu memiliki simbol angka yang tidak ia pahami, tertulis di baliknya.Menurut kepala panti asuhan, itu adalah benda yang ditinggalkan bersama dirinya saat ia ditemukan di depan panti asuhan.

Dru menyembunyikan benda itu dengan baik, sehingga orang tua angkatnya yang brengsek tidak mengetahuinya. Pergi dengan orang tua angkat adalah keinginannya, jadi dirinya yang harus bertanggung jawab akan hidupnya.

"Akhhhh ...!"

Ketenangan Dru terganggu saat mendengar teriakan kesakitan .Ia melihat sekelompok orang yang sepertinya sedang mengejar seseorang . Mereka terlihat bertarung dengan tidak imbang. Satu melawan enam orang bersenjata.

Dru menyipitkan kedua netranya untuk melihat dengan jelas. Tampak sosok pemuda yang dikeroyok tidak imbang. Dru malas ikut campur yang akan menyebabkan ketegangan.

Shit !" Dru menyumpah serapah saat melihat si pemuda yang berlari ke arahnya dengan wajah babak belur, dan tunggu ... Lengannya robek dan banyak mengeluarkan darah. Suasana tenangnya benar-benar terganggu saat ini.

"Tolong aku," ucap si pemuda pada Dru. Belum sempat Dru menjawab tiba-tiba dari arah datangnya si pemuda, enam orang yang mengejar si pemuda berlari juga ke arah mereka.

"Tolong aku," ucap si pemuda lagi pada Dru, yang segera mendengus kesal. Ia paling benci berurusan dengan perkelahian yang bukan bagian dari tugasnya.

"Bukan urusanku !" Ucap Dru hendak pergi.

"Aku akan membayarmu, berapapun yang kamu mau." Si pemuda memberikan penawaran yang dibalas gelengan Dru.

"Tolonglah," ucap si pemuda lagi dengan wajah putus asa.

"Hei ... Minggir Lah, kami tidak ada urusan denganmu." Ucap Laki-laki dengan tato di leher segera maju untuk mendorong Dru.

Karena dorongan dari si lelaki, hampir saja Dru jatuh dari atas motor. Untung dia sigap menjaga posisinya.

Dru yang kesal dan juga bercampur kasihan, pada akhirnya turun dari motor, dan menatap tajam ke arah si pemuda.

"Pergilah," ucap Dru pada si pemuda. Tapi belum sempat si pemuda pergi, tiba-tiba enam orang penyerang segera maju bersamaan untuk menyerang.

Dru dengan sigap menarik si pemuda agar bersembunyi di belakang punggungnya, lalu menyapukan tendangan dan juga pukulan pada si penyerang saat mereka mulai menyerang.

Perkelahian yang tidak imbang karena mereka kalah jumlah. Tapi Dru bukan petarung kemarin sore. Empat orang berhasil dilumpuhkannya dengan pukulan yang telak. Setelah melumpuhkan seorang lagi,Dru mulai lengah. Salah seorang yang belum dilumpuhkan segera maju menyerangnya dengan cepat.

"Bret !" Suara pakaian sobek dengan darah yang mengucur. Lengannya terluka akibat sabetan pisau.

"Ayok cepat naik, teriak si pemuda yang sudah menyalakan kuda besi milik Dru. Dengan cepat Dru berlari setelah dengan sekuat tenaga menumbangkan lawan terakhir yang tadi menyerangnya.

Si pemuda menaiki motor dengan kencang.

Sementara itu si penyerang terlihat marah setelah mangsanya lepas.

"Sial !kalau boleh menembak, aku sudah menembak anak sialan itu !" Pria dengan tato di leher mengumpat. Tapi mereka hanya ditugaskan untuk membawa target dalam keadaan hidup.

Sementara itu si pemuda membawa motor hingga tiba di depan sebuah rumah dengan pagar kokoh.

Dru turun dari motor begitu berhenti.

"Terimakasih banyak, jika kamu tidak ada, mungkin aku sudah mati," ucap pemuda di depan Dru terdengar sangat tulus. Sedangkan Dru menanggapinya dengan dingin.

"Masuklah, aku akan mengobati lukamu," ucap si pemuda lagi yang dibalas gelengan Dru yang segera menaiki motornya kembali. Helm nya entah hilang dimana. Mungkin terjatuh di tempat tadi. Tapi dia sudah tidak perduli.

"Aku mohon, biarkan Dokter keluarga mengobati lukamu." Si pemuda masih kekeuh ingin Dru masuk. Tapi dengan cuek, Dru segera pergi.

Si pemuda yang bernama Kendra itu, hanya menghela nafas panjang. Berterimakasih dan berjanji dalam hati akan membalas kebaikan pemuda yang sudah menolongnya.

Dia sendiri bingung saat sedang berpesta di club bersama beberapa teman-temannya, tiba-tiba dirinya dibawa pergi oleh sekelompok orang yang tidak dikenalnya. Karena melawan dan berusaha kabur, berakhir dengan dirinya yang babak belur dihajar tanpa ampun. Dengan ilmu bela diri yang pas-pas an, sangat mudah bagi penculik membekuknya. Beruntung dirinya bertemu dengan pemuda tadi.

Kendra berjalan masuk ke dalam rumah, lalu masuk lewat pintu belakang. Ia segera menelepon Dokter Keluarga untuk mengobati lukanya. Beruntung kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah, sehingga tidak ada yang akan menceramahinya.

Setelah mendapat perawatan dari Dokter, Kendra segera tidur. Sepertinya besok, ia harus menugaskan seseorang untuk menyelidiki dalang dibalik aksi penculikan nya tadi. Sudah dua kali dalam satu bulan dirinya diserang demikian. Sedangkan Bodyguard yang biasa menjaganya sedang terluka akibat perkelahian saat penculikan pertamanya.

Papa nya sudah melarangnya keluar rumah untuk sementara waktu, tapi malam ini ia nekat pergi, atas bujukan teman-temannya.

Kendra menghela nafas panjang lalu mulai terlelap, pengaruh dari obat yang diminumnya.

Bab 2

Memasuki rumah milik Kai, bos yang selama ini dikawalnya,  terasa nyaman. Tampak Kai sedang bersama Arka, putranya dan juga Nadine, ibu kandung dari Arka. Dru tersenyum saat melihat Nadine. Kekasih dari Kai, yang sebentar lagi akan menikah dengan bos nya itu.

Kai adalah sepupu dari Devan, beberapa waktu ini, Dru ditugaskan untuk mengawal Kai. Sebenarnya Devan enggan, karena merasa lebih nyaman jika Dru yang menjaga putra kembarnya. Tapi Kai meminta khusus, sehingga dirinya mau tidak mau mengiyakan. Kai lebih nyaman dijaga oleh Dru daripada dua Bodyguard yang mengawasinya dari jauh.

"Kamu kenapa ?" Tanya Kai dan juga Nadine bersamaan dengan kening berkerut saat melihat tangan dan juga lengan Dru yang terluka. Apalagi Nadine terlihat lebih khawatir. Bukan sekali ini saja dirinya melihat Dru terluka seperti ini.

Dru tidak menjawab, hanya segera duduk. Nadine segera mengambil kotak p3k. Membantu Dru mengobati lukanya. Setelah selesai seadanya, Nadine meminta Kai untuk mengantar Dru ke rumah Adrian.Pergi ke rumah Adrian adalah pilihan tepat, karena Dokter Adrian bisa mengobati luka Dru dengan lebih baik.

Dru bungkam saat Adrian menginterogasinya tentang luka di tangan dan juga di lengannya.

Freya dan Nadine hanya menghela nafas melihat Dru. Gadis manis yang terlihat seperti laki-laki itu tampak tenang dengan keadaannya.

Tidak ada teriakan kesakitan yang keluar dari bibirnya saat Adrian mengobatinya.

"Aku tadi menolong seorang pemuda yang diserang," ucap Dru pelan setelah Adrian selesai mengobatinya.

Kai menganggukan kepala, biasanya Dru paling malas ikut campur urusan yang bukan tugasnya. Apalagi itu terkait perkelahian, yang bisa saja akan berbuntut panjang.

"Biasanya kamu malas ikut campur, atau kamu mengenal orang itu ?" Tanya Kai dengan kening berkerut.

"Sepertinya mereka pembunuh bayaran yang ditugaskan menculik si pemuda yang aku tolong tadi," ucap Dru tenang yang dibalas anggukan kepala Kai.

"Sudah-sudah, jangan tanya-tanya lagi. Biarkan Drupadi istirahat dulu.Kita pulang ya, kamu istirahat dan jangan melakukan apapun yang berbahaya," ucap Nadine tegas lalu segera mengajak Dru setelah berterimakasih dan berpamitan pada Adrian dan Freya.

