Bab 1

Entah sudah yang ke berapa kalinya Mila menghela nafas kesal dan kecewanya. Ia marah juga sekaligus sedih, kapan kesialan akan pergi jauh dari hidupnya?

Rasanya selama ia hidup tak pernah sekalipun kebahagiaan yang hakiki bersamanya. Terlahir dari garis keturunan miskin sebenarnya tak pernah Mila keluhkan, ia selalu bersyukur dan bersyukur dengan kehidupannya.

Tapi tiba di detik ini, Mila merasa sungguh tak sanggup lagi. Orang miskin bukan berarti terus bisa di injak-injak, dihina-hina. Apalagi di tuduh mengambil uang ataupun perhiasan milik orang lain.

Hari ini Mila baru saja dipecat dari pekerjaannya, ia bekerja menjadi pembantu di sebuah rumah orang kaya. Alasan ia dipecat karena dituduh telah mencuri uang dan perhiasan sang majikan.

Mila yang tak pernah merasa mengambil uang dan perhiasan yang di tuduhkan itu tentu saja marah dan berani bersumpah jika ia tidak mengambil barang yang di tuduhkan tersebut.

Tetapi malah sebaliknya, entah bagaimana bisa uang dan perhiasan itu ada di dalam tas selempang lusuh yang memang selalu Mila bawa kemana-mana. Mila menganga tidak percaya, percuma juga baginya untuk bersikeras membela diri toh tidak akan ada yang percaya.

Bosnya murka dan marah besar pada Mila, satu tamparan pun mendarat ke pipi mulus Mila disusul dengan berbagai macam cercaan dan juga hinaan. Mila dipecat dan di usir dari rumah itu dengan cara yang sangat kasar dan tidak terhormat.

Hormat?

Bermimpi saja! Tidak diejek dan dihina saja Mila sudah sangat bersyukur.

"Hiks...."

Cairan bening itu kembali lolos membasahi wajah Mila, gadis itu menengadahkan kepalanya melihat langit yang mengelap.

Sudah setengah jam ia duduk sendirian di trotoar meratapi nasib hidupnya yang begitu sangat menyedihkan.

Sekarang, apa yang harus ia katakan pada sang bibi tercintanya? Pastilah bibinya itu merasa sangat sedih.

Mila tersenyum getir, niat hati datang ke kota ini untuk tinggal bersama dengan sang bibi setelah kepergian kedua orangtuanya yang meninggal dunia. Bibi Marsiah mengajaknya untuk tinggal bersama memulai hidup yang baru. Sejak saat itu Mila bertekad untuk membahagiakan bibinya.

Tapi bukannya kebahagiaan yang di dapat, malah penderitaan yang tak berujung.

****

Mila mengetuk pintu sebuah rumah sederhana yang ia tinggali bersama sang bibi tercinta. Tak lama pintu terbuka dan menampilkan sosok bi Marsiah yang tersenyum hangat menyambut kepulangan ponakannya.

Mila melangkah masuk dan langsung menghambur memeluk tubuh bibinya. "Kangen, Bibi." ucap Mila dengan suara manjanya.

"Mosok kangen? Tiap hari juga ketemu."

"Tapi tetep kangen, setiap detik malah."

Cup.

Mila mengecup lama pipi bi Marsiah, lalu setelah ia berpamitan untuk masuk ke dalam kamar. Setelah di dalam kamarnya sendiri Mila kembali menangis, menumpahkan segala perasaan sesak di dadanya.

Tok.... Tok....

Ketukan di pintu kamarnya terdengar, Riana kaget dan segera menghapus air matanya kemudian membuka pintu kamar.

"Bibi?" kagetnya.

Bi Marsiah menelisik Mila lekat, "kamu tidak apa-apa kan?" tanyanya terlihat khawatir.

Mila menggeleng sembari tersenyum lebar, "a-aku baik-baik saja, Bi. Kenapa?"

"Ah, tidak apa-apa. Hanya saja Bibi kok ngerasa gelisah sedari tadi pagi."

Mila mengigit bibirnya, "paling cuma perasaan Bibi aja itu." kilahnya.

"Kamu beneran gak apa-apa kan?" Mila kembali menggeleng.

"Ya sudah kalau gitu."

Mila hendak menutup pintu kamarnya namun terhenti karena melihat bibinya yang kembali membalikkan badan.

"Kamu sudah makan malam belum?"

"Belum, Bi."

"Kalau gitu ayo kita makan malam bersama, Bibi juga belum makan malam."

"Baik, Bi. Tapi, aku mandi dulu ya."

Mila menutup pintu kamarnya setelah bi Marsiah mengangguk dan pergi. Bukannya segera mandi Mila malah menyandarkan tubuhnya di balik daun pintu yang tertutup.

Ia mengusap kasar wajahnya dan menarik cukup kuat rambut panjang nan Hitam miliknya ke atas. Hal itu selalu ia lakukan setiap kali merasa frustrasi.

Sepuluh menit kemudian Mila sudah selesai mandi kilatnya di sumur yang terletak di belakang rumah. Memakai pakaiannya dengan cepat lalu setelah keluar dari kamar menuju dapur.

Disana ia melihat sang bibi yang duduk lesehan dibawah yang beralaskan tikar usang. Mila juga melihat ada nasi goreng ala kadarnya yang sering menjadi menu andalan mereka makan jika keadaan kritis.

Dengan hidup yang serba pas-pasan mereka lebih menghemat. Itu ajaran sang bibi yang memang sudah terbiasa tak boros, bahkan kelewat irit.

Kadang Mila kesal sendiri melihat bibinya yang sangat irit. Wanita paruh baya itu lebih suka menabung, katanya untuk jaga-jaga bila ada keperluan. Misalnya saja ia ataupun Mila sakit maka sudah ada biaya.

Hmm, kalau untuk yang satu itu Mila setuju dan menjadi irit juga.

"Enak?" tanya bibinya.

"Ya, di enakin ajalah Bi."

Bibirnya tersenyum geli mendengar jawaban Mila yang tampak ogah-ogahan menjawabnya.

"Kapan-kapan kita makan enak ya kalau Bibi udah gajian."

Mila mengangguk, "makan enak lagi kalau Mila juga udah gajian."

"Jangan," bi Marsiah menggeleng. "Uang gaji kamu, kamu tabung saja. Biar yang lain menjadi urusan Bibi."

"Tapi Bi—"

"Oke?"

"Hmm, baiklah." Mila menghela nafas sabar. Percuma juga menjawab ucapan bibinya.

Selesai makan Mila membantu bi Marsiah yang tengah membereskan peralatan makan yang kotor. Sejak tadi ia sudah memikirkannya, antara ingin mengatakan yang sebenarnya pada sang bibi atau tidak.

Mila mengigit bibirnya, kebiasaan setiap kali ia merasa bimbang. Iya, tidak? Iya atau tidak?

"Mila, ada apa?" tanya bi Marsiah mengagetkannya.

"Apa ada yang mengganggu pikiran kamu."

"Uhm, Bibi, aku ingin mengatakan sesuatu."

"Apa itu?" tanya bi Marsiah terlihat penasaran. "Ayo, katakanlah."

"Bibi, sebenarnya aku...." Mila menghentikan ucapannya, menelan salivanya sebentar sebelum kembali melanjutkan. "Aku dipecat."

Bi Marsiah terlihat sangat kaget, "a-apa? Dipecat?"

"Bibi, maafkan aku." isak Mila memeluk tubuh bibinya.

"Aku dipecat karena dituduh mencuri uang dan perhiasan majikanku, Bi." adu Mila yang sudah tak tahan, "padahal jelas-jelas aku tidak melakukannya Bi."

"Iya, tenanglah." bi Marsiah mencoba menenangkan Mila yang semakin terisak pilu.

"Bibi percaya padaku, kan?" Mila melepaskan pelukannya dan mendongak menatap bi Marsiah.

"Tentu saja, mana mungkin keponakan Bibi yang cantik ini melakukan hal serendah itu." bi Marsiah menangkup wajah Mila dengan kedua tangannya.

"Biarpun kita miskin, tetapi kita tidak serendah itu untuk melakukan hal yang tidak baik. Benarkan?"

Mila mengangguk, "tapi kenapa uang dan perhiasan itu ada di dalam tasku ya, Bi?"

"Maksudnya? Kamu dijebak gitu?"

"Lebih tepatnya di fitnah, tapi siapa yang udah tega ngelakuin itu ke aku ya Bi?"

Bi Marsiah menggeleng, "sudahlah. Tidak usah memikirkannya lagi, yang terpenting kamu sudah tidak ada urusan dengan mereka lagi."

"Tapi tetap aja, Bi. Aku gak terima."

"Terus kamu mau apa? Mau kesana dan marah-marah gitu?"

"Ya... enggak sih," lirih Mila cemberut.

Bi Marsiah merasa iba melihatnya, ia peluk Mila dan mengelus punggung keponakannya. "Yang sabar aja, ndok. Tuhan maha adil, dia tidak tidur. Dan yakinlah jika suatu hari nanti kebenaran akan terungkap, bahwa sebenarnya bukan kamu yang melakukan apa yang mereka tuduhkan."

Mila mengangguk setuju, dan ia yakin jika dibalik peristiwa pasti ada hikmahnya.

Tbc....

Bab 2

"Kamu ingin bekerja?" tanya bi Marsiah di suatu pagi saat mereka berdua tengah menikmati sarapan seperti biasa. Yaitu, ala kadarnya.

Mata Mila tampak berbinar, "ya mau dong, Bi."

"Tapi, kerja jadi pembantu kayak Bibi. Gak apa-apa?"

"Enggak dong. Kerjaanku yang sebelum-sebelumnya juga jadi pembantu kan?"

"Jadi kamu beneran mau?"

"Mau, Bi. Eh, tapi kerja jadi pembantu dimana Bi?"

"Anak majikannya Bibi, kebetulan lagi cari pembantu baru untuk kerja di rumahnya."

"Oohh gitu. Memang pembantunya yang lama kemana, Bi?" tanya Mila penasaran.

"Dipecat."

"Uhuk!" Mila tersedak mendengar kata di pecat, kemarin ia baru mengalaminya.

Sialan!

"Aduh, pelan-pelan ndok makannya." kata bi Marsiah menasehati Mila lembut.

Mila mengangguk dan segera mengambil air mineral lalu langsung meneguknya setengah. Ia menatap bibinya yang telah selesai sarapan dan beranjak sembari membawa piring dan gelas kotornya ke belakang untuk dicuci.

Padahal Mila masih ingin bertanya lebih jauh lagi mengenai pembantu lama anak majikannya yang dipecat. Hmm, tapi ya sudahlah.

"Biar aku saja, Bi." pinta Mila mengambil alih apa yang bi Marsiah kerjakan.

Tanpa membantah bi Marsiah mengangguk dan membiarkan Mila yang mencuci gelas dan piring kotor.

Setelah selesai Mila menaruh gelas dan piring yang telah bersih ke tempatnya. Lalu ia menoleh melihat sang bibi yang tampak bersiap-siap akan pergi.

"Sudah mau pergi, Bi?"

"Iya, kamu jaga diri baik-baik di rumah ya ndok." Mila mengangguk namun tatapannya terlihat sendu.

"Kenapa? Kok murung lagi mukanya?"

"Maaf ya, Bi, aku belum dapat pekerjaan baru sampai sekarang." sesal Mila yang merasa bisanya hanya merepotkan dan menyusahkan bibinya saja.

"Iya gak apa-apa ndok. Gak usah sedih gitu, oke?" bi Marsiah menyentuh dagu Mila, "ayo senyum dulu."

Mila memaksakan senyumnya agar bibinya senang. "Nah gitu dong, putri Bibi kembali tersenyum."

"Yaudah kalau gitu, Bibi berangkat kerja dulu ya."

"Hati-hati, Bi."

Bi Marsiah mengacungkan jari jempolnya, kemudian ia keluar. Tapi, baru beberapa menit pintu kembali terbuka.

"Ada apa Bi? Ada yang ketinggalan?"

Bi Marsiah menggeleng, "Bibi hampir lupa. Soal pekerjaan yang Bibi bilang tadi, nanti akan Bibi tanyakan sama majikan Bibi apakah masih berlaku atau tidak."

"Ooh, iya Bi." Mila mengangguk.

Bi Marsiah kembali berpamitan dan mengecup dahi Mila. Lalu setelahnya wanita paruh baya itu beneran pergi.

***

Tak banyak kegiatan yang Mila lakukan di rumah sederhana itu. Setelah selesai melakukan semua pekerjaan rumah dari menyapu, mengepel dan mencuci baju. Mila merasa sedikit lelah dan membaringkan tubuhnya di kasur bawah yang sebenarnya sudah tak layak pakai.

Ia memijit pelipisnya, sampai kapan ia akan begini terus? Menjadi pengangguran sangatlah tidak enak. Mila kepikiran bibinya, pastilah bibinya itu merasa lelah bekerja sebagai pembantu di rumah besar dan mewah milik majikannya yang kaya itu.

Mila menghela nafas, seandainya saja ia memiliki pekerjaan tetap dan banyak uang maka Mila tidak akan lagi mengizinkan bibinya bekerja.

Di usia bibinya kini tentu sudah seharusnya beristirahat di rumah dan menikmati waktu senjanya dengan tenang.

Tapi apa ini? Justru malah Mila yang menjadi beban hidup bibinya.

Mila malu dan kesal pada dirinya sendiri yang merasa sangat tidak berguna. Dan bibinya yang begitu sangat baik dan sabar mengurusinya.

***

Sesuai janjinya dengan sang keponakan, bi Marsiah menghadap sang majikan perempuannya yang terkenal sangat kaya raya.

"Ada apa, Marsiah?" tanya wanita yang berpenampilan sangat anggun dan elegan itu.

"Uhm, anu Nyonya. S-saya mau tanya mengenai lowongan kerja jadi pembantu di rumah Tuan muda. Apakah masih ada atau sudah mendapatkan pembantu yang baru?" ucap bi Marsiah gugup.

"Iya, kenapa memangnya?"

"Kalau belum, keponakan saya mau bekerja jadi pembantu di rumah Tuan muda."

"Oh gitu, tapi maaf sekali Marsiah. Lowongan pekerjaan menjadi pembantu di rumah anak saya sudah tidak berlaku. Dua hari yang lalu Leon sudah mendapatkan pembantu yang baru," tukasnya.

"Baik Nyonya, terima kasih." bi Marsiah menunduk dan kemudian berpamitan undur diri dari hadapan sang majikan.

Nyonya Kartika menatap kepergian bi Marsiah dengan iba. Sayang sekali, wanita itu telat bertanya mengenai lowongan pekerjaan menjadi pembantu di rumah putranya, Leon. Jika belum maka tentu saja pekerjaan itu akan ia berikan.

Drrrtt....

Ponsel Nyonya Kartika berdering, ia menoleh dan melihat nama Leon tertera di layar ponselnya sebagai si penelpon.

Nyonya Kartika berdecak, ada apa gerangan putranya ini mengubungi dirinya.

"Hal—"

"Mom, tolong carikan aku pembantu baru lagi. Dan please, pilih yang sesuai kriteria ku!"

Klik.

Sambungan telepon diputus begitu saja. Nyonya Kartika menghela nafas sabar, kebiasaan putranya ini tak pernah hilang.

Dan apa kata putranya? Dipecat? Astaga, Leon baru saja mendapatkan pembantu yang baru. Tapi, sudah dipecat lagi. Gila memang putranya ini.

"Marsiah!"

Tbc....

Bab 3

Leon Prakasa, anak sulung dari dua bersaudara. Putra dari pasangan Utama Prakasa dan Kartika Andini ini terkenal akan sikapnya yang dingin, angkuh dan arogan.

Sementara si bungsu, Agnes Prakasa adik dari Leon terkenal akan sikap manjanya yang luar biasa. Dengan kedua sifat yang saling bertolak belakang ini membuat keduanya tak pernah akur. Tapi, walaupun begitu Leon sangat menyayangi sang adik.

Kekejaman Leon pun begitu terkenal hingga santer terdengar kabar jika ia sudah bergonta-ganti beberapa kali pembantu. Alasannya karena tak sesuai kriteria yang dia inginkan.

Leon tak perlu pembantu yang muda dan cantik, mau bagaimanapun wujudnya asalkan kinerjanya memuaskan maka Leon tidak akan sampai memecat para pembantu-pembantu sebelumnya. Karena kriteria pembantu yang Leon cari adalah yang mampu membuat Leon puas.

Bagi Leon, kinerja yang baik harus layak di teruskan sementara yang buruk harus segera di hempaskan.

Leon sendiri punya beberapa peraturan yang ia terapkan untuk pembantu yang akan bekerja di rumahnya. Dan Leon kerap kali merasa kecewa dengan hasil kerja para mantan pembantunya terdahulu.

"Sangat buruk," tukasnya pada sang ibunda, nyonya Kartika. Begitulah sapaan para pembantu di rumahnya.

"Kali ini kenapa lagi? Apa pembantu baru itu membuat kesalahan?" tanya nyonya Kartika tak habis pikir. Putranya ini begitu gampang sekali main pecat para pembantunya hanya karena membuat satu kesalahan.

"Seharusnya kamu bisa memaafkan jika Ratih membuat salah," ujar nyonya Kartika menasehati anaknya. Dan Ratih, nama pembantu yang baru Leon pecat.

"Maaf?" ulang Leon merasa geli mendengar kata satu kata itu. "Aku tidak akan mentolerir kesalahan seseorang. Kalau salah ya salah, dan kinerja yang tidak becus harus segera di singkirkan, bukan? Aku pikir Mom tidak melupakan ucapan Mom sendiri."

Nyonya Kartika terdiam. Ingatannya terlempar pada beberapa tahun yang lalu. Saat itu ia menasehati Leon remaja yang sangat baik dan hangat kepada orang lain. Dan Leon remaja yang kerap kali mudah kasihan dan memaafkan orang lain. Nyonya Kartika kesal pada Leon remaja yang sempat marah dan menentang dirinya yang tengah memarahi salah satu pembantu terdahulu saat berbuat salah.

"Anakku, jangan terlalu baik dan merasa kasihan pada orang lain. Karena belum tentu orang yang kamu kasihani itu baik padamu. Kelak kamu akan mengerti bahwa hidup ini sangat keras. Orang yang salah tetaplah salah, dan orang yang pekerjaannya tidak becus itu tidak layak untuk diteruskan. Artinya, harus segera di singkirkan."

"Tidak ada pengampunan untuk orang-orang yang berbuat salah. Bukan begitu, Mom?"

Kedua mata nyonya Kartika mengerjap beberapa kali, ia tidak menyangka jika ucapannya dulu masih tetap di ingat Leon.

Apakah itu artinya, dirinya sendirilah yang mengubah Leon remaja yang baik menjadi Leon dewasa yang kejam.

Oh tidak!

Wajah nyonya Kartika pias dan beberapa kali ia menelan salivanya kasar.

"Mom baik-baik saja?" tanya Leon yang tak pernah lepas mengalihkan tatapan pada Mommy tercintanya.

Nyonya Kartika menghela nafas sesaat seraya mengangguk. "Mom punya calon pembantu baru untuk kamu."

"Ah, sudahlah," Leon mengibaskan sebelah tangannya. Merasa muak mendengar ucapan ibunya.

"Palingan juga yang tidak becus lagi kinerjanya." cibir Leon merasa kapok akan pilihan nyonya Kartika.

"Mom yakin kali ini tidak akan mengecewakan," ucap nyonya Kartika mantap.

Leon mengangkat sebelah alisnya, "oh ya? Katakan padaku, kenapa Mom bisa sangat seyakin itu?"

"Tentu saja, karena calon pembantu yang ini adalah keponakan Bi Marsiah."

"Apa? Keponakan Bi Marsiah yang bekerja di rumah kita?"

"Ya!" sahut nyonya Kartika. "Kalau kamu mau, besok sepertinya dia sudah bisa mulai bekerja disini."

"Tunggu dulu!" cegah Leon, "akan ku pikirkan lagi."

"Hmm, baiklah. Jika kamu sudah menentukan pilihan, segeralah hubungi Mom." nyonya Kartika bangkit berdiri dari duduknya bersiap pergi.

"Oke. Uhm, tunggu Mom!"

"Apalagi?" tanya nyonya Kartika kesal.

"Peraturannya masih sama, tolong sampaikan padanya untuk mematuhi peraturan bila ingin menjadi pembantu yang sesuai kriteriaku."

"Apakah itu artinya, ya?"

"Mungkin," Leon mengendikkan kedua bahunya tak acuh.

Nyonya Kartika mengulum senyum geli melihat tingkah putranya yang sebenarnya tinggal bilang mau saja sangat susah.

"Baiklah sayang, akan Mom sampaikan." nyonya Kartika mendekat pada Leon dan mengecupnya pipi putranya sayang.

"Mom pergi, dah."

"Dah," Leon membalas lambaian tangan mamanya.

Hati-hati dijalan, Mom. ucap batin Leon yang tak mampu mengungkapkannya secara langsung.

****

Mila memoles wajahnya dengan make up tipis agar terlihat cantik dan segar. Hari ini ia senang sekali karena akan memulai bekerja kembali. Ya, meskipun masih tetap hanya bekerja sebagai pembantu.

Bibinya bilang jika ia akan mulai bekerja di rumah tuan muda, anak majikan tempat bi Marsiah bekerja.

Setelah selesai dan merasa puas dengan hasil make up-nya sendiri, Mila keluar kamar dan menuju dapur. Seperti biasa ia melihat sosok bibinya yang sudah di bawah yang beralaskan tikar usang sembari menunggunya untuk sarapan bersama mu

"Eh, ya ampun cantiknya keponakan Bibi." puji bi Marsiah membuat Mila tersenyum malu.

"Terima kasih, Bi."

"Ayo sarapan," Mila mengangguk dan duduk di samping bi Marsiah.

"Mila, kamu sudah membaca semua isi peraturan dari Tuan muda Leon kan, ndok?" tanya bi Marsiah mengingatkan sang ponakan agar tidak lupa dan lalai dengan peraturan dari Leon patut sekaligus wajib ia patuhi.

"Sudah Bi," jawab Mila dengan mulut yang penuh dengan makanan.

"Astaga, banyak sekali ya Bi peraturannya. Kerja jadi pembantu aja berasa kayak anak sekolah, banyak banget peraturannya." cibir Mila merasa geli.

Bi Marsiah hanya menggelengkan kepala menanggapi celotehan Mila. "Di ingat, Mil, kamu harus patuhi peraturan itu. Jangan baru satu hari kerja kamu udah buat salah loh."

"Iya Bi," Mila mengangguk mengerti. "Aku janji akan bekerja dengan baik, memberikan segalanya yang terbaik untuk Tuan muda...."

"Leon."

"Ah, iya itu. Untuk Tuan muda Leon. Aduh, namanya unik juga ya," ucap Mila pelan di akhir kalimatnya.

Saat menyebut nama Leon Mila mengingat salah satu nama permen gagang. Ah iya, jagoan neon. Hmm, tinggal di ganti huruf depannya aja. Hehehe.

Tbc....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED