Bab 1

Aku hanyalah seorang wanita yang pengepul barang yang sudah tidak di pakai atau rongsok, Siti Hamilah namaku.  Dua anak balita ku akan menyertaiku sepanjang perjalanan,  Faiz Fadillah 4 tahun dan  Kayla Nisa 18 bulan. Di kota Jakarta yang penuh dengan hiruk pikuknya menandakan perjuangan hidup di   dunia bak penjara sedangkan lapangnya adalah di akhirat, dunia adalah penjara bagi orang mukmin begitulah almarhum ayah selalu memberi semangat. Suamiku Prajana Hadi kusuma ia adalah seorang tukang ojek, sudah sering Mas Praja  menyuruhku berhenti memulung katanya kasihan anak-anak tapi ini perkerjaan ku selain mengajar TPA di Cempaka Putih yang menghantarkan jodohku walaupun jarak yang ku tempuh tak sejauh dulu. Tak seperti pemulung yang lainnya, aku tetap menjaga aurat ku. Aku berjilbab dan berkaos kaki. Hidup kami memang cukup dengan rumah peninggalan ayah dan ibu ku di Cempaka Putih. Mas Praja sendiri membeli motor bekas untuk menjemput rejeki Allah, pernikahan yang tak pernah di restui keluarga mas Praja yang berada. Aku anak yatim piatu tak berpunya. Kenekatan mas Praja tak akan di anggap anak ayah ibunya tak menyurutkan niatnya menikahiku yang berkulit hitam terkena teriknya matahari. Entah apa yang membuatnya mencintaiku, aku pun mencintai nya karena Allah. Dan inilah kisah hidupku. 

        HP ku berbunyi, "assalamu'alaikum abi"

"Waalaikumsalam, kamu di mana biar ku hantar makanan" 

"Tadi abi nurunin di Cempaka Merah kan?? "

"Oke aku ke sana ummiku sayang..."

Tak beberapa lamapun motor butut abi di menepi tepat di hadapan ku saat ini. Di pos ronda warga, Warga sekitar sudah hafal betul kebiasaan ku sebelum menikah. 

"Abi.. Aku lapal, pulang yuk.. "Sapa Faiz sambil menyalami bapaknya. 

"Kayla bobok bi, pulang saja sebentar lagi juga mau sholat dhuhur." Kataku

"Alhamdulillah dapat banyak mi, biar ini di depan ya. " Kata abi sambil membenarkan barang rosok. Faiz dan Kayla digendonganku membonceng di belakang. 

"Alhamdulillah bisa, beberapa warga Cempaka Merah sengaja menungguku mengambil barang bekasnya, ini saja baru sebagian yang terbawa. InsyaAllah besok turunin ummi di sini lagi ya bi. " Pinta ku

"Siap ummi.. Abi sayang ummi.. Kita pulan yuk....Baca doanya dong Faiz yang kenceng.. " Perintah abinya 

""Subhaanalladzi sakhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin, wa innaa ilaa robbina lamunqolibuun." Lantunku menyertai Faiz. 

      Sampai di rumah 3*5 meter ini cukup membuat kami nyaman, ku tidurkan Kayla di kasur. Kami makan apa yang di bawa abinya, tadi ada penumpang yang baik  memberikan bakso 2 porsi gratis. 

"Penumpang nya cewek atau cowok bi kok baik banget?? "

"Cewek mi.. " Sambil makan kuah bakso, sambal dan nasi, sedangkan isinya ku bagi dua untuk Kayla nanti jika bangun. 

"Cantik dong.. Apa suka sama abi.??" Tanyaku cemburu, karena memang laki-laki 28 tahun di depanku ganteng meski tubuhnya tak segagah saat pertama bertemu karena sering puasa dan kurang makan. 

"Apaan sih mi.. Tetap ummi nomer satu di hati abi.. Yang lain mah numpang bonceng aja.. " 

"Ummi gak mau ijo-ijonya"

"Ets Faiz harus makan biar sehat, gak boleh membuang makanan nanti di sayang Allah"

"Lasanya gak enak mi, mau muntah" Celotehnya lagi

"Enak cuma Faiz saja belum terbiasa, coba lihat abi. Ia makan cabe meski pedas apakah abi muntah??" Kataku. Faiz pun menggeleng pelan. 

"Lihat abi sampai keringetan makannya, itu khasiat langsung yang abi peroleh dari makan bakso panas dan pedas. Sekarang Faiz makan insyaallah dapat khasiatnya nanti. Tubuh Faiz jadi sehat".

" Faiz coba mi. " Katanya sambil mengunyah makanan di mulutnya. Alhamdulillah berhasil, makanan ludes tak bersisa. 

"Wah hebat Faiz habis makannya, ummi nanti makan apa jika dah habis?? " Tanya Abi

"Ummi masih ada tempe goreng tadi pagi. Abi mau berangkat lagi?? "

"Iya mi sekalian sholat dhuhur di masjid, Faiz mau ikut abi ke masjid?? Eh cepet banget boboknya Faiz" Kata abi sambil mencium kening Faiz  dan Kayla di tikar berlubang di makan tikus. 

"Faiz capek tadi, ia ummi tinggal main di KB Cempaka sama bu Heru. Semoga nanti ada rejeki buat Faiz sekolah ya bi.. "

"Aamiin, ini ada uang  20ribu buat ummi belanja. Abi pergi dulu. " Katanya sambil mencium kening ku lama entah kenapa aku merasa abi tak seperti biasa. Aku mencium tangan abi tapi abi balik mencium tanganku.

"Jaga anak-anak ya mi, abi pergi dulu Terima kasih sudah menerima abi apa adanya. " Kata abi berpamitan

"Abi kenapa seperti mau pergi jauh saja" Gurau ku

     Abi pun mengeslah motornya sampai 3 kali namun tak mau hidup juga.Baru yang ke 4 kali abi baru bisa menghilang dari hadapanku. 

        Selesai sholat dhuhur ku pilah sampah lagi di belakang rumah, setiap hari Ahad akan ada petugas yang mengambil barang bekas ini. Meski sedikit ku sisihkan untuk masjid dan sebagian mampu ku belikan beras. Hasil ojek tak menentu apalagi motor tua abi sering mogok bahkan abi sering menuntun pulang saat larut menjelang. Jadi buruh tukang tak selalu ada, apalagi abi tak punya ijazah karena akses pekerjaan di pantau keluarga kusuma. Mereka benar-benar ingin mas Praja dan aku berpisah. Mas Praja sendiri ku temukan dengan wajah lebam di sekujur tubuhnya. Ku minta bantuan warga di bawa klinik terdekat. Katanya ia mabuk dan kalah judi lalu di hajar karena tak sanggup membayar. Masa sulit taubat mas Praja lalui, aku salut dengan kegigihannya. 

****************

Flashback on

       Setelah selesai membayar biaya perawatan semalam, ku putuskan untuk berpamitan pulang padanya. Ku temukan ia di  tumpukan sampah, ku kira mayat ternyata masih hidup penuh lebam. 

"Bantu aku taubat. " Pintanya sambil mengenggam erat lengan tanganku menahan pergi. 

"Maaf kita bukan mahram, lepaskan aku. " Kataku, ia pun melepaskan ku

"Apa Tuhan menerima taubat ku meski dosaku banyak, aku tukang mabo dan judi. Apa kau takut denganku?? Tanyanya panjang lebar

" Allah Maha Pengampun asal kau bersungguh-sungguh, dan aku hanya takut pada Allah"

"Benar kah??? Aku  Prajana Hadi Kusuma umurku 22 tahun, aku serius ingin bertaubat"

"Panggil saja aku Siti, aku akan hantarkan mas Praja pada pak Sobri ustadz kampung ini. "

"Kenapa bukan kau saja yang mengajariku Siti, aku akan membayar mu dan hutang perawatan kmaren. " 

"Tidak usah, aku ikhlas menolongmu dan bertaubat itu gratis hanya perlu niat yang lurus. Aku bukan mahrammu nanti jadi fitnah. Ikut saya jika serius bertaubat. Tapi tolong kita berjalan berjarak. Mundurlah 3 langkah dariku, itu jarak yang harus kau jaga. "

"Apa??? " Tanyanya heran sambil membulatkan matanya penuh heran. 

"Ikuti saja jika serius bertaubat"

Ia pun mengikuti  berjalan kaki, ku jinjing sekantong barang bekas di punggungku. Hingga 20 menit berjalan ku hentikan langkahku di masjid Ar Rohman Cempaka Putih.

"Pak Sobri assalamualaikum"

"Walaikumsalam Siti tumben sebelum Ashar ke masjid, belum sampai rumah ini?? "

"Ada yang mau ketemu pak Sobri katanya mau taubat, itu orang nya pak"

"Mas Praja ini pak Sobri kepsek  SD Cempaka Putih, guru TPA dan guru perjuangan hidupku"

"Jangan berlebih Siti, kaulah inspirasi bapak calon hafidzah"

"Aamiin, saya ijin pulang dulu pak mau bersiap sudah mau ashar. "

     Aku berpamitan pulang karena akan membantu pak Sobri mengajar TPA dan tahfidz anak-anak. Semenjak itulah ia juga menjadi marbot masjid di sini, ia juga sangat tekun belajar. Setahun berlalu hingga akhirnya ia melamar ku. 

*************************

Selesai maghrib anak-anak TPA sudah selesai, ku gendong Kayla pulang ke rumah namun semenjak itu Kayla terus menangis tak seperti biasanya. Sedangkan kakaknya Faiz terus menanyakan abinya yang tak kunjung pulang. 

"Kita baca doa buat abi biar cepet pulang selamat ya, biar dedek juga anteng" Anakku bersama Faiz. 

"Hiks.... Hiks... Hiks... Cana... Hiks... Cana.. " Tangis Kayla semakin dalam menunjuk keluar rumah. 

"BismillāhirrahmānirrahīmAlhamdu lillāhi rabbil'ālamīnAr rahmānir rahīmMāliki yaumid dīnIyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īnIhdinas-sirātal-mustaqīmSirātallażīna an'amta 'alaihim gairil-magdụbi 'alaihim wa lad dāllīn" Lantunku surat al fatihah.Faiz mengikutiku meski suaranya tak terdengar hanya bibirnya. 30 menit berlalu Kaylapun terlelap tidur karena capek menangis. ku tidurkan Kayla, Faiz meringsek minta di bacakan buku cerita yang baru di temuka terbuang di tumpukan sampah. Cerita tentang Nabi Sulaiman. Tak sampai habis ku baca Faiz sudah menyusul Kayla di peraduan. Hingga pintu ku terkejut ketukan dari luar. Tok.. Tok... Tok... 

"Siti... Siti... Kamu yang sabar ya.. " Kata bu Sari sambil memegang tanganku. 

"Maksud bu Sari apa ya?? "

"Suamimu Siti.. Anu.. Anu.. " Katanya terengah-engah

"Kenapa Mas Praja bu?? "

"Ke.. Ke.. Kecelakaan.. Ayo kesana Siti.. "

Bab 2

“Ruh seorang mukmin (yang sudah meninggal) terkatung-katung karena hutangnya sampai hutangnya dilunasi.” (HR. At Tirmidzi no. 1079)

***********

          "Innalillahi... Mas Praja.. " Aku  menoleh melihat ke belakang Kayla dan Faiz telah tidur pulas. 

"Biar Nayla jaga mereka Siti, kamu gak usah khawatir. " Kata bu Sari. Nayla ternyata berdiri di belakang dawai pintu, aku tidak membuka pintu terbuka karena harus ijin suami jika memasukkan tamu apalagi ini sudah malam. 

"Aku titip anak-anak ya Nayla" Kataku setengah berlari, ku lihat anggukan Nayla ringan.

      Aku membonceng bu Sari dengan motor. Kerumunan warga masih memadat, aroma anyir darah kentara di sepanjang jalan. 'Astaghfirullah, selamatkan suami hamba ya Allah. ' doaku, terlihat mobil megah itu ringsek dengan jalan aspal yang membentuk ban mobil menandakan rem tajam mendadak. Ku susuri motor mas Praja, terpental jauh 2 meter dengan bentuk yangsulit di kenali. Helm putih bekas itu masih di sisi motor, aku mengenalinya karena ada coretan Faiz  dengan paku, "ini gambar abi, ummi, dek kaila dan mas" Kata Faiz sambil menunjuk 2 garis besar dan 2 garis kecil.

"Kenapa ada lingkaran besar mas? " Tanya abi 

"Ini rumah Kita nanti bi.. Beeesaaaal" Kata Faiz sontak abi memeluk Faiz dengan erat. Itu sekelumit kepingan indahku. Air mataku tak mampu tertahan, mengalir sungai begitu saja, " Mas Praja bagaimana bu Sari?? " Tanyaku pada bu Sari yang masih menuntunku hingga kini. 

"Apa ini dengan keluarga korban?? " Tanya pak polisi

"Saya istrinya pak"

"Silahkan pastikan dahulu" Kata pak polisi sambil membuka kantong mayat yang telah terbungkus. Mataku benar-benar kabur karena aku tak mampu menahan gemburan banjir air mata, ku usap kasar. Perlahan pak polisi membuka kantong. Benar saja mas Praja bermandikan darah di kepalanya, sulit kenali namun ku yakin itu mas Praja dari jaket hitam usang milik bapak dulu aku menjahitnya di dada yang berlubang dengan tanda merah hati. 

"Mas Praja.... Bangun mas.. Bangun. Hiks.. Hiks.." Aku mengoyangkan badan mas Praja. 

"Sabar Siti.. Sabar ya.. " Kata bu Sari di belakangku

"Mas... Ayo pulang mas.. Faiz nanyain abinya.. " Kepalaku berat, ku letakkan di dada bidang mas Praja berharap masih ada keajaiban Alloh di jantungnya. "Hiks.. Hiks... Hiks.. Jangan tinggalin aku dan anak-anak mas.. Ya Allah tolong mas Praja.. Bu Sari bawa mas Praja ke rumah sakit.. Pak polisi ayo bawa mas Praja.. " Teriak ku, Aku menarik tangan bu Sari namun mereka hanya diam. Hingga mataku terasa berat. 

********************     

        Tangis Kayla membangunkanku, "abi.. Abi.. " Kata Kayla masih terpejam. Ah pasti ini mimpi, ku susui Kayla agar lelap lagi. Ku lihat  sekitar jam menunjuk pukul 2 dini hari, Faiz masih tidur nyenyak tunggu kemana mas Praja. Jantungku mulai maraton,  ada tubuh meringkuk dengan selimut mas Praja namun rambut panjangnya terjuntai, Nayla. Kenapa Nayla di sini, kemana mas Praja?? Astaghfirullah apakah tadi bukan mimpi? 

     Ku buka pintu perlahan, ada pak Sobri dan entah siapa tertutup sarung meringkuk kedinginan tertidur di depan rumah. Ya Allah kuatkan hamba, jika benar ini kenyataan apa yang harus ku katakan. Ku putuskan berwudhu dan ku ingat belum menunaikan sholat isya' dan tahajud. Dingin nya gemericik air tak mampu membasuh air mata ini yang terus mengalir, sudah sekian kali ku usap namun ada lagi. Ku gelar sajadahku di samping Nayla tidur, ia anak bu Sari dan pak Sobri, ia guru SD kelas 1 yang sangat perhatian dengan anak-anak. Mungkin karena khawatir ia tidur disini. Ku angkat tanganku, "Allahu Akbar"

********************************

     Jam sudah menunjukan pukul 4 dini, aku tertidur lagi. Astafirullah, masih dengan mukena. Kayla mengeliat mendengar adzan, ku hampirinya dan ku susui seperti biasanya. Biasa hanya sekali atau dua kali Kayla menyusu, setelahnya ku bereskan baju dan kain terkena ompol. Rutinitas ku biasa mencuci lalu mandi dan sholat subuh. Nayla bangun dan mendekatiku. 

"Mbak Siti biar ku uruskan semuanya, mbak fokus ke anak-anak saja. Ikhlaskan mas Praja mbak agar lapang kuburnya. " Kata Nayla menenangkan ku sambil memeluk erat

     Aku  tak mampu berkata, hanya mengangguk. "Jenazah ada di RS Polri, abah sudah uruskan. Menurut kesaksian warga sekitar mas Praja motor melaju ke arah pulang lalu tiba-tiba mogok di tengah jalan sedangkan mobil dari belakang melaju dengan sangat kencang meski sempat mengerem namun sia-sia. Motor dan  Tubuh nya terpelanting 2 meter menabrak tiang. Mas Praja meninggal di tempat sedangkan 2 orang di dalam mobil mengalami luka-luka. " Ujar Nayla

"Innalillahi Wa innaillahi roji'un, kata terakhir mas Praja Nayla.. Hiks.. Hiks.. Aku akan menjaga anak-anak kita mas, terimakasih untuk semuanya" Nayla lagi-lagi menguat kan ku, ia mengenggam tanganku erat. 

"Mbak harus kuat demi Faiz dan Kayla. Ini ada makanan untukmu mbak dan anak-anak dari warga sekitar tadi yang sudah takziah. "

"Terimakasih Nayla, InsyaAllah"

"Nayla pamit dulu ya mbak mau urus semuanya, siapa nama lengkap mas Praja mbak?? "

"Praja Hadi Kusuma, untuk nama keluarga mbak gak ingat, nanti di isi namaku, Faiz Fadillah dan Kayla Nisa. " Aku memang hanya sekali bertemu dengan orang tua mas Praja saat minta restu. Mereka lebih memilih membuang nama anaknya dari keluarga nya daripada bermenantu orang tak berpunya. 

"Nayla pamit ya mbak, assalamu'alaikum. "

"Waalaikumsalam" Seperginya Nayla Faiz menggeliat bangun. 

        "Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyulll. Aamiin" Suara Faiz

"Ummi abi kemana?? Biasa Faiz di bangunkan subuh terus Faiz tidul di pangku abi sambil mengaji. " Tanya Faiz

Nayla menoleh ke arah ku, " Abi... Abi sudah pergi nak.. " Jawabku

" Kok tumben pagi-pagi mi?? Aku pengen celita pas ngaji kemalen di beli hadiah sama ustadz Sobli." Katanya penuh semangat

Bagaimana aku menjelaskan pada mereka yang masih kecil ini. "Ummi kok malah nangis sih.. "

"Gak papa.. Oya Faiz pernah dengar abi cerita surga kan?? Bagaimana kalau abi sekarang berada di surga. "

"Kenapa gak ajak Faiz mi, Faiz pengen lihat sulga. Tapi kata abi kayaknya kudu mati dulu deh mi. "

"Semua yang hidup juga akan mati sayang, Alloh lebih sayang abi. Faiz harus ikhlas ya.. "

"Abi... Abi.. Huaaaaaaa... Huaaaaaa... " Kayla bangun memanggil abinya, tangisannya pecah. 

 Ku gendong Kayla dan ku peluk, " Kesini anak-anak yang sholeh, dengarkan ummi.. Allah lebih sayang abi, jadi abi sekarang istirahat dulu di tempat lain sebelum ke surga. Faiz dan Kayla nanti hantar tempat tidur abi ya.. " Sambil ku kecup lembut kedua kening mereka. 

Tangis mereka berdua pecah.. Huaaaaa... Huaaaa ku peluk erat meraka di pangkuanku  sambil melantunkan yasin di bibirku. 

*************************

     Pemakaman telah usai, pak Sobri dan bu Sari melarang ku menghantar sampai ke liang kubur. Takut tangisku dan anak-anak akan jadi pemberat mas Praja. 3 hari acara tahlilan dilakukan di rumah pak Sobri yang memang tetangga sebelah rumahku, 3 hari juga Kayla selalu menangis setiap selesai maghrib sedangkan Faiz lebih banyak diam tak seperti biasa. Nayla selalu menemani Faiz dan menghibur nya. Malam ini menjadi malam yang panjang karena Kayla terus setiap bangun akan memanggil abinya sambil menangis histeris, baru jam 2 Kayla benar-benar terlelap nyenyak. 

      Pagi ini ku terbangun kesiangan, ku tengok Nayla sudah tidak berada disamping Faiz. Astaghfirullah ini sudah jam 6 pagi, beruntung aku baru datang bulan. Tiba-tiba suara ketukan pintu dengan kasar membangunkan Faiz. Tok... Tok.. Tok... "Buka pintunya"

Beruntung Kayla masih pulas, "Faiz di sini saja jaga dedek biar ummi yang buka pintunya ya!!! " Pintaku. Faiz mengangguk, ku sambar kerudung yang menggantung di paku pintu depan. Ku. Sembulkan kepalaku seperti biasanya, terlihat 3 orang laki-laki bertubuh kekar penuh tato. 

"Ada apa ya?? "

"Ini rumah Praja kan?? Cepat bayar hutang.. Meski sudah mati bukannya hutang itu wajib di bayar??" Kata lelaki berambut panjang setengah berteriak. Aku pun memutuskan keluar rumah dan menutup pintu agar anak-anak tidak mendengarnya. 

"Iya ini rumah mas Praja. "

"Lihat video ini. " Kata lelaki yang lain yang di penuhi tato di wajahnya sambil menyerahkan HP. Terlihat mas Praja di di pegang kedua tangannya oleh lelaki berambut panjang. Wajahnya sudah babak belur. 

"Aku akan membayar hutang ku bang Satria  tolong beri aku waktu" Kata mas Praja

"Sampai kapan hah?? Semenjak menikah setoranmu terus berkurang. Ini sudah 2 tahun kau hanya bisa membayar 2 juta, hutang mu itu 20 juta?? Mau kau cicil sampai kapan?? " Kata bang Satria sambil memukul perut mas Praja. "Ahhh... " Mas Praja jatuh ke tanah tak mampu menahan tubuhnya lagi. 

"Ingat Praja jika kau tak mampu membayar anak dan istrimu dalam bahaya."

Video berhenti sampai di situ. Pantas saja mas Praja pernah pulang dalam keadaan babak belur saat Faiz masih kecil, ketika ku tanya ia hanya berkata di hajar preman. 

"Maaf tuan, hutang sebanyak itu buat apa suami saya?? "

"Sebelum menikah denganmu ia sudah banyak kalah j**i, dan hanya mampu menyicil. Beruntung aku ini sangat baik 3 tahun tak ku usik kalian. Sekarang bayar lunas hutang suamimu jika ia ingin suamimu tak gentayangan. " Kata bang Satria. 

"Tapi uang sebanyak itu saya tak punya bang. " Kataku, lenganku di tarik begitu saja sehingga tubuhku terpelanting di lantai.

Terima kasih banyak yang sudah subscribe.. Jangan lupa beri ulasannya.. Dan saling support..

Bab 3

Siti pov

"Maaf tuan, hutang sebanyak itu buat apa suami saya?? "

"Sebelum menikah denganmu ia sudah banyak kalah j**i, dan hanya mampu menyicil. Beruntung aku ini sangat baik 3 tahun tak ku usik kalian. Sekarang bayar lunas hutang suamimu jika ia ingin suamimu tak gentayangan. " Kata bang Satria. 

"Tapi uang sebanyak itu saya tak punya bang. " Kataku, lenganku di tarik begitu saja sehingga tubuhku terpelanting di lantai.  Mereka masuk ke dalam dengan paksa, ku susul mereka dan ku peluk Faiz dan Kayla yang tengah bermain plastisin pemberian Nayla yang sudah berwarna hitam karena seringnya di mainkan. Mereka ketakutan melihat orang-orang itu membongkar semua barang di rumah. 

"Kau bilang tak punya uang?? Uang ini aku ambil dan juga sertifikat rumah ini sebagai jaminannya. Jika kau sudah ada uangnya cari aku di pasar Tanah Hijau cari bang Satria. Ku beri waktu 4 bulan. " Kata bang Satria sambil tertawa keluar rumah

     Mereka pun pergi dengan uang takziah berkisar satu juta dua ratus, dan juga modal untuk membeli barang bekas lagi. Mereka benar-benar tak menyisakan sepeserpun uang untuk kami. Astaghfirullah.. 

"Meleka siapa ummi?? Kenapa tidak sopan dan selem..??" Tanya  Faiz sedangkan Kayla meringkuk di pangkuanku. 

"Mereka penagih hutang nak, sekarang ummi masakan bubur ya buat Kayla dan Faiz" Kataku sambil menangis mengalihkan pembicaraan. 

"Dali kemalin masak bubul, ummi gak ada uang ya? Jangan sedih ummi, Faiz suka ummi masak apapun." Ujar Faiz sambil mengusap air mataku. Ya Allah anak sekecil ini mampu merasakan apa yang orangtuanya rasakan. Dari kemarin memang hanya beras yang tersisa sehingga ku masak bubur dan sayur bayam yang sudah tak berdaun di belakang rumah. Ia berlari kecil mengambil celengan ayam bekas yang di tambal solasi di bawahnya. 

"Ini Faiz ada uang" Sambil mengulurkan celengan, sang adik menyambutnya menjadikan mainan kuda-kudaan. "Dedek ini buat ummi isinya nanti ayamnya buat adek ya!! " Kata Faiz

Faiz menarik kasar solasi hitam hingga terdengar suara logam berhamburan.byuuuuarrr... "Aa ayam  kaila" Kata Kayla yang memang sudah fasih dengan banyak kosakata merebut dari empunya. " Gak usah Faiz, ini semua punya Faiz. " Kata ku

"Gak papa ummi kata abi kta halus tolong menolong. Faiz sayang ummi" Katanya sambil memelukku.

*********************

       Sementara itu di Rumah Sakit Sumber Bugar juga terdapat pasien akibat kecelakaan, ia di nyatakan boleh pulang hari ini. Lukman Prawiranegara Presdir Batu Bara dan tambang Timah PT Bumi Perkasa, tbk sedang beristirahat asyik memainkan gadget. Sedangkan sopirnya, pak Heri mengalami kritis sedangkan menurut CCTV kecelakaan murni karena motor yang berhenti mendadak bukan kesalahan mobil. Namun hati Lukman tetap ingin bertanggungjawab karena sempat melihat wanita yang menangis histeris. walaupun ada pesan terakhir sebelum suami korban meninggal dunia. Entah hatinya merasa aneh,  ada getar yang tak ia rasakan bersama Laura padahal ia hanya melihatnya saja. Entah ini iba atau jatuh cinta. 

"Apa kau sudah tahu siapa korban meninggal kemaren?? " Tanya Lukman.

"Ia adalah Prajana Hadi Kusuma, meninggalkan seorang istri dan 2 orang anak. " Kata pria berjaz hitam. 

"Aku  pernah dengar nama itu" Ujar Lukman

"Tentu saja bos pernah kenal, ia adalah adik kandung nyonya Laura, ia di buang karena menikahi gadis miskin Siti Halimah. "

"Aku hanya pernah bertemu sekali dengannya sebelum menikahi kakaknya. Ini menarik" Kata Lukman

"Saya sudah kirimkan data lengkap meraka bos, saya juga melampirkan foto sesuai permintaan bos. " 

"Kerja bagus, pergilah sebelum Laura ke sini" Perintah Lukman. Pria berjaz hitam itu pun pergi berpamitan. Lukman pun tenggelam dengan gadgetnya karena memperhatikan data yang di kirimkan anak buahnya. Laura  Agata Kusuma dan Lukman menikah karena perjodohan, Laura sangat mencintai Lukman sejak kuliah di Perancis. Pernikahan mereka untuk mengukuhkan perusahaan Lukman yang sempat goyah karena krisis covid namun hingga 5 tahun menikah mereka tak kunjung di karuniai anak. 

"Hay sayang. kau akan pulang hari ini kan" Sapa Laura tanpa permisi mencium pipi Lukman, hampir saja gadget Lukman terjatuh. 

"Bisakah kau tidak mengagetkan ku?? " Kata Lukman mematikan Gadget. 

"Kau yang terlalu serius dengan HP mu sayang. " Aanggahy Laura

"Terserah kau saja"

"Aku sudah menyiapkan pakaian untuk mu kita akan menghadiri rapat pemegang saham. " Kata Laura

"Bisakah kau tidak membicarakan pekerjaan sejenak"

"Ini sangat penting sayang, perusahaan papaku akan kamu pegang sekarang karena papamu telah membeli 70% saham papa. " Ujar Laura. 

Lukman hanya diam saja, ia menurut saja Laura memakaikan jaz dan dasi di lehernya. Niat bersantainya telah usai. "Apa kau tak ingin tahu siapa korban yang ketabrak kemarin" Tanya Lukman

"Itu tidak penting sayang, kau kan di nyatakan tidak bersalah. Lagi pula kau bisa  menganti rugi jika ia mendesakmu. " Kata Laura

"Kau benar-benar tak ingin tahu?? " Tanya Lukman memastikan hati istrinya yang telah membatu. 

"Ini lebih penting, kau bisa terlambat sayang. " Kata nya sambil menarik ku keluar dari kamar rawat inap. 

******************************

         Menurut Surat Al-Baqarah ayat 234 : “Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah Para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. kemudian apabila telah habis iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” Ayat di atas menafsirkan bahwa seorang istri yang ditinggalkan oleh suaminya karena meninggalnya suaminya, maka isteri wajib beriddah selama waktu 4 bulan 10 hari. Tak menunggu masa iddah nya selesai, Siti terpaksa keluar rumah untuk mencari nafkah, ia tak ingin merepotkan Nayla dan keluarga nya karena sering di berikan makan. Berbekal uang simpanan Faiz yang ku hitung mencapai sembilan puluh delapan ribu Siti mengendong Kayla di depan dan Faiz di belakang. Faiz memberontak minta turun karena kasihan melihat umminya. 

"Ummi Faiz kan dah besal, bial jalan sendili ya.. "

"Nanti  pulangnya ya, ummi kan nanti bawa barang jadi Faiz bisa jalan kaki. " Kata ummi. 

"Benel ya umm.. " Kata Faiz menyakinkan. Faiz dan Kayla terpaksa di ajak karena memang di rumah tidak ada yang bisa di titip kan. Ia sudah mencari kerja namun di kota Jakarta akan sangat susah jika tamatan SMP. Saat Praja ada ia hanya pergi tiga hari sekali untuk mengambil langganan rumah-rumah yang sudah hapal dengan Siti. 

       Sudah 30 menit ia berjalan, ia masuk kampung Salak. Namun matahari mulai meredupkan cahayanya hanya setengah kantong yang Siti kumpulkan

"Maaf ya Siti, sekarang ada program pemerintah pilah sampah jadi botol, kertas dan lainnya audah ada yang ambil" Tutur bu Retno ketua Rt setempat. 

"Gak papa bu, Terima kasih" Kata ku tertunduk lesu, 'ya Allah kuatkan hamba' doaku

"Tunggu Siti ini ada makanan buat anak-anak mu tadi habis arisan Rt. " Kata bu Retno

"Telima kasih bu" Kata Faiz menerima sekantong makanan, sedangkan Kayla tertidur. 

        Setelah Ashar kuputuskan pulang ke rumah naik angkot agar tidak terlalu malam, ku taruh barangku di atap angkot agar tidak menganggu penumpang lainnya. Ku jinjing kantong sampah ku di tangan kiri dan ku gandeng Faiz di tangan kanan sedangkan Kayla asyik makan roti pisang dari bu Retno maklum mereka jarang jajan seperti anak-anak lainnya. Pernah suatu ketika Faiz minta jajan namun tak ku temukan sepeserpun uang, "Faiz ummi tidak ada uang, minta sama Allah dulu yuk. Semoga Allah memberikan rejeki. " Pintaku. Faiz pun menengadah kan tangannya dan berdoa, " Ya Allah, Faiz pengen tahu lasanya mie ayam kayak apa sih?? Tadi ada tukang jualan mie lewat. " Dan kodrarullah abinya pulang bawa mie ayam namun semenjak itu Faiz tak meminta apapun lagi. Ku usap kenangan indah itu, aku tak boleh cengeng demi anak-anak ku.  Ku susuri gang dan terparkir di masjid  mobil hitam mewah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Rumah ku masuk ke dalam hanya motor saja yang bisa lewat. 

     Sampai didepan rumah ku tertegun dengan 2 pria berjaz yang menunggu di depan pintu. 

Apa lagi ini ya Robb??

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED