Bab 1

Kampus Universitas Mahardika adalah salah satu kampus terkemuka di kota, dikenal dengan dosen-dosen hebat dan disiplin yang ketat. Namun, di balik gedung-gedung megah dan suasana akademis yang sibuk, ada satu nama yang membuat mahasiswa di fakultas hukum bergetar hanya dengan mendengar suaranya: Andra Wiratma.

Dosen muda berusia 34 tahun itu terkenal dingin, perfeksionis, dan tidak pernah kompromi soal kesalahan. Penampilannya rapi, rambut selalu tersisir ke belakang, dengan kemeja putih yang tak pernah terlihat kusut. Sikapnya membuatnya terlihat lebih tua dari usianya, dan mahasiswa sering bergurau bahwa Andra adalah reinkarnasi "dosen kuno zaman penjajahan".

Namun, bagi Raina Sasmita, dosen killer itu adalah tantangan.

"Aku yakin bisa membuat dia tersenyum, bahkan mungkin jatuh cinta!" ujar Raina dengan suara penuh percaya diri.

Siska dan Maya, dua sahabatnya yang sudah hafal betapa impulsifnya Raina, hanya bisa saling pandang dengan ekspresi khawatir.

"Aku tahu kamu suka hal-hal aneh, Rain, tapi mendekati Pak Andra? Kamu serius?" tanya Siska sambil melipat tangan di depan dada.

Raina mengangguk sambil mengaduk kopi di depannya. "Ini bukan sekadar iseng. Kalian tahu kan tadi malam aku kalah truth or dare? Maya sendiri yang kasih tantangan ini. Jadi aku harus menjalankan!"

Maya terkekeh, merasa bersalah sekaligus tak sabar melihat hasilnya. "Iya sih, tapi aku nggak nyangka kamu bakal terima tantangan ini. Maksudku, kita ngomongin Pak Andra di sini! Dia itu dosen killer, bukan cowok kampus yang gampang diajak bercanda."

"Justru itu! Dia terlalu serius. Hidupnya pasti membosankan," sahut Raina sambil menyandarkan punggung ke kursi. "Bayangin kalau aku bisa bikin dia berubah. Itu pencapaian!"

Siska menghela napas. "Kamu benar-benar gila."

Maya menepuk bahu Raina dengan senyum lebar. "Semoga berhasil, Rain. Tapi jangan sampai kamu kena masalah besar gara-gara ini."

Keesokan harinya

Raina duduk di kelas hukum perdata dengan senyum licik di wajahnya. Dia sengaja memilih kursi di barisan depan, tepat di depan meja dosen. Ketika Andra masuk ke ruangan dengan langkah tegas, suasana langsung berubah. Semua mahasiswa yang tadinya asyik mengobrol mendadak diam, seolah takut menarik perhatian sang dosen.

"Selamat pagi," ucap Andra singkat sambil menaruh map tebal di atas meja. Suaranya dalam dan penuh wibawa.

"Selamat pagi, Pak!" jawab mahasiswa serempak, kecuali Raina yang dengan santainya menatap Andra tanpa berkata apa pun.

Andra memandang kelasnya sebentar sebelum mulai menjelaskan materi. "Hari ini kita akan membahas konsep dasar dalam hukum kontrak. Buka buku kalian di halaman 120."

Saat mahasiswa sibuk membuka buku, Raina mengangkat tangannya. "Pak Andra, saya punya pertanyaan."

Andra menatapnya, alisnya sedikit terangkat. "Apa pertanyaannya, Raina?"

Raina tersenyum manis. "Kenapa Bapak selalu terlihat serius? Apa Bapak nggak pernah santai atau tertawa?"

Kelas mendadak hening. Semua mahasiswa menoleh ke arah Raina dengan tatapan kaget, bahkan beberapa berani tertawa kecil.

Andra terdiam sejenak, ekspresinya tetap datar. "Kalau tidak ada pertanyaan yang relevan dengan materi, lebih baik fokus pada buku kalian."

Raina tak menyerah. "Saya cuma penasaran, Pak. Bapak nggak pernah tersenyum di depan kami. Senyum itu sehat, lho."

Andra menghela napas panjang, jelas mencoba menahan kesabarannya. "Raina, saya tidak di sini untuk membahas kebiasaan pribadi saya. Kalau kamu tidak mau mendengarkan materi, kamu bisa keluar dari kelas."

Namun, Raina tetap duduk dengan santai, bahkan menahan senyum jahil di wajahnya. "Baik, Pak. Saya akan mendengarkan."

Andra mengabaikannya dan kembali menjelaskan materi. Tapi di sepanjang kelas, Raina terus mencoba menarik perhatian sang dosen, mulai dari memberikan komentar kecil hingga menatap Andra tanpa berkedip.

Setelah kelas berakhir

Raina menunggu di luar kelas, sengaja berdiri di dekat pintu dengan alasan ingin bertanya sesuatu. Ketika Andra keluar, dia langsung menghampiri.

"Pak, saya benar-benar punya pertanyaan, kali ini soal materi," katanya sambil berusaha terlihat serius.

Andra memandangnya dengan skeptis. "Apa?"

"Kenapa dalam kontrak ada istilah consideration? Kenapa nggak cukup dengan janji saja?"

Pertanyaannya kali ini cukup serius untuk membuat Andra berhenti sejenak dan memberikan penjelasan singkat. Namun, saat dia selesai menjelaskan, Raina kembali mengajukan pertanyaan aneh.

"Jadi, kalau janji nggak cukup di kontrak, bagaimana dengan janji cinta, Pak? Apa itu juga butuh consideration?"

Andra memejamkan mata sejenak, jelas mulai merasa terganggu. "Raina, kamu sudah cukup bertanya untuk hari ini. Jangan ganggu waktu saya lagi."

Namun, sebelum Andra pergi, Raina tersenyum lebar. "Tapi, Pak, saya serius. Janji cinta Bapak itu seperti apa?"

Andra menatapnya tajam. "Raina, berhenti sekarang juga. Saya tidak akan segan memberi teguran resmi kalau kamu terus bersikap seperti ini."

Raina Tidak Menyerah

Permainan yang awalnya hanya sebuah tantangan mulai terasa seperti obsesi kecil bagi Raina. Setiap hari, dia mencari cara untuk mendekati Andra, entah dengan pura-pura bertanya soal materi, "kebetulan" bertemu di kantin, atau bahkan meninggalkan catatan kecil di meja dosennya.

Namun, semakin dia mencoba, semakin dia menyadari sesuatu yang aneh. Meski Andra sering menunjukkan ketidaksukaan, dia tidak pernah benar-benar marah. Bahkan, ada saat-saat di mana Raina merasa tatapan Andra menjadi lebih lembut, meski hanya untuk sedetik.

"Pak Andra itu misteri," kata Raina suatu hari kepada Siska dan Maya. "Dia marah-marah, tapi dia nggak pernah benar-benar mengusirku."

"Kamu yakin itu tanda baik?" tanya Siska sambil mengangkat alis.

"Ya, aku yakin. Aku harus membuatnya membuka diri. Aku nggak akan menyerah," jawab Raina dengan senyum penuh tekad.

Malam itu, suasana di kamar kost Raina terasa ramai. Tiga orang gadis berkumpul di lantai, dikelilingi berbagai camilan, botol minuman soda, dan tumpukan buku kuliah yang terbengkalai di meja. Raina, Siska, dan Maya sedang menikmati malam bebas dari tugas kuliah yang menumpuk.

"Aku bosan," keluh Maya sambil meregangkan tubuh. "Kita perlu sesuatu yang seru malam ini."

"Main game, yuk!" usul Siska sambil membuka bungkus keripik kentang.

"Game apa? Jangan yang membosankan," timpal Raina, memutar-mutar sedotan di gelasnya.

Siska menyeringai. "Truth or Dare. Tapi... dengan aturan yang lebih ekstrem."

Maya dan Raina langsung tertarik. "Ekstrem gimana maksudmu?" tanya Maya, mendekat.

"Kita harus benar-benar menjalankan apa pun tantangannya. Kalau nggak, ada hukumannya," jelas Siska dengan mata berbinar.

Raina mendengus. "Hukuman apa? Jangan-jangan cuma suruh joget di depan kamera kayak kemarin."

"Bukan. Hukuman kali ini lebih gila," jawab Siska sambil memandangi Raina penuh arti. "Misalnya, kamu harus berani nembak seseorang yang kita tentukan."

Raina tertawa keras. "Serius? Itu tantangan anak SMA!"

"Ya, kalau kamu nggak berani, bilang aja!" tantang Siska.

Raina mengangkat alis. "Siapa takut? Ayo mulai."

Maya mengambil botol soda yang sudah kosong dan meletakkannya di tengah. "Kita pakai botol ini buat pilih siapa yang kena giliran."

Mereka memutar botol, dan ujungnya berhenti mengarah pada Siska.

"Truth or Dare?" tanya Raina.

"Dare," jawab Siska tanpa ragu.

"Okay, kamu harus kirim pesan voice note ke gebetanmu dan bilang kamu suka dia," tantang Raina.

Siska tertawa gugup. "Kamu serius?"

"Tentu. Jangan ngecut, ya," goda Maya.

Dengan wajah memerah, Siska mengeluarkan ponselnya, merekam pesan suara, dan mengirimkannya ke nomor gebetannya. Setelah selesai, mereka semua tertawa sampai perut sakit.

Botol diputar lagi, kali ini berhenti di Raina.

"Truth or Dare?" tanya Siska dengan nada penuh tantangan.

"Dare," jawab Raina tanpa berpikir.

Siska dan Maya saling pandang, lalu tersenyum jahil. "Kamu harus mendekati Pak Andra, dosen killer kita, dan bikin dia jatuh cinta padamu," tantang Siska.

Raina terdiam sejenak. Tantangan itu terdengar konyol, tapi sangat menarik. "Berapa lama aku harus melakukannya?"

"Seminggu," jawab Maya. "Kalau dalam seminggu kamu nggak berhasil bikin dia setidaknya menunjukkan perasaan suka, kamu harus belikan kita makan di restoran mahal."

"Deal," kata Raina dengan penuh percaya diri.

Keesokan paginya, Raina berdiri di depan cermin, mengenakan baju terbaiknya. Ia memilih gaun kasual berwarna pastel yang manis, berharap bisa terlihat menarik tapi tetap sopan di depan Pak Andra.

"Kamu yakin bisa?" tanya Siska yang berdiri di ambang pintu kamar Raina.

"Yakin. Dia mungkin galak, tapi aku yakin semua orang punya sisi lembut," jawab Raina sambil merapikan rambutnya.

Saat sampai di kampus, Raina langsung menuju ruang dosen, tempat biasanya Pak Andra berada sebelum kelas dimulai. Ia mengetuk pintu dengan perlahan.

"Masuk," terdengar suara berat dari dalam.

Raina membuka pintu dan melihat dosennya itu sedang sibuk mengetik di laptop. Pak Andra, dengan wajah dingin dan kacamata yang terpasang rapi, menoleh sekilas ke arahnya.

"Ada apa, Raina?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Saya mau bertanya, Pak, tentang tugas minggu lalu," kata Raina, mencoba terdengar polos.

"Tugas apa?" Andra mengangkat alis.

Raina berusaha mencari alasan, lalu berkata, "Tugas tentang perbandingan hukum perdata. Saya ingin tahu lebih dalam tentang kasus yang Bapak bahas."

Andra menghela napas, lalu menunjuk kursi di depannya. "Duduk."

Raina menurut, menatap pria di depannya dengan mata berbinar. Dalam hati, ia berpikir, Oke, tahap pertama berhasil. Sekarang tinggal cari cara buat bikin dia nyaman ngobrol sama aku.

Namun, Andra tetap terlihat dingin selama diskusi itu. Tidak ada sedikit pun senyum yang muncul di wajahnya. Meski begitu, Raina tidak menyerah. Ia tahu, ini baru awal dari misi gilanya.

Permainan Dimulai

Malam itu, di kamar kost, Siska dan Maya tertawa mendengar cerita Raina tentang pertemuannya dengan Pak Andra.

"Dia beneran kaku, ya?" tanya Maya sambil memakan popcorn.

"Banget. Tapi aku nggak akan kalah," jawab Raina dengan semangat.

"Kamu harus buat langkah yang lebih berani," usul Siska. "Mungkin mulai ajak dia ngobrol soal hal-hal di luar kuliah."

Raina mengangguk. "Besok aku coba. Aku akan cari tahu apa yang dia suka."

Keesokan harinya, Raina sengaja menunggu di taman kampus, tempat biasanya Pak Andra berjalan melewati untuk menuju ruang kelas. Ketika melihat pria itu dari kejauhan, Raina melambai sambil tersenyum lebar.

"Selamat pagi, Pak!" sapanya ceria.

Andra terlihat bingung, tapi akhirnya mengangguk. "Pagi, Raina. Ada perlu?"

"Nggak, cuma mau menyapa saja. Bapak kelihatan sibuk terus," jawab Raina santai.

Andra tidak menjawab dan terus berjalan, tetapi Raina mengikutinya.

"Pak, boleh tanya sesuatu?"

Andra menghela napas, lalu berhenti. "Apa lagi, Raina?"

"Apa Bapak pernah punya hobi? Maksud saya, selain kerja dan mengajar," tanya Raina dengan senyum penuh rasa ingin tahu.

Andra menatapnya lama sebelum akhirnya menjawab, "Saya suka membaca."

"Wow, buku apa yang Bapak suka?"

"Novel klasik," jawab Andra singkat, lalu melanjutkan langkahnya.

Raina tersenyum puas. Itu mungkin percakapan singkat, tapi setidaknya ia berhasil membuat dosennya itu berbicara lebih dari biasanya.

Bab 2

Malam itu, setelah berhasil menggali sedikit informasi tentang Pak Andra, Raina duduk di kamarnya bersama Siska dan Maya. Ia memutar-mutar pulpen di tangannya, terlihat berpikir keras.

"Jadi dia suka baca novel klasik," kata Raina sambil menghela napas. "Aku harus manfaatkan ini."

"Bagus! Itu bisa jadi pintu masuk," ujar Maya sambil menyeruput teh hangat.

"Tapi gimana caranya? Aku nggak tahu novel klasik sama sekali," keluh Raina.

Siska menyengir. "Tenang, ada Google, kan? Cari tahu dulu. Besok bawakan dia buku favoritnya sebagai alasan buat ngobrol lebih lama."

Raina mengangguk, lalu mulai mencari informasi di ponselnya. Setelah beberapa menit, ia tersenyum. "Oke, aku tahu. Besok aku akan bawa Pride and Prejudice. Itu novel klasik yang populer banget. Kayaknya nggak mungkin dia nggak suka."

Keesokan harinya, Raina datang ke kampus lebih awal. Ia membawa sebuah buku Pride and Prejudice yang baru dibelinya di toko buku semalam. Dengan gugup, ia menunggu di depan ruangan Pak Andra. Ketika pria itu muncul dengan jas hitam dan membawa tumpukan berkas, Raina langsung menyapanya.

"Selamat pagi, Pak!" seru Raina dengan senyum cerah.

Andra berhenti sejenak, menatap Raina dengan ekspresi datar. "Pagi. Ada apa lagi kali ini?"

"Saya mau memberikan ini, Pak." Raina mengulurkan buku itu. "Saya dengar Bapak suka novel klasik, jadi saya pikir mungkin Bapak ingin membaca ini."

Andra mengernyit. Ia menerima buku itu dengan hati-hati, seolah tak percaya apa yang sedang terjadi. "Kenapa tiba-tiba kamu memberi saya buku?"

Raina mengangkat bahu, mencoba terlihat santai. "Hanya ingin berterima kasih karena Bapak sudah selalu membantu kami belajar. Anggap saja ini hadiah kecil."

Andra terdiam sejenak. Lalu, untuk pertama kalinya, Raina melihat sudut bibir pria itu sedikit terangkat. Senyum kecil muncul di wajah dinginnya.

"Terima kasih, Raina. Ini buku bagus," ujar Andra pelan.

Raina merasa hatinya hampir melompat keluar. Ia tidak menyangka usahanya membuahkan hasil. "Sama-sama, Pak. Saya harap Bapak suka."

Setelah itu, Andra melanjutkan jalannya ke ruang dosen, meninggalkan Raina yang tersenyum penuh kemenangan.

Langkah Berikutnya

Di malam harinya, Raina kembali berkumpul dengan Siska dan Maya untuk membahas perkembangannya.

"Dia senyum, kalian tahu! Pak Andra senyum gara-gara aku kasih buku itu," kata Raina dengan semangat.

Siska tertawa sambil mengangkat jempol. "Bagus, Rai! Itu tanda dia mulai nggak terlalu kaku sama kamu."

"Tapi ini baru awal. Kamu harus terus cari cara buat lebih dekat," tambah Maya.

Raina mengangguk, berpikir keras. "Aku punya ide. Aku bakal pura-pura minta bimbingan tugas lagi, tapi kali ini aku akan ajak dia bicara soal novel itu. Mungkin itu bisa jadi topik obrolan yang bikin dia lebih nyaman."

Keesokan harinya, Raina menjalankan rencananya. Ia menunggu lagi di luar ruangan Pak Andra setelah jam kuliah selesai. Ketika dosennya keluar, ia langsung mendekat.

"Pak, boleh saya minta waktu sebentar?" tanyanya dengan suara lembut.

Andra menatapnya dengan ekspresi bingung. "Ada apa lagi, Raina?"

"Saya sudah mulai baca buku yang saya kasih ke Bapak kemarin. Ada beberapa bagian yang saya nggak terlalu paham. Mungkin Bapak bisa jelaskan?"

Andra menghela napas panjang. "Kamu ini seperti tidak punya pekerjaan lain selain ganggu saya."

Raina tersenyum canggung. "Maaf, Pak. Saya cuma ingin belajar lebih banyak."

Andra akhirnya mengangguk. "Baiklah. Kita bicara di perpustakaan."

Percakapan di Perpustakaan

Di perpustakaan kampus yang sepi, Raina duduk berhadapan dengan Andra. Di meja, buku Pride and Prejudice terbuka di tengah, sementara Andra dengan sabar menjelaskan tentang tokoh-tokoh dalam cerita itu.

"Elizabeth Bennet adalah karakter yang kuat. Dia tidak takut menyuarakan pendapatnya, meski itu berarti melawan norma yang ada," jelas Andra dengan nada serius.

Raina terpesona melihat sisi lain dari dosennya. Untuk pertama kalinya, ia merasa Andra bukan sekadar dosen galak, tapi seseorang yang benar-benar memiliki passion terhadap hal yang ia sukai.

"Jadi, menurut Bapak, Darcy sebenarnya mencintai Elizabeth sejak awal, tapi dia terlalu sombong untuk mengakuinya?" tanya Raina, mencoba terlibat lebih dalam.

Andra tersenyum tipis. "Bisa dibilang begitu. Cinta sering kali membuat seseorang terlihat bodoh, bukan?"

Raina tertawa kecil. "Iya, benar juga."

Saat itu, Andra menatap Raina lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu di matanya yang sulit diartikan, tetapi membuat Raina merasa jantungnya berdebar lebih cepat.

Misi yang Mulai Berubah

Setelah percakapan itu, Raina mulai merasa ada sesuatu yang berbeda. Awalnya, ia hanya menganggap ini sebagai tantangan konyol untuk membuktikan keberaniannya kepada teman-temannya. Namun, semakin ia mengenal Andra, semakin ia merasa bahwa ada sisi lain dari pria itu yang menarik perhatian.

Di sisi lain, Andra juga mulai memandang Raina dengan cara yang berbeda. Ia tidak bisa memungkiri bahwa gadis itu memiliki keberanian dan kehangatan yang jarang ia temui dalam kehidupan sehari-harinya yang monoton.

Namun, Raina tahu bahwa jalan ini tidak akan mudah. Tantangan yang awalnya hanya permainan kini berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Ia mulai bertanya-tanya, apakah ia benar-benar bisa menyelesaikan misi ini tanpa melibatkan perasaannya sendiri?

Bab 3

Malam itu, Raina duduk termenung di kamarnya. Buku Pride and Prejudice tergeletak di meja, tapi pikirannya jauh dari cerita yang baru saja ia baca. Ia memutar kembali percakapannya dengan Pak Andra di perpustakaan. Ada sesuatu dalam tatapan pria itu-sesuatu yang membuatnya merasa seperti tengah berjalan di atas garis tipis antara keberhasilan dan kehancuran.

"Apa aku benar-benar melakukan ini cuma untuk permainan?" gumamnya pelan.

Siska, yang sedang duduk di lantai sambil menonton serial drama, menoleh. "Apa yang kamu omongin, Rai? Jangan bilang kamu mulai baper."

"Enggak kok," bantah Raina cepat. Tapi nada suaranya tidak meyakinkan, bahkan untuk dirinya sendiri.

Siska mendengus. "Serius deh, ini cuma game. Jangan terlalu bawa perasaan. Kalau sampai baper, kamu sendiri yang bakal repot."

Raina mengangguk, tapi hatinya masih bimbang.

Pertemuan Tak Terduga

Keesokan harinya, Raina sedang berjalan menuju kantin ketika ia mendengar suara familiar memanggil namanya.

"Raina!"

Ia menoleh dan melihat Andra berdiri di dekat taman kampus, dengan ekspresi serius seperti biasa. Raina mengerutkan kening. Tidak biasanya pria itu memanggilnya di luar kelas.

"Ya, Pak? Ada apa?" tanyanya sambil mendekat.

Andra menghela napas. "Saya mau bicara sebentar. Ada waktu?"

Raina mengangguk, meski rasa gugup mulai menjalar. Mereka duduk di salah satu bangku taman, dan Raina memperhatikan bagaimana Andra tampak sedikit canggung, seperti sedang mencari kata-kata yang tepat.

"Apa kamu benar-benar suka membaca novel klasik, atau itu hanya alasan untuk mendekati saya?" tanyanya tiba-tiba.

Raina terkejut mendengar pertanyaan itu. "Kenapa Bapak berpikir begitu?"

Andra menatapnya tajam. "Karena kamu bukan tipe mahasiswa yang biasa saya lihat membaca hal seperti itu. Kamu lebih suka tertawa dengan teman-temanmu dan membuat keributan di kelas."

Raina terdiam sejenak, mencoba mencari jawaban yang tidak membuatnya terlihat salah. "Awalnya mungkin cuma alasan, Pak. Tapi setelah saya mulai membaca, saya benar-benar tertarik. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari cerita seperti itu."

Andra mengamati wajahnya dengan seksama, seolah mencari tanda kebohongan. Namun, akhirnya ia mengangguk pelan. "Baiklah. Kalau begitu, saya sarankan kamu membaca To Kill a Mockingbird setelah ini. Itu salah satu favorit saya."

Raina tersenyum. "Terima kasih, Pak. Saya akan mencarinya."

Strategi Baru

Setelah percakapan itu, Raina merasa sedikit lega. Ia berhasil menghindari kecurigaan Andra, setidaknya untuk sementara. Namun, ia tahu bahwa ia harus lebih berhati-hati ke depannya.

Malamnya, ia kembali berdiskusi dengan Siska dan Maya.

"Dia mulai curiga," kata Raina sambil menggigit kukunya.

"Ya ampun, Rai, kamu harus lebih pintar. Jangan terlalu obvious," kata Maya sambil melirik Siska.

Siska mengangguk. "Kamu harus main lebih halus. Jangan terlalu sering mendekatinya, biar dia nggak merasa terganggu. Tapi saat kamu mendekat, pastikan ada alasan kuat."

Raina mengangguk, mencatat dalam pikirannya. "Baiklah. Aku akan mulai dengan buku yang dia rekomendasikan. Kalau dia melihat aku benar-benar serius, mungkin dia akan lebih terbuka."

Pendekatan Berbeda

Selama beberapa minggu berikutnya, Raina mulai mengikuti saran Siska dan Maya. Ia tidak lagi terlalu sering muncul di depan Andra, tapi setiap kali mereka bertemu, ia selalu membawa bahan diskusi yang menarik.

"Pak, saya sudah selesai baca To Kill a Mockingbird," kata Raina suatu hari di akhir kelas.

Andra menatapnya dengan sedikit terkejut. "Benarkah? Bagaimana menurutmu?"

Raina tersenyum. "Saya suka sekali karakter Atticus Finch. Dia benar-benar contoh orang yang punya integritas tinggi."

Andra mengangguk, tampak terkesan. "Saya senang mendengar itu. Kebanyakan orang hanya fokus pada cerita utama, tapi kamu memperhatikan detail yang lebih dalam."

Raina merasa dadanya menghangat mendengar pujian itu. Ia tahu usahanya mulai membuahkan hasil.

Rintangan Baru

Namun, perjalanan Raina tidak selalu mulus. Suatu hari, ia mendengar gosip di kantin tentang Andra.

"Kamu tahu nggak? Pak Andra itu sebenarnya sudah tunangan," bisik seorang mahasiswa kepada temannya.

Raina yang duduk di meja sebelah hampir tersedak mendengar itu. Ia mencoba menenangkan dirinya, lalu berpura-pura tidak peduli.

"Serius? Kok aku nggak pernah dengar?" tanya temannya.

"Iya, katanya tunangannya kerja di luar kota. Makanya mereka jarang kelihatan bareng."

Raina merasa dunianya runtuh. Jika gosip itu benar, maka semua usahanya akan sia-sia. Namun, ia menolak menyerah begitu saja.

Malam itu, ia menceritakan semuanya kepada Siska dan Maya.

"Kalau dia benar-benar tunangan, apa aku harus berhenti?" tanya Raina dengan suara bergetar.

Maya menghela napas. "Rai, kamu harus pikirin ini baik-baik. Kalau kamu terus maju, kamu bisa terluka."

"Tapi aku sudah sejauh ini," bantah Raina. "Aku nggak bisa mundur sekarang."

Siska menggenggam tangan Raina. "Kalau kamu yakin, kami akan mendukungmu. Tapi kamu harus siap menghadapi konsekuensinya."

Raina mengangguk. "Aku akan cari tahu kebenarannya. Kalau dia benar-benar tunangan, aku akan berhenti. Tapi kalau tidak, aku akan terus berjuang."

Pencarian Jawaban

Raina mulai mencari cara untuk menggali lebih banyak informasi tentang kehidupan pribadi Andra. Ia bertanya kepada teman-teman sekelasnya, mencoba mendengar gosip di lingkungan kampus, bahkan diam-diam mengikuti Andra pulang beberapa kali.

Hingga suatu hari, ia melihat seorang wanita cantik berdiri di depan rumah Andra. Wanita itu terlihat berbicara akrab dengan pria itu, bahkan sempat tertawa bersama.

Raina merasa hatinya mencelos. Apakah itu tunangannya? Atau hanya teman biasa?

Namun, sebelum ia sempat menarik kesimpulan, wanita itu tiba-tiba berbalik dan pergi. Andra tampak memandangi punggungnya dengan ekspresi yang sulit ditebak, lalu masuk ke rumahnya tanpa mengatakan apa-apa.

Raina tahu bahwa ia harus mencari tahu lebih banyak. Tapi bagaimana caranya?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED