Bab 1

"Kau harus menikah!"

Adalah kalimat yang paling tidak ingin Bella dengar dalam waktu dekat ini. Terlebih lagi baru beberapa hari yang lalu dia baru saja tertawa bahagia sambil melempar toga kelulusan S1 nya di udara.

Kemarin Bella bahkan baru saja selesai mengurus berkas untuk beasiswa S2 nya ke luar negeri. Baginya pendidikan adalah nomor satu dari segalanya, namun mendengar permintaan tersebut membuatnya kaget bukan kepalang.

"Menikah?" Bella menatap wajah ayahnya dengan kening berkerut dan sedikit tidak percaya.

"Iya, kau harus menikah dengan anak om Dirga, Nak," ucap ayahnya yang seketika membuat kepala Bella seketika mendadak pening.

Bagaimana mungkin dengan anak om Dirga, padahal setahunya putranya hanya satu dan akan menikah hari ini juga?

Lalu kenapa tiba-tiba dia diminta untuk menikah dengan seseorang yang akan menikah dengan kekasihnya sendiri? Aneh sekali, bukan?

Bella ingat betul bahwa hari ini dia diminta untuk turut serta menghadiri pernikahan dari keluarga Dirga Haryono, yang diketahuinya adalah sahabat dekat dari ayah dan ibunya. Putra tunggalnya akan menikah hari ini dengan kekasihnya sendiri, lalu kenapa tiba-tiba ia diminta menjadi mempelai wanitanya?

Sebenarnya apa yang terjadi?

Bella tentu kenal dengan anak tunggal dari salah satu pengusaha tersukses di negara ini, Prasetya Haryono. Lelaki super menyebalkan yang selalu menjahilinya semasa sekolah dulu. Pria yang sempat berada di kelas yang sama dengannya, sekaligus sumber mimpi buruknya.

Setya suka sekali membullynya dan selalu mengejeknya gendut dan pendek. Mengatainya jelek dengan wajah berjerawat. Pokoknya orang yang dulu selalu menganggap fisik Bella adalah sebuah lelucon.

Tetapi itu dulu … dulu sekali. Karena beberapa tahun terakhir ini ia tidak pernah lagi berjumpa dengan lelaki tengil itu, setahunya Setya menempuh pendidikan di luar negeri dan jarang pulang ke Indonesia.

Bella tidak pernah merekam hal baik dari seorang Prasetya selama sekelas dengannya, dan pria yang ada di kepala Bella hanya ada kata menyebalkan dan sangat jahat itu justru akan menikah dengannya. Bagaimana mungkin?

"Tetapi, Ayah. Kita datang untuk menghadiri pernikahan, lalu bagaimana mungkin tiba-tiba aku yang harus jadi mempelainya? Ini tidak masuk akal."

Pria paruh baya itu menatap Bella penuh perhatian. "Calon istri Setya kabur, Nak. Wanita itu tidak datang ke pernikahan dan tiba-tiba membatalkan begitu saja. Keluarga Haryono bisa malu kalau Setya tidak jadi menikah hari ini sedangkan tamu-tamu sudah berdatangan."

Kedua bola mata Bella seketika membelalak tidak percaya mendengar perkataan dari orang yang sangat dihormatinya itu. Seketika amarah menggelegak mengetahui alasan dibalik dirinya harus menikah dengan pria yang sangat tidak disukainya itu.

"Jadi maksud Ayah, aku harus berkorban dan menyelamatkan keluarga Haryono dari rasa malu? Begitu?" Bella menggeleng-gelengkan kepalanya dengan air mata yang berkumpul di pelupuk matanya dan siap tumpah. "Kenapa Ayah tega sekali mengorbankan kebahagiaan putrimu ini dengan semua ini? Kenapa harus aku, Ayah?"

Rasa bersalah begitu tampak dari raut wajah itu, Bella sampai tak tega melihatnya. Tetapi tetap saja, semua ini tidak bisa dibenarkan. Bagaimana mungkin dia yang harus dikorbankan dari semua kekacauan ini?

"Ayah minta maaf kalau harus mengikutsertakan dirimu, Sayang. Tetapi kamu harus tahu bagaimana baiknya keluarga Haryono kepada keluarga kita. Aku rasa sudah saatnya kita membalas budi, Sayang."

"Tetapi, Ayah …."

Ayah Bella dengan cepat kembali mendekat dan menggenggam kedua tangan putri semata wayangnya itu saat Bella kembali mencoba melayangkan protes.

Lelaki paruh baya itu lalu menatap Bella dengan penuh kasih sayang seperti yang selalu dia lakukan ketika putrinya mulai merengek dan menolak sesuatu. Di samping itu, ia tidak mungkin membuat putrinya kecewa, oleh karena itu ia harus menyakinkannya lebih hati-hati.

Bella tahu betul, pria yang sedang berada di hadapannya adalah orang yang selalu rela memberikan segala yang terbaik yang dia bisa untuk membuatnya bahagia. Jadi seharusnya sebagai anak, Bella bisa membalasnya. Tetapi menikah adalah sesuatu yang sulit untuk Bella terima begitu saja, terlebih lagi dengan alasan tidak masuk akalnya.

"Sayang, Ayah tidak mungkin menyakitimu. Kamu tahu itu 'kan?"

Bella menatap mata ayahnya, cukup lama hanya untuk menemukan mata hitam itu memerah karena menahan tangis. Ayahnya tidak berbicara apa pun lagi, tetapi Bella tahu bahwa ada keinginan yang besar dari sana. Keinginan agar Bella bisa mengabulkan segala yang lelaki berusia empat puluh lima tahun itu inginkan.

Kemudian, tatapan Bella beralih menatap wajah ibunya yang berdiri di belakang ayahnya. Wanita itu tidak pernah melontarkan satu kalimat pun di sepanjang obrolan ini. Hanya berulang kali meneteskan air mata, meskipun tangisan tersebut tanpa suara.

Pemandangan itu cukup untuk membuat hati Bella bagai telah tersayat sebilah pedang yang tajam. Seumur hidupnya dia tidak pernah membuat kedua orang tuanya terlihat begitu terluka seperti hari ini.

"Ibu, apakah sudah saatnya aku harus menikah?"

Entah kenapa Bella perlu persetujuan dari perempuan yang sudah melahirkan dan menyayanginya dengan sedemikian rupa. Bella hanya ingin mendengar pendapat dari ibunya yang sejak tadi hanya diam dan menjadi pengamat di antara dirinya dan ayahnya.

Namun, sesuatu yang tidak disangka-sangka oleh Bella terjadi, seketika ibunya maju dan memeluknya dengan begitu erat. Tangisannya semakin keras yang membuat air mata yang sejak tadi Bella tahan pecah sudah. Kemudian tangannya terulur membalas pelukan yang begitu hangat.

"Aku selalu mengharapkan kebahagiaan dan kebaikan selalu menyertaimu, Sayang. Dan pernikahan ini adalah jalan menuju kebahagiaan. Ibu tahu, kamu belum siap untuk menikah sekarang, tetapi aku percaya Setya bisa menjadi suami yang baik untukmu."

Mendengar perkataan dari ibunya, air mata Bella semakin menderas. Lama ia bertahan dalam posisi memeluk ibunya dan mencerna segalanya.

Setelah itu, perlahan ia melepaskan pelukannya dan kembali menatap ayah dan ibunya secara bergantian.

"Apakah pernikahan ini cukup untuk menebus semua perasaan utang budi Ayah dan ibu pada keluarga mereka? Apa ayah dan ibu akan bahagia setelah ini?"

Anggukan itu terlihat samar, tetapi Bella dapat menangkap gerakan itu dengan baik. Itulah keputusan akhir dari kedua orang tuanya. Bella harus menerima pernikahan ini!

"Kamu tahu seberapa banyak bantuan yang sudah keluarga mereka berikan kepada keluarga kita, Nak. Bahkan mungkin dengan nyawa sekalipun, ayah tidak akan pernah bisa membalas budi baik mereka," ucap ayah Bella sekali lagi pada putrinya.

Sekali lagi ibu tercintanya itu mendekat, lalu mengusap lembut pipi dingin putrinya.

"Jika bukan karena keluarga Haryono, mungkin hari ini kamu hanya bisa melihat foto kami sebagai kenangan. Kita mungkin tidak akan bersama seperti saat ini. Kita tidak hanya berhutang materi kepada mereka, Sayang. Tetapi juga nyawa."

"Lagi pula, Setya adalah pria yang baik. Dan cinta bisa datang kapan dan di mana saja. Kamu hanya harus percaya bahwa pernikahan ini akan membawa kebaikan dan kebahagiaan, Sayang."

