Bab 1

Sherly Violeta Dunn. Gadis manis, mungil dan langsing itu sedang berdiri di depan cermin riasnya. Ia memutuskan menjepit rapi sisi kanan rambutnya untuk sentuhan terakhir penampilannya sebelum dirinya bersiap berangkat ke kantor.

"Hmm ... sempurna, rapi, cantik," gumamnya mematut diri dengan tampilannya yang dirasa sudah memuaskan.

Gadis berusia awal 25 tahun itu tampak puas dengan padu padan baju kerjanya hari ini. Rok terusan formal berwarna putih selutut dipadu dengan blazer navy ringan yang memberikan kesan manis dan anggun.

Sherly sedikit tergesa saat melihat jam tangannya. Ia harus bergegas agar tidak terlambat berangkat ke kantor. Dengan cekatan ia meraih kunci mobil dan tasnya sebelum akhirnya melesat menuju pintu apartemennya. Terburu-buru mengenakan high heels dan menyambar kantong sampah plastiknya sebelum keluar.

Apartemennya merupakan bangunan yang cukup rapi dan strategis dengan pemandangan gunung dan kota yang saling berdampingan. Karena alasan itu Sherly memilih untuk menyewa apartemennya ini. Dengan kualitas udara yang masih segar dan terjaga di pagi hari, menjadi pertimbangan tersendiri untuknya.

"Oh, aku hampir terlambat," gumamnya cemas ketika ia keluar dari lift

Di sebelah tempat parkir mobil para penghuni apartemen, ada satu bagian tersembunyi di sudut bangunan yang merupakan tempat pembuangan sampah. Pagi ini Sherly hendak membuang bungkusan plastik sampah yang dibawanya ke tempat bak pembuangan.

Saat itu, dilihatnya ada seorang pria sedang berjongkok sambil mengais-ngais beberapa kantong sampah plastik yang terbuka dan tercecer di sana. Pria itu tampak serius dengan kegiatannya, sehingga tidak menyadari kehadiran Sherly dari arah belakangnya.

Sherly mengernyit, sedikit ragu untuk maju. Ia merasa sedikit tidak nyaman dengan kehadiran pria itu. Dari belakangnya, ia dapat mengamati penampilan pria itu yang sangat kumal dengan rambut acak-acakan dan celana olah raga serta kaus yang tampak butut yang dikenakannya itu, membuat penampilannya terlihat sangat berantakan. Hingga Sherly menduga pria itu adalah seorang pemulung.

Pria itu menghalangi sebagian besar jalan masuk yang menuju ke bak pembuangan. Mau tidak mau Sherly harus melewati pria itu untuk menjangkau salah satu bak penampungan sampah.

"Maaf ... permisi, Pak," sapanya takut-takut. Pria itu sedikit menoleh mengamati Sherly sekilas, tetapi tidak beranjak dari tempatnya.

"Bisakah saya lewat sebentar?" ucapnya kikuk sambil memperlihatkan tentengan plastik sampahnya.

Pria itu berdehem, dan tanpa mengatakan apa-apa dengan segera ia berdiri. Badannya tampak begitu menjulang di hadapan Sherly yang bertubuh mungil setelah pria itu berdiri tegak.

Sherly refleks sedikit mendongak untuk mengamati wajah pria tersebut. Kedua matanya tertutup poni yang acak-acakan sehingga ia tidak dapat melihat keseluruhan wajahnya. Rambutnya yang agak panjang terkesan sangat berantakan karena sebagian besar menutupi lehernya. Entah mengapa Sherly merasa sangat gemas hingga ia berpikir ingin sekali rasanya menguncir semua rambut berantakan pria itu.

Pria itu berdehem lagi, seolah memberi isyarat dan mengingatkan agar Sherly segera membuang sampahnya.

"Ah,... ya, maaf!" Sherly refleks membuyarkan pikiran anehnya tentang pria itu. Ia merasa sedikit malu karena sudah berlaku tidak sopan. Sherly kemudian berjalan mendekati bak-bak sampah yang besar untuk segera memasukkan sampahnya. Setelah itu bergegas menuju parkiran mobil.

Sherly sempat menengok sebentar ke belakang untuk memastikan lagi keberadaan pria itu. Benar saja, sekepergiannya, pria itu kembali berjongkok untuk mengais-ngais kantong sampah yang sudah terbuka di hadapannya.

Aneh! Pikir Sherly. Baru kali ini dilihatnya ada seorang pemulung yang berkeliaran di sekitar apartemennya. Tak mau berlama-lama lagi, tanpa pikir panjang ia segera menancap gasnya untuk berangkat ke kantor.

Sesampainya...

Kantor tempatnya bekerja merupakan sebuah perusahaan game online yang cukup maju. Sherly adalah seorang asisten pribadi pemilik perusahaan game online yang bernama Cutie Pie.

"Kau terlambat lima menit Sher," sambut Lucy ketika dirinya memasuki ruangan luas di lantai tiga dimana tempatnya bekerja. Sherly hanya meringis kecil.

Sherly membuka pintu ruang kerja Nick, pemilik sekaligus CEO tempatnya bekerja.

"Morning bos!" sapa Sherly sambil bergegas memasuki ruangan.

Tempat kerjanya berada dalam satu ruangan dengan Nick. Dilihatnya Nick bosnya itu sedang memeriksa berkas di atas mejanya.

"Hari ini kau terlambat lima menit," balasnya singkat.

"Maaf bos karena sudah datang terlambat." Sherly memasang wajah menyesalnya. "Tadi sebelum berangkat saat aku akan membuang sampah, ada pemulung di apartemen kami yang sedang mengais-ngais bak sampah dan menghalangi jalanku dan ..."

"Pemulung?" potong Nick heran. Nick tergelak sambil menggeleng, "Kali ini ceritamu tidak masuk akal. Tidak mungkin ada pemulung yang berani masuk ke sana. Bukankah pos penjagaan apartemen kalian selalu siap 24 jam?"

"Terserah kalau tak percaya, boleh aku membuat kopi dulu, please? Karena tadi aku tak sempat sarapan."

"No. Tak akan sempat. Ayo ikut aku segera, kita sudah terlambat janji temu dengan perusahaan periklanan"

"Oh Nick ..." balas Sherly merajuk. Baru saja sedetik dirinya meletakkan tas kerja, sekarang sudah harus bergegas pergi lagi.

"Cepatlah!" balas Nick. Walau umurnya selisih 5 tahun lebih muda dari Nick, Sherly memanggil bosnya hanya dengan sebutan nama. Begitu juga saat berada disekitar kantor. Pasalnya, Nick tidak mau dipanggil pak atau tuan, atau semacamnya oleh para karyawan kantornya.

Nick menerapkan konsep ringan dan santai untuk perusahaannya, yang memang khusus memproduksi game-game imut dan lucu untuk anak-anak, gadis remaja, dan para wanita. Konsep yang diusung perusahaan game yang didirikan Nick adalah ceria, imut, dan cantik. Seperti gadis yang sekarang berada di sampingnya ini.

Sekeluarnya dari lift, Nick tidak langsung menuju pintu utama. Ia berbelok ke arah kafe kantor yang berada di pojok pintu masuk utama.

Sherly yang sedari tadi memeriksa jadwal Nick dari ponselnya, belum menyadari ketika Nick berbelok ke arah kafe. Nick sampai harus kembali berbalik dan menarik lengan Sherly yang masih tertinggal di belakangnya.

"Hentikan kebiasaanmu menatap ponsel saat sedang berjalan." Nick mengarahkan Sherly pada salah satu kursi kafe. Ia meninggalkan Sherly sebentar dan berbalik sambil menyodorkan bungkusan sandwich dan segelas kopi yang sudah ia pesan sebelumnya.

"Makanlah nanti selagi aku menyetir." ucapnya.

Sherly terkejut, tetapi kemudian tersenyum senang. Nick selalu baik kepadanya dan selalu memberinya kemudahan dalam bekerja.

"Wow ... thanks Bos!" balasnya senang.

Nick tersenyum, "Aku tak mungkin membiarkanmu bekerja dalam keadaan lapar." ucapnya.

Nick sangat puas jika dapat membuat Sherly ceria. Dan salah satu hal yang Nick tahu benar untuk menyenangkan gadis itu adalah makanan.

******

Seorang pria bertopi dan berbaju serba hitam terlihat mengendap-endap di antara bangunan sempit pertokoan. Dia mengikuti sesosok pria lainnya yang sedang berjalan tergesa-gesa di depannya.

Sebisa mungkin ia mencoba berbaur dan berlindung di antara lalu-lalang orang-orang yang melintas. Saat ada kesempatan, pria yang tergesa-gesa tersebut berbelok dengan cepat pada salah satu gang sempit dan melompat masuk melewati tembok yang menghubungkan salah satu bangunan yang ada di dekatnya, yaitu "Heaven Nightclub".

Si pria pengejar berhenti. Ia celingukan dan mencari-cari di antara gang sempit tersebut. Sadar karena sasarannya menghilang, ia membuka topinya dan melemparnya dengan kesal di pinggir trotoar jalan.

"Sial!" umpatnya.

Dilihatnya bangunan berlantai tiga yang ada dibelakangnya dengan seksama. Sebuah club malam berdiri disana. Karena sekarang masih siang hari, club itu masih tutup.

"Heaven Nightclub" tepat pria itu menghilang di belakang bangunan ini. Dalam hati, si pengejar itu bertekad akan kembali lagi segera ke tempat ini.

Jika tertangkap habislah kau! Batinnya geram.

*******

Bab 2

Sherly keluar dari mobilnya dengan lunglai. Kali ini ia memilih memarkir mobilnya di basement. Ia menekan kunci otomatis dengan satu tangan, sedang tangan lainnya menenteng tas dan berkas kantor yang perlu diperiksanya malam ini.

Ia memutuskan untuk meneruskan pekerjaannya di apartemennya sendiri daripada harus bermalam lagi di kantor.

"Ah... lama-lama aku bisa cepat keriput jika harus begadang terus," gumamnya.

Ya, salah satu kebiasaan Sherly adalah kadang ia akan berbicara dengan dirinya sendiri jika ia merasa sedang kesal.

Sherly berdiri tepat di depan lift, menekan tombol naik untuk menuju ke lantai tiga dimana tempat tinggalnya berada. Saat lift tak kunjung terbuka atau menunjukkan pergerakan, Sherly mencoba menekan tombol naik berkali-kali, tapi tetap tak membuahkan hasil.

"Aah ... baguslah! Macet lagi liftnya," keluhnya.

"Oh, tahu akan begini harusnya aku parkir di halaman depan saja," gumamnya lagi.

Sherly menghembuskan napasnya perlahan dan menatap tangga darurat dengan perasaan berat. Mau tidak mau ia harus naik lewat tangga darurat, daripada harus memutar keluar basement lagi.

Sherly menghela napasnya sejenak, melepas kedua high heels-nya untuk memulai pertempurannya dengan anak-anak tangga yang seolah melambai-lambai meledeknya.

Lantai satu telah ia lewati dengan mulus. Selanjutnya, saat menuju ke lantai dua, ia mulai kehabisan napas.

Sherly menyeka keringat di dahinya yang keluar begitu banyak. Ia memutuskan untuk berhenti sejenak dan mengatur napasnya yang sudah terengah-engah.

Saat napasnya mulai mereda, Sherly melanjutkan lagi untuk naik ke anak tangga berikutnya. Di belokan terakhir, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sesosok pria yang meringkuk dan merintih perlahan seperti menahan sakit.

Sherly membelalakkan matanya. Seolah tak yakin dengan yang dilihatnya, ia kembali mengerjapkan matanya. Benar! itu adalah sesosok orang yang sedang meringkuk.

"Ya Tuhan... kau tak apa-apa?!" teriak Sherly panik. Ia bergegas menaiki anak tangga tempat dimana orang itu duduk.

"Apa kau kesakitan? Kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?!" tanya Sherly panik. Ia spontan mendekati pria yang sedang duduk itu.

"Ru ... rumah sakit ..." rintihnya "To ....long antarkan aku ... ke rumah sakit."

Sherly mengamati pria itu sejenak, dan ia tak tampak asing. Benar! Pria itu adalah pria yang dilihatnya tadi pagi di tempat pembuangan sampah. Ia adalah pria pemulung yang mengais-ngais sampah itu!

"O ... oke ... oke! Bertahanlah!" Sherly dengan cekatan membantu pria itu untuk berdiri dan memapahnya menuruni tangga.

"Lift sedang rusak lagi, kau tak keberatan kita melewati tangga? Apa kau kuat? Aku akan membantumu, oke?!"

Pria bertubuh besar itu tak menjawab pertanyaan Sherly. Ia tampak sedang menahan sakit. Sherly dapat melihat butiran-butiran peluh membanjiri seluruh wajahnya. Rambutnya yang berantakan tampak saling lengket dan menempel di dahi dan pelipisnya akibat basahnya keringat.

Penuh perjuangan bagi Sherly untuk membawa pria itu ke mobilnya. Ia harus mengapit tas dan berkas kantor di satu sisi tangannya. Sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk memapah pria besar itu. Ditambah, ia harus menuruni tangga dengan memakai kembali high heels-nya!

"Brak!! ... " Sherly menutup pintu penumpang dengan tenaga terakhirnya.

"Aku harap berat badanku turun lima kilogram besok," gumamnya kewalahan. Sama seperti pria yang ditolongnya, Sherly pun banjir keringat.

Sherly masuk ke dalam mobilnya, menghempaskan berkas dan tas kantornya ke kursi penumpang di belakangnya. Napasnya memburu tak beraturan.

"Bagaimana keadaanmu? Tahan sebentar lagi oke, aku akan mengebut!"

Sherly menancap gas, membanting setirnya dengan lihai dan dengan kecepatan yang semakin tinggi ia keluar dari basement. Melaju dengan kencang untuk segera menuju ke rumah sakit terdekat.

Tak perlu waktu lama, mereka akhirnya sampai di rumah sakit terdekat yang dituju. Sherly keluar dari mobilnya, berlari ke pos penjagaan pintu masuk.

Dengan cekatan para petugas rumah sakit membawa dan memindahkan pria yang tampaknya sudah tak sadarkan diri itu ke atas ranjang beroda. Segera mereka membawanya ke Unit Gawat Darurat.

Sherly duduk dengan cemas di depan ruang gawat darurat, saat seorang perawat menghampirinya beberapa saat setelah pria yang kesakitan itu dibawa masuk ke dalam ruangan.

"Permisi Nona, selamat malam. Apakah anda wali dari pasien yang baru saja masuk?" tanyanya.

"Ya? ... Tidak! Oh! Ma ... maksudku aku memang membawanya, tapi aku tak mengenal dia," jelas Sherly.

"Dia sakit apa? Apa yang harus aku lakukan? Berapa pun biayanya aku yang akan bertanggung jawab." jelas Sherly

"Kami akan segera melakukan tindakan operasi, karena tampaknya ia menderita usus buntu akut. Kami perlu persetujuan walinya."

"Baiklah, lakukan apa pun yang terbaik."

"Baiklah, bisa tanda tangan di sini? Siapa nama pasien yang Anda bawa tadi?"

Sherly tergagap, ia tak tahu harus menjawab apa. Saat itu seorang dokter berlari kecil mendekati mereka.

"Aku yang akan mengambil tindakan operasi," ujarnya.

"Anda yang membawa pasien tadi, Nona? tanyanya.

"Iya ... hanya saja ..."

"Jangan khawatir, kami akan menanganinya sebaik mungkin. Untuk prosedur lainnya bisa kita urus terakhir."

Sherly mengangguk gugup. Dokter memberi aba-aba ke perawat tadi untuk mengikutinya. Tampaknya memang keadaan pria tadi cukup serius untuk segera ditangani.

Sherly menunggu di kursi tunggu depan ruang operasi dengan sabar. Sudah sekitar satu jam ia menunggu jalannya operasi. Hingga akhirnya dokter yang menangani operasi pria itu keluar diikuti oleh beberapa perawat di belakangnya.

Sherly refleks berdiri. "Bagaimana dokter?" tanyanya cemas.

Dokter tampan itu tersenyum menenangkan, "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Anda membawanya tepat waktu, Nona. Jika terlambat sedikit saja, itu akan membahayakan nyawanya."

Sherly menghembuskan napasnya tanda  lega. "Syukurlah ... terima kasih," balasnya.

"Apa hubungan Anda dengan pasien? Apa Anda walinya?" tanya dokter tersebut.

"Mm ... sebenarnya saya tidak mengenalnya, tapi ... saya akan bertanggung jawab sepenuhnya," jawab Sherly gugup

"Sekarang pasien masih tidak sadarkan diri, jika ada perkembangan lain kemana kami akan menghubungi?" tanya dokter itu.

Sherly dengan cepat mengeluarkan kartu nama dari dompetnya. Dokter tersebut menerimanya sambil tersenyum, membacanya sebentar. "Baiklah Nona Sherly ... kami akan menghubungi Anda untuk perkembangan selanjutnya."

"Baik, terima kasih dokter."

"Chris ..." balasnya. "Panggil saja Chris."

"Ya ... terima kasih Dokter Chris."

"Saat ini, Anda bisa kembali pulang ke rumah. Besok pagi kami akan menghubungi Anda untuk pemberitahuan kondisi pasien"

Sherly mengangguk. Ia segers memutuskan untuk pulang ke apartemennya dan akan kembali lagi keesokan harinya .

******

Esoknya ...

Sherly terperanjat mendengar suara alarm dari ponselnya. Semalam ia tidur di depan ruang TV nya sambil beralaskan karpet bulu di bawah sofanya. Ia menggapai-gapai mencari letak ponselnya yang menimbulkan suara mengganggu itu.

Semalam Sherly melanjutkan lagi pekerjaannya sepulangnya ia dari rumah sakit. Ia terlalu lelah untuk pindah ke tempat tidurnya begitu pekerjaannya selesai.

Sherly berjalan gontai menuju ke kamar mandinya. Badannya masih terasa letih karena aktivitasnya semalam. Menopang tubuh pria besar bukanlah hal mudah bagi gadis seperti dirinya dengan badan yang jauh lebih mungil dari pria itu.

Ia tiba-tiba teringat lagi pria yang ditolongnya semalam. Sherly bergegas untuk mandi dan mempersiapkan diri. Ia berencana akan mampir ke rumah sakit dalam perjalanannya ke kantor.

**Sesampainya di rumah sakit ...

Sherly berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit, berusaha untuk mulai mencari kamar yang dimaksud setelah dirinya bertanya pada petugas resepsionis tentang keberadaan pasien Dokter Chris yang dibawa semalam.

Sementara di dalam ruangan ...

"Usus buntu? Seorang Dean tumbang karena usus buntu?" Chris menggeleng mencemooh.

"Jangan berlaku tidak sopan kepada pasienmu!" protes Dean

"Ingat ya ... kau nanti harus berterima kasih pada gadis cantik yang sudah membawamu ke sini semalam. Jika bukan karena dirinya, mungkin nyawamu tidak akan tertolong. Jika sedetik saja ia terlambat membawamu kemari, you're finished dude ..."

"Aku tahu," jawab Dean singkat.

"Aku bisa membayangkan bagaimana kewalahannya gadis berbadan mungil itu membawa tubuh gorilamu," gumam Chris.

Dean memberengut, menatap sahabatnya yang terkekeh mengejeknya. Chris adalah sahabatnya sejak mereka bertemu di bangku sekolah menengah atas. Ia begitu dekat dengan Chris hingga sekarang. Chris adalah salah satu sahabat yang mengetahui semua kisahnya. Termasuk rahasianya.

"Tok ... tok ... tok ..." ketukan halus terdengar di pintu masuk kamar Dean.

Refleks Dean langsung memejamkan matanya begitu melihat sesosok gadis memasuki kamarnya.

"Permisi ... selamat pagi," sapa Sherly begitu memasuki ruangan.

"Oh, selamat pagi Nona Sherly!" Chris menyambut kedatangan Sherly.

"Maaf, apa saya mengganggu?" tanyanya ragu-ragu.

"Oh tidak ... kita hanya sedang berbincang dan ..." Chris menoleh ke arah Dean yang ternyata sudah memejamkan matanya, berpura-pura tidur.

"Ah ... maksud Saya, Saya sedang memeriksa kondisi pasien, dan sekarang sudah selesai." jawab Chris cepat, seolah mengerti mengapa Dean melakukan itu.

Ia beranggapan Dean pasti sedang menghindari Sherly dengan berpura-pura tidur.

"Bagaimana keadaannya?"

"Cukup baik. Hanya dalam beberapa hari lagi ia bisa kembali ke rumah saat kondisinya sudah memungkinkan."

"Syukurlah. Mm ... dokter, apa Anda sudah mengetahui namanya?" tanya Sherly hati-hati.

"Well ... itu, sayangnya belum." Chris berkata demikian karena tidak yakin nama yang mana yang akan Dean pakai untuk memperkenalkan dirinya pada gadis itu. Ia tidak ingin membuat kesalahan.

"Oh, begitukah? Apa ia belum sadarkan diri dari semalam?"

"Sudah ... hanya saja, bisa dibilang keadaannya saat itu belum begitu stabil untuk bisa ditanyai"

"Oh sungguh malang." Sherly merasa kasihan pada pasien itu.

"Bagaimana anda mengenalnya, Nona?" Chris mulai penasaran.

"Yah, sebenarnya saya tidak mengenalnya. Saya hanya pernah bertemu dengannya kemarin pagi, saya kira dia pemu ... Ah! Maksud saya, saya hanya bertemu dengannya di area apartemen tempat tinggal saya." Hampir saja Sherly keceplosan menyebutnya pemulung.

"Dan malamnya saat saya kembali dari kantor, saya menemukannya sedang kesakitan di area tangga darurat apartemen. Jadi saya memutuskan membawanya kemari setelah ia meminta tolong," lanjut Sherly.

"Ia sungguh berhutang nyawa pada Anda. Sepertinya setelah ia kembali sadar nanti, mungkin saya akan memberikan nomor Anda agar ia bisa berterima kasih pada Anda?" ucap Chris dengan intonasi penuh penekanan yang sebenarnya ditujukan untuk sahabatnya itu.

"Oh ... tidak perlu. Saya hanya kebetulan menolongnya saja."

"Anda sungguh baik." balas Chris.

"Tidak ... itu bukan apa-apa. Saya sudah menyelesaikan administrasi pembayaran untuk pasien sampai hari ini. Jika ada kekurangan, tolong hubungi saya lagi, Dokter"

Chris tampak sedikit terkejut. Begitu juga Dean, dia sedikit mengernyit.

"Wah, Anda baik sekali, mengapa sampai melakukan sejauh itu? Apa Anda tidak ingin menunggunya siuman, agar dapat berdiskusi dengannya?" tanya Chris.

"Oh tidak perlu dokter. Saya rasa pria itu sedang sedikit mengalami, mm .... mu ... mungkin kesulitan finansial," kata Sherly ragu-ragu.

"Mengapa begitu?" tanya Chris ingin tahu.

"Yah ... hanya saja saat saya bertemu dengannya, ia sedang ... mmm ... bagaimana mengatakannya ya? Ia sedang mengais-ngais sampah ... ja ... jadi saya mungkin sempat mengira ia adalah seorang, maaf ... pemulung," bisik Sherly.

Whaaaattt...?!! Pemulung?!! Batin Dean. Diam-diam Dean mengatupkan rahangnya kecang-kencang, menahan kesal.

Chris mengerjapkan matanya, terkejut sekali dengan apa yang gadis itu katakan. Bagaimana bisa ia menyebut Dean seorang pemulung?! Chris mengatupkan mulutnya, mencoba untuk tidak tertawa, dan bersikap normal.

"Well ... itu ... sangat mengejutkan." ucapnya kemudian. Sherly hanya mengangguk penuh simpati.

"Baiklah, jika kondisinya sudah membaik kami akan menghubungi Anda segera dan ..."

"Tiuuutt...."

Tiba-tiba suara gas seperti terjepit terdengar lirih tetapi jelas di dalam ruangan, memotong pembicaraan Chris yang belum selesai.

Seketika suasana hening. Baik Chris dan Sherly saling terkejut mendengar suara kentut dari Dean yang tiba-tiba saja keluar. Mereka sama-sama melemparkan pandang ke arah Dean yang pura-pura sedang tertidur.

Tak dipungkiri wajah Dean seketika berubah menjadi merah, karena menahan malu yang teramat sangat!

Chris menarik napasnya dengan panjang. Menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sebisa mungkin agar tidak terbahak.

"Well ... hmm ... tampaknya kondisi pasien kita sudah membaik. Itu hal yang bagus saat pasien pasca operasi membuang gas. Tanda yang bagus, artinya kondisinya mulai membaik. Tinggal menjalani masa pemulihan sekitar 4 sampai 6 minggu, dan harus dijaga agar luka bekas operasinya tetap kering. Sebisa mungkin tidak melakukan aktivitas berat atau berlebihan. Olah raga pun tidak boleh dilakukan sementara ini dulu ..." tanpa sadar Chris banyak mengoceh untuk menutupi kecanggungannya.

"Oh! Y...ya ... oke! Hmm ... oke, baiklah akan saya ingat itu. Baguslah, terima kasih atas penjelasannya dokter." jawab Sherly canggung. "Ka ... kalau begitu saya permisi dulu," pamitnya kemudian.

"Silakan," jawab Chris tenang.

Beberapa saat setelah Sherly keluar dan menutup pintu, Chris seperti meledak! Ia tertawa terbahak-bahak! Melepaskan semua yang ditahannya, hingga meneteskan air mata saking gelinya.

"Dam**...!! Chriiis Shut Up !!!!!"

Dean refleks melempar Chris dengan bantal karena ia masih terpingkal-pingkal dan belum bisa menghentikan tawanya. Dean kembali mengutuki dirinya dalam hati dengan perasaan malunya.

******

Bab 3

Sherly menghembuskan napasnya begitu masuk ke dalam mobilnya. Ia sedikit menahan tawanya setiap teringat kejadian yang dialaminya tadi.

Entah mengapa pasien yang ditolongnya itu menurutnya tampak begitu menggemaskan di matanya, karena tak bisa menahan buang anginnya.

Memang Sherly tidak dapat melihat jelas wajahnya. Tapi poni yang biasa menutupi matanya tadi sedikit tersibak sehingga Sherly dapat mencuri-curi mengamati wajahnya saat berbincang dengan Dokter Chris tadi.

Wajah pria itu menurut Sherly cukup menarik. Walau semalam ia sangat kesakitan, tetapi jelas terdengar bahwa ia memiliki suara yang cukup dalam dan berat.

Sherly masih dapat mengingat suara rintihan dan minta tolongnya saat Sherly menemukan pria itu di atas tangga. Suara serak maskulin yang seksi.

Seksi?! ... Oh My God Sherly!

Bisa-bisanya dirinya berkhayal tentang pria yang sedang terbaring lemah di rumah sakit.

Kendalikanlah dirimu! Kau seharusnya bersimpati padanya! 

Suara hatinya berkecamuk memikirkan pria itu. Pria kumal yang dianggapnya pemulung itu rupanya telah menarik perhatian Sherly.

****

"Sebaiknya kau memberi alasan yang tepat kali ini," Nick mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan tidak sabaran.

"Bukankah aku sudah meneleponmu tadi? aku sudah minta izin akan terlambat."

"Kau tidak minta izin. Kau hanya memberitahuku bahwa kau akan terlambat datang tanpa memberikan alasannya."

"Aku mengantarkan seorang ... ng anak terlantar ke rumah sakit tadi malam. Karena orang tuanya sangat sibuk bekerja, jadi pagi tadi aku mampir untuk melihatnya. Itu saja"

Nick menimbang-nimbang penjelasan Sherly sambil menatapnya tajam.

"La ... lagipula aku mempertimbangkan jadwalmu juga. Aku tidak mungkin akan meminta izin jika tahu pagi ini kau ada meeting dengan klien. Dan Bos ... aku sudah menyelesaikan pekerjaan yang sempat menumpuk kemarin." Sherly sedang membujuk Nick secara halus agar tidak kesal lagi padanya.

Nick mengamati wajah gadis itu lagi.

Jadi karena itu pagi ini ia terlihat sedikit lelah dan ada kantung mata yang menggelap di sana? Batin Nick.

"Ya ... oke. Berikan semua yang sudah kau selesaikan semalam. Aku akan memeriksanya. Jika tidak ada pertemuan lagi sore nanti, kau bisa langsung pulang untuk beristirahat. Aku bahkan bisa melihat kantung matamu dalam radius 100 meter!"

Sherly memutar kedua bola matanya. "Oke ... itu berlebihan. Tapi, terima kasih Bos!" ucapnya girang.

*****

"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Chris

"Entahlah, mengerjakan pekerjaanku seperti sebelumnya aku rasa,"

Chris melotot sambil melemparkan kulit jeruk pada sahabatnya itu, "Aku yang akan datang sendiri dan membunuhmu dengan pisau bedahku jika kau berani-beraninya menggerakkan tubuhmu itu!"

"Cerewet sekali ... " gumam Dean

"Kau tahu tidak, kau sudah terlalu banyak menggunakan tubuhmu itu! Dengan keadaanmu yang sekarang kau akan mati tiba-tiba jika tidak mematuhiku. Luka operasimu setidaknya membutuhkan waktu pemulihan 4 minggu, dan luka sayatan di perutmu membutuhkan waktu 6 minggu!" jelas Chris.

Dean memicingkan matanya. Entah mengapa ia merasa Chris sedang menipunya. "Apa kau yakin kau tidak sedang membohongiku?" selidiknya.

"Ya ... tentu saja. Aku doktermu, aku yang tahu kondisimu. Walau kau aku operasi menggunakan prosedur Laparoskopi, tetapi waktu pemulihan yang kau butuhkan hampir sama dengan operasi metode bedah terbuka. Kau memerlukan waktu untuk pulih lebih lama mengingat semua riwayat kesehatan yang rata-rata hampir mengancam nyawamu itu! Ck! ... kau dan pekerjaan sialanmu itu!" umpat Chris

"Hentikan ocehanmu ... kau sudah berlagak seperti seorang istri yang cerewet"

"Aku akan jauh lebih cerewet dan mematikan dibanding istri yang akan kau miliki besok!" balas Chris. Dean hanya menggeleng

"Apa kau sudah menghubungi gadis yang menyelamatkanmu?" Chris mengupas jeruk lagi dan langsung melahapnya.

"Tidak, aku tidak akan menghubunginya ... lebih baik dia tidak usah berhubungan dengan pria sepertiku dan ... "

"Grekkkk ...!!!" Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

"Hai, selamat sore!" gadis yang baru saja mereka bicarakan sudah muncul di ambang pintu.

Chris tersedak karena terkejut. Ia meloncat turun dari sisi ranjang Dean. Terbatuk-batuk dan segera melempar sisa jeruk yang ada di tangannya. Sedang Dean tidak sempat lagi untuk berpura-pura tidur karena gadis itu sudah melihatnya tadi.

"Hai ... halo, selamat sore Nona Sherly" sapa Chris kembali formal dan sedikit canggung.

Sherly perlahan-lahan berjalan memasuki ruangan. Ia tersenyum simpul, menatap Dean yang dilihatnya sedang bersandar setengah duduk di atas ranjangnya. Dean sedikit memalingkan mukanya karena gugup.

"Apa kau baik-baik saja, Tuan ...?" tanya Sherly hati-hati.

"Dean" jawab Dean singkat. "Aku baik-baik saja, terima kasih"

Sherly tersenyum lega. Dia meletakkan sekeranjang buah yang di bawanya lagi.

"Aku harap kau cepat pulih, Tuan..."

"Panggil Dean saja," potong Dean.

"Yah, baiklah ... Dean." Sherly sedikit tersenyum kikuk.

Chris memicingkan matanya, menatap tajam Dean. Ia seolah sedang memperingatkan sikap Dean yang dirasanya kurang bersahabat.

"Tidak perlu khawatir Nona Sherly, ia sudah membaik. Hasil operasinya juga bagus. Ia hanya perlu mengkonsumsi makanan bergizi, tidak melakukan beban dan aktivitas berat selama masa pemulihannya yang bisa berlangsung sekitar 6 minggu untuk benar-benar kembali sehat." terang Chris

"Oh benarkah? Lalu Dean, dimanakah tempat tinggalmu?" tanya Sherly. Dean melirik Chris sekilas.

"Sama seperti tempatmu tinggal," jawab Chris. Dean melotot ke arahnya saat Sherly tak memperhatikannya.

"Benarkah?! Jadi kau adalah tetanggaku?!" tanya Sherly tak percaya. "Di unit berapa kau tinggal?"

Dean berdehem, tampak sedikit enggan menjawab "Aku tidak akan tinggal di sana lagi ... " ucapnya kemudian.

"Kenapa?" tanya Sherly terkejut.

"Itu ... karena ..." Dean dengan kikuk berdehem lagi.

Mata Sherly tiba-tiba membulat, "Apa karena kau diusir dari sana? Kudengar nyonya pemilik apartemen kita adalah orang yang ketat dalam hal pembayaran sewa. Kita bebas melakukan apa saja asal sewa selalu terbayarkan tepat waktu. Benarkah begitu??!" tebak Sherly.

"Ya itu benar!" jawab Chris cepat. "Pasti berat baginya harus pindah dalam keadaan seperti sekarang ini. Ia perlu pemulihan dan waktu yang cukup untuk kesembuhannya pasca operasi." Chris memasang wajah seolah bersimpati dan menyayangkan hal itu.

"Andai ia memiliki tempat yang nyaman untuknya sampai lukanya pulih ... mungkin Anda bisa memberinya saran atau informasi di mana Tuan Dean bisa mendapatkan tempat tinggal, Nona?"

Wajah Sherly berubah cemas. Ia berpikir dalam kondisi seperti sekarang ini, Dean masih harus memikirkan dimana ia akan tinggal sementara dirinya juga harus fokus untuk pemulihan lukanya. Dan pria malang itu sedang tidak memiliki uang atau apa pun saat ini!

"Tinggallah denganku!" usul Sherly cepat.

Dean dan Chris sama-sama terbelalak.

"Ti ... tidak perlu sampai begitu, aku bisa ..." Dean tergagap.

"Aku setuju!" seru Chris tiba-tiba. "Mohon bantuannya, Nona. Ia hanya perlu tempat yang nyaman untuk masa pemulihannya. Ia tidak boleh melakukan kegiatan berat yang akan memperburuk lukanya. Bukankah terlalu beresiko jika dirinya harus kesana-kesini untuk pindah mencari tempat tinggal baru?"

"I ... iya benar ..." jawab Sherly terkejut karena Chris tampak begitu bersemangat.

"Apa tidak apa-apa memasukkan orang asing untuk tinggal di apartemenmu?" tanya Chris lagi.

"Aku rasa tidak masalah, karena setahuku tidak ada peraturan yang melarang bahwa kita tidak boleh memiliki teman sekamar. Lagipula aku memiliki dua kamar di sana."

Dan ia sepertinya orang baik, aku tidak keberatan memiliki teman sekamar yang menggemaskan sepertinya ... Batin Sherly lagi. Entah mengapa pikiran gilanya membuatnya begitu impulsif pada pria itu!

Sherly mengamati Dean dengan seksama. Dilihat dari dekat ia semakin terpesona kepadanya. Alisnya yang berkerut dan rambut-rambut tipis yang mulai tumbuh berantakan disekitar dagu dan bibirnya, membuat Sherly semakin gemas. Ingin rasanya ia membantu Dean untuk bercukur...

Ah...tidak! Untuk sekarang dibiarkan berantakan apa adanya pun tak masalah, ia tetap menggemaskan! Astaga!! Ada apa dengan dirinya? Sherly kembali heran dengan dirinya sendiri yang memikirkan Dean hingga seperti itu.

"Bagus!" Chris tersenyum puas. Sherly sedikit tergagap karena terhanyut dalam pikiran konyolnya lagi.

Dean menutup matanya dan memijat keningnya tanda frustasi.

"Kapan ia bisa keluar, Dokter?" tanyanya

"Panggil saja Chris ... dan ia bisa keluar besok pagi"

"Oh, benarkah? Besok aku libur, mungkin aku bisa membantu menjemputmu?" tanya Sherly.

"Tentu saja ... silakan. Bisa sekali. Tolong bantuannya ya, Nona," lagi-lagi Chris yang menjawabnya.

"Panggil saja Sherly," balas Sherly sambil tersenyum. Ia sedikit heran dengan tingkah Chris yang tampak antusias.

"Besok jam 9 pagi kau bisa menjemputnya di sini. Aku akan mempersiapkan semuanya." ucap Chris lagi.

"Baiklah ... kalau begitu sebaiknya aku pulang sekarang, aku akan menyiapkan tempatmu."

"Apa kau tak masalah membawa orang asing masuk?" ucap Dean tiba-tiba sebelum Sherly pergi.

"Oh ... aku tidak masalah, apa kau keberatan Dean? Aku ... hanya ingin sedikit membantumu, sebagai tetanggamu aku rasa itu sudah sepantasnya."

"Ucapkan saja terima kasih," lanjut Chris sedikit geram.

"Baiklah Sherly ... terima kasih atas bantuanmu. Ini hanya akan memakan waktu sementara." ucap Chris memotong lagi.

"I ... iya tak masalah ..." balas Sherly. Ia masih saja heran mengapa Chris yang selalu menjawabnya. Akhirnya dirinya pamit dan pulang dari sana.

Dean menghela napas panjang setelah kepergian Sherly. "Apa kau puas sekarang?!" ucapnya gusar.

"Sangat!" balas Chris sambil terkekeh.

"Luar biasa, aku baru menemui gadis yang sangat polos sepertinya. Ia begitu baik hingga mau membantu seorang pria yang tampak seperti pemulung dengan tulus. Dan bahkan sekarang menawarkan tempat tinggalnya! Ck! ... ck! ... ck! dilihat dari sisi mana pun penampilanmu yang sekarang ini tidak ada bagus-bagusnya," cemooh Chris.

"Tapi yah ... syukurlah kau bertemu gadis itu. Ingat kau berhutang nyawa padanya. Biarkan ia membantumu sampai tuntas jika itu bisa menenangkan hatinya. Mungkin hanya dengan cara itu kau bisa berterima kasih padanya."

"Dengan begitu bukankah kau juga tidak perlu pergi dari apartemen itu, bukan? Kau bisa sewaktu-waktu kembali ke kamarmu jika diperlukan. Tapi aku pribadi tidak menyarankan itu. Dan ingatlah lagi, kau sekarang hanyalah seorang pria yang tidak memiliki uang atau pun tempat tinggal. Kau pokoknya ... yah ... anggap saja saat ini sedang memiliki masa depan yang suram. Jadi sebaiknya jangan membuatnya curiga."

Dean menghembuskan napasnya perlahan. Dalam hati ia sedikit membenarkan ucapan Chris.

*****

Dua orang pria berjaket kulit tampak sedang terburu-buru menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai 3. Gerak-gerik keduanya terlihat sedikit mencurigakan. Mereka tampak sedang mengawasi situasi dengan sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri. 

Setelah dirasa aman, mereka bergegas keluar dari pintu darurat dimana mereka tadi masuk.

Lantai 3 apartemen di malam ini tampak kosong dengan penghuni yang sebagian besar sudah terlelap di jam-jam seperti ini.

Dua pria tadi mengendap-endap. Dan dengan gerakan cepat mereka memasukkan kode pintu otomatis untuk unit kamar yang paling ujung.

"Kita berhasil!" ucap salah satu pria yang tampak lebih muda, setelah mereka berhasil masuk ke unit kamar tersebut.

"Jika sampai ketemu, habislah kau Dean!" geramnya.

"Cepat periksa dan bawa semua yang tampak mencurigakan, kita harus mendapatkan sesuatu sebelum pergi dari sini," ucap si pria berkumis yang tampak lebih tua.

*******

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED