Hari itu adalah musim panas yang membuat gerah. Hujan yang sempat turun membuat cuaca semakin lembab. Sementara bus penuh sesak dengan orang-orang di dalamnya.
Julita Lisna terlihat turun dari bus itu sambil membawa kopernya. Saat dia melihat ke sekeliling, tatapannya mendarat pada Benjamin Lisna -- pria itu sedang berdiri di pintu keluar terminal bus. Dia tampak jauh lebih tua sekarang, dan rambutnya telah memutih. "Ayah," panggilnya, sambil menggigit bibir.
"Ayo, kita pulang. Ibumu telah memasak semua makanan favoritmu untuk menyambutmu." Benjamin tersenyum, sudut matanya berkerut karena kerutan. Kemudian pria itu mengambil koper dari tangan Julita dan memasukkannya ke bagasi mobil.
Namun, tindakan itu membuat napas Julita tersendat.
Benjamin dan Fiona Damanhuri bukanlah orang tua kandungnya karena dirinya hanya anak angkat mereka. Pasangan itu berhenti merawatnya seperti anak mereka sendiri setelah melahirkan seorang putri.
Dia tahu alasan sikap baik dan antusias Benjamin padanya hari ini karena dia dan Fiona mengharapkan dirinya untuk menikahi seseorang, menggantikan adik perempuannya.
Mobil itu pun melaju melalui pusat kota yang ramai dan memasuki sebuah komunitas vila yang mewah.
Kota Alba telah banyak berubah dalam beberapa tahun terakhir ini.
Begitu sampai di tempat tujuan, Benjamin membuka pintu dan memasuki vila sambil membawakan koper Julita.
Julita pun mengikutinya masuk. Begitu menginjak karpet vila itu, dia langsung mendengar seorang pelayan berteriak, "Astaga! Keluar! Kamu mengotori karpetnya. Aku baru saja menggantinya hari ini. Lihat sepatumu! Penuh dengan lumpur. Kamu merusak semuanya."
Julita pun tersentak ke belakang karena mendengar suara yang memekakkan telinga itu.
Dia lalu melangkah keluar rumah dan melihat ke sepatunya. Namun, dahinya segera berkerut ketika dia menyadari bahwa sepatunya tidak kotor.
Pelayan itu sengaja menghinanya.
Saat itu juga, terdengar suara langkah kaki lembut yang bergema di seluruh vila.
Jeslyn Lisna menuruni tangga, memutar-mutar sehelai rambut dengan jarinya sambil melihat ke arah pintu dengan wajah gembira. Namun, senyum di wajahnya langsung membeku saat dia melihat kehadiran Julita di sana.
Dia sudah tidak melihat kakak perempuannya itu selama beberapa tahun - orang tuanya meninggalkan Julita di pedesaan untuk dibesarkan oleh orang lain. Saat ini, dia merasakan gelombang rasa iri yang menyerbu dirinya karena melihat bahwa Julita menjadi lebih cantik sekarang. Jeslyn memang selalu iri pada Julita dan membencinya karena menjadi anak yang paling cantik di antara mereka berdua. Kesenjangan di antara keduanya semakin tumbuh seiring berjalannya waktu.
Jeslyn pun segera memalsukan senyum dan menatap pelayan itu. "Kenapa kamu tidak membiarkan kakakku masuk?"
"Sepatunya penuh dengan lumpur," ucap pelayan itu dengan jijik.
"Tidak masalah. Kamu harus membiarkan kakakku masuk ke rumah bahkan jika dia telah menjadi seorang pengemis tanpa rumah. Kalau tidak, bagaimana kami bisa membicarakan bisnis kami?"
Kata-kata Jeslyn diliputi dengan ejekan. Dia pun berbalik dan berjalan ke ruang keluarga, tanpa repot-repot melihat ke arah Julita.
Sementara pelayan itu berjalan cepat ke lemari sepatu, mengeluarkan sepasang penutup sepatu dari laci, dan melemparkannya pada Julita. "Kamu menganggap dirimu begitu hebat, bukan?" bentaknya dengan kejam. "Pakai itu sebelum menginjakkan kaki ke dalam rumah!"
Penghinaan pelayan itu menembus ke hati Julita. Dia pun mengenakan penutup sepatu plastik itu dan melihat ke atas, amarah terlihat berkobar di matanya.
Dia tidak bisa berdebat dengan mereka sebelum mendapatkan uangnya.
Karena kehilangan nafsu makan, Julita tidak bisa menelan makanannya.
Sementara Fiona duduk di sampingnya, terlihat memesona seperti biasa, bahkan di usianya yang sudah menginjak angka lima puluhan. "Karena kamu sudah memutuskannya, maka pernikahan akan diadakan besok. Tidak apa-apa, kan?"
Julita meletakkan pisau dan garpu, lalu memandangnya. "Aku ingin memastikan satu hal terlebih dahulu. Apa Ibu akan memberiku uang tepat setelah aku menggantikan Jeslyn menikah besok?"
Dia akan menukar pernikahannya dengan uang. Itu adalah keputusan yang mengubah hidupnya. Oleh sebab itu, dia ingin memastikan segala hal sebelum menyetujui untuk menikah.
Benjamin dan Fiona tidak memiliki anak selama beberapa tahun setelah mereka menikah. Karena berpikir bahwa Fiona tidak akan pernah bisa hamil, akhirnya pasangan itu mengadopsi Julita. Namun beberapa tahun kemudian, Fiona hamil dan melahirkan Jeslyn.
Kemudian Fiona mulai membenci Julita dan memperlakukan putrinya lebih istimewa. Dia merasa sudah tidak perlu memiliki anak angkat karena dirinya telah melahirkan seorang anak kandung yang cantik. Karena itu, dia meminta Benjamin untuk meninggalkan Julita di pedesaan di mana dia bisa tinggal bersama pelayan mereka yang sudah tua, Hanni.
Hanni sendiri telah menjadi pelayan setia keluarga Lisna sebelum dia memutuskan untuk pensiun. Wanita itu membesarkan Julita seorang diri, dan hubungan keduanya sudah seperti nenek dan cucu. Namun tiga bulan lalu, Hanni didiagnosis menderita sirosis hati stadium lanjut. Dan sekarang, dia harus menjalani transplantasi hati. Prosedur medis itu mahal, dan mereka membutuhkan biaya yang besar untuk menyembuhkannya. Waktu mereka terbatas. Mereka tidak bisa menunda operasi lagi.
"Kita kan keluarga, mengapa kamu selalu berbicara tentang uang? Jangan khawatir. Aku akan memberimu semua uang yang kamu butuhkan. Kamu hanya perlu untuk menikah secepatnya." Ada sedikit ketidaksabaran dalam nada lembut Fiona.
Dia membenci Julita. Dulu, alasannya mengadopsi Julita hanya karena dia berada di bawah tekanan besar. Keluarga Lisna mengejeknya, dan juga, kehadiran Julita sudah seperti bukti nyata atas ketidaksuburannya. Hanya dengan melihat Julita saja sudah membuatnya marah.
Seiring berjalannya waktu, Julita tumbuh menjadi wanita yang lebih baik daripada putrinya dalam setiap aspek yang semakin meningkatkan kebenciannya terhadap Julita.
Jika bukan karena pertunangan antara putri kandungnya dengan anak haram dari keluarga Lukito, maka Fiona tidak akan mau membawa Julita kembali dari pedesaan. Dia percaya orang buangan seperti gadis itu pantas tinggal di pedesaan.
"Kami bilang kami akan memberimu uang, dan kamu akan mendapatkan uangnya, oke? Dasar pengemis bodoh!" dengus Jeslyn.
"Kalian membayarku dan aku melakukan pekerjaannya. Adil dan jujur," ucap Julita sambil mengerutkan kening.
Meskipun jarang menunjukkan kemarahannya di depan anggota keluarga Lisna, tetapi bukan berarti Julita bisa diperlakukan seenaknya.
Dia juga telah mendengar tentang pria yang akan dinikahinya besok. Namanya Erwin Lukito, anak di luar nikah dari keluarga Lukito. Pria itu telah bertunangan dengan Jeslyn sejak mereka masih anak-anak.
Namun, Jeslyn adalah wanita yang sombong. Dia tidak akan pernah menikahi seorang anak di luar nikah. Apalagi, ada rumor yang beredar mengatakan bahwa keluarga Lukito telah mengusirnya beberapa tahun lalu. Pria itu tidak memiliki pekerjaan yang layak dan berjuang begitu keras untuk menghidupi dirinya.
Meskipun Julita tampak tenang, pikiran untuk menikahi pria seperti itu juga membuatnya takut. Namun, dia harus melakukan ini demi menyelamatkan nyawa Hanni. "Jangan khawatir. Aku akan menikahinya besok."
Keesokan harinya, Julita pergi ke sebuah gereja kecil di pinggiran kota sendirian dengan mengenakan gaun terusan berwarna putih yang sederhana.
Dia tidak repot-repot menyewa sebuah gaun pengantin karena tidak mau mengeluarkan uang untuk membayarnya. Julita harus membayar biaya pengobatan untuk operasi Hanni.
Dia membeli satu buket bunga anyelir berwarna putih di toko bunga dan meminta sang penjual untuk memberinya tambahan pita sutra putih, yang kemudian digunakannya untuk mengepang rambutnya. Julita tampak begitu murni dan polos.
Hari ini adalah pernikahannya. Hampir semua kursi di gereja itu masih kosong -- hanya beberapa orang saja yang menghadiri pernikahan itu.
Benjamin dan Fiona sesekali melirik ke gerbang dengan napas yang tertahan.
"Mengapa pengantin pria dan keluarganya belum datang juga?" keluh Fiona sambil mengerutkan kening dan melirik ke kursi-kursi yang kosong.
Dia mengenakan sebuah gaun yang sangat bagus hari ini. Gaun ungu muda dengan riasan halus yang menonjolkan fitur-fitur wajahnya -- dia tampak menakjubkan
"Mungkin di jalan sedang macet. Kita tunggu sebentar lagi, ya."
Sepertinya keluarga Lukito tidak menganggap serius pernikahan ini. Namun, Julita tidak ambil pusing. Yang diinginkannya hanyalah uang yang dijanjikan Fiona untuk diberikan padanya setelah pernikahan.
Beberapa saat kemudian, Jeslyn tiba. Wanita itu berjalan masuk ke gereja mengenakan gaun rancangan khusus dilengkapi dengan perhiasan mahal, sambil memegang lengan pacarnya. Dia berjalan dengan arogan ke arah Benjamin dan Fiona seolah ingin memberitahu mereka bahwa pacarnya seribu kali lebih baik daripada Erwin.
"Itu Julita, kakak perempuanmu?" tanya pacar Jeslyn, menganga kagum ketika melihat Julita. Kecantikannya yang murni tampaknya memikat pria itu.
Mendengar pertanyaan pacarnya, Jeslyn langsung menggertakkan gigi. Sejak mereka memasuki gereja, pacarnya terus menatap ke arah Julita. Tentu saja dia tidak bisa menoleransinya. Begitu mudahnya Julita menarik perhatian pacarnya hanya dalam beberapa menit.
Rupanya tidak ada yang berubah bahkan setelah bertahun-tahun berlalu. Julita selalu berhasil memikat hati semua orang dengan pesonanya. Orang-orang selalu memerhatikannya daripada Jeslyn.
Rasa iri pun langsung muncul. "Kamu kenapa, sih?" geram Jeslyn. "Percaya atau tidak, aku akan mencungkil matamu. Bisa-bisanya kamu tertarik pada wanita kampung?" desis Jeslyn pada pacarnya.
"Kenapa Erwin, si anak di luar nikah itu belum muncul juga?" Hidungnya mengernyit jijik. "Pria itu bahkan terlambat di pernikahannya sendiri. Bagaimana nantinya dia bisa diandalkan? Keluarganya juga masih belum ada yang datang. Sepertinya mereka benar-benar tidak peduli padanya."
Jeslyn adalah seorang putri di rumahnya. Tidak ada yang akan menegurnya karena berkomentar kasar seperti itu. Namun saat ini, mereka sedang berada di tempat umum, dan dia adalah adik perempuan dari pihak pengantin wanita. Perilakunya yang kasar dan lancang langsung menjadi topik pembicaraan orang-orang yang hadir di sana.
Jadi, Julita mengangkat ujung gaunnya dengan lembut dan melangkah maju. Selama ini Julita telah menoleransi semua tingkah Jeslyn terlepas dari betapa arogan dan tidak berperasaannya wanita itu di masa lalu. Namun, dia sudah tidak sanggup menghadapi omong kosongnya lagi. "Jeslyn, jangan sebut siapa pun anak di luar nikah! Kamu berada di gereja sekarang. Jaga bahasamu! Kamu tidak tahu caranya bersopan santun?"
Jeslyn pun tercengang. Dia belum pernah melihat Julita membentaknya seperti ini, wanita itu selalu bersikap toleran terhadapnya.
Mendengar ucapan Julita, seluruh orang di dalam gereja pun terdiam. Tiba-tiba, gerbang gereja berderit terbuka.
Seorang pria tinggi terlihat melangkah masuk. Sinar matahari yang menyilaukan mempertegas bentuk tubuhnya yang ramping.
Saat gerbang gereja ditutup lagi, pria itu lalu melihat ke atas. Matanya yang dalam menyapu ke kerumunan, sementara bibirnya mengerucut menjadi garis tipis. Dia lalu mengancingkan jas dan merapikan mantelnya seolah-olah dia datang ke sini dengan tergesa-gesa.
Sinar matahari memancarkan cahaya lembut di wajahnya yang tampan. Pria itu begitu tampan seolah-olah Tuhan telah mengerahkan segala upaya untuk menciptakannya. Semua mata pun tertuju padanya seakan-akan dia telah menyihir semua orang yang ada di gereja.
Semua orang menatap pria itu dengan takjub. Dia tampak memancarkan pesonanya tanpa perlu bersusah payah.
Kedua mata Jeslyn pun langsung berbinar. Dia menduga pria tampan itu adalah salah satu dari dua kakak laki-laki Erwin. Keluarga Lukito adalah salah satu keluarga paling berpengaruh di kota ini. Namun mau bagaimanapun, Erwin adalah anak di luar nikah dari keluarga berpengaruh itu, sehingga Jeslyn merasa dia tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk dibandingkan dengan anak sah dari keluarga berstatus tinggi itu. Pria di depannya tampak menawan dan agung yang membuatnya berpikir bahwa dia pastilah sang pewaris sah keluarga tersebut.
Ketampanan dan pesonanya begitu mengejutkan dan membuatnya jadi bersemangat. Selama ini Jeslyn selalu menganggap pacarnya tampan, tetapi anggapan itu memudar ketika dibandingkan dengan pria di depannya ini.
Jeslyn pun berjalan ke depan dan menyapa pria itu. "Apa kamu kakaknya Erwin?" Hanya dengan menatap mata pria itu saja sudah membuatnya merona. "Yah, keluarga pengantin pria belum datang, jadi silakan duduk. Pernikahan masih belum akan dimulai."
Sebenarnya Jeslyn sangat ingin meminta nomor telepon pria itu, tetapi dia tidak berani melakukannya ketika pacarnya sedang bersamanya.
Namun, pria itu hanya menatap datar Jeslyn. Dia mengabaikannya dan langsung pergi menuju Julita.
Sikap tak acuhnya membuat wajah Jeslyn terbakar karena malu. Perasaan malu-malu dan bersemangatnya tadi langsung menghilang dalam sekejap.
Dia pun kembali ke tempat duduknya dengan marah. Matanya terbelalak ngeri saat melihat pria tampan itu berdiri persis di samping Julita. Saat itulah dia menyadari satu hal: pria itu tidak lain adalah sang mempelai pria, Erwin.
Jeslyn pun menggelengkan kepalanya tak percaya. 'Bagaimana bisa Erwin terlihat setampan ini?'
Dia lalu membungkuk dan berbisik di telinga Fiona, "Ibu, kenapa Ibu tidak mencarikan foto Erwin untukku? Jika tahu seperti apa tampangnya, aku tidak akan meminta Julita menikah dengannya untuk menggantikanku."
Mendengar ucapan putrinya, Fiona langsung memejamkan mata dan mengembuskan napas dengan keras, menggelengkan kepalanya tidak setuju. Kemudian, dia berbalik dan melemparkan pandangan kesal pada putrinya. "Kamu ini masih muda. Nanti ketika kamu sudah dewasa, kamu akan tahu bahwa penampilan seorang pria adalah hal yang paling tidak penting. Erwin adalah pecundang -- dia bahkan tidak memiliki pekerjaan yang layak. Dia adalah orang bodoh tak berguna yang tidak memiliki kehidupan, dan dia adalah pasangan yang sempurna untuk Julita. Karena keduanya akan selalu menjadi yang terbuang untuk selamanya."
Setelah mendengar ucapan ibunya, Jeslyn memutuskan untuk tak perlu membalasnya. Namun, dia tetap membenci kenyataan bahwa Julita akan menikah dengan seorang pria tampan. Pria itu tampak seperti seorang bintang film.
Sementara Erwin berjalan ke Julita dan mengamati wajahnya. "Aku terlambat karena aku harus menyelesaikan beberapa urusan pribadi," ucapnya datar sambil menggaruk alisnya.
"Tidak masalah." Julita memang tidak keberatan. Dia merasa senang mengetahui bahwa Erwin adalah pria yang tampan. Setidaknya ada sesuatu yang baik tentang dirinya.
Saat dia berbalik, matanya tertuju ke arloji Patek Philippe di pergelangan tangan Erwin yang berkilauan terkena sinar matahari.
Meskipun Julita dibesarkan di pedesaan, tetapi dia tidak sepenuhnya bodoh. Hanya dalam sekali lihat, dia langsung mengetahui bahwa arloji itu bernilai setidaknya sepuluh miliar. Alisnya pun terangkat karena terkejut.
Semua orang memberitahunya bahwa Erwin adalah pria yang sangat miskin. Itulah alasan utama mereka ingin Julita menikah dengannya. Lantas bagaimana dia bisa membeli arloji yang begitu mahal?