“A-apa, Ma? Me-menikah?” Gadis yang baru saja pulang dari menyelesaikan studinya di Universitas Stanford, San Fransisco tadi siang itu mencari kepastian jawaban pada mamanya. “A-aku salah dengar, kan, Ma?”
“Enggak, Nduk. Kamu nggak salah dengar. Calon suaminya pun juga sudah ada.” Papa menimpali.
“A-apa, Pa?”
Bagai ditimpa palu godam. Gadis itu sontak terdiam. Mulutnya tak bisa berkata-kata lagi. Tubuhnya terasa bak tak bertulang.
Ia menyandarkan punggungnya di kursi. Makan malam yang ia harapkan berlangsung dengan penuh cinta, berganti menjadi suasana yang memberinya rasa kecewa.
Gadis berambut lurus sebahu itu mendesah. Kedua tangannya sibuk memainkan makanan di piringnya. Suasana menjadi hening. Tak satu pun kata terdengar terucap. Hanya sesekali dentingan sendok dan garpu menghiasi suasana yang terasa kaku.
“Papa dan Mama nggak serius, kan?” Sekali lagi gadis berbulu mata lentik itu mengajukan tanya kepada kedua orang tuanya. Masih berharap bahwa mereka hanya bercanda saja.
“Tapi Aileen baru saja pulang, Pa, Ma. Masih ingin mengejar cita-cita yang sudah lama Ai impikan. Meniti karir menjadi seorang designer interior terkenal. Sebelum nanti bergabung dan bekerja di perusahaan Papa. Tapi, kok, malah ....” Kembali ia mensesah. Raut kecewa di wajahnya benar-benar tak bisa ia sembunyikan.
“Kalo gini, ngapain dulu Aileen kuliah jauh-jauh ke San Fransisco. Kalo akhirnya Cuma ingin segera dinikahkan.” Ia menjeda kalimatnya sembari meneguk air putih dari gelas di depannya.
“Kenapa nggak Kak Tomy aja, sih.” Protesnya yang langsung ditanggapi dengan pandangan memelotot dari sang kakak.
“Sudahlah, Aileen .... Papa dan Mama sudah memikirkan hal ini matang-matang.” Laki-laki berumur 58 tahun itu menepuk bahu anak gadisnya sebelum beranjak meninggalkan tempat duduknya.
Usai makan malam, gadis berusia 23 tahun itu mengayunkan langkah menuju kamar tidurnya. Ia menghempaskan tubuh ke spring bed bersprei warna favoritnya, hijau. Ia memukulkan kepala berulangkali ke atas bantal yang berisi bulu angsa kesayangan. “Aku benci! Aku benci!” Tangannya juga tak mau kalah memukuli bantal empuknya.
Drrrt drrrt drrrt.
Bunyi getaran ponsel yang terletak di atas meja kecil samping tidurnya menyita perhatiannya. Gegas ia bangun dan mengambil benda pipih itu.
[Hai.] Sebuah sapaan dari seberang membuatnya terdiam sejenak. Namun, detik berikutnya kedua sudut bibirnya terangkat hingga membentuk lengkungan indah di bibir idealnya.
Namanya Aileen Hadiwidjaya. Anak bungsu dari salah satu pengusaha properti terkenal di negeri ini.
***
Suara ketukan sepatunya terdengar jelas di sepanjang koridor yang dilewati. Seorang gadis mengenakan kerudung pashmina dan masker medis warna biru muda terlihat berjalan dengan tergesa di antara penumpang yang baru saja tiba di terminal penjemputan bandara.
Tangan kanannya menarik koper besar berwarna hitam. Sedangkan tangan kirinya sibuk menekan beberapa tombol di ponsel warna emasnya. Fokus pandangannya terbagi antara pada benda pipih yang dipegangnya dan jalan yang dilaluinya.
Bruk!
Langkah gadis itu segera terhenti. Sejenak ia terlihat gelagapan. Karena melihat buku yang dipegang orang yang ditabraknya berjatuhan.
“Oh, I’m so sorry, Mister.” Gegas ia berjongkok mengambil buku-buku tebal yang berceceran di bawah kakinya. Namun, kalah cepat dengan tangan laki-laki sang pemilik buku. Dari tiga buku, hanya satu yang berhasil diambil Aileen. Ia melirik sekilas judul apa yang tertera di atasnya. “Tulisannya arab,” batinnya.
“Sorry.” Gadis yang mengenakan celana jeans dan outer selutut itu menyerahkan buku yang dipegangnya kepada laki-laki berkaca mata hitam di depannya.
Sebuah senyum dan anggukan sebagai jawaban. Tangan kanannya menerima buku sekaligus menyerahkan ponsel milik gadis di depannya yang terlepas dari genggaman tanpa disadari pemiliknya.
“Owh. Thanks.” Tanpa menjawab lagi, laki-laki itu berlalu dari hadapan gadis berparas cantik itu.
“Ck! Sontoloyo.” Gadis itu mencebikkan bibir mengiringi langkah panjang laki-laki yang baru saja meninggalkannya. Tanpa disangka, ternyata pada waktu yang sama laki-laki itu berhenti dan menoleh ke arahnya.
Namun, Dewi Fortuna seolah berpihak kepada sang gadis. Orang yang sejak tadi ia nanti, tetiba menghampiri.
“Hai! Dah lama nunggu?” Seorang lelaki merentangkan kedua tangan memeluknya. Dari balik lengan si pemeluk, mata indah gadis ayu itu memandang ke arah laki-laki yang masih berdiri tak jauh darinya. Beberapa detik pandangan mereka saling bersirobok. Setelah itu laki-laki bertubuh tinggi itu membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya sambil menarik sebuah koper besar dan tas punggung berwarna hitam.
“Mana Mama sama Papa, Kak?”
“Nggak ikut. Itu siapa?”
“Siapa?” Lelaki yang dipanggil kakak itu mengarahkan dagunya ke laki-laki yang semakin menjauh dari pandangannya.
“Tau! Orang sombong nggak penting. Nyebelin banget!”
“Nyebelin apa—“
“Apa, apa?” Mata gadis itu memelotot ke arah kakaknya. Lalu gegas melangkah lebar menuju pelataran parkiran. Ia meninggalkan koper besar yang dibawanya begitu saja.
***
Bersambung
Susah memejamkan mata, membuat gadis yang telah berganti dengan baju tidur itu keluar kamar. Menuju meja makan dan duduk di sana. Ia mengambil segelas air putih lalu meneguknya.
Lamat-lamat ia mendengar seseorang tengah berbicara dan tertawa. ‘Siapa malam-malam gini tertawa-tawa?’ batinnya. Baru saja ia beranjak dan akan melangkah ke asal suara di taman belakang, sebuah sapaan membuatnya sedikit berjingkat.
“Belum istirahat, Nduk?”
Terasa agak aneh memang, seorang pengusaha properti sukses memanggil anaknya dengan panggilan ‘Nduk’, yang terkesan kuno dan ndeso. Aileen pun pernah mengajukan protes atas hal itu. Namun, dengan ringan Papanya itu menjawab, “Kenapa harus malu, Nduk? Di Jawa, itu panggilan untuk anak perempuan kesayangan, lho. Memang Kamu ingin dipanggil apa?” Sejak itu, Aileen pun tidak pernah mempermasalahkan tentang panggilan itu.
“Belum, Pa.”
“Besok di rumah, ya. Kita adakan acara syukuran atas kepulanganmu.”
“Udah ada janji sama teman, Pa.”
“Nggak seharian, kan? Acaranya malam, kok.” Laki-laki dengan syal yang terlilit di leher itu segera berlalu meninggalkannya menuju kamar. Seolah tak mau mendengar alasan dari putri bungsunya itu.
“Iya, Pa,” jawab Aileen lirih hampir tak terdengar.
***
Sementara itu, di waktu yang sama tetapi di tempat yang berbeda, seorang pemuda sedang berbincang mesra bersama kedua orang tua dan adik perempuannya. Pemuda itu bercerita banyak tentang berbagai pengalaman selama empat tahun di tempat menuntut ilmunya, Universitas Al Azhar di Mesir.
Setelah empat tahun menuntut ilmu di universitas Islam tertua di dunia itu, Hasby pulang dengan membawa gelar lulusan terbaik.
Kecintaannya pada ilmu agama, membuatnya kembali mengajukan beasiswa untuk menuntut ilmu di universitas yang sama tetapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi, S2. Ia harus menunggu beberapa bulan untuk mengetahui hasilnya.
Selama masa menunggu, Hasby membantu abinya merintis bisnis biro travel haji dan umrah. Ar roudhoty namanya. Biro travel itu merupakan hasil kerjasama dengan beberapa kolega bisnis abinya. Terutama dari sisi pendanaannya.
Pengumuman peraih beasiswa pendidikan S2 telah terbit. Hasby menjadi salah satu penerimanya. Maka babak baru kehidupannya sebagai mahasiswa pascasarjana di negeri Kinanah itu akan dimulai kembali. Sementara, pengelolaan bisnis biro travel umroh dan haji Ar Roudhoty ia serahkan kepada sang Abi.
Setelah empat tahun kemudian, laki-laki bernama lengkap Hasby Al Azizy itu kembali lulus dengan predikat lulusan terbaik. Ia memang terkenal sebagai anak yang rajin dan ulet. Predikat juara kelas pun tak pernah lepas dari masa SD hingga SMA. Bahkan berlanjut hingga tingkat mahasiswa.
“Abi senang proses studimu berjalan kancar, Le. Delapan tahun bukan waktu yang sebentar untuk menuntut ilmu. Alhamdulillah, semua sudah Kamu lalui. Kini tinggal memikirkan bagaimana cara mengamalkan ilmumu.”
“Inggih, Bi. Ini juga lagi menjajagi kerjasama dengan seorang teman. Ia tinggal di daerah. Sepertinya Ana tertarik dengan tawarannya.”
“Bagus, itu. Tapi jangan melupakan umur. Usiamu sudah cukup untuk mulai memikirkan pendamping hidup, lho. Ummimu sudah pingin punya cucu katanya.” Laki-laki yang dikenal dengan panghilan abi Hasby itu terkekeh kecil.
“Fitrah, toh, Bi. Tapi, diam-diam abimu itu juga menginginkannya, kok, Le.” Ucapan ummi Hasby disambut tawa lebar oleh Hasby dan Nissa, adiknya.
Wajah pemuda yang dibicarakan memerah. Ia menunduk, merasa belum mempunyai jawaban yang tepat untuk disampaikan. Karena memang hingga kini, ia belum pernah serius memikirkan masalah pendamping hidup. Namun, tetiba sekelebat wajah ayu terlintas di benaknya. ‘Astaghfirullah ...’ batinnya.
“Inggih, Bi, Mi.”
“Kalo masalah pekerjaan, jangan khawatir. Biro travel haji dan umrah yang sekarang Abi kelola, nanti Kamu juga bisa bergabung di dalamnya.”
Dering suara ponsel Abi Hasby terdengar nyaring. Nissa, gadis yang sedang kuliah di semester akhir itu segera bangkit mengambilkan ponsel abinya di dalam kamar. Lalu menyerahkan kepada si empunya.
“Terima kasih, Nduk.” Abi menerima panggilan sembari melangkah menuju ruang tamu.
[Halo.]
Kini tinggal Hasby, Nissa, dan umminya yang melanjutkan obrolan. Mereka menghabiskan malam itu dengan bercengkrama bersama di sofa ruang tengah. Hingga tak terasa tengah malam telah menghampiri.
***
Tin tin.
Suara klakson membuat Aileen gegas bangkit dari sofa. Ia melangkah cepat menuju teras, melihat mobil siapa yang datang. Mengetahui orang yang datang adalah sahabat yang ditunggu, senyumnya mengembang.
“Sini.” Tangannya melambai ke arah dua gadis yang baru saja turun dari mobil sedan warna hitam.
Ketiga sahabat yang sudah lama tak bersua di dunia nyata itu saling bergantian berpelukan.
“Kok pagi banget? Bukannya kita janjian jam sepuluh?” tanya Aileen sembari mengurai pelukan.
“Hari ini kita cuti khusus menyambut kedatanganmu, Leen.” Jawaban Chika disambut tawa lebar sahabat satunya, Cindy.
“Hm, enak, ya. Dah jadi model terkenal.” Dua sahabatnya kembali menyambutnya dengan tertawa.
“Yuk, come in. Breakfast, yuk.”
“Ah, enggaklah. Kita nunggu di sini saja. “
“Yaudah. Wait for a minute, ok?”
Kebiasaan berbahasa Inggris ketika masih di San Fransisco, membuat bahasa yang dipakai Aileen saat ini bercampur dengan bahasa internasional itu.
Usai bersiap diri, gegas gadis berkerudung pasmina hitam itu pamit kepada kedua orangg tua. Setelah itu mengambil tas selempang yang tersimpan di atas meja sofa ruang tengah.
“Come on!” Langkahnya diikuti kedua sahabatnya.
“Jangan lupa nanti malam, Nduk.” Mama mengingatkan dari teras sembari melepas kepergian putri kesayangan bersama sahabat masa SMA-nya. Gadis itu hanya melempar senyum sambil mengacungkan jari jempolnya ke udara.
“Kita ke tempat pemotretanku dulu, ya. Ada yang perlu diambil di sana,” ucap Cindy kepada Aileen dan Chika yang duduk di jok tengah.
Sampai di tempat tujuan, Aileen hanya menunggu di samping mobil. Kebetulan pengambilan gambar hari ini dilakukan di luar ruangan. Dari jauh, ia mengamati bagaimana cara pengarah gaya mengarahkan para modelnya.
Keasikannya terusik kala terdengar dentuman keras dari jarak yang tidak terlalu jauh darinya. Ia menoleh ke arah asal suara. Merasa penasaran, akhirnya dia berjalan mendekati tempat kejadian.
**
Bersambung
Sebuah mobil SUV warna hitam melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat kejadian. Tak sempat melihat nomor polisinya, kini gadis dengan rok lipit warna dusty itu fokus pada sosok renta yang terjatuh di pinggir jalan. Ia menoleh kanan kiri berusaha mencari bantuan. Namun, situasi sangat sepi.
Ia melihat motor matic melaju dengan kecepatan sedang tengah melintas. Gegas ia menyetopnya. Memintanya untuk membawa korban tabrak lari ke rumah sakit terdekat. Setelah memesan taksi online, tubuh renta sang kakek segera dibawa ke rumah sakit.
“Help me, please. Kakek ini perlu bantuan. Bawa ke rumah sakit, ya. Aku ada acara sama teman-temanku. Ini mungkin diperlukan saat di rumah sakit nanti.”
Gadis berbaju putih mutiara itu menyerahkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah kepada lelaki di hadapannya. Namun, dengan sopan lelaki muda yang masih menggunakan helm fullface-nya itu menolaknya.
Merasa tak dibutuhkan lagi, gadis itu melenggang meninggalkan pengemudi kendaraan roda dua yang telah dihentikannya tadi.
“Ih, kemana aja, sih. Dicariin dari tadi.”
“Ditelpon berulangkali juga kagak diangkat.”
“Ready? Yuk.” Tanpa merasa bersalah Aileen langsung memasuki mobil berwarna merah silver itu. Dua sahabatnya cuma geleng-geleng melihat sikap cueknya yang masih saja belum berubah.
“Come on, guys! Kemana kita sekarang? How about—“
“Santana Cafe? Kafe Daun Hijau? Gu—“
Drrrt drrrt.
“Iya, Mi?”
[Sekarang juga pulang! Se-ka-rang. Nggak pake lama.]
“I-iya, Mi.”
“Ada apa, Chik?”
“Tolong antar aku pulang Cyn.”
“Your Mom?” Pertanyaan Aileen langsung dijawab Cindy dengan sekali anggukan. Aileen segera mengelus bahu sahabatnya itu untuk memberi kekuatan.
Menurut kabar dari Cyndy beberapa bulan yang lalu, Mommy Chika mengalami depresi. Papinya tertangkap menjalani hubungan tanpa ikatan. Mommy Cindy ingin menggugat cerai, tapi mama dan mama mertuanya melarang. Akhirnya dia mencoba tetap bertahan. Namun, ternyata hal itu menyebabkan dirinya mengalami tekanan batin yang hebat dan berujung pada depresi.
Usai mengantar Chika, Cindy mengarahkan kendaraannya ke pusat kota. Mengantar sahabat SMA-nya itu pergi ke salon perawatan kecantikan langganannya. Setelah selesai, mereka melanjutkan mencari pakaian ke butik langganan mama Aileen. Demi memberikan penampilan yang terbaik, gadis bermata bulat itu rela merogoh kocek yang tidak sedikit untuk mendapatkan semuanya.
“Nanti malam jangan lupa datang, ya guys. Temenin aku.”
“Tenang.”
“Cindy ...” ucapnya ragu. Ada keinginan untuk menceritakan tentang perjodohan yang dilakukan papanya, tapi khawatir menambah beban sahabat di depannya itu.
Sejak satu tahun yang lalu, Cindy menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Ayahnya dipenjara karena korupsi di perusahaan tempat kerjanya. Dua adiknya masih SMP dan SMA. Sementara mamanya kini sakit-sakitan karena memikirkan papanya.
Aileen masih menatap ramainya pengunjung di pusat jajanan di salah satu mal di pusat kota. Sambil menikmati makanan kesukaannya, kentang goreng plus saus mayonise.
“Heh, bengong. Gue dicuekin!”
“Eh, eng-enggak.”
“Udahan, yuk.” Aileen menyudahi makannya lalu ke kasir. Setelah itu Cindy melajukan roda empatnya mengantar sahabatnya pulang.
“Dont forget to my party to night.” Gadis berkerudung pashmina itu sekali lagi mengingatkan sahabatnya.
Dari balik kemudi gadis berbaju dress selutut itu mengangkat dua jempolnya sebagai jawaban.
“Bye-bye.”
***
Kesibukan kecil terlihat di keluarga abi Hasby. Ummi dan Nissa terlihat sibuk menyiapkan oleh-oleh untuk keluarga Hadiwidjaya. Sedangkan Abi dan Hasby sedang mengecek mobil sedannya yang sudah berumur tua.
Tepat pukul 15.00 mereka meninggalkan rumah. Sebenarnya jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh. Namun, mengingat hampir di setiap ruas jalan kemacetannya mengular, maka mereka sepakat untuk berangkat jauh kebih awal.
Sampai di tempat acara tepat ketika adzan Maghrib berkumandang. Usai melaksanakan kewajiban tiga rakaat di musala kecil di rumah mewah itu, keluarga Hasby disambut hangat oleh keluarga Hadiwidjaya.
Undangan lain sudah banyak yang berdatangan. Memenuhi ruang tamu dan teras samping yang kini telah berubah menjadi tempat acara yang indah dan megah. Beberapa buket bunga hidup terpajang di beberapa titik ruangan. Menambah segar suasana yang bernuansa hijau dan putih itu.
Sepuluh menit lagi acara di mulai. Namun, tak satu pun dua dari sahabatnya kelihatan batang hidungnya. Akhirnya Aileen menelepon kembali untuk mengingatkan. Namun beberapa kali melakukan panggilan, panggilanya tidak terangkat.
“Ck. Kemana mereka?” Gadis yang mengenakan celana bahan warna hitam dipadu dengan pashmina warna abu-abu muda ini masih mematut diri di depan kaca besar di kamarnya yang luas. Lalumenyempurnakan riasan wajahnya dengan lipstik warna nude kesukaannya.
“Sudah, yuk. Acara sudah mau dimulai, tuh.” Suara laki-laki yang sangat dikenalnya itu terdengar seiring langkahnya yang mendekat ke arahnya. Menyejajari dirinya di depan cermin. “Hmm, cantiknya. Beruntung sekali calon suaminya.” Tangannya merangkul bahu adik semata wayangnya. “Paan, sih.” Aileen memukul lengan kakaknya hingga meringis kesakitan. “Cakep juga, tuh, calonmu.”
“Hah, emang dia datang juga?”
“Sekeluarga.” Sontak gadis berkulit putih itu menoleh ke laki-laki di sampingnya. “Serius? Wait, emang Kakak tau?” Yang ditanya hanya mengedikkan bahunya.
Tomy siap menggandeng Aileen ke tempat acara di lantai satu. Gadis yang sebenarnya menahan kantuk akibat jetlack itu berusaha tampil ceria. Aileen dan kakaknya berjalan beriringan menuju tempat papa dan mamanya berada. Setelah itu MC segera memulai acara sesuai rencana.
***
Bersambung