"Terimakasih," ucap Dru pelan pada Adrian dan Freya yang membalasnya dengan senyum. Gadis manis itu bahagia walau terluka. Masih ada yang sayang padanya, walau dirinya sendiri tidak mengenali keluarga aslinya.

"Besok aku akan ikut pada acara jamuan makan yang kamu datangi," ucap Dru saat di dalam mobil.

"Tidak usah, aku bisa menjaga diriku. Kamu istirahatlah yang banyak," ucap Kai yang dibalas gelengan Dru.

"Kali ini tolong dengarkan," ucap Nadine membelai lembut rambut Dru yang menghela nafas panjang.

"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil," ucap Dru lagi masih bersikeras. Kai hanya diam saja, berdebat dengan Dru tidak akan pernah menang jika menyangkut tugasnya.

"Hmm gadis keras kepala," gumam Kai yang ditanggapi senyum Nadine dan juga Dru.

***

Hari berganti,tampak Kai rapi dengan jas formalnya. Demikian juga dengan Dru,yang mengenakan jas formal, terlihat tampan.  Ia tidak terlihat seperti seorang gadis dalam kodratnya.

Dru mengemudi dalam diam, demikian juga Kai yang asyik dengan ponselnya.

"Dru ...." Kai memanggil Dru yang mendapat anggukan kepala.

"Nanti jangan berdiri jauh dariku, duduk saja di dekatku. Aku tidak nyaman diawasi dari kejauhan. Kalau tidak mau, lebih baik tidak usah mengikutiku," ucap Kai yang mendapat senyum tipis dari Dru. Bos nya ini selalu saja begitu, padahal dirinya lebih nyaman mengawasi dari jauh.

Setelah memarkir mobil pada tempat yang sudah disediakan, Dru mengikuti Kai memasuki gedung yang akan menjadi tempat makan malam. Tampak Devan juga hadir. Kai melangkah ke arah Devan, lalu duduk di samping sepupunya itu. Dru tampak kikuk karena Kai memintanya untuk duduk. Tentu saja dia merasa canggung jika harus duduk, dalam keadaan bertugas. Apalagi ada Devan, pria dingin yang merupakan bos utama, pimpinan Red Eagle dengan nama samaran Ryuu.

"Duduk saja dan jangan kaku begitu," ucap Devan lalu tersenyum manis pada Dru yang mengangguk sambil tersenyum.

Kedua netra Dru tampak berkeliling meneliti ruangan yang di tata demikian bagus. Tapi tatapannya berhenti pada seseorang yang terus menatapnya tanpa berkedip. Duduk disana pemuda yang dua hari lalu di tolongnya. Masih terdapat bekas luka pada bibir bawah si pemuda. Tapi wajah babak belurnya sudah hilang, berganti wajah tampan yang lebih pada cantik. Indah tanpa cela, hanya luka itu saja yang membuatnya sedikit ternoda.

Dru segera berpaling, tidak nyaman di tatap begitu tajam. Ingin rasanya dia menghampiri si pemuda, lalu menghajarnya hingga babak belur.

"Aish ... sial, kenapa dia terus menatapku, aku akan buat perhitungan dengannya nanti," gumam Dru pelan yang masih dapat di dengarkan oleh Kai.

"Kamu marah sama siapa ? Mau menghajar siapa lagi ?" Tanya Kai yang mendapat senyum cengengesan dari Dru.

Selesai acara makan malam dan pembahasan beberapa hal. Tampak Devan berjalan ke arah laki-laki yang berdiri bersama pemuda yang di tolong oleh Dru. Karena Kai mengikuti Devan, tentu saja Dru juga mengekor dari belakang.

"Halo tuan Tanaka," sapa Devan pada laki-laki paruh baya yang masih tampak gagah dengan senyum yang manis. Laki-laki itu menyambut uluran tangan Devan dan juga Kai.

"Ini bodyguard baru anda ?" Tanya tuan Tanaka pada Devan, karena melihat Dru hanya terdiam di samping Kai.

"Ini keluarga," ucap Kai sebelum Devan membuka mulutnya. Yang dibalas anggukan tuan Tanaka tanda mengerti.

Dru melirik pemuda yang berdiri di samping tuan Tanaka yang masih juga menatap padanya.

