"Tak ada yang lebih melelahkan dari kata 'menunggu', tetapi kata 'Bertahan, walau tak diakui' itu rasanya lebih melelahkan." --- Dilara Atma Melisia.
***
Dilara mengulas senyum hangat memandang seorang laki-laki bersurai cokelat dengan gaya quiff tengah berlari di lapangan sambil membawa bola basket. Gayanya yang cool dan wajah tampan, membuat siapa saja yang memandang laki-laki itu akan jatuh hati. Terutama para gadis yang kini sedang memiliki kesempatan karena bisa menatap wajah tampan tersebut dengan lebih lama.
Sorakan terdengar bergemuruh di lapangan basket indoor milik Universitas Jawara. Poin terakhir didapatkan oleh Jawara saat Keenan si kapten basket berhasil memasukkan bola ke dalam ring sang lawan.
Hati Dilara merasa bahagia melihat kemenangan di tim basket kampusnya. Kakinya ingin melangkah menghampiri Keenan, tetapi ia urungkan saat para gadis mulai mengerumuni seraya memberi hadiah, minum, atau sekadar ingin foto bersama dengan laki-laki berpangkat kapten basket itu.
Jujur saja ia merasa cemburu melihat laki-laki itu selalu dekat dengan gadis lain. Tepukan di bahu membuat ia menoleh ke samping di mana sang sahabat berdiri.
"Enggak usah heran, Keenan emang gitu. Dia femes banget, sih. Sering dikerumuni sama cewek," ujar Jelita.
Dilara hanya mengulas senyum tipis. Ia sudah tahu kalau soal kepopularitasan Keenan di kampus, selain pintar dalam bidang olahraga. Laki-laki itu juga sangat pintar dalam bidang akademik, hingga membuatnya sangat popular.
Mata Dilara berbinar saat Keenan menatap ke arahnya. Namun, kebinaran tersebut meredup tatkala laki-laki itu membuang muka seolah-olah mereka tak saling kenal dan berlalu begitu saja.
"Lo kenapa, La? Setiap lo ngeliat Keenan, muka lo kayak yang sedih gitu," papar Jelita menyamakan langkahnya di samping Dilara.
Dilara tak menjawab. Wajar saja ia merasa sedih saat melihat laki-laki itu selalu dikerumuni oleh gadis lain. Apalagi kalau soal acuh tak acuh dengan sikapnya. Toh, ia merupakan kekasihnya tanpa diketahui oleh teman-teman kampus. Tak ada yang tahu mengenai hubungan ia dan Keenan. Laki-laki itu enggan mengumbar status resmi mereka di depan khalayak ramai.
Padahal ia ingin sekali memiliki hubungan yang indah dan penuh akan cinta. Akan tetapi, angannya hanyalah semata saja. Keenan berbeda dengan laki-laki lain, sangat berbeda.
"Lo kayak punya beban berat, La," tutur Jelita. Gadis bermata sipit itu tak henti-hentinya mengoceh demi bisa mendapatkan jawaban dari Dilara.
Dilara menghentikan langkahnya saat sampai di depan kelas. Lima belas menit lagi, mata kuliah tentang pembangunan yang ia ambil akan segera dimulai. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu, karena di mata kuliah inilah ia bisa mengejar berbagai tugas untuk wisuda dan mendapat beasiswa kembali.
"Aku ada kelas, kamu enggak masuk mata kuliah pembangunan?" tanya Dilara menatap Jelita.
Jelita memanyunkan bibirnya, ia merasa kesal karena pertanyaannya telah diabaikan. Kini malah Dilara mengalihkan pembicaraan.
"Gue enggak ngambil itu. Kalo lo ada kelas, yowes masuk, dah. Nanti kita ketemu di kantin aja."
"Oh ya, satu lagi. Dosen pembangunan sudah diganti, bukan Bu Herti lagi. Gue denger, sih, tuh dosen irit kali ngasih nilai."
Dilara mendelik tajam, lalu mencubit pelan lengan Jelita karena telah mmbicarakan orang lain yang belum tentu seperti itu faktanya.
Sebelum tangannya memerah, Jelita lebih dulu menghindar dan tertawa kecil saat berhasil kabur dari Dilara. Sementara Dilara ia hanya menatap punggung mungil milik Jelita yang sudah menjauh. Lalu berjalan memasuki kelasnya.
***
Setelah mata kuliah pembangunan telah usai. Dilara melangkah menelusuri koridor untuk sampai di perpustakaan, mengingat ada buku yang ingin ia baca. Rumor mengenai dosen pembangunan yang tegas dan pelit nilai memang ada benarnya. Semoga saja ia bisa menyelesaikan tugas dengan baik dan mendapatkan nilai yang lebih baik di mata kuliah tersebut. Langkahnya memelan saat sorot mata tak sengaja tertuju pada Keenan yang tengah berkumpul bersama teman-teman tongkrongan laki-laki itu.
Buru-buru Dilara kembali melangkah menjauh ketika tak sengaja Keenan juga tengah menatap dirinya. Ia tidak mau membuat sang kekasih kesal karena kehadirannya di depan teman-teman laki-laki itu.
"Gue udah pernah ngingetin sama lo, 'kan? Jangan mandang gue lama pas gue lagi kumpul."
Suara berat milik seorang laki-laki yang sedang dihindari kini menyapa di telinga. Membuat tubuh Dilara menegang bersamaan berbalik menghadap Keenan yang tengah berdiri sambil memasukkan tangan ke saku jaket.
"M--maaf," ucap Dilara terbata-bata.
Keenan menatap acuh tak acuh pada Dilara. Ekor matanya melirik ke kanan-kiri mengawasi keadaan sekitar takut ada yang melihatnya berbicara dengan Dilara. Ia enggan jika hubungannya dengan gadis itu diketahui oleh orang lain.
Keenan berdecak kesal. Ia menarik tangan Dilara menuju belokan kiri di mana jalan menuju gudang belakang. Gadis itu berusaha menepis cekalan di tangannya, menatap wajah Keenan dengan bingung.
"K--kamu kenapa, sih?"
"Gue nyesel nge-iyain lo kuliah di sini," ujar Keenan menatap Dilara tanpa ekspresi.
Dilara mengembuskan napas kasar mendengar kalimat itu. Waktu ia mendapatkan beasiswa, ia sama sekali tidak tahu bahwa ia akan satu kampus dengan Keenan. Jika ia tahu dari awal, mungkin ia akan menolak dan menunggu kesempatan kedua.
"Kamu takut kalo hubungan kita diketahui oleh orang lain?" Dilara bertanya seraya menunduk. Enggan menatap manik mata Keenan yang tampak dingin.
"Inget, Ra. Lo itu cuma pelampiasan gue, jangan mimpi yang tinggi-tinggi."
Dada Dilara terasa sesak mendengarnya. Padahal dulu, Keenanlah yang mengejar dirinya untuk dijadikan kekasih. Namun, lama kelamaan sikap laki-laki itu terendus; kasar, tempramen, dan tidak bisa ditebak.
Sudut bibir Dilara tertarik ke atas membentuk senyuman kecil. Wajahnya berseri menatap Keenan. Ia tidak boleh menyerah, sebelum mendapatkan hati laki-laki itu. Terutama ingin dicintai. Susah payah ia bersabar dan bertahan, kini ia hanya perlu berjuang agar mendapatkan cinta dari Keenan.
"Enggak apa-apa. Nanti juga kamu bakalan cinta sama aku," ucap Dilara mengulas senyum kecil. Ia sangat percaya diri bahwa ucapannya akan terkabul, berbeda kalau bagi Keenan.
"Lo jangan terlalu berharap, Ra. Nanti jatuhnya lo malah kecewa sama gue."
"Keen lupa? Aku kuat dan sabar, buktinya aku masih kuat menjalin hubungan sama kamu." Senyum Dilara memudar. "Ya ... walaupun ada hati yang terluka setiap harinya, Keen," lanjut Dilara melanjutkan dalam hati.
"Bodo amat! Gue enggak mau tahu. Satu lagi, gue enggak mau lo sok akrab sama senior atau teman satu kelas lo. Kalo sampe gue liat lo jalan bareng sama senior cowok atau temen kelas." Keenan mencodongkan tubuh ke depan, bibirnya tertarik ke atas membentuk seringai tipis. "Lo bakalan habis di tangan gue," desis Keenan.
"Kalo aku enggak boleh deket sama mereka. Seharusnya kamu juga harus bisa jaga jarak sama cewek lain," ujar Dilara mengemukakan kalimat yang selalu ia tahan saat tak sengaja melihat Keenan selalu berduaan dengan gadis lain.
"Lo siapa ngatur-ngatur? Yang cuma bisa ngatur di sini itu gue, bukan lo!"
Dilara mengembuskan napas kasar. Merasa sedih karena tak diakui sebagai kekasih oleh Keenan. Tidak ada kisah kasih yang membahagiakan, selalu saja menyesakkan. Terlebih lagi ia hanyalah bahan pelampiasan saja.
"Aku membenci diriku sendiri. Saat tak bisa melawan sisi lemahku sendiri." --- Dilara Atma Melisia.
***
Setelah bicara dengan Keenan yang hanya terkesan meninggalkan luka. Dilara melangkah menuju kantin untuk bertemu dengan Jelita. Ia juga mengurungkan niat awal yang ingin mengambil bahan buku bacaan di perpustakaan.
"Kok lama? Lo abis dari mana?" tanya Jelita saat Dilara sudah sampai di hadapan gadis itu.
Dilara tak membalas, ia mengambil posisi duduk di hadapan Jelita. "Kamu sudah pesan makan?"
Jelita mengangguk mengiyakan, sedangkan Dilara tak membalas. Membuat Jelita memicingkan mata menatap Dilara.
"Gimana dosen barunya?" tanya Jelita yang membuyarkan lamunan Dilara mengenai sosok Keenan.
"Kamu bener, dia bakalan pelit nilai … tapi kalo sama anak-anak yang malas dan tidak disiplin."
"Yeh, gue cuma dengar dari anak-anak."
"Makanya sebelum dengar berita kudu dengerin juga faktanya."
Jelita kembali memakan makanan yang ia pesan. Begitu juga dengan Dilara yang berjalan menuju tempat pemesanan mencari makanan yang enak, hingga tak sengaja ia menabrak seseorang yang sedang membawa segelas kopi. Atensi anak-anak kini tertuju pada Dilara juga seorang laki-laki jangkung bertubuh atletis dan bersurai cokelat kehitaman dengan gaya Front fringe.
"Punya mata enggak sih lo!"
Dilara tersentak mendengar bentakan dari laki-laki itu. Matanya membulat saat melihat siapa yang tak sengaja ia tabrak---Alzeyano Xida, si kakak senior sekaligus teman dari Keenan.
"Ma--maaf, Kak. Saya enggak sengaja," ucap Dilara seraya menunduk takut.
"Maaf kata lo?" Alze tampak emosi, ia sangat tidak suka bila bertemu dengan orang yang ceroboh. Kopi yang baru saja dipesan kini hanya tinggal tersisa. Membuat ia membuang gelas plastik bekas kopi tersebut ke lantai tepat di bawah kaki Dilara.
Keenan yang juga berada di kantin hanya diam menyimak tanpa berniat ingin membantu. Dilara meringis saat kakinya terkena tumpahan air panas dari kopi. Mahasiswa-wi lain pun hanya bisa menonton, mereka tidak bisa berbuat apa pun. Mengingat Alze merupakan berandal dan tukang bully anak-anak lemah.
"A--aku bakalan bersihkan jaket, Kakak." Dilara mengeluarkan tisu dari dalam tas, berniat ingin membersihkan noda kopi di jaket Alze. Namun, belum juga sampai di arah noda tersebut. Alze sudah lebih dulu mencengkeram lengan Dilara.
"Gue enggak minta lo buat bersihin," desis Alze, matanya memandang wajah Dilara. Ia merasa asing dengan wajah gadis itu, bahkan sampai belum pernah melihatnya.
"Lo anak baru?" tanya Alze menatap tajam ke arah Dilara.
Jelita yang baru saja selesai menghabiskan makanannya, kini turut melihat apa yang terjadi dalam kerumunan tersebut. Bola matanya membulat terkejut melihat Dilara tengah dipegang tangannya oleh Alze.
"Duh, kalo sama Alze gue enggak bisa bantu," gumam Jelita.
Dilara menepis pergelangan tangannya yang dicengkeram. Ekor matanya melirik ke arah Keenan yang diam saja seperti patung. Ia yakin bahwa sekarang laki-laki itu tengah menahan amarah ketika tangannya dicengkeram oleh Alze.
"Dia anak beasiswa, Ze. Maklum lo enggak pernah liat dia di Ospek," sahut laki-laki bersurai hitam dengan gaya Man Bun, memiliki bulu mata lentik, serta alis lebat---Gemilang Azriel Yasa.
"Pantes, enggak tau sopan santun!"
"Sekali lagi saya minta maaf, Kak. Saya akan bertanggung jawab atas kecerobohan saya," ujar Dilara terdengar gugup berhadapan dengan Alze.
Alze melepaskan jaketnya, lalu melempar ke hadapan Dilara tanpa rasa kasihan. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk seringai tipis. Dilata menerima jaket tersebut, dengan susah payah ia menahan air matanya agar tak menetes di hadapan semua orang.
"Lo cuci jaket itu sampai bersih dan jangan sampai warnanya luntur! Kalo lo buat jaket gue luntur." Alze menjeda, ia melangkah maju satu langkah. "Lo bakalan jadi incaran gue buat jadi bahan bully!"
Alze, Gemi, dan Keenan melangkah meninggalkan kantin. Setelah sepeninggalan geng Alze, kantin kembali bising. Dilara mengembuskan napas kasar, menyesali diri sendiri yang begitu ceroboh tak memperhatikan jalan. Ia juga merasa sakit hati karena Keenan tak mau membelanya, laki-laki hanya diam sambil menyimak saja.
Mengharapkan pembelaan dari Keenan rasanya mustahil. Menganggap hubungan mereka saja saja ia enggan, apalagi jika harus membela ia di depan teman-temannya. Dilara melangkah keluar kantin, selera makannya tiba-tiba saja hilang.
"La, mau ke mana?" Pertanyaan Jelita mengejutkan Dilara. Gadis itu melirik ke samping mendapati sang sahabat.
"Toilet, mau bersihkan jaket laki-laki tadi," balas Dilara.
"Terus kaki lo kenapa? Kok pincang?" Jelita menghentikan langkah kaki Dilara, saling berhadapan satu sama lain.
"Enggak apa-apa, kok. Cuma kesemutan." Dilara berbohong mengenai kakinya yang terkena tumpahan kopi panas. Ia juga menyesali diri yang memilih pakai sandal tali daripada sepatu.
"Lo mulai sekarang harus hati-hati sama Alze. Lo 'kan udah satu tahun di sini, masa lupa siapa Alze. Apalagi sama gengnya itu."
Dilara hanya tersenyum tipis. Jujur saja ia tak terlalu mengingat siapa saja yang harus dihindari di sini. Ia terlalu sibuk mengejar nilai dan memahami materi saja tanpa mengetahui berbagai gosip di Jawara.
"Aku akan hati-hati. Aku ke toilet dulu, ya. Kamu mau ikut?"
"Enggak, deh. Soalnya lima belas menit lagi gue ada kelas Pak Tono."
"Ya sudah, aku pergi dulu. Sampai ketemu di kosan, ya." Dilara melangkan menuju toilet dengan kaki menahan perih.
Baru saja ingin berbelok, tangannya sudah ditarik oleh seseorang dengan kasar menuju parkiran timur. Tempat parkir tersepi di kampus. Dilara berusaha mengikuti langkah dari laki-laki itu.
"Lepas, Keen! Ini sakit," keluh Dilara seraya meringis. Bukan hanya pergelangan tangannya saja, kakinya pun masih perih.
Keenan tak memedulikan keluhan dari Dilara, ia menarik kasar lengan gadis itu hingga sampai di depan mobil Jazz berwarna hitam. Ia membuka mobil tersebut, mengkode melalui ekor matanya agar Dilara masuk.
"Kita mau ke mana?"
"Masuk!" bentak Keenan.
Dilara menurut, memasuki mobil Jazz tersebut. Jujur saja ia paling lemah jika sudah dibentak, bahkan ia benci pada dirinya sendiri karena terlalu mudah tumbang ketika sudah dibentak.
Keenan memutari mobil menuju tempat kemudi, memasukinya. Ia menyalakan mesin, menginjak pedal gas, dan melaju keluar dari pemukiman kampus membelah jalanan kota dengan kecepatan diatas 60km/jam.
Jantung Dilara berdegup sangat cepat ketika Keenan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, juga menyalip kendaraan lain, terutama truk dan bus. Sungguh, Dilara belum ingin mati sekarang. Ia masih ingin meraih gelar sarjananya. Hatinya sangat yakin bahwa Keenan sedang marah. Apalagi kilatan amarah tertahan terpatri dengan jelas di manik mata laki-laki itu.
Kini Dilara hanya bisa berdoa agar amarah yang ada pada diri Keenan cepat mereda. Ia belum siap menerima perlakuan kasar atau bentakan dari laki-laki itu. Walaupun selama satu tahun ini ia pernah mendapatkan perlakuan kasar tersebut.
"K--keen---"
"Lo diam! Jangan bikin gue tambah marah!" Keenan kembali fokus menyetir dan menambah kecepatan mobilnya.
Membuat Dilara menelan salivanya sendiri dengan susah payah. Ia memejamkan mata, berbagai ucapan istighfar diucapkan dalam hati.
"Ya Tuhan, kuatkanlah pundak hamba," batin Dilara.
Air mata yang sempat bersembunyi di pelupuk mata kini jatuh menetes membasahi pipi tanpa diperintah. Dilara pasrah ditarik oleh Keenan menuju apartemen milik laki-laki itu. Untung saja tak ada banyak orang di sekitar apartemen, jika iya maka Dilara akan menanggung malu karena tak bisa melawan.
Tubuh Dilara tersungkur ke lantai saat Keenan mendorongnya sesampai di dalam. Air mata yang tadinya hanya setetes kini menjadi deras. Sementara Keenan, ia hanya menatap dengan dingin. Seakan tidak peduli dengan rasa sakit yang dirasakan oleh Dilara.
"Enggak usah nangis!"
Dilara berhenti menangis, memberanikan diri menatap Keenan yang sedang berdiri di depannya. Lalu kembali menunduk seraya menyeka air matanya.
"Bangun!" perintah Keenan.
Tak ingin menambah kemarahan laki-laki itu. Dilara beranjak bangun dari duduk, tubuhnya bergetar merasakan hawa di sekitar mendadak mencekam. Apalagi aura Keenan benar-benar menakutkan.
Dilara terkejut saat Keenan menarik tangannya mendekat mengenai dada bidang laki-laki itu. Manik mata abu-abunya kini menggelap, amarah tertahan terpatri.
"Ke-keen … ini s-sakit," ucap Dilara melirih, merasakan pergelangan tangannya dicekal dengan erat.
"Sudah berapa kali gue bilang? Lo boleh kuliah di sana, asalkan jangan berhubungan sama temen-temen gue. Apa lagi sampe cari masalah." Keenan menarik jaket milik Alze yang masih dipegang oleh Dilara. Kemudian, melemparnya ke sembarang arah.
"I--itu jaket temen kamu. Lepas! Nanti jaketnya rusak dan tambah kotor." Dilara berusaha memberontak, tetapi Keenan malah kembali menariknya dengan kasar.
"Lo lebih mentingin jaket orang, apa gue pacar lo?"
Dilara bergeming, memejamkan mata sekilas guna meredakan rasa sakit di pergelangan tangannya. Ia terkejut saat Keenan menangkup wajahnya, tatapan mereka saling bertemu.
"Gue enggak mau lo terlibat masalah sama mereka."
Dilara mengulas senyum tipis. Menggenggam tangan Keenan yang berada di pipinya. Lalu mencoba mengendurkan cekalan di pergelangan tangannya, hasilnya pun berhasil. Ia mencium punggung tangan laki-laki itu seraya menyeka air mata yang sempat jatuh setetes.
"Maaf, tapi tadi aku enggak sengaja nabrak dia. Aku janji, aku enggak akan terlibat masalah sama dia."
Keenan melepaskan genggaman tangan dari Dilara. Menatap acuh tak acuh pada gadis itu. "Gue enggak butuh janji, tapi bukti."
Dilara mengembuskan napas kasar. Susah rasanya bernegosiasi meminta maaf pada Keenan.
"Kalo sampe gue liat lo masih terlibat sama Alze. Gue enggak akan segan-segan ngelakuin hal kasar lebih dari ini," desis Keenan.
Laki-laki itu kembali menarik tangan Dilara menuju ruang tamu. Menyuruh duduk gadis itu dengan kasar. Mau tidak mau Dilara hanya menurut, ingin melawan pun rasanya percuma saja. Kekuatannya tak sebanding dengan laki-laki itu.
Keenan merebahkan diri di sofa panjang dengan bantalan kaki bagian atas milik Dilara. Membuat Dilara mengulas senyum kecil saja. Wajah lelah sangat kentara di wajah laki-laki itu.
"Gue capek! Kayak gini dulu sebentar."
Tangan Dilara mengusap rambut hitam milik laki-laki itu, sedangkan laki-laki itu tampak sedang memejamkan mata. Seolah-olah sedang menghadapi beban berat.
"Kamu ada masalah?"
"Walaupun gue ada masalah, lo enggak akan bisa nyelesainnya! Mending lo diem, gue mau tidur."
Dilara hanya mengulas senyum tipis. Keheningan kini tercipta di antara mereka. Keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Tiba-tiba saja ingatan awal di mana hubungan mereka dimulai terlintas begitu saja. Membuat Dilara mengulas senyum miris saja.
"Sejujurnya kamu ini cinta enggak sama aku? Kenapa sikapmu selalu kasar? Enggak pernah baik."
"Gue cuma jadiin lo pelampiasan, enggak lebih. Kalo gue bosen, gue bakalan buang lo dan sikap gue emang kasar," gumam Keenan dengan mata terpejam.
Dilara tak membalas, ia menatap lekat wajah dari laki-laki itu, hidung mancung, bibir ranum, dan bulu mata lentik. Tak lupa juga dengan kulit kuning langsat, menambah kadar maskulin saja.
"Gue emang ganteng. Enggak usah natap lekat gitu," ucap Keenan seraya menatap wajah Dilara.
Dilara kegelagapan, ia salah tingkah karena ketahuan sedang menatap laki-laki itu sedemikian rupa. Jujur saja, ia sangat mengagumi wajah kalem dan tampan milik Keenan. Namun sayang sikap kasarnya-lah yang tak disukai oleh Dilara.
"Aku lapar, Keen," ujar Dilara memecahkan jeda yang sempat tercipta di antara mereka.
"Aku pulang, ya." Dilara beringsut dengan pelan, tetapi Keenan sudah lebih dulu bangun.
"Gue enggak nyuruh lo buat pulang, lo enggak suka berduaan sama gue?"
"B--bukan gitu, Keen. Aku pulang, karena aku harus mengerjakan tugas kuliah. Bukan enggak mau berduaan sama kamu," ucap Dilara mencoba memberi pengertian pada Keenan.
Namun, bukannya mengiakan, Keenan justru berdecak kesal. "Semenjak lo kuliah di situ, lo banyak berubah. Selalu melawan dan menghindar dari gue."
"Keen aku enggak melawan kamu. Aku cuma menjawab ucapan kamu." Sungguh, Dilara tak tahu dengan jalan pemikiran laki-laki itu. Selalu tampak salah di mata Keenan.
"Sama aja. Gue enggak suka sama sikap lo yang kayak gini."
Dilara mengembuskan napas kasar. Menarik tangan Keenan untuk digenggam, tetapi laki-laki itu malah menepisnya dengan kasar. "Aku minta maaf, Keen."
"Lo mau pulang, 'kan? Sana pulang, gue enggak butuh lo di sini!"
Dilara mengulas senyum tipis, jika saja ia tidak memiliki tugas kuliah mungkin ia akan menemani laki-laki itu beristirahat dengan lama. Ia beranjak dari duduk, berjalan menghampiri jaket milik Alze. Lalu berdiri di samping Keenan.
"Aku pulang, ya."
"Lo pulang bukan mau ngerjain tugas, 'kan? Lo cuma mau cuci jaket itu, 'kan?" Keenan berasumsi yang tidak-tidak melihat Dilara yang memungut kembali jaket milik Alze.
"Keen---"
"Kenapa, sih, Ra. Setiap gue pengen coba baik sama lo, lo selalu menghindar? Lo enggak suka gue baikkin?"
"Bukan gitu, Keen. Ini udah sore, masij ada yang perlu aku kerjakan di rumah. Sekali aja kamu coba buat ngertiin aku," ucap Dilara, berharap Keenan mau mengerti posisi yang sedang memiliki banyak pekerjaan.
"Di sini yang cuma bisa ngertiin itu lo, bukan gue. Lo mau pulang, 'kan? Sana pulang, gue enggak mau liat muka dekil lo di sini!" Keenan mendorong tubuh Dilara dengan kasar hingga membentur dinding. Tanpa rasa bersalah, laki-laki itu berjalan menuju kamarnya sekaligus menutup pintu kamar dengan keras.
Dilara memegang tangan kirinya, rasanya ngilu saat berbenturan dengan dindinh dengan keras. Ia menatap pintu kamar Keenan dengan nanar. Entah kapan Keenan berubah menjadi laki-laki lembut.
***
Dilara merendam jaket milik Alze di ember, lalu mulai menguceknya hingga noda kopi tersebut menghilang. Dua puluh menit yang lalu ia sudah sampai di kosan, tempat dirinya tinggal. Walaupun terlihat kecil, tetapi tak membuat Dilara keberatan. Setelah selesai menjemur jaket Alze di jemuran handuk, ia berjalan ke arah kamar untuk melanjutkan tugas-tugas kuliahnya, dan juga menghafal materi yang akan di kuiskan besok. Tidak lupa juga dengan semangkuk mi intans yang tadi ia buat.
Jemari Dilara berhenti menuliskan sederet kalimat di kertas. Ingatan memori masa lalu yang paling ranum terlintas begitu saja. Membuat dada Dilara terasa sesak saja. Masa lalu yang membawa dirinya bertemu dengan sosok Keenan, laki-laki baik, tetapi kasar kasar.
Uluran tangan Keenan, tatapan tajamnya, dan sikap acuh tak acuh laki-laki itu masih membekas dalam ingatan. "Dia enggak tahu caranya bersikap. Selalu kasar dan kasar."