“Lalu, maukah engkau, Farrin Asytar, menerima Avan Kiandra sebagai pasanganmu. Menerimanya dalam keadaan sehat maupun sakit, kaya atau miskin, dan suka ataupun duka hingga ajal menjemput kalian?”
“Aku. Tidak. Bersedia.” Ujar mempelai wanita dengan tegas. Gadis yang memiliki darah keturunan ras Kaukasoid dari ayahnya itu menatap nyalang mempelai pria yang ada di hadapannya. Berharap seolah pandangan bisa membunuh, dan ia bisa membunuh pria di hadapannya dalam sekali tatap.
Sungguh! Ia ingin muntah rasanya, begitu melihat wajah memuakkan yang sayangnya sangat mirip dengan orang yang menemaninya selama dua bulan ini. Andai saja di sini tidak banyak orang, ia ingin menyiram wajah arogan itu dengan segelas jus atau seember air bekas pel sekalian.
"Pengantin priaku bukan dia. Dia hanya pengganti saja," Gadis itu menjeda, "mempelai priaku ada di sana," imbuhnya sambil menunjuk di mana ada seorang yang memiliki wajah mirip dengan pria yang ada di hadapannya ini tengah duduk manis. sontak, semua orang yang hadir di sana berguman karena kaget.
Dua bulan sebelumnya ....
Denting jam besar yang berada di tembok ruang keluarga itu terasa begitu nyaring saat beberapa pasang mata di sana enggan mengeluarkan suaranya. Mereka, bahkan untuk bernafas saja terasa begitu menyesakkan saat seorang yang baru saja meninggakan ruang itu kini tak tertampakkan lagi eksistensinya oleh mereka. Tak ada yang bisa mencegahnya, bahkan sang kepala keluarga sendiri yang biasanya memiliki suara paling berhak untuk didengar kini sama sekali tak bisa mengeluarkan tenaganya bahkan untuk menghentikan langkah putrinya.
“Zilla, ku pikir kau akan bermaksud meminang Farrin untuk putra sulungmu,” ujar wanita berambut merah sepanjang panggul itu kepada wanita berambut dark blue yang berada di hadapannya.
“Memang, aku memang bermaksud demikian. Tapi ini adalah ide putra sulungku itu. Putraku yang satu itu yang mengusulkan untuk melakukan hal ini,” jawabnya.
“Tapi yang ku tahu, Farrin itu keras kepalanya melebihi ayahnya ....”
Yang merasa disebut menolehkan kepala yang berhias surai pirangnya dan meliriknya dengan tatapan yang bisa di sebut tajam.
“Maaf, Darius. Tapi itu adalah kenyataannya,” imbuh wanita berambut merah.
Lelaki berambut pirang bernama Darius itu hanya bisa terdiam. Memang benar ucapan wanita berambut merah yang berstatus istrinya itu bahwa ia keras kepala. Namun, apakah hal itu layak untuk dikatakan secara gamblang di keadaan mencekam seperti ini?
“Anu, boleh saya menyusul Farrin? Sepertinya dia tertekan. Jadi saya berusaha untuk menghiburnya. Meski tidak bisa mengembalikannya seperti semula, saya harap dia nanti bisa lebih mengurangi kesedihannya.” Suara dari satu-satunya pemuda di ruang itu membuat tiga pasang mata lainnya menoleh ke arahnya secara bersamaan. Ketegangan yang mereka alami beberapa saat yang lalu seolah membuat mereka melupakan eksistensi satu pemuda itu.
“Silahkan! Aku mengijinkanmu menemuinya di kamarnya,” ucap Darius. Ia mengizinkan pemuda itu bukan tanpa pertimbangan. Melihat istri dan sahabatnya yang seolah memiliki pembahasan lebih lanjut, ia memilih untuk mengiyakan permintaan pemuda yang sudah ia kenal dengan baik. Ia yakin, pemuda itu tak akan melakukan hal di luar batas kepada putri keduanya.
“Tapi Margaret!”
“Nazilla, biarkan saja! Aku yakin Vian bisa menjalankan perannya dengan baik.” Perempuan yang berambut merah panjang yang di panggil Margaret itu memberikan senyum lembutnya pada perempuan berambut dark blue tadi, bermaksud mengatakan jika semua akan baik-baik saja. Meski pada kenyataannya tak akan ada yang baik-baik saja seperti sebelumnya.
“Lalu bagaimana setelah ini? Sejujurnya aku sedikit khawatir akan mereka. Tapi hal ini adalah permintaan Avan sendiri. Ia yang mengajukan ide ini dan berkata bahwa ia ingin melihat kesetiaan Farrin. Jadi aku menyetujuinya saja tanpa berpikir lebih banyak. Kau tahu kan, Garet? Semenjak suamiku meninggal, Avan telah mengambil banyak tanggung jawab dalam perusahaan serta menjadi dewasa lebih cepat dari yang seharusnya. Untuk itulah aku terkadang merasa kasihan padanya. Atas yang ku lihat selama ini, sebagai kakak ia telah menjadi lebih dari yang kuharapkan padanya. Aku juga senang tentang hubungannya dengan putrimu. Tapi, satu hal yang sama sekali belum ku mengerti di sini adalah keputusannya tentang ini,” jelas Nazilla.
Di usianya yang tak lagi muda itu, Nazilla merasa lelah jika dihadapkan pada tingkah putra sulungnya yang terkadang tak bisa ia mengerti. Andai, putra sulungnya itu tak mengambil tanggung jawab sebagai kepala keluarga dengan baik, ia pasti akan mengurungnya di kamar dan menceramahinya habis-habisan.
Sayang, ia tak memiliki waktu yang banyak untuk itu karena putra sulungnya itu terburu-buru mengejar jam terbang pesawat yang akan membawanya melintasi benua lain.
“Bisakah kita menyerahkan segala keputusan ini pada mereka? Kau tahu, aku sudah merasa bersalah dengan menyetujui perjodohan ini begitu saja. Aku tak mau membuat diriku lebih menyesal dari ini dengan ikut campur lebih jauh lagi,” ujar yang kini menjadi satu-satunya pria di ruang itu. Semuanya menunduk, ia tahu jika hal ini terdengar kejam.
Bagaimana tidak? Anak-anak mereka memang menjalin hubungan sebelumnya dan kedua keluarga ini ingin memberi kejelasan akan status yang mereka miliki. Waktu tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk masing-masing dari mereka mengenal satu sama lainnya. Akan tetapi, yang tidak bisa mereka terima dalam pikiran mereka adalah, bagaimana bisa seseorang yang menjalin kasih lebih memilih menyibukkan diri dalam pekerjaan, dan mengalihkan tanggung jawab bertunangan pada adiknya?
Yah, tidak ada yang benar-benar bisa memahami atas isi hati seseorang. Bahkan entah seberapa dekat kau dengannya.
Bahkan, tanpa pengecualian untuk Avan.
Putra yang Nazilla pandang memiliki pandangan yang lebih mapan dan dewasa dari adiknya, Avian. tidak menyangka jika Avan bisa sebegini kekanakan. Nazilla memang mengetahui jika putra sulungnya memiliki suatu sikap yang terkadang melenceng dari pemikiran orang kebanyakan. Namun, ia tak manyangka jika ide ini terlintas di benak anaknya itu.
Avan meminta ibunya untuk meminangkan kekasihnya. Tetapi, bukan untuk dirinya melainkan untuk adik kembarnya dan berdalih jika ia ingin menguji tentang kesetiaan kekasihnya. Hanya dua bulan, itu yang dirinya katakan. Lalu selama waktu itu ia akan mengurus perusahaan mereka yang memiliki cabang di Paris dan kembali saat hari pernikahan.
Ya! Avan berencana langsung menikahi kekasihnya begitu ia pulang dan merancang scenario ini. Ia yakin, dengan sangat yakin malah. Bahwa saat ia datang, kekasihnya itu akan merasa senang saat melihat ia menunggu di altar, bukan sang adik yang kini ditunangkan dengannya.
Dia benar-benar yakin dengan keputusannya tanpa memikirkan resiko bahkan yang paling kecil dan menyakitkan sekalipun. Mengingat bahwa selama ini kekasihnya itu teramat setia untuknya. Sekali pun Avan tidak meragu untuk hal itu. Bukan apa, ia sudah seringkali menguji kesetiaan kekasihnya dan ia berjanji jika ini adalah yang terakhir untuknya melakukan hal itu.
Sekali lagi dia lupa akan satu hal yang paling umum, bahwa akan ada saatnya seseorang memiliki titik lelah dan menyerah.
“Aku tak akan meminta izin untuk di perbolehkan masuk olehmu atau tidak. Aku juga akan menunggu, jika dalam waktu lima menit kau tak membukakan pintu untukku, aku akan masuk. Aku sudah mendapat kunci duplikat kamarmu,” ujar Vian. Ia tahu jika dirinya kini tengah was-was karena takut ketahuan berbohong atas ucapannya.
Jujur saja, kini Vian tengah mencoba peruntungan. Ia berbohong jika kini ia tengah memegang kunci duplikat pintu kamar yang ada di hadapannya, yang nyatanya tak ia pegang sama sekali. Selain itu, ia juga memikirkan tentang celah kecil dari ancamannya. Ia tahu jika kunci tidak akan berfungsi dari luar jika dari dalam masih ada kunci yang menggantung di dalam.
Namun, jika memikirkan kondisi Farrin yang kacau tadi ia berharap jika Farrin lengah dan menanggapi ucapannya tanpa berpikir. Ia memang tak mengenal Farrin secara dekat dan tak lebih dekat dari Avan, kakaknya itu. Akan tetapi, waktu empat tahun juga bukan waktu yang sebentar untuk tahu beberapa hal tentang gadis berambut pirang panjang tersebut.
Cklek!
Vian banyak berucap syukur dalam hatinya karena Farrin masih mau untuk membukakan pintu untuknya. Setidaknya, ia harus berbicara beberapa patah kata agar suasana hatinya membaik. Ia tahu, ia menyayangkan sikap kakaknya yang dengan seenaknya mengambil keputusan begitu saja tanpa meminta pendapat ia atau ibunya. Namun, untuk ikut campur terlalu dalam dan membuat Farrin semakin terpuruk, tentu hal itu bukan hal yang bagus sama sekali. Jadi, ia memilih untuk sedikit menghibur suasana hati wanita itu.
“Boleh aku masuh ke kamarmu? Kita perlu bicara,” ujar Vian. Ia masih berdiri di pintu kamar Farran dan tak berani masuk tanpa dipersilahkan si empu kamar. Lagi pula, ini pertama kali ia menginjakkan kaki ke wilayah pribadi wanita yang menjadi kekasih kakak kembarnya itu.
Farrin mengangguk pelan, ia masih menundukkan kepala dengan isakan sudah tak terdengar lagi di telinga Vian. Begitu ia membukakan pintu untuk Vian, ia langsung berbalik dan berjalan pelan ke dalam kamarnya. Jujur saja, Farrin tak ingin sosok lemahnya begitu terlihat di mata lelaki yang mulai malam ini menjadi tunangannya secara sepihak itu.
“Duduklah di manapun kau mau!” perintahnya.
Vian mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya dan yakin jika Farrin sama sekali tak akan tahu jika ia mengangguk. Jujur saja, ia tak pernah masuk ke dalam kamar wanita manapun selain ibunya sebelum ini. Ia mengagumi tatanan kamar Farrin yang terlihat minimalis untuk ukuran wanita yang beranjak dewasa sepertinya. Ia pernah mendengar jika Farrin tak banyak mengoleksi banyak hal, dan ia kini percaya jika pernyataan itu benar adanya. Tak banyak barang di ruangannya. Sebagian adalah barang yang benar-benar selalu dibutuhkan dan umum untuk berada di kamar. Seperti buku-buku, laptop, dan beberapa barang perempuan seperti boneka.
Boneka? Oh, sepertinya wanita itu begitu menyukai boneka kelinci hingga di kamarnya ini terlihat beberapa boneka kelinci dengan berbeda bentuk, pose dan warna. Ada yang berwarna biru, ungu, dan pink.
“Boleh aku duduk di sofa?” tanya Vian setelah matanya melihat siluat sebuah sofa tunggal yang berada tak jauh dari ranjangnya. Dari sana, ia bisa menyimpulkan jika sofa itu biasa Farrin gunakan untuk membaca. Terbukti dari adanya rak buku yang berada di dekat sofa itu.
Farrin mengangguk dan bergumam pelan jika ia memperbolehkan Vian duduk di sana. Vian mendengarnya. Setelahnya, ia langsung mendudukkan dirinya di sofa berwarna biru gelap tersebut.
“Maaf, aku tak punya kudapan untuk di suguhkan padamu. Aku juga terlalu malas untuk ke dapur dan mengambilkannya untukmu,” ucap Farrin. Ia memang jarang membawa kudapan ke dalam kamarnya. Selain faktor malas, ia juga tidak ingin mengalami obesitas ataupun kelebihan kadar gula karena kudapan manis. Ia hanya akan mengambilnya di dapur hanya untuk saat-saat tertentu.
“Tak masalah untukku, lagi pula aku di sini untuk berbincang. Tak masalah jika tak ada kudapan atau minuman, aku sudah kenyang karena tadi kita telah makan bersama.”
Farrin masih menundukkan wajahnya. Ia masih malu untuk sekedar mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah eksistensi pria yang berusia tujuh menit lebih muda dari kekasihnya itu. Ah, atau mungkin bisa dikatakan mantan kekasih untuk saat ini?
Hening melingkupi keadaan mereka untuk beberapa saat. Farrin tahu, pemuda itu lebih pendiam ketimbang kakak kembarnya. Lalu, ia juga bingung ingin berbicara apa untuk memecah keheningan di antara mereka.Meski sudah beberapa menit berlalu sejak Vian duduk di sofa itu, ia sama sekali belum membuka mulutnya untuk berbicara seperti tujuan awalnya kesini.
“Jika tak ada yang kau katakan, sebaiknya temui keluargamu agar aku bisa istirahat!” sarkas Farrin.
Vian mengerti, kata-kata itu adalah kata pengusir untuknya karena ia tak segera membuka percakapan pada gadis yang kini tengah duduk di ranjangnya itu. Ia sebenarnya tak tahu harus memulainya dari mana, yang jelas, kini ia tengah mencari topic pembicaraan yang pas.
“Maaf,” ucap Vian. Ia memang bingung atas apa yang akan dikatakannya. Akhirnya, hanya ucapan maaflah yang bisa keluar dari mulutnya saat ini.
“Untuk?” tanya Farrin.
“Kakakku.”
“Mengapa kau yang meinta maaf? Jika memang kakakmu yang merasa bersalah, maka dialah yang harus meminta maaf. Bukan dirimu.”
“Aku tahu. Tapi aku juga ikut andil karena aku tak berusaha lebih keras untuk mencegahnya melakukan hal ini.”
Farrin menunduk, ia tahu jika Vian lah yang akan meminta maaf karena ia telah mengetahui tabiat calon adik iparnya itu. Ah, atau bisa di bilang kini calon suaminya karena pria itu telah menjadi tunangannya.
“Itu bukan salahmu. Lebih keras membujuknya atau tidak sama sekali, itu tak akan merubah apapun. Avan sangat keras kepala. Aku juga tak yakin jika ada yang bisa membuat keputusan yang ia buat berubah dalam hitungan menit.”
“Ya, seperti itulah kakak.” Avan tersenyum. Memang benar apa yang diucapkan oleh wanita itu tentang kakaknya. Tentu saja, apa yang akan kau harapkan dengan hubungan mereka yang tidak sebentar itu?
“Boleh ku tahu dimana ia sekarang?”
Vian menghembus nafasnya dengan pelan. Ia tak tahu apakah jawabannya ini berdampak buruk atau tidak untuk calon kakak iparnya ini. “Dia telah terbang ke New York. Mungkin sudah take off lima belas menit yang lalu. Sebelum kesini, kami mengantarkannya terlebih dahulu ke bandara,” ujarnya.
Air mata yang sebelumnya telah berhenti kini kembali mengalir lagi di pipi tirus milik Farrin. Vian menyadarinya.Namun, ia baru menyadari malam ini jika pipi Farrin lebih tirus dari terakhir mereka bertemu satu tahun yang lalu.
Sebelum ini, Avan memang menghindari Farrin karena mendengar kabar jika kakaknya akan meminang Farrin dalam jangka waktu dekat. Setelah kabar itu, ia memilih untuk menenangkan hatinya dan pergi ke negeri Paman Sam dengan dalih mengurus perusahaan yang kini berganti kakaknya yang mengurusnya karena beberapa hal dan ia ditugaskan kembali ke perusahaan lama menjadi karyawan biasa.
Kemudian, tanpa disadari siapapun juga, ia diam-diam telah menaruh hati pada calon kakak iparnya ini. Jadi, boleh ia berharap lebih meski pada nyatanya nanti ia tak akan mendapatkannya? Ia ingin menikmati saat-saat menjadi tunangan Farrin walau hanya sebentar saja.
Sedangkan di tempatnya, Farrin masih tetap dengan pandangannya keluar jendela café yang kini tengah ia gunakan untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Tentu saja, ia masih belum tenang akibat berita pertunangannya yang begitu mengejutkan untuknya. Pun masih tak habis pikir, bagaimana bisa kekasihnya yang telah menjalin kasih selama tiga tahun ini dengannya bisa digantikan hanya dengan waktu satu malam saja tanpa pemberitahuan sebelum itu. Jangankan untuk pemberitahuan, bahkan untuk kata putus saja tidak ada di antara mereka. Memang, ia telah mengenal Vian jauh hari sebelum ini, tetapi tetap saja hal ini tak dapat ia terima dengan mudah.
Memang kau masih bisa menerima pertunangan dengan adik kekasihmu di saat yang bahkan kau saja ingat jika tidak ada masalah di antara kalian?
Heol! Jika saja bukan adik dari kekasihnya yang kini menjadi tunangannya, hatinya tak akan merasa sakit lebih dari ini. Ia akan lebih menerima jika yang ditunangkan dan dijodohkan dengannya adalah orang lain.
Di mana hati mereka? Semudah inikah mempermainkan perasaan seseorang?
Padahal keluarganya dan keluarga kekasihnya sangat dan amat tahu jika keduanya tengah menjalin kasih. Lalu dengan seenak hati merubah status mereka menjadi tunangan tentu dengan merubah orang yang akan di tunangkan juga. Lagi, kabar yang menyakitinya lebih jauh adalah kekasihnya pergi di hari yang sama dengan waktu ia ditunangkan. Sebegitu tak inginnyakah pria itu?
Padahal jika dipikir, kurang apa ia selama ini?
Ia telah cukup sabar mengahdapi kekasihnya. Ia sudah meminimalisir pertengkaran di antara mereka. Ia juga sudah belajar lebih banyak untuk bersikap lebih dewasa dan berusaha menjadi calon istri yang lebih baik. Apakah hal itu masih kurang? Ia bahkan yakin jika calon ibu mertuanya itu –yang artinya ibu dari kekasihnya- dengan terang-terangan telah menyetujuinya dengan putranya.
Atau sebenarnya hidupnya hanya bisa begini? Hanya bisa terus disakiti tanpa dia bisa memilih?
Ia bahkan masih ingat dengan hubungannya dengan dua pria sebelum ini. Pertama ia di duakan, dan yang kedua ia ditinggalkan begitu saja karena perjodohan.
Cih!
Perjodohan lagi.
Tak adakah hal lain selain perjodohan?
Karena sepertinya ia merasa muak dengan kata itu.
Kata yang mengungkapkan tentang ketidak berdayaannya melawan manusia yang lebih tua dari segi umur darinya dan berlaku seenaknya dengan dalih kebaikan untuk anak mereka.
Heh.
Ia janji, jika kelak ia memiliki anak, ia tak akan menggunakan kata perjodohan untuk anak-anaknya. Ia akan membebaskan apa yang ingin anaknya raih. Bagaimanapun keadaannya. Ia juga berjanji siapapun pasangannya nanti, akan ia layani sepenuh hati. Ia tak ingin menyesal di tengah jalan dengan menyia-nyiakan hal yang ada di hadapannya. Sebenarnya ia juga tak ingin naïf jika ia menginginkan kebahagiaan. Tapi yang pelajari sejak kecil bahwa kebahagiaan akan datang jika ia menjalani hidup apa adanya dan mengikuti kata hatinya. Memang, bagi sebagian orang ia dinilai terlalu keras kepala. Tapi beginilah caranya. Ia hanya mengikuti apa kata hatinya, itu saja.
Lalu dengan menerima orang yang kali ini digadang-gadang akan menjadi pendampingnya di waktu kurang dari dua bulan ke depan adalah keputusannya.
I let my guard down and then you pull the rug,
I was getting kinda used to being someone you loved.
Seakan di tertawakan, diejek, dan dicela oleh dua baris syair yang tentunya ia faham artinya, Farrin merasa jika ia pun begitu. Tak ada ubahnya dengan lagu yang sekilas ia dengarkan dari audio café yang di putar dalam playlist mereka. Ia yang mengingat detail dengan baik jika akhir-akhir ini mereka sama sekali tak memiliki masalah berarti. Namun, bukan berarti mereka tak pernah memiliki masalah selama menjalin hubungan.
Bukan,
Bukan begitu.
Mereka pernah beberapa kali cekcok atau berseteru tentang beberapa hal. Setelah itu tak akan lama sebab mereka kemudian menyelesaikannya dengan baik-baik. Tidak seperti sekarang ini. Di mana mereka ‘baik-baik saja’. Namun, tiba-tiba dia pergi dan meninggalkannya tanpa kejelasan dan penjelasan sama sekali. Malah, dengan tidak etisnya kekasihnya merelakan ia bertunangan dan akan menikah dengan adiknya.
Dalam benaknya, apakah kekasihnya itu sudah tak memiliki keberanian atau setidaknya hal untuk memperjuangkan ia di hadapan orang tua mereka hingga mereka menyerah akan keputusan ibunya yang lebih menginginkan jika ia bersanding dengan adiknya?
Jika begini pun, ia hanya bisa insecure.
Tentu saja ia tak akan bisa menandingi pesona kakaknya yang hebat di segala bidang hingga mendapat kepercayaan dari orang tua mereka untuk melanjutkan bisnis property yang sudah berkembang itu. Ia yang tak tertarik sama sekali dengan dunia bisnis seperti kakaknya hanya bisa menjadi seorang guru di salah satu playgroup terkemuka di kotanya. Jangan salah, karea nyatanya menjadi salah satu pengajar di sana haruslah mengikuti seleksi ketat dan tidak bisa menerima orang sembarangan karena playgroup tersebut terkenal akan kualitasnya hingga banyak di lirik oleh pengusaha yang ingin penerusnya mendapat pendidikan terbaik.
Tapi tetap saja, penghasilannya tidak akan dapat menandingi pendapatan kakaknya sebagai seorang manager, ‘kan? Hal itulah yang membuatnya seakan dipandang sebelah mata. Tak hanya oleh orang tuanya, melainkan oleh beberapa orang di sekitarnya juga. Meski di saat yang terlihat kedua orang tuanya tak mempermasalahkan hal itu, ia bisa menangkapnya karena meski mereka menyembunyikannya terlalu baik.Iia tetap dapat melihat betapa raut kecewa itu tersirat di pandangan mereka. Apa lagi dengan pernikahan kakaknya dengan seorang yang memiliki jabatan yang sama dengan kakaknya, seorang pewaris. Hal itu juga menambah beban pikirnya.
Ia bisa mengerti akan hal itu. Karena pastinya setiap orang tua ingin anaknya memiliki karir yang sukses dan masa depan yang cerah dengan gaji besar dan pasangan yang tak jauh dari hal itu. Sedang dirinya? Hampir mendapat yang setara suami kakaknya, malah terbelokkan dan mendapat kepala divisi.
Ah, mungkin juga calon mertuanya malu mendapat menantu yang hanya seorang guru sepertinya hingga merasa tak layak jika disandingkan dengan putranya yang luar biasa itu.
Tapi, apakah memang benar begitu sesuai dengan pemikirannya ini?
“Aku lelah. Kepalaku terasa panas. Sepertinya hal ini bukan hal baik jika aku berlanjut memikirkan keadaanku. Pasti anak-anak akan terkena imbasnya,” bisiknya yang entah pada siapa.
Farrin memang sangat menyukai anak-anak dan segalanya tentang dunia kecil mereka hingga ia memutuskan untuk mengambil jalan ini. Ia tak menyesal, sungguh! Karena ia bahkan rela menanggung tekanan ini begitu lama. Sekarang, hal itu terbayar. Hanya dengan melihat murid-murid kecilnya ia bisa melepaskan segala beban yang selama ini menggelayuti pundaknya.
Lalu sepertinya ia juga akan melakukan hal itu pada keadaannya sekarang.
Ia tak boleh berlama-lama terlarut dalam kesedihan akibat ditinggal kekasihnya pergi. Sama seperti ia melupakan pandangan mereka terhadapnya, begitu pula ia akan melakukannya.
Karena setelah ini bertekad jika ia akan menerima siapapun tunangannya dan mencoba menerimanya apa adanya. Lagi pula ia pikir hal itu tidak terlalu buruk sama sekali. Ia bisa menerima perlahan, memulai kembali dan menjadi istri yang baik di waktu yang kurang dari dua bulan ini. Karena ia yakin, pernikahan mereka akan tetap berlangsung apapun keadaannya. Ia juga yakin jika sama sekali tak akan bisa menolaknya apapun alasan yang ia lontarkan pada mereka.
Karena memang sedari dulu selalu begitu. Tak akan ada yang menganggap penting pendapatnya.
“Boleh aku duduk di sini? Tempat lain sudah penuh dan hanya kau orang yang kukenal dan memiliki bangku kosong untuk kududuki.”
Farrin yang menghentikan lamunannya karena sebuah suara yang masuk indera pendengarannya kini mendongakkan kepalanya. Ia bisa melihat jika suasana café sudah lebih ramai dari kedatangannya tadi itu hanya bisa membenarkan ucapan pemuda bertubuh jakung tersebut. Dengan perlahan, ia menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan pemuda itu duduk di hadapannya.
“Terima kasih sudah mengizinkanku untuk duduk di sini,” ucapnya pada Farrin.
“Sama-sama.”
Farrin tahu, inilah langkah awal yang seharusnya ia jalani.
Karena mungkin setelahnya, ia akan melangkah ke depan dan membuang semua hal di awal sebelum ini.