Bella memandang keluar jendela. Hari itu tak ada hujan atau lahir abu-abu. Angin juga bertiup sangat tenang, tetapi entah kenapa ia merasa ada badai yang saat ini tengah menghancurkan kehidupannya.

Bab 2

Satya sudah berdiri di altar pernikahan sejak setengah jam yang lalu. Pria tampan itu terus saja berusaha mempertahankan senyumnya di tengah semua kekacauan yang terjadi.

Saat Satya mengetahui bahwa mempelai wanitanya yang merupakan kekasihnya sejak tiga tahun yang lalu menghilang begitu saja di hari penting keduanya. Satya tidak menyangka kalau perempuan yang sangat dicintainya yang berjanji sehidup semati dalam mahligai pernikahan bersamanya itu memilih pergi dan meninggalkannya.

Tentu saja semuanya tidak akan sekacau ini bila kekasihnya itu memutuskan hubungan dari jauh-jauh hari, dan bukannya memutuskan secara sepihak di hari pernikahan mereka. Sementara di sisi lain, para tamu penting dan hampir seluruh keluarga besarnya sudah duduk di kursi tamu sambil menunggu mempelai wanita yang mungkin tidak akan pernah datang … sampai kapan pun.

Satya tahu, semuanya sudah berakhir hari ini juga. Apa lagi yang dia harapkan?

Hingga kemudian musik pengiring mulai terdengar, yang menandakan bahwa mempelai wanita sudah tiba tepat saat langkah kaki Satya baru saja akan beranjak meninggalkan altar pernikahan.

Apakah kekasihnya tiba-tiba datang? Apa dia akan menikah hari ini bersama wanita yang dicintainya?

Namun, rasa bahagia itu tidak bertahan lama. Karena berselang beberapa menit kemudian, perlahan-lahan pintu penghubung terbuka. Satya dan para tamu seketika menoleh ke arah mempelai wanita yang terlihat sangat cantik dengan gaun pengantinnya ditemani sang ayah di ujung pintu.

Dia bukan Aluna.

Wanita yang sepertinya tidak asing baginya itu kemudian melangkah menuju tempat Satya berdiri menunggu sang pengantin wanita. Satya sangat yakin dia mengenali wajah dibalik veil itu.

Sekali lagi mempelai wanita yang datang bukan Aluna—kekasihnya—melainkan perempuan lain.

Sementara Bella terus berusaha menguatkan diri bahwa pilihannya kali ini tidaklah salah, meskipun ia sadar bahwa dirinya sendiri yang telah membawanya bermain-main ke dalam kekacauan yang sangat besar ini.

Di samping itu, ia juga berusaha menahan rasa gugupnya mati-matian. Dengan gaun pengantin yang tidak sesuai ukuran tubuh menambah sesak di dalam dadanya, sepatu heels yang dikenakan cukup tinggi dan tidak nyaman. Bella bahkan tidak yakin akan sampai ke altar dengan heels setinggi itu jika saja ayahnya tidak di sana untuk memeganginya.

Ketika Bella dan ayahnya tiba di atas altar, perempuan itu merasa napasnya semakin sesak. Dia tidak pernah tahu bahwa pernikahan bisa terasa seperti upacara pemakaman untuk dirinya sendiri.

Perlahan ayah Bella menyerahkan tangan putrinya kepada Satya sambil tersenyum penuh kelembutan ke arahnya. Tangan Bella terasa dingin dan gemetar saat Satya meraih tangan lentik itu ke dalam genggamannya. Kedua mata itu saling bertemu, namun tak ada yang bisa dikatakan pada satu sama lain. Satya hanya buru-buru mengalihkan pandangannya, begitupun dengan Bella.

Saat ayah Bella sudah turun dari altar, barulah Satya melontarkan tanya atas rasa penasaran yang sejak tadi menggerogoti tubuhnya.

"Kenapa kau di sini?" tanyanya dengan sinis.

Bella mendongak, sebelum menjawab pertanyaan dari pria itu dengan nada datar.

"Aku hanya ingin menyelamatkan dirimu dan keluargamu dari rasa malu. Bagaimana mungkin pemilik perusahaan besar harus batal menikah hanya karena alasan sang mempelai wanita kabur. Orang-orang akan bergunjing akan hal ini, Satya."

Benar juga akan kata Bella. Keluarga Brawijaya akan menjadi bulan-bulanan pergunjingan jika sampai dia batal menikah dengan alasan kekasihnya kabur. Tetapi tetap saja, Satya tidak mengerti isi pikiran perempuan itu sampai rela menggantikan posisi Aluna untuk menjadi istrinya.

Sungguh, dalam mimpi dan masa depan Satya, tidak pernah terbersit sedikit pun menjadikan Bella istrinya. Tidak akan pernah!

"Tetapi bagaimana mungkin? Aku tidak pernah memintamu untuk menjadi istriku agar terhindar dari rasa malu, Bella!" desis Satya dengan nada suara naik satu oktaf.

"Husttt … kamu hanya akan semakin mengundang tatapan aneh dari para tamu jika berteriak seperti itu!" Bella menghela napas pelan, sebelum kembali melanjutkan perkataannya, "Kalau begitu, sekarang pilihan ada di tanganmu. Bawa aku ke depan pendeta dan melanjutkan pernikahan ini, atau kamu bisa mengumumkan kepada para tamu bahwa pernikahan dibatalkan. Tetapi kamu hanya akan melihat wajah-wajah kecewa dari kedua orang tuamu yang saat ini tengah tersenyum bahagia, terlebih lagi kamu hanya akan mematahkan hati ayahku karena mencampakkan aku seperti ini."

Sungguh, Bella tidak tahu dapat keberanian dari mana ia sampai mengatakan kalimat panjang itu. Tetapi biarlah ia semakin menenggelamkan dirinya saja, jangan sampai ia melihat wajah-wajah kecewa dari kedua orang tuanya.

Sekali lagi Satya terdiam dan tampak mencerna perkataan Bella yang cukup masuk akal itu. Sudah untung ada perempuan bodoh yang bersiap mengeluarkannya dari rasa malu karena batal menikah, tetapi tetap saja menikah dengan seorang Arabella Sky tidaklah masuk akal.

Tetapi ini pilihan perempuan itu sendiri, toh Satya tidak memaksa. Jadi, tidak ada salahnya ia melanjutkan pernikahan ini dan terbebas dari rasa malu. Urusan menikah dan Bella, bakal dia urus setelah ini.

"Baiklah, aku berharap kau tidak menyesal setelah ini, Bella!"

Setelah mengatakan kalimat itu, Satya kemudian membawa Bella ke depan pendeta untuk melangsung sumpah pernikahan.

Hingga kemudian ada banyak suara yang seolah berbisik di telinganya.

"Pernikahan ini gila!"

Ya, memang cukup gila untuk diterima sebagai kenyataan. Pernikahan yang begitu sakral, yang diputuskan oleh kedua mempelai untuk menyempurnakan cinta mereka harus terjadi dengan cara yang tidak wajar seperti ini. Belum lagi banyaknya mata yang melihat ke arah Bella dengan tatapan tak suka.

Percayalah, 80% dari tamu wanita yang hadir di sana menatap Bella dengan tatapan tak suka. Baiklah, menikah dengan lelaki tampan dan mapan seperti Pra Satya mungkin adalah impian banyak wanita seperti mereka, tetapi itu menjadi pengecualian untuk Bella. Karena meskipun dia pernah menjadi salah satu wanita yang menyukai seorang Prasatya Brawijaya. Percayalah menyukai Satya dan menjadi kekasihnya adalah hal yang sia-sia. Lelaki itu terlalu sempurna untuk perempuan seperti dirinya.

Bukannya merasa insecure, tetapi fakta berbicara lebih jelas dengan kenyataan yang ada. Bella paham mengenai hal itu karena dia pernah merasakan bagaimana menyakitkannya menyukai orang yang tidak mungkin untuk dimiliki.

Entahlah, Bella hanya merasa Satya masih sama saja seperti Satya yang pernah sekelas dengannya dulu. Lelaki itu masih terlalu jauh untuk digapai dan rasanya tetap tidak mungkin sekalipun bersamanya lah Bella harus mengambil sumpah sehidup semati.

Dengan satu tarikan napas, Satya dan Bella mengambil sumpah sehidup semati mereka.

"Until death do us part!" ucap mereka berdua bersamaan untuk beberapa saat setelah mengambil sumpah pernikahan, Bella dan Satya hanya menatap satu sama lain.

Mereka berdua telah bersumpah akan saling mencintai seumur hidup. Menemaninya di waktu bahagia maupun di kala sedih. Di waktu sehat, maupun sakit dan itu selamanya. Sampai maut memisahkan mereka berdua.

Bab 3

"Ibu senang karena akhirnya pernikahanmu tidak jadi dibatalkan dan terlaksana juga," ucap istri dari pemilik Brawiyaja Grup kepada putranya yang sedang duduk di meja makan sambil sesekali melirik penyanyi yang sedang membawakan lagu city of star di perjamuan tamu malam itu.

Satya hanya melemparkan sebuah senyuman kepada ibunya. Sebuah senyuman palsu yang lagi dan lagi Satya tampakkan hanya untuk menutupi kekacauan yang memenuhi isi kepalanya.

"Dan terima kasih untuk kamu, Nak Bella. Aku sangat bahagia kamu menjadi istri dari Satya dan menantu di keluarga kami. Aku sangat bersyukur hari ini, Sayang."

Reva—ibu dari Satya —kali ini mengalihkan perhatiannya ke arah Bella yang sejak tadi diam di samping Satya dan melontarkan kalimat bahagianya setelah pernikahan antara Satya dan Bella terlaksana.

Bella yang sejak tadi tengah bergelayut dengan pikirannya sendiri seketika tersentak saat mendengar ibu Reva—mertuanya—tengah mengajaknya berbicara.

Bella mendongak dan mengulas senyum tipis. "Iya, Ibu. Aku juga sangat senang menjadi bagian dari keluarga Anda."

Seketika semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Bella yang tergolong begitu kaku. Semua orang tertawa, tetapi tidak bagi Satya dan Bella. Mereka berdua seakan tenggelam dalam pikiran masing-masing dan merasa tidak ada yang lucu dari kalimat barusan.

"Jangan terlalu kaku seperti itu dong, Nak," ucap ibu Reva kembali di sela-sela kekehannya.

Sekali lagi Bella hanya tersenyum malu-malu, dan sama sekali tak bisa berkata-kata. Entahlah, ia merasa begitu canggung berada di tengah-tengah keluarga Satya.

Sedangkan Satya sendiri sekali lagi hanya tersenyum tipis. Senyum yang berarti senyuman sakit hati, senyuman luka, atau yang lainnya. Dia masih berandai-andai, andai kata Luna yang berada di tengah-tengah obrolan hangat itu bersama keluarganya. Pasti ia akan lebih banyak tertawa dan tersenyum. Dan pastinya ia akan berbahagia, bukannya muram seperti saat ini.

Tetapi tetap saja, rasa marah kepada Luna masih dirasakan oleh Satya. Ingin rasanya ia mencecar habis-habisan perempuan itu, bertanya apa alasan terbaik yang dimiliki oleh Luna hingga memilih pergi di hari pernikahan mereka?

Satya tidak mengerti mengapa kekasihnya itu meminta Satya melaksanakan pernikahan sebagai bukti dari keseriusannya, jika pada akhirnya perempuan itu sendiri tidak menginginkan pernikahan.

Apa Luna tidak pernah mencintainya? Apakah hubungan yang mereka bangun selama bertahun-tahun hanyalah lelucon baginya? Sungguh! Satya ingin tahu semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu dari mulut Luna.

Sungguh, dalam situasi ini Satya tidak tahu harus meletakkan dirinya di mana. Pada Luna kekasihnya yang menghilang di hari pernikahan mereka atau istrinya yang sedang duduk di sebelahnya tanpa mengatakan apa pun.

Perempuan bermata coklat itu sejak tadi hanya diam, tampak fokus pada makanan penutup yang berada di hadapannya.

Meskipun begitu, Satya tahu betul bahwa wanita itu juga sedang berpura-pura sama seperti dirinya.

Mereka memang sudah menikah dan mengambil sumpah untuk memulai hari yang baru bersama. Tetapi bukan berarti semuanya langsung berubah begitu saja, 'kan? Satya tahu betul bahwa masalahnya tidak sesederhana itu.

Ada banyak hal yang tidak bisa menjadi sederhana terutama saat mereka melibatkan dua hati dan dua kehidupan di dalamnya.

"Aku berhutang banyak padamu, Jeng Shena," ucap ibu Reva pada ibu Bella yang juga berada di sana.

"Jangan berkata seperti itu, Jeng Reva. Aku akan melakukan untukmu," balas Shena, ibu dari Bella.

"Aku sangat senang akhirnya kita besanan juga. Akhirnya keinginan kita di masa lalu dapat terwujud," balasnya kembali.

Shena terkekeh dengan anggun. "Aku pun seperti itu, Jeng. Aku tidak pernah menyangka bahwa kita akan besanan seperti itu dan persahabatan antar keluarga kita akan semakin erat."

Tampak kedua wanita paruh baya itu yang masih begitu muda dan cantik di umurnya sekarang tengah saling melontarkan rasa bahagia dan syukurnya atas pernikahan Bella dan Satya.

Sementara itu, Satya melihat dengan baik bagaimana kedua orang tuanya merasa sangat bahagia dengan pernikahannya dan Bella. Meskipun itu tidak direncanakan, tetapi tetap saja hal yang pernah menjadi impian kedua orang tuanya akhirnya tercapai.

Dulu, Satya sungguh berpikir bahwa dia tidak mungkin bisa menikah sesuai dengan keinginan orang tuanya. Bukan karena dia tidak menyukai Bella, perempuan itu memiliki daya tarik tersendiri yang tidak akan bisa dilewatkan oleh kaum Adam.

Dan meskipun sedikit, Satya sangat yakin bahwa Bella menjadi satu-satunya perempuan yang menarik perhatiannya di masa sekolah dulu. Namun sayangnya, sejak dulu Satya tidak pernah percaya terhadap cinta, karena dia meyakini cinta selalu berakhir dengan hal-hal yang menyakitkan dan Satya benci perasaan seperti itu.

Benar saja, kini rasa sakit itu benar-benar dialaminya. Terpatahkan dan dihancurkan oleh cinta.

Satya bahkan tidak tahu mengapa dia akhirnya memilih Luna sebagai perempuan yang akan dinikahi, dan menghabiskan seumur hidupnya hanya bersamanya. Saat itu, dia hanya berpikir Luna adalah satu-satunya perempuan yang berada di sisinya beberapa tahun terakhir dan hanya itu yang dia butuhkan.

Terlebih lagi, Luna adalah perempuan lembut dan sangat penyayang. Dan Satya akhirnya menjatuhkan hatinya hanya kepadanya.

Selama Luna berjanji untuk tetap setia dan berada di sisinya, Satya akan memberi segalanya untuk perempuan itu. Tetapi lagi-lagi takdir membawa kenyataan pahit, Luna memilih menyerah dan pergi. Bahkan setelah semua yang Satya berikan untuk kebahagiaan perempuan itu.

Hampir seluruh keluarga termasuk kedua orang tuanya tidak menampakkan kebahagiaan di saat Satya membawa Luna untuk diperkenalkan sebagai calon menantu.

Meskipun Luna memperlakukan Satya seperti sekarang, tetapi dia tidak pernah menyesal pernah berjuang untuk mempertahankan perempuan itu di sisinya. Satya rasa apa pun yang dia lakukan untuk Luna sebanding dengan pengorbanan Luna bersama dengannya. Setidaknya Satya sudah berusaha memperjuangkan Luna, pikirnya.

"Permisi, Nyonya. Ini waktunya tuan muda dan nona Bella untuk beristirahat," ucap sang kepala pelayan pribadi di keluarga Satya.

Mendengar kata istirahat, mata Bella langsung berbinar senang. Itu tandanya dia akan segera mengakhiri pesta yang membosankan ini dan terbebas secepatnya dari tempat ini.

"Artinya kita sudah bisa pulang 'kan, Ibu?"

Pertanyaan Bella membuat Nyonya Reva hanya tersenyum maklum.

"Kau ingin pulang ke mana, Sayang? Ini kan juga rumahmu sekarang. Tidak baik meninggalkan suami kamu sendirian, bukan?" Wanita itu berkedip nakal pada Bella kemudian pada Satya.

Apa maksudnya itu? tanya Bella dalam hati sebab dia tidak mengerti arah pembicaraan nyonya besar keluar Brawiyaja itu.

"Satya, ajak istrimu untuk beristirahat. Kalian berdua pasti sangat kelelahan hari ini."

Satya mengangguk, kemudian segera meraih tangan Bella untuk mengikutinya. "Saatnya beristirahat, Bella!"

Entah kenapa, tetapi Bella langsung patuh begitu saja dengan apa pun yang dikatakan Satya —suaminya. Seolah perintah Satya adalah titah seorang raja yang tak bisa dibantah.

Bella bahkan tidak mencoba protes atau bertanya mengenai apa pun, dia hanya ikut melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju sebuah ruangan yang sepertinya akan menjadi kamar mereka.

Astaga! Apakah malam ini dia harus berperan menjadi istri yang sesungguhnya?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED