Bab 1

“Mau apa kau, bedebah sial!”

Seorang lelaki berteriak marah dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman pria yang berbadan jauh lebih kekar dan jangkung. Tentu saja usahanya sia-sia.

Tak jauh dari sana, ada seorang gadis menyipitkan matanya, lalu beringsut mengeluarkan kamera, berusaha mendapatkan gambar sempurna di depan parkiran Mixy Bar, salah satu bar yang ada di kota kecil bernama Sedona. Lampu jalan yang temaram, menyulitkan upaya gadis itu untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Sedona adalah kota kecil yang berada di wilayah Arizona, memiliki banyak bukit batu dan tebing tinggi. Kota kecil yang indah, namun tidak untuk Alianna Monru.

Kota kelahirannya itu menyimpan semua kenangan terburuk dari segala hal buruk yang terjadi dalam hidupnya.

Alianna adalah reporter lepas, lulusan sarjana jurnalistik di universitas Arizona. Ia kembali ke kota kelahirannya, dan membuat harian surat kabar sekaligus laman berita online bersama tunangannya, Denzel Gideon. Setelah lima tahun berjalan, Voice Of Sedona menjadi situs berita yang cukup diperhitungkan.

Alianna mengamati kejadian itu dari dalam mobil, yang ia parkir tak jauh dari tempat kejadian. Ia mengamati sosok berjaket hitam, yang terus menghajar lelaki tadi tanpa ampun. Wajah orang berjaket hitam tersebut tertutup hoodie yang ia pakai, sehingga menyulitkan Alianna untuk melihat siapa yang telah menghajar Ryan Dallas.

Ryan adalah bajingan tengik yang menjadi satu-satunya alasan mengapa Alianna mau membuntuti pria tersebut, hingga tengah malam sepi begini.

Alianna telah merencanakan balas dendam yang manis untuk Ryan, atas segala dosa yang telah pria itu lakukan. Akan tetapi, ia tidak pernah punya keinginan mengambil nyawa lelaki tersebut. Kematian adalah hal yang terlalu indah, untuk pria amoral seperti Ryan. Yang Alianna inginkan adalah membuat seorang Ryan Dallas, calon walikota termuda di Sedona, menghabiskan seluruh sisa hidupnya membusuk dalam penjara yang kotor.

Namun sepertinya, bukan cuma Alianna saja yang punya perkara dengan pria sampah itu.

Kepala Ryan dibanting ke kap mobil, sebelum ia tergeletak pingsan tak berdaya. Alianna meringis sekaligus mencibir membayangkan sakit yang terpaksa Ryan tanggung. Ia merasa bahwa, rasa sakit tersebut masih tidak sepadan dengan apa yang telah pria jahat itu lakukan selama ini.

Alianna sebenarnya sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengambil gambar Ryan saat mabuk parah dan menghajar salah seorang yang di Mixy Bar. Ia akan mengunggah photo tersebut ke laman blog berita miliknya, kemudian membuat artikel mengenai betapa tidak pantas seorang Ryan Dallas menjadi walikota.

Namun, jika mengambil gambar saat Ryan dihajar begini, justru malah menguntungkan pria itu. Masyarakat Sedona nanti malah ramai-ramai bersimpati padanya dan makin memperkuat dukungan untuk menjadikan Ryan sebagai walikota.

Jelas, Alianna tidak menginginkan hal itu terjadi.

Mata Alianna membelalak panik, ketika orang dengan jaket hoodie tersebut menyeret tubuh Ryan menjauhi tempat parkir, menuju gang sempit yang berada di samping bar. Firasatnya mengatakan bahwa Ryan akan dihajar sampai merenggang nyawa.

Tidak boleh, jangan sampai Ryan mati sebelum rencana Alianna tuntas.

