Bab 1

Malam itu berbeda dengan malam yang lainnya. Ya, Tisa dan Egi berkencan di sebuah restoran termahal. Dengan nuansa yang sangat romantis mereka menghabiskan malam mereka di sana.

"Kamu mau pesan apa, Sayang?" tanya Egi sambil meyodorkan menu ke Tisa.

"Aku mau steak dan minum orange juice," ucap Tisa.

Egi mengangguk lalu memanggil seorang pelayan restoran dan pelayan restoran itu segera datang.

"Mau pesan apa, Mas?" tanya pelayan perempuan memakai baju hitam dengan rambut dikuncir satu.

"Steak dua sama orange juice dua."

Pelayan itu mengangguk dan beberapa saat kembali dengan pesanan mereka. Ia meletakkannya di meja lalu beranjak dari meja itu.

Akhirnya Egi dan Tisa melahap makanan mereka. Sesaat kemudian mereka selesai dan pulang dengan mobil. Di tengah perjalanan, Egi meminggirkan mobilnya membuat Tisa bertanya-tanya.

"Kok mobilnya berhenti, Sayang?" tanya Tisa mengerutkan keningnya. Egi hanya terdiam dan menyodorkan sebuah tas belanja.

"Ini buat kamu." Tisa terbelalak kaget dan langsung menerima pemberian Egi.

"Ya ampun, Sayang. Pasti ini mahal." Ternyata Egi membelikan Tisa sebuah gaun mahal. Gadis itu sangat senang karena Egi membelikannya barang mahal.

"Nggak mahal kalau buat kamu."

Tisa menyenderkan bahunya di badan Egi dan cowok itu membelai rambut Tisa.

Setelah beberapa saat, Egi melanjutkan perjalanannya untuk mengantar Tisa ke rumahnya.

"Makasih buat malam ini, Sayang. Kamu cinta kan sama aku?" tanya Tisa sebelum keluar dari mobil Egi saat sudah sampai di depan rumahnya.

Egi hanya mengangguk, "pasti.

"Kalau gitu, kamu mau kan membelikan apa yang aku inginkan?" tanya Tisa lagi. Ia paham betul kalau Egi benar-benar sudah jatuh kepelukannya dan pasti akan menuruti apa yang ia mau.

"Iya, Sayang. Pasti. Aku janji. Aku pulang dulu." Egi menutup kaca mobilnya dan melanjutkan perjalanannya.

Dari kejauhan Tisa menatap mobil Egi yang sudah tak terlihat. Ia bergumam dalam hatinya, akhirnya ia bisa menemukan sosok laki-laki kaya yang mau membelikannya barang-barang mahal.

Kevin melangkahkah ke kelas Zara untuk menemui kekasihnya itu. Sesampainya di sana, tak ada sosok Zara, yang ada hanya Tisa dengan beberapa temannya yang lain. Tisa yang mengetahui Kevin langsung menghampirinya.

“Nyari Zara, ya?”

Entah kenapa akal bulus Tisa muncul, memang sikap buruknya selalu iri dengan kebahagiaan orang lain. Ya, tanpa Zara sadari selama ini dia salah memilih teman. Kelihatannya Tisa baik, padahal sebaliknya, dia selalu punya seribu cara untuk menghancurkan kebahagiaan orang lain.

Kevin mengangguk. “Iya, kamu tahu Zara di mana?”

“Belum berangkat. Kamu udah jadian sama Zara?” tanya Tisa menyelidik.

“Kenapa?”

“Nggak apa, sih. Hati-hati aja kalau kamu jadi bahan pelampiasannya Zara,” celetuk Tisa bermaksud jahat dan berusaha menghancurkan hubungan keduanya.

“Maksud kamu apa bilang kayak gitu?” Kevin tak tahu arah pembicaraan Tisa yang menurutnya nyeleneh.

“Kamu nggak paham maksudku?”

Kevin menggeleng.

“Aku jelasin ya, aku tahu dari dulu Zara suka sama Ian, dan sayangnya Ian memilih aku, tapi udah putus. Kemungkinan besar Zara sakit hati, dan melampiaskan sakit hatinya sama kamu, terus dia mau jadian sama kamu. Kasihan, ya!” Tisa tertawa sambil menepuk bahu Kevin. Ucapan Tisa barusan membuat Kevin sedikit emosi. Sebenarnya Kevin juga sudah tahu kalau Zara memang suka dengan Ian yang dimaksud Tisa, tetapi Kevin mencoba tak memedulikan perkataan Tisa. Dia paham tipe perempuan apa Tisa ini, perempuan yang mudah mengobral cinta pada laki-laki. Benar saja, belum lama putus dengan Ian, dia sudah berpacaran dengan Egi, Kevin tahu karena Egi adalah teman satu kelasnya.

“Udah ngomongnya? Aku nggak peduli! Aku yakin Zara bisa nerima aku suatu saat nanti!” ucap Kevin dengan rasa percaya diri. Apapun akan dilakukannya demi mendapatkan cinta Zara.

“Terserah, jangan terlalu percaya diri, nanti kecewa.” Tisa mengibaskan tangan dihadapan muka Kevin. Enggan menanggapi, Kevin memilih pergi meninggalkan Tisa dengan perkataannya yang julid.

***

“Tadi pagi aku nyariin kamu.” Kevin menghampiri Zara di kelasnya saat istirahat tiba.

“Maaf tadi aku belum datang, Vin,” jawab Zara.

“Aku boleh nanya sesuatu?” tanya Kevin, serius.

“Silakan.”

“Kamu masih suka sama Ian?”

Perkataan Kevin membuat Zara bingung apa yang harus dijawab. Di lain sisi, jujur dia masih sedikit menyimpan rasa pada Ian, di lain sisi kalau dia menjawab jujur akan menyakiti perasaan Kevin.

Zara hanya menggeleng tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Kevin mengerti dan mengajak kekasihnya itu pergi ke kantin yang tak jauh dari kelas.

“Kamu mau pesan apa?” tanya Kevin sesampainya di kantin.

“Es jeruk aja, Vin.”

Kevin beranjak untuk memesan dan beberapa saat dia kembali membawa psanan mereka, lalu duduk dihadapan Zara sambil meletakkan minuman pesanan Zara.

Zara hanya terdiam, dia tak tahu harus mulai mengobrol apa dengan Kevin padahal cowok itu adalah pacarnya, tetapi rasa canggung masih menyelimutinya.

“Aku bawa sesuatu buat kamu, Ra.” Kevin mengambil sesuatu dari balik badannya dan menyodorkan sebuah cokelat pada Zara.

Zara langsung menerimanya. “Sejak kapan kamu bawa cokelat?”

“Itu sulapan,” Kevin menjawab pertanyaan gadis itu dengan bercanda.

Zara yang mendengar jawaban Kevin hanya menggeleng dan dalam hatinya tertawa. Kevin ternyata bukan laki-laki yang terlalu buruk untuk dijadikan kekasih, dia baik dan perhatian, selain itu penyabar.

Bab 2

Berparas cantik dan dikagumi banyak kaum adam di kampusnya. Ya, dia—Tisa, perempuan yang terkenal akan kecantikannya, bak model. Banyak laki-laki yang mengagumi kecantikannya, dan berusaha mendapatkan cintanya.

"Udah semester enam, apa kamu masih mau memendam perasaanmu itu, Ra?" tanya Tisa kepada Zara.

Zara sudah lama mengagumi sosok Ian, semenjak pertama masuk kuliah. Ian berparas tampan, berambut cepak dan beralis tebal. Mereka satu kelas, tapi Zara jarang mengobrol dengan cowok itu. Zara takut, sikapnya akan memperlihatkan kalau ia mempunyai rasa terhadap Ian.

Zara menggeleng. "Entahlah, aku nggak tahu dengan cara apa aku bisa dekat sama Ian, Tis. Kalau kamu kan enak, kamu cantik, banyak yang suka sama kamu. Kamu nunjuk salah satu cowok aja, mereka pasti mau. Sedangkan aku?" Ia menghela napas, hatinya gundah.

Tisa tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Zara. "Aku bisa kok bantuin kamu dekat sama Ian. Mau, nggak?" bisik Tisa.

Zara mengernyit bingung. Bagaimana Tisa bisa mendekatkannya dengan Ian? Zara saja ngobrol dengan Ian saja rasanya seperti jantungnya mau copot.

"Gimana caranya?" tanya Zara masih kebingungan.

"Ada, deh. Serahin semua sama aku, beres," gumam Tisa mengacungkan kedua jempolnya.

Zara hanya mengangguk pasrah dan menurut akan rencana Tisa yang akan mendekatkannya dengan Ian, pujaan hati yang selama ini dia idam-idamkan.

Tiba-tiba jantung Zara berdetak kencang, ia tahu kenapa. Setiap Ian mau lewat, pasti jantungnya langsung berdetak. "Pasti Ian mau lewat, aku deg-deg an, Tis."

Benar saja, beberapa menit kemudian, Ian lewat, tanpa menyapa sedikit pun.

Tisa langsung menyengol tubuh Zara. "Ian, tuh," ledek Tisa.

Wajah Zara tersipu malu dan langsung memerah.

"Malu cieee ... cieee, " ejek Tisa lagi.

Zara memutarkan bola matanya. "Nggak, kok."

Tisa hanya mengangguk, tanda mengiyakan.

***

"Ian, ke kantin bareng, yuk. Ada yang mau omongin sama kamu," gumam Tisa saat istirahat tiba.

"Kamu mau ngomong apa?" tanya Ian sambil berjalan menuju kantin menyejajarkan langkah dengan Tisa.

"Jadi, ada yang suka sama kamu. Udah lama," ucap Tisa seusai tiba di kantin.

"Siapa?" tanya Ian penasaran. Ian membenarkan posisi duduknya, menatap Tisa dengan serius.

"Zara," jawab Tisa to the point.

"Oh, Zara? Aku kira kamu yang suka sama aku." Ian tertawa lepas. "Kalau aku sukanya sama kamu bukan sama Zara, gimana?"

Deg

Spontan jantung Tisa berdegup kencang. Tisa menggeleng tak habis pikir dengan ucapan Ian. Pasti Ian cuma bercanda, pikirnya.

"Apaan, sih. Aku serius. Zara udah lama suka sama kamu," jelas Tisa seadanya.

Ian hanya mengangguk pelan. Cowok itu hanya terdiam, tak bicara sepatah katapun. Jujur, yang selama ini Ian sukai adalah Tisa, bukanlah Zara. Bagi Ian, Tisa itu cantik dan anggun. Berbeda dengan Zara yang penampilannya apa adanya.

"Kamu ngapain, Tis, berduaan sama Ian di sini?" tanya Keyla yang spontan membuat keduanya kaget.

"Mau comblangin Ian sama Zara," bisik Tisa pada Keyla.

Keyla mengangguk dan membulatkan mulutnya. "Yaudah, aku ke kelas dulu, ya," pamit Keyla.

Sebelum Keyla bergegas menuju kelas, Tisa menarik tangan Keyla. "Jangan bilang ke Zara, ya, kalau aku baru comblangin dia."

Keyla mengangguk dan berlalu menuju kelas.

"Plis balas cintanya Zara. Aku mohon." Tisa memohon pada Ian dengan penuh harap sembari mengenggam tangan Ian erat.

"Kamu disuruh sama Zara?" tanya Ian, menatap Tisa penuh curiga. Ya, bisa saja Tisa melakukan hal ini karena disuruh oleh Zara.

Tisa menggeleng cepat.

"Maaf, aku nggak bisa." Ian berlalu meninggalkan kantin. Padahal Ian tetap berharap Tisalah yang menyukai dirinya bukan Zara.

"Ian, tunggu!" Tisa berteriak menyusul Ian yang sudah keluar kantin lebih dulu.

"Aku nggak bisa. Nanti kita ketemuan di kafe Bintang jam tiga sore. Aku tunggu," ucap Ian. Tisa hanya bisa memandangi punggung cowok itu yang mulai jauh.

*

Sore telah tiba, Tisa sudah berada di kafe Bintang bersama Ian.

"Ada apa kamu nyuruh aku ke sini?" tanya Tisa penuh tanya.

Ian menatap Tisa serius lalu mengenggam tangan Tisa. "Tis, aku suka sama kamu. Mungkin, aku terlalu pengecut untuk mengakuinya. Kamu mau kan jadi pacarku?" Ian mengungkapkan perasaannya pada Tisa. Dan, berharap Tisa mau menerima cintanya. Cowok itu sudah tidak bisa menahan perasaaan yang selama ini dia pendam.

Tisa melepas genggaman Ian. Tisa menggeleng pelan.Dia tak mau dianggap sebagai perebut orang yang disukai temannya.

"Kenapa? Zara, ya? Kita bisa pacaran diam-diam tanpa Zara tahu. Plis, terima aku." Ian kembali menggengam tangan Tisa. Tatapannya penuh keseriusan.

"Tapi-" Tisa tak melanjutkan kata-katanya.

"Udah lah, Tis. Ngapain kamu mikirin Zara? Aku sukanya sama kamu, bukan Zara. Zara bukan tipe aku."

Tisa seolah terbuai dengan rayuan maut Ian. Dan, akhirnya Tisa menerima cinta Ian.

"Oke, sekarang kita pacaran. Kalau di kampus kita harus bersikap biasa. Kalau waktunya tepat, kita bakal kasih tahu Zara yang sebenarnya," gumam Ian senang. Akhirnya, ia bisa berpacaran dengan cewek yang ia idamkan.

"Apa itu nggak menyakiti Zara?" tanya Tisa sedikit ragu.

Ian menggeleng, "Apa kita kasih tahu Zara, besok? Biar dia nggak mengharapkan aku lagi?" Ian menaikkan sebelah alisnya.

Tisa memanyunkan bibirnya. "Jangan, kalau waktunya udah tepat aja. Kalau Zara benci sama aku, gimana?" Di lain sisi, Tisa merasa bersalah pada Zara. Ia sadar, ia sudah menghianati temannya sendiri. Tapi, di lain sisi, ia juga ingin punya pacar-- yang pengertian seperti Ian.

"Makasih kamu udah mau nerima aku jadi pacar kamu. Aku ada sesuatu buat kamu." Ian menyodorkan bunga mawar untuk Tisa. Tisa terharu dengan yang Ian berikan. Ia langsung menerima bunga mawar dari Ian.

"Thanks, Honey," gumam Tisa dengan tatapan berbunga-bunga.

Ian mengangguk dan mereka berdua hanyut dalam suasana kafe sore itu.

*

Tisa dan Ian berjalan beriringan dari parkiran menuju kelas. Tepat di taman kampus, ia melihat Zara menuju ke arah keduanya. Dengan sigap, keduanya menjauhkan langkah mereka.

"Hai," sapa Zara setelah sampai di taman kampus.

"Hai, juga, Ra." Tisa menyapa balik Zara. Ada perasaan takut dalam benaknya. Ya, takut ketahuan kalau sudah berpacaran dengan Ian.

"Kalian berangkatnya bareng?" tanya Zara yang spontan membuat keduanya sedikit shock.

Ian menggeleng pelan, "Nggak, Ra. Tadi nggak sengaja ketemu di parkiran. Jadi, sekalian bareng."

Zara hanya mengangguk. Tak ada kecurigaan dalam hatinya. Ia berpikir se-positif mungkin.

"Yuk, ke kelas," ajak Tisa kemudian mengandeng tangan Zara menuju kelas.

Sesampainya di kelas, Zara duduk di belakang Tisa. Dan, Tisa duduk di depan sendiri—sebelah Ian.

Selang beberapa menit kemudian, Zara menghampiri meja Tisa untuk menanyakan kejelasannya mendekatkannya dengan Ian.

"Tis, gimana udah ada cara buat ndeketin aku sama Ian?" tanyanya lirih.

Tisa mengancungkan dua jempolnya. "Beres," ucapnya berbohong.

Zara seketika tersenyum. Zara sudah membayangkan rencana Tisa akan berhasil. Dan, sebentar lagi ia akan dekat dengan Ian. Zara sedikit melirik ke arah Ian. Tanpa Zara tahu, bahwa Ian sudah jadian dengan Tisa. Ian yang sadar diperhatikan oleh Zara langsung menengok. Dengan cepat, Zara langsung mengalihkan pandangannya.

Bab 3

Tisa mendekatkan diri pada Kevin yang tengah sendirian di taman kampus. Sikap pelakornya mulai muncul.

"Hai,"sapa Tisa.

Kevin setengah melirik. "Kenapa?" tanya Kevin, cuek.

"Nggak. Kalau aku lihat-lihat kamu ganteng juga, ya, Vin?"

Kevin mengernyit dengan perkataan Tisa barusan. Dia hanya mengedikkan bahu acuh dan memilih berlalu meninggalkan Tisa. Tisa tidak diam begitu saja, dia menyusul Kevin dan menarik lengannya.

"Lo apaan, sih?" Kevin menaikkan sebelah alisnya.

Tisa kemudian menarik tangan Kevin menuju kelasnya. Akal liciknya mulai bersarang. Di depan Zara dia mengaku kalau dia jadian dengan Kevin. Sengaja supaya Zara sakit hati. Perkataan Tisa membuat Zara panas dan langsung percaya begitu saja.

"Semua cowok sama aja!" seru Zara lalu menampar wajah Kevin dan berlalu meninggalkan kelas.

Kevin tidak bergeming sedikitpun. Dia menggeleng dan mengejar Zara untuk menjelaskan semuanya.

"Ra, tunggu," panggil Kevin.

Zara tidak memedulikan panggilan Kevin, dia tetap berlari menuju keluar kampus. Pikirannya kacau. Dia tak menyangka Kevin ternyata sama saja dengan laki-laki lain. Sementara Kevin kehilangan jejak Zara.

"Ini semua gara-gara cewek sialan itu. Gue harus samperin dia sekarang juga dan minta dia jelasin semuanya!"

Kevin kembali ke kelas Zara dan menemui Tisa.

"Lo harus jelasin ke Zara, Tis. Gue nggak mau tahu!"

Tisa mengibaskan rambutnya. "Males. Udah lah, Vin, nggak usah munafik. Semua cowok di sini suka sama aku, masak kamu enggak ,sih?"

Kevin jijik melihat Tisa yang sok kecantikan itu. Bagi Kevin, Tisa tak ada menariknya sama sekali. Hanya laki-laki bodoh saja yang mau menjalin cinta dengan perempuan playgirl seperti dia.

Kevin sudah muak dengan Tisa akhirnya berlalu pergi. Tisa menyunggingkan bibir dan berkata. "Lihat aja gue bakalan dapetin lo Kevin. Gue tahu lo anak orang kaya. Habis dapatin lo, gue bakal putusin pacar gue yang sekarang."

Zara termenung di sebuah halte yang tak jauh dari kampus. Dia menangis, dan dia tidak menyangka Kevin akan melakukan hal setega itu. Air matanya terus bercucuran mengenai wajah dan pipinya. Seketika ada seseorang yang menepuk bahu dan Zara menoleh.

"Ian?"

Ian mengangguk. "Iya, Ra. Kamu ngapain di sini?"

"Aku sedih Kevin jahatin aku," jawab Zara.

"Kenapa?"

"Kevin jadian sama Tisa."

Ian terbelalak kaget dan dia juga tidak menyangka Kevin yang terlihat baik ternyata sama saja dengan yang lain, yang mau saja dipacari Tisa yang playgirl itu. Tapi di sisi lain, sebenarnya Ian tidak percaya sepenuhnya. Bisa saja itu hanya akal-akalan Tisa. Ian paham sepertinya Tisa tidak suka kalau melihat Zara bahagia.

"Kamu bicara baik-baik dulu sama Kevin, Ra," saran Ian. "Aku takut ini cuma akal-akalan Tisa aja. Kamu tahu lah sikap dia gimana kalau ada cowok ganteng sedikit aja. Contohnya aku, dia cepet banget, ninggalin aku."

Zara mengangguk dan menyeka air matanya. "Iya, Ian. Aku nggak tahu salah aku apa kenapa Tisa selalu bersikap seperti itu. Dia kan sahabatku."

Ian menyunggingkan bibir. "Mana ada sahabat yang tega ngerusak kebahagiaan sahabatnya sendiri. Kamu masih aja nganggep dia sahabat?"

Zara mengangguk.

"Hebat, ya, kamu. Udah diperlakukan kayak gitu masih aja nganggep sahabat. Kalau aku jadi kamu, aku udah males anggep dia sahabat," ucap Ian, sinis.

"Dia tetap sahabatku seburuk apapun dia," jawab Zara.

Ian melirik ke arah jarum jam yang menunjukkan pukul satu siang."Ke kelas yuk, Ra. Udah mau masuk nih." Ian bangkit dan Zara mengikuti langkah Ian.

Kedekatan Kevin dan Tisa membuat Zara semakin panas. Setiap hari, Zara harus melihat dia sejoli itu bermesraan di depan kelas. Zara hanya bisa menahan rasa sakit.

"Udah, Ra, ikhlasin aja," kata Keyla.

Zara mengangguk. Tetapi dalam lubuk hatinya gadis itu merasa terpukul. Ian datang bergabung dengan Zara dan Keyla.

"Kayaknya mereka nggak bisa dibiarin, deh, Ra," ucap Ian tiba-tiba.

"Maksud kamu?" Zara mengernyit.

"Ya, aku nggak mau aja si Tisa morotin si Kevin."

"Bukan urusan aku lagi," tukas Zara. Sebenarnya dia peduli dengan Kevin , tetapi Zara hanya tak tahu bagaimana cara memperlihatkan kepeduliannya.

"Oke kalau gitu. Aku cuma nyaranin aja, kok." Ian tersenyum.

"Tapi kata Ian ada benernya juga loh, Ra."

Zara terdiam, tak menanggapi.

"Biarin aja," jawab Zara.

Kevin dan Tisa lewat begitu saja. Saat Tisa lewat, gadis itu sengaja mengibaskan rambut panjangnya, bermaksud mengejek Zara karena akhirnya Tisa bisa mendapatkan Kevin. Keyla yang geram dengan tingkah Tisa langsung mengumpat. "Dasar cewek nggak tahu diri! Tukang tikung!"

Teriakan Keyla spontan membuat Tisa menoleh, tetapi Tisa tak memedulikan perkataan itu.

"Udah, La, biarin aja." Zara berusaha menenangkan Keyla yang dirundung emosi. Keyla mencoba mengatur emosi dan menarik napas panjang.

"Kalau udah miskin pasti juga ditinggalin!" seru Keyla, lagi.

Zara tersenyum mendengar perkataan Keyla. Mungkin Zara memang harus berhenti peduli pada Kevin dan mulai harus melupakan cowok itu.

"Sabar, ya, Ra?" Ian menepuk bahu Zara. "Kamu gadis baik, pasti dapat yang lebih baik. Biarin aja si Kevin sama Tisa. Aneh aja , udah tahu itu cewek kayak gitu masih aja mau jadi pacar dia. Aku aja nyesel pernah pacaran sama cewek kayak dia!"

"Udah, nggak baik ngomongin orang. Jujur aku juga sakit hati sama Tisa. Setelah aku pikir-pikir, ya udah, lah." Zara berbalik menepuk bahu Ian.

Zara merangkai kata sedemikian rupa seolah dirinya tabah, padahal hatinya benar-benar hancur berkeping-keping.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED