Hujan turun deras malam itu, menutupi suara langkah tergesa-gesa Sienna Aldridge saat ia melangkah ke dalam sebuah klub malam yang gemerlap di pusat kota. Aroma alkohol dan musik berdentum memenuhi udara, tetapi matanya hanya terfokus pada satu hal-sosok kakak iparnya, Miranda, yang tengah bersandar mesra pada seorang pria asing.
Sienna tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Hanya beberapa jam yang lalu, ia masih berada di rumah Damian, menemani keponakan kecilnya bermain, sementara Miranda berpura-pura sebagai istri sempurna. Sekarang, di hadapannya, wanita itu tertawa dengan pria lain-seolah suaminya tidak pernah ada.
Tangannya mengepal. Dadanya bergetar hebat.
Kakaknya, Damian Aldridge, telah mengorbankan segalanya untuk Miranda. Ia bekerja siang dan malam, membangun kerajaan bisnis keluarga mereka dari nol. Damian adalah pria yang tangguh, tidak pernah menunjukkan kelemahan. Tapi Sienna tahu, satu hal yang bisa menghancurkan kakaknya adalah pengkhianatan dari orang yang paling ia cintai.
Dan Miranda melakukan itu.
Dari balik bayangan, Sienna mengamati dengan mata penuh amarah. Pria yang bersama Miranda tampak percaya diri, menyentuh wajahnya seolah Miranda adalah miliknya. Pria itu bukan hanya sembarang selingkuhan. Alec Donovan-musuh bisnis Damian, pria yang selama ini berusaha menjatuhkan kakaknya di dunia korporat.
Sienna merasa mual. Ini bukan sekadar pengkhianatan biasa. Ini penghinaan.
Tiba-tiba, Miranda menarik Alec ke dalam ciuman. Bukan ciuman sembarangan-panas, menuntut, dan penuh gairah.
Sienna ingin memalingkan wajahnya, ingin menghapus pemandangan itu dari ingatannya. Tapi ia tahu, ini bukan sesuatu yang bisa ia lupakan begitu saja.
Air matanya nyaris jatuh. Bukan karena sedih-tapi karena marah.
Mata Sienna membara saat tatapannya terkunci pada Alec. Jika Miranda bisa bermain seperti ini, maka ia juga bisa. Jika Miranda tidak menghargai Damian, maka ia akan membalasnya dengan caranya sendiri.
Ia menarik napas dalam, menenangkan debaran jantungnya.
Tidak, ia tidak akan membongkar ini pada Damian. Kakaknya tidak perlu tahu.
Sebaliknya, ia akan mengambil langkah yang lebih kejam.
Jika Miranda bisa berkhianat, maka Sienna akan menghancurkan perselingkuhan ini dari dalam.
Ia akan membuat Alec jatuh cinta padanya.
Dan saat itu terjadi, ia akan menghancurkan semuanya.
Dengan senyum tipis yang penuh rahasia, Sienna melangkah mendekat, menyusun permainannya sendiri.
Ini baru permulaan.
Dingin malam masih menyelimuti kota ketika Sienna melangkah keluar dari klub dengan kepala yang berdenyut hebat. Hujan telah berhenti, meninggalkan aroma aspal basah yang bercampur dengan wangi parfum mahal yang masih melekat di kulitnya. Langkahnya mantap, meskipun pikirannya masih berkecamuk.
Ia tidak kembali ke apartemennya. Tidak juga ke rumah Damian. Ia butuh waktu untuk menyusun rencana. Karena sekarang, ini bukan hanya tentang pengkhianatan Miranda-ini tentang bagaimana ia bisa membalasnya dengan cara yang paling halus, paling kejam.
Dan satu-satunya cara adalah dengan Alec Donovan.
Keesokan harinya.
Sienna duduk di sudut sebuah kafe eksklusif, matanya menelusuri layar tablet yang menampilkan segala informasi yang bisa ia temukan tentang Alec. Pria itu bukan hanya pesaing bisnis Damian-dia adalah ancaman.
Alec Donovan memiliki reputasi sebagai pria yang licik dan tidak bisa dipercaya. Ia membangun perusahaannya dengan cara-cara yang penuh intrik, dan tidak segan menghancurkan siapa pun yang menghalanginya. Banyak yang mengatakan bahwa Alec adalah pria yang tidak memiliki kelemahan.
Tapi Sienna tahu satu hal.
Semua pria punya kelemahan.
Dan kelemahan Alec adalah wanita.
Sienna menyeringai tipis. Ia melihat bagaimana Alec memperlakukan Miranda tadi malam-mendominasi, penuh percaya diri. Jika Alec menyukai tantangan, maka Sienna akan memberinya sesuatu yang jauh lebih menarik.
Sienna menutup tabletnya dan menarik napas dalam. Jika ia ingin mendekati Alec, maka ia tidak bisa melakukannya begitu saja. Ia harus masuk ke dalam dunianya. Dan satu-satunya cara untuk melakukan itu adalah dengan menghadiri salah satu acara bisnis yang sering dihadiri pria itu.
Kebetulan, ia tahu di mana Alec akan berada malam ini.
Malam itu.
Sienna melangkah ke dalam ballroom hotel bintang lima dengan percaya diri yang dingin. Gaun hitam berpotongan elegan membalut tubuhnya, memperlihatkan siluetnya dengan sempurna tanpa terlihat berlebihan. Rambutnya ditata rapi, bibirnya berwarna merah tua-bukan sekadar untuk menarik perhatian, tapi untuk menyampaikan sesuatu.
Ia bukan gadis yang bisa diabaikan.
Dan malam ini, ia tidak datang untuk bermain-main.
Tatapannya menyapu ruangan yang dipenuhi para pebisnis dan sosialita papan atas. Ia tidak butuh waktu lama untuk menemukan Alec.
Pria itu berdiri di dekat bar, mengenakan setelan hitam yang terlihat dibuat khusus untuknya. Sikapnya santai, minuman di tangannya berputar pelan di antara jemarinya. Matanya tajam, seperti pria yang selalu tahu apa yang ia inginkan-dan bagaimana cara mendapatkannya.
Sienna menarik napas dan mulai melangkah. Ia tidak terburu-buru, membiarkan setiap gerakannya terlihat alami, namun cukup menarik perhatian. Dan benar saja-saat ia berada cukup dekat, mata Alec menangkap kehadirannya.
Pria itu menoleh, alisnya sedikit terangkat.
Sienna tidak menunjukkan ekspresi berlebihan. Ia hanya tersenyum tipis, lalu beralih ke bartender dan memesan minuman.
Ia bisa merasakan tatapan Alec masih tertuju padanya.
"Jarang melihat wajah baru di acara seperti ini," suara Alec terdengar dalam, penuh rasa ingin tahu.
Sienna melirik sekilas, memberikan jeda seolah pria itu tidak langsung menarik perhatiannya. "Mungkin karena aku tidak sering datang ke acara yang membosankan."
Alec terkekeh, seolah terhibur. "Lalu, apa yang membawamu kemari?"
Sienna menyesap minumannya dengan tenang sebelum menatap Alec langsung. "Bisnis, tentu saja."
Alec memiringkan kepalanya, menatapnya lebih dalam. "Oh? Dan bisnis apa yang membuat seorang wanita sepertimu datang ke acara seperti ini?"
Sienna tersenyum, kali ini lebih dalam. "Bisnis yang cukup menarik untuk membuatku mendekat padamu, Tuan Donovan."
Alec tampak terkejut sesaat sebelum senyum penuh ketertarikan menghiasi wajahnya. "Aku suka wanita yang tahu apa yang ia inginkan."
Sienna hanya tersenyum samar. Ia tahu permainan ini baru saja dimulai.
Dan ia berniat memenangkan semuanya.
Tatapan Alec masih menelusuri wajah Sienna dengan penuh minat. Ia jelas tidak mengira bahwa seorang wanita asing akan muncul dan menarik perhatiannya seperti ini.
Sienna tahu ia sudah menarik perhatian Alec, tapi itu belum cukup. Jika ingin membuatnya jatuh ke dalam permainannya, ia harus bermain lebih dalam-cukup untuk membuat Alec merasa bahwa ialah yang memegang kendali, padahal sebenarnya ia yang sedang dikendalikan.
Ia menyesap minumannya perlahan, matanya masih mengunci milik Alec. "Kupikir pria sepertimu tidak akan mudah didekati, tapi ternyata aku salah."
Alec menyandarkan tubuhnya ke meja bar, jemarinya memainkan gelas di tangannya. "Dan kenapa kau berpikir begitu?"
Sienna menampilkan senyum kecil, seolah mempertimbangkan jawabannya. "Karena dari yang kudengar, Alec Donovan bukanlah pria yang bisa dipercaya."
Alec terdiam sesaat, lalu tertawa kecil. "Oh? Aku tidak tahu apakah itu pujian atau penghinaan."
Sienna mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, membiarkan parfum mahalnya menguar di udara. "Mungkin sedikit dari keduanya."
Alec tampak semakin tertarik. "Dan jika aku memang tidak bisa dipercaya, lalu apa yang membuatmu tetap ingin mendekatiku?"
Sienna memiringkan kepalanya, berpura-pura berpikir. "Karena aku menyukai risiko."
Alec terkekeh, lalu mengangkat gelasnya. "Wanita yang menarik."
Sienna hanya tersenyum samar, membiarkan keheningan di antara mereka berbicara. Ia tahu Alec sedang menilainya, mencoba memahami niatnya. Tapi itulah bagian terbaik dari permainan ini-membuat Alec mengira bahwa dialah pemburu, padahal sebenarnya, dialah yang sedang diburu.
"Kau belum memberitahuku namamu," ujar Alec, suaranya tenang namun menuntut.
Sienna mengangkat bahu. "Mungkin aku ingin tetap menjadi misteri."
Alec menatapnya, lalu tersenyum seolah menerima tantangan. "Baiklah, Nona Misterius. Tapi aku akan mencari tahu, cepat atau lambat."
Sienna tertawa kecil, lalu meletakkan gelasnya di meja. "Kalau begitu, kuharap kau cukup pintar untuk menemukannya."
Ia lalu berbalik, melangkah pergi dengan percaya diri, membiarkan Alec memandang punggungnya. Ia bisa merasakan tatapan pria itu masih tertuju padanya, penuh rasa ingin tahu dan minat yang semakin berkembang.
Ini langkah pertama.
Dan sejauh ini, semuanya berjalan sesuai rencana.
Keesokan harinya.
Sienna duduk di ruang kantornya, matanya fokus pada layar laptop yang menampilkan data tentang Alec Donovan.
Ia sudah memastikan bahwa Alec akan semakin penasaran dengannya. Pria seperti itu tidak akan membiarkan seorang wanita menarik perhatiannya lalu menghilang begitu saja.
Dan benar saja-sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Alec Donovan:
Jadi, kau tidak akan memberitahuku namamu?
Sienna tersenyum tipis, jemarinya mengetik balasan dengan santai.
Sienna:
Mungkin aku akan mempertimbangkannya, jika kau cukup menarik untuk membuatku tetap ingin berbicara denganmu.
Beberapa detik kemudian, balasan datang.
Alec Donovan:
Bagaimana jika aku menantangmu untuk bertemu lagi?
Sienna menatap layar ponselnya dengan ekspresi penuh kemenangan. Alec sudah masuk ke dalam permainannya.
Tanpa ragu, ia mengetik satu kata balasan.
Sienna:
Buktikan dulu kalau kau layak.
Permainan baru saja dimulai.