Menikah adalah sebuah pilihan hidup, semua memimpikan pernikahan yang sempurna. Memiliki pasangan dan jalan hidup yang sesuai keinginan hati. Akan tetapi, ketika Tuhan memberikan pasangan dan jalan hidup yang penuh liku, apakah kita harus menolaknya?
Siapa pun tak ingin memiliki pasangan yang bersifat buruk, tidak ada yang ingin hidup susah. Sejatinya, wanita ingin memiliki suami yang setia dan perhatian. Tapi tidak untukku.
Sebuah takdir yang harus dijalani dengan sebuah keterpaksaan, membuat hidup seperti di neraka.
Tuhan menciptakan wanita dengan kekuatan yang super dahsyatnya. Meski hanya memiliki dua tangan, para wanita mampu melakukan semua pekerjaan rumah dan lainnya. Walaupun kekuatan lelaki lebih besar dari perempuan.
Pun denganku, walaupun lelah menyelimuti tubuh, aku tak pernah mengeluh. Memilih diam adalah caraku untuk tetap bertahan. Tinggal bersama mertua, rasanya seperti bukan menantu saja. Lebih cocok sebagai pembantu.
Sejak hamil anak pertama, Mas Bo'eng memboyongku tinggal di rumah ibunya. Tentu saja, bukan hanya kami yang tinggal di sana. Ada dua adiknya yang masih bersekolah dan bekerja.
Rumah kontrakan kecil dengan dua kamar itu, menjadi saksi betapa tersiksanya aku. Kamar utama, ditempati oleh mertuaku dan dua anaknya, Rian dan Risa. Sedangkan kamar belakang, diisi oleh kami—aku, Mas Bo'eng, dan anak kami.
Tinggal bersama mertua dan ipar, tak membuatku merasa seperti layaknya keluarga pada umumnya. Bahkan, mereka tak pernah menganggap diri ini sebagai menantu dan ipar.
Anakku bernama Fito, umurnya baru satu tahun. Setiap pagi tugasku adalah menyiapkan sarapan untuk penghuni rumah ini, menyapu, mencuci pakaian, bahkan sampai mengambil air di sumur umum yang terletak di belakang rumah. Untuk kebutuhanku dan Fito, mertuaku tidak memperbolehkan memakai air PAM. Alasannya, penggunaan air jika ada anak kecil, akan memperbesar biaya listrik.
Pernah suatu ketika, aku telat bangun dikarenakan badanku sakit semua. Sindiran dan hinaan tak lupa mereka sampaikan kepadaku. Tentu sakit hati bila mendengarnya, tetapi aku mencoba untuk tetap bertahan dalam keadaan ini.
"Enak, ya, tinggal gratis di sini, makan tidur gak perlu bayar. Nge-charge pun pakai listrik, listrik itu bisa mengalir, ya, harus di bayar!" Risa dan mertuaku saling berbalas.
"Iya, udah numpang gratis bukannya rajin dikit, kek," sambung mertuaku.
Aku hanya mendengarkan mereka dari dalam kamar, tentu saja mereka tahu kalau aku tidak tidur. Suamiku masih tertidur pulas, ia tak mendengar ucapan keluarganya. Telingaku bagaikan sudah kebal dengan hinaan mereka.
"Lebih baik pelihara anjing, ada balas budinya," celetuk Risa. Ingin menangis pun tak ada gunanya bagiku, itu hanya akan memperlihatkan kelemahanku saja.
Risa seorang gadis berusia 17 tahun, ia bekerja di salah satu toko di Jakarta. Sedangkan Rian, masih sekolah di bangku kelas 1 SMP.
"Dasar aja si Bo'eng, ngambil istri pemalas gitu. Asal ketemu aja, sih!" umpat mertuaku.
Serba salah, ingin keluar pun aku sudah malu. Apakah mereka menganggap aku sebagai pembantu? Memang, pernikahan kami tidak direstui oleh keluarganya.
Setelah puas menyindir, mereka pun pergi. Mertuaku setiap paginya mengantarkan Risa sampai ke stasiun kereta, setelah itu ia akan pulang dan kembali melanjutkan tidurnya.
Aku keluar kamar saat Ibu dan anak itu pergi, menyapu, mengelap kaca, serta mencuci piring bekas mereka pakai tadi. Setelah bersih, aku kembali merendam pakaian di halaman depan—perkarangan depan lebih luas, jadi selain menjemur digunakan untuk mencuci pakaian juga—dan menyikat kamar mandi.
Aku memaksakan diri untuk melakukan semuanya, mumpung Fito masih tertidur pulas. Lapar begitu terasa, aku mencari sesuatu di dapur. Barangkali ada yang bisa dimakan. Tidak ada apa pun. Hanya kopi dan teh. Baiklah, aku memilih untuk menyeduh kopi instan.
Ibu menyusui memang mudah lapar. Aku harus bagaimana lagi? Suamiku tidak bekerja, untuk membeli sesuatu pun tidak mungkin. Pukul sembilan pagi, kerjaan rumah tangga telah selesai dikerjakan. Tinggal menunggu mertuaku pulang membawa sayuran dari pasar, itupun jika ia membelinya.
Baru saja ingin menyesap kopi yang hampir dingin, anakku menangis mungkin ia lapar, buru-buru aku menghampiri dan menggendongnya. Takut jika Mas Bo'eng terbangun, ia tidak suka mendengar suara tangis anaknya.
Tak lama, mertuaku pun pulang. Tanpa diperintah, gegas membukakan pintu pagar persis asisten rumah tangga yang sedang menunggu majikannya pulang.
Ada beberapa plastik belanjaan yang tergantung di motornya. Setelah mematikan mesin motor, ia masuk begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sambil menggendong Fito, aku membawa semua belanjaan nyonya besar itu.
"Ini siapa yang nyeduh kopi Mami?!" teriaknya dari dalam. Gegas aku menghampiri pemilik rumah itu dengan setengah berlari. Hampir saja bawaan di tangan kanan terlepas.
"Maaf, Mi. Tadi July yang nyeduh," ucapku menunduk. Seperti maling yang tertangkap.
"Dasar gak tau diri, sudah numpang gratis, pake berani-beraninya ngambil barang orang lain!" hujatnya.
Tak berapa lama, pintu kamarku terbuka. Ya, Mas Bo'eng bangun karena mendengar teriakan ibunya.
"Aduh, berisik amat, sih?! Gak tau apa, ada yang masih tidur?!" bentaknya.
"Ini, nih! Maling kopi Mami, dasar gak tau diri, udah bangun siang masih berani nyeduh kopi segala!" hardiknya kembali.
Mas Bo'eng mendekat dan menjambak rambutku, sakit sekali.
"Lu maunya apa, sih? Tau diri, dong, tinggal di rumah orang bangun pagian dikit!" Bau mulutnya begitu menguar saat hidungku berdekatan dengan wajahnya.
Aku hanya bisa menangis, tidak taukah jika aku lelah? Berharap, Tuhan akan membalas semua perlakuan mereka terhadapku. Aku selalu berdoa, agar Tuhan dapat membukakan pintu hati Mas Bo'eng.
Sejak tinggal bersama ibunya, perlakuan suamiku semakin menjadi. Ia tak mau mencari pekerjaan, untuk membeli susu Fito pun, harus menunggu sedekah dari seseorang. Semiris itu hidupku.
Ada sesal yang menjalar dalam hati, andai saja waktu dapat diulang kembali. Aku tak ingin menerima lamaran Mas Bo'eng, memang salahku tidak mencaritahu terlebih dahulu tentang asal usul suamiku.
Nasi telah menjadi bubur, seberat apapun cobaan hidup, aku akan menerima semuanya dengan keikhlasan. Meskipun terlihat seperti orang bodoh. Semua demi anakku.
Namaku July, merantau dari rumah ke Jakarta pada saat usiaku 21 tahun. Terlahir dari keluarga miskin, membuatku bertekad mengadu nasib ke Ibu kota.
Aku mengunjungi temanku bernama Irma, ia bekerja di salah satu warung nasi di daerah Poris Indah, tangerang. Irma mengajakku untuk bekerja bersama dengannya. Pemilik warung pun memberi kesempatan padaku, hingga akhirnya aku tak sengaja bertemu dengan Mas Bo'eng.
Kegiatan Mas Bo'eng adalah sebagai karyawan pabrik lampu di daerah Cengkareng, ia sering mampir ke warung ini di jam-jam makan siang. Ternyata, rumahnya pun di dekat sini juga.
Awalnya, aku tak begitu memperhatikan Mas Bo'eng. Ia lebih akrab dengan Irma, karena memang Irma adalah karyawan lama di warung nasi milik Mpok Minah. Seorang janda paruh baya yang masih seksi itu sangat ramah kepada siapa saja.
Setelah tiga bulan bekerja, aku baru menyadari jika warung ini lebih banyak laki-laki yang datang, dan memiliki rahasia lain. Aku pernah bertanya pada Irma, kenapa pengunjung lebih banyak laki-laki. Ia mengatakan, jika wanita pasti memasak dan jarang membeli sayur atau sekedar makan di sini.
Irma dan karyawan lainnya sering digoda oleh pria-pria itu, tak jarang mereka meraba bokong Irma ataupun teman-teman lainnya. Aku sedikit risih bila ada yang bersikap kurang ajar seperti itu.
Selama bekerja, aku masih menumpang pada Irma. Ia menyewa kamar kost di belakang perumahan ini. Lambat laun, aku mengenal Mas Bo'eng dari Irma. Aku pikir, Irma dan Mas Bo'eng ada hubungan spesial tadinya. Ternyata aku salah. Irma adalah seorang PSK, sejak tahu aku lebih memilih pindah.
Semua berlalu begitu saja, kedekatan aku dengan Mas Bo'eng pun semakin intens. Gadis polos bertemu dengan pria kota, banyak hal yang diajarkan oleh Mas Bo'eng padaku. Anehnya, aku begitu penurut dengannya. Apapun yang ia suruh, dengan polos mengikutinya.
Hingga sampai suatu saat, Mas Bo'eng dan aku tinggal dalam satu kamar yang sama. Berkali-kali juga menyaksikan kegilaannya bersama perempuan lain selain diri ini, seperti orang yang bodoh ketika ia berkata tidak seperti apa yang terlihat, dan kembali memaafkannya lagi.
Banyak yang memberitakan jika Mas Bo'eng memakai susuk pengasihan, tetapi aku tak mempercayai ucapan mereka. Aku tahu jika Irma juga menjalin hubungan dengan Mas Bo'eng, tetapi mereka selalu menyangkalnya.
Irma memang cantik dan seksi, ia pun begitu memikat. Pernah suatu ketika, Irma menginap di kost kami. Aku terlelap begitu saja, sedangkan mereka masih terjaga. Entah kenapa aku terbangun saat mendengar rintihan halus, menyaksikan sendiri Mas Bo'eng meraba tubuh Irma.
Mereka terkejut, Mas Bo'eng meminta maaf padaku, ia berkata kalau salah sentuh. Mas Bo'eng mengira, Irma adalah aku. Tentu saja alasan yang tidak masuk diakal. Aku luluh kembali untuk kesekian kalinya.
"Kenapa diem aja, huh?!" bentaknya kembali, mendengar suara keras membuat Fito menangis histeris. Hanya karena aku telat bangun, mereka itu.
"Diam! Berisik tau!" umpat Mas Bo'eng. Bukannya berhenti menangis, Fito malah semakin histeris dan memekakkan telinga.
"Makanya, sudah dibilang cari istri itu jangan sembarang pilih! Begini, kan, akhirnya?" timpal mertuaku kembali. Mereka memang tidak suka dengan jerit tangis Fito, aku ingin menangis saja rasanya.
Padahal yang bangun siang itu adalah Mas Bo'eng, harusnya dia bangun pagi dan mencari pekerjaan. Ibu dan anak itu kembali masuk ke dalam kamar masing-masing, tinggalkan aku yang masih berdiri seperti orang bodoh.
Mendengar tangisan Fito, hampir saja membuatku hilap. Ada dorongan untuk membanting anak ini, untungnya masih dapat tersadar dari bisikan-bisikan itu. Jeritan Fito membuatku semakin tersiksa, serba salah karenanya. Kesal.
Sementara aku membiarkan Fito terus menangis, kopi yang tadi aku seduh pun telah berada di wastafel cucian piring. Padahal belum tersentuh sedikitpun olehku, ia lebih rela membuangnya daripada terminum oleh menantunya sendiri.
"Tenang, ya, Fito. Mama bingung kalau kamu nangis," ucapku menenangkan. Belanjaan yang tadi aku bawa, segera menyulapnya menjadi sayuran matang. Tentu saja memasak dengan menggendong Fito. Lelah jangan ditanya lagi.
Setelah semua matang, aku segera menyuapi Fito dengan lauk yang telah tersaji. Ada ikan sambal, sayur sop, tempe goreng, dan tak lupa sambal terasi kesukaan suamiku. Jam di dinding ruang tamu telah menunjukkan angka 12.15 WIB, tanda sebentar lagi Rian pulang sekolah.
Setelah Fito tertidur, aku segera menyetrika pakaian seragam sekolah, maupun baju kerja Risa. Ibu dan anak itu—Mas Bo'eng—seperti sedang berlomba tidur.
Suara berisik terdengar dari luar rumah, ternyata Rian yang sedang menggedor-gedor pintu pagar hingga menyebabkan suara gaduh. Tergopoh-gopoh aku menghampirinya, takut jika nyonya besar itu terganggu dari tidurnya.
"Lama amat, sih! Gak tau apa orang kepanasan?!" Bukannya berterima kasih telah dibukakan pintu, Rian malah membentak. Ingin rasanya membalas bentakannya, tapi hati ini masih mencoba bersabar. Lebih baik diam menyimpan segala kepahitan.
"Ada apa, sih? Berisik banget!" Mertuaku telah berada di pintu dalam, terlihat wajahnya begitu kesal saat melihatku.
"Ini, nih! Lama bener bukain pintunya! Udah tau diluar panas!" ucap Rian sambil berjalan masuk ke rumah. Membanting ransel ke sembarang tempat. Seperti orang bodoh, aku memungutnya kembali.
"Budek kali, tuh, kupingnya!" Mertuaku merangkul Rian berjalan ke dalam rumah. Masih mencoba sabar, berharap ada kekuatan dan pergi dari sini. Hanya menangis dalam diam.
Setelah menutup pintu pagar, aku melanjutkan kembali tugas harian yang sempat tertunda tadi, melewati mereka yang telah duduk bersiap untuk makan siang. Tanpa bertanya siapa yang memasaknya. Sungguh bodoh diri ini, tapi aku bisa apa selain bersabar?
"Panggil Bo'eng, suruh dia makan. Sudah siang ini, kan!" titahnya tanpa menyebutkan nama. Sempat bingung, apakah mertuaku sedang berbicara pada diri ini, ataukah dengan si Rian?
"Denger gak, sih?!" sambungnya kembali.
"Oh, iya, Mi." Mereka tidak pernah menanyakan aku ataupun Fito sudah makan atau belum.
Hal yang tidak kusukai adalah membangunkan suamiku dari tidurnya. Selain marah, ia akan menendang kakiku layaknya anak kecil yang tidak suka.
"Aduh! Kenapa, sih?!" bentaknya tanpa membuka mata.
Aku kembali menggoyangkan badannya. "Mas, bangun, sudah siang ini!"
"Bisa gak, sih, kalau orang lagi tidur itu jangan ganggu?!" bentaknya kembali.
"Mami suruh makan, Mas. Bangun, ini sudah jam satu!"
Kebiasaan suamiku adalah selalu bergadang, kalau tidak menonton acara bola, ya, bermain game di ponsel. Mas Bo'eng adalah anak pertama di keluarga ini, tapi sifatnya melebihi bocah remaja. Usia 30 tahun tidak membuatnya berkaca diri. Selain malas, sifatnya yang selalu mau menang sendiri pun begitu dominan.
"Keluar!" Bentaknya. Untung saja Fito tidur di ruang tamu, jika tidak ia akan terbangun dan menangis kembali. Aku melempar guling ke tubuhnya dan kembali melanjutkan setrikaan tadi.
Kesal. Tentu saja. Sempat berpikir jahat, mereka semua ingin kuhabisi dengan cara memberi racun! Namun, aku berpikir kembali bagaimana nasib anakku kelak jika terpenjara nanti?
Kamarku terletak di bagian belakang dekat dengan dapur dan meja makan. Jadi, jika aku keluar kamar, Mertua dan Rian pun dapat melihatnya.
"Denger, ya, Yan. Kalau cari istri itu, jangan sembarang pilih," ujarnya kepada anak bungsu itu. Mereka sengaja berbicara saat aku melewatinya.
"Iya, lah, Mi. Masa' cari istri sembarangan? Nanti yang ada malah jadi benalu lagi." Aku tau, mereka sedang menyindirku seperti biasanya. Hampir di setiap harinya, seolah itu adalah nyanyian pengantar tidur untukku.
Aku melanjutkan kembali pekerjaan menyeterika di ruang tamu, karena rumah ini terlalu sempit untuk kami, maka ruang tamu dijadikan tempat menyetrika.
Perut sudah berbunyi sedari tadi, selain air putih, tidak ada asupan apa pun.
Mereka tidak berhenti begitu saja, Ibu dan anak itu, bahkan ingin menjodohkan Mas Bo'eng kembali dengan perempuan yang lebih cantik dan pintar. Aku tertawa dalam hati saat mendengar celotehan mereka. Hanya wanita bodoh sepertiku ini yang mau hidup susah!
Jika menyesal dapat merubah kembali hidupku, aku benar-benar ingin menyesali keputusanku selama ini. Rasa sakit yang tersimpan selama ini, menguar begitu saja menusuk hatiku semakin dalam.
Kulirik Fito sebentar, ia tertidur nyenyak sekali. ‘Jangan cepat besar, Nak. Menjadi dewasa itu tidaklah enak,’ ucapku dalam diam. Aku menghapus air yang hampir saja menetes, "aku harus kuat," lirihku.
Mertuaku sebenarnya memiliki usaha salon, tetapi entah kenapa ia tidak melanjutkannya lagi. Peralatan salonnya pun masih tertata lengkap di halaman depan, dekat dengan tempat mencuci pakaian.
"Nyetrika itu, tangan sama telinga jalan bareng! Jangan berbelok!" sindir Rian. Suara decakan dari mulutnya, bagai irama fals membuat jijik yang mendengarnya.
Terdengar gaduh suara sendok yang beradu dengan piring, tak lama mertuaku memanggil.
"Ambilin minum dingin, dong!" titahnya. Tanpa banyak kata, aku segera mengambil air dari dalam kulkas, dan menuangkannya ke dalam gelas miliknya.
Rian pun menyodorkan gelas kosongnya kepadaku, dengan malas kembali menuangkannya. Layaknya pembantu rumah tangga yang harus selalu siap bila dibutuhkan.
"Masakin gue mie rebus, dong," titah Rian.
"Masih kurang, kamu?" tanya mertuaku kepada anak manjanya itu.
"Ga enak masakannya! Rian mau makan mie rebus aja!" serunya.
Apa aku tidak salah dengar? Tidak enak? Tapi sayur di atas meja hampir bersih! Aku beranjak ke dapur, sebelumnya sudah mematikan alat setrika. Kebetulan, rasa kesal telah berada di puncaknya.
Merebus air dan memasak mie rebus, sesuai permintaannya. Aku mengambil obat pencuci perut yang sengaja disediakan oleh mertuaku, di dalam kotak obat dekat dengan pintu dapur. Untunglah mereka tidak begitu memperhatikan gerak langkahku.
Setelah selesai memasak mie, aku segera memberikan kepada Rian yang masih duduk di meja makan bersama ibunya. Wangi embusan mie rebus, membuat perutku berbunyi.
Aku tahu, mereka mendengar alarm dari perutku. Tubuhku terasa begitu lemas, gemetar, dan perih pada bagian perut.
Mereka memuaskan diri menyindirku, tak apa, Tuhan tidak tidur. Aku pun yakin akan adanya karma kehidupan, siapa yang menabur, dia yang akan menuai. Meskipun aku tak pernah tahu, kapan karma itu datang pada mereka. Tak sekali dua kali mereka membandingkan aku dengan iparku. Ada saja bahan untuk menyudutkan diri ini. Sepertinya, selalu saja salah di mata mereka.
"Liat, tuh, Mbak Lisa. Dia rajin, ya, Mi?" Lisa adalah adik iparku, istri dari Azam, adiknya Mas Bo'eng. Rian membandingkan, seolah aku adalah benalu.
Sebenarnya nama Mas Bo'eng itu adalah Arka, tapi entah kenapa dipanggil Bo'eng. Azam anak kedua, hanya berselisih satu tahun dengan sumiku. Hanya dia yang menganggapku manusia di rumah ini. Azam tinggal di Depok, sedangkan kami tinggal di Tangerang.
"Iya, lah. Dia rajin cari duit juga, penampilannya pun cantik dan modis," cerosos nyonya besar itu. Tentu saja Lisa memikirkan penampilan, ekonomi mereka jauh lebih baik dibandingkan kami. Usaha Azam di mana-mana, sedangkan Lisa pun dibukakan usaha oleh suaminya. Aku? Jangan ditanya. Mengontrak saja, kami tak mampu.
Pernah, Azam menyuruh Mas Bo'eng untuk bekerjasama dengannya. Namun, suamiku memiliki sifat yang tidak bisa bekerja dalam satu tim. Azam memberikan kepercayaan untuk memegang konter HP padanya, tetapi ia malah pergunakan untuk menggoda para karyawan. Sakit hatiku, sudah tak bisa terobati lagi.
"Makanya, Mi. Cariin Mas Bo'eng istri yang seperti Mbak Lisa, dong." Mendengar ucapan Rian, membuat tanganku berhenti sejenak. Tanpa sadar, aku mengepalkan jemariku di atas gagang setrikaan. Untung saja cepat sadar, kalau tidak, bisa-bisa pakaian ini gosong.
Ada rasa dalam hati, ingin menempelkan setrika yang panas ini, ke wajah dan kulit mereka tanpa ampun. Bisikan-bisikan itu terus saja terngiang di telingaku. Bahkan, adegan-adegan penyiksaan itu mengalir begitu saja. Untungnya, hasutan setan itu dapat kutahan.
‘Sabar, sabar!’ gumamku dalam hati.
Meskipun sudah terbiasa mendengar sindiran mereka, hati ini masih terasa sakit. Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku tak sudi menerima lamaran Mas Bo'eng kala itu. Aku kembali mengingat semuanya. Tidak seharusnya menyesali yang telah terjadi.
Saat aku lagi membayangkan penyiksaan itu, tiba-tiba aku tersentak ketika mendengar teriakan dari ipar bungsuku. "Woy! Nguping lu, ya?!" Rian menggebrak meja.
"Dasar benalu, udah bagus dikasih numpang tinggal!" cibir mertuaku.
Aku memang menumpang di rumah kecil ini, tapi tidak gratis seperti yang selalu mereka ucapkan. Ada tenagaku di rumah ini. Jika saja tidak malu untuk kembali pulang ke kampung halaman, mungkin hari ini aku dan Fito sudah tidak ada di sini lagi.
Aku tak ingin membuat orang tuaku tahu kesusahan anaknya di sini. Aku tak ingin menjadi beban pikiran mereka nantinya.
Tanpa memedulikan ucapan mereka, aku menyelesaikan tugasku. Setelah semua beres, tumpukan baju itu pun segera kususun ke dalam lemari masing-masing.
Jam 14.36 WIB, perutku sudah tidak tahan lagi untuk meminta segera diisi. Wajar saja, dari pagi aku belum memakan apa pun selain meminum air putih. Sayur yang ada di meja makan pun hanya tersisa sedikit, cukup untuk satu orang saja. Mereka selalu sengaja menyisakan sedikit, hanya untuk Mas Bo'eng saja. Salahnya, aku selalu mengalah hingga mereka menjadi semena-mena terhadapku.
Sebelum makan, aku mengelap sisa-sisa tumpahan sayur yang ada di atas meja. Menyingkirkan terlebih dahulu piring-piring kotor yang baru saja mereka makan dan tinggalkan begitu saja, lalu mengelapnya. Hanya sepiring nasi putih, segera menambahkan sedikit sambal ke piringku.
Bahkan, ingin menangis pun sudah tak ada lagi asupan air mata. ‘Tuhan, sampai kapan aku seperti ini?’ gumamku menahan tangis.
Aku hanya bisa menangis dalam diam. Menjerit tanpa mengeluarkan suara. Hal yang amat menyakitkan. Sakit tak berdarah.
Pintu kamar terbuka, Mas Bo'eng keluar, sempat ia melirik ke arahku juga Fito yang masih tertidur di sofa.
"Enak, ya. Kerjanya makan tidur aja kamu," sindirnya. Tangannya sambil menggaruk-garuk perut buncitnya yang sedikit terbuka.
"Ya, ampun, Mas. Aku baru aja makan, setelah seharian jadi pembantu!" umpatku kesal. Ya, aku sudah tidak tahan lagi meluapkan emosiku. Amarah memuncak sampai ke ubun-ubun, bahuku gemetar hebat tak kuat menahan kekesalan yang sedari tadi ditahan.
"Eh, kalau ngomong gak usah sembarangan lu!" Mas Bo'eng terlihat begitu kesal mendengar ucapanku tadi.
Aku diam, tidak ada untungnya berdebat dengan dia. Mas Bo'eng mengambil piring dan menuju meja makan, "Hmm, makanan abis semua? Kalau makan, kira-kira, dong! Mikir gue belum makan!" Mas Bo'eng membanting piring ke atas meja makan. Sontak, piring tersebut terpantul jatuh ke bawah dan pecah.
Fito terbangun dan menangis. Gegas, aku menghampiri Fito meski tangan masih berlumur sambel terasi. Rian dan ibunya pun keluar dari kamar mereka, sementara Mas Bo'eng masih terus memaki sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.
"Ada apa lagi, sih?! Sejak kalian datang, rumah ini gak ada tenangnya sekali!" hardik mertuaku.
"Cup ... cup ... cup, tenang, ya." Aku mencoba menenangkan kembali seperti pagi tadi.
"Perempuan ini kalau makan, gak inget orang sudah makan apa belum!" Terlihat mertuaku juga Rian seperti salah tingkah. Sebab, yang menghabiskan lauk pauk adalah mereka berdua.
"Ya, ampun, July! Kalau makan inget suami, dong! Rakus banget, sih, jadi perempuan." Mertuaku berjalan ke dapur, membuatkan telur mata sapi untuk suamiku. Seolah aku yang tidak tahu diri, seolah hanya dialah yang memikirkan Bo'eng.
"Cukup! Aku yang masak aja, gak kebagian sayur! Tanya Ibu dan adikmu itu, ke mana sayur itu berpindah!" Aku mencoba melawan, tapi tamparan dari suamiku, melayang ke pipi ini seperti biasa.
"Perempuan gak tau diri, pake nuduh-nuduh kita lagi," timpal Rian, setelah itu ia masuk ke kamar.
"Pungutin, tuh, nasi! Awas, pecahan piringnya jangan sampe tersisa!" Mas Bo'eng berlalu begitu saja.
"Makanya, Bo'eng. Lain kali itu, nurut apa kata orang tua!" teriak mertuaku dari dapur.
Pecahan piring sedikit menggores jariku, darah mengalir pun tak terasa sakit. Ya, karena hatiku lebih merasakan perih hingga menyamarkan rasa yang sebenarnya. Fito mulai mereda tangisnya, ia terus saja memperhatikan tetesan darah segar ini.
Aku tak bisa apa-apa selain bertahan, kampung halamanku begitu jauh. Jangankan berharap mempunyai ongkos pulang, untuk membeli kecap seribuan pun aku tak mampu. Hampir dua tahun aku tinggal di neraka ini, selama itu juga aku memendam kepedihan seorang diri.
Setelah selesai membersihkan tumpahan nasi dan pecahan piring, aku kembali ke rutinitas lainnya. Mengangkat air untuk mandi kami, di sumur belakang kontrakan ini. Jaraknya hanya 20 langkah saja dari rumah, sementara Fito bermain di teras tetangga seperti biasanya.
Mas Bo'eng dan ibunya asik mengobrol di meja makan. Bukankah yang seharusnya menemani makan adalah istrinya? Ya, tugas istri selalu diambil alih oleh mertuaku, kecuali tugas yang satu itu.
Ketika jatah tidak diberikan, suamiku pasti akan mencari gara-gara denganku. Namun, ketika hasrat telah tersalurkan, sikapnya manis dan perhatian padaku. Meski hanya bertahan dalam hitungan jam saja, setelahnya kembali ke tabiat aslinya.
Entah sudah ember ke berapa, aku mulai merasakan lelah di sekujur tubuhku. Setelah cukup penuh, aku beristirahat sebentar di teras tetangga. Lelah jangan ditanya lagi. Badan kurus dan tak terawat, itulah gambaran diriku.
"Sudah penuh bak mandinya?" tanya Erna, tetanggaku sekaligus seperti saudara. Satu-satunya yang peduli padaku juga Fito.
"Sudah. Cukuplah untuk mandi dan keperluan nanti malam, jika Fito buang air besar," jawabku dengan meluruskan kaki sambil berselonjoran. Tangan tak henti-hentinya memijit kaki, Erna menggelengkan kepala melihat tingkahku yang begitu miris.