“Ruh seorang mukmin (yang sudah meninggal) terkatung-katung karena hutangnya sampai hutangnya dilunasi.” (HR. At Tirmidzi no. 1079)
***********
"Innalillahi... Mas Praja.. " Aku menoleh melihat ke belakang Kayla dan Faiz telah tidur pulas.
"Biar Nayla jaga mereka Siti, kamu gak usah khawatir. " Kata bu Sari. Nayla ternyata berdiri di belakang dawai pintu, aku tidak membuka pintu terbuka karena harus ijin suami jika memasukkan tamu apalagi ini sudah malam.
"Aku titip anak-anak ya Nayla" Kataku setengah berlari, ku lihat anggukan Nayla ringan.
Aku membonceng bu Sari dengan motor. Kerumunan warga masih memadat, aroma anyir darah kentara di sepanjang jalan. 'Astaghfirullah, selamatkan suami hamba ya Allah. ' doaku, terlihat mobil megah itu ringsek dengan jalan aspal yang membentuk ban mobil menandakan rem tajam mendadak. Ku susuri motor mas Praja, terpental jauh 2 meter dengan bentuk yangsulit di kenali. Helm putih bekas itu masih di sisi motor, aku mengenalinya karena ada coretan Faiz dengan paku, "ini gambar abi, ummi, dek kaila dan mas" Kata Faiz sambil menunjuk 2 garis besar dan 2 garis kecil.
"Kenapa ada lingkaran besar mas? " Tanya abi
"Ini rumah Kita nanti bi.. Beeesaaaal" Kata Faiz sontak abi memeluk Faiz dengan erat. Itu sekelumit kepingan indahku. Air mataku tak mampu tertahan, mengalir sungai begitu saja, " Mas Praja bagaimana bu Sari?? " Tanyaku pada bu Sari yang masih menuntunku hingga kini.
"Apa ini dengan keluarga korban?? " Tanya pak polisi
"Saya istrinya pak"
"Silahkan pastikan dahulu" Kata pak polisi sambil membuka kantong mayat yang telah terbungkus. Mataku benar-benar kabur karena aku tak mampu menahan gemburan banjir air mata, ku usap kasar. Perlahan pak polisi membuka kantong. Benar saja mas Praja bermandikan darah di kepalanya, sulit kenali namun ku yakin itu mas Praja dari jaket hitam usang milik bapak dulu aku menjahitnya di dada yang berlubang dengan tanda merah hati.
"Mas Praja.... Bangun mas.. Bangun. Hiks.. Hiks.." Aku mengoyangkan badan mas Praja.
"Sabar Siti.. Sabar ya.. " Kata bu Sari di belakangku
"Mas... Ayo pulang mas.. Faiz nanyain abinya.. " Kepalaku berat, ku letakkan di dada bidang mas Praja berharap masih ada keajaiban Alloh di jantungnya. "Hiks.. Hiks... Hiks.. Jangan tinggalin aku dan anak-anak mas.. Ya Allah tolong mas Praja.. Bu Sari bawa mas Praja ke rumah sakit.. Pak polisi ayo bawa mas Praja.. " Teriak ku, Aku menarik tangan bu Sari namun mereka hanya diam. Hingga mataku terasa berat.
********************
Tangis Kayla membangunkanku, "abi.. Abi.. " Kata Kayla masih terpejam. Ah pasti ini mimpi, ku susui Kayla agar lelap lagi. Ku lihat sekitar jam menunjuk pukul 2 dini hari, Faiz masih tidur nyenyak tunggu kemana mas Praja. Jantungku mulai maraton, ada tubuh meringkuk dengan selimut mas Praja namun rambut panjangnya terjuntai, Nayla. Kenapa Nayla di sini, kemana mas Praja?? Astaghfirullah apakah tadi bukan mimpi?
Ku buka pintu perlahan, ada pak Sobri dan entah siapa tertutup sarung meringkuk kedinginan tertidur di depan rumah. Ya Allah kuatkan hamba, jika benar ini kenyataan apa yang harus ku katakan. Ku putuskan berwudhu dan ku ingat belum menunaikan sholat isya' dan tahajud. Dingin nya gemericik air tak mampu membasuh air mata ini yang terus mengalir, sudah sekian kali ku usap namun ada lagi. Ku gelar sajadahku di samping Nayla tidur, ia anak bu Sari dan pak Sobri, ia guru SD kelas 1 yang sangat perhatian dengan anak-anak. Mungkin karena khawatir ia tidur disini. Ku angkat tanganku, "Allahu Akbar"
********************************
Jam sudah menunjukan pukul 4 dini, aku tertidur lagi. Astafirullah, masih dengan mukena. Kayla mengeliat mendengar adzan, ku hampirinya dan ku susui seperti biasanya. Biasa hanya sekali atau dua kali Kayla menyusu, setelahnya ku bereskan baju dan kain terkena ompol. Rutinitas ku biasa mencuci lalu mandi dan sholat subuh. Nayla bangun dan mendekatiku.
"Mbak Siti biar ku uruskan semuanya, mbak fokus ke anak-anak saja. Ikhlaskan mas Praja mbak agar lapang kuburnya. " Kata Nayla menenangkan ku sambil memeluk erat
Aku tak mampu berkata, hanya mengangguk. "Jenazah ada di RS Polri, abah sudah uruskan. Menurut kesaksian warga sekitar mas Praja motor melaju ke arah pulang lalu tiba-tiba mogok di tengah jalan sedangkan mobil dari belakang melaju dengan sangat kencang meski sempat mengerem namun sia-sia. Motor dan Tubuh nya terpelanting 2 meter menabrak tiang. Mas Praja meninggal di tempat sedangkan 2 orang di dalam mobil mengalami luka-luka. " Ujar Nayla
"Innalillahi Wa innaillahi roji'un, kata terakhir mas Praja Nayla.. Hiks.. Hiks.. Aku akan menjaga anak-anak kita mas, terimakasih untuk semuanya" Nayla lagi-lagi menguat kan ku, ia mengenggam tanganku erat.
"Mbak harus kuat demi Faiz dan Kayla. Ini ada makanan untukmu mbak dan anak-anak dari warga sekitar tadi yang sudah takziah. "
"Terimakasih Nayla, InsyaAllah"
"Nayla pamit dulu ya mbak mau urus semuanya, siapa nama lengkap mas Praja mbak?? "
"Praja Hadi Kusuma, untuk nama keluarga mbak gak ingat, nanti di isi namaku, Faiz Fadillah dan Kayla Nisa. " Aku memang hanya sekali bertemu dengan orang tua mas Praja saat minta restu. Mereka lebih memilih membuang nama anaknya dari keluarga nya daripada bermenantu orang tak berpunya.
"Nayla pamit ya mbak, assalamu'alaikum. "
"Waalaikumsalam" Seperginya Nayla Faiz menggeliat bangun.
"Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyulll. Aamiin" Suara Faiz
"Ummi abi kemana?? Biasa Faiz di bangunkan subuh terus Faiz tidul di pangku abi sambil mengaji. " Tanya Faiz
Nayla menoleh ke arah ku, " Abi... Abi sudah pergi nak.. " Jawabku
" Kok tumben pagi-pagi mi?? Aku pengen celita pas ngaji kemalen di beli hadiah sama ustadz Sobli." Katanya penuh semangat
Bagaimana aku menjelaskan pada mereka yang masih kecil ini. "Ummi kok malah nangis sih.. "
"Gak papa.. Oya Faiz pernah dengar abi cerita surga kan?? Bagaimana kalau abi sekarang berada di surga. "
"Kenapa gak ajak Faiz mi, Faiz pengen lihat sulga. Tapi kata abi kayaknya kudu mati dulu deh mi. "
"Semua yang hidup juga akan mati sayang, Alloh lebih sayang abi. Faiz harus ikhlas ya.. "
"Abi... Abi.. Huaaaaaaa... Huaaaaaa... " Kayla bangun memanggil abinya, tangisannya pecah.
Ku gendong Kayla dan ku peluk, " Kesini anak-anak yang sholeh, dengarkan ummi.. Allah lebih sayang abi, jadi abi sekarang istirahat dulu di tempat lain sebelum ke surga. Faiz dan Kayla nanti hantar tempat tidur abi ya.. " Sambil ku kecup lembut kedua kening mereka.
Tangis mereka berdua pecah.. Huaaaaa... Huaaaa ku peluk erat meraka di pangkuanku sambil melantunkan yasin di bibirku.
*************************
Pemakaman telah usai, pak Sobri dan bu Sari melarang ku menghantar sampai ke liang kubur. Takut tangisku dan anak-anak akan jadi pemberat mas Praja. 3 hari acara tahlilan dilakukan di rumah pak Sobri yang memang tetangga sebelah rumahku, 3 hari juga Kayla selalu menangis setiap selesai maghrib sedangkan Faiz lebih banyak diam tak seperti biasa. Nayla selalu menemani Faiz dan menghibur nya. Malam ini menjadi malam yang panjang karena Kayla terus setiap bangun akan memanggil abinya sambil menangis histeris, baru jam 2 Kayla benar-benar terlelap nyenyak.
Pagi ini ku terbangun kesiangan, ku tengok Nayla sudah tidak berada disamping Faiz. Astaghfirullah ini sudah jam 6 pagi, beruntung aku baru datang bulan. Tiba-tiba suara ketukan pintu dengan kasar membangunkan Faiz. Tok... Tok.. Tok... "Buka pintunya"
Beruntung Kayla masih pulas, "Faiz di sini saja jaga dedek biar ummi yang buka pintunya ya!!! " Pintaku. Faiz mengangguk, ku sambar kerudung yang menggantung di paku pintu depan. Ku. Sembulkan kepalaku seperti biasanya, terlihat 3 orang laki-laki bertubuh kekar penuh tato.
"Ada apa ya?? "
"Ini rumah Praja kan?? Cepat bayar hutang.. Meski sudah mati bukannya hutang itu wajib di bayar??" Kata lelaki berambut panjang setengah berteriak. Aku pun memutuskan keluar rumah dan menutup pintu agar anak-anak tidak mendengarnya.
"Iya ini rumah mas Praja. "
"Lihat video ini. " Kata lelaki yang lain yang di penuhi tato di wajahnya sambil menyerahkan HP. Terlihat mas Praja di di pegang kedua tangannya oleh lelaki berambut panjang. Wajahnya sudah babak belur.
"Aku akan membayar hutang ku bang Satria tolong beri aku waktu" Kata mas Praja
"Sampai kapan hah?? Semenjak menikah setoranmu terus berkurang. Ini sudah 2 tahun kau hanya bisa membayar 2 juta, hutang mu itu 20 juta?? Mau kau cicil sampai kapan?? " Kata bang Satria sambil memukul perut mas Praja. "Ahhh... " Mas Praja jatuh ke tanah tak mampu menahan tubuhnya lagi.
"Ingat Praja jika kau tak mampu membayar anak dan istrimu dalam bahaya."
Video berhenti sampai di situ. Pantas saja mas Praja pernah pulang dalam keadaan babak belur saat Faiz masih kecil, ketika ku tanya ia hanya berkata di hajar preman.
"Maaf tuan, hutang sebanyak itu buat apa suami saya?? "
"Sebelum menikah denganmu ia sudah banyak kalah j**i, dan hanya mampu menyicil. Beruntung aku ini sangat baik 3 tahun tak ku usik kalian. Sekarang bayar lunas hutang suamimu jika ia ingin suamimu tak gentayangan. " Kata bang Satria.
"Tapi uang sebanyak itu saya tak punya bang. " Kataku, lenganku di tarik begitu saja sehingga tubuhku terpelanting di lantai.
Terima kasih banyak yang sudah subscribe.. Jangan lupa beri ulasannya.. Dan saling support..
Siti pov
"Maaf tuan, hutang sebanyak itu buat apa suami saya?? "
"Sebelum menikah denganmu ia sudah banyak kalah j**i, dan hanya mampu menyicil. Beruntung aku ini sangat baik 3 tahun tak ku usik kalian. Sekarang bayar lunas hutang suamimu jika ia ingin suamimu tak gentayangan. " Kata bang Satria.
"Tapi uang sebanyak itu saya tak punya bang. " Kataku, lenganku di tarik begitu saja sehingga tubuhku terpelanting di lantai. Mereka masuk ke dalam dengan paksa, ku susul mereka dan ku peluk Faiz dan Kayla yang tengah bermain plastisin pemberian Nayla yang sudah berwarna hitam karena seringnya di mainkan. Mereka ketakutan melihat orang-orang itu membongkar semua barang di rumah.
"Kau bilang tak punya uang?? Uang ini aku ambil dan juga sertifikat rumah ini sebagai jaminannya. Jika kau sudah ada uangnya cari aku di pasar Tanah Hijau cari bang Satria. Ku beri waktu 4 bulan. " Kata bang Satria sambil tertawa keluar rumah
Mereka pun pergi dengan uang takziah berkisar satu juta dua ratus, dan juga modal untuk membeli barang bekas lagi. Mereka benar-benar tak menyisakan sepeserpun uang untuk kami. Astaghfirullah..
"Meleka siapa ummi?? Kenapa tidak sopan dan selem..??" Tanya Faiz sedangkan Kayla meringkuk di pangkuanku.
"Mereka penagih hutang nak, sekarang ummi masakan bubur ya buat Kayla dan Faiz" Kataku sambil menangis mengalihkan pembicaraan.
"Dali kemalin masak bubul, ummi gak ada uang ya? Jangan sedih ummi, Faiz suka ummi masak apapun." Ujar Faiz sambil mengusap air mataku. Ya Allah anak sekecil ini mampu merasakan apa yang orangtuanya rasakan. Dari kemarin memang hanya beras yang tersisa sehingga ku masak bubur dan sayur bayam yang sudah tak berdaun di belakang rumah. Ia berlari kecil mengambil celengan ayam bekas yang di tambal solasi di bawahnya.
"Ini Faiz ada uang" Sambil mengulurkan celengan, sang adik menyambutnya menjadikan mainan kuda-kudaan. "Dedek ini buat ummi isinya nanti ayamnya buat adek ya!! " Kata Faiz
Faiz menarik kasar solasi hitam hingga terdengar suara logam berhamburan.byuuuuarrr... "Aa ayam kaila" Kata Kayla yang memang sudah fasih dengan banyak kosakata merebut dari empunya. " Gak usah Faiz, ini semua punya Faiz. " Kata ku
"Gak papa ummi kata abi kta halus tolong menolong. Faiz sayang ummi" Katanya sambil memelukku.
*********************
Sementara itu di Rumah Sakit Sumber Bugar juga terdapat pasien akibat kecelakaan, ia di nyatakan boleh pulang hari ini. Lukman Prawiranegara Presdir Batu Bara dan tambang Timah PT Bumi Perkasa, tbk sedang beristirahat asyik memainkan gadget. Sedangkan sopirnya, pak Heri mengalami kritis sedangkan menurut CCTV kecelakaan murni karena motor yang berhenti mendadak bukan kesalahan mobil. Namun hati Lukman tetap ingin bertanggungjawab karena sempat melihat wanita yang menangis histeris. walaupun ada pesan terakhir sebelum suami korban meninggal dunia. Entah hatinya merasa aneh, ada getar yang tak ia rasakan bersama Laura padahal ia hanya melihatnya saja. Entah ini iba atau jatuh cinta.
"Apa kau sudah tahu siapa korban meninggal kemaren?? " Tanya Lukman.
"Ia adalah Prajana Hadi Kusuma, meninggalkan seorang istri dan 2 orang anak. " Kata pria berjaz hitam.
"Aku pernah dengar nama itu" Ujar Lukman
"Tentu saja bos pernah kenal, ia adalah adik kandung nyonya Laura, ia di buang karena menikahi gadis miskin Siti Halimah. "
"Aku hanya pernah bertemu sekali dengannya sebelum menikahi kakaknya. Ini menarik" Kata Lukman
"Saya sudah kirimkan data lengkap meraka bos, saya juga melampirkan foto sesuai permintaan bos. "
"Kerja bagus, pergilah sebelum Laura ke sini" Perintah Lukman. Pria berjaz hitam itu pun pergi berpamitan. Lukman pun tenggelam dengan gadgetnya karena memperhatikan data yang di kirimkan anak buahnya. Laura Agata Kusuma dan Lukman menikah karena perjodohan, Laura sangat mencintai Lukman sejak kuliah di Perancis. Pernikahan mereka untuk mengukuhkan perusahaan Lukman yang sempat goyah karena krisis covid namun hingga 5 tahun menikah mereka tak kunjung di karuniai anak.
"Hay sayang. kau akan pulang hari ini kan" Sapa Laura tanpa permisi mencium pipi Lukman, hampir saja gadget Lukman terjatuh.
"Bisakah kau tidak mengagetkan ku?? " Kata Lukman mematikan Gadget.
"Kau yang terlalu serius dengan HP mu sayang. " Aanggahy Laura
"Terserah kau saja"
"Aku sudah menyiapkan pakaian untuk mu kita akan menghadiri rapat pemegang saham. " Kata Laura
"Bisakah kau tidak membicarakan pekerjaan sejenak"
"Ini sangat penting sayang, perusahaan papaku akan kamu pegang sekarang karena papamu telah membeli 70% saham papa. " Ujar Laura.
Lukman hanya diam saja, ia menurut saja Laura memakaikan jaz dan dasi di lehernya. Niat bersantainya telah usai. "Apa kau tak ingin tahu siapa korban yang ketabrak kemarin" Tanya Lukman
"Itu tidak penting sayang, kau kan di nyatakan tidak bersalah. Lagi pula kau bisa menganti rugi jika ia mendesakmu. " Kata Laura
"Kau benar-benar tak ingin tahu?? " Tanya Lukman memastikan hati istrinya yang telah membatu.
"Ini lebih penting, kau bisa terlambat sayang. " Kata nya sambil menarik ku keluar dari kamar rawat inap.
******************************
Menurut Surat Al-Baqarah ayat 234 : “Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah Para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. kemudian apabila telah habis iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” Ayat di atas menafsirkan bahwa seorang istri yang ditinggalkan oleh suaminya karena meninggalnya suaminya, maka isteri wajib beriddah selama waktu 4 bulan 10 hari. Tak menunggu masa iddah nya selesai, Siti terpaksa keluar rumah untuk mencari nafkah, ia tak ingin merepotkan Nayla dan keluarga nya karena sering di berikan makan. Berbekal uang simpanan Faiz yang ku hitung mencapai sembilan puluh delapan ribu Siti mengendong Kayla di depan dan Faiz di belakang. Faiz memberontak minta turun karena kasihan melihat umminya.
"Ummi Faiz kan dah besal, bial jalan sendili ya.. "
"Nanti pulangnya ya, ummi kan nanti bawa barang jadi Faiz bisa jalan kaki. " Kata ummi.
"Benel ya umm.. " Kata Faiz menyakinkan. Faiz dan Kayla terpaksa di ajak karena memang di rumah tidak ada yang bisa di titip kan. Ia sudah mencari kerja namun di kota Jakarta akan sangat susah jika tamatan SMP. Saat Praja ada ia hanya pergi tiga hari sekali untuk mengambil langganan rumah-rumah yang sudah hapal dengan Siti.
Sudah 30 menit ia berjalan, ia masuk kampung Salak. Namun matahari mulai meredupkan cahayanya hanya setengah kantong yang Siti kumpulkan
"Maaf ya Siti, sekarang ada program pemerintah pilah sampah jadi botol, kertas dan lainnya audah ada yang ambil" Tutur bu Retno ketua Rt setempat.
"Gak papa bu, Terima kasih" Kata ku tertunduk lesu, 'ya Allah kuatkan hamba' doaku
"Tunggu Siti ini ada makanan buat anak-anak mu tadi habis arisan Rt. " Kata bu Retno
"Telima kasih bu" Kata Faiz menerima sekantong makanan, sedangkan Kayla tertidur.
Setelah Ashar kuputuskan pulang ke rumah naik angkot agar tidak terlalu malam, ku taruh barangku di atap angkot agar tidak menganggu penumpang lainnya. Ku jinjing kantong sampah ku di tangan kiri dan ku gandeng Faiz di tangan kanan sedangkan Kayla asyik makan roti pisang dari bu Retno maklum mereka jarang jajan seperti anak-anak lainnya. Pernah suatu ketika Faiz minta jajan namun tak ku temukan sepeserpun uang, "Faiz ummi tidak ada uang, minta sama Allah dulu yuk. Semoga Allah memberikan rejeki. " Pintaku. Faiz pun menengadah kan tangannya dan berdoa, " Ya Allah, Faiz pengen tahu lasanya mie ayam kayak apa sih?? Tadi ada tukang jualan mie lewat. " Dan kodrarullah abinya pulang bawa mie ayam namun semenjak itu Faiz tak meminta apapun lagi. Ku usap kenangan indah itu, aku tak boleh cengeng demi anak-anak ku. Ku susuri gang dan terparkir di masjid mobil hitam mewah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Rumah ku masuk ke dalam hanya motor saja yang bisa lewat.
Sampai didepan rumah ku tertegun dengan 2 pria berjaz yang menunggu di depan pintu.
Apa lagi ini ya Robb??