Bab 1

SUAMI MENOLAK MEMBERIKU NAFKAH BATIN.

**

[Udah Perkosa aja suaminya, Mbak. Heran hari gini mana ada suami nolak ngasi jatah istri kalau gak ada apa-apa.]

[Suamiku sehari bisa minta sampai 3 kali. Gak pernah kali aku yang minta.] 

[Lagian Mbak gatel banget, mungkin suami nya capek dan lelah.] 

[Tidak mungkin capek, secapeknya suami dia pasti ingat minta jatah ke istri.] 

[Pasti ada perempuan lain di hati suami, atau dia sudah ngamar sama simpanannya di hotel.] 

[Perlu dicurigai, Mbak. Tanya baik-baik. Dan periksa gawainya, siapa tahu ada perempuan lain.]

[Jangan-jangan suaminya belok. Laki normal gak mungkin libur selama enam bulan setelah melahirkan.] 

Kubaca satu persatu kolom komentar pada aplikasi biru. Aku sengaja curhat di sana memakai akun fake. Sudah tidak tahan lagi dengan sikap Mas Prabu, kami sudah menikah selama dua tahun dan kini putra pertama ku berusia enam bulan. Setelah melahirkan Fauzan, Mas Prabu tidak pernah menyentuhku. Awalnya aku bahagia saja karena aku memang baru melahirkan dan jahitan belum kering. Sekarang sudah berlalu enam bulan tetapi dia tetap dingin. 

Entah apa sebab seperti itu? Dan karena tidak tahan lagi aku pun memberanikan diri curhat di sebuah forum wanita dengan akun palsu. Begitu banyak nyinyiran para emak di sana dan aku sudah tahu konsekuensi bakal di bully. Namun, ada juga yang bersimpati memberiku semangat dan sabar serta banyak berdoa agar Allah membalik lagi hati Mas Prabu untuk mencintaiku. 

Terdengar suara mobil memasuki rumahku, Mas Prabu memasukkannya ke garasi mobil dan membuka pintu rumah dengan kunci miliknya. Masing-masing dari kami memang memiliki kunci sendiri untuk masuk ke rumah. 

Dia melengos masuk saja seperti biasa, ku hidupkan lampu depan agar dia tahu kalau aku belum tidur. 

"Vania, belum tidur?" tanyanya padaku. 

"Belum, Aku nunggu kamu." 

"Tidurlah, Fauzan sudah tidur, 'kan. Aku juga lelah, Van," ucap suamiku berlalu.

Aku tidak bisa seperti ini, bagaimana pun masalah harus selesai. 

Aku mendekati suamiku, teringat komentar netizen di forum curhat agar aku yang mulai dahulu untuk merayunya. Kupeluk pinggang suamiku dari belakang. 

"Vania, Aku sangat lelah, Tidurlah!" katanya lagi melepaskan tanganku yang melingkarinya. 

"Mas, sebenarnya ada masalah apa sih. Sudah enam bulan pasca melahirkan kamu cuekin aku, apa salah aku? Apa kamu sudah punya wanita lain?" sentak ku kesal saat dia kembali menolakku. 

"Tidak ada, Vania. Hanya kamu satu-satunya." 

"Aku gak percaya sama kamu, tidak mungkin setelah melahirkan kamu tak lagi berselera padaku kalau bukan karena ada alasan lain. Aku perlu bukti, boleh aku cek ponsel kamu?"

Aku mengulurkan tangan meminta ponselnya namun suamiku menggelengkan kepalanya. 

"Ini privasi ku Vania, aku seorang dosen dan tidak semua hal perlu kamu tahu yang penting aku ngasih kamu nafkah sesuai adanya."

Dia berlalu meninggalkanku yang belum selesai mengintrogasi nya. Aku semakin curiga dan pasti Mas Prabu menyimpan sesuatu. Selingkuhan, kepalaku rasanya sakit. 

"Mas, tidak mungkin ada privasi antara suami istri, kamu sudah berani main belakang padaku?"

Mas Prabu tidak mempedulikan omelan ku. Dia melengos saja dan mengambil bantal serta selimut kemudian dia tidur di sofa ruang tamu. 

Hatiku rasanya jengkel. Sudah pasti ada sesuatu antara dia dan wanita lain. Mas Prabu selalu seperti itu, dia tipe lelaki yang malas berdebat dan akan memilih buat menutup telinga ketika kami bertengkar serta membiarkan masalah menguap begitu saja. 

Aku pun tertidur di kamar ku bersama balita enam bulan ku. Mas Prabu lebih memilih diluar buat menghindari ku, sekitar pukul 03.00 aku terbangun karena Fauzan minta menyusu, aku mengambil Asi ku yang sudah kumasukkan kedalam botol dot. Aku memang memompa Asiku buat Fauzan. 

Samar kudengar suara berbisik Mas Prabu, dia pasti sedang menghubungi seseorang. 

"Sudah dini hari, besok saja di kampus, Marsya," Ucap Mas Prabu.

Bisikannya masih bisa kudengar. Siapa wanita bernama Marsya itu yang membuat suamiku berubah padaku? Hatiku terasa nyeri. Bila ini kutanyakan Mas Prabu tidak akan mau jujur. Jalan satu-satunya mencari bukti adalah menyelidiki sendiri. 

🍁🍁

"Eh, Van. Senang deh omset kita naik bulan ini. Gak nyangka ide abal-abal kamu buat buka toko pakaian dan hijab berubah manis kayak gini. Dari modal kecil kita berdua sekarang usaha kita makin maju, Van. Pemesanan online kian banyak. Untung sangat besar dan yang pasti kita kaya, Vania," kata Mbak Farah kakak kandungku.

Aku selama lima bulan ini memang membuka bisnis menjual pakaian dan hijab bersama kakak ku.

Awalnya secara online di beberapa market place tetapi karena ramai pembeli dan responnya positif. Kami membuka toko benaran dan berlokasi strategis serta ramai pengunjung. Harga yang kami tawarkan sangat murah dibanding yang lain.

Satu hijab atau pakaian aku dan Mbak Farah sepakat mengambil keuntungan sepuluh hingga lima belas ribu saja. Bila tak laku maka kami obral saja dengan harga modal. Sehingga permintaan sangat banyak dan kami kewalahan melayani. Karena Mbak Farah yang pegang kendali toko, aku tak pernah bercerita ke Mas Prabu sebab dia selalu pulang malam saja setelah aku melahirkan. 

"Kamu kenapa, Van? Masalah suami kamu lagi ya?" tanya Mbak Farah dan aku hanya mengangguk.

Aku pernah curhat pada Kakak ku kalau rumah tanggaku dirundung dilema, suamiku bersikap dingin setelah anakku lahir. Dia bahkan tidak ada waktu untukku, aku sibuk sendiri seperti ini dia tidak tahu. Dia pergi pagi dan pulang malam. Padahal dia hanya Dosen saja. Kalau Dosen bila tidak ada jam lagi pasti pulang namun dia berkilah sibuk dan sibuk. 

Ibu dan Ayah kami sudah meninggal dan aku hanya memiliki Mbak Farah. Dia lah tempatku berkeluh kesah. Kakakku seorang istri pegawai negeri. Dia sama juga sepertiku hanya Ibu rumah tangga sehingga kami sepakat membuka toko untuk menambah penghasilan. 

"Kamu tanyakan dulu baik-baik. Kalau udah gak ada kecocokan ambil jalan yang terbaik, Vania. Jangan siksa dirimu. Hidup itu indah," ucap Mbak ku memberi masukan. 

"Hubunganmu bagaimana dengan suamimu, Mbak? Apakah ada privasi antara kalian?" tanyaku mengerutkan dahi berpikir panjang tentang masalahku dan berusaha mencari solusi. 

"Nggak lah, suamiku walau sangar tetapi dia selalu cerita padaku. Handphone Bang Sinaga Mbak juga yang pegang kamu kan tahu kalau suami Mbak itu gak bisa kalau gak cerita sama, Mbak. Tidak ada rahasia diantara kami." 

Aku menghembuskan napas berat, bagaimana menceritakan kalau Mas Prabu tadi malam dihubungi oleh Marsya. Dan entah siapa wanita itu, tetapi aku sangat curiga. 

"Mbak, apa benar ini toko online yang terkenal murah itu, VanFar Hijab?" tanya seorang pembeli. Penjaga toko yang melayani mengangguk

"Oh, ternyata benar, senang sekali. Lihat Mas, aku bisa borong di sini," kata suara wanita muda dengan mendayu.

Aku dan Mbak Farah melihat sekilas dan betapa aku terkejut tangan wanita itu, dia bergelayut manja pada suamiku, Mas Prabu. 

"Pilihlah sayang yang mana yang kamu mau." ucap suamiku sambil mencubit pipi wanita itu gemas. 

Mbak Farah sudah terlihat murka, dia ingin mendatangi suamiku dan menampar wajah nya. 

"Jangan, Mbak. Kita selesaikan secara baik-baik," ucapku berusaha tenang walau hati bergemuruh. 

"Hai, mau beli yang mana, Mas dan Mbak nya," kataku dengan suara bergetar. 

"Vania!"

Suamiku membelalak kan matanya melihatku di sana dan terkejut karena aku memergokinya bersama wanita lain. 

Bersambung.

Bab 2

PoV Vania

"Vania!" Mas Prabu terkejut melihatku ada didepan matanya. Walau hati bergemuruh namun aku tetap tenang. Toko ini sangat ramai pengunjung dan aku tidak mau kenyamanan mereka terusik oleh masalahku. 

"Oh. Ini simpanan kamu, Mas. Wanita ini biang keladi kamu gak mau memberiku nafkah batin!" sentakku padanya. Wajah Mas Prabu merah padam berusaha mencerna ini semua. Dia menggeleng cepat dan segera menjauh dari wanita muda itu. 

"Tidak Vania, aku berjumpa didepan dan tidak sengaja."

Wanita itu mencebik dan tidak terima ucapan Mas Prabu, suamiku. 

"Mas!" Protesnya ke suamiku, suamiku membesarkan matanya kearah wanita itu agar dia bisa bekerja sama dalam berbohong. 

"Maaf, Mbak ini siapa ya?" tanya nya menelisik penampilanku. 

"Kamu yang siapa? Kenapa kamu jalan bareng dengan suamiku dan kalian terlihat mesra!" sergahku dengan sengit. Wanita muda itu mencibir kearahku. 

"Aku ... Aku ...," dia terlihat gugup mau menjawab apa. Aku semakin yakin mereka punya affair di belakang ku. 

"Van. Aku cuma jumpa didepan aja tadi. Udahlah kamu gak perlu membesar-besarkan masalah. Kami gak sengaja bertemu di luar." Mas Prabu mendekatiku dan berupaya memberi penjelasan namun aku mendorong dadanya. Wajahnya mengeras dan terlihat tak suka. Sikapnya sangat memuakkan. Dia yang salah namun dia berusaha menguapkan masalah. 

"Aku tanya kamu, apa hubunganmu dengan suamiku!" tanyaku berjalan mendekati wanita itu. Dia terlihat ragu buat menjawab. 

"Apa kamu Marsya?" kataku tegas dengan wajah garang melihatnya. Dia tersentak kaget mengapa aku bisa mengetahui namanya. Ku alihkan pandangan ke Mas Prabu. Suamiku tak kalah terkejut. 

"Kamu kenal Marsya dari mana, Van?" tanya Mas Prabu padaku. Wanita itu terdiam saja. Mbak Farah mendekatiku, dia membawa anak ku Fauzan karena terbangun. 

"Mbak Farah kok di sini?" tanya suamiku lagi bingung. Aku tersenyum perih melihat wajah pias suamiku dan Marsya.

"Ternyata kamu Marsya, ia kan kamu Marsya?!" ulang ku ke wanita itu, dia mengangguk kecil. 

Plak ... Ku darat kan tamparan ke wajahnya. Rasanya aku sudah tak tahan seperti ini. Wanita itu terkejut karena aksiku. Marsya memegang pipinya karena tamparan ku. Mas Prabu terkejut dan berusaha mendekati wanita itu. 

"Vania!" Teriaknya tak terima. Beberapa pengunjung terkejut dan melihat ke arah kami. Awalnya aku menjaga agar mereka tidak terganggu namun lama kelamaan aku merasa tak tahan. Biarlah mereka melihat apa yang terjadi. 

"Kenapa kamu marah selingkuhan mu ku kasari. Harusnya kalian berdua sadar. Kamu juga sudah tahu dia pria beristri masih kamu layani. Dasar perempuan murahan!" sentakku padanya, Mas Prabu menatapku nyalang, dan Marsya tidak terima aku kasari. 

"Van, dia hanya mahasiswaku. Aku juga gak sengaja berjumpa dia." 

"Cukup kamu membohongiku," kataku ke Mas Prabu.

"Saya gak terima kamu nampar saya. Saya bisa laporkan kamu atas tuduhan fitnah," kata Marsya mencebik kesal padaku. 

"Oh, silah kah. Kulaporkan Mas Prabu juga karena berselingkuh dengan kamu. Biar dia dipecat dan kamu mahasiswa gatel juga ikut terseret!" kataku lagi. Marsya diam dan memandangku kesal. 

"Mas!" panggilnya ke suamiku namun Mas Prabu cuek padanya. Akhirnya dia dengan kekesalannya melengos pergi. Ku tatap kepergian nya dan beralih ke wajah suamiku. Wajah Mas Prabu menyiratkan rasa bersalah dan minta maaf melalui ekspresinya. 

"Van, kamu keterlaluan sekali padanya." Ucap Mas Prabu masih menyalah kah diriku. 

"Kamu masih mau membela selingkuhan kamu itu!" sergahku melotot padanya. 

"Cukup, Van. Berapa kali aku bilang sama kamu kalau kami gak selingkuh!" Mas Prabu masih menutupi perbuatan kotornya. 

"Aku lihat, Mas. Dan aku gak buta. Oh apa perlu cctv menjawab perbuatan kamu dan si Marsya yang bergandeng tangan." Ku tunjuk CCTV di depanku, Mbak Farah yang dari tadi menjadi penonton berupaya menyerahkan anakku padaku karena dia menangis. Mbak Farah bergegas ke dalam dan mengambil ASI ku didalam pendingin. Wajah suamiku langsung pias. Dia terdiam. 

"Aku gak nyangka kamu se culas ini padaku. Kamu lupa atas perjanjian kamu didepan Bapak ku dulu sebelum kamu melamar ku dua tahun yang lalu. Sebelum menikah aku mengajukan syarat tidak mau dipoligami. Dan tanah yang kamu bangun rumah diatasnya adalah milikku, warisan Bapakku dulu. Kita membuat perjanjian hitam diatas putih. Karena kita berdua yang memilikinya. Siapapun yang berselingkuh maka dia pemilik rumah itu. Jika kamu menikah lagi atau berselingkuh maka kamu keluar dari rumah itu!" sentakku marah pada Mas Prabu. Dia terlihat gusar dan dipegangnya tanganku.

"Maafkan aku, Vania. Aku tak selingkuh. Dia hanya mahasiswaku. Kami tak sengaja berjumpa dan mau membicarakan materi perkuliahan." 

"Syarat ku sebelum nikah adalah selama aku masih mampu melayani mu, memberimu anak dan memenuhi kebutuhanmu kamu tidak akan berpaling dariku, menikah lagi atau selingkuh. Agaknya kamu lupa. Aku berhak mengadukan perbuatanmu ke pengadilan agama karena mengkhianati ku." 

"Van, Cukup. Aku tidak mau berpisah karena aku tidak berselingkuh darimu. Kita pulang, Van." Mas Prabu berusaha menarik tanganku buat pulang bersamanya. Namun aku dengan kasar melepasnya. 

"Aku tak bisa pulang bersamamu. Aku akan disini bersama kakakku," ucapku tak bergeming. Mbak Farah datang membawa botol dot untuk anakku. Fauzan diambil Mbak Farah.

"Cerai aja Prabu, ngapain kamu nyakitin adikku. Lagian hidup adikku lebih bahagia tanpa kamu. Pergilah dari rumah adikku," sungut Mbak Farah pada suamiku. Mas Prabu menjadi gusar karena perbuatannya ketahuan olehku. Jika saja dia tidak kepergok seperti ini maka dia akan dengan halus menutupinya. 

"Diam Mbak, aku tak berselingkuh!" 

"Mari kita lihat CCTV kamu, kamu siap!" 

Wajah Mas Prabu kembali pias. Dia merasa takut kehilangan rumah mewah yang selama ini susah payah di bangunnya. 

Bersambung.

Bab 3

PoV Vania

"Vania, kamu sepertinya memang perlu waktu sendiri. Malam nanti kamu ku jemput ya. Oh ya kamu kerja disini, Van?" tanya Mas Prabu berusaha bersikap bersahabat. Mbak Farah terlihat berkacak pinggang ingin dia tampar wajah adik iparnya itu dan berkata jujur bahwa aku pemilik toko ini dan bukan jongos di sini. Namun aku menggeleng kepala pada Mbak Farah agar dia tetap tenang. 

"Apa peduli mu, kamu bahkan menjatah belanjaku. Ternyata uangmu kau berikan pada ayam kampus!" kataku ketus kearahnya. Mas Prabu mengeraskan rahangnya merasa marah namun dia berusaha menahannya. 

"Van, aku tidak selingkuh. Berapa kali harus ku jelaskan. Aku akan buktikan kalau aku tidak selingkuh." 

Aku tersenyum sinis kearahnya, sudah terpergok masih membela diri, hanya karena takut dengan perjanjian sebelum menikah dia seperti ini dan terus menyangkal. 

"Aku juga akan kumpulkan bukti kalau kamu selingkuh dengan Marsya itu. Feeling istri itu kuat, Mas. Kamu itu susah dan berhutang ke Bank, punya istri satu masih susah, sok selingkuh dan nambah lagi. Pikir, Mas!" 

"Eh, Prabu, kamu sudah nyakitin adikku. Hanya aku saudaranya. Aku tak ridho kamu melakukan itu. Aku mendukungmu Vania buat berpisah darinya," ucap Mbak Farah melotot pada Mas Prabu. 

"Ini buktinya." Mas Prabu mengeluarkan gawainya dan diberikan padaku. Aku melihat aneh dirinya.

"Kenapa kau berikan ponselmu padaku?" 

"Kamu selalu mau tahu privasi ku sebagai Dosen. Tidak ada apa-apa di ponselku. Silahkan periksa, Vania," ucap Mas Prabu memberi gawai itu ke tangan ku. Dia paksa aku mengambilnya. Aku menerima dan tersenyum kecut. Dia berpikir aku bodoh. 

"Aku tidak sebodoh itu, kemarin ku minta tak kau beri. Sekarang kau beri setelah kepergok bersama Marsya. Pasti sudah kamu hapus." 

"Van, maafkan aku jika salah padamu. Sebaiknya kita selesaikan ini di rumah. Aku akan kasih apa yang kamu mau, Van," kata Mas Prabu padaku. Rautnya sudah tidak garang lagi dan memohon. 

"Apa maksud perkataanmu?" tanya ku pura-pura bodoh. Dia menjadi gusar. 

"Aku akan penuhi keinginanmu." Diliriknya Mbak Farah disana yang terus mengamati. Beberapa pengunjung juga sudah lebih tenang. Mas Prabu menjadi ragu menyampaikan. 

"Aku sudah tak mau apapun darimu setelah kamu berkhianat padaku, Mas." 

"Aku akan memberimu nafkah batin seperti selama ini yang kamu inginkan." lirihnya dengan suara pelan. Aku mencibir kearahnya, melihatnya pun aku sudah muak. Aku tak bisa bayangkan dirinya dan wanita itu bercumbu. Selama enam bulan lebih aku tak diberi hak batin olehnya dan dia terus berkelit lelah. Pasti dia sudah memadu kasih dengan Marsya. Sekarang setelah kepergok dia mau memberiku nafkah batin itu. Mas Prabu tidak hanya egois namun juga penghianat. 

"Aku menolak itu, bayanganmu mencumbu wanita itu menghantuiku, sebaiknya kau pergi dari hadapanku, Mas. Aku muak padamu. Mbak Farah tolong suruh dia pulang!"  ujarku masuk dan membawa anakku. Mas Prabu tampak tidak terima, dengan berat hati dia harus pulang karena Mbak Farah mengusirnya. 

🍁🍁

Apa rencana mu sekarang, Vania?" Mbak Farah bertanya agar aku tak memikirkan masalahku sendiri. Putraku sedang telungkup dan terlihat aktif. Aku hanya diam dan menggelengkan kepalaku merasa putus asa. Ku pandangi Fauzan seksama. Kasihan anakku bila aku berpisah namun bayangan suamiku tidur dengan wanita lain sulit ku buang. Dia pasti sudah sekamar dengan Marsya kalau tidak mana mungkin dia menolakku. 

"Kamu masih mau bersama dia setelah kamu dikhianati?" tanya Mbak Farah mengintimidasi. Aku hanya mendesah pelan.

"Aku bahkan jijik melihatnya Mbak. Tetapi dia ngeles sekali. Dia tiap hari sibuk, Mbak. Okelah dia Dosen harus membimbing, meneliti dan bikin laporan. Tetapi dia hari minggu pun pergi dengan berbagai alasan. Ada seminar lah, pertemuan lah, main golf sama teman lah. Buat rumah modal ngutang aja belagu. Mau berbicara dari hati ke hati pun sulit Mbak."

"Kalau kamu gak sanggup tinggalkan dan ambil rumah itu, tanah itu warisan Bapak dan jangan biarkan si Prabu yang mendapatkannya. Bisa-bisa dikasih sama bini mudanya." Mbak Farah mencebik kesal seakan ingin menendang Mas Prabu. 

"Aku tak akan biarkan, Mbak. Dia menyepelekan ku seperti ini." Kuhela napas beratku. "Kasihan Fauzan masih bayi namun orangtuanya sudah punya masalah besar." 

"Lebih nyesek kalau anakmu hidup dalam lingkaran keluarga tak harmonis!" Mbak Farah sepertinya menggiringku buat berpisah dari Mas Prabu. 

"Jadi aku harus cerai, Mbak?" 

"Kamu pikirkan baik-baik. Kalau sudah tidak sanggup ngapain menyiksa diri." 

"Aku harus ada bukti perselingkuhannya Mbak, biar rumah itu jadi milikku." 

"Cari dulu bukti kalau dia memang selingkuh." 

Aku mengerutkan dahiku. Aku adalah mahasiswa dengan IPK 3,56 dan predikat kelulusan dengan pujian. Hampir lima tahun aku tamat dari kuliah dan sekarang menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Jurusanku matematika sedangkan Mas Prabu jurusan teknik mesin. Untuk mendapatkan bukti aku harus jadi dosen sepertinya. Mengikutinya dan membuat dia sadar kalau aku berharga. 

Setelah lulus kuliah aku selama dua tahun lebih mengajar di SMA favorit di kota sebelum berjumpa Mas Prabu yang sedang mengantar mahasiswanya buat PPL. Saat itu aku guru pembimbing PPL mahasiswanya dari situlah kami mulai dekat. Hingga akhirnya menikah. Aku memang mengajukan syarat sebelum menikah dan karena Bapak memberi warisan sekalian aku dan Mas Prabu membuat hitam diatas putih agar diantara kami tidak ada yang berselingkuh. Agaknya dua tahun dia suruh aku di rumah dan dia yang bekerja membuatnya lupa perjanjian yang kami buat bersama. 

'Kamu sangat curang, Mas. Selama hamil aku kamu suruh di rumah saja buat melayani mu dan mengurus anak. Namun kamu sendiri punya affair di belakangku, kusadari wanita bernama Marsya lebih menarik dan muda dariku. Lesung pipi nya dan kulitnya yang bersih dan glowing membuatmu tergila-gila. Kamu lupa pernah bilang kalau aku cantik karena pintar dan seru. Cantik itu relatif dan akan ku buktikan aku lebih cantik dari selingkuhan mu bahkan aku lebih berharga darinya. Kamu hanya Dosen sementara aku bisa menjadi Dosen dan pengusaha. Aku satu tingkat di atasmu' 

"Vania, apa rencana mu. Kok kamu malah bengong." Mbak Farah menyadarkan ku dari lamunanku. 

"Untuk mencari bukti dan membuat Mas Prabu menyesal aku harus jadi Dosen, Mbak Farah." 

"Maksud kamu?" Mbak Farah menjadi gusar. Dia yang dari tadi sedang melihat-lihat gamis terbaru dan bercermin dengan gamis gamis itu menghentikan aktivitasnya sesaat karena penasaran akan rencana ku.

"Maksud aku, aku akan jadi dosen dan bekerja kembali seperti dulu namun tidak menjadi guru melainkan dosen seperti Mas Prabu." 

"Tetapi kamu cuma tamat sarjana dan bukan S2. Jadi dosen minimal kamu harus selesaikan pendidikan S2." 

"Aku akan kuliah lagi." 

"Kelamaan kali, kuliah tidak bisa sebentar S2 paling tidak selama 2 tahun." 

Aku tersenyum pada Mbak Farah, dia pasti terbelalak mendengar rencana ku. 

"Aku kuliah saja S2, aku akan bilang kalau aku dalam masa pendidikan." 

"Tidak semudah itu, Vania." 

"Mudah, Mbak. Asal ada uang dan relasi. Aku hanya butuh bantuan Auriga." 

Mbak Farah memasang wajah yang masih bingung. 

"Auriga teman kamu yang unik itu?" tanya nya sambil mengerutkan dahi. Aku mengangguk.

Bersambung.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED