Bab 1

Nama ku adalah "Laras", Sekarang umur ku baru empat belas tahun, lima hari yang lalu adalah hari kelahiran ku, nama Laras itu pemberian dari alm Ibu Ku, menurut Ayah ku. Aku tidak mengenal wajah Ibu ku yang melahirkan ku, karna Dari cerita yang Ayah katakan, di usiaku yang ke sepuluh bulan, Ibu ku meninggal, Ayah tidak memberitahu ku apa sebab ibu Meninggal waktu menceritakannya.

Aku tinggal di sebuah dusun terpencil di pulau Sumatra, dimana ditempat ku berada, semua hanyalah kebun sawit, sejauh mata memandang tetap hanya kebun sawit!

Rumah rumah di dusun ku juga masih berjarak jarak, terlebih Rumah ku, mungkin sekitar empat ratus meteran dari rumah terdekat, rumah milik ku sangat sederhana, hanya terbuat dari papan, berlantai tanah, dan atap seng bekas pemberian orang, bekas dari rumah rumah yang di kerjakan Ayah sebagai Kuli Bangunan.

Aku ingin cerita Sosok alm Ayah ku yang baru meninggal minggu yang lalu

Oh iya, Nama Ayah "Yanto", orang orang sering memangilnya Pak Anto. Kami hanya tinggal berdua, keseharian Ayah bekerja sebagai Buruh harian di Kebun sawit, tapi kalau ada teman Ayah yang punya Proyek benarin rumah, Ayah pasti diajak, sebagai kuli bangunan.

Ayah orangnya sangat baik, dia sangat sayang sama ku, sangat memanjakan ku,  Ayah menyekolahkan ku sampai Lulus SD, setelah itu, Aku tidak melanjut lagi, karna sekolah SMP di tempat ku tidak ada. harus ke kota kecamatan, dimana bisa ber jam jam jika berkendara, apalagi di Dusun ku dan Dusun tetangga belum ada jalan aspal, yang ada hanya jalan berbatu, jika hujan, akan sangat licin dan becek, kendaraan yang lewat juga cuman truk Sawit, itu pun cuman dua dalam sehari.

Kembali lagi ke sosok alm "Ayah", Aku masih ingat waktu umur ku tiga belas tahun, Ayah membawaku ke Kota, Kota kecamatan, dimana waktu itu lagi ada Pasar malam, jadi warga warga dari dusun ku, semua pada kesana, termasuk Aku dan Ayah,dengan menumpang truk Sawit.

Ini pertama kali aku melihat keramaian orang, Aku sangat senang, apalagi waktu diajak Ayah bermain Komedi Putar, wah... senangnya minta ampun, trus Ayah juga membelikan ku baju baru waktu itu, serta jajanan yang ada di situ.

Aku juga masih ingat, waktu Aku pertama kali datang bulan, Aku sangat takut! karna ada darah keluar dari tempat pipis ku, dan sampai membuat celana kolor sama rok ku berdarah darah, waktu itu Ayah sedang di belakang rumah, Aku pun langsung berlari menghampiri Ayah, dan dengan polosnya mengatakan kalau tempat pipis ku berdarah, Ayah juga sangat panik mengetahui itu, Ayah pun bertanya

Apa tempat pipis Laras kemasukan lintah?

"Ga tau Yah, sakit" hanya itu ucap ku sambil menangis

Lalu ku angkat rok ku dan kuturunkan sedikit celana kolor ku, dan meminta Ayah untuk memeriksanya, Apa ada "lintah"di dalam yang masuk. Ayah lalu memeriksanya, tapi pas Ayah meriksa, ada rasa geli kurasakan karna kedua jari jempolnya seolah yang membuka bibir dari tempat pipis ku, dan Ayah tidak menemukan ada lintah disana.

Aku dan Ayah pun makin panik, Ayah segera menarik kembali celana kolor ku agar Aku pakai dengan benar, dan langsung menggendong ku, sambil berlari membawa ku ke rumah tetangga terdekat, ke rumah Ibu Wati, sesapai di sana, Ayah memanggil manggil Ibu Wati

"Bu Wati"

"Bu wat"

Bu Wati pun keluar dari rumahnya, lalu bertanya ke Ayah ada apa? ko seperti ada Maling!

"Ini, Anak ku Laras Bu! Anunya berdarah" ucap Ayah.

Bu Wati pun melihat Rok ku yang berdarah, tiba tiba Suami Bu Wati juga keluar dari dalam Rumahnya, dan bertanya ke Ayah, ada apa To?

"Itu Pak, Anunya Anak ku keluar darah" ucap ayah dengan panik.

Bu Wati lalu menarik tangan ku ke dalam rumah, Lalu di sana tempat pipis ku di lihat.

"Owalah... Nak Laras, bikin jantungan aja! Kamu itu datang bulan Nak Laras, itu ga apa apa, itu normal Nak, ga usah takut"

Bu Wati pun mengajak ku keluar dari dalam rumahnya, dan mengatakan ke Ayah, kalau Aku tidak apa apa, hanya sedang datang bulan, dan itu wajar untuk semua perempuan, apalagi Usia Nak Laras sudah tiga belas tahun, jelas Bu Wati ke Ayah, Pak joko Suami Bu Wati yang mendengar itu pun hanya ketawa ketawa melihat wajah Ayah ku yang kebingungan.

Dan inilah kali pertama Aku dan Ayah tau akan yang namanya datang bulan, Ayah pun cerita ke Aku, sebenarnya dulu alm Ibu ku juga pernah datang bulan, tapi karna sudah lama, jadi Ayah Lupa, karna dah panik duluan, ucap Ayah ke Aku.

Aku dan Ayah pun kembali ke rumah, lalu Ayah menyuruh ku mencuci lubang pipis ku, dan mengganti celana Kolor ku.

"Ayah, beliin Laras kolor dong, kolor laras kan cuman tiga Yah, itu juga semua dah bolong bolong"

"Iya, iya, Nanti ayah titip ke Bu Wati, kalau dia ke Kota"

"Sama kaus kutang ya Yah, susu Laras kan dah ada, masa Laras ga punya, teman teman Aku dulu waktu sekolah sudah pada punya ko"

Ayah juga mengiyakannya, dan matanya seperti memerhatikan buah dada ku, dibalik baju kaos oblang yang ku pakai

Ayah pun menitipkan ke Bu Wati, agar kalau lagi ke kota, biar sekalian dibeli, Ayah juga mengasih uang ke Bu Wati.

Bayak hal hal yang indah yang Aku kenang dari alm Ayah ku, setiap pulang kerja pasti selalu membeli oleh oleh untuk ku, entah itu Bakso, ataupun Mie ayam, soalnya di dusun ku ga ada yang jual, harus ke kota kecamatan, baru ada, tapi itu semua tak akan terulang kembali, karna Ayah sudah beristirahat dengan tenang di makamnya, disamping makam Ibu.

Waktu itu, dua minggu yang lalu, Ayah dan Pak Joko sedang ada proyek renovasi Rumah di Kota, dan waktu mau pulang dari sana, dari tempat kerjaannya, di situlah Ayah pergi untuk selamanya, Ayah di tabrak Mobil, dan Ayah langsung meninggal di tempat Kata Pak Joko, sementara yang Nabrak kabur.

Di malam hari sekitar jam delapan malam, saat Aku lagi menunggu Ayah pulang, terdengar suara mobil mendekat ke rumah ku, Aku sangat heran akan itu, karna bisa dikatakan tidak pernah ada mobil yang datang ke arah rumah ku, sebab rumah ku lah yang paling ujung, dan buntu jalannya.

Aku pun keluar dari dalam rumah, dengan membawa lampu teplok, soalnya di rumah ku belum terpasang listrik, saat itu mata ku memadang telah banyak orang dari kejauhan, walaupun gelap, tapi terlihat akan cahaya senter senter, serta obor, mobil itu pun sampai di depan rumah, sebuah mobil kecil Bak terbuka.

Ibu Wati juga ada di antara banyak orang itu, dan dia langsung memeluk ku, Aku pun bingung! Ada apa sebenarnya, kemudian kutanyakan ke Bu Wati

"Ada apa Bu?

Ibu Wati masih tetap memeluk ku, lalu mengatakan, kalau Ayah ku telah meninggal, di tabrak lari di Kota.

Aku langsung menangis histeris, apalagi saat Bapak bapak, mengotong tubuh Ayah ku dari dalam Mobil itu ke dalam rumah, Aku yang menyaksikan itu tidak kuat, dan langsung pingsan.

Sadar sadar, Aku pun melihat Ayah ku terbaring kaku di atas tikar, entah tikar siapa itu, yang jelas bukan milik ku.

Lagi lagi Ibu Wati menenangkan ku, agar Aku iklas dan tabah.

Besok harinya, penduduk dusun pun memakam kan Ayah, Semua kebutuhan untuk keperluan pemakaman Ayah, warga pun bergotong royong. Ayah dimakamkan tidak jauh dari rumah ku, dan tepat disamping Makam Ibu ku.

Aku pun hidup sendirian tanpa Ayah dan Ibu ku, yang sekarang sudah tenang di sana.

Bab 2

Sepeninggal Ayah ku, aku akhirnya harus menghidupi dan memenuhi kebutuhan ku sendiri, Aku meminta tolong sama Ibu wati istri dari Pak Joko teman "Bapak" kerja waktu jadi kuli bangunan, Bu Wati dan Pak Joko orangnya baik, sejak kepergian Bapak tuk selamanya, Bu wita lah yang kadang ngasih makanan ke aku, saat itu aku sedang lewat depan rumahnya, Bu Watk lalu memanggil Aku

"Laras...laras Sini sebentar Nak,"panggil Bu Wati, Aku yang mendengar panggilan Bu Wati pun langsung ke depan rumahnya.

"iya Bu ada apa? tanyaku, ini Nak bawa ke rumah, ada nasi sama lauk nih, Bu Wita menawariku makanan, dan aku pun sangat senang, sebab tadi pagi aku cuman makan singkong, eh.. makasih banyak Bu ucapku ke Bu Wati.

lalu aku berpikir sejenak, kira kira Bu Wati ini bisa ga ya bantu Aku ikut kerja di kebon Sawit milik Pak Johan itu? karna setau saya, bu wati juga kerja disitu sebagai buruh harian.

akhirnya kuberanikan bertanya sama Bu Wati

"Bu" boleh ga Laras ikut kerja di Kebon sawit? hem.... gimana ya Ras, Ibu ga bisa pastiin, coba deh nanti Ibu tanya sama Mandornya, mudah mudahan bisa Ras, oh gitu ya Bu, Mudah mudahan bisa ya Bu ucapku, iya Nak Laras, nanti kalau bisa Ibu kasih tau kamu, tapi kerjanya berat loh Ras, laras emang bisa dan ngerti? insyaallah Bu, Laras bisa ko.

Bu, Makasih banyak ya untuk Nasi sama lauknya, Aku pulang dulu ya Bu, iya Nak Laras, hati hati ya ucap Bu Wati.

aku pun pergi meninggalkan rumah Bu Wati, pulang ke rumah ku, yang jaraknya lumayan jauh, sekitar tiga ratus meter, rumah ku memang berjarak dengan rumah rumah penduduk di dusun ku, rumah ku bisa dikatakan berada di tengah Kebon. sesampai di rumah, aku langsung melahap makanan yang diberikan Bu Wati, ada ikan cue di sambal, dan ada sayur Nangka, ah.... kenyang ucapku, setelah itu, Aku langsung mengambil baju baju yang tadi pagi aku cuci dan langsung melipatnya, dan menyapu rumah ku.

Hari mulai terlihat gelap, ku siapkan lampu teplok lalu kunyalakan, lampu inilah yang menemaniku selama ini, lampu teplok minyak tanah. memang di rumahku belum ada listrik, bahkan sebagian rumah rumah di dusun ku juga masih sama sepertiku menggunakan lampu teplok.

ku pun langsung menuju kamar, dan tidur, bangun pagi aku merasa sakit di perutku, dan kulihat ada darah di tikar yang kutiduri, kemudian kuperhatikan celana kolor ku pun ada darahnya, Aku sangat panik dan ketakutan saat itu, ada apa dengan tubuh ku? gara paniknya, aku berlari ke rumah Bu Wati, pas saya panggil panggil ga ada yang menyahut, kemudian ku coba berkeliling rumah Bu Wati, ternyata Bu Wati sedang di belakang mencuci Piring dan sedang menimbah air dari Tong penampungan air milik mereka

Bu.., bu Wati ucapku. eh ada apa Laras, ko pagi pagi sekali udah kesini? ini Bu, akupun mulai menceritakan perutku yang sedikit sakit dan adanya darah di celana kolor ku, aku juga bilang aku ketakutan, Lalu Bu Wati menenang kan ku, oh Nak Laras datang bulan lagi, kan dulu dah pernah kesini sama alm Ayah mu Nak laras, itu ga apa apa Nak Laras, itu Normal. berarti Nak laras sudah dewasa sekarang Ucap Bu Wati, aku pun bingung dibuatnya, aku bertanya apa maksutnya datang bulan, Bu Laras kemudian menjelaskan semuanya, kalau semua wanita akan mengalami sepertiku, akan datang bulan, dan banyak hal lah yang dijelasin Sama Bu Wati, akhirnya Aku paham, dan Bu Wati memintaku agar memakai dua atau tiga celana kolor, agar darahnya ga nembus, aku pun menurutinya, kemudian pamit pulang ke rumah ku. benar sih, dulu Aku dan alm Ayah sudah pernah ke rumah Bu Wati, karna waktu itu Ayah panik akan darah yang keluar dari lobang pipis ku.

Dalam pikiran ku, Mungkin karna Aku baru kehilangan Ayah, sehingga Aku panik kembali.

ini adalah pengalaman ku yang ke dua  merasakan yang namanya datang bulan,dan untuk yang pertama di usiaku yang ke empat belas tahun sekarang, untung ada Bu Wati tempat ku bertanya, tadinya aku kira ada Lintah yang masuk ke dalam tempat aku buat pipis.

Sesampai di rumah, Aku langsung ngambil Cangkul, dan mulai menggali untuk mengambil singkong yang dulu di tanam almarhum Bapak. kemudian aku langsung mengupasnya dan memasknya, hampir setiap hari ini lah makanan ku, kecuali Bu Wati dan tetangga tetangga lain ada yang ngasih Nasi ke Aku. Aku menikmati singkong yang kurebus, ditambah garam dan cabe, wih.....maknyus rasanya.

Gak terasa hari dah sore, mungkin sudah sekitar jam lima sore, di rumah ku memang ga ada Jam, jadi hanya menebak nebak aja dari lihat matahari. karna Bapak juga dulu gitu, jadi Aku belajar otodidak dari Bapak, dugaan ku sekarang Bu Wati pasti sudah balik dari Kebon Sawit milik Pak Johan, Aku pun bergegas kesana, ingin segera tau, apa aku diterima kerja jadi buruh harian disana apa ga. Aku tentu sangat berharap di terima, soalnya hanya itu cara ku agar bisa punya uang.

Belum juga saya sampai di rumah Bu Wati, Aku malah ketemu dia di jalan.

"eh Bu, gimana Bu, aku diterima ga kerja? eh... Nak Laras, dah ga sabar ya pengentau? ucap Bu Wati.

iya Bu, pengentau, diterima ga Bu? kembali Aku bertanya

Alhamdulillah Nak Laras, diterima, besok dah bisa kerja bareng Ibu

Benaran Bu? Alhamdulillah ya Allah, Makasih banyak Bu dah bantu Laras, dah baik sama Laras

Iya Nak Laras, besok pagi jam delapan kamu langsung ke rumah ibu ya, jadi kita berangkat kerja bareng dari sini, dari rumah ibu

Iya Bu, sekali lagi makasih Bu, ucapku ke Bu Wati, dan sekalian langsung balik ke rumah

Diperjalanan pulang ke rumah, Aku nyanyi nyanyi gara senang nya, aku bahkan berjalan seperti berjingkrak jingkrak, dalam hatiku, besok kalau sudah kerja, dan sorenya langsung dapat gaji. Aku akan langsung beli beras sama indomi dan telor, Aku sangat bahagia, akhirnya Nanti di rumahku akan ada beras untuk ku masak, bukan lagi rebus singkong untuk makanan ku.

Aku sudah tidak sabar menunggu bergati hari, karna besok adalah hari pertamaku bekerja di Kebon Sawit milik Pak Johan, yang kutau tentang Pak Johan hanyalah dia orang kaya, dia tinggal di kota, hanya dua kali seminggu datang mengontrol dan melihat lihat Kebon Sawit miliknya. dan itu juga Aku tau dari alm Ayah ku, sebab Aku tidak pernah ketemu dengan Juragan Johan, jangan kan ketemu, melihatnya saja belum pernah.

Aku kemudian tidur, dan berharap waktu cepat berputar, karna sudah tidak sabar ingin kerja di kebun Sawit Pak Johan.

Bab 3

Suara Ayam pun mulai berkokok, hari ini adalah hari pertamaku akan kerja, akan menghasilkan uang dalam pikiran ku, Aku pun bangun dari tempat tidurku yang beralas tikar, segera Aku merebus Singkong untuk serapan pagi, dan untuk bekal Nanti Siang di Kebun. kusempatkan juga untuk mebersihkan rumahku, dan menyuci pakaianku.

Tidak terasa waktu terasa cepat berlalu, aku pikir ini pasti sudah jam tujuh lewat! dengan menduga duga. Aku pun bergegas ke rumah Bu Wati, dan Bu Wati ternyata sudah bersiap dan dari tadi sudah menunggu ku, agar bersama ke kebun Juragan Johan.

"Eh, Nak Laras udah nyampai toh, Ayo berangkat sekarang yo Nak Laras, biar ga telat, ntar kalau telat kena omel ama si Parmin"

"Ayo Bu" ucap ku

Memang perjalanan dari rumah Bu Wati ke Kebun Pak Johan cukup jauh, sekitar setengah jam berjalan kaki, oh iya, Pak Parmin yang dimaksut Bu Wati itu adalah pengawas disana, dia tinggal di dusun tetangga.

Aku dan Ibu Wati pun berjalan setapak demi setapak, sambil ngobrol, Bu Wati juga tanya soal Haid ku, dan Aku jawab, sekarang Aku pake tiga celan kolor, Bu Wati memang seru orangnya, suka bercanda, diperjalanan, tiba tiba ada yang memanggil Bu Wati.

"mbak Wat! mba Wati! tunggu...

Aku dan Bu Wati pun menoleh, ternyata itu Ibu Ningsi, dia juga sama seperti Bu Wati, Buruh harian juga di Kebun sawit Pak Johan

"eh.. ada Dek Laras ternyata, sekarang sudah mulai ikut kerja ya Dek? tanya Bu Ningsi sama ku.

"Iya Bu, di bantu Sama Bu Wati masuk kerjanya"

"Oh, iya iya Ibu tau ko Dek, Dek Laras yang rajin ya, nanti kalau bingung cara ngerjainnya, tanya aja sama Saya atau Bu Wati ya"

"hehehe... iya Bu Makasih", ucap ku

Kami bertiga pun berjalan bersama, sebenarnya biasanya ada Truk Sawit yang lewat, tapi hari ini ko ga ada ya Ning? tanya Bu Wati ke Bu Ningsi

"Gak tau lah mba, mungkin mogok kali" jawab Bu Ningsi

Gak terasa tibalah kami di tempat bekerja, Bu Wati pun menyuruhku mengambil ember, lalu kami mulai mengabil buah sawit yang berjatuhan dan memasukkannya ke ember, dan ini lah pekerjaan ku hari ini bersama Ibu ibu yang lain, memang disana semua sudah ibu ibu, cuman saya yang masih gadis, di "dusunku"seusiaku sudah termasuk gadis, bukan anak anak lagi! karna Aku sudah Haid pertama.

Aku sangat antusias bekerja, walau terasa sedikit sakit di pinggangku, karna selalu nunduk, dan juga saat mengangkat ember yang berisi sawit itu, tapi itu semua tidak kuhiraukan, yang kupikirkan hanyalah, nanti sore gajian lalu bisa beli beras, Indomie dan telor, itu sudah cukup membuatku semangat untuk bekerja.

"eh.. udah siang nih! istirahat dulu yok". ucap Bu Ningsi

Aku dan Bu Wati pun langsung ikut istirahat

"Ras bawa bekal apa hari ini? tanya Bu wati

lalu ku jawab hanya bawa Singkong rebus

Akhirnya mereka malah membagikan ku Nasi dari bekal mereka, sebenarnya Aku menolak, karna ga enak, dah di bantu kerja, eh dikasih Nasi pula" tapi ya mau gimana lagi, toh aku ga bisa nolaknya, hehehe...

Jam pun terus berputar, gak terasa sudah saatnya selesai bekerja, segera kami menyimpan semua peralatan kerja kami, karna semua peralatan yang kami pakai itu adalah milik Perkebunan.

Mulailah kami dipanggil satu per satu untuk gajian, dan sekarang adalah giliran Namaku yang di panggil Bu Mayang, Bu Mayang ini kepercayaan dari Pak Johan, jadi dialah yang berurusan mengenai gaji semua buruh yang bekerja di kebun sawit ini

Laras..! panggil Bu Mayang

Aku pun menyahut dan segera menghampiri, seperti mencontoh Ibu ibu yang dipanggil sebelum Aku.

karna kamu masih baru dan masih percobaan dalam satu minggu ini, Gaji kamu tiga puluh lima ribu ya Laras, ucap Bu Mayang

Aku pun menerima uang hasil keringatku itu, seolah tak percaya kalau aku dapat menghasilkan uang.

Makasih banyak ya Bu ucapku ke Bu Mayang

Setelah selesai semua, kami pun bergegas untuk balik, di perjalanan kukatakan niat ku untuk belanja ke Bu Wati, agar Bu Wati mau menemani Aku, Akhirnya Aku pun membeli beras Satu liter, indomie dua dan telor dua, dan uang masih ada sisa, sekalian aku pun beli Sabun cuci sama garam.

Sumpah! aku benar benar sangat senang hari ini, dimana hasil keringatku dapat ku gunakan untuk beli beras, dan Malam ini Aku akhirnya bisa makan Nasi, begitu juga untuk besok bekalku bekerja.

walau badan terasa capek, tapi semua terbayar pikirku, Aku langsung memasak Nasi, sudah cukup lama Aku gak pernah memasak nasi, biasanya yang ku masak hanya singkong, sekarang yang kumasak adalah beras dari hasil keringatku, Aku tentu sangat senang, merasa bangga akan diri ku sendiri. walau Aku masih terbilang seorang remaja kecil, tapi ya mau gimana lagi, Aku harus menjalaninya.

Aku pun mandi, ku cuci bersih celana kolor ku yang terkena darah haid ku itu, dan langsung menjemurnya kembali, berharap besok pagi bisa kering, terkena Angin malam. Soalnya kolor ku cuman ada 3 dan semuanya juga sudah jelek, kusam dan pada bolong, heheheh, berharap bisa ngumpulin uang dari hasil pekerjaan ku, untuk dapat membeli suatu saat nanti.

Sungguh sangat nikmat kurasakan, Saat Aku memakan Nasi yang ku masak tadi, apalagi ada Indomi rebus dengan telor yang menemaninya.

Gak berapa lama kemudian, Aku pun rebahan di ranjang ku yang beralaskan tikar, dan bantal yang berisi baju baju yang sudah gak kepakai.

'Krik' 'krik'

Suara jangkrik pun terdengar oleh ku, ya! namanya juga rumah ku di kelilingi kebun sawit, jadi banyak suara suara hewan yang terdengar, kadang yang bikin bulu kuduk "berdiri"kalau terdengar oleh ku suara Burung Hantu. Atau suara dari dahan sawit yang terhembus angin.

Sambil rebahan, aku pun berhayal, berhayal dapat mengumpulkan banyak uang, trus suatu saat Akan membuat pertanda akan Makam Ayah dan Ibu ku, tidak seperti sekarang ini, hanya gundukan tanah dan Nisan kayu.

Aku selalu berharap, Agar dalam tidur ku, ayah dan ibu datang dalam mimpi ku. Karna sejak kepergian Ayah, Aku sama sekali belum pernah memimpikannya. terkadang Air mata ku menetes, jika mengingat kebaikan Ayah, sebab Ayalah yang menjaga ku sejak Aku masih berumur sepuluh bulan sampai usia ku tiga belas tahun, Ayah lah semuanya, dia juga yang menjadi Ibu bagi ku.

Akhirnya Aku pun tidur, tidur ditemani hayalan akan sosok alm Ayah ku yang baik.

"kukuruyuk"

Suara Ayam pun mulai berkokok, Seolah baru saja aku memejamkan mata, tapi sekarang sudah Subuh lagi! Mungkin karna tidur ku yang lelap, akibat kecapean bekerja.

Aku pun langsung bangun, dan merapikan tempat tidur ku yang sederhana ini, setelah itu, langsung memasak nasi, untuk serapan Pagi, dan bekal ku nanti di tempat kerja. Telor juga Aku rebus, dan indomie juga.

Tak terasa waktu, hari mulai terang, sinar mentari sudah menyinari rumah ku yang dikelilingi kebun sawit, Aku kemudian mandi di belakang rumah, untung air masih ada di dalam Drum tong milik ku. jadi tidak perlu ke sungai kecil yang jaraknya lumayan jauh dari rumah ku.

Kulihat jemuran ku, dan bersyukur, semua celana kolor ku sudah kering, jadi ada untuk dipakai hari ini. Aku kemudian serapan dan bersiap ke rumah Bu Wati, karna Kami akan berangkat bersama untuk bekerja ke kebun Juragan Johan

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED