01. Passionette Dayanira
Aku adalah Passionette. Ini bukan sebuah tipuan atau pembodohan. Memang, Gairah adalah nama yang di berikan untuk seluruh makhluk hidup yang berada dalam fase ingin di puaskan. Tetapi, aku bercerita tentang diri ku sang Passion yang berada di bumi, bukan hanya sebuah kebohongan.
Nama adalah awal dari doa dan dari nama Passion juga adalah awal dari hal-hal yang aku sukai tentang diriku, karena di mata ku semuanya adalah Gairah. Itu sebabnya menjadi Gairah berarti segalanya.
Perkenalkan namaku adalah Passionette Dayanira.
Aku menyisir rambutku dan melihat diriku di cermin. Aku menata rambut panjangku yang bergelombang dengan membiarkannya terurai. Aku menatap kembaran ku sambil tersenyum ketika pintu terbuka pada saat itu. "Jadi bagaimana menurutmu?" kakak ku adalah gadis yang sangat terawat, di dalam kamarnya bahkan banyak tumpukan masker wajah atau perawatan lainnya.
Dan, untuk saat ini kami akan mengubah warna rambut kami bersama dengan warna yang sama pula. Seperti biasanya itu akan menjadi idenya, tetapi aku tidak akan memiliki kesempatan untuk menolak. Kali ini kami akam mewarnai rambut kami menjadi warna hitam.
Jessica menatap kearahku berbinar terlihat kekaguman disana.
"Nira, kamu gila. Jangan pernah berpikir untuk memilih pirang atau apapun. Karna warna hitam jelas merupakan warnamu. Lihat ini sangat cocok!" Aku mengerucutkan bibir dan melihat bayanganku di cermin. Lipstik merah muda yang selalu ku pakai. Sementara kulit putihku bersinar berkat rambut hitamku. Tadi malam kami berdua sepakat bahwa pirang tidak cocok untukku.
"Lihat, ini adalah akhirnya. Jangan membuat mama menangis karna warna rambut aneh mu lagi!" Jessica menggelengkan kepalanya memandang ku.
Aku memutar bola mata ku dan menatapnya. Jessica terlihat cantik, tetapi aku lebih menyukai saat dia mewarnai dengan warna pirang terangnya. "Pirang terang lebih cocok untukmu. Karna kamu memiliki rambut pendek." Jessica berdiri tepat di sampingku dan melihat pantulan kami di cermin. Kami berdua melihat diri kami sekarang yang terlihat berbeda pada rambutnya dari pada tadi malam.
"Aku memiliki orang yang baru dalam hidupku" Jessica mengedipkan sebelah matanya. "dan lagi ada seseorang yang terlihat berbeda dari sebelumnya" Aku memasang ekspresi tidak setuju, dan melebarkan mataku.
"Apa kamu menata gaya mu hanya untuk seorang laki-laki?"
Jessica menunjuk rambutnya dengan alis terangkat. "Kamu juga yang membantu menatanya untuk ku."
"Tapi kamu seorang gadis." Aku menyeringai. "Sepadan bukan?"
"Terserah." Ucap Jessica mendengus.
Dia menutup topik pembicaraan. Aku pergi mengambil tas kuliah ku ketika Jessica menghela nafas dan masih memeriksa dirinya di depan cermin sekali lagi.
"Aku masih tidak mengerti bagaimana mereka tidak marah pada mu. Kelas pagi mu telah berubah menjadi tempat club malamkah?, mengingat tidak adanya teguran saat kau menggunakan lipstik merah itu" Kami meninggalkan kamarku dan turun kebawah.
"Ini swasta bukan negri. Tidak ada yang melakukan dengan disiplin tentu pasti akan ada pelanggaran disetiap peraturan."
Kami berada di kampus yang sama, sehingga membuat kami lebih sering berangkat bersama tentunya saat mata kuliah kami serupa. Mengingat beberapa dosen jurusannya melarang untuk berpenampilan mencolok, misalnya pakaian minim, make up tebal, dan lipstik merah. Tentu saja hal itu tetep di lakukan Jessica setiap hari padahal gadis itu sudah mendapatkan teguran bahkan hukuman berkali-kali, tetapi tidak ada rasa menyesal atau jera dalam benak Jessica.
Papa sudah berangkat kekantor sementara mama sedang menyiapkan sarapan. Tak satupun dari kami menyela saat sarapan berlangsung. Keterdiaman menyelimuti pagi ini. Papa berangkat duluan karena katanya ada meeting penting dengan klien.
"Aku pergi ma" ucapku beranjak dari duduk. Jessica ikut beranjak setelah menyelesaikan sarapannya. "Jessica, juga ma".
"Hati-hati sayang. Rajin belajarnya ya." Ucap mama menyambut salam dari kami.
Aku dan Jessica meninggalkan rumah bersama, kami memasuki mobilku. Jessica tidak ingin mengemudi katanya makannya dia lebih menginginkan ikut dengan ku.
"Ada seorang gadis di kelasmu. Namanya Casya, aku tidak menyukainya. Kamu tahu itu?" Aku mengerutkan kening.
"Tidak, kenapa kamu bertanya?" Jessica menghela nafas dalam kemarahannya.
"Dia mendekati laki-laki yang aku suka"
Aku melirik Jessica dengan gelisah, saudari kembarnya ini jika sudah marah tidak akan tau tempat. "Jess, jangan konyol. Apa pun yang ada di dalam pikiranmu, lupakan saja dan jangan berbuat yang macam-macam."
Aku tidak ingin Jessica terlibat dengan perkelahian yang bahkan tidak masuk akal hanya karena seorang laki-laki yang tidak dia kenal dengan baik, mungkin.
Jessica selalu melakukan ini, dengan keterikatan kepada laki-laki yang bahkan tidak terlalu lama dia kenal ada juga yang baru dia kenal. Ia sangat posesif terhadap orang yang dia inginkan. Aku selalu memperingatkan dia berkali-kali untuk tidak berbuat ulah dengan siapapun tetapi Jessica selalu mengatakan "Ini kepuasan untuk ku sendiri, jika kamu ingin mencobanya akan aku perkenalkan dengan apa yang namanya kenikmatan" konyol, ya Jessica sangat konyol.
Jessica memalingkan wajahnya tanpa menjawab perkataan ku, di dalam mobil penuh keheningan.
Perjalanan kami memakan waktu sekitar 20 menit, karena jalanan yang macat membuat kami lama sampai.
Sesampainya di parkiran kampus, Jessica dengan cepat membuka pintu mobil dan keluar, dia berjalan cepat memasuki area taman dekat gedung jurusan ku. Aku memutar moba mata ku kesal saat Jessica dengan seenaknya meninggalkan ku, di kampus gadis itu mendapatkan julukan Ratu Iblis sedang kan aku Dayang Iblis, aku tidak tahu siapa yang pertama kali membuat nama itu dan lagi oh ayo lah masa dayang sih.
Aku berlari mengejar Jessica, karena sepanjang kami berada di area kampus semua mata mengarah ke kami. Aku menarik tangan Jessica. "Tidak bisakah kamu tidak melakukan ini?" Ayolah! Ini hari senin setelah hari libur tentunya, masa iya dia sudah berulah lagi.
"Tentu saja tidak bisa, sayang." Ketika Jessica mengatakan itu, aku ingin sekali memukul kepalanya kuat-kuat tetapi takut dosa dia kan kakak.
"Jessica!" Teriakku saat tangannya sudah terbebas dari tangan ku dia melanjutkan jalannya. Sungguh, dia mengabaikanku.
"Astaga, aku bisa gila jika dia berbuat onar lagi." Jika dipertanyakan kejahatan apa yang aku lakukan, aku dengan keras mengatakan bahwa satu-satunya kejahatan yang aku perbuat adalah datang ke kampus bersama Jessica, karna dia akan membuat masalah dengan perempuan lain dan aku yang malu!
Mata ku terbelalak saat mengingat gadis Casya yang baru saja dia sebutkan tadi di perjalanan. Aku belum pernah melihat Jessica semarah ini.
Meskipun Jessica bodoh karena di otaknya hanya laki-laki terus tetapi aku menyayanginya, mungkin karena dia saudari kembarku. Ketika dia terus-menerus membuat masalah, ketika dia mencoba mengubah ku sesuai apa yang dia inginkan dan semua perilakunya yang tidak ada habisnya yang tidak aku sukai.
02. Kemarahan Jessica
Orang-orang mengatakan bahwa Jessica gadis yang liar sangat liar, liar dalam artian dunia malam sementara aku orang-orang mengatakan aku gadis polos yang tidak sesuai dengan nama ku dan mereka selalu tidak akan pernah ketinggalan mengatakan bahwa suatu saat aku akan sama seperti Jessica yang masuk ke dunia malam.
Kilasan tentang apa yang akan terjadi saat Jessica memasuki halaman taman kampus gedung ku melintas di benak ku. Sialan! Dia pasti akan membuat masalah, apa yang dia lakukan di sana?!
Aku mencoba mengejar Jessica, tetapi dia sudah tidak terlihat mungkin karena aku terlalu banyak melamun.
Ketika aku memasuki area taman dengan langkah cepat dan berbelok ke kanan, aku terkejut dengan pemandangan yang aku lihat.
Disana Jessica meraih tangan seorang gadis berambut coklat, Jessica mulai berbicara dan meludah. Dia mendorongnya ke belakang dengan keras. Apa masalahnya? Kapan Jessica menjadi musuh dari gadis itu. Seingat ku namanya adalah Casya, dia gadis yang beberapa hari lalu berpapasan dengan ku dan ku rasa dia gadis yang baik lalu mengapa dia terlibat masalah dengan Jessica.
"Jessica, apa yang kamu lakukan?" aku berjalan mendekati mereka. Aku melihat di belakang Casya ada empat gadis lainnya yang memandang ke arahku dan Jessica tak kalah tajam, gila main nya keroyokan.
Dengan kasar aku meraih tangan Jessica agar berjarak dengan mereka berlima. "sekarang kita sudah selesai, ayo pergi" tetapi sesuatu yang tidak pernah aku duga terjadi.
Entah mengapa area taman saat ini sangat sepi hanya ada kami bertujuh, Jessica menatap tajam Casya dan maju selangkah.
BUK
Sebuah suara mengalihkan ku padahal aku hanya melihat ke arah lain sebentar, Sementara sebuah kelompok berkumpul di belakang kakakku, itu sudah melampaui jumlah gadis di depan kami. Jangan lupakan mereka hanya menonton tanpa memisahkan. Tontonan gratis!
Sementara yang lain menunggu perkelahian pecah, gadis pirang itu memegang hidungnya yang berdarah dan Jessica berbicara, "Kamu sudah selesai..." Aku berani bersumpah aku melihat kobaran api bersinar di mata kakak ku. "Sudah cukup, Casya. Aku yang akan membalas semua rasa sakit ku. ingat itu!"
Apakah Jessica akan melukai Casya? Apa? Apa yang gadis ini rencanakan? Aku merasa akan menjadi gila, aku tidak bisa mengendalikan saudariku sendiri.
Aku tahu Jessica cemburu. Tetapi, apakah rasa cemburu nya itu tidak bisa di bicara kan dengan baik-baik saja? Apa artinya berkelahi yang ujungnya tidak ada penyelesaian. Di satu sisi bahkan aku tidak percaya kalau ada laki-laki yang benar-benar bisa membuat Jessica cemburu, dan membuat Jessica berkelahi hanya karena seorang laki-laki?
Sebagai adik yang baik, aku menarik tangan Jessica untuk menjauh dari kerumunan itu. Tetapi, sepanjang aku menyeret Jessica, mata kakak ku justru menatap tajam Casya sebagai tanda berkibarnya bendera perang?
Kami berjalan kembali ke arah parkiran. Dan pada saat itu, sebuah mobil yang sangat mewah dengan warna hitam memasuki parkiran. Pada saat itu juga, semua orang berhenti pada aktivitas mereka masing-masing dan fokus pada satu tempat. aku dan Jessica juga memandang siapa yang berada dalam mobil itu, rasa penasaranku terjawab.
Pintu mobil terbuka, dan siapa pun yang keluar dari sana dengan langkah pertama nya membuat suasana menjadi sangat sunyi.
Seorang pria dengan mata tajam keluar dari sana perawakannya terlihat sempurna dengan wajah datar memandang lurus, tak sengaja tatapan mata kami bertemu secara tak terduga.
Semua orang di sana terdiam melihat pria itu, dan satu-satunya yang tidak diam adalah detak jantungku yang berdetak dengan cepat saat bertatapan dengan pria itu.
Aku tidak bisa mengalihkan pandangan ku darinya saat dia menatap ku dengan matanya yang terlihat seperti akan memancar kan api dari setiap saat. Waktu seolah berhenti, apakah pertemuan pertama selalu menakutkan ini
Baru pertama kali melihat pria itu, siapa sebenarnya dia? Apakah mahasiswa jurusan lain? Atau justru mahasiswa pindahan? mungkinkah dia tamu?
Satu mobil lagi datang dan berhenti tepat di samping mobil mewah pria itu, suasana sama seperti tadi saat pria itu turun dari mobil. Seorang pria keluar dari sana, dengan jemari tangan kanannya, dia menyisir rambut menambah pesona lagi bagi orang yang melihat.
Berbeda dengan ku, aku tidak tertarik dengannya, dia jelek lebih tampan pria yang berdiri di depan mobil mewah di sampingnya. Terdengar songong memang tetapi bagaimana lagi pesona pria dingin jauh lebih di depan.
"Thomas." Lirih Jessica memandang sayup ke arah pria tadi. Oh namanya Thomas, Kereta Api kah?
Aku memandang Jessica yang masih melihat pria-Thomas, kasian sekali kakak ku ini. Tetapi, mengapa Jessica seperti orang yang putus cinta? Bukankah mereka memiliki hubungan sehingga Jessica melabrak Casya, karena rasa cemburu.
Mungkin aku terlalu banyak berpikir sehingga membuat kesimpulan sendiri. Dari pada itu bukankah lebih menarik pria dingin di sampingnya, tatapannya tajam membuat jantung ku berdetak cepat. Tetapi, apa yang dia lakukan dengan berdiri diam disana? Ingin mencoba ber-akting menjadi patung?
"Ganteng sih tapi jangan di pertontonkan dong, kasian istri masa depan pria ding-"
Bruk
Sialan...
Gumaman ku terpotong karena Aku terjatuh akibat dorongan dari seseorang yang lewat dari samping kiri ku, makhluk macam apa yang melakukannya, apakah mata nya buta sehingga tidak melihat ku sebesar ini. Menyebalkan!
"Thomaasss!!." Teriak seorang gadis yang menabrak ku, gadis itu berlari ke arah Thomas. Siapa sih dia? Suaranya tidak jelas gitu!
Seseorang membantu ku berdiri, dari bawah aku melihat sepatu mengkilat bahkan aku yakin bisa berkaca di sana, Horang Kaya!
Dia membantu ku berdiri, lutut ku terluka karena dorongan tadi. Sayang sekali aku memakai dress selutut, jika memakai celana kan tidak akan se-terluka ini.
"Nira!." Suara Jessica yang begetar terdengar di samping ku, apakah dia baru sadar kalau adiknya terjatuh. Apa karena Thomas Thomas itu atensinya teralihkan, spesial apa sih Thomas itu?
Aku memandang Jessica untuk meyakinkan kalau aku baik-baik saja.
Jessica melihat seseorang yang membantu ku berdiri. "Pak, Anatomy." Ucap Jessica terkejut. "Terima Kasih sudah membantu Adik saya." Jessica menormalkan mimik wajaknya, dan menunduk menandakan terima kasih.
Anatomy? Namanya Anatomy? Aku tidak salah dengar kan!? Akan ku tanya nanti pada Jessica kebenarannya!
Aku melihat pria yang membantu ku, aku terkejut ternyata pria itu yang membuat jantung ku berdetak lebih cepat. Astaga!! Mengapa pria ini sangat TAMPAN!, jika di lihat dari dekat. Aku gak akan cuci dress ini karena jas pria tampan bersentuhan dengan dress ku.
Pria itu hanya mengangguk membalas perkataan Jessica. Jessica mengambil alih tubuh ku dari pria itu. Sayang sekali aku kehilangan dekapan hangatnya.
Jessica meneliti tubuhku apakah ada luka lain selain lutut ku. Sedangkan, pria tampan-ku sudah pergi. Meng-klaim menjadi hak milik jauh lebih baik.
"Kamu tidak apa-apa, bukan?." Jessica memandang khawatir aku.
Aku menggeleng. "Tidak."
Jessica mengalihkan pandangannya ke arah Thomas. Dia manatap sinis Thomas. "Casya, habis kamu aku buat." Aku terkejut mendengarnya, Casya? Wanita yang tadi di labrak Jessica. Tetapi mengapa Thomas yang di tatap sinis?
Aku melihat Casya berdiri di samping Thomas, wanita itu mengatakan sesuatu dengan mimik wajah sedih bahkan sekarang wanita itu menangis! Wah drama.
Casya melihat takut-takut ke arah ku, tidak maksud ku ke arah Jessica. Apakah dia mengaduh tentang Jessica yang mendorongnya? Aku baru sadar ada tissu di tangannya, dia memegang tissu dan menempelkan di hidungnya, tissu itu berdarah? Lupa kalau Kakak ku terlalu kuat saat memberikan pelajaran pada wanita itu.
Thomas memandang Jessica yang sekarang sedang menatapnya dalam diam. Tangan kanan Thomas berada di pundak Casya, mereka berdua berjalan berbarengan meninggalkan area parkiran. Tetapi, arah pandang Thomas tidak sedikitpun teralihkan dari Jessica. Cinta segitiga hee..
Entah siapa yang menjadi orang ketiga di sini, Jessica atau Casya. Aku berdoa semoga Casya, karna citra Jessica sudah buruk di mata orang jangan sampai menambahnya lagi.
Jessica membantu ku berjalan ke ruang rawat kampus. Disini lah aku sekarang bolos mata kuliah, untuk mengobati luka ku di temani Jessica, padahal aku sudah mengatakannya bahwa aku bisa sendiri tetapi Jessica dengan tegas mengatakan.
"Aku kakak jadi sudah seharusnya melindungi mu"
Mengapa dia baru sadar jika dia kakak, lalu mengapa dia tidak menutup mulus semua orang yang mengatakan kalau aku Dayang Iblis.
Jessica memainkan ponselnya dengan fokus sedangkan aku duduk di brankar ruang rawat dalam diam, bingung ingin melakukan apa.
Jessica beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah ku. "Aku pinjam kunci mobil." Bukan kunci nya saja pasti kamu akan membawa mobil ku kan!! Ingin aku mengatakan seperti itu.
"Mau pergi kemana kamu?."
Helaan napas terdengar dari Jessica. "Suatu tempat."
Aku mengeryit, lalu aku di tinggal sendiri gitu?. "Kamu bisa pulang dengan taksi, bukan?." Sudah ku duga. Punya kakak minus akhlak. Tapi, bagaimana Jessica tahu aku mengatakan itu?
Tuk
Jari telunjuk dan jari tengah Jessica, ia ketuk ke kening ku. "Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Nira." Jessica tersenyum memandang ku.
Aku menunjuk tas yang berada di kursi dekat kakinya, kursi itu tidak di duduki Jessica karena ia hanya berdiri tanpa ini duduk. Mungkin, Jessica sibuk.
Jessica membuka tas ku dan mengambil kunci mobil disana. "Aku meminjamnya." Ucap Jessica menggoyangkan gantungan kunci mobil ku.
Aku mendengus melihatnya. "Lalu kamu tidak masuk jam berikutnya?." Siang nanti ada mata kuliah Jessica dengan Dosen galak, apa ia akan meninggalkan nya.
"Entah lah aku tidak tahu. Suasana hati ku lagi buruk." Jessica merapikan penampilannya. Tidak lupa memoleskan lipstik di bibirnya.
"Padahal sudah tebal loh." Gumam ku.
"Kamu mengatakan sesuatu?." Wah. Jessica mendengarkan, aku lupa biasanya aku akan mengatakan dalam hati mengapa aku menyuarakannya.
Aku menggeleng memandangnya.
"Jika seperti itu aku pergi. Jaga diri mu baik-baik, Dayanira!." Jessica mengelus puncak kepala ku lembut dan melangkahkan kakinya pergi.
Aku sendirian..
Aku ingin keluar tetapi kedua lutut ku sakit. Tidak ku sangkah aku jatuh dengan kedua kaki menghantam aspal dekat parkiran, aku bersyukur tidak ada bebatuan kecil di sana jika ada mungkin bukan hanya luka gesekan saja yang tercetak di kulit mulus ku.
"Ngomong-ngomong soal Pak Anatomy, Bapak itu ganteng juga." Aku tersenyum mengingat kejadian beberapa waktu laku saat Pria Tampan membantu ku.
"Tapi, memang benar namanya Anatomy aku tidak yakin."
"Apa yang tidak yakin?." Sebuah suara masuk ke indra pendengaran ku, suara yang berat dan terdengar tidak asing tapi aku lupa mendengarnya di mana.
Aku terkejut melihat Pria-Anatomy beberapa langkah dari pintu masuk. Pak-Anatomy ngapain di ruang rawat?
"Kenapa diam?." Pak-Anatomy melangkahkan kakinya ke arah ku, di tangan kanan nya ada beberapa lembar berkas yang cukup tebal.
Aku melihat bagaimana cara Pak-Anatomy berjalan ke arah ku. Pandangannya hanya tertujuh ke arah ku dengan tatapan tajam.
"Ti-dak, Pak." Ucap ku terbata. Sangat sulit jika berhadapan dengan seseorang yang memikat hati untuk pertama kalinya memang.
Pak-Anatomy berdiri di samping Brankar ku, aku dapat menghirup parfumnya. Berapa liter parfum yang dia gunakan, mengapa semenyengat ini. Tetapi, menenangkan.
"Pak Anatomy ngapain di sini?." Aku membuka suara, jika berdiam terus bukankah itu terlihat canggung.
Pria di hadapan ku memandang ku dengan satu alis terangkat, mengapa tampangnya terlihat tampan saat seperti itu? beruntung sekali istrinya kelak, saat bangun tidur dapat melihat mahakarya yang sempurna seperti Pak-Anatomy.
"Apa?." Ucapannya tidak sesuai dengan wajahnya yang sudah memandang ku dingin atau mungkin datar?. Apa salah ku?
"Pak Anatomy ngapain di sini? Bapak Sakit?." Ucap ku mengulanginya, takut jika dia tidak mendengarnya.
Matanya menatap ku tajam. "Anatomy?." Suaranya merendah.
"Mm-Iya." Sahut ku gugup. Aku tidak salah bukan?
"Tidak, Anatomy." Aku membeku, maksudnya tidak itu apa? Sudah jelas Jessica mengatakan Pak Anatomy kan? Apa aku yang salah dengar.
"Bapak, Pak Anatomy kan?." Tanya ku memastikan lagi.
Lagi dan lagi Pria itu menatap ku tajam, aku tidak tahu ada dendam apa dia terhadap ku sehingga menatap ku seperti itu. Aku hanya mengatakan namanya saja.
Pak-Anatomy memandang ku lekat, setelah itu dia pergi melangkah kan kakinya meninggalkan ruang rawat. Apa kedatangan nya hanya melihat ku saja, jika memang benar aku tersanjung atas tindakan Pak-Anatomy.
Dering ponsel mengalihkan ku. Jessica nama yang tertera disana. Padahal belum lama dia pergi sudah merindukan ku saja.
"Hallo." Ucap ku, Terdengar helaan nafas di sebrang sana.
"Nira, kamu sungguh pulang sendiri bisa, kan?." Oh, Jessica masih mengkhawatirkan ku ternyata. Padahal aku gak terlalu terluka, bagaimana jika aku terlibat kecelakaan pasti dia akan lebih khawatir.
"Bisa. Kamu dimana?."
"Suatu tempat. Aku tutup teleponnya. Jaga diri mu baik-baik." Setelah Jessica mengatakan kalimat itu, sambungan telepon di putuskan.
Sebelum aku memasukkan kembali ponsel ku ke dalam tas, bunyi notifikasi masuk. Grup Class, yang memberitahukan bahwa hari ini tidak ada lagi jadwal kuliah. Lalu, aku harus kemana ini sudah jam 11.00, selama itu kah aku di ruang rawat?
Berada di dalam perpustakaan sepertinya pilihan yang baik. Tetapi, lebih baik rebahan di rumah saja. Jadi mari kita pulang!
Aku mencoba turun dari Brankar yang ku tempati aku menatap kedua lutut ku yang di balut perban oleh Jessica. Jessica cukup pintar dalam hal itu. Aku mencoba berdiri rasanya lutut ku lumayan ngilu, dengan tertatih aku berjalan keluar dari ruang rawat tak lupa aku membawa tas ku. Kan sayang jika di tinggalkan.
Saat keluar ruang kesehatan aku melihat cukup ramai mahasiswa yang berkeliaran ada yang duduk di bawah pohon, di kursi yang sudah di sedia kan bahkan ada yang berdiri.
Aku berjalan pelan, sangat pelan dengan tangan yang memegang sisi dinding bersyukur jalan untuk pulang masih terhubung dengan dinding jika tidak aku bingung harus pulang dengan cara apa.
Derap langkah aku dengar dari belakang ku, firasat ku buruk mendengarnya.
Dor!!
Seseorang menepuk punggung ku dengan kedua tangannya, keseimbangan ku tidak stabil hampir aku jatuh kedepan jika orang yang mendorong ku tidak menarik ku kebelakang.