Alianna mengumpat pelan kemudian buru-buru keluar dari mobil seraya mengalungkan kamera ke leher jenjangnya, dan bergegas mengikuti mereka. Gang tersebut terletak cukup tersembunyi, mengarah ke belakang bar yang sepi. Tempat sempurna untuk menghabisi seseorang.

Alianna mengintip dari balik dinding gang, melihat tubuh kurus Ryan ditendang oleh orang bertudung hitam. Kalau saja tidak ingat bahwa, ia membutuhkan Ryan dalam keadaan hidup, tentu Alianna dengan senang hati ikut menghajar pria sampah tersebut.

Batin Alianna terkikik geli, ketika ia melihat wajah babak belur Ryan yang mencoba membentak lawannya, “Siapa kau sebenarnya, bedebah! Siapa yang menyuruhmu menghajarku, hah?!”

Orang yang dibentak Raymond itu, hanya menjawab dengan menyiramkan segalon air ke seluruh tubuh Raymond.

“Apa yang kau inginkan? Uang? Aku punya banyak, sebut saja berapa yang kau mau dan lepaskan aku!” Ryan terbatuk sambil mencaci maki tak karuan.

Alianna tiba-tiba tersadar, ketika bau familiar menyergap hidung mungilnya, tepat saat orang bertudung mengambil paksa korek api dari saku baju Ryan, sebelum meninju hidungnya karena

Bukan air yang disiram pada Ryan tadi, melainkan bensin!

Alianna terkejut setengah tak percaya. “Astaga, orang itu mau membakar Raymond hidup-hidup?”

“Punya kata-kata terakhir?” tanya sosok bertudung tersebut seraya menjentik korek api di tangannya.

Alianna serta-merta keluar dari persembunyiannya dan menghantam kepala orang bertudung, dengan kayu panjang yang sempat ia ambil dari lorong gang. Pria tersebut langsung limbung dan pingsan tanpa sempat melawan.

Alianna memastikan pria itu benar-benar tidak bergerak, sebelum membuka masker, dan hoodie yang menutupi wajahnya. Wajah pria yang cukup tampan, bahkan terlalu tampan, untuk ukuran seorang preman tukang pukul.

“Tunggu apa lagi, cepat hajar dia!” teriak Ryan pada Alianna.

Mendengar perkataan Ryan membuat tensi darah Alianna naik. Gadis itu berbalik dan menghampiri Ryan yang meringkuk kesakitan sambil memegangi kakinya yang terkilir.

“Kau tidak pantas memberi perintah padaku, Brengsek!”

Tak lama berselang, Inspektur Devon datang dan menghampiri mereka berdua. "Kau tidak apa-apa, Alianna?”

Gadis itu mengangguk singkat dan menoleh ke tempat dimana pria bertudung itu pingsan. Namun, orang tersebut terlihat melarikan diri dengan melompati dinding pembatas gang.

Jiwa jurnalis Alianna tersulut, serta merta ia berlari untuk mengejar pria itu.

Bab 2

“Kau tidak apa-apa?” tanya Devon khawatir. Ia menyelipkan glock 17-nya di sabuk ikat pinggang. Iris hitam pria itu meneliti wajah Alianna, yang merah disana-sini. “Kau sampai berkelahi dengan dia?” tanya Devon sedikit terperanjat.

Alianna mengibaskan tangannya seraya menggeleng, dan hendak memeriksa tubuh Pria Bertudung itu namun dicegah Devon.

“Biar anak buahku yang urus mayat itu. Kau pergilah duluan, obati lukamu dulu sebelum ke kantor,”perintah Devon.

“Hei, lupakan lukaku, ini cuma luka gores,” tukas Alianna. “Ada kemungkinan bahwa dia itu Si Pembunuh Berantai,” Alianna menunjuk mayat pria bertudung dengan dagunya.

“Ya, semua hal yang terjadi di kota ini disangkut-pautkan dengan nama itu. Tapi, belum tentu itu dia.” Devon menghela nafas lelah. “Sudahlah obati saja lukamu dan cepat pergi dari sini.”

Alianna mendecak sebal. Devon mengernyit mendengar sambil mengatur nada suaranya agar tidak meninggi. Susah memang, berhadapan dengan gadis cantik keras kepala ini.

“Alianna, situasi disini terlalu berbahaya, tidakkah kau belajar dari pengalamanmu selama ini?” Devon melirik gadis itu sebelum beranjak meneliti tubuh Raymond yang babak-belur dengan wajah prihatin. “Kau menghajar dia juga?”

Alianna menjawab dengan ketus, “Kau tahu pasti aku tidak mungkin hanya menghajarnya saja jika aku punya kesempatan.”

Devon menghela nafas gusar dan berbalik menatap Alianna, “Baiklah, hentikan nada merajuk itu, apa maumu sekarang?”

Gadis itu langsung tersenyum sumringah, “Apa aku boleh mendapat laporan hasil otopsinya duluan?” Ia menunjuk tubuh pria bertudung, yang tergeletak pingsan dibelakangnya.

Devon mendesah pasrah dan mengangguk ringan, disusul seringai kemenangan di wajah cantik Alianna. Devon pasti betah berlama-lama menatap wajah cantik itu, jika berada di situasi yang berbeda,

atau di garis takdir yang berbeda juga.

“Kalau begitu, aku foto Si Bedebah itu dulu sebentar,” ucap Alianna. Ia segera mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Kemudian gadis berambut hitam panjang itu, beberapa kali mengambil gambar Raymond yang tersungkur dalam keadaan babak belur dengan wajah puas.

“Aku boleh ikut melihat proses interograsi?” tanya Alianna lagi, sambil memasukkan ponsel ke dalam saku jaket denimnya.

“Kau ini banyak mau ya?” sindir Devon.

“Ayolah, kau khan sahabatku yang paaaaaaaaaling baik.”

Mendengar nada suara Alianna seperti itu, mata Devon menyipit, “Pilih salah satu saja, ikut interograsi atau dapat hasil otopsi?” tawar Devon.

“Ku bantu dapatkan info lengkap, soal pembunuh berantai atau laporan bukti keterlibatan oknum kepolisian atas kasus Raymond?” Alianna balik menawar, sambil mengerlingkan mata.

Helaan nafas Devon makin berat. “Ini bukan negosiasi, Alianna”

Mulut gadis itu mencibir, sembari mengendikkan bahu, pura-pura acuh. “Jelas ini negosiasi, kau yang lebih dulu menawarkan hal serupa.”

“Menyebalkan, terserah kau sajalah.” rutuk Devon yang kemudian mengeluarkan ponsel untuk menghubungi anak buahnya.

Alianna terkekeh geli dan segera berlalu dari sana.

Hari mulai beranjak subuh ketika Alianna sampai di kantor Mabes Polri. Berbekal smartphone dan tripod usang milik Denzel, ia segera membuat live streaming, dan meliput secara langsung penangkapan Raymond Subrata. Pria itu adalah seorang pengusaha muda sekaligus anak anggota DPR. Diduga ia telah melakukan pelecehan terhadap artis cilik dibawah umur.

Tak lama setelah liputan live-streaming dilakukan, banyak wartawan berita dari stasiun TV nasional, bahkan wartawan infotaiment datang ke Mabes Polri untuk ikut meliput berita penangkapan tersebut. Divisi Humas Mabes Polri terpaksa melakukan konferensi pers saat itu juga.

Karena begitu sibuk meliput, Alianna mengabaikan telepon masuk dari Devon. Namun Alianna tidak ambil pusing, karena berdasarkan konferensi pers tersebut, Raymond dijadwalkan menjalani proses interograsi besok siang. Alianna hanya perlu mendatangi Devon besok, dan menanyakan perihal teleponnya barusan.

Untuk sekarang, ia harus update artikel berita terlebih dahulu untuk di-posting kedalam blog berita miliknya, Suara Bumi Indonesia.

Blog berita tersebut termasuk blog berita dengan trafik pengunjung tertinggi di Indonesia hingga mengalahkan situs berita konvensional yang sudah ada. Banyak pihak yang ingin membeli blog tersebut dengan harga tinggi. Bahkan pihak pemerintah pun juga menawarkan harga yang amat fantastis.

Namun Alianna tidak mau menjualnya. Jika tujuannya hanya uang, tentu penghasilan dari iklan, sponsor bahkan donasi dari masyarakat sudah lebih dari cukup untuk menutupi biaya operasional blog juga kebutuhan pibadi Alianna.

Darimana lagi Suara Bumi Indonesia bisa mempunyai gedung mungil sendiri serta sanggup membiayai tujuh pekerjanya setiap bulan? Bahkan Alianna sanggup membeli mobil Mustang impiannya.

Media massa adalah indikator kepercayaan rakyat terhadap lembaga yang menaungi mereka. Jika Suara Bumi Indonesia dijual, maka tidak akan ada lagi media massa yang terpercaya. Kebebasan pers terbelenggu dan hanya akan dijadikan alat promosi atau bahkan propaganda bagi golongan tertentu.

Alianna tentu sangat mengingat perjuangan dirinya dan Denzel, saat merintis blog berita tersebut. Berkat Denzel, yang begitu mencintai dunia jurnalistik, mengajak Alianna bergabung dengannya untuk membuat situs berita independen. Denzel mencurahkan semua cita-cita, asa dan harapan pada blog ini. Denzel mengabdikan seluruh hidupnya untuk menuntut transparansi lembaga hukum yang selama ini menjadi polemik dalam negeri.

Karena dedikasi itulah, Alianna jatuh cinta padanya dan mereka bertunangan.

Semua berjalan dengan nyaris sempurna. Alianna bekerja sebagai penulis artikel berita dan Denzel sebagai pengumpul informasi. Lalu Denzel juga mengajak Devon yang waktu itu masih sebagai polisi berpangkat rendah. Mereka bertiga bekerja sama menyelidiki kasus-kasus penting.

Semua kasus yang diangkat Denzel menjadi viral di masyarakat. Masyarakat menuntut sekaligus mengawal segala proses penyelidikan kasus-kasus viral tersebut. Sehingga pihak kepolisian bekerja lebih cepat untuk memproses kasus tersebut hingga ke pengadilan. Pihak Kejaksaan pun juga tidak bisa sembarangan memberi hukuman karena kinerja mereka akan tersorot oleh media yang di saksikan langsung oleh masyarakat.

Sejak saat itulah, Suara Bumi Indonesia menjadi situs berita paling terpercaya. Terlebih ketika mereka bertiga menelusuri kasus Nirmala, artis cilik yang mengaku telah dilecehkan oleh seorang pengusaha muda yang punya pengaruh cukup kuat. Pengusaha tersebut ialah Raymond Subrata yang juga anak dari anggota DPR, Rendi Subrata yang sedang menjabat.

Dengan berita penangkapan Raymond, rakyat tentunya kelak, menuntut transparansi penyelidikan kasus ini. Pihak Pemerintah merasa nama lembaganya tercoreng dan tentu akan berusaha memperbaiki situasi. Pihak kepolisian tentu wajib menjaga nama baik lembaganya, bukan?

Setelah apa yang terjadi, Alianna bersyukur bahwa perjuangan Denzel untuk mengusut Raymond hingga mendapat hukuman yang setimpal, akan segera terwujud. Hasil penelusuran yang Denzel lakukan membuktikan, bahwa kasus pelecehan yang dilakukan Raymond ini hanyalah kasus pembuka kecil menuju kasus yang jauh lebih besar.

Alianna hanya butuh kesabaran dan waktu lebih banyak untuk mengungkap itu semua, satu demi satu.

Alianna berjalan menuju tempat parkir yang tidak jauh dari gedung Mabes Polri. Ketika ingin membuka pintu mobil, ponsel Alianna tiba-tiba berbunyi. Sambil merutuk pelan setelah melihat layar ponsel, Alianna menjawab teleponnya dengan nada jengkel dan sedikit merajuk.

“Tadi kau menyuruhku untuk cepat pulang begitu selesai liputan,” bibir berwarna cherry milik Alianna mengerucut, “sekarang mau menyuruh apalagi?”

“Kau dimana?” tanya Devon diseberang telepon.

Alianna dapat mendengar nada suara khawatir berlebihan dari Devon yang membuat gadis itu merasa jengkel. Ia mencibir sambil mengeluarkan kunci mobil.

“Di parkiran, mau pulang,” jawab Alianna malas.

“Kembali ke kantor Mabes sekarang,” perintah Devon.

Alianna bersungut-sungut kesal. “Ada apa sih?”

“Sudah jangan banyak tanya, kembali ke kantor sekarang!” bentak Devon panik.

Alianna ingin balas memaki Devon akan tetapi tiba-tiba lidahnya kelu. Netra coklat terangnya mendapati sesosok pria berjaket hitam berjalan mendekat. Darah Alianna seakan mendesir ketika ia melihat siapa dibalik hoodie tersebut.

Si Pembunuh Berantai.

Sorot mata Si Pembunuh Berantai menatap Alianna seakan sedang ingin mempermainkan mangsanya sebelum menyantapnya hidup-hidup.

Bagaimana bisa orang itu belum mati?

Bab 3

Alianna mundur perlahan sambil menggenggam ponsel yang masih menempel ditelinganya. Ia dapat mendengar Devon memanggilnya berkali-kali dari ujung telepon. Si Pria Bertudung menodongkan senjata api mengisyaratkan agar Alianna menjawab telepon tersebut.

Alianna dibuat merinding, tertusuk aura dingin pria itu. Namun, bukan Alianna kalau tidak nekat.

Alianna sontak melempar ponselnya tepat ke wajah si pria bertudung hingga membuat lelaki itu mengejutkannya, dia memaki memegangi hidung yang tertutup masker hitam. Alianna langsung melarikan diri menjauhi pria itu. Sayang kaki Alianna jauh lebih pendek dibanding kaki Si Pria Bertudung yang mengejarnya dengan mudah.

Alianna tertangkap dan meronta berupaya melepaskan diri akan tetapi dia kalah kuat. Gadis itu digendong layaknya karung beras dan berjalan menuju mobil. Alianna kemudian didudukkan di kursi pengemudi dengan kepala ditodong pistol.

“Jika Anda berani kabur lagi, saya tidak segan menghabisi nyawa anda, mengerti?” suara bariton milik si Pria Bertudung itu membuat kulit Alianna meremang. Alianna hanya menjawab dengan tatapan sinis.

Si Pria Bertudung kemudian memasangkan sabuk pengaman Alianna sebelum ia beranjak ke kursi penumpang disebelah jok kemudi. Alianna mengernyit bingung namun mengabaikan perlakuan tersebut dengan menganggapnya sebagai pria aneh.

“Dasar psikopat gila, mau menghabisi nyawa orang lain tapi masih sempat memasang sabuk pengaman pada calon korbannya.” rutuk Alianna dalam hati.

“Jalan!” perintah lelaki itu seraya menoyor kepala Alianna dengan moncong pistol.

Alianna terbelalak setengah tak percaya karena sikap kurang ajar yang dilakukan penyanderanya itu. Sambil memungut sisa-sisa kesabaran di hati, Alianna bertanya, “Mau kemana?”

“Keluar dari sini, apalagi?” kata pria itu santai. Kontras sekali dengan perilaku mengintimidasi yang ia lakukan.

Alianna langsung merasa bahwa urat dikepalanya tiba-tiba mencuat keluar. Apakah semua psikopat gila bertingkah menyebalkan seperti ini?

Alianna menggenggam kemudi erat-erat sebelum menyalakan mobil dan menyetir keluar kantor Mabes Polri. Mereka berdua diam membisu begitu sedan Mustang-nya membelah jalanan ibukota.

“Kita keluar kota,” ucap si pria bertudung. “Belok situ.” perintahnya seraya menunjuk belokan yang mengarah ke jalan tol.

Alianna menurut dan membelokkan mobilnya kearah yang diperintahkan. Mereka berkendara selama tiga jam tanpa bicara. Kemudian mereka berhenti disebuah perkebunan sepi yang hanya ada mereka berdua disana. Alianna seketika merasakan firasat buruk.

“Mau apa kita kesini?”tanya Alianna sambil melirik pria di sebelahnya.

“Menurut anda?” pria itu malah balik bertanya. Alianna dapat dengan jelas mendengar nada suara lelaki tersebut seakan sedang mempermainkan dirinya.

“Kau pikir aku cenayang? Tukang ramal? Mana aku tahu?!” bentak Alianna. “Jika kau ingin menghabisiku, Devon akan memburumu sampai ke lubang neraka.” sambungnya ketus.

“Oh, jadi kekasih anda bernama Devon?” Si Pria Bertudung itu tertawa.

Alianna mengernyit bingung. Darimana si bedebah ini punya pikiran seperti itu? Devon bukan kekasihnya.

“Devon bukan kekasihku, sok tahu,” jawab Alianna jengkel.

Si Pria Bertudung kembali tertawa sambil menggeleng pelan, sebelum menyuruh Alianna keluar dari mobil dengan menodongkan pistol lagi. Pria itu memberi israyat kepada Alianna untuk berjalan duluan masuk ke dalam perkebunan sawit.

Alianna menurut bahkan sambil mengangkat kedua tangannya, “Untuk apa kau menangkapku?” Ia berjalan maju sambil mengawasi langkah kakinya agar tidak tersangkut belukar.

“Karena Anda menggagalkan rencana saya dan Anda harus membereskannya sekarang juga, Nona Alianna,” jawab pria itu.

Alianna sedikit kaget, “darimana kau tahu namaku?”

“Situs berita milik Anda.”

“Oh, aku tidak menyangka orang macam kau mau membaca situs beritaku,” komentar Alianna sinis.

“Apa alasan anda memberi saya julukan seperti itu?” tanya pria itu datar.

“Hah, julukan apa?” tanya Alianna heran.

Alianna dapat mendengar helaan nafas gusar yang ditahan sebelum pria dibelakangnya menjawab, “Psikopat Pengecut.”

“Aahh~ jadi ternyata kau si Psikopat Pengecut itu? Yang senang membunuh orang yang tidak bersalah?” balasnya pedas.

Alianna berhenti melangkah ketika merasakan moncong pistol menempel di belakang kepalanya. Gadis itu mulai menatap ke sekeliling kebun sawit yang sepi. Ia akui bahwa si pria bertudung cukup jeli mencari tempat tersembunyi saat ingin menghabisi nyawa orang lain tanpa gangguan.

“Itu karena aku tidak tahu siapa namamu. Terus terang aku ingin memberimu julukan lain. Akan tetapi, aku tidak dapat menemukan nama yang pas kecuali psikopat pengecut,” sindir Alianna.

“Cukup,” pria tersebut makin menekankan pucuk senjata api ke belakang kepala Alianna.

“Atau kau mau julukan baru? Monster misalnya? Kau khan tidak mempan ditembak,” Alianna setengah mengejek.

“Berbalik,” perintah si pria tanpa menggubris perkataan Alianna.

Alianna langsung waspada kemudian berbalik perlahan dan merasakan pucuk pistol yang dingin menempel pada keningnya. Ia kini dapat melihat wajah pria bertudung itu dengan sangat jelas berkat cahaya matahari pagi yang menerobos masuk ke sela-sela dedaunan pohon sawit.

Sama saat Alianna melihat pria ini pertama kali di belakang gedung bar, lelaki dihadapannya ini memang tampan, bahkan terlalu tampan untuk ukuran seorang pembunuh berantai. Ia tidak memakai maskernya lagi, sehingga Alianna dapat melihat dengan jelas hidung mancung, rahang kokoh dan dagu belah milik pria tersebut.

Hanya saja mata biru laut dipadu dengan alis tebal hitam itu menyorotkan kekosongan yang teramat dalam. Hampir bisa dibilang tidak ada ekspresi sama sekali.

Perpaduan yang mengerikan.

Pria itu menyodorkan ponsel yang Alianna lempar padanya saat mereka bertemu di halaman parkir Mabes Polri, subuh tadi. Alianna melihat ponsel tersebut dengan alis bertaut.

“Apa maksudnya ini?” Alianna heran dan menatap pria dihadapannya dengan tatapan menyelidik.

“Telepon Devon untuk bawa Raymond ke tempat yang aku suruh sebagai ganti nyawamu.”

Alianna mencibir sambil melipat tangan kedepan dadanya walau dengan pucuk pistol yang masih menempel dikepala.”Pantas saja kau tidak menghabisiku dari tadi.”

“Siapa yang bilang saya mau menghabisi anda?” Pria itu menyeringai sambil matanya menyusuri tubuh Alianna dengan sorot mata kurang ajar.

“Oh ya? Apa yang akan kau lakukan?” tantang Alianna.

Alianna sengaja memancing amarah pria ini. Ia harus bisa membuat pria itu supaya bertindak gegabah agar bisa memanfaatkan situasi tersebut untuk menyelamatkan diri.

Pria itu dengan gusar membuang ponsel serta senjatanya dan mendorong tubuh Alianna sampai jatuh ke tanah. Dengan kasar pria tersebut menindih tubuh Alianna dan mencekal kedua tangannya di atas kepala gadis itu. Alianna meronta, namun sorot matanya sama sekali tidak memancarkan rasa takut.

“Untuk seorang gadis bawel, Anda termasuk gadis pemberani. Anda tidak hanya sekedar bicara omong kosong. Itu membuat saya sedikit bergairah.” ucap pria itu dengan nada suara yang entah kenapa malah membuat detak jantung Alianna berdegup aneh.

Saat itu juga Alianna menganggap bahwa perubahan adrenalinnya itu karena ia sekarang sedang merasa terancam.

Alianna kembali meronta, “Dasar monster!”

Si Pria Bertudung terkekeh geli, “Benar sekali, saya memang monster yang akan datang sebagai mimpi buruk Anda,“ kemudian ia mendekatkan wajahnya ke telinga Alianna sembari berbisik, “dan saya pastikan nanti Anda tidak akan melupakan nama saya.”

Netra biru laut nan indah itu menatap Alianna dengan tatapan yang sulit diterka, “Damian. Jadikan nama itu sebagai mimpi buruk Anda setiap malam.” ucap pria tersebut.

Menyeramkan. Seringai pria yang sedang menindihnya teramat menyeramkan. Tatapan kosong tanpa ekspresi dibalut dengan seringaian haus darah membuat siapa saja akan ketakutan melihatnya.

Namun kali ini, Alianna juga balas menyeringai.

Seketika tubuh Damian terlempar keatas lalu terbanting ke tanah. Damian terkejut setengah mati sembari menatap bingung ke sekeliling berupaya mencari hal yang membuatnya terlontar menjauhi tubuh Alianna. Tak lama tubuh Damian melayang di udara tanpa ada alat atau apapun yang menopang tubuh lelaki itu. Dibawah sana, Alianna menatapnya sambil mencibir dan tersenyum sinis.

“Apa yang kau bilang tadi? Mimpi buruk?” ejek gadis itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED