Awan badai berbentuk lengkungan kabut dan asam hitam mendadak muncul di atas lautan, berdiameter hingga belasan kilometer, sangat luas sekali. Namun sayang....., semuanya itu terlambat diketahui, pesawat Hercules Lockheed C-130 itu sudah keburu berada dalam cengkeraman pusaran asap hitam. Seketika itu juga sisi kiri dan kanan pesawat kembali gelap gulita berwarna hitam seperti tadi.
Lampu indikator yang menunjukkan kecepatan pesawat atau ‘air speed indicator’ dan tanda peringatan lainnya ‘altitude allert’ berkedip-kedip secara bersamaan. Kemudian diikuti dengan suara tanda bahaya. “biiib.... biiib.... biib.... biiib.... biiib....” Maka...., mendekati sempurnalah kemalangan demi kemalangan yang dihadapi oleh pesawat Hecules Lockheed C-130 itu.
“Level di 15.000 feet Kep….! ” Sukhairi berteriak.
“Ini tak mungkin, tak boleh terjadi, puuuuull uuuuuup….!” Adam bersorak.
“Tak bisa Kep, masih terus terjerembab.” Jantung Sukhairi mencak-mencak.
“Climb....! climb....! climb....! climb....!” Adam masih mencoba bertindak.
Berkali-kali kedua orang Perwira muda itu berusaha untuk menstabilkan ketinggian, namun sayang...., aileron yang terletak di kedua ujung sisi sayap dan Elevator di bagian vertikal ekor pesawat masih belum mampu bekerja untuk mengembalikan badan pesawat yang terlanjur menukik tajam.
*****
Suatu kemalangan yang benar-benar malang. Lepas dari mulut harimau, diseruduk tanduk kerbau. Terpental dari tanduk kerbau, terjun bebas tercebur dalam ngarai. Entah apa lagi namanya, tapi itulah yang sedang terjadi, seperti terjun bebasnya pesawat Hecules Lockheed C-130 itu menuju lautan.
Pesawat yang tak lagi berdaya itu masih terus di hajar. Sebuah sentakan misterius mendadak menyapu badan pesawat dari sisi atas. Lalu diikuti dengan gelegar halilintar yang menerjang angkasa luas. Sambaran petir tunggal dari awan ke bumi atau cloud - to - ground - lightning melibas badan pesawat dengan begitu keras. Pesawat menghempas ke bawah hingga terjerembab terjun bebas. Suara mesin Turbo propeller mendenging tinggi terkena imbas sambaran halilintar yang begitu panas.
“Kiamat Kapten....! pesawat terjun bebas....!” Sukhairi menjerit keras.
“Lightning strike, pesawat tersambar Letnan....!” Adam menghela napas.
“Apa Kapten....?” Sukhairi ternganga pucat. Letnan itu bahkan tak menyadari pesawat telak tersambar halilintar.
“Pesawat tersambar.....!” Suara Adam terdengar bergetar.
“Ya Allah, kita akan mati Kapten....!” Sukhairi berteriak pasrah.
“Jangan, jangan, ini tak mungkin Let....!” Adam berteriak tak ingin menyerah.
“Ampun mak....! menyentuh level 9.000 feet sekarang, pesawat masih menukik tajam, mati....! mati....! kita akan mati Kep....! mampuslah kita Kep....!” Sukhairi cuap-cuap pucat
“Oh Tuhan…., Astaghfirullah, AllahuAkbar, AllahuAkbar, Lailahaillallah.” Adam berzikir dan berucap.
“Thrust zero….! thrust zero....! mampus....! mampus....! kita mampus Kep....!” Sukhariri kelabakan.
“Oh no....! it is impossible....!” Adam tercengang. Stick kemudi dia rasakan mendadak bergoyang-goyang.
“Aku tak mampu lagi Kapten, pesawat terlalu berat, kita akan terus menukik, AllahuhuAkbar.....! AllaahuAkbar….!” Teriak Sukhairi kejang-kejang.
“Climb....! climb....! climb….! Ini tak mungkin….! climb....! climb....! climb....! AllahuhuAkbar.....! AllaahuAkbar….!” Adam semakin kelabakan. Pilot termuda itu tak mampu mempertahankan ketinggian.
“4.000 feet Kapten….!” Lagi-pagi Sukhairi berteriak tegang. Level ketinggian pesawat terpantau di 4000 kaki, hanya sekitar 1.200 meter di atas lautan. Kiamat pun kini benar-benar datang.
“Oh Tuhan, AllahuAkbar, AllahuhuAkbar ! AllaahuAkbar....!”
“Lailahaillallah, Allahuakbar....!”
“Astaghfirullah, Astagfirullah, Allahuakbar....!”
Kengerian menyentuh puncak. Jeritan kematian terdengar bergema dalam ruangan kokpit pesawat. Panggilan pada Yang Kuasa “AllaahuAkbar...., AllahuAkbar....!” Tak henti-hentinya terucap. Pesawat Hercules itu semakin terjerembab dengan sebegitu cepat. Panggilan ‘Mayday Mayday’ pun tak sempat terucap.
*****
Di balik kesulitan....., terselip sebuah kemudahan, begitulah firman Nya. Begitu juga yang terjadi kini. Suatu keberuntungan...., terhempas di bawah ketinggian 3.000 kaki di atas permukaan laut, pesawat terlepas dari jeratan badai siluman, pengaruh induksi elektromagnetik pun seketika menghilang. Permukaan air laut sangat dekat, begitu rendah pesawat itu terlihat, berada pada level paling bawah dari gumpalan awan yang mematikan..
Menakjubkan....., sistem navigasi dan hydrolyc pesawat tadi ngadat kini kembali bekerja normal. Elevator di bagian vertikal ekor pesawat perlahan kini mampu berfungsi maksimal. Walaupun masih menukik, namun posisi badan pesawat sedikit mendatar.
Namun kengerian ternyata belumlah hengkang. Baru saja mereka menghela napas panjang, Sukhairi kembali kejang-kejang di tebas kekagetan
“Kapten....! lihat pulau itu ada lagi!” Teriak Suakhairi terperanjat menyaksikan pulau misterius yang tadi sempat mereka lihat dari kejauhan kini kembali muncul sekitar 5 mil jauhnya dari pesawat.
“Mustahil....!” Adam yang ikut menyaksikan geleng-geleng tak percaya.
Pulau misterius yang mereka saksikan kali ini lumayan besar. Agak memanjang dengan sedikit melengkung mirip mentimun bungkuk. Walaupun terlihat gelap, namun sepintas lalu tak terlihat warna hijau di sana. Bisa dikatakan pulau itu begitu gersang. Permukaan pulau berwarna kecokelatan, terlihat angker sekilas dipandang.
“Sepertinya itu bukan pulau Kep, lihat banyak bangunan piramida di sana....! apa mungkin....!” Sukhairi merinding memperhatikan.
“Ada yang tak beres, mungkin saja itu bukan sebuah pulau.” Adam juga ikut getar-getir memandang
“No choice Letnan, emergency landing, kita arahkan ke sana tepat di pinggir pantai.” Adam seketika itu juga membuat keputusan. Memang tak ada pilihan lain yang harus dia ambil selain mendaratkan pesawat di sekitar pulau misterius itu walaupun terlihat angker dipandang.
“Siap Kapten…!”
“Bersiap, ready for impact.” Adam memberi isyarat sebagai pertanda sebuah pendaratan darurat.
“Ready for impact.” Ulang Sukhairi ikhlas menganggukkan kepala.
Menuju detik-detik penghujung hayat, pekikan dan jeritan, kekalutan dan ketakutan serta kecemasan serta-merta buyar seketika itu dalam pikiran mereka. Maut begitu jelas menghadang di depan mata. Pangkat, harta, jabatan, orang tua dan kekasih tercinta mereka tinggalkan semua dan dikubur dalam-dalam di atas dunia. ‘Mati’ itulah kini kata-kata terindah bagi mereka.
“No flap.” Adam memulai prosedur pendaratan darurat.
“Flap zero degree.” Konfirmasi dari Sukhairi posisi flap atau sirip pesawat di kedua sayap pada posisi nol derajat tidak terbuka.
“No gear.” Adam mengingatkan.
“No gear Kapten.” Ulang Sukhairi memastikan bahwa roda-roda pesawat tetap dalam keadaan terlipat.
Celaka, dan benar-benar suatu kemalangan besar. Detik-detik menuju hempasan sekonyong-konyong kanal sebuah petir seperti garis zig-zag beliku-liku mengejar bagian sayap.
“Awaaaaas…!” Adam memekik kaget.
“Ya ampun…!” Sukhairi terperanjat pucat.
Mengejutkan, terjadi sebuah sambaran petir tunggal. “Duuuuuummm…!” Ledakan halilintar terdengar garang. Bahkan mampu mengejutkan jin dan setan.
Dalam sekejap mata, ujung streamer petir seperti cambuk api raksasa menyabet habis permukaan tangki bahan bakar yang terletak dalam sayap pesawat. Dua pasang static discharge yang terletak di kedua ujung sayap pesawat yang berfungsi untuk melepaskan muatan listrik statik tampaknya tak terlalu banyak membantu.
‘Electric spark’ atau percikan api yang terjadi di antara dua sambungan bahan logam yang terdapat di atas tangki bahan bakar pesawat tak dapat di redam oleh lapisan ‘seal’ pengaman secara sempurna.
Seluruh ruangan dalam pesawat akhirnya diselimuti asap dan gas yang mengandung karbon monoksida. Mata ber-kunang-kunang, kedua orang perwira yang tangguh itu mulai menggeliat kejang-kejang.
*****
Sabetan pamungkas halilintar kembali menerjang bagian sisi atas sayap pesawat Hercules Lockheed C-130 itu, telak mengenai tangki bahan bakar yang ada di sana. Seketika itu juga percikan partikel panas menyambar cairan yang mudah terbakar. Tangki bahan bakar pesawat terbakar hebat. Pesawat menukik tajam menuju permukaan laut tak jauh dari pulau misterius yang menyeramkan.
Kapten Adam dan Letnan Suhhairi ikut jadi korban. Tubuh kedua orang Perwira muda itu berwarna merah menyala tersengat oleh ‘....surge current....’ atau suatu aliran listrik kejutan yang begitu kuat dengan suhu mencapai ratusan derajat celsius. Letnan-dua Sukhairi gugur seketika. Sementara itu Kapten Adam, Perwira muda yatim piatu usia 27 tahun yang duduk di kursi pilot itu menggelepar meregang nyawa di angkasa. Tubuh yang malang itu terbakar merah berputar-putar berjuang melawan kepedihan di sekujur tubuhnya.
Menjelang detik-detik akhir hayatnya......, Perwira sekarat itu tiba-tiba saja dikagetkan oleh kemunculan suara gaib seorang wanita yang terdengar bergema dalam ruangan kokpit pesawat. Dialah.... wanita yang telah melahirkan pemuda itu ke atas dunia.
“.......Adam.....! Adam.....! Adam anakku......!” Begitu terdengar suara seorang wanita bergema yang terdengar oleh Adam memanggil namanya. Suara itu begitu lembut, Adam sendiri dia tak pernah mendengar suara selembut itu dalam hidupnya.
“.........Bertahanlah nak...! kau pasti kuat nak...! jangan takut....! ibumu ada di sini...!”
Suara gaib itu seakan-akan menyatu dengan kejutan induksi elektromagnetik yang menyengat tubuh Adam. Memunculkan suatu energi misterius yang mampu membuat jantung pemuda itu kembali terpicu untuk memompakan darah panas secara tiba-tiba, begitu panasnya darah itu hingga menggelegar seperti semburan lahar dan magma. Secara mukjizat, pemuda yang sekarat itu kembali terjaga. Adam kaget, dia merasakan dirinya seolah-olah kembali bangkit dari kematiannya.
Suatu mukjizat memang....., walaupun terbakar membara, namun tubuh Perwira muda itu tidaklah hancur. Jantungnya masih berdetak memompakan darah merah yang panas membara. Kedua bola mata Perwira itu kembali terbuka, Adam tetap dalam keadaan sadar. Dia bahkan masih tetap berzikir ‘....Subhanallah..... Subhanallah..... Subhanallah.....’ sembari menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tubuhnya terbakar hingga ribuan derajat celsius panasnya. Dia bisa merasakan kepedihan di seluruh anggota badannya yang tak tertahankan. Merasakan bagaimana sekujur tubuh terbakar, pedih yang amat sangat. Sungguh suatu keajaiban, semuanya yang terjadi atas kehendak Yang Kuasa.
Dalam kepedihannya, pemuda itu menyaksikan sesosok putih bayangan wajah ibunya menembus kaca jendela. Dengan kasih sayang yang tulus, wanita itu tersenyum, lalu dia melambaikan tangan ke arah Adam. Wanita itu seolah-olah mengucapkan suatu kalimat, tapi tak terdengar suara. kemudian dia mengulurkan kedua tangannya dan kembali berkata. Adam memahami makna ucapan wanita itu, walaupun dia tak mendengar apa-apa di sana. Wanita itu seakan-akan ingin sekali memeluknya, tapi tangannya tak sampai. Adam mengulurkan kedua tangannya untuk meraih tangan wanita yang dirindukannya itu, namun dia masih juga tak bisa.
Untuk yang ketiga kalinya, wanita itu kembali berkata. Kali ini wajahnya terlihat lebih jelas. Wanita yang melahirkannya ke dunia terlihat putih bersih dan sangat cantik, mengalahkan cantiknya sesosok bidadari. Adam meraba wajah wanita itu, wanita itu membalasnya. Seketika itu Adam benar-benar merasakan kasih sayang seorang ibu. Sebuah kasih sayang yang tak pernah dia rasakan selama hidupnya.
“Ibu...? benarkah itu ibu...?”
“.......Iya nak..., betul ini ibumu.......”
“Ibu..., aku mohon....., ibu jangan pergi lagi....!”
“........Ibu tak akan pergi nak......!”
“Di manakah ibu sebenarnya sekarang..., apakah ibu di sini....?”
“........Betul nak.., ibu di sisimu, ibu selalu dekat dengan mu....!”
“Tap ibu...! aku tak tahan lagi....! aku lebih baik mati bu...!”
“...........Tidak nak.....! kamu adalah seorang Perwira yang tangguh...! kamu jangan menyerah...!”
“ Tapi aku sudah tak kuat lagi bu...”
“.......Percayalah pada ibu nak...! kamu pasti kuat......!”
Namun sayang, hanya sesaat Adam bisa menyaksikan bayangan wajah ibunya. Suara dentuman yang dahsyat kemudian mengakhiri semuanya.
“.....Buuuummmm…!” Suara ledakan terdengar membahana. Pesawat itu akhirnya meledak beberapa meter sebelum tercebur menghantam lautan. Baja ringan itu hancur berkeping-keping jatuh seperti puing-puing berserakan dalam radius ratusan meter. Adam ikut tercebur bersama pesawat yang hancur.
“Lailahaillallah...!” Pekik Adam. Itulah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Perwira muda itu, seketika itu juga dia diam membisu mengakhiri duka.
Dunia dia rasakan begitu damai dalam kesunyian, tak ada lagi pekikan dan jeritan. Lalu dia tersenyum menyadari waktunya telah tiba. Tatapannya kemudian menembus langit. Dalam ketersenyumannya, Perwira muda itu kembali menyaksikan kemunculan sesosok perempuan putih berseri-seri mengenakan mukena serba putih turun dari celah pelangi di sore hari.
Perempuan itu tersenyum sembari melambai-lambai. Kedua tangannya dikembangkan mesra lalu dia ulurkan seolah ingin menggapai dan memeluk Perwira itu, begitu indahnya dirasakan. Dia menggenggam kedua tangan perempuan itu, sungguh lembut terasa. Tubuh Perwira itu dia peluk mesra, kemudian menggiringnya kembali menuju warna-warni pelangi yang masih terbias matahari.
Perwira muda itu harus pergi sebelum misteri yang ada di sana bisa dia ungkap. Panggilan Tauhid “Laila haillallah … AllahuAkbar’ pertanda kukuhnya iman sudah terucap.
Sungguh, sebuah pengorbanan yang tak mungkin bisa dibalas dengan tanda jasa, apalagi ditukar dengan setumpuk harta. Mungkin, memang tak ada air mata untuknya, tapi itulah mereka.
*****
Bahan bakar pesawat yang mempunyai berat jenis jauh lebih ringan dari air tumpah berserakan terapung-apung d iatas lautan. Api dengan cepat menyambar dan laut pun merah merona berkobar terbakar. Sekumpulan burung yang sedang bermigran terbang membentuk formasi diamond menuju pulau lain terperanjat kaget melihat kobaran api. Mata mereka terpelotot, lalu bubar kucar-kacir membentuk formasi kembang api, terbang centang-perenang entah ke mana lagi arahnya.
Ratusan ikan mungil yang sedang berenang di sekitar sana juga terperanjat kaget, lalu lari terbirit-birit mengambil langkah seribu menjauhi kobaran api. Mereka bertanya-tanya keheranan. “Aneh.....kok air bisa terbakar ya....?” Begitu tanya ikan-ikan mungil itu tak habis pikir.
Hanya hitungan detik setelah ledakan, perairan yang masih termasuk dalam kawasan segi tiga Masalembo yang terkenal angker itu mendadak berubah sepi tanpa suara. Walaupun sebenarnya segi tiga itu hanyalah sebuah garis khayal yang menghubungkan kota Majene, pulau Bawean dan kepulauan Tengah yang berbentuk segi tiga, ketiganya berada di Laut Jawa dan termasuk wilayah perairan Masalembo, namun apapun yang terjadi alam tak bisa diduga oleh manusia. Semuanya bisa saja berubah-ubah menurut kehendak Sang Pencipta. Yang menguasai alam semesta beserta seluruh isinya.
*****
Semenit kemudian, badai berlalu begitu cepatnya, sepertinya saat itu tak pernah ada kejadian apa-apa di sana. Satu persatu dari serpihan logam pesawat Lockheed C-130 itu tenggelam ke dasar lautan tanpa satu pun yang tersisa. Tak seorang pun yang tahu kejadian itu.
Awan-awan hitam menakutkan yang tadi bergumpal-gumpal di angkasa kini bersembunyi entah di mana. Petir yang barusan silih berganti bertebaran menuju bumi juga telah sirna. Langit terlihat kembali cerah, laut kembali terang, warna biru terbentang luas terlihat sampai ke ujung bumi. Matahari terlihat sangat terik, tepat berada di atas kepala.
*****
Pagi hengkang, siang pun datang, sang penerang jagat raya bersinar semakin garang, terik yang terasa bagai membakar permukaan laut yang tenang. Sesosok tubuh malang yang terapung-apung di tengah-tengah lautan itu merasa kepanasan. Susunan sarafnya yang tadi membeku setelah ledakan ikut tersengat karena kepanasan. Jantung yang nyaris tak lagi berdetak mendadak terlonjak memompakan darah menyentak-nyentak. Menakjubkan..., perwira muda yang sekarat itu akhirnya tak jadi mati mendadak.
Suatu mukjizat...., tubuh pemuda yang tadi terbakar itu masih panas memerah mengeluarkan asap. Lautan yang ada di sekelilingnya ikut mendidih bagai terbakar gas metana. Apakah sebenarnya yang telah terjadi, tak seorang pun yang tahu selain dirinya.
*****
Enam bulan kemudian setelah kecelakaan pesawat Hercules Lockheed C-130
Tanggal 31 Desember: pukul 23:00 malam
*****
Ruang tunggu keberangkatan pesawat di malam pergantian tahun itu terlihat begitu padat. Lihatlah...., antrean di meja chek-in keberangkatan begitu panjang penuh sesak. Penumpang pesawat membludak, penjualan tiket on-line meledak-ledak. Maskapai penerbangan kaya mendadak, pilot dan pramugari dapat tambahan rezaki lumayan banyak. Memang...., kalau rezeki dari Yang Kuasa itu sudah datang, pasti tak ada yang doyan mengelak.
Hiruk-pikuk, lalu-lalang ratusan orang penumpang di ruang tunggu keberangkatan sangat terasa amburadulnya sejak sore tadi. Semua sibuk bertanya ke sana kemari. Keberangkatan banyak yang delay.....? Tapi itu kan suatu hal yang sudah biasa terjadi. Calon penumpang terlihat adu urat leher dengan petugas ground bandara karena tak pastinya jam keberangkatan pesawat.....? Ah...., kayaknya itu juga sesuatu hal yang sudah biasa.
Namun...., ternyata ada juga sesuatu yang tak biasa terjadi di malam pergantian tahun itu. Suara teriakan marah-marah seorang wanita tak kalah sengitnya juga terdengar di antara hiruk-pikuk suasana ruang tunggu keberangkatan pesawat di malam itu. “Hei playboy korengan..! kamu dengar ya baik-baik kata-kata saya..!” Suara judes seorang wanita terdengar bergema dari salah pojok ruang tunggu.
“Kamu itu yang nggak tahu diri.....! kamu itu yang egois tak punya perasaan..! kamu memang playboy cap kodok..!” Begitu aksen wanita itu mencak-mencak melalui handphone barunya berwarna merah jambu. Begitu bengis terdengar, melebihi bengisnya teriakan seorang ibu tiri.
Lisa nama wanita yang lagi marah-marah itu. Gadis keturunan perancis alias “peranakan cina sunda“ salah seorang calon penumpang pesawat Airbus A320 dengan nomor penerbangan XZ-1949 yang akan berangkat menuju Biak pukul 23:45. Tak peduli baginya penumpang lain yang berada di sekitar sana. Tiga menit lamanya dia mencak-mencak, entah mengapa suara Lisa tiba-tiba saja macet tersendat di kerongkongan. Matanya yang genit tak sengaja tersangkut pada seorang perwira muda berpakaian dinas kemiliteran yang tepat duduk di depannya.
Pemuda yang dilirik oleh Lisa itu sedari asyik saja membaca. Padahal dia itu adalah seorang tentara, bukan seorang mahasiswa, apalagi pasca sarjana. Begitu tampan dan terlihat berwibawanya dia. Pangkatnya saja kapten, terlihat jelas dari tanda tiga garis strip kuning yang melekat di kedua bahunya. Dia itu ternyata seorang perwira penerbang, bahkan pilot termuda lagi yang menyandang pangkat kapten di kesatuannya. Adam namanya, mulai bulan januari nanti, perwira muda itu mendapat tugas baru selama beberapa bulan di Papua.
Puas memandang perwira pemuda itu, bibir Lisa yang bergincu kembali beringas. “Hei enak saja kamu ya..!” Teriak Lisa lagi melaui handphonenya. Mencak-mencak gadis anak orang kaya itu ternyata masih berlanjut.
“Kamu itu yang selingkuh dengan dia kok malah aku yang kamu suruh harus minta maaf....., emang nya kamu itu siapa..! seorang pangeran haah......? benar-benar memalukan tak tahu diri kamu..! petantang petenteng hanya jual tampang....! padahal kamu itu pengangguran, kamu jangang bohong....! aku sudah tahu semuanya....!” Sorak Lisa semakin beringas. Handphone kemudian dia matikan seketika.
Mendengar celotehan seseorang, pemuda bernama Adam yang duduk tepat di depan Lisa itu mengarahkan penglihatannya ke arah gadis itu. Lisa yang sedari tadi memang mencuri pandang berakting pura-pura malu. Kedua bola mata Lisa yang genit kembali beraksi. Seragam yang dikenakan oleh pemuda itu dia perhatikan, termasuk atribut kemiliteran yang Lisa sendiri tak sebegitu paham apa itu artinya. Namun dia yakin pemuda itu adalah pasti seorang Perwira. “...andai saja dia..., oh begitu tampan dan bersahajanya...” Gumam Lisa dengan tatapan lugu.
Sayang sekali, tatapan Lisa yang genit pada perwira itu hanya berlangsung sesaat. Ada panggilan masuk, handphone Lisa kembali berdering. Gadis itu kesal, belum puas lagi tatapan matanya yang genit itu beraksi, namun dirinya kini sudah terusik lagi, seketika itu juga handphonenya itu langsung dia matikan. Beberapa detik kemudian, lagi-lagi handphone Lisa berdering, kali ini panggilan itu dia jawab, tapi dengan makian.
Amarah Lisa memuncak, dia langsung membentak membentak dengan mencak-mencak. “Hei, sudah ya.....! aku sudah muak dengan kamu.....! dasar lelaki pengangguran....., kamu memang playboy cap kodok, playboy murahan....!” Handphone itu dia pencet, langsung mati seketika.
Handphone nya kembali berdering. “Masa bodo.!” Jawab Lisa singkat, sesingkat-singkatnya. Hanya dua kata, handphone itu langsung dia matikan. Satu detik kemudian, handphone itu berdering lagi.
“Hei.! playboy murahan cap kodok....! dengarin aku baik-baik ya, kita berdua putus mulai hari ini, mulai jam ini, dan detik ini juga, pokoknya detik ini juga putus, titik....!” Power handphone dia pencet habis-habisan, langsung mati deh, dan tak mungkin lagi berdering.
Begitulah aksen Lisa, gadis tinggi behenol yang mengenakan baju warna ungu bergambar hello kitty itu kalau lagi marah melalui handphone, seram tapi menggelikan. Padahal, penumpang lain yang berada di dekatnya mendengar semua apa yang dia katakan. Namun, mungkin saja karena kesal yang memuncak, hingga wanita cantik itu pun tak peduli apa kata orang-orang yang ada di sekelilingnya.
“Masa bodoh..!” Begitu mungkin pikirnya.
Hi.., hi.., hi..., ternyata Lisa lagi perang sengit dengan seseorang, tapi perang tanpa senjata. Musuhnya adalah ‘play boy cap kodok’ seperti apa yang dia sebut-sebut di handphone tadi, dan orang itu tak lain adalah cowok nya sendiri yang sering kepergok selingkuh di caffe pojok.
Pemuda yang bernama Adam itu tak lagi memperhatikan Lisa yang doyan marah-marah. Padahal gadis cantik dengan lekuk tubuh yang aduhai itu sudah begitu perfect nya beraksi untuk memancing perhatian. Sejenak Lisa masih berdiri di sana sembari mencuri pandang, namun pemuda itu semakin tak menghiraukan. Dia bahkan kembali membolak-balik bukunya asyik dengan bacaan. Mengetahui pemuda itu tak lagi memperhatikan dirinya, Lisa gadis mempesona anak orang kaya itu pun akhirnya cepat-cepat berlalu dari sana.
*****
Malam terakhir bulan Desember merangkak mendekati larut. Jarum jam menunjukkan pukul 11.07 malam, menit-menit menghampiri pergantian tahun semakin mendekat. Sampai saat itu, ruang tunggu keberangkatan pesawat di bandara sepertinya masih enggan merayap senyap.
Penerbangan banyak yang tertunda di malam pergantian tahun itu. Lalu lintas di udara katanya lagi pada macet. Padahal juga...., tak ada ‘traffic light’ lampu merahnya di atas sana, apalagi yang namanya razia gabungan atau operasi zebra, tentu saja itu tak pernah ada. Jam keberangkatan pesawat dengan nomor penerbangan XZ 1949 dengan tujuan Biak belum juga ada kepastiannya. Menunggu pun mulai bosan, belum tahu entah sampai kapan
Sebahagian dari penumpang mengisi waktu dengan permainan game seru di beberapa pojok ruangan. Penumpang yang sempat ngorok dalam ruang tunggu juga ada. Yang bengong lalu-lalang tak tentu arah banyak juga. Kalau yang berduit seperti orang-orang berdasi lebih memilih nongkrong di ruangan excecutive yang tentu saja harganya selangit.
Beberapa orang lelaki ‘sejati’ lebih memilih bersemedi dengan sabar di smoking area yang sempit. Walaupun dipenuhi asap rokok memedihkan mata, namun mereka tetap duduk dengan tenang sembari menikmati hisap demi hisap lintingan tembakau beracun yang sudah digulung rapi oleh tangan-tangan cekatan di pabriknya.
******
Salah seorang penumpang yang berada dalam ruangan tunggu keberangkatan pesawat di saat malam pergantian tahun itu adalah Adam. Seorang perwira muda usia dua puluh tujuh tahun yang doyan membaca. Hiruk-pikuk lalu-lalang ratusan orang penumpang yang semakin merajalela dia dalam ruangan tunggu itu seolah-olah tak mengusik pendengarannya. Pilot termuda dengan pangkat kapten di angkatan udara itu lebih memilih menunggu sambil membaca.
Baru saja beberapa menit perwira muda bernama Adam itu melanjutkan bacaannya, tiba-tiba saja dia kembali di usik oleh suara seorang wanita berbicara dalam bahasa Inggris.
“Excuse me sir, is this seat occupied.?” ..........maaf ya tuan, apakah kursi ini sedang kosong.........? Suara seorang wanita tiba-tiba saja menyerobot masuk ke telinga Adam. Seketika itu juga dia berhenti membaca.
Sepasang kaki wanita mengenakan rok panjang dilihatnya tepat berdiri di depannya. Adam kemudian menengadahkan kepalanya ke atas, ternyata sepasang kaki itu adalah milik seorang wanita eropa yang sangat sempurna kecantikannya. Kedua bola mata wanita itu berwarna biru keabu-abuan. Luar biasa...., begitu memukau terlihat. Beberapa saat, kedua tatapan mereka saling bertubrukan satu sama lain, dan seketika itu juga di antara mereka berdua kaget saling menatap. Wanita itu senyap tak bersuara, padahal tadi itu dia ingin duduk di kursi yang kosong tepat berada di samping Adam.
Begitu cantiknya wajah wanita eropa itu. Juga...., begitu luar biasa tak ada duanya. Lihat saja, kedua bola matanya yang biru begitu memukau, hingga membuat Adam seolah-olah tak sanggup melepaskan tatapannya. Wanita itu juga tak kalah kagumnya melihat Adam, seorang pemuda berpakaian seragam yang begitu bersahaja. Hingga dalam waktu beberapa saat, tatapan mereka berdua masih saja melekat dengan erat walaupun tanpa perekat.
Cukup lama di antara mereka berdua saling tatap mata seolah-olah terpukau dengan pandangan masing-masing yang begitu mempesona. Bahkan juga..., di antara mereka saling membisu tak sanggup mengedipkan mata, seakan-akan tengah berada di alam bawah sadar mereka. Adu tatap di antara mereka akhirnya terhenti di saat panggilan boarding naik pesawat terdengar dari pengeras suara. Suara berisik kasak-kusuk puluhan orang penumpang yang berhamburan dari duduknya membuat kedua anak manusia berlainan lain jenis itu terbangun dari alam bawah sadar mereka.
Wanita itu ragu-ragu untuk berkata, karena dia tak bisa berbahasa Indonesia. Dia hanya menunjuk ke arah kursi kosong yang ada di samping Adam. Di sana memang tergeletak sebuah tas ransel tempur yang cukup berat milik Adam. Pemuda itu menganggukkan kepala, dia paham apa yang dimaksud oleh wanita itu. “Oh yes mam, I know that.” ........oh iya bu, saya tahu itu....... Ucap Adam. Pemuda itu langsung berdiri mengemas barang bawaannya.
Ransel tempur miliknya itu dia pindahkan dari kursi. Tak sengaja, Adam melihat ada sisa makanan yang ditinggalkan oleh penumpang lain dengan begitu saja di sana, begitu jorokk kelihatannya. Tak pakai tunggu lama, pemuda itu langsung merogoh tisu dari tas ransel miliknya. Sebelum wanita itu duduk, dia bersihkan terlebih dahulu kotoran yang ada di sana.
“Sir, it doesn’t need, let me do it.” .........tuan, tak usah repot-repot dibersihkan, biar saja saya yang lakukan........ Pinta wanita itu.
“No... problem mam.” .........tak masalah bu........ Adam langsung menyahut. Sepertinya dia tak memedulikan, Adam tetap saja membersihkan kursi itu hingga tak bersisa lagi kotoran di sana, lalu dia mempersilakan wanita itu duduk.
“Oh. thanks a lot Sir.” ........oh terima kasih banyak tuan....... Ucapan terima kasih wanita itu tersembur dari kedua bibirnya yang mungil,
“Don’t mention it.” ........sama-sama........ Adam mengembangkan kedua tangannya
Wanita itu hanya tersenyum mendengar. Sembari duduk menempelkan pantatnya di kursi yang tak empuk, sepasang bola matanya yang biru masih terus mengarah pada pemuda itu. Adam dilihatnya kembali melanjutkan bacaannya. Sebuah buku dengan judul “Electromagnetic Induction” setebal 240 halaman di bolak-balik oleh pemuda itu. Memang jarang sekali ditemukan seorang tentara yang hobi baca buku, apalagi buku itu mengenai ilmu sains dan teknologi.
Ingrid Rose, nama bule itu juga tak kalah sengitnya membaca. Sebuah buku dengan ratusan halaman jumlahnya kemudian dia buka dan dia baca. Keduanya kemudian senyap tanpa suara, tak juga saling tatap mata.
Penglihatan pemuda itu tiba-tiba terpeleset pada sesuatu di saat dia tengah asyik-asyiknya membaca. Dilihatnya sebuah boarding pass tak sengaja tergeletak di atas lantai tepat di samping kakinya, sepertinya baru saja tercecer dari lipatan buku wanita itu. Adam membungkukkan badan, boarding pass itu kemudian dipungutnya.
“Sorry mam.!” ........maaf bu....... Sapa Adam. Dia memanggil wanita itu dengan sebutan ‘mam’ karena tak tahu siapa namanya.
“But I think this boarding pass is yours?” ........tapi saya rasa ini adalah boarding pas milik anda....... Adam memperlihatkan boarding pass yang ada di tangannya.
“Oh my boarding pass.?” ........boarding pass saya........? Wanita itu menyipitkan mata mengerutkan jidatnya.
“Yes mam, it is dropped from your book.” .......ya bu, saya lihat tadi terjatuh dari buku anda..... Tunjuk Adam ke arah buku.
“Oh thanks a lot sir.” .......oh terima kasih banyak tuan...... Bule itu melayangkan senyumannya sembari menerima.
“My pleasure.” .......dengan senang hati....... Adam membalasnya.
Saat bording pass dia berikan, sepintas lalu Adam melihat buku yang dibaca oleh wanita itu. Terlihat cukup tebal, buku itu dalam bahasa Jerman. Sepertinya buku itu seputaran ilmu Astrofisika yang membahas tentang benda-benda di angkasa. Adam menebak wanita itu pasti berkebangsaan Jerman.
*****
Sebuah panggilan boarding untuk naik pesawat kembali terdengar dari pengeras suara, wanita itu bangkit dari duduknya. Puluhan orang penumpang langsung bubar berebutan antre menuju pintu keberangkatan. Ribut suara kasak-kusuk yang terdengar mengalahkan volume suara dari pengeras suara. Wanita itu ragu-ragu apakah itu juga penerbangan untuknya, dia tak bisa mendengar dengan jelas nomor penerbangan yang disebutkan dari pengeras suara. Kedua bola matanya kini kembali tertuju pada Adam yang duduk di sampingnya.
“Ah excuse me sir.” ........oh maaf tuan......... Sapa bule itu begitu sopan. Pemuda itu berhenti membaca, dia juga bahkan menutup bukunya.
“Yes mam.” .....ya bu..... Adam juga menjawab dengan sopan.
“I’m really sorry, but actually I don’t want to disturb you.“ .......maaf sekali, sebenarnya saya tak ingin mengganggu anda........ Sebuah kalimat yang begitu sopan tersembur dari mulut wanita itu.
“It’s okay mam..! what can I do for you mam..?” .........oh, itu tak masalah bu, ada yang bisa saya bantu bu........ Adam membalasnya juga dengan kalimat yang lebih sopan.
“But do you know what flight number is that..?” .........ngomong-ngomong, apakah anda tahu nomor penerbangan itu........? Wanita itu menunjuk ke sekumpulan penumpang yang bergerombolan dalam antrean panjang.
“I’m not so sure mam.” .........saya tak begitu yakin......... Adam ikut memperhatikan. Dia juga tak begitu yakin dengan nomor penerbangan pesawat yang sedang boarding sekarang.
“But let me check it for you.” .........tapi biar saya cari tahu terlebih dahulu........
Pemuda itu kemudian berdiri, pandangannya berkeliling. Kedua bola matanya kemudian terhenti pada salah satu layar monitor yang ada dalam ruangan.
“Oh mam, the are leaving for Manado, can you see that.?” ........oh ya bu, mereka akan berangkat ke Manado, coba anda lihat ke sana........ Tunjuk Adam pada sebuah layar monitor yang tersembunyi di balik tiang beton penyangga bangunan. Wanita itu menyipitkan mata ikut melongok ke arah sana.
“Oh yeah I see that, I thought that’s mine, anyway thanks a lot.” ........oh ya, saya lihat itu, ternyata bukan penerbangan saya, walau bagaimanapun terima kasih ya........ Wanita bule itu menganggukkan kepalanya.
“It’s no problem mam.” ........oh itu tak masalah bu........ Adam menampakkan senyumannya.
Sedari, ada sesuatu yang mengusik pikiran wanita itu. Sepertinya dia kurang berkenan karena terus menerus dipanggil ‘mam’ oleh Adam. Sebelum wanita itu kembali duduk, dia meminta sesuatu agar jangan lagi disebut ‘mam.’
“Please don’t call me mam, I’ve just twenty one, I’m still very young you know.?” ..........tolong jangan panggil saya ibu, umur saya baru 21 tahun, anda tahu kan, saya masih begitu muda.........? Ucap wanita itu juga menampakkan senyumannya.
________________________________________________
(......Wow..! Ternyata wanita itu tak mau dipanggil ibu, umurnya saja baru 21 tahun, sangat muda sekali, cantik lagi, kedua bola matanya saja biru warnanya.....)
_______________________________________________
“Oh yeah, sorry mam.” .........oh, ya bu, saya juga minta maaf...... Adam keceplosan bicara, dia masih saja memanggil wanita itu dengan sebutan ‘mam’
Wanita itu semakin mengembangkan senyumannya mendengar kata ‘mam’ yang masih saja terlontar dari mulut Adam.
“Sir, just call me Ingrid.” ........tuan, panggil saja saya Ingrid....... Pinta wanita itu masih memperlihatkan senyumannya.
*****