Menit demi menit di pagi itu perlahan berlalu. Burung-burung dalam sangkar mulai berkicau terdengar merdu. Sang surya yang bobok semalaman kini terbangun dari peraduannya yang panjang, memancarkan warna ungu ke-kuning-kuningan yang membahana di ufuk timur angkasa, menghangati pohon-pohon nan rindang dan hijau, menebar cahaya bagi kehidupan umat manusia.
Angin di pesisir pantai berhembus sepoi-sepoi memulai pagi. Ombak di lautan pun berkejaran berlomba-lomba menuju pantai, bergemuruh halus membentuk lirik irama yang menyejukkan hati. Gravitasi matahari dan rembulan menimbulkan aliran air pasang surut yang terus bersirkulasi tak henti-henti. Indah memang anugerah dari yang Maha Kuasa, begitu Agungnya Dia, begitu perkasanya Dia menjaga keseimbangan yang begitu sempurna yang tak ada tandingannya.
Namun...., alam terkadang seketika bisa saja berubah jadi bencana. Ketika Sang Pencipta mulai murka kepada hambanya. Ketika bumi selalu dihiasi dengan kesesatan dan kemunafikan. Di mana kemaksiatan, tumpukan dusta dan dosa dan harta riba yang semakin merajalela, maka indah pun bisa saja berubah seketika menjadi petaka.
Detik berganti menit, sejuk berubah terik, samudra mulai bergemuruh, laut yang tenang tiba-tiba bergejolak. Pagi yang damai dan indah perlahan berlalu, kemudian berubah jadi petaka, sebegitu cepatnya. Alam pun ikut berubah seiring bergantinya waktu yang selalu diselimuti dosa-dosa oleh makhluk-makhluk durjana. Ombak-ombak kecil di lautan pun kini mulai murka membara.
*****
Seratus mil laut jauhnya setelah melintas di atas perairan kepulauan masalembo, secara mengejutkan, dua dari empat mesin turbo-propeller si burung besi Hercules lockheed C-130 dalam sebuah misi kemanusiaan mengangkut obat-obatan dan bahan makanan untuk korban bencana alam akhirnya menyerah kalah. Mesin pesawat mengalami kegagalan mekanikal karena over-load. Dua baling-baling pesawat tiba-tiba berhenti berputar.
“Bedebah....!” Sukhairi mendadak berteriak latah. Kedua bola matanya melotot plonga-plongo lihat sana sini tak tahu apakah sebenarnya yang telah terjadi.
“Kapten....! apakah anda nggak merasakan ada sesuatu? sentakan, atau mungkin pressure drop?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut Letnan-dua sukhairi begitu ada suatu sentakan keras yang dia rasakan di kursi kopilot.
Adam, pemuda usia 27 tahun yang duduk di kursi sebelah kiri ruangan kokpit kemudi pesawat Hercules Lockheed C-130 itu juga merasakan adanya sentakan. Namun pilot termuda dengan pangkat Kapten di korps penerbang penerbangan angkatan udara itu masih belum menampakkan kepanikan.
“Dua engine down Letnan!” Sahut Adam memelototi instrumen-instrumen yang ada di hadapannya.
“Speed....! speed....! speed….! oh Tuhan, we need speed, kita kehilangan kecepatan Kapten.” Sukhairi sontak panik setelah mendengar. Letnan itu ikut melirik panel instrumen pesawat, namun tak satu pun keanehan yang dia temukan.
“Ini gila....!” Sentak Sukhairi garuk-garuk kepala.
Ruang kokpit kemudi pesawat mendadak bergetar, cukup kentara terasa. Hal itu menunjukkan kecepatan pesawat melambat, namun tak ada feed-back yang terlihat dari ‘air speed allert incicator pesawat. Sukhairi yang mengetahuinya gempar. Sampai-sampai dia mengetok-ngetok display indikasi kecepatan pesawat ‘speed allert incicator’ dengan jari-jarinya. Begitu panel instrumen itu dia ketok, bunyi ‘biib.... biib.... biib.... biib.... biib.... biib....’ kemudian terdengar panjang.
“Bedebah....!” Lagi-lagi Sukhairi berteriak latah. “Oh my god...., oh my god...., oh my god....!” Ucap Letnan itu lagi urut-urut dada setelah dia menyadarinya.
Lampu ‘air speed indicator’ yang mengindikasikan terjadinya perubahan pada kecepatan pesawat terlambat me-respon adanya sesuatu kejadian yang tak normal. Kesalahan timbal balik pada sistem pesawat seperti itu tak biasanya terjadi. Berkemungkinan suhu di luar pesawat begitu dingin hingga menyebabkan ‘icing’ atau peng-es-an yang menyumbat ‘pitot tube,’ sebuah sensor luar yang tertancap di dinding bahagian depan pesawat. Hal itu bisa mengakibatkan ‘error’ pada pembacaan instrumen pesawat. Lampu ‘air speed indicator’ baru saja berubah warna menjadi merah, lalu berkedip-kedip.
“Air speed....?” Mata Letnan-dua Sukhairi menyipit menyaksikan angka-angka digital yang tertera di sana perlahan berkurang. Hal itu menunjukkan adanya penurunan pada kecepatan pesawat.
“Oh Tuhan, air speed drop Kapten....!” Teriak Sukhairi menepuk jidat.
“Letnan, lihat sayap sebelah kiri.” Seru Adam tanpa menonjolkan kepanikannya. Perwira muda itu mengintip ke sisi bahagian kiri pesawat melalui kaca jendela, lalu dia menunjuk-nunjuk dengan jempol kirinya ke arah sayap.
“Dua baling-baling ‘propeller’ stuck!” Adam mengulangi. Suaranya masih terdengar datar mengetahui kedua mesin pendorong di sisi sayap sebelah kiri itu tak lagi berputar.
“Air speed drop, tapi sekarang stabil Kep.” Sukhairi menyela setelah dia memperhatikan instrumen yang ada di hadapannya.
“Tetap stabil di 310 knots, aman Kep.” Ucap Sukhairi lagi menarik napas lega.
“Bagus, keep it constant....!” Sambut Adam mengacungkan jempolnya.
Dua mesin pendorong mati, kecepatan pesawat terdeteksi berkurang. Namun untuk beberapa saat kecepatan masih terpantau stabil di 310 knot, atau 592 kilometer per jam. Tujuh sirip ‘propeller’ pada masing-masing mesin sisi kanan sayap masih gagah berputar seperti gasing, menyemburkan ‘thrust’ atau daya dorong ke depan.
Sukhairi kemudian mengintip ke kanan melalui kaca jendela. “Dua propeller sisi kanan terpantau normal Kep.” Ujar Letnan itu. Lega-lega ngeri jantung Sukhairi menyaksikan dua propeller atau baling-baling yang tergantung di sisi kanan sayap pesawat masih berputar seperti biasa. Tinggal dua nyawa baling-baling lagi kini yang masih tersisa.
“Ok, di copy.’ Adam menganggukkan kepala.
Pesawat sedang melintas di tengah-tengah lautan pada ketinggian jelajah terbang 28.000 kaki yang terpantau oleh Adam saat itu. Hampir setara dengan 8.500 meter di atas permukaan laut. Tepat seratus mil timur laut jauhnya dari kepulauan Masalembo. Masih sekitar 175 mil laut atau 314 kilometer lagi menuju landasan pacu terdekat Sultan Hasanuddin di kota Makassar. Masih lumayan jauh, namun itulah satu-satunya bandara terdekat yang bisa dijadikan alternatif untuk melakukan pendaratan darurat.
Kontak radio segera dilakukan oleh Kapten Adam dengan bandara pengawas setempat meminta izin untuk melakukan pendaratan darurat.
“Ujung control, this is foxrot oscar el si one three zero, our two engines is down, we declare an emergency condition.”
“flight level two eight zero, another one seven five miles from run way, we ask permission for an emergency landing.”
*****
Beberapa menit setelah kontak radio dilakukan, pesawat Hercules Lockheed C-130 itu terhuyung beberapa detik. Tak lama kemudian, secuil lagi sentakan kembali dirasakan dalam kokpit. Dengungan mesin sedikit melemah, lalu meninggi lagi beberapa saat. Kecepatan pesawat terpantau masih berfluktuasi.
“Oh no, no, no, no....!” Sukhairi celetuk lagi. Kemudian dia gigit-gigit jari. Dada yang tadi lega kini kembali ngeri.
“Air speed turun lagi Kep, di dua puluh persen sekarang!”
“Nggak apa-apa, lihat tuh sekarang kembali stabil kan?”
“Oh ya, benar Kep, mudah-mudahan tetap bertahan.”
“Saya yakin kita masih aman Letnan.”
Level penunjuk bahan bakar pesawat masih cukup banyak, tujuh puluh persen tersedia dari kapasitas penuhnya. “Fuel di tujuh puluh persen Letnan, tak ada masalah, tapi paling tidak kita butuh 35 menit lagi sampai di landasan.” Ujar Adam, pilot berpangkat Kapten usia 27 tahun itu.
Namun...., ketegangan sepertinya masih enggan pergi, kecepatan pesawat terpantau menurun lagi. Indikator kecepatan pesawat menunjukkan adanya penurunan berputar ke kiri. Kekalutan pun kembali menyergap Sukhairi.
“Air speer drop lagi Kapten....!” Sukhairi mencak-mencak ngeri.
“Bagaimana Kapten, apakah kita tetap proceed?”
“Letnan, tahan dulu….!”
Radar cuaca kebetulan diintip oleh Adam. Ternyata apa yang sedang terjadi di depan pesawat begitu mencengangkan. Warna merah terlihat berhamburan pada layar radar. Adam pun sontak diterjang keterkejutan.
“Subhanallah.... Allahuakbar....” Sekejap Adam berzikir bersunyi diri. Perwira itu mengatur keseimbangan antara tarikan nafas dan hembusannya, dia jaga agar tetap seirama untuk mengurai kepanikannya.
Adam baru saja mengetahui ternyata ada kendala lain yang lebih serius yang akan mereka hadapi. Awan-awan badai cumulonimbus mendadak bermunculan walau tak pernah diundang. Tumpukan-tumpukan acak berwarna merah mirip ceceran darah menghiasi layar radar. Sebagian terlihat bergerak menyebar, sebagian warna merah yang lainnya mulai membesar. Pembentukan awan-awan badai terjadi sebegitu cepat, dan celakanya lagi awan-awan itu memuncrat tepat di jalur pesawat.
“Ya Allah, bagaimana mungkin ini bisa terjadi dengan tiba-tiba?” Adam memelankan suaranya.
“Apa yang terjadi Kep?” Sukhairi menyela. Dia ikut mendengar apa yang dikatakan Adam tadi.
“Sekarang masalahnya bukan pada air speed, tapi tapi lihat itu Letnan. Ada badai di depan, pola awannya semakin menyebar.” Tunjuk Adam pada display monitor cuaca. Badai kentara sekali terlihat menghadang mereka beberapa mil laut jauhnya di depan sana. Yang menakutkan, badai itu ter-indikasi akan terus meluas dan menyebar ke mana-mana.
Sukhairi mendekatkan wajahnya ke layar radar cuaca. Dia ikut mengamati apa yang tergambar di sana. Kulit jidatnya langsung berkerut lima setelah dia mengetahuinya. “Ya Tuhan, badai….?” Ucap Letnan itu geleng-geleng kepala. “Petaka....!” Sambung Letnan itu lagi menabok jidat.
Pada layar monitor terbaca memang cukup banyak area ter-indikasi warna merah yang menunjukkan adanya konsentrasi awan badai di sana. Lokasinya tepat berada di jalur pesawat sebelum mencapai landasan. Sebaran awan-awan badai itu cukup luas. Jika terpaksa harus memilih menghindar, maka pesawat akan berputar terlalu jauh. Dengan kondisi kehilangan dua mesin pendorong ‘propeller’ sekaligus, kekuatan daya dorong akan terus merosot. Hal itu akan menyebabkan pesawat akan kehilangan daya angkat dan mengalami aeoro-dinamic-stall. Akan dapat dipastikan, pesawat keburu jatuh terjerembab sebelum berhasil mencapai landasan.
“Konsentrasi badai seratus lima puluh mil menjelang pantai.” Jelas Adam mencoba memperhitungkan. .
“Tiga puluh derajat ke kanan mungkin lebih aman Kep.” Usul Sukhairi berbelok 30 derajat menghindari badai.
“Terlalu jauh Letnan, altitude tak memungkinkan, lihat….! masih terus drop, sepertinya kita akan terus kehilangan ketinggian.”
“Kita terobos Kep?”
“Jangan Let, high risk, energi yang terkumpul di sana terlalu besar.”
“Emergency landing apa mungkin Kep?”
“Tak direkomendasikan Let, juga tak memungkinkan, kita cari pertimbangan lain, pasti ada jalan keluar yang lebih baik.”
“Benar-benar rumit Kep!”
“Memang Let, tapi kita search dulu, kita coba temukan jalur dengan risiko yang paling minimal.”
Kondisi sebaran awan-awan badai melalui monitor radar cuaca diamati lebih detail lagi oleh Adam. Beberapa bagian dia ‘zoom’ diperbesar beberapa kali agar dapat menganalisa lebih jelas. Ada beberapa bagian yang mempunyai risiko lebih kecil untuk dilewati dan kemungkinan pesawat tersambar petir juga lebih kecil.
“Ada celah di depan sana, itu mungkin lebih baik Letnan.”
“Arah jam ‘2’ Kapten, lihat indikasi warnanya, rute itu kelihatannya lebih aman.”
“Tak mungkin Letnan, pesawat akan terlalu jauh memutar. Lihat warna merah yang ada di depannya masih setumpuk lagi dan tak ada jalan keluar di sana.”
“Maaaak....! matilah aku, aku ini belum lagi sempat kawin Kep, bagaimana nasib ku ini nanti....?” Suara Sukhairi terdengar pilu, namun wajahnya terlihat lugu.
“Masih ada kemungkinan, lihat dua tumpukan itu Let!” Tunjuk Adam pada tumpukan dua awan badai yang sedang mendekat satu sama lainnya.
“Alammaaak, tambah mati lagi aku Kep!” Sukhairi menggerutu, wajahnya berubah sayu.
“Takut mati Let.?” Adam berseloroh.
“Siap, tidak Kep....!” Sukhairi menjawab serius.
“Tapi kan katanya belum kawin?” Adam masih berseloroh.
“Biar saja Kep, yang penting aku tidak akan meninggalkan seorang janda!” Sukhairi menganggapinya masih serius.
“Haaaah....?” Adam membesarkan matanya melihat Sukhairi begitu serius.
*****
Pergerakan tumpukan awan badai begitu acak, dan tampak tak merata di beberapa lokasi. Sebahagian terdeteksi meluas begitu cepat, namun ada juga terlihat pembentukan partikel-partikel uap air yang baru saja mengembang di dua titik.
Masih ada terlihat celah kosong di antara dua gumpalan awan badai cumulonimbus yang saling mendekat satu sama lain, sekitar 11 mil laut jaraknya dari pesawat. Jika pesawat berhasil melewati celah itu sebelum kedua awan bersatu, hal itu akan jauh lebih baik untuk menghindari sambaran.
“Belok sedikit ke kiri, perhatikan di sekitar sana ada celah arah jam ‘10’, pesawat tak terlalu jauh berbelok dan itu lebih aman.” Tunjuk Adam pada celah kosong yang terdeteksi di layar radar. “Kelihatannya mengambil rute itu jauh lebih baik, bagaimana Let.., ada masukan lain ke mana pesawat harus memutar?” Adam menyambung kalimatnya.
“Ya Kep, jalur itu saja, masih sebelas mil laut di depan pesawat.”
Pesawat Hercules Lockheed C-130 itu akhirnya berbelok beberapa derajat ke kiri memilih rute terbang di antara dua kumpulan awan badai cumulonimbus yang masih mempunyai celah kosong di antara keduanya.
*****
Beberapa saat setelah pesawat Hercules Lockheed C-130 itu berbelok ke kiri, halilintar mendadak menerjang. Sambaran kilat berliku-liku tampak berhamburan, tersembur berkali-kali dari gumpalan-gumpalan awan hitam yang menakutkan. Bunyi dentuman yang keras mendadak menggemparkan pendengaran. “Duaaaaaar….! duuummmm….!” Begitu kuatnya suara gelegar yang terdengar.
“Buseeeeeeeet….!” Sukhairi sontak terlonjak. Kedua bola matanya terbelalak. Jantungnya mencak-mencak tersentak.
*****
Sambaran kilat kembali terlihat melejit sebegitu cepat tepat di depan pesawat. Lalu disambut oleh suara dentuman yang lebih dahsyat, bak roket kaliber 150 mm yang ditembakkan ke angkasa.
“Duaaar….! duuuummm…. braaaaaak.....!” Lagi-lagi gelegar suara dentuman terdengar memekakkan telinga, luar biasa getarannya terasa. Bayangkan...., jin dan kuntilanak yang lagi bobok siang saja ikut terperanjat kaget dibuatnya. Langsung deh mereka hengkang lari tunggang-langgang ngumpet di balik awan.
Si burung besi Hecules Lockheed C-130 itu terus saja menghadang. Adam dan Sukhairi tetap maju menerobos celah awan berbentuk terowongan setan.
“Air speed….?”
“250 knot.”
“Altitude….?”
“Drop….! sekarang di level 23.000 feet.”
“Get ready....!” Teriak Adam memberi aba-aba bersiap-siap menghadang badai dan goncangan.
“Siap Kapten, hura...! hura....! hura….! huuh....!” Pekik Sukhairi mengepalkan tangan menahan pucat dan keringat.
“Tahan guncangan, jangan dibelokkan….!”
“Di copy Kep.....!”
“It is getting close....!”
“Siap Kep....!”
Burung besi itu semakin mendekati dua kumpulan awan hitam yang sangat besar, sekitar enam mil lagi jaraknya dari pesawat. Detik-detik menegangkan bagai dalam acara adu uji nyali di televisi kini terjadi.
Dapat di ibaratkan, seolah-olah pesawat itu tengah merayap memasuki celah hutan buas di malam nan gelap. Kemudian menyusup pelan menerobos jalan tikus yang membelah hutan buas itu menjadi dua bagian.
Sisi kiri dan kanan hutan bagai tempat nongkrong singa dan harimau yang tidur ngorok kelelahan. Namun jangan salah, apalagi sampai berbuat lengah, jika mereka tiba-tiba saja terjaga, seketika itu juga mereka akan menerkam. Seperti terkaman petir dan halilintar yang kapan saja mungkin akan menyembur dari salah satu celah gumpalan awan hitam.
*****
Situasi memburuk memasuki celah awan. Sayap pesawat bergetar melambai-lambai bak lambaian tangan malaikat maut yang menjanjikan kematian. Sisa dua mesin baling-baling ‘turbo proppeler’ tertatih-tatih meraung kepayahan menantang angin kencang dari arah berlawanan. Pesawat terus merayap menembus celah gelap di antara dua kumpulan awan hitam yang tebal di atas lautan.
Satu menit menerobos, kecemasan kembali menyergap. Kiri dan kanan jendela pesawat terlihat begitu gelap. Singa dan harimau yang tadi tidur di sisi kiri dan kanan pesawat kini terjaga. Sekonyong-konyong mereka langsung menyergap. Seperti sergapan halilintar yang terlihat berlompatan dari salah satu sisi gumpalan awan menuju gumpalan awan di sisi sebelahnya. Cloud – to - cloud lightning pun terjadi, menyembur di antara dua kubu tumpukan awan-awan yang begitu kelam.
Dua menit menerobos celah awan, Adam dan Sukhairi disuguhi suasana sunyi dibubuhi kengerian. Napas seolah-olah tertahan di kerongkongan. Kedua perwira muda itu membisu dalam penantian, bersiap-siap menunggu kejutan apakah akan ada serangan halilintar dan suara ledakan.
Tiga menit menerobos terasa semakin mencekam. Cahaya kilat bagai tembakan sporadis terlihat jelas meleset tepat di depan pesawat. Sedetik kemudian, disusul oleh suara gemuruh dahsyat seperti ledakan.
“Duaaaaarrrrr….! duuuuuummm....!” Suara dentuman menggemparkan ruangan kokpit kemudi pesawat. Bukan hanya sekali dua kali terjadi, tapi berkali-kali. Cahaya kilat bak peluru panas simpang siur melejit ke sana kemari mirip perang Timor timur era tahun tujuh puluhan di mana banyak tentara yang tewas.
“Bedebah….! Kapten....! Kapten....! lihat ada perang di depan….! kita tertembak.” Sukhairi terlonjak berteriak-teriak.
“Tak masalah Letnan, hanya induksi listrik ringan, all is under control, don’t worry.” Adam berusaha menenangkan.
“Benar Kep, tak ada terlihat indikasi kerusakan pada instrumen.”
“Ok, clear, semuanya aman.”
“Awannya makin tebal Kep!”
“Jangan khawatir, satu menit lagi pesawat akan keluar dari tumpukan awan, kita mendekati ujungnya sekarang.”
Empat menit susah payah menerobos, pesawat Hercules Lockheed C-130 akhirnya terbebas dari perangkap yang mematikan. Dua kubu tumpukan awan hitam di sisi kiri dan kanan pesawat berangsur tertinggal di belakang.
“Huuhh….!” Sukhairi mendengus lega, dia juga mengusap-usap dada. Kepalanya kemudian melongok kiri kanan menyaksikan awan-awan hitam yang perlahan berlalu dari pandangan mata.
*****
Kengerian ternyata tidaklah menghilang serta-merta. Kekagetan yang lebih garang bahkan kini menghadang mereka.
Lepas dari mulut harimau di seruduk tanduk kerbau, begitulah kata orang-orang. Begitu jugalah mungkin diibaratkan dengan nasib yang menimpa pesawat Hecules Lockheed C-130 itu. Di penghujung badai, dengan tak terduga pesawat itu di hadiahi sebuah serudukan ‘cross-wind’ berupa sapuan angin yang sekonyong-konyong datang menyerang. Pesawat mendadak terhuyung begitu kencang, lalu terpelesat ke kanan.
Pesawat seketika kehilangan daya angkat dari kedua sisi sayap. Lalu...., menukik dan terperosok begitu cepat nyaris terjerembab. Kemiringan pesawat secara berlebihan hingga melampaui ambang batas yang diizinkan telah memicu tak memadainya perbedaan kecepatan angin antara sisi bawah dan sisi atas sayap. Maka lenyaplah sudah kemampuan sayap untuk terangkat.
Altitude allert yang mengindikasikan ketinggian pesawat dalam bahaya merespon dengan cepat. Lampu warna seketika menyala, lalu berkedip-kedip diikuti suara peringatan ‘biib.... biib.... biib.... biib.... biib....’ berbunyi lama.
“Kapten, Kapten, Kapten....! celaka Kep, pesawat di seruduk setan....!” Sukhairi yang menyaksikan kedipan lampu bersorak kelabakan.
“Ada cross-wind Letnan...! kita terjebak” Adam ikut berteriak tak menduga pesawat akan kembali terjebak.
“Kapten, lihat altitude allert aktif….!” Sukhairi lagi-lagi bersorak.
”Angin menghantam dari sisi kiri arah jam sembilan....! pesawat bisa meledak....! pertahankan ketinggian....!” Pekik Adam dengan mata terbelalak. “Pertahankan terus ketinggian....!” Adam memperingatkan lagi masih dengan berteriak.
“Bedebah.....!” Sukhairi yang mendengarnya langsung terlonjak.
“Pull up....! pull up….! pull up....! pull up….!” Adam berteriak lagi berusaha menyeimbangkan posisi pesawat yang terus terperosok ke bawah. Semampu yang dia bisa, Perwira itu menarik stick kemudi ke arahnya berharap sirip-sirip elevator di belakang pesawat mampu bekerja maksimal untuk mempertahankan ketinggian pesawat agar jangan terjerembab semakin parah.
*****
Tiga menit lamanya berjibaku, pesawat mulai terarah, kemiringan tak lagi terlalu parah. Namun malang, di saat mereka masih sengit-sengitnya berjuang, badai yang lebih garang tiba-tiba saja kembali menghadang. Belum sempat jantung Sukhairi yang mencak-mencak itu adem, dia menyaksikan lagi sebuah penampakan aneh yang muncul di tengah-tengah lautan luas. “No way man…!” .....edan....! mana mungkin.....!” Sukhairi bergumam heran.
Mengerikan..., sebuah pulau misterius tiba-tiba saja muncul di atas permukaan laut dalam keadaan gelap tertutup kumpulan kabut hitam. Lebih menyerupai sekumpulan asap hitam yang bergumpal-gumpal tebal.
“Kapten lihat, ada badai lagi di depan sana....!” Sukhairi bersorak terbelalak. “Ada sebuah pulau hantu Kep, lihat itu....!” Sukhairi lagi-lagi bersorak mencak-mencak.
Tak kalah halnya dengan Sukhairi, Adam juga ikut terbelalak diserang kekagetan menyaksikan suatu pemandangan yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
“Aztaghfirullah.” Perwira itu menyebut nama Sang Pencipta. Pemandangan yang tersuguh di depan pesawat itu benar-benar menyeramkan. Selama menjadi seorang pilot di angkatan udara, baru kali ini Adam menyaksikan adanya awan-awan cumulonimbus yang berkeluyuran menyerupai gasing raksasa yang berputar-putar.
Penglihatan Adam kemudian mengarah pada layar radar. Kedua bola mata perwira itu seketika tersengat melihat, kulit jidat ikut berlipat-lipat, sesuatu yang tak beres terpantau di radar pesawat.
“Oh Tuhan, it is impossible!” Gumam Adam, lalu diikuti dengan gelengan kepala. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi, badai yang sebegitu luas di depan mata ternyata tidak terpantau oleh radar cuaca.
“Letnan.! putar pesawat ke kanan sekarang.....!” Teriak Adam seketika. Kedua orang perwira itu dengan sigap membelokkan pesawat agar terhindar dari jebakan badai berbentuk siluman. Namun apa yang terjadi kemudian begitu menggemparkan.
“Ya Allah, it is stuck....!” Adam berteriak lagi.
“Kampret, apa yang terjadi ini Kapten....!” Sukhairi terperanjat lagi.
“Aztaghfirullahallazim....! Allahuakbar....!” Lagi-lagi Adam mengucap.
“Kiamat kita Kapten....!” Lagi-lagi Sukhairi mengumpat.
Aileron yang terletak di kiri-kanan sayap macet, tak bisa bergerak turun naik. Pesawat Hercules Lockheed C-130 itu gagal melakukan rolling untuk menghindar. Rudder yang ada pada trailling edge vertical stabilizer di bahagian ekor pesawat juga ngadat, tak bisa bergerak kiri kanan. Pesawat Hercules Lockheed C-130 itu juga gagal berputar untuk menghindar
Mengap-mengap jadinya pesawat Hercules itu menjelang kiamat. Menyentuh ambang badai, terjadi lagi suatu peristiwa aneh di sana. Badai yang tadi terlihat seperti asap hitam menyerupai awan badai cumulonimbus itu tiba-tiba saja berubah bentuk. Sepertinya terjadi suatu pusaran angin yang besar menerpa kabut asap itu hingga membentuk lengkungan yang sangat besar karena terpaan angin yang berputar-putar. Dapat dikatakan, gumpalan asap hitam itu kini menyerupai bentuk tempurung kelapa, atau sebuah mangkok raksasa, namun dalam keadaan tertelungkup.
Lengkungan kabut hitam itu sangat luas, berdiameter hingga belasan kilometer. Dan jika diilustrasikan, pesawat Hecules Lockheed C-130 itu seolah-olah terjebak dalam sebuah mangkok raksasa berwarna hitam. Mirip gambar sebuah tangan dengan kelima jari mencengkeram ke bawah. Bagai seseorang yang bersiap-siap menyergap seekor belalang di atas rumput. Dan pesawat Hercules itu diibaratkan adalah belalangnya.
*****
Awan badai berbentuk lengkungan kabut dan asam hitam mendadak muncul di atas lautan, berdiameter hingga belasan kilometer, sangat luas sekali. Namun sayang....., semuanya itu terlambat diketahui, pesawat Hercules Lockheed C-130 itu sudah keburu berada dalam cengkeraman pusaran asap hitam. Seketika itu juga sisi kiri dan kanan pesawat kembali gelap gulita berwarna hitam seperti tadi.
Lampu indikator yang menunjukkan kecepatan pesawat atau ‘air speed indicator’ dan tanda peringatan lainnya ‘altitude allert’ berkedip-kedip secara bersamaan. Kemudian diikuti dengan suara tanda bahaya. “biiib.... biiib.... biib.... biiib.... biiib....” Maka...., mendekati sempurnalah kemalangan demi kemalangan yang dihadapi oleh pesawat Hecules Lockheed C-130 itu.
“Level di 15.000 feet Kep….! ” Sukhairi berteriak.
“Ini tak mungkin, tak boleh terjadi, puuuuull uuuuuup….!” Adam bersorak.
“Tak bisa Kep, masih terus terjerembab.” Jantung Sukhairi mencak-mencak.
“Climb....! climb....! climb....! climb....!” Adam masih mencoba bertindak.
Berkali-kali kedua orang Perwira muda itu berusaha untuk menstabilkan ketinggian, namun sayang...., aileron yang terletak di kedua ujung sisi sayap dan Elevator di bagian vertikal ekor pesawat masih belum mampu bekerja untuk mengembalikan badan pesawat yang terlanjur menukik tajam.
*****
Suatu kemalangan yang benar-benar malang. Lepas dari mulut harimau, diseruduk tanduk kerbau. Terpental dari tanduk kerbau, terjun bebas tercebur dalam ngarai. Entah apa lagi namanya, tapi itulah yang sedang terjadi, seperti terjun bebasnya pesawat Hecules Lockheed C-130 itu menuju lautan.
Pesawat yang tak lagi berdaya itu masih terus di hajar. Sebuah sentakan misterius mendadak menyapu badan pesawat dari sisi atas. Lalu diikuti dengan gelegar halilintar yang menerjang angkasa luas. Sambaran petir tunggal dari awan ke bumi atau cloud - to - ground - lightning melibas badan pesawat dengan begitu keras. Pesawat menghempas ke bawah hingga terjerembab terjun bebas. Suara mesin Turbo propeller mendenging tinggi terkena imbas sambaran halilintar yang begitu panas.
“Kiamat Kapten....! pesawat terjun bebas....!” Sukhairi menjerit keras.
“Lightning strike, pesawat tersambar Letnan....!” Adam menghela napas.
“Apa Kapten....?” Sukhairi ternganga pucat. Letnan itu bahkan tak menyadari pesawat telak tersambar halilintar.
“Pesawat tersambar.....!” Suara Adam terdengar bergetar.
“Ya Allah, kita akan mati Kapten....!” Sukhairi berteriak pasrah.
“Jangan, jangan, ini tak mungkin Let....!” Adam berteriak tak ingin menyerah.
“Ampun mak....! menyentuh level 9.000 feet sekarang, pesawat masih menukik tajam, mati....! mati....! kita akan mati Kep....! mampuslah kita Kep....!” Sukhairi cuap-cuap pucat
“Oh Tuhan…., Astaghfirullah, AllahuAkbar, AllahuAkbar, Lailahaillallah.” Adam berzikir dan berucap.
“Thrust zero….! thrust zero....! mampus....! mampus....! kita mampus Kep....!” Sukhariri kelabakan.
“Oh no....! it is impossible....!” Adam tercengang. Stick kemudi dia rasakan mendadak bergoyang-goyang.
“Aku tak mampu lagi Kapten, pesawat terlalu berat, kita akan terus menukik, AllahuhuAkbar.....! AllaahuAkbar….!” Teriak Sukhairi kejang-kejang.
“Climb....! climb....! climb….! Ini tak mungkin….! climb....! climb....! climb....! AllahuhuAkbar.....! AllaahuAkbar….!” Adam semakin kelabakan. Pilot termuda itu tak mampu mempertahankan ketinggian.
“4.000 feet Kapten….!” Lagi-pagi Sukhairi berteriak tegang. Level ketinggian pesawat terpantau di 4000 kaki, hanya sekitar 1.200 meter di atas lautan. Kiamat pun kini benar-benar datang.
“Oh Tuhan, AllahuAkbar, AllahuhuAkbar ! AllaahuAkbar....!”
“Lailahaillallah, Allahuakbar....!”
“Astaghfirullah, Astagfirullah, Allahuakbar....!”
Kengerian menyentuh puncak. Jeritan kematian terdengar bergema dalam ruangan kokpit pesawat. Panggilan pada Yang Kuasa “AllaahuAkbar...., AllahuAkbar....!” Tak henti-hentinya terucap. Pesawat Hercules itu semakin terjerembab dengan sebegitu cepat. Panggilan ‘Mayday Mayday’ pun tak sempat terucap.
*****
Di balik kesulitan....., terselip sebuah kemudahan, begitulah firman Nya. Begitu juga yang terjadi kini. Suatu keberuntungan...., terhempas di bawah ketinggian 3.000 kaki di atas permukaan laut, pesawat terlepas dari jeratan badai siluman, pengaruh induksi elektromagnetik pun seketika menghilang. Permukaan air laut sangat dekat, begitu rendah pesawat itu terlihat, berada pada level paling bawah dari gumpalan awan yang mematikan..
Menakjubkan....., sistem navigasi dan hydrolyc pesawat tadi ngadat kini kembali bekerja normal. Elevator di bagian vertikal ekor pesawat perlahan kini mampu berfungsi maksimal. Walaupun masih menukik, namun posisi badan pesawat sedikit mendatar.
Namun kengerian ternyata belumlah hengkang. Baru saja mereka menghela napas panjang, Sukhairi kembali kejang-kejang di tebas kekagetan
“Kapten....! lihat pulau itu ada lagi!” Teriak Suakhairi terperanjat menyaksikan pulau misterius yang tadi sempat mereka lihat dari kejauhan kini kembali muncul sekitar 5 mil jauhnya dari pesawat.
“Mustahil....!” Adam yang ikut menyaksikan geleng-geleng tak percaya.
Pulau misterius yang mereka saksikan kali ini lumayan besar. Agak memanjang dengan sedikit melengkung mirip mentimun bungkuk. Walaupun terlihat gelap, namun sepintas lalu tak terlihat warna hijau di sana. Bisa dikatakan pulau itu begitu gersang. Permukaan pulau berwarna kecokelatan, terlihat angker sekilas dipandang.
“Sepertinya itu bukan pulau Kep, lihat banyak bangunan piramida di sana....! apa mungkin....!” Sukhairi merinding memperhatikan.
“Ada yang tak beres, mungkin saja itu bukan sebuah pulau.” Adam juga ikut getar-getir memandang
“No choice Letnan, emergency landing, kita arahkan ke sana tepat di pinggir pantai.” Adam seketika itu juga membuat keputusan. Memang tak ada pilihan lain yang harus dia ambil selain mendaratkan pesawat di sekitar pulau misterius itu walaupun terlihat angker dipandang.
“Siap Kapten…!”
“Bersiap, ready for impact.” Adam memberi isyarat sebagai pertanda sebuah pendaratan darurat.
“Ready for impact.” Ulang Sukhairi ikhlas menganggukkan kepala.
Menuju detik-detik penghujung hayat, pekikan dan jeritan, kekalutan dan ketakutan serta kecemasan serta-merta buyar seketika itu dalam pikiran mereka. Maut begitu jelas menghadang di depan mata. Pangkat, harta, jabatan, orang tua dan kekasih tercinta mereka tinggalkan semua dan dikubur dalam-dalam di atas dunia. ‘Mati’ itulah kini kata-kata terindah bagi mereka.
“No flap.” Adam memulai prosedur pendaratan darurat.
“Flap zero degree.” Konfirmasi dari Sukhairi posisi flap atau sirip pesawat di kedua sayap pada posisi nol derajat tidak terbuka.
“No gear.” Adam mengingatkan.
“No gear Kapten.” Ulang Sukhairi memastikan bahwa roda-roda pesawat tetap dalam keadaan terlipat.
Celaka, dan benar-benar suatu kemalangan besar. Detik-detik menuju hempasan sekonyong-konyong kanal sebuah petir seperti garis zig-zag beliku-liku mengejar bagian sayap.
“Awaaaaas…!” Adam memekik kaget.
“Ya ampun…!” Sukhairi terperanjat pucat.
Mengejutkan, terjadi sebuah sambaran petir tunggal. “Duuuuuummm…!” Ledakan halilintar terdengar garang. Bahkan mampu mengejutkan jin dan setan.
Dalam sekejap mata, ujung streamer petir seperti cambuk api raksasa menyabet habis permukaan tangki bahan bakar yang terletak dalam sayap pesawat. Dua pasang static discharge yang terletak di kedua ujung sayap pesawat yang berfungsi untuk melepaskan muatan listrik statik tampaknya tak terlalu banyak membantu.
‘Electric spark’ atau percikan api yang terjadi di antara dua sambungan bahan logam yang terdapat di atas tangki bahan bakar pesawat tak dapat di redam oleh lapisan ‘seal’ pengaman secara sempurna.
Seluruh ruangan dalam pesawat akhirnya diselimuti asap dan gas yang mengandung karbon monoksida. Mata ber-kunang-kunang, kedua orang perwira yang tangguh itu mulai menggeliat kejang-kejang.
*****
Sabetan pamungkas halilintar kembali menerjang bagian sisi atas sayap pesawat Hercules Lockheed C-130 itu, telak mengenai tangki bahan bakar yang ada di sana. Seketika itu juga percikan partikel panas menyambar cairan yang mudah terbakar. Tangki bahan bakar pesawat terbakar hebat. Pesawat menukik tajam menuju permukaan laut tak jauh dari pulau misterius yang menyeramkan.
Kapten Adam dan Letnan Suhhairi ikut jadi korban. Tubuh kedua orang Perwira muda itu berwarna merah menyala tersengat oleh ‘....surge current....’ atau suatu aliran listrik kejutan yang begitu kuat dengan suhu mencapai ratusan derajat celsius. Letnan-dua Sukhairi gugur seketika. Sementara itu Kapten Adam, Perwira muda yatim piatu usia 27 tahun yang duduk di kursi pilot itu menggelepar meregang nyawa di angkasa. Tubuh yang malang itu terbakar merah berputar-putar berjuang melawan kepedihan di sekujur tubuhnya.
Menjelang detik-detik akhir hayatnya......, Perwira sekarat itu tiba-tiba saja dikagetkan oleh kemunculan suara gaib seorang wanita yang terdengar bergema dalam ruangan kokpit pesawat. Dialah.... wanita yang telah melahirkan pemuda itu ke atas dunia.
“.......Adam.....! Adam.....! Adam anakku......!” Begitu terdengar suara seorang wanita bergema yang terdengar oleh Adam memanggil namanya. Suara itu begitu lembut, Adam sendiri dia tak pernah mendengar suara selembut itu dalam hidupnya.
“.........Bertahanlah nak...! kau pasti kuat nak...! jangan takut....! ibumu ada di sini...!”
Suara gaib itu seakan-akan menyatu dengan kejutan induksi elektromagnetik yang menyengat tubuh Adam. Memunculkan suatu energi misterius yang mampu membuat jantung pemuda itu kembali terpicu untuk memompakan darah panas secara tiba-tiba, begitu panasnya darah itu hingga menggelegar seperti semburan lahar dan magma. Secara mukjizat, pemuda yang sekarat itu kembali terjaga. Adam kaget, dia merasakan dirinya seolah-olah kembali bangkit dari kematiannya.
Suatu mukjizat memang....., walaupun terbakar membara, namun tubuh Perwira muda itu tidaklah hancur. Jantungnya masih berdetak memompakan darah merah yang panas membara. Kedua bola mata Perwira itu kembali terbuka, Adam tetap dalam keadaan sadar. Dia bahkan masih tetap berzikir ‘....Subhanallah..... Subhanallah..... Subhanallah.....’ sembari menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tubuhnya terbakar hingga ribuan derajat celsius panasnya. Dia bisa merasakan kepedihan di seluruh anggota badannya yang tak tertahankan. Merasakan bagaimana sekujur tubuh terbakar, pedih yang amat sangat. Sungguh suatu keajaiban, semuanya yang terjadi atas kehendak Yang Kuasa.
Dalam kepedihannya, pemuda itu menyaksikan sesosok putih bayangan wajah ibunya menembus kaca jendela. Dengan kasih sayang yang tulus, wanita itu tersenyum, lalu dia melambaikan tangan ke arah Adam. Wanita itu seolah-olah mengucapkan suatu kalimat, tapi tak terdengar suara. kemudian dia mengulurkan kedua tangannya dan kembali berkata. Adam memahami makna ucapan wanita itu, walaupun dia tak mendengar apa-apa di sana. Wanita itu seakan-akan ingin sekali memeluknya, tapi tangannya tak sampai. Adam mengulurkan kedua tangannya untuk meraih tangan wanita yang dirindukannya itu, namun dia masih juga tak bisa.
Untuk yang ketiga kalinya, wanita itu kembali berkata. Kali ini wajahnya terlihat lebih jelas. Wanita yang melahirkannya ke dunia terlihat putih bersih dan sangat cantik, mengalahkan cantiknya sesosok bidadari. Adam meraba wajah wanita itu, wanita itu membalasnya. Seketika itu Adam benar-benar merasakan kasih sayang seorang ibu. Sebuah kasih sayang yang tak pernah dia rasakan selama hidupnya.
“Ibu...? benarkah itu ibu...?”
“.......Iya nak..., betul ini ibumu.......”
“Ibu..., aku mohon....., ibu jangan pergi lagi....!”
“........Ibu tak akan pergi nak......!”
“Di manakah ibu sebenarnya sekarang..., apakah ibu di sini....?”
“........Betul nak.., ibu di sisimu, ibu selalu dekat dengan mu....!”
“Tap ibu...! aku tak tahan lagi....! aku lebih baik mati bu...!”
“...........Tidak nak.....! kamu adalah seorang Perwira yang tangguh...! kamu jangan menyerah...!”
“ Tapi aku sudah tak kuat lagi bu...”
“.......Percayalah pada ibu nak...! kamu pasti kuat......!”
Namun sayang, hanya sesaat Adam bisa menyaksikan bayangan wajah ibunya. Suara dentuman yang dahsyat kemudian mengakhiri semuanya.
“.....Buuuummmm…!” Suara ledakan terdengar membahana. Pesawat itu akhirnya meledak beberapa meter sebelum tercebur menghantam lautan. Baja ringan itu hancur berkeping-keping jatuh seperti puing-puing berserakan dalam radius ratusan meter. Adam ikut tercebur bersama pesawat yang hancur.
“Lailahaillallah...!” Pekik Adam. Itulah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Perwira muda itu, seketika itu juga dia diam membisu mengakhiri duka.
Dunia dia rasakan begitu damai dalam kesunyian, tak ada lagi pekikan dan jeritan. Lalu dia tersenyum menyadari waktunya telah tiba. Tatapannya kemudian menembus langit. Dalam ketersenyumannya, Perwira muda itu kembali menyaksikan kemunculan sesosok perempuan putih berseri-seri mengenakan mukena serba putih turun dari celah pelangi di sore hari.
Perempuan itu tersenyum sembari melambai-lambai. Kedua tangannya dikembangkan mesra lalu dia ulurkan seolah ingin menggapai dan memeluk Perwira itu, begitu indahnya dirasakan. Dia menggenggam kedua tangan perempuan itu, sungguh lembut terasa. Tubuh Perwira itu dia peluk mesra, kemudian menggiringnya kembali menuju warna-warni pelangi yang masih terbias matahari.
Perwira muda itu harus pergi sebelum misteri yang ada di sana bisa dia ungkap. Panggilan Tauhid “Laila haillallah … AllahuAkbar’ pertanda kukuhnya iman sudah terucap.
Sungguh, sebuah pengorbanan yang tak mungkin bisa dibalas dengan tanda jasa, apalagi ditukar dengan setumpuk harta. Mungkin, memang tak ada air mata untuknya, tapi itulah mereka.
*****
Bahan bakar pesawat yang mempunyai berat jenis jauh lebih ringan dari air tumpah berserakan terapung-apung d iatas lautan. Api dengan cepat menyambar dan laut pun merah merona berkobar terbakar. Sekumpulan burung yang sedang bermigran terbang membentuk formasi diamond menuju pulau lain terperanjat kaget melihat kobaran api. Mata mereka terpelotot, lalu bubar kucar-kacir membentuk formasi kembang api, terbang centang-perenang entah ke mana lagi arahnya.
Ratusan ikan mungil yang sedang berenang di sekitar sana juga terperanjat kaget, lalu lari terbirit-birit mengambil langkah seribu menjauhi kobaran api. Mereka bertanya-tanya keheranan. “Aneh.....kok air bisa terbakar ya....?” Begitu tanya ikan-ikan mungil itu tak habis pikir.
Hanya hitungan detik setelah ledakan, perairan yang masih termasuk dalam kawasan segi tiga Masalembo yang terkenal angker itu mendadak berubah sepi tanpa suara. Walaupun sebenarnya segi tiga itu hanyalah sebuah garis khayal yang menghubungkan kota Majene, pulau Bawean dan kepulauan Tengah yang berbentuk segi tiga, ketiganya berada di Laut Jawa dan termasuk wilayah perairan Masalembo, namun apapun yang terjadi alam tak bisa diduga oleh manusia. Semuanya bisa saja berubah-ubah menurut kehendak Sang Pencipta. Yang menguasai alam semesta beserta seluruh isinya.
*****
Semenit kemudian, badai berlalu begitu cepatnya, sepertinya saat itu tak pernah ada kejadian apa-apa di sana. Satu persatu dari serpihan logam pesawat Lockheed C-130 itu tenggelam ke dasar lautan tanpa satu pun yang tersisa. Tak seorang pun yang tahu kejadian itu.
Awan-awan hitam menakutkan yang tadi bergumpal-gumpal di angkasa kini bersembunyi entah di mana. Petir yang barusan silih berganti bertebaran menuju bumi juga telah sirna. Langit terlihat kembali cerah, laut kembali terang, warna biru terbentang luas terlihat sampai ke ujung bumi. Matahari terlihat sangat terik, tepat berada di atas kepala.
*****
Pagi hengkang, siang pun datang, sang penerang jagat raya bersinar semakin garang, terik yang terasa bagai membakar permukaan laut yang tenang. Sesosok tubuh malang yang terapung-apung di tengah-tengah lautan itu merasa kepanasan. Susunan sarafnya yang tadi membeku setelah ledakan ikut tersengat karena kepanasan. Jantung yang nyaris tak lagi berdetak mendadak terlonjak memompakan darah menyentak-nyentak. Menakjubkan..., perwira muda yang sekarat itu akhirnya tak jadi mati mendadak.
Suatu mukjizat...., tubuh pemuda yang tadi terbakar itu masih panas memerah mengeluarkan asap. Lautan yang ada di sekelilingnya ikut mendidih bagai terbakar gas metana. Apakah sebenarnya yang telah terjadi, tak seorang pun yang tahu selain dirinya.
*****
Enam bulan kemudian setelah kecelakaan pesawat Hercules Lockheed C-130
Tanggal 31 Desember: pukul 23:00 malam
*****
Ruang tunggu keberangkatan pesawat di malam pergantian tahun itu terlihat begitu padat. Lihatlah...., antrean di meja chek-in keberangkatan begitu panjang penuh sesak. Penumpang pesawat membludak, penjualan tiket on-line meledak-ledak. Maskapai penerbangan kaya mendadak, pilot dan pramugari dapat tambahan rezaki lumayan banyak. Memang...., kalau rezeki dari Yang Kuasa itu sudah datang, pasti tak ada yang doyan mengelak.
Hiruk-pikuk, lalu-lalang ratusan orang penumpang di ruang tunggu keberangkatan sangat terasa amburadulnya sejak sore tadi. Semua sibuk bertanya ke sana kemari. Keberangkatan banyak yang delay.....? Tapi itu kan suatu hal yang sudah biasa terjadi. Calon penumpang terlihat adu urat leher dengan petugas ground bandara karena tak pastinya jam keberangkatan pesawat.....? Ah...., kayaknya itu juga sesuatu hal yang sudah biasa.
Namun...., ternyata ada juga sesuatu yang tak biasa terjadi di malam pergantian tahun itu. Suara teriakan marah-marah seorang wanita tak kalah sengitnya juga terdengar di antara hiruk-pikuk suasana ruang tunggu keberangkatan pesawat di malam itu. “Hei playboy korengan..! kamu dengar ya baik-baik kata-kata saya..!” Suara judes seorang wanita terdengar bergema dari salah pojok ruang tunggu.
“Kamu itu yang nggak tahu diri.....! kamu itu yang egois tak punya perasaan..! kamu memang playboy cap kodok..!” Begitu aksen wanita itu mencak-mencak melalui handphone barunya berwarna merah jambu. Begitu bengis terdengar, melebihi bengisnya teriakan seorang ibu tiri.
Lisa nama wanita yang lagi marah-marah itu. Gadis keturunan perancis alias “peranakan cina sunda“ salah seorang calon penumpang pesawat Airbus A320 dengan nomor penerbangan XZ-1949 yang akan berangkat menuju Biak pukul 23:45. Tak peduli baginya penumpang lain yang berada di sekitar sana. Tiga menit lamanya dia mencak-mencak, entah mengapa suara Lisa tiba-tiba saja macet tersendat di kerongkongan. Matanya yang genit tak sengaja tersangkut pada seorang perwira muda berpakaian dinas kemiliteran yang tepat duduk di depannya.
Pemuda yang dilirik oleh Lisa itu sedari asyik saja membaca. Padahal dia itu adalah seorang tentara, bukan seorang mahasiswa, apalagi pasca sarjana. Begitu tampan dan terlihat berwibawanya dia. Pangkatnya saja kapten, terlihat jelas dari tanda tiga garis strip kuning yang melekat di kedua bahunya. Dia itu ternyata seorang perwira penerbang, bahkan pilot termuda lagi yang menyandang pangkat kapten di kesatuannya. Adam namanya, mulai bulan januari nanti, perwira muda itu mendapat tugas baru selama beberapa bulan di Papua.
Puas memandang perwira pemuda itu, bibir Lisa yang bergincu kembali beringas. “Hei enak saja kamu ya..!” Teriak Lisa lagi melaui handphonenya. Mencak-mencak gadis anak orang kaya itu ternyata masih berlanjut.
“Kamu itu yang selingkuh dengan dia kok malah aku yang kamu suruh harus minta maaf....., emang nya kamu itu siapa..! seorang pangeran haah......? benar-benar memalukan tak tahu diri kamu..! petantang petenteng hanya jual tampang....! padahal kamu itu pengangguran, kamu jangang bohong....! aku sudah tahu semuanya....!” Sorak Lisa semakin beringas. Handphone kemudian dia matikan seketika.
Mendengar celotehan seseorang, pemuda bernama Adam yang duduk tepat di depan Lisa itu mengarahkan penglihatannya ke arah gadis itu. Lisa yang sedari tadi memang mencuri pandang berakting pura-pura malu. Kedua bola mata Lisa yang genit kembali beraksi. Seragam yang dikenakan oleh pemuda itu dia perhatikan, termasuk atribut kemiliteran yang Lisa sendiri tak sebegitu paham apa itu artinya. Namun dia yakin pemuda itu adalah pasti seorang Perwira. “...andai saja dia..., oh begitu tampan dan bersahajanya...” Gumam Lisa dengan tatapan lugu.
Sayang sekali, tatapan Lisa yang genit pada perwira itu hanya berlangsung sesaat. Ada panggilan masuk, handphone Lisa kembali berdering. Gadis itu kesal, belum puas lagi tatapan matanya yang genit itu beraksi, namun dirinya kini sudah terusik lagi, seketika itu juga handphonenya itu langsung dia matikan. Beberapa detik kemudian, lagi-lagi handphone Lisa berdering, kali ini panggilan itu dia jawab, tapi dengan makian.
Amarah Lisa memuncak, dia langsung membentak membentak dengan mencak-mencak. “Hei, sudah ya.....! aku sudah muak dengan kamu.....! dasar lelaki pengangguran....., kamu memang playboy cap kodok, playboy murahan....!” Handphone itu dia pencet, langsung mati seketika.
Handphone nya kembali berdering. “Masa bodo.!” Jawab Lisa singkat, sesingkat-singkatnya. Hanya dua kata, handphone itu langsung dia matikan. Satu detik kemudian, handphone itu berdering lagi.
“Hei.! playboy murahan cap kodok....! dengarin aku baik-baik ya, kita berdua putus mulai hari ini, mulai jam ini, dan detik ini juga, pokoknya detik ini juga putus, titik....!” Power handphone dia pencet habis-habisan, langsung mati deh, dan tak mungkin lagi berdering.
Begitulah aksen Lisa, gadis tinggi behenol yang mengenakan baju warna ungu bergambar hello kitty itu kalau lagi marah melalui handphone, seram tapi menggelikan. Padahal, penumpang lain yang berada di dekatnya mendengar semua apa yang dia katakan. Namun, mungkin saja karena kesal yang memuncak, hingga wanita cantik itu pun tak peduli apa kata orang-orang yang ada di sekelilingnya.
“Masa bodoh..!” Begitu mungkin pikirnya.
Hi.., hi.., hi..., ternyata Lisa lagi perang sengit dengan seseorang, tapi perang tanpa senjata. Musuhnya adalah ‘play boy cap kodok’ seperti apa yang dia sebut-sebut di handphone tadi, dan orang itu tak lain adalah cowok nya sendiri yang sering kepergok selingkuh di caffe pojok.
Pemuda yang bernama Adam itu tak lagi memperhatikan Lisa yang doyan marah-marah. Padahal gadis cantik dengan lekuk tubuh yang aduhai itu sudah begitu perfect nya beraksi untuk memancing perhatian. Sejenak Lisa masih berdiri di sana sembari mencuri pandang, namun pemuda itu semakin tak menghiraukan. Dia bahkan kembali membolak-balik bukunya asyik dengan bacaan. Mengetahui pemuda itu tak lagi memperhatikan dirinya, Lisa gadis mempesona anak orang kaya itu pun akhirnya cepat-cepat berlalu dari sana.
*****
Malam terakhir bulan Desember merangkak mendekati larut. Jarum jam menunjukkan pukul 11.07 malam, menit-menit menghampiri pergantian tahun semakin mendekat. Sampai saat itu, ruang tunggu keberangkatan pesawat di bandara sepertinya masih enggan merayap senyap.
Penerbangan banyak yang tertunda di malam pergantian tahun itu. Lalu lintas di udara katanya lagi pada macet. Padahal juga...., tak ada ‘traffic light’ lampu merahnya di atas sana, apalagi yang namanya razia gabungan atau operasi zebra, tentu saja itu tak pernah ada. Jam keberangkatan pesawat dengan nomor penerbangan XZ 1949 dengan tujuan Biak belum juga ada kepastiannya. Menunggu pun mulai bosan, belum tahu entah sampai kapan
Sebahagian dari penumpang mengisi waktu dengan permainan game seru di beberapa pojok ruangan. Penumpang yang sempat ngorok dalam ruang tunggu juga ada. Yang bengong lalu-lalang tak tentu arah banyak juga. Kalau yang berduit seperti orang-orang berdasi lebih memilih nongkrong di ruangan excecutive yang tentu saja harganya selangit.
Beberapa orang lelaki ‘sejati’ lebih memilih bersemedi dengan sabar di smoking area yang sempit. Walaupun dipenuhi asap rokok memedihkan mata, namun mereka tetap duduk dengan tenang sembari menikmati hisap demi hisap lintingan tembakau beracun yang sudah digulung rapi oleh tangan-tangan cekatan di pabriknya.
******
Salah seorang penumpang yang berada dalam ruangan tunggu keberangkatan pesawat di saat malam pergantian tahun itu adalah Adam. Seorang perwira muda usia dua puluh tujuh tahun yang doyan membaca. Hiruk-pikuk lalu-lalang ratusan orang penumpang yang semakin merajalela dia dalam ruangan tunggu itu seolah-olah tak mengusik pendengarannya. Pilot termuda dengan pangkat kapten di angkatan udara itu lebih memilih menunggu sambil membaca.
Baru saja beberapa menit perwira muda bernama Adam itu melanjutkan bacaannya, tiba-tiba saja dia kembali di usik oleh suara seorang wanita berbicara dalam bahasa Inggris.
“Excuse me sir, is this seat occupied.?” ..........maaf ya tuan, apakah kursi ini sedang kosong.........? Suara seorang wanita tiba-tiba saja menyerobot masuk ke telinga Adam. Seketika itu juga dia berhenti membaca.
Sepasang kaki wanita mengenakan rok panjang dilihatnya tepat berdiri di depannya. Adam kemudian menengadahkan kepalanya ke atas, ternyata sepasang kaki itu adalah milik seorang wanita eropa yang sangat sempurna kecantikannya. Kedua bola mata wanita itu berwarna biru keabu-abuan. Luar biasa...., begitu memukau terlihat. Beberapa saat, kedua tatapan mereka saling bertubrukan satu sama lain, dan seketika itu juga di antara mereka berdua kaget saling menatap. Wanita itu senyap tak bersuara, padahal tadi itu dia ingin duduk di kursi yang kosong tepat berada di samping Adam.
Begitu cantiknya wajah wanita eropa itu. Juga...., begitu luar biasa tak ada duanya. Lihat saja, kedua bola matanya yang biru begitu memukau, hingga membuat Adam seolah-olah tak sanggup melepaskan tatapannya. Wanita itu juga tak kalah kagumnya melihat Adam, seorang pemuda berpakaian seragam yang begitu bersahaja. Hingga dalam waktu beberapa saat, tatapan mereka berdua masih saja melekat dengan erat walaupun tanpa perekat.
Cukup lama di antara mereka berdua saling tatap mata seolah-olah terpukau dengan pandangan masing-masing yang begitu mempesona. Bahkan juga..., di antara mereka saling membisu tak sanggup mengedipkan mata, seakan-akan tengah berada di alam bawah sadar mereka. Adu tatap di antara mereka akhirnya terhenti di saat panggilan boarding naik pesawat terdengar dari pengeras suara. Suara berisik kasak-kusuk puluhan orang penumpang yang berhamburan dari duduknya membuat kedua anak manusia berlainan lain jenis itu terbangun dari alam bawah sadar mereka.
Wanita itu ragu-ragu untuk berkata, karena dia tak bisa berbahasa Indonesia. Dia hanya menunjuk ke arah kursi kosong yang ada di samping Adam. Di sana memang tergeletak sebuah tas ransel tempur yang cukup berat milik Adam. Pemuda itu menganggukkan kepala, dia paham apa yang dimaksud oleh wanita itu. “Oh yes mam, I know that.” ........oh iya bu, saya tahu itu....... Ucap Adam. Pemuda itu langsung berdiri mengemas barang bawaannya.
Ransel tempur miliknya itu dia pindahkan dari kursi. Tak sengaja, Adam melihat ada sisa makanan yang ditinggalkan oleh penumpang lain dengan begitu saja di sana, begitu jorokk kelihatannya. Tak pakai tunggu lama, pemuda itu langsung merogoh tisu dari tas ransel miliknya. Sebelum wanita itu duduk, dia bersihkan terlebih dahulu kotoran yang ada di sana.
“Sir, it doesn’t need, let me do it.” .........tuan, tak usah repot-repot dibersihkan, biar saja saya yang lakukan........ Pinta wanita itu.
“No... problem mam.” .........tak masalah bu........ Adam langsung menyahut. Sepertinya dia tak memedulikan, Adam tetap saja membersihkan kursi itu hingga tak bersisa lagi kotoran di sana, lalu dia mempersilakan wanita itu duduk.
“Oh. thanks a lot Sir.” ........oh terima kasih banyak tuan....... Ucapan terima kasih wanita itu tersembur dari kedua bibirnya yang mungil,
“Don’t mention it.” ........sama-sama........ Adam mengembangkan kedua tangannya
Wanita itu hanya tersenyum mendengar. Sembari duduk menempelkan pantatnya di kursi yang tak empuk, sepasang bola matanya yang biru masih terus mengarah pada pemuda itu. Adam dilihatnya kembali melanjutkan bacaannya. Sebuah buku dengan judul “Electromagnetic Induction” setebal 240 halaman di bolak-balik oleh pemuda itu. Memang jarang sekali ditemukan seorang tentara yang hobi baca buku, apalagi buku itu mengenai ilmu sains dan teknologi.
Ingrid Rose, nama bule itu juga tak kalah sengitnya membaca. Sebuah buku dengan ratusan halaman jumlahnya kemudian dia buka dan dia baca. Keduanya kemudian senyap tanpa suara, tak juga saling tatap mata.
Penglihatan pemuda itu tiba-tiba terpeleset pada sesuatu di saat dia tengah asyik-asyiknya membaca. Dilihatnya sebuah boarding pass tak sengaja tergeletak di atas lantai tepat di samping kakinya, sepertinya baru saja tercecer dari lipatan buku wanita itu. Adam membungkukkan badan, boarding pass itu kemudian dipungutnya.
“Sorry mam.!” ........maaf bu....... Sapa Adam. Dia memanggil wanita itu dengan sebutan ‘mam’ karena tak tahu siapa namanya.
“But I think this boarding pass is yours?” ........tapi saya rasa ini adalah boarding pas milik anda....... Adam memperlihatkan boarding pass yang ada di tangannya.
“Oh my boarding pass.?” ........boarding pass saya........? Wanita itu menyipitkan mata mengerutkan jidatnya.
“Yes mam, it is dropped from your book.” .......ya bu, saya lihat tadi terjatuh dari buku anda..... Tunjuk Adam ke arah buku.
“Oh thanks a lot sir.” .......oh terima kasih banyak tuan...... Bule itu melayangkan senyumannya sembari menerima.
“My pleasure.” .......dengan senang hati....... Adam membalasnya.
Saat bording pass dia berikan, sepintas lalu Adam melihat buku yang dibaca oleh wanita itu. Terlihat cukup tebal, buku itu dalam bahasa Jerman. Sepertinya buku itu seputaran ilmu Astrofisika yang membahas tentang benda-benda di angkasa. Adam menebak wanita itu pasti berkebangsaan Jerman.
*****
Sebuah panggilan boarding untuk naik pesawat kembali terdengar dari pengeras suara, wanita itu bangkit dari duduknya. Puluhan orang penumpang langsung bubar berebutan antre menuju pintu keberangkatan. Ribut suara kasak-kusuk yang terdengar mengalahkan volume suara dari pengeras suara. Wanita itu ragu-ragu apakah itu juga penerbangan untuknya, dia tak bisa mendengar dengan jelas nomor penerbangan yang disebutkan dari pengeras suara. Kedua bola matanya kini kembali tertuju pada Adam yang duduk di sampingnya.
“Ah excuse me sir.” ........oh maaf tuan......... Sapa bule itu begitu sopan. Pemuda itu berhenti membaca, dia juga bahkan menutup bukunya.
“Yes mam.” .....ya bu..... Adam juga menjawab dengan sopan.
“I’m really sorry, but actually I don’t want to disturb you.“ .......maaf sekali, sebenarnya saya tak ingin mengganggu anda........ Sebuah kalimat yang begitu sopan tersembur dari mulut wanita itu.
“It’s okay mam..! what can I do for you mam..?” .........oh, itu tak masalah bu, ada yang bisa saya bantu bu........ Adam membalasnya juga dengan kalimat yang lebih sopan.
“But do you know what flight number is that..?” .........ngomong-ngomong, apakah anda tahu nomor penerbangan itu........? Wanita itu menunjuk ke sekumpulan penumpang yang bergerombolan dalam antrean panjang.
“I’m not so sure mam.” .........saya tak begitu yakin......... Adam ikut memperhatikan. Dia juga tak begitu yakin dengan nomor penerbangan pesawat yang sedang boarding sekarang.
“But let me check it for you.” .........tapi biar saya cari tahu terlebih dahulu........
Pemuda itu kemudian berdiri, pandangannya berkeliling. Kedua bola matanya kemudian terhenti pada salah satu layar monitor yang ada dalam ruangan.
“Oh mam, the are leaving for Manado, can you see that.?” ........oh ya bu, mereka akan berangkat ke Manado, coba anda lihat ke sana........ Tunjuk Adam pada sebuah layar monitor yang tersembunyi di balik tiang beton penyangga bangunan. Wanita itu menyipitkan mata ikut melongok ke arah sana.
“Oh yeah I see that, I thought that’s mine, anyway thanks a lot.” ........oh ya, saya lihat itu, ternyata bukan penerbangan saya, walau bagaimanapun terima kasih ya........ Wanita bule itu menganggukkan kepalanya.
“It’s no problem mam.” ........oh itu tak masalah bu........ Adam menampakkan senyumannya.
Sedari, ada sesuatu yang mengusik pikiran wanita itu. Sepertinya dia kurang berkenan karena terus menerus dipanggil ‘mam’ oleh Adam. Sebelum wanita itu kembali duduk, dia meminta sesuatu agar jangan lagi disebut ‘mam.’
“Please don’t call me mam, I’ve just twenty one, I’m still very young you know.?” ..........tolong jangan panggil saya ibu, umur saya baru 21 tahun, anda tahu kan, saya masih begitu muda.........? Ucap wanita itu juga menampakkan senyumannya.
________________________________________________
(......Wow..! Ternyata wanita itu tak mau dipanggil ibu, umurnya saja baru 21 tahun, sangat muda sekali, cantik lagi, kedua bola matanya saja biru warnanya.....)
_______________________________________________
“Oh yeah, sorry mam.” .........oh, ya bu, saya juga minta maaf...... Adam keceplosan bicara, dia masih saja memanggil wanita itu dengan sebutan ‘mam’
Wanita itu semakin mengembangkan senyumannya mendengar kata ‘mam’ yang masih saja terlontar dari mulut Adam.
“Sir, just call me Ingrid.” ........tuan, panggil saja saya Ingrid....... Pinta wanita itu masih memperlihatkan senyumannya.
*****