Hongkong, tahun 2010
Dalam gerakan lambat yang dramatis, seorang pria tampan nan rupawan menggeliat di atas ranjang bulu angsa yang empuk. Dia baru saja bangun setelah semalaman menyelesaikan tumpukan pekerjaan yang seperti tiada habisnya. Dengan bergairah, pria itu turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Pria itu mematut wajah mengantuknya di depan cermin, lalu mengambil obat kumur dan menyegarkan mulutnya. Kemudian dia bergeser kesekat kaca di sebelahnya dan mengguyur tubuhnya di bawah shower air hangat. Terakhir, dia menuang shampo ke kepalanya dan memijat perlahan dengan kedua tangan terangkat, memperlihatkan otot-otot lengannya yang maskulin.
Pagi hari pria itu nyaris sempurna andai saja dirinya tidak dikejutkan dengan kedatangan sabahatnya yang tanpa informasi lebih dulu, langsung menggedor pintu rumahnya dan membuat kekacauan.
“Tidak! Aku tidak mau! Mundur kau dari pintu rumahku sekarang juga!” Teriak pria itu dengan mata membulat panik, tertuju pada sesuatu yang dibawa oleh sahabatnya.
Pria yang berteriak itu adalah Nicholas Liu alias Nic. Seorang CEO atau pemilik perusahaan furniture terbesar di Hongkong. Pukul sembilan nanti seharusnya Nic sudah berada di kantor untuk melakukan converence bersama anggota assosiasi pengusaha furniture asia. Tetapi …
“Aku mohon, Nic! Hanya kau satu-satunya orang yang bisa aku percaya. Ayoo laahh … sahabatku yang paling tampan, kaya raya dan selalu wangi! Aku mohon!” Seorang wanita tampak memohon sambil menahan pintu rumah Nic dengan sebelah kakinya. Sedang tangannya memeluk seekor kucing putih berbulu panjang.
“Tidak, Hanna! Kau kan sudah tahu kalau aku tidak suka kucing! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengijinkan seekor kucing masuk ke dalam rumahku! Bawa makhluk berbulu itu pergi sekarang juga!” Nic mendorong pintu rumahnya sampai Hanna mengaduh.
Hanna adalah sahabat Nic sedari kecil. Berusia satu tahun lebih muda darinya dan berprofesi sebagai seorang arkeolong. Pekerjaannya berkeliling dunia untuk meneliti situs-situs bersejarah. Sekarang katanya dia mendapatkan tugas untuk meneliti di Mesir dan sedang berusaha merayu Nic agar mau dititipkan kucing peliharaannya.
“Oohh please, Nic! Kau itu bukan tidak suka kucing, kau hanya belum terbiasa dengan mereka. Moonlight kucing yang sangat ramah dan manja. Dia juga sudah terlatih untuk tidak akan melompat ke atas meja seenaknya. Dia juga pandai buang air di luar rumah. Aku mohon sahabat …”
“Hentikan, Hanna! Keluar sekarang atau aku akan mencoret namamu dari daftar penerima warisan kalau aku mati!” Nic mengancam dengan wajah marah.
“Begini – begini! Kau boleh memerasku setelah aku pulang dari mesir, sesuka hatimu. Aku mohon, Nic! Satu tahun saja. Tolong jaga kucingku. Ohh yaa, suaranya juga sangat menggemaskan lohh … Moonlight ayoo bersuara … meooong …”
“Meoong …” Kucing putih itu memiringkan kepalanya dan mengeong lembut.
“Tuh kaan … dia imut sekali kan …” ucap Hanna seraya mendorong pintu dengan kakinya.
Nampaknya Nic sudah terhipnotis dengan pesona Moonlight yang bermata biru dan beraura bak putri raja. Pintu terbuka dengan mudah dan Hanna langsung meletakkan kucingnya di lantai. Seperti layaknya kucing pada umumnya, kucing putih itupun langsung mengendus-endus lantai dan berkeliling ruang tamu Nic.
“Dia hanya makan ikan. Digoreng atau direbus tidak masalah. Sehari makan dua kali, pagi dan malam hari. Seharian kerjaannya hanya tidur. Jadi kau cukup menyiapkan selimut di sudut tertentu dan dia akan terus tidur di sana sampai kau datang. Satu lagi …”
“Tunggu!” Nic menengadahkan tangannya ke wajah Hanna. “Kau harus membayar semua kerepotan yang akan aku dapatkan selama merawat makhluk berbulu itu.”
“Apa? Memalukan! Kau kan CEO Golden Furniture Hongkong! Masa kau minta uang dari arkeolog miskin sepertiku?” Hanna mengerucutkan bibirnya.
“Omong kosong! Berikan padaku unlimited black card-mu. Kau tidak akan membutuhkannya di Mesir. Mana?” Nic menggerakkan tangannya tidak sabaran.
“Baiklah. Asal kau menjaga Moonlight-ku dengan baik dan penuh kasih sayang.” Hanna membuka dompetnya dan memberikan kartu ajaibnya ke tangan Nic. “Ohh yaa, aku peringatkan kepadamu! Jangan menaruh dia di dekat jendela terbuka atau di luar rumah. Itu akan sangat berbahaya!”
“Wow! Ide bagus, Hanna! Aku akan menaruhnya di teras rumah agar tidak perlu repot membersihkan rumah dari bulu-bulu kucing.” Nic menarik sudut bibirnya dan mendengus. Sungguh tidak terbayangkan olehnya kalau setiap hari harus membersihkan gumpalan bulu yang menempel di furniture mahalnya.
“No! Kau akan ada dalam masalah besar kalau melakukannya, Nic!” ancam Hanna.
“Ohh aku takut!” cibir Nic dengan wajah mengejek.
“Terserah kau saja deh! Aku sudah sangat berterima kasih karena kau mau menjaga Moonlight. Kau memang sahabat terbaikku, Nic.” Hanna memeluk Nic dengan perasaan sayang seorang sahabat.
“Well, thank you for coming, my bestie Hanna. Selamat bersenang-senang dengan piramid dan sphynx. Kabari aku kalau sudah sampai di Mesir. Bye …” Nic melepaskan tubuh Hanna dan mendorong wanita itu keluar dari rumahnya.
Setelah mobil Hanna keluar dari halaman rumahnya, Nic segera menutup pintu rumah dan mencari keberadaan kucing putih itu.
“Meoong …”
“Stop! Kau tidak boleh melakukannya, kucing! Kau tidak boleh tidur di sana!” seru Nic pada Moonlight yang sudah bersiap melompat ke atas sofa model terbaru yang diproduksi perusahaannya.
“Hei, kucing! Tadi kau dengar sendiri kan, aku itu tidak suka dengan kucing. Jadi, aku akan menyiapkan selimut serta makanan untukmu di teras rumah. Kau diamlah di sana dan jangan coba-coba menggaruk pintu rumahku. Okay?!” Nic memelototi Moonlight sambil bertolak pinggang.
Moonlight memiringkan kepalanya menatap Nic. Sepintas Nic merasa kalau kucing itu terlihat lucu. Tetapi dia lekas menggelengkan kepalanya. Dia harus kuat dan tidak boleh tergoda dengan sihir yang dimiliki kucing itu.
Sedetik kemudian Nic bergerak hendak menangkap Moonlight, namun kucing itu melesat dengan cepat ke bawah kaki Nic. Aksi kejar-kejaran pun berlangsung sekitar satu jam lamanya hingga akhirnya Nic berhasil menangkap Moonlight dan mengeluarkan kucing itu ke teras rumahnya.
“Jangan bersedih, Moonlight. Aku akan merelakan selimut kualitas terbaikku untuk menjadi alas tidurmu. Tenang saja, pemilikmu bilang, hanya satu tahun …” cengir Nic lalu meninggalkan kucing itu sendirian di teras.
Karena dia sudah terlambat untuk converence, maka Nic memutuskan untuk meyelesaikan pekerjaan kantornya dari rumah, sembari mengawasi Moonlight. Dari siang hingga malam hari Nic mengurung di ruang kerjanya. Berkutat dengan laptop dan tabletnya.
Dari ruang kerjanya tersebut, Nic dapat melihat dengan jelas teras rumahnya dan terakhir kali dia mengintip Moonlight, kucing itu tengah meringkuk di atas selimut yang dia siapkan.
“Dia terlihat nyaman dengan selimut itu. Selimut seharga satu bulan gaji staff di kantor Golden Furniture Hongkong …” ujar Nic miris. Bukan karena harga selimutnya, tapi karena selimut itu kini menjadi alas tidur seekor kucing.
Menjelang tengah malam yang kebetulan malam bulan purnama, sesuatu yang mengejutkan membuat Nic terperangah. Cahaya bulan purnama yang menyorot ke teras rumahnya bersinar semakin lama semakin terang dan membentuk sorot cahaya putih yang menyilaukan mata.
“Apa itu??” Nic memundurkan kursinya dan berjalan ke depan jendela.
Kemudian perlahan-lahan cahaya terang itu mulai memudar, berganti dengan cahaya bulan yang biasa. Nic memincingkan matanya, mencari keberadaan Moonlight yang seharusnya masih melingkar di atas selimut.
“Oh no! Kucing itu – di mana kucing itu?” Nic merapatkan kedua tangannya ke jendela.
“Sh –” Nic mengumpat tertahan. Kucing itu menghilang dari teras rumahnya dan …
“Siapa gadis tanpa busana itu? Apa? Gadis? Whaaaattt?!” Nic berteriak panik seraya berlari keluar dari ruang kerjanya.
A/N :
Hai! Novel ini bergenre fantasi romance yang akan membawa kalian pada kehaluan tingkat tinggi tentang seekor kucing yang berubah menjadi seorang gadis cantik. Baca kelanjutkan kisah Moonlight and Mr. CEO sampai tamat yaa … Happy reading!!
Cahaya bulan purnama menyorot ke teras rumah Nic. Awalnya Nic menganggap cahaya bulan itu sebagai hal yang biasa saja. Namun cahaya itu semakin lama malah semakin terang dan menyilaukan. Nic terperangah dengan fenomena alam yang baru pertama kali dia lihat itu.
Dia memundurkan kursinya dan berjalan mendekati jendela. Kemudian, cahaya menyilaukan itu perlahan memudar. Nic menyipitkan matanya, mencari keberadaan Moonlight yang seharusnya masih melingkar di atas selimut.
“Oh no! Kucing itu – di mana kucing itu?” Nic merapatkan kedua tangannya ke jendela.
Detik berikutnya matanya terbelalak. Moonlight menghilang dari teras dan berganti dengan sosok gadis tanpa busana yang berdiri kebingungan. Seakan menyadari kalau dirinya telanjang, gadis itu segera berjongkok untuk menutupi tubuhnya.
“Sh –“ Nic mengumpat tertahan. “Siapa gadis tanpa busana itu? Apa? Gadis? Whaaaattt?!” Dia pun berlari dengan panik kelar dari ruang kerjanya.
Nic membuka pintu rumahnya dengan terburu-buru. Pemandangan pertama Nic adalah punggung seorang gadis yang tengah berjongkok dengan menundukkan kepala dalam-dalam. Tubuh gadis itu mungil dan kulitnya seputih porcelain. Nic menelan ludahnya kasar.
“Hei! Siapa kau?” seru Nic dengan wajah tegang dan pipi panas.
Yang dipanggil menegakkan kepalanya dan menengok ke arah Nic. Manik mata gadis itu berwarna biru, persis mata kucing milik Hanna. Bibir merah muda gadis itu bergetar. Dia seolah hendak membalas seruan Nic tapi suaranya tertahan di tenggorokan.
“Jawab aku! Siapa kau? Dan kemana perginya kucing putih yang tadi tidur di sana?” Nic menunjuk selimut yang masih tertata rapi.
Gadis itu kembali membenamkan wajah ke kakinya dan memeluk tubuhnya lebih erat. Nic kesal dengan banyaknya tanda tanya yang berseliweran di otaknya. Hal pertama yang terpikirkan hanyalah menarik selimut yang berada sejajar dengan pintu masuk dan menyelimuti tubuh polos gadis itu.
“Kita masuk! Udara di luar sangat dingin. Nanti baru kita bicarakan lagi siapa kau sebenarnya.” Nic merengkuh pundak gadis mungil itu dan menggiringnya ke dalam rumah.
“Di luar jangkauan! Di luar jangkauan! Astaga, Tuhan! Apa di mesir tidak ada sinyal?? Sialan!” Nic membanting ponselnya ke atas sofa. Gadis yang baru dipungutnya dari teras mengerjapkan matanya terkejut.
Nic terdiam, mengerucutkan bibirnya dengan dahi berkerut. Menatap gadis yang membungkus dirinya dengan selimut, seperti kepompong. Rambut gadis itu hitam legam, lurus panjang hingga ke pinggang. Salah satu kriteria wanita idaman Nic.
“Jangan diam saja! Jelaskan kepadaku, kau ini sebenarnya siapa?” Nic menyuar rambutnya dengan frustasi.
Gadis itu mengeluarkan sebelah tangannya dari dalam selimut. Dia membuka kepalan tangannya dan menunjukkan sebuah benda berbentuk kalung. Mata Nic membulat melihat benda di tangan gadis itu dan mengambilnya.
“Moon – light …” Nic membaca lambat nama yang terukir pada liontin emas kalung itu. “Kau – kau benar-benar kucing itu. Ka – kau kucing yang berubah menjadi gadis atau … gadis yang berubah menjadi kucing?”
Gadis itu menyunggingkan senyuman tipis. Seolah dia sendiri tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi dengan dirinya. Gadis itu memasukkan kembali sebelah tangannya ke dalam selimut dan menundukkan kepalanya.
“Baiklah. Aku yakin apa yang terjadi malam ini hanya mimpi. Aku ketiduran di ruang kerjaku dan sekarang aku sedang dalam alam mimpi. Sekarang aku akan kembali tidur dan bangun besok pagi dank au sudah menghilang dari rumahku.” Nic menarik nafas dan mengembuskannya dengan kasar.
“Begitu … pasti begitu …” ucapnya lalu berjalan menuju kamar dan mengunci pintunya.
Keesokan harinya, Nic bangun tidur seperti biasanya. Berjalan sambil menguap menuju kamar mandi di dalam kamarnya. Berkumur dengan cairan pembersih mulut rasa mint, mencuci wajahnya dengan facial foam merek terkenal dan menyisir rambutnya. Rutinitas pagi sebelum dia sarapan dan baru setelah itu mengguyur tubuh di bawah shower air hangat.
“Rasanya aku masih punya roti gandum dan selai stoberi. Aku sarapan itu saja deh …” Nic keluar dari kamar mengenakan celana pendek ketat dan bertelanjang dada. Maklum saja, dia kan bujangan. Hidup sendirian di rumah mewah yang terkadang terasa sunyi dan dingin.
Nic bersiul santai. Mengoleskan roti dengan mentega, menyusunnya di alat pemanggang roti dan menjepitnya. Hanya beberapa detik sampai sedikit ada bau gosong dari rotinya lalu Nic mengangkat rotinya. Wangi roti bakar menguar di seluruh penjuru rumah.
Dia pun membawa piring berisi roti dan segelas susu dingin ke ruang tengah rumahnya. Ada berita pagi yang harus dia tonton sebelum berangkat kerja. Dengan piring di tangan kanan dan gelas susu di tangan kiri Nic mendaratkan bokongnya di atas sofa.
“What is that??” Nic melompat lagi setelah bokongnya menyentuh sesuatu yang tidak lazim ada di rumahnya. “Siapa kau?”
Gadis yang kepalanya sempat tertindih bokong Nic menegakkan posisi tidurnya dan mengucek-ngucek matanya. Nic meletakkan piring dan gelasnya di atas meja. Seketika itu juga matanya tertuju pada kalung kucing yang semalam dia taruh sembarangan.
“Oh Tuhan! Ternyata kau nyata …” Nic meraup wajah dengan kedua tangannya. “Siapa namamu? Moonlight? Astaga! Sekarang apa yang harus aku lakukan padamu?”
Nic menengok kepada gadis yang masih membisu itu, mencoba mencari petunjuk selanjutnya. Namun yang dia temukan malah wajah gadis itu yang mulai merona sembari memandangi dirinya. Nic seketika menjadi salah tingkah. Dengan tubuh yang hanya memakai celana pendek ketat, kini dia berhadapan dengan seorang gadis yang hanya memakai selimut sebatas dadanya.
“Ini tidak bisa dibiarkan! Bagaimanapun juga aku ini pria dan dia wanita!” Nic berlari ke dalam kamarnya. Membongkar lemari dan mencari apapun yang bisa dipakai oleh Moonlight.
“Seingatku Hanna pernah meninggalkan salah satu gaunnya di sini deh. Aduuhh mana yaa??”
“Dapat!” Tangan Nic berhasil menggapai sebuah paper bag berisi gaun yang pernah Hanna tinggalkan setelah acara gala dinner yang membuat wanita itu tersiksa, lengkap dengan heels sepuluh centinya.
“Nah! Pakai ini. Kau boleh memakai kamar kosong yang di sebelah sana untuk berganti pakaian. Cepat!” Nic menjatuhkan paper bag itu di sebelah gadis itu.
Gadis yang masih membungkus tubuhnya dengan selimut itu hanya terbengong memandangi paper bag dan Nic bergantian. Nic memijat pangkal hidungnya.
“Bagus, Nic! Tentu saja dia tidak mengerti perkataanmu. Dia kan kucing! Kucing! Aarrgghhh!!” Nic meremas-remas jarinya, mencoba mencari cara untuk dapat berkomunikasi dengan gadis itu.
“Oke! Begini. Jadi …” Nic mengeluarkan gaun bermotif bunga dari dalam paper bag dan membuka lipatan gaunnya. Selembar gaun berbahan sutra tipis tergelar dihadapan Moonlight.
Lalu Nic menunjuk gadis itu. “Kau! Pakai …” Nic memantaskan gaun itu ke depan tubuhnya. “ …ini. Kau pakai gaun ini. Oke??”
Mulut gadis itu membulat. Seolah terpesona dengan gaun berbahan sutra yang diperlihatkan Nic, gadis itu mengulurkan tangannya hendak meraih gaun itu. Nic menghela nafas lega.
“Kau tahu apa maksudku kan? Nah – ambil ini dan pergi ke kamar itu! Ayoo …”
Moonlight memandangi gaun di tangannya dan menempelkan permukaan kain halus itu di pipinya. Dia memejamkan mata seolah yang baru saja dia terima itu adalah sesuatu yang sangat dia rindukan. Namun apa yang dilakukan gadis itu membuat Nic semakin tidak tenang.
Lekas dia menarik tangan Moonlight menuju kamar yang mungkin akan digunakan oleh gadis itu selama setahun kedepan. Gadis itu tertatih mengikuti Nic dengan satu tangan menahan selimut yang membungkus tubuhnya.
“Pakailah. Kalau sudah, aku akan menunggumu di ruang tengah,” ucap Nic lalu mendorong masuk tubuh Moonlight ke dalam kamar.
Nic menunggu dengan gelisah. Sudah lebih dari lima belas menit, Moonlight belum juga keluar dari kamar. Jangan-jangan gadis itu tidak tahu cara menggunakan gaunnya? Aduh! Padahal itu kan hanya gaun tali satu yang sederhana dan rendah di bagian dada.
Tunggu! Nic bangun dari tempat duduknya. Seingatnya, bentuk gaun itulah yang membuat Hanna merasa tersiksa selama menghadiri gala dinner yang diselenggarakan ayahnya. Karena Hanna merasa setiap orang yang dia ajak bicara selalu mengarahkan mata ke bagian dadanya.
“Celaka! Moonlight!” Nic berseru sembari melangkah ke depan pintu kamar. “Moon …”
Pintu kamar terbuka. Moonlight – gadis berwajah oriental dengan kulit seputih dan semulus porcelain, rambut hitam legam terurai sampai ke pinggang. Keluar kamar dengan mengenakan dress berbahan sutra tipis bermotif bunga.
Nic merasa tenggorokannya tiba-tiba kering. “Seharusnya aku membelikan lebih dulu pakaian dalam, sebelum menyuruhmu memakai gaun itu …” Mata Nic tidak bisa lepas dari bentuk tubuh Moonlight yang tercetak sempurna.
Dering ponsel Nic segera menyadarkan pria itu dari pikiran-pikiran liarnya akan tubuh Moonlight. Bergegas dia berlari meraih ponselnya yang masih berada di dalam kamar. Sebuah panggilan masuk dari sekertaris kantornya.
“Selamat pagi, Linda …” sapa Nic dengan wibawanya.
“Selamat siang, Mr. CEO. Maaf, boleh saya tahu anda berada di mana sekarang?”
Siang? Nic tersentak. Sudah berapa lama rupanya dia mengurusi gadis itu sampai lupa waktu? Nic mengintip petunjuk waktu di dinding kamarnya. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh siang. Seharusnya satu jam yang lalu dia sudah sampai di kantornya.
“Si – siang … saya … saya masih ada di rumah. Hari ini saya kurang enak badan. Tenggorokan saya … uhuk! agak sakit …” ucap Nic berpura-pura.
“Anda sakit ternyata. Mau saya pesankan jadwal konsultasi dengan dokter pribadi anda?” tanya Linda dengan nada khawatir.
“Tidak perlu. Saya hanya perlu istirahat saja seharian ini. Hmm … apa saya melewatkan sesuatu yang penting?” Nic balas bertanya.
“Jadwal anda hari ini bisa dikatakan tidak terlalu padat. Seharusnya jam 11 nanti anda menghadiri rapat dengan Shanghai cooperation, tapi Mr. Owen mengatakan kalau dia bisa menjadi perwakilan anda.”
“Iya, biarkan Owen saja yang melakukannya. Perusahaan itu hanya meminta kita untuk hadir. Aku sendiri tidak terlalu yakin akan ada proyek besar yang mereka tawarkan. Lalu, ada apa lagi?”
“Hmm … sebenarnya ada satu hal lagi … tapi …” Terdengar keraguan dalam ucapan Linda.
“Tapi apa, Linda?” tanya Nic tidak sabar. Sudut matanya menangkap sosok Moonlight yang masih berdiri dengan gaun suteranya.
“Tapi …”
“Nic! Sayangku …” Seseorang nampaknya telah merebut gagang telepon Linda. Suara seorang wanita bernada manja terdengar menusuk di telinga Nic. “Kau sakit, sayang? Bagaimana bisa? Kau tidak lupa dengan pembukaan tempat karaoke perdanaku, kan? Ayahku juga akan datang bersama rekan-rekan bisnisnya dalam acara nanti.”
“Tamara? Kau kenapa ada di kantorku …?” tanya Nic pura-pura terkejut.
Nic ingin sekali mengumpat. Tapi masalahnya yang sedang berbicara dengannya ini adalah Tamara Chan. Putri tunggal dari Sonny Chan, pemilik ratusan apartement mewah yang tersebar di asia. Satu bulan yang lalu Golden Furniture baru saja menandatangani kontrak untuk memasok furniture ke sepuluh proyek apartement Sonny.
“Tadinya aku mau mengajakmu makan siang bersama. Sayang sekali kau malah tidak datang ke kantor. Tapi aku tetap mau kau datang nanti malam …” rengek Tamara.
“Maafkan aku, Tamara. Aku sakit … uhuk!”
“Kalau begitu aku akan datang ke rumahmu dan membuatkan teh gingseng. Dijamin kau akan cepat sembuh dan bisa datang ke acaraku nanti malam. Berikan alamatmu kepadaku, sayang.”
“Tidak usah! Aku bisa mengurus diriku sendiri, Tamara.”
“Mana mungkin seorang pria lajang bisa mengurus dirinya sendiri? Kau membutuhkan seorang wanita untuk mendampingimu, merawatmu dan memberikan kasih sayang untukmu, Nic sayang … calon suamiku yang tampan …” Tamara mengatakannya dengan penuh percaya diri.
Sementara Tamara mengoceh, Linda sekuat tenaga menahan tawa sedang Nic menahan mual. Sudah lebih dari dua tahun Tamara meniti karir sebagai seorang penyanyi di Hongkong. Meski banyak orang menuding kalau dia membangun karir dengan mengandalkan koneksi ayahnya, tapi tak satupun dapat mengelak keindahan suara Tamara Chan.
“Siapa rekan bisnis yang akan datang bersama ayahmu?” tanya Nic.
Dia tahu benar seperti apa Sonny Chan. Sekalipun anaknya begitu terobsesi pada dirinya, tapi bagi Sonny – bussines is bussines. Pria itu bisa mengundang siapa saja untuk melakukan kerjasama yang menguntungkan dirinya.
Sementara itu kalau Nic membuat Tamara menangis, maka Sonny tidak segan melakukan ancaman-ancaman yang dapat menghambat bisnis perusahaan Nic. Begitulah sedikit tidak enaknya menjadi pengusaha sukses di usia muda, terkadang masih suka dipandang sebelah mata oleh para senior.
“Aku dengar Mr. Kim dari Luxury Apparel akan datang,” bisik Tamara.
Nic menarik sudut bibirnya. Dia sudah menduganya, Mr, Kim pasti masih menyimpan dendam atas kekalahan Luxury Appareal dalam beauty contest saat menentukan perusahaan yang bekerja sama dengan Beijing real estate.
“Baiklah … jam berapa aku harus ke sana?” tanya Nic akhirnya. Membuat Tamara memekik kegirangan dengan suara nyaring.
“Aku tunggu jam empat sore di Royal Hotel. Kau harus membantuku memilihkan gaun untuk acara nanti.”
“Memilih gaun? Aku bukan assitenmu, nona muda!” protes Nic.
“Tapi pendapatmu penting sekali untukku, Nic. Apalagi ini acara yang sangat istimewa. Mau yaa …” Suara Tamara berubah memelas.
“Ya sudah, aku akan datang,” ujar Nic. Dia penasaran dengan pendekatan apalagi yang sedang dilakukan oleh Mr. Kim terhadap Mr. Sonny.
“Terima kasih, Nic sayang … kau memang yang terbaik. Bye …”
“Tunggu!” Nic berseru sebelum Tamara mengembalikan gagang telepon kepada Linda.
“Kenapa lagi, sayang?”
“Di mana toko pakaian dalam wanita yang bagus?” tanya Nic spontan. Dia tidak tahu lagi harus bertanya kepada siapa karena nampaknya Hanna belum juga membaca pesan darinya.
“Toko pakaian dalam wanita?!” jerit Tamara.
“Ssttt!! Bisa tidak sih kau bersikap biasa saja? Berisik sekali!”
“Maafkan aku … tapi – tapi buat apa kau bertanya tentang toko pakaian dalam wanita? Kau jangan membuat aku takut, Nic. Gossip itu tidak benar kan?”
“Gossip? Gossip apa?”
“Gossip kalau kau … kau penyuka sesama jenis?”
“Sialan! Tentu saja tidak. Begini …” Nic mendengus. Dia harus mencari alasan yang paling masuk akal untuk dikatakan kepada Tamara. “Begini … Hanna. Kau tahu kan, sahabatku yang satu itu sedikit –unik. Sebentar lagi dia ulang tahun dan meminta aku membelikan hadiah satu set pakaian dalam wanita yang termahal.”
“Hanna? Dia memintamu untuk …”
“Ssstt! Tidak usah tanya-tanya lagi, cepat katakan saja kepadaku, di mana tokonya.”
“Baiklah. Woman Secret, outletnya ada di Time Square.”
“Thanks, Tamara. Berdandanlah yang cantik nanti malam. See you …”
Tamara seketika membeku. Dia masih tidak percaya kalau Nic baru saja memberikan sebuah perhatian kepadanya. Dengan gagang telepon yang masih menempel di telinganya, dia berucap, “Linda, tadi dia berkata, berdandanlah yang cantik …” Pipinya bersemu merah.
Nic mengembalikan ponselnya ke atas nakas. Di ruang tengah, Moonlight duduk dengan tenang dan menunggunya dirinya. Kedua tangan gadis itu dirapatkan ke depan tubuhnya. Membuat belahan dada gadis itu terlihat semakin menonjol. Di sebelahnya terdapat selimut yang sudah terlipat rapi.
“Maaf membuatmu menunggu. Begini …” Nic mengalihkan tatapannya. Pemandangan indah di depannya, sangat membuat dirinya tidak tenang.
Kruuyuukkk!!
Moonlight memegang perutnya. Nic meringis melihat gerakan tangan gadis itu. Dia teringat pesan dari Hanna untuk memberi makan kucingnya di pagi dan malam hari. Karena sekarang sudah lebih dari pukul sepuluh siang, jadi wajar saja kalau gadis kucing itu kelaparan.
“Baiklah! Begini, aku akan pergi keluar rumah untuk membeli barang-barang kebutuhanmu. Kau tetap di sini dan tunggu aku pulang. Aku akan menghangatkan ikan untukmu dan menuangkan susu. Kau – diam saja. Okay?” Nic berkata sambil membuat gerakan-gerakan yang semoga saja bisa dimengerti oleh Moonlight.
Setelah berganti pakaian, Nic membawakan Moonlight sepiring ikan goreng dan segelas susu hangat. Moonlight mengendus wangi enak yang menggelitik lubang hidungnya. Dia mendekati piring ikan dan mencolek-coleknya tanpa mempedulikan Nic yang berpamitan.
Nic bergegas memacu kendaraannya ke pusat perbelanjaan yang disebutkan Tamara. Dia harus secepatnya mendapatkan pakaian yang lebih layak untuk Moonlight. Nic menemukan toko Woman-Secret yang dikatakan Tamara dengan cepat dan langsung masuk ke dalamnya.
“Selamat datang, Tuan … ada yang bisa kami bantu?” seorang pelayan wanita segera mendatangi Nic yang terlihat seperti orang salah masuk toko.
“Saya mencari satu set pakaian dalam wanita,” jawab Nic.
“Boleh saya tahu ukuran dada pacar anda?”
“Ukuran dada?”
“Iya, Tuan. Ukuran dada kami perlukan untuk menentukan pakaian dalam yang cocok dengan pacar anda.”
Nic terdiam, menyadari kebodohannya. Kenapa tadi dia tidak terpikirkan untuk sekalian bertanya kepada Tamara? Dia sama sekali tidak mengerti tentang pakaian dalam wanita. Ukuran dada? Nic memejamkan mata dengan dahi berkerut, terbayang kembali tubuh polos Moonlight yang tersorot sinar bulan purnama.
Astaga! Nic merasa wajahnya terbakar.