"Walau kata orang hidup gue ini gak begitu punya manfaat, but this is my life. Ciptakanlah bahagiamu sendiri jika tak menemukannya pada orang lain. Jangan, pokoknya jangan tiru gue!" - Aluna Sesat
💤💤💤
TOLOOONG... !!!
Jangan berfikir sedang ada adegan action yang menegangkan. Ini cuma jeritan batin seorang gadis yang masih betah diatas kasurnya. Namanya Luna, gak pake Lucinta. Lebih tepatnya Aluna Meysha Jovita.
Jarum jam baru saja menunjukkan pukul 7, setidaknya Luna butuh dua jam lagi untuk hibernasi di hari minggu yang selalu dia nanti-nanti. Tapi rencana itu gagal oleh alunan musik I was king milik One Ok Rock dari ruangan sebelah yang diputar dalam volume diatas rata-rata.
WHEN I WAS KING...
I WAS KING...
Musik masih setia mengalun. Curiga si pelaku yang tak lain adalah kakaknya sendiri kehilangan nurani untuk tidak tanggung-tanggung membuat kuping seluruh penghuni komplek budek berjamaah seraya mengusap dada berucap istighfar.
Baikah mungkin ini terkesan berlebihan, tapi ini memuakkan. Kendati bukan kali ini saja kakak Luna menggila, Luna hanya ingin hari minggunya berlalu dengan tentram dan damai terlepas dari segala tugas yang ada dan dengan sengaja ia campakkan, setidaknya untuk hari ini saja.
"Tolong Luna, ya Tuhan!" Luna mengeram kesal, menutup kupingnya dengan bantal barangkali bisa meredam suara, tapi sia-sia.
Gadis itu menghela nafas panjang, menatap malas plafon kamarnya yang polos. Detik berikutnya suara sumbang yang menggelegar ikut andil dalam alunan musik. Euwhh... Fales luar biasa! Jika Luna adalah juri dalam acara Indonesia Got Talent, Luna pastikan panggungnya roboh detik itu juga, atau bisa jadi listrik satu negara bisa mati.
Bantal disamping kepalanya sudah melayang kesembarang arah. Luna sudah tak tahan, dia tak akan membiarkan rencana hari minggu yang di agungkannya berantakan. Maka dari itu, dengan terpaksa Luna menyibak selimut yang menutupi seluruh badannya.
Kedua kaki jenjang itu mulai berpijak diatas lantai kamar yang bercecer segala benda mulai dari plastik bekas makanan, kaos kaki, buku pelajaran, bahkan ponselnya tergelatak asal begitu saja. Ya, Luna memang bukan tipe gadis yang peduli arti kata rapi, cocok saja dengan julukannya Miss Lazy. Terlalu malas untuk melakukan apapun.
Memandang penampilannya yang berantakan khas bangun tidur didepan cermin setinggi tubuhnya, sekali lagi Luna menghela nafas panjang barangkali mendapat sisa-sisa kesabaran untuk tidak tersulut.
"ALVIAN KAMPRETTT!!!" jeritnya tiba-tiba.
Detik berikutnya, gadis itu berlari layaknya citah menuju kamar sebelah milik kakaknya, menerobos masuk tanpa izin. Matanya terpancang awas mencari si biang kerok penghancur ketenangannya di hari minggu.
"Dimana lo Alvi?!" serunya bak seorang rentenir kala tak menemukan sang kakak.
Netra coklat yang mengilatkan kekesalan menggebu-gebu itu beralih menatap sound system yang menjadi sumber suara terkutuk.
Dengan kekesalan yang mencapai puncak, Luna mematikan benda itu dengan mencabut segala kabel di stop kontak. Karena hanya itu cara yang ia tahu untuk mematikannya.
Pintu kamar mandi diruangan itu lantas terbuka setelahnya, menampilkan perawakan sang Kakak yang hanya mengenakan anduk dipinggang.
Dia Alvian Octa Mahendra, mahasiswa semester awal jurusan Teknik Industri yang hobinya tebar pesona. Playboy cap badak yang hobinya gonta-ganti cewek seminggu sekali. Ngakunya cowok idaman nan populer, anak band yang punya konten youtube hampir mencapai 100 ribu subscriber. Sayang, adiknya yang tak tahu diri tak pernah mengakui semua itu, memalukan.
Alvian dengan percaya diri menyugar rambutnya yang basah sehabis dikeramas. Berkhayal layaknya bintang iklan sampo di televisi.
Luna menatapnya jijik, memangnya keren apa?!
"Ngapain dimatiin?" tanya Alvian begitu menyadari kehadiran makhluk lain dikamarnya.
"Pake nanya, lo ganggu ketenangan gue tau gak! Awas aja kalo dinyalain lagi, gue bisa aja mengundang masa buat penggal lo hidup-hidup. Atau benda kesayangan lo itu gue lempar ke kali!"
Alvian terkesiap begitu Luna keluar sembari menutup pintu dengan kasar. Namun selang beberapa detik pintu itu kembali terbuka. "Satu lagi, gue lebih baik dengerin suara kentutnya Opet dari pada suara lo!"
"Terus gue peduli?" cibir Alvian dengan nada meledek.
Pintu kembali dibuka. "Bukan masalah lo peduli atau enggak. Disini situasinya satu komplek tersiksa plus bisa budek, lo mau bawa mereka semua ke THT?!"
Setelahnya Luna pergi begitu saja, kali ini membiarkan pintu tetap terbuka. Sejak kapan adiknya itu peduli dengan penghuni komplek?
Alvian mengerjap pelan. Apa adiknya baru saja kerasukan barusan? "Heran, punya adek galak amat. Gak seneng apa liat abangnya bahagia bentaran doang," ujarnya pelan.
"Gue denger!" teriak Luna menggelegar, hampir saja membuat jantung Alvian loncat. Laki-laki itu hanya bisa mendesis sabar.
💤💤💤
Suara air yang menyembur dari selang serta gemerisik daun yang dibelai angin sepoi-sepoi menjadi satu-satunya suara yang mengiringi keheningan area perkomplekan. Membuai Luna yang tak bisa berhenti menguap sejak tadi bak koala, bedanya yang satu ini gak bisa manjat pohon.
Luna mengantuk tingkat dewa, meski begitu matanya tetap memperhatikan punggung seorang laki-laki yang sibuk memandikan motor vespa-nya penuh sayang.
"Opet." Panggil Luna. Si empunya nama sibuk komat-kamit memuji motornya sendiri yang dinamai 'Jenie'.
Kalau saja itu motor bernyawa, pasti senyum malu-malu biawak. Secara yang muji orang ganteng nan populer yang dikagumi banyak gadis. Ya, setidaknya Jenie bangga jadi motor yang dapat pujian dari banyaknya gadis yang berharap bisa dilirik sang empu.
"Opettt!"
Laki-laki itu seolah tuli, suara panggilan Luna sama sekali tak menarik atensinya. Luna meringis melihat tingkah sahabatnya yang dikenal jenius tapi kadang aneh. Kasihan yang jadi jodohnya nanti, begitu pikirnya.
"OPET!" teriakan Luna akhirnya sukses membuat kepala laki-laki itu menoleh.
"Apa? Gak ada nama panggilan yang kerenan dikit apa selain Opet. Bagus-bagus nama gue Athalario Petro Radeyo, bisa-bisanya lu panggil gue sekenanya." laki-laki itu menyahut dengan tampang tak terima, matanya mengerling jengkel.
"Ya abis, gampangan Opet. Atau sekalian aja pake C, jadi Copet," cicit Luna ditempatnya, ikut menekuk wajah.
Athalario a.k.a Opet. Nama panggilan aslinya Rio. Entah dari mana nama Opet itu tercetus pertama kali, yang pasti orang lain lebih akrab memanggilnya begitu.
Opet sahabat dekat Luna sejak orok, tak perlu ditanya mereka sedekat apa. Kendati sifat mereka bertolak belakang bak langit dan bumi, kedekatan mereka begitu tak terpisahkan layaknya nasi dan lauk. Kalo gak ada lauk makanannya hambar, kalo gak ada nasi ya gak bakal kenyang.
Tapi selama ini Opet merasa menjadi pihak yang paling merugi. Sebab Luna itu ibarat piringnya saja. Apa-apa minta tolong padanya.
Opet melirik Luna lewat ekor matanya. "Gak bergairah amat hidup lo Lun," sindirnya. Luna mendengus, Opet sudah terlihat seperti ibu-ibu komplek tukang nyinyir sekarang. Luna hanya berharap laki-laki itu tidak mengeluarkan jiwa emak-emaknya yang suka mengomel.
"Hidup-hidup gue, kenapa lo yang susah," sinis Luna.
"Memang selama ini lo nyusahin gue." cetus Opet. Nah kan, mulut pedasnya keluar.
"Kebaikan itu gak perlu diumbar-umbar. Pahalanya entar ditarik lagi." Luna berdecak malas, memilih merebahkan tubuhnya diundakan tangga sembari memejamkan mata. Sinar matahari yang menyorotnya semakin terik tak begitu ia pedulikan.
"Astagfirullah, gue kira kesetan! Hampir aja mau gue injek!" seloroh Alvian yang baru saja keluar rumah lengkap dengan penampilannya yang terkesan manly dibalut jaket hitam, celana jeans, dan rambut yang ditata sedemikian rupa.
Tampan.
Luna mendengus sinis sembari mendudukkan dirinya dengan benar, hampir saja Alvian menginjaknya. "Abang laknat lo!"
"Suruh siapa tiduran disitu! Gini, abang mau ke studio sampe sorean," ujar Alvian sembari melangkah menghampiri motor gedenya yang terparkir diluar garasi.
"Opet!"
"Ya, bang?" Opet menyahut cepat begitu Alvian memanggilnya. Luna mengerling jengkel.
"Tolong kasih si Luna makan, ya. Gue gak sempet masak. Masakin apa aja yang penting itu peliharaan mau makan." pesannya. Laki-laki itu mulai menyalakan mesin motornya.
"Dikira gue hewan apa." Dalam hati Luna merutuk.
"Siap bang!" Opet mengacungkan jempolnya.
"Oke, nitip Luna. Gue berangkat!"
Suara knalpot motor yang menderu itu lantas menghilang ditelan jarak. Opet kembali sibuk menyiram si Jenie. Sementara Luna bersedekap dada.
"Mending lo mandi deh Lun, biar gak kayak gembel-gembel banget. Gue mau bawa lo jalan-jalan deh biar hidup lo gak gabut." Opet terkekeh seraya menggelengkan kepalanya melihat Luna yang hampir terlihat layaknya gembel. Rambutnya awut-awutan, sudah jelas Luna pastinya belum melangkahkan kaki ke kamar mandi sejak pagi. Padahal ini sudah hampir siang. Apa perlu ia mandikan juga? Eh!
"Gue gak perlu mandi, mubazir Air," sahut Luna.
"Gue yang malu kalo penampilan lo kayak gini. Ya, setidaknya sebagai cewek lo gak mau apa keliatan modis, rapi, anggun. Biar cowok pada tertarik gitu."
"Emangnya lo gak tertarik kalo gue kayak gini?" ada hening beberapa detik saat pertanyaan itu meluncur dari lidah Luna.
Opet manaikan sebelah alisnya. "Jawabannya pengen apa?"
"Gue gak suka orang pendusta." Tekan Luna dengan tatapan mengintimidasi memandang Opet yang tengah berpura-pura berfikir.
Laki-laki itu menyeringai. "Kalo gue bilang lo sejelek apa, nanti ngamuk."
"Berapa persen?" Wajah Luna berubah datar. Opet mengulum bibirnya melihat raut wajah gadir itu.
"9... "
"Cukup! Gue mandi, puas!" Luna berdiri, melangkah kedalam rumah sembari membanting pintu.
"Jangan lupa pake sabun!"
"Pake bensin!"
"Mantap!"
BERSAMBUNG...
2 tahun lalu, tepatnya saat Luna baru saja menginjak bangku SMA. Setidaknya Luna lebih terurus sebab ada sosok sang Bunda yang tak bosan mengomelinya. Mulai dari penampilan, kebiasaan buruk, jam makan semuanya tak lepas dari perhatian bunda.
Namun setelah Bunda meminta berpisah dengan ayah dan memilih menetap di Bali bersama pasangan barunya. Luna menjadi gadis yang sekarang, tak begitu peduli akan penampilan dan lingkungan sekitar, termasuk perihal apa yang orang katakan tentang dirinya.
"Jaga diri baik- baik, ya. Kamu udah gede, harus udah bisa perhatiin diri kamu sendiri." Ucapan Bunda masih teringat jelas dibenak Luna saat wanita itu kemudian menyeret kopernya dibandara, meninggalkannya dengan mata berkaca-kaca.
Bunda, wanita yang Luna anggap sebagai sosok paling setia yang akan menemaninya kapan saja dikala suka dan duka nyatanya kini menjadi penyebab utama atas segala sikap yang dilakoninya.
Luna patah, parahnya lagi jatuh. Tapi ia beruntung pada masa-masa terkacaunya Opet bersedia mengulurkan tangannya, menjadi tempatnya bersadar dan berkeluh kesah sepuasnya, kendati kata-katanya kadang terdengar pedas dicerna dan terkesan jujur. Seperti kali ini...
"Lo mau pergi ke pantai?" Opet berkacak pinggang seperti emak-emak yang tengah memarahi anaknya, menatap penampilan Luna dari bawah sampai ujung kepala. Ia berdecak. "Ck, ck, ck... bahaya."
Luna mengangkat bahunya acuh. Gadis itu dengan percaya diri hanya menggunakan hotpants dan baju atasan yang bagian pundaknya kekurangan bahan. Kalo Opet khilaf gimana coba? bisa barabe urusannya!
Luna mengerjapkan matanya tanpa dosa. "Salahnya dimana?"
Laki-laki dihadapan Luna itu menggaruk tengkuknya, selanjutnya manarik Luna masuk kembali kedalam kamar.
"Lo mau ngapain?! Kita belum muhrim!" pekik Luna menahan langkahnya diambang pintu, satu tangannya yang terbebas memegang kusen pintu erat.
"Mulut sok suci tapi penampilan udah kayak lonte!" cerca Opet.
"Astagfirullah Opet mulutnya!"
"Dapet kado isinya tomat, bodo amat!"
Setelah beberapa menit mengobrak-abrik lemari Luna yang sama sekali tak tertata. Opet melemparkan kameja hitam kotak-kotak serta celana jeans abu-abu tepat ke wajah Luna. Lantas ia mengusap-usap telapak tangannya seolah baru saja mengobrak-abrik sampah.
"Memangnya lo mau ajak gue kemana, sih?" tanya Luna.
Opet spontan menutup mata dan buru-buru melangkah keluar saat Luna hendak membuka bajunya. Luna hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Tau tempat dong Lun!"
"Ribet lo pet!"
"Buruan! Gue mau bawa lo kutub utara. Mempertemukan lo sama kerabat-kerabat lo disana? Habis itu gue tinggalin lo. Damailah hidup gue."
"Siapa?"
"Beruang."
Tak butuh waktu lama Luna keluar dari balik pintu dengan pakaian yang dipilihkan Opet barusan. Gerah, apalagi cuaca diluar semakin panas. Luna rasanya jadi malas keluar rumah.
"Nah kalo gini kan enak diliatnya." Opet tersenyum bangga.
"Firasat gue gak enak." Selidik Luna dengan tatapan mengintimidasinya.
Opet sudah mengambil langkah menuju depan rumahnya. Meninggalkan Luna yang masih menduga-duga kemana laki-laki itu akan membawanya. Sejauh ini tempat tidur adalah tempat favoritnya. Jadi harusnya Luna tak punya alasan untuk meninggalkannya dan menurut mengikuti Opet.
"Buruan Luna! Gue tinggal nih!" teriak Opet dari luar tak sabaran.
"Gue gak jadi ikut!" sahut Luna, kemudian membantingkan tubuhnya ke atas kasur yang sejak tadi seolah merayunya untuk ia tiduri.
💤💤💤
Gramedia menjadi tempat tujuan Opet membawa Luna secara paksa. Netra gelapnya menyusuri setiap rak buku diekori Luna yang tak berhenti menggerutu tanpa jeda. Beberapa orang sempat menatap mereka risih, lebih tepatnya Luna yang suaranya bak toa.
"Jalan-jalan sih jalan-jalan. Tapi gue enek kalo pemandangannya buku-buku kayak gini. Mending gue tiduran di rumah, nonton anime sepuasnya."
"Males tau gak liat wajah-wajah kolot yang kuker dan sok pinter baca-baca buku."
"Permisi Bu." Luna menggeser tubuhnya, membiarkan seorang gadis berlalu. Raut wajahnya berubah sinis. Apa dia bilang? Ibu? Apa ia terlihat setua itu? Ingin rasanya ia jambak rambut gadis itu.
Opet tertawa geli. "Ibu baringan aja di lantai kalo masih ngotot pengen tidur. Justru alasan saya bawa ibu kesini, biar ibu gak tiduran mulu."
"Opet-"
"Mereka liatin lo dari tadi Lun, jangan banyak tingkah. Bisa-bisa lo yang diamuk mereka udah lo katain kolot." Beritahu Opet.
Luna mengatupkan bibirnya saat itu juga, mengedarkan pandangannya menyadari tatapan sekitar yang menyorotnya tak suka. Luna sadar, ia salah bicara.
"Makanya jangan kesini, ayo pulang aja pet." Luna berbisik.
"Masih ada yang perlu gue cari."
Luna merotasikan bola matanya. "Dari tadi kita muter dari sabang sampai merauke. Lo sebenernya cari apa Opet?!" tanyanya geram masih setengah berbisik.
"Lepay lo Lun. Baru juga 10 menit."
Gadis itu meringis. "10 menit itu terlalu sayang dilewatin cuma buat mondar-mandir."
"Ketemu!"
Luna berjengit kaget. Opet mengangkat sebuah buku tebal bertuliskan "Kumpulan Soal Ujian SMBPTN."
"Nih buat lo." Luna mengerjap saat benda itu berpindah ketangannya, berat.
"Kok gue?" tanyanya tak mengerti menatap Opet, bingung.
"Bentar lagi kita lulus. Lo gak mau tinggal kelas kan?"
Luna hanya diam. Memperhatikan Opet yang masih betah menyusuri setiap rak.
Ia berjalan mendekat. "Tapi ini masih lama, kita baru aja naik kelas 3."
Opet memusatkan seluruh perhatiannya pada Luna. Mengulas senyuman manisnya yang membuat beberapa gadis yang duduk dimeja sudut Gramedia menjerit tertahan. Ternyata sejak tadi mereka memperhatikan Opet juga.
"Apa salahnya siapin sejak awal?" tanya Opet. Agaknya geram, sebab selama ini dirinya yang selalu membantu Luna memahami materi dan mengerjakan tugas sekolahnya. Dan setelah lulus nanti ia tidak akan bisa sering-sering membantunya, terlebih keduanya akan masuk jurusan yang berbeda.
"Gak lulus pun gue gak masalah." Luna berjinjit, berusaha mengembalikan buku itu ketempat asalnya.
Opet menghela nafas sabar. "Lo tuh musti kudu di ruqyah emang. Hidup itu bukan tentang sekedar rebahan, bangun tidur, makan, tidur lagi. Lo mau jadi apa nanti?"
Luna merapatkan bibirnya. Pandangannya jatuh ke lantai. Opet menatapnya heran berusaha memahami pola pikir gadis dihadapannya. Nyatanya kebersamaannya dengan Luna selama hampir 18 tahun tak mampu membuatnya memahami segalanya tentang Luna.
"Gue gak pinter kayak lo pet. Gue juga gak jago masak kayak lo, apalagi bersih-bersih. pokoknya gue gak jago melakukan banyak hal kayak lo. Dan gue juga gak punya siapa-siapa yang nerima gue apa adanya kayak gini selain lo." curhat Luna tanpa sebab.
"Terus, maksud lo ngomong gitu apa?"
Luna mengangkat wajahnya, memandang Opet dengan puppy eyesnya seimut mungkin. Opet masih tak paham. "Gue berniat mau numpang hidup sama lo, boleh ya pet?"
Opet bergidik ngeri. "Najis!" tandasnya semberi menyentil dahi gadis itu.
Luna mencebik kesal mengusap-usap dahinya. "Kok gitu sih ngomongnya. Gue ini cewek, sensitif, omongan lo barusan itu udah bikin hati gue celetat-celetit!" protesnya.
"Dih, baper!"
"Pokoknya pulang dari sini, beliin gue martabak!" tuntut Luna.
"Boleh, tapi pake duit lo."
"Gue miskin!" tekan Luna. Opet hanya memutar bola matanya pasrah. "Ayah lo kaya setidaknya. Gak bersyukur amat jadi manusia!"
💤💤💤
Sesuai permintaan Luna, Opet rela membelikan martabak spesial hanya untuk Luna seorang begitu pulang dari Gramedia asal gadis itu berhenti mengeluh.
Kini keduanya berada ditaman umum salah satu pusat Jakarta. Duduk dihamparan rumput hijau dibawah naungan pohon Tabebuya yang meneduhkan.
Keduanya sama-sama mengedarkan pandangan, memperhatikan segala kegiatan yang ada disekitar. Kebanyakan yang datang sama-sama sekedar menghabiskan waktu hari minggu, tak heran jika sedikit ramai.
"Lo gak niat bagi martabaknya sama gue Lun?" Opet mencebik kesal. Sementara Luna sibuk mengunyah martabak dimulutnya. Pipinya mengembung lucu.
"Mau? Beli sendiri." Gadis itu tergelak seorang diri, hingga akhirnya tersedak. Opet panik, menepuk-nepuk punggung Luna seraya menyerahkan botol air mineral yang buru-buru ditengaknya.
"Kualat! Pelit sih, udah gitu gak tau diri lagi siapa yang beliin lo makanan."
Luna mengerlingkan matanya selagi mengatur nafas. Hampir saja ia mati muda barusan. "Gue gak pelit, lo nya aja yang gak ikhlas terus doa-doain gue biar kayak barusan kan?"
"Dasar tukang fitnah lagi lo Oneng!" Geram Opet, menyumpalkan sepotong martabak ke mulut Luna.
Selagi menunggu Luna menghabiskan martabaknya, Opet mengeluarkan ponsel dari saku. Mengotak-atiknya sebentar kemudian memasukkan benda itu kedalam sakunya lagi. Sebelumnya ia juga mengecek jam yang sudah menunjukkan pukul 3 sore. Waktu berlalu cepat rupanya.
"Lo punya pacar ya, Pet?"
Opet terperanjat begitu ia mengangkat pandangannya, wajah Luna kini tepat berada dihadapannya dengan jarak yang terlalu dekat sekarang.
"Gak usah deket-deket!" decaknya mendorong dahi Luna agar gadis itu menjauh. "Gue gak pacaran!"
"Terus siapa yang manggil lo sayang di whatsapp barusan?" Luna penasaran.
"Lo kayak gak tau gue aja, Lun. Lupa sahabat lo ini banyak yang naksir. Harusnya lo bangga punya sahabat kayak gue."
Kini giliran Luna yang berdecak kesal menghadapi kepercayadirian seorang Opet. Gadis itu merebahkan tubuhnya menyamping dengan meletakkan kepalanya dipangkuan Opet. Opet sendiri tak ambil pusing dan membiarkannya, sudah biasa.
Gadis itu menjatuhkan pandangannya pada pasangan yang duduk dekat kolam. Silih melempar canda tawa. Dikira ia bakal iri apa? Enggak!
"Pet emang mereka semua pada mau sama cowok macam lo? Belum tau aja lo aslinya gimana. Gue yakin sehari aja mereka pasti udah minta putus. Soalnya mulut lo kayak merecon," tutur Luna.
"Lo gak usah meremehkan gue Lun. Yang harusnya ngomong kayak gitu itu gue. Gue khawatir sama pasangan lo nanti. Gue sih gampang, kalo pengen tinggal klik."
Luna mendengus sebal. Menanggapi Opet sama saja mempermalukan dirinya. Opet selalu punya jawaban atas setiap pernyataan yang Luna katakan. Dengan mudahnya mematahkan segala apa yang menurutnya benar. Dan Luna akui selama ia menuruti Opet semuanya berjalan baik-baik saja.
Lalu kini pertanyaannya bagaimana seandainya laki-laki itu memiliki pacar? Bukankah prioritasnya bukan lagi dirinya yang hanya sebatas sahabat?
"Pet, cariin gue pacar!"
"Hah?" Opet melongo.
"Sebelum lo punya pacar, lo harus cariin gue dulu pacar. Minimal kayak lo, yang mau gue susahin, yang mau gue porotin, yang mau bantuin gue bikin tugas, pokoknya yang kayak lo."
Opet mengerjapkan matanya, meneguk ludahnya sendiri saat Luna menatapnya dalam penuh harap.
Luna Kesurupan!
BERSAMBUNG
Menjelang pukul 5 sore, Luna dan Opet memutuskan untuk pulang. Tapi dipertengahan jalan, tak ada angin tak ada hujan Jenie tiba-tiba ngambek, alias mogok. Memaksa keduanya mau tak mau mendorong benda itu sepanjang sisa perjalanan.
"Motor jelek. Nyusahin aja bisanya!" hardik Luna. Kakinya menendang ban motor Opet kesal, setelahnya mengaduh kesakitan.
"Mampus lo," cerca Opet tersenyum puas.
Luna lantas melepas helm dikepalanya brutal, rambutnya yang berantakan tak berniat ia rapikan. "Sial, sial, sial! Semuanya gara-gara lo! Andai aja tadi gue gak ikut."
"Terus, salahin aja gue." Opet ikut geram.
Gadis itu menatap nyalang sahabatnya. "Emang salah!" bentaknya, kemudian berlalu begitu saja melewati Opet.
"Eh, eh, mau kemana? Bantuin dorong ini woyyy!" seru Opet. Luna memutar tubuhnya ogah-ogahan. Penampakannya lusuh, tapi siapa peduli.
"Males! Gue mau cari ojek aja!" pungkasnya sembari mengedarkan pandangan.
Opet mendengus kasar, agaknya lelah menghadapi makhluk spesies macam Luna. "Gak perlu, nanggung bentar lagi juga nyampe. Gak usah manja!"
"Ikhh... capek Opet!" keluh gadis itu sembari menghentak-hentakkan kakinya. Selanjutnya ia mendudukkam pantatnya ditrotoar tanpa ambil peduli. Persis seperti anak kecil yang sedang ngambek. Tolong, Opet jadi malu!
Opet mendesah pelan, Luna jauh lebih merepotkan daripada Jenie.
Beberapa pengendara yang melintas menatap keduanya bergantian. Mengulum bibir menduga spekulasi-spekulasi apa yang terjadi diantara mereka.
"Jangan lesehan disitu. Nanti orang ngira lo gembel beneran. Yuk pulang, bentar lagi udah mau magrib nih." Ajak Opet begitu berdiri dihadapan Luna.
"Gue gak mau jalan lagi, pegel."
Mencoba lebih bersabar, Opet ikut mendudukkan dirinya disamping Luna. Semburat Orange yang mulai menghiasi langit Jakarta tampak indah sore itu, begitu pula lampu-lampu jalan yang mulai menyala disepanjang jalan. Tapi berbagai kegiatan rupanya masih berjalan seolah mereka tak peduli akan waktu dan hari yang akan segera berakhir.
"Opet."
"Hmmm..." Opet bergumam membalas panggilan gadis itu. Pandangannya asik mengedar pada segala kegiatan disekitar, begitu juga Luna.
Gadis itu menghela nafasnya panjang, dagunya bertopang pada kedua telapak tangan yang bertumpu pada lututnya. "Tau kenapa gue gak suka jadi sibuk ataupun suka sama orang-orang sibuk?"
Opet disampingnya bergeming, menatapnya sekilas, membiarkan Luna berbicara lebih dulu.
"Mereka itu munafik. Kayak ayah yang jarang banget dirumah dan terus-terusan kerja. Entah dia lupa atau gak tau letak kebahagiaan anak-anaknya itu bukan sekedar bisa dibeliin apapun. Tapi dengan adanya mereka disamping kita itu udah bisa bikin mereka senang," ungkap Luna dengan lugas tanpa ragu mengatakannya pada Opet.
Opet hanya mengagguk-anggukan kepalanya pelan. Ia paham apa yang selalu Luna rasakan dengan kondisi keluarga yang tak lagi utuh. Luna kesepian. Dan kesibukan orang-orang disekitarnya kerap kali membuat kesendirian dan sunyi dalam jiwanya itu hinggap.
"Waktu bunda milih pergi, Ayah jadi sombong. Berlagak nyaman dengan apa yang ia lakukan, padahal sebaliknya dia capek lakuin itu. Tapi didepan orang lain dia seolah bangga. Munafik' kan."
Tercipta hening diantara keduanya untuk beberapa saat selain dari bising suara kendaraan yang berlalu lalang didepan mata.
"Namanya juga hidup Lun. Semua manusia dituntut kerja keras buat memenuhi hidupnya. Begitu pula mengesamping kebahagiaan."
Luna melirik Opet lewat sudut matanya, mencerna setiap ucapan laki-laki itu dengan baik.
"Contohnya kayak kakek itu, gue tebak dari pagi dia udah dorong-dorong gerobak penuh sampah itu." Dagunya menunjuk seorang pria tua yang berdiri dekat tiang lampu jalan, disampingnya terdapat gerobak penuh kardus-kardus bekas dan beberapa kantong sampah. Luna menatapnya nanar.
"Sekarang dia bisa senyum karena bisa pulang dan dapetin beberapa peser uang buat kebutuhan keluarganya barangkali." Lanjut Opet.
"Seharusnya kakek itu gak layak buat kerja," Luna menimpali, suaranya berubah lirih.
Opet tersenyum tipis tanpa sebab. "Situasi yang menuntut mereka buat kerja keras Lun. Sama kayak ayah lo, dia mau yang terbaik buat lo walaupun caranya bikin lo kesepian. Seandainya ayah lo gak mampu lagi buat kerja, lo mau apa?"
Luna bungkam. Ia kehilangan kata-kata, tatapan matanya sepenuhnya mengarah pada Opet yang tersenyum, menunggu jawabannya.
"Ayah bilang, hartanya cukup buat tujuh turunan. Apalagi kalo gue numpang hidup sama lo, otomatis gue bisa tambah kaya dari hasil morotin lo."
Tawa renyah Opet sukses mengundang beberapa pasang mata disekitarnya. Laki-laki itu menatap Luna geli setelah mendengar jawabannya. "Yeuuu... dasar matre lo!"
Luna hanya diam dengan senyuman dibibirnya. Namun sedetik ucapan selanjutnya yang ia keluarkan berhasil membuat Opet tertegun.
"Makasih pet. Lo mau selalu ada buat gue. Makasih juga lo selalu mengesampingkan kesibukan lo biar bikin hidup gue gak gabut. Gue akui lo... sahabat terbaik gue."
Pfffttt...
Luna spontan menutup hidungnya. "Buset, polusi apa nih baunya kayak gini, busuk!"
Opet terkikik sembari menegakkan tubuhnya. "Ini pertanda kita harus buru-buru pulang."
"Opet! Kentut lo bau!" rengek Luna menampol keras pantat Opet hingga membuat laki-laki itu terjingkat.
Ditengah adegan itu berlangsung, sebuah pengendara motor yang berlalu tiba-tiba saja membunyikan klakson nyaring dengan sengaja.
Tittttt...
Luna terperanjat. "Kampret! Semprul lo!" celanya.
Si pengendara motor lantas menghentikan laju motornya tak jauh dari tempat Luan beridiri. Menurunkan kaca helm full facenya guna membalas tatapan tajam Luna.
"Kasian, mogok ya?" tanyanya dengan nada mengejek. Menyeringai dibalik helmnya.
Luna bersedekap dada, berdecih kesal menatap laki-laki itu.
"Iya! Apa urusannya sama lo!"
Laki-laki itu menatap Opet sekilas yang memasang wajah datar, beralih pada Luna yang wajahnya sudah merah padam.
"Yang sabar Lun. Dorong terus sampe rumah. Gue cuma mau bilang, Mam-pus!"
Luna marah, tangannya terkepal kuat.
"Rega! Gue doain lo nyungsep!" Teriak Luna kemudian, gadis itu meraih kaleng bekas dipinggir trotoar yang tak sengaja ia temukan.
"Udah lah Lun. Gak usah diladenin." Tahan Opet mencekal lengan Luna sebelum benda itu benar-benar dilemparnya yang ditakutkan malah salah sasaran.
"Lagian gak ada kerjaan amat ledekin orang!"
💤💤💤
Luna melempar kantong berisi buku yang dibelikan Opet ke atas kasur asal, disusul tubuhnya yang ikut terlentang begitu saja.
Kakinya yang menggantung bergerak-gerak kecil. Sudut bibirnya tertarik ke atas tanpa sebab. Mengingat hari minggu yang dilewatinya kali ini dengan Opet cukup berkesan. Walaupun beberapa kali ia sempat kesal.
Ting!
Suara notifikasi pesan masuk.
Abang Kampret
| Lun nyalain lampu-lampu depan
| Gue pulang agak malemam
Me
| Gak usah pulang sekalian
Luna memutar bola matanya jengah. Mengingat ucapan Alvian tadi bukankah akan pulang sore, tapi nyatanya lebih dari sore.
Abang Kampret
| Adek biadap
Luna tak lagi membalas pesan Alvian. Gadis itu memilih melangkahkan kakinya ke balkon kamar dan bukannya segera melakukan hal yang diperintahkan sang kakak.
Kepalanya celingukan membidij pada kamar Opet yang bersebrangan dengannya. Gorden jendalanya sedikit terbuka. Tak sengaja Luna mengintip Opet yang hendak membuka bajunya. Sontak Luna menutup mata dengan telapak tangannya cepat, begitu pula Opet yang menyadarinya buru-buru mengenakan baju.
Suara jendela dibuka. Opet melangkahkan kakinya keluar. "Ngintip gue lo ya?"
"Gak sengaja!" elak Luna.
"Heleh, memangnya selama ini gue gak tau apa. Otak lo mesum kan?" selidiknya sembari bersedekap dada.
"Dih, fitnah! Apa buktinya?" Luna tak terima.
"Buktinya tadi lo nepuk-nepuk pantat gue. Terus barusan intip gue lagi buka baju."
Luna geram, bisa-bisanya Opet menuduhnya yang tidak-tidak.
"Heh Opet! Gak usah sok suci deh. Lo bahkan pernah cuma pake bokser lari-lari sama gue waktu bocah."
Opet tersenyum kikuk, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "I-itu kan bocah. Sekarang kita udah gede."
"Anu lo gede juga gak?"
Pertanyaan ambigu itu membuat Opet melotot. "Heh Markonah! Gue aduin abang lo ya!"
"Aduin apaan? Gue buat salah apa? Nah kan, sekarang siapa yang otaknya mesum!"
Disisi lain, seseorang berdiri tak jauh memperhatikan keduanya tanpa Luna ataupun Opet sadari. Ia berdecih menangkap gelak tawa Luna yang menggema.
BERSAMBUNG...