"Papa ... pemuda ini yang sudah menolongku," ucap si pemuda yang berada di samping tuan Tanaka. Tentu saja Kai dan Devan kaget. Kai mengaitkan dengan keadaan Dru dua hari lalu.

"Terimakasih banyak," ucap tuan Tanaka tulus sambil membungkukkan badannya tanda penghormatan. Dru membalas membungkuk sebagai sopan santun.

"Oya kenalkan, ini Kendra putra bungsuku, ia baru kembali dari luar negeri satu bulan yang lalu," ucap tuan Tanaka memperkenalkan si pemuda pada Kai dan juga Devan.

Si pemuda segera menyalami dua pria yang diperkenalkan oleh Papanya dengan penuh hormat.

Setelah berbasa-basi Devan segera berpamitan diikuti Kai dan juga Dru yang berjalan di belakang Kai. Dari gerakan Dru, tuan Tanaka sudah dapat menebak jika pemuda yang bersama dua orang yang dihormatinya itu adalah seorang bodyguard, dilihat dari gaya berpakaian dan juga gerak-geriknya.

"Aku menginginkan bodyguard seperti itu," ucap Kendra menatap punggung Dru yang menjauh.

"Apakah Papa bisa usahakan ?" Tanya Kendra pada sang Papa yang menggeleng dan mengangkat bahu.

"Jika itu adalah orang kepercayaan Devan atau Kai, maka akan sulit mendapatkannya. Mereka dilatih dengan kesetiaan yang tiada duanya." Setelah mengucapkan hal itu, tuan Tanaka segera meninggalkan putra kesayangannya itu, untuk menyapa beberapa koleganya.

Kendra menarik nafas panjang. Ia mencari orang seperti pemuda itu, para bodyguard yang bersamanya sering berganti-ganti. Terkadang dia yang tidak cocok atau bodyguardnya yang tidak merasa nyaman dengannya. Saat ini dirinya sudah memiliki seorang bodyguard, tapi entah mengapa rasanya tetap tidak nyaman.

Persaingan bisnis mengharuskannya memiliki bodyguard untuk berjaga-jaga akan keselamatannya.

***

Kendra sedang bersantai di bar bersama teman-temannya, saat kedua netranya tidak sengaja melihat pemuda  yang pernah menolongnya.  

Kendra segera berjalan ke arah si pemuda sambil membawa minumannya.

Kendra duduk di kursi yang kosong di samping kursi Dru.

"Kita bertemu lagi," ucap Kendra pada Dru yang hanya memutar kepalanya untuk melihat siapa yang menyapanya, lalu  kembali pada posisi semula dengan gaya cuek.

Dru menyesap wine yang ada di tangannya tanpa memperdulikan Kendra yang masih duduk di sampingnya.

"Aku ingin berterimakasih karena kamu sudah menyelamatkan nyawaku. Aku orang yang tidak bisa hidup dengan memiliki hutang budi pada seseorang. Berapa uang yang kamu minta, maka akan aku berikan," ucap Kendra masih menatap ke arah Dru.

"Cukup jangan ganggu aku, anggap saja kita tidak pernah bertemu. Itu caramu berterimakasih padaku dan caramu membayarku. Aku menolongmu bukan karena aku ingin, tapi keadaan yang mendesak." Dru meneguk habis wine nya,  lalu segera meninggalkan meja bartender. Berjalan pergi tanpa memperdulikan Kendra yang kesal di buatnya. Baru kali ini melihat orang yang demikian keras kepala dan menolak sesuatu hal tentang uang. Kendra makin penasaran pada sosok pengawal Kai tersebut.

Bab 3

Seorang gadis cantik berdiri di depan cermin, rambut panjangnya terurai dengan sedikit gelombang. Dandanan yang sempurna untuk wajahnya. Menggunakan pakaian  mewah dan berkelas,tidak lupa high hells melengkapi kesempurnaan penampilannya.

"Dru, panggil seorang pria yang mengenakan jas formal sambil tersenyum ke arahnya. Siapa yang menduga jika itu adalah Drupadi, bodyguard yang selama ini terlihat manly, menutupi sifat feminim yang dimilikinya. Wig yang digunakan mempertegas penampilan cantiknya.

"Aku sudah siap," ucap Drupadi yang malam ini harus berdandan feminim, untuk menyelidiki sesorang yang diklaim berkhianat pada organisasi.

"Jangan tersenyum mengejek begitu padaku Theo Jelek...!" Umpat Drupadi sambil meninju pelan lengan theo, rekan sesama bodyguard.

Theo hanya tertawa pelan lalu mengangkat dua jempol.

"Cantik banget nona Drupadi, tapi jalannya juga harus anggun ya." Setelah memuji, Theo kembali menggoda Drupadi yang kali ini melotot  kesal.

Drupadi berjalan anggun dengan high heelsnya. Tidak sia-sia belajar menggunakan sepatu menyebalkan ini selama satu bulan bersama Nadine. Tentu saja alasan yang dikemukakan pada Nadine adalah ingin tampil feminim. Nadine dengan senang hati mengajarinya. Nadine juga  menyewa model prefesional kenalannya untuk membantu Drupadi.

Masuk dalam suasana pesta dengan menggunakan Priority pass Card  yang diberikan Devan. Dru tentu saja tidak datang sendiri, karena beberapa bodyguard dan sniper mengawasinya dari kejauhan.

Ia menyapa tamu yang juga menyapanya. Mengambil segelas wine, lalu berjalan santai untuk berkeliling.

Senyum manis dan juga gaya anggunnya sangat sedap di pandang. 

Sebenarnya ia risih ditatap demikian oleh beberapa pria yang disapanya.

Saat suasana lengah, Dru dengan cepat naik ke lantai atas. Mengendap-endap menuju ruangan yang menjadi targetnya. Pintu tidak sepenuhnya terkunci, dengan cepat Dru masuk ke dalam setelah melepaskan High heelsnya.

Tampak tiga orang pria di dalam ruangan, terkejut melihat kehadiran Dru. Masing-masing mengeluarkan pistol yang diarahkan padanya. Dru mengangkat tangan.

"Hmmm ... Sialan, ternyata benar, ada pengkhianat di dalam organisasi!" Umpat Dru saat melihat dari ketiga orang itu, salah satu adalah rekannya. Sedangkan dua orang lagi adalah musuh mereka, yang selalu ingin menguasai wilayah yang berada di bawah pengawasan Red Eagle.

"Hahaha ... siapa kamu gadis cantik ?kamu salah masuk kamar, tapi karena sudah datang, mari kita bermain," ucap salah seorang yang tidak dikenal oleh Dru dengan senyum mesum.Karena yang datang adalah gadis cantik, mereka segera meletakan pistol kembali.

"Hmm ... Dru tersenyum samar, lalu menatap kepada pria plontos yang merupakan pengkhianat dalam organisasi mereka.Si pria memperhatikan Dru dengan tatapan menyelidik.Saat menyadari siapa yang ada di hadapannya, ia kembali mengarahkan pistolnya mengancam Dru yang terlihat tanpa senjata.

"Hmm ... Sudah sadar ?" Tanya Dru dengan smirk. Begitu selesai Dru berucap, dua orang lagi juga ikut mengangkat senjatanya kembali.

"Kamu akan mati hari ini, jadi apa yang mau dilaporkan," ucap Pria plontos, si pengkhianat yang dimaksud oleh Dru.

"Kamu terlalu bodoh untuk bisa menembak kepalaku," balas Dru , lalu dengan gerak cepat melempar Shuriken miliknya, hingga ketiga orang tersebut terkapar dan menjerit kesakitan, dengan tangan terluka sebelum sempat menembak.

Dru menggunakan sarung tangan,lalu mengambil pistol milik si plontos pengkhianat. Memberikan pistol itu kembali pada si plontos.

"Kamu yang akhiri atau aku yang mengakhiri," ucap Dru dengan dingin pada pengkhianat di depannya.

Gara-gara pengkhianatan si plontos ini juga, nyawa beberapa rekannya hampir saja hilang sia-sia. Dia membocorkan pergerakan Red Eagle pada salah satu musuh Ryuu, yang menginginkan wilayah untuk pengiriman senjata ilegal.

Si plontos terlihat sangat ketakutan, ia sangat paham sekali maksud gadis di depannya. Gadis dengan aura dingin yang membuat siapapun enggan berada di dekatnya.

"Aku akan membayarmu berapapapun, asal tolong lepaskan aku," mohon si plontos dengan penuh ketakutan. Walau sangat tidak mungkin menggoyahkan hati gadis di depannya. Hukuman pengkhianat adalah mati. Saat ini si plontos hanya bisa mengutuk dirinya yang mudah terpengaruh uang yang lebih banyak, padahal Ryuu sudah menjamin hidup mereka dengan begitu baik.

Dru menatap tajam ke arah si plontos, karena tidak kunjung meledakan pistol ke kepalanya sendiri, Dru yang tidak sabar, segera mengarahkan tangan si plontos yang memegang pistol.

Dorrr!

Suara pistol menyalak, disusul si plontos yang ambruk bersimbah darah.

"Ada apa ini ?" Teriak seorang pria yang baru masuk ke dalam ruangan.

"Bunuh dia !" Ucap salah seorang pria yang terluka pada anak buahnya yang baru datang.

Perkelahian tak bisa terelakan, Dru sedikit merobek gaun yang digunakan agar mudah bergerak.lalu menjadikan potongan gaun sebagai masker, menutupi mulut hingga hidungnya, Saat beberapa orang lagi datang, ia dengan cepat melancarkan pukulan pada si pria, dan menikam kaki si penyerang menggunakan kunai, lalu cepat kabur.

Berlari dengan cepat untuk menghindari lawan mengenalinya. Saat berada di atas balkon, ia segera naik ke atas pembatas untuk melompat ke bawah.

"Hei ... berhenti !" Teriak seseorang lalu cepat menarik badan Dru sebelum melompat.

"Sial !" Umpat Dru kesal pada Pria yang pasti mengira dirinya akan bunuh diri. Sudah tidak ada waktu, karena para pengejar terlihat berlari ke balkon. Dru dengan cepat menarik si pemuda, lalu memeluknya dengan erat, serta menenggelamkan wajahnya pada cerukan leher si pemuda.

"Tolong aku,bersandiwaralah sebagai kekasihku," bisik Dru pada si pemuda yang segera melepas jasnya, lalu memakaikan pada Dru, dan juga membalas memeluk Dru erat.

Para pengejar hanya melihat sepasang kekasih yang sepertinya sedang dimabuk cinta.

Mereka segera pergi, karena merasa yang dikejar telah pergi.

Dru segera melepaskan pelukannya begitu merasa suasana aman. Jantungnya sedikit berdebar, baru sekali ini dirinya dipeluk demikian erat oleh seorang pemuda.

"Terimakasih, ucap Dru pada si pemuda. Tapi kedua netra Dru segera membola mengetahui siapa yang sudah menolongnya. Pemuda itu adalah Kendra, pemuda yang pernah ditolongnya. Mereka impas sekarang. Tapi Kendra tentu saja tidak bisa mengenalinya yang masih memakai masker dari potongan gaunnya.

"Terimakasih," ucap Dru lalu dengan cepat melompat ke atas pembatas untuk segera melompat dan kabur.

Tapi lagi-lagi Kendra dengan cepat menangkap tangannya, hingga Dru bergelantungan sambil memegang tangan Kendra.

"Jangan bunuh diri, ceritakan masalahmu,aku akan membantu," ucap Kendra terlihat khawatir pada gadis yang berusaha ditolongnya. Dru ingin sekali tertawa, tapi di tahannya.

Di tatapnya manik mata Kendra.

"Lepaskan aku, tidak akan terjadi apapun, aku tidak akan mati. Aku hanya sedang kabur. Percayalah padaku," ucap Dru meyakinkan Kendra yang menggeleng.

Akhirnya Dru mengambil Kunai, sedikit melukai tangan Kendra yang refleks melepaskan pegangannya. Membuat tubuh Dru melesat ke bawah.

"Maafkan aku," gumam Dru saat sudah mendarat di bawah sambil melihat ke atas.

Kendra yang berdiri di atas balkon, memegang tangannya yang berdarah sambil melihat ke bawah, memastikan wanita yang ditolongnya baik-baik saja. Saat melihat wanita dengan gaun robek itu terlihat baik-baik saja dan berlari menembus malam, Kendra tersenyum senang.

"Wanita misterius," gumam Kendra lalu melangkah pergi.

Dirinya kebetulan datang menemani Tuan Tanaka, Papanya. Tapi malas dengan basa-basi yang tidak penting membuatnya berjalan ke atas balkon dan akhirnya bertemu wanita misterius tadi. Wangi parfum lembut si wanita masih dapat diingatnya dengan jelas.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED