Bab 1

Hentakan suara sepatu yang beriringan, napas yang tersengal-sengal. Mata yang tidak fokus, memasuki sebuah apartemen yang dia sendiri belum pernah menapakkan kakinya di tempat ini.

“Astaga … dua botak itu masih mengejar. Ini Selen ke mana, panggilanku kenapa enggak diangkat-angkat?” ungkap gadis yang sibuk melarikan diri dari dua orang yang mengejarnya.

Dia adalah Audra Valentina, seorang gadis yang akan dijodohkan oleh orang tuanya dengan anak bos petani karet. Dia memasuki apartemen, melihat lift masih tertutup, Audra mendengus kesal. Terus melangkahkan kakinya tanpa tahu arah, melihat tangga sepanjang jalan kenangan.

Audra menganga sempurna. “Badan sudah kurus kering, harus menaiki tangga ini. Huh … Selen keterlaluan banget sahabat satu ini,” gerutu Audra menaiki tangga satu per satu.

“Ke mana perginya? Kayaknya tidak mungkin naik lift. Kita lanjut saja, di sana mungkin ada tangga yang dinaiki Mbak Audra,” ujar salah satu pria.

Audra belum pernah ke apartemen baru Selena, sahabatnya semasa kuliah. Lantaran lulus, makanya Selena ingin mencoba hawa baru. Apartemen kali ini sangat megah, dibandingkan kontrakannya yang lama. Hidup terlahir dengan sendok emas, semuanya sangat mudah bagi semua orang. Tangan meminta, uang sudah ada di depan mata.

Audra sudah berada di tingkatan ketiga, napasnya tidak beraturan. Dia sudah tidak sanggup lagi berlari. Namun, ini tangga terakhir, Audra juga mendengar ketukan kaki yang berjalan dengan sangat cepat.

“Kenapa mereka tidak ada lelah-lelahnya. Badan besar seharusnya mereka berhenti, awas saja kamu, Harjo!” gumam Audra tertatih.

Sudah sampai di lantai empat, Audra bingung dengan bangunan ini yang hampir mirip semua. “Sel, kamar yang mana? Angkat telepon aku,” ucap Audra gusar. Audra mendengar salah satu pintu terbuka, dia berlari cepat.

Di lain tempat, seorang pria sedang memperhatikan dirinya di cermin. Penampilannya sangat berarti, seorang CEO dari perusahaan desain dan fashion, Inigo Elwood.

“Sial! Harusnya dia mengatakan ini lebih awal. Aku tidak akan melepaskanmu secara percuma. Terima hukuman yang akan aku berikan!” umpat Inigo.

Inigo membuka pintunya dengan tatapan tajam, tiba-tiba saja seorang gadis menerobosnya. Mendorong Inigo masuk kembali ke dalam, gadis itu menutup pintu dengan kasar dan menguncinya. Tanpa sadar, dia menjinjit menutup mulut pria berkumis tipis itu, memejamkan matanya dengan deg-degan yang tak terkendalikan, dan Inigo membelalakkan matanya sempurna.

“Siapa gadis yang tidak sopan ini?” batin Inigo.

Audra melepaskan dekapan tangannya di mulut Inigo, mendekatkan telinganya di balik pintu. Tidak mendengar suara apapun, dia membuka pintu dengan hati-hati. Melihat ke kanan dan kiri, benar-benar mereka yang mengejarnya sudah pergi.

Dia merasa lega, ponselnya berdering. Panggilan dari Selena, namun Audra belum mengangkatnya. Dia baru menyadari, ada hal yang lebih penting untuk menyelesaikan masalah yang dia buat sendiri. Dia salah memasuki ruangan, bukan itu. Dia tadi sudah tidak memiliki pilihan, ada kesempatan makanya dia tanpa berpikir panjang masuk ke sini.

Tatapan Inigo sangat mendominasi, Audra dibuat salah tingkah. “Saya minta maaf atas kelancangan saya, tapi ada alasannya. Jadi, saya sedang dikejar-kejar oleh orang jahat. Posisinya saya tidak salah apa-apa. Saya ke sini ingin ke tempat teman saya untuk meminta bantuan, namun dia sulit dihubungi, mendengar kamar anda terbuka jadi saya masuk dengan paksa,” jelas Audra sambil menggigit bibir bawahnya.

Inigo menyilangkan tangannya tampak berpikir. “Sepertinya dia cocok menggantikannya,” batin Inigo.

Audra melambaikan kedua tangannya di mata Inigo yang tidak membalas ucapan maafnya. “Pak, apakah saya sudah boleh keluar?” tanya Audra.

“Saya akan memaafkan kamu, tetapi kamu harus membantu saya. Bukankah harus menerima dan mengambil juga?” sahut Inigo.

Audra terperangah mendengarnya. “Jangan-jangan dia om-om mesum, astaga aku dalam masalah besar,” batin Audra ketakutan memundurkan badannya.

Inigo menantangnya, memajukan dirinya terus mendekati Audra. Semakin membuat Audra ingin melarikan diri. “Bagaimana?” tanya Inigo lagi dengan suara seraknya.

“Tenang, Om. Apa aku boleh tahu bantuan apa yang Om, eh maksud saya, anda inginkan?” ucap Audra dengan suara bergetar.

“Jangan bilang kamu sekarang sedang berpikiran aneh-aneh tentang saya?” ujar Inigo dengan tatapan tajamnya.

Audra menegakkan badannya. “Ti-tidak, saya orang yang positif jadi pikiran saya sehat-sehat saja. Baiklah, saya akan membantu anda,” ungkap Audra menyetujuinya meskipun sedikit gugup.

Audra kembali membuat dirinya dalam masalah, dia izin ke kamar mandi dulu dan memberitahu sahabatnya. Inigo tidak keberatan, membiarkan Audra masuk lebih dalam apartemennya. Dia menunggu, sembari memainkan ponselnya. Dia sedang memesan sesuatu.

“SELENA! Kamu ke mana saja, sih. Giliran di telpon lagi enggak diangkat. Kalau tahu bakalan susah menghubungi kamu, aku enggak akan memutuskan untuk bersembunyi di sini,” kesal Audra hendak menghempaskan ponselnya.

Dia mengurungkan niatnya, belum tepat untuknya menggantikan ponsel kesayangannya. Sahabatnya itu, belum juga mengangkat panggilan maupun balasan pesan Audra. Ketukan pintu terdengar, Audra ingin sekali menghilang sekarang juga.

“Maaf, lama. Teman saya belum bisa dihubungi,” ucap Audra.

“Saya tidak peduli, ikuti saya,” titah Inigo mengajak Audra.

Langkahnya berat mengikuti pria di depannya. Audra masih celingak-celinguk, takut jika dua orang tadi masih melihatnya, bisa-bisa Audra akan dibawa pulang lagi.

Inigo melepaskan jasnya, melemparkan ke arah Audra. Dengan sigap dia mengambilnya. “Ini untuk apa?” tanyanya.

“Tutup kepalamu pakai itu, kamu waspada, kan,” balas Inigo yang peka.

Seseorang datang menemui Inigo di dekat parkiran. Entah apa yang dibawanya. Audra hanya menuruti perintah Inigo untuk masuk ke dalam mobil.

“Siapa namamu?” tanya Inigo yang masih fokus dengan jalan di depan.

“Saya Audra, bagaimana dengan anda?” sahut Audra.

“Inigo, panggil saja Igo. Kenapa kamu memanggil saya Bapak atau Om, apakah saya terlihat setua itu?” ungkap Inigo yang merasa dituakan.

“Memangnya, anda belum setua itu? Saya hanya ingin bersikap sopan dengan orang yang lebih tua,” jawab Audra.

“Berapa umurmu?” kesal Inigo.

“Umur saya 22 tahun, bulan depan,” balas Audra.

“Kita hanya selisih 8 tahun, jadi jangan panggil saya dengan sebutan tadi!” ujar Inigo meninggikan suaranya.

Audra terkejut, melirik ke arah Inigo. “Aneh, sudah tua juga, memangnya harus dipanggil kamu, gitu?” gerutu Audra.

“Saya masih bisa mendengarnya,” sahut Inigo.

Audra memutar bola matanya. “Ngomong-ngomong kita mau ke mana?” Audra penasaran.

Inigo tidak menjawab Audra, berhenti di sebuah salon kecantikan. Inigo mengajaknya masuk. Seorang wanita mengarahkannya untuk duduk di sebuah kursi. Audra yang kebingungan, wajahnya sedang menerima polesan, rambutnya juga sedang diatur. Dia tidak diberi waktu untuk mengetahui alasan mengapa dia diajak ke sini.

Merasa terganggu dengan ucapan Audra, Inigo mencukur kumisnya. Ternyata jika dicukur lebih memperlihatkan ketegasan mukanya. Dia puas dengan hasilnya, tinggal menunggu gadis yang sedang dirias.

Terakhir, Audra dipakaikan baju langsungan, sangat pas dengannya. Lekukan tubuhnya terlihat, meskipun tidak detail. Semua yang dia kenakan, sudah dipersiapkan oleh Inigo.

Inigo menatapnya sangat terpukau, gadis kecil yang dia temui itu sangat cantik. Mereka sama-sama terpana, Inigo juga sangat tampan di pandangan Audra setelah mencukur kumisnya, tampak lebih muda.

“Kamu harus mempersiapkan diri menemui bos besar,” ungkap Inigo.

“Maksudnya?” tanya Audra yang tidak digubris.

Bab 2

“Apa?! Menemui keluarga untuk mengganti wanita bayaran? Anda sudah gila, Om. Saya kabur dari rumah untuk menghindari perjodohan, lalu sekarang saya akan melibatkan diri dalam permasalahan keluarga anda? Turunkan saya di sini!” bentak Audra.

“Aish! Om lagi? Kita sudah sepakat, saya benci dikhianati. Kamu harus menepatinya.” Inigo semakin menginjak pedal gasnya.

“Saya akan lompat kalau tidak dihentikan!” ancam Audra.

“Tinggal lompat, saya akan meninggalkanmu,” balas Inigo dengan entengnya, Audra mendengus kesal.

Dia juga berpikir tidak ingin mati muda. Audra menatap pria di sebelahnya penuh dengan rutukan dan umpatan. Andai saja dia tidak masuk ke dalam apartemennya, pasti tidak mungkin terkena masalah yang lebih besar lagi.

“Sebentar lagi kita sampai, ingat saja kamu hanya perlu menjawab dan menghormati Kakek yang berada di ujung paling kanan. Kita akan menghadiri acara makan malam, jadi berhati-hatilah dalam bersikap. Harusnya ada lima orang yang akan dihadapi, tapi karena satu lagi sedang sibuk. Kamu hanya perlu melewati malam ini dengan gesekan dari keempat ini.” Inigo menginjak pedal rem dengan kasar.

Audra hampir saja terbentur dasbor depan mobil. “Sumpah! Kepalaku hampir saja benjol. Dasar Om-om!” gerutu Audra.

Tanpa perkataan apapun, Inigo meninggalkan Audra yang masih di dalam mobil. Dia menunggu di depan pintu. Menatap Audra yang berjalan kesusahan karena dressnya yang kepanjangan.

Tangan Inigo siap untuk menggandengnya, Audra tidak mengerti maksudnya. Inigo menghela napasnya kasar, meletakkan tangan kanan Audra.

“Harus banget kayak gini?” tanya Audra.

“Menurut saja, ini tidak akan lama.” Inigo menekan bel rumah.

Seorang pelayan dengan seragamnya, menyambut kedatangan mereka. Mempersilahkan masuk dan mengarahkan pada meja makan. Audra terkejut, melihat semua raut wajah kaku mereka. Apalagi wanita yang sepertinya seumuran dengannya. “Sangat tidak ramah!” ucap Audra lirih.

Audra terpaku melihat Kakek yang dikatakan Inigo, pasti yang saat ini ada dihadapannya. Ketika sudah dekat, barulah Kakek itu tersenyum.

“Selamat datang di acara makan malam sekaligus menyambut calon menantu, Elwood,” sapa Kakek yang memeluk Inigo.

Mukanya terlihat cerah, sudah sangat lama menanti kedatangan pasangan Inigo menginjakkan kaki di rumah ini. Berbeda dengan Audra memberikan senyuman paksa lantaran merasa semua mata tertuju padanya.

Inigo membukakan kursi untuknya. “Terima kasih, sudah diberikan penyambutan yang sangat luar biasa,” balas Audra yang sangat canggung.

Kakek berdiri kembali, Audra yang hendak ikut berdiri ditahan oleh Inigo. “Bukankah tidak sopan jika tetap duduk?” bisik Audra, Inigo menggelengkan kepala.

“Kakek akan memperkenalkan diri, Chawki Elwood itu nama Kakek. Setelah ini, kalian bertiga perkenalkan diri juga pada calon menantu kita,” titah Chawki.

Audra mengingat nama dan wajah mereka satu per satu. Clare Elwood, keponakan Inigo yang pelit dengan senyum, tapi dia pintar dalam seni. Netalie Elwood, anak pertama Chawki yang memiliki kelebihan dalam memerankan dunia putri tidur, lebih tepatnya hidupnya dia habiskan hidup dengan bantal. Burhan, suami Netalie yang memiliki impian tinggi menjadi pimpinan perusahaan, namun malas bekerja. Terakhir yang tidak bisa datang, Aneisha Elwood, anak kedua Chawki yang saat ini sedang kuliah di luar negeri.

“Mereka semua sangat unik, sepertinya yang sedikit waras dalam keluarga ini hanya Inigo. Ke-kenapa mereka menatapku lagi?” batin Audra yang bingung mendapatkan tatapan kosong mereka.

“Giliran kamu!” titah Inigo.

Audra berdiri. “Perkenalkan saya Audra Valentina, anak tunggal dari satu pasangan pria dan wanita. Sungguh menjadi kehormatan terbaik bisa diundang kemari.”

Mereka belum mengalihkan pandangan, Audra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.”Apakah aku melakukan kesalahan?” batin Audra sembari duduk perlahan-lahan.

Satu kali tepukan dari Chawki. “Sebelum kita pesta, Kakek akan bertanya pada Aura ….”

“Maaf, Kakek. Benarnya Audra,” sahut Audra memotong ucapan Chawki.

Chawki malah tertawa terbahak-bahak, Audra melongo. “Kamu memang pandai, tes pertama lulus.”

“Ceritakan tentang hubungan kalian,” perintah Chawki.

“Kami akan menikah dalam waktu dekat,” jawab singkat Inigo.

Audra terkejut bukan main. “Ap-Apa dalam waktu dekat? Om … benar sekali menikah. Omaigat saya tersentuh dengan romantisnya dia, Kek.” Audra menginjak kaki Inigo sekuatnya.

“Mulai hari ini, Kakek tidak akan lagi menanyakan tentang wanita denganmu, Igo. Kakek setuju dan lanjutkan pernikahan secepatnya.” Chawki menepuk tangannya dua kali. “Tuangkan sekarang!’ perintahnya pada pelayan.

“Bukankah itu minuman yang mengandung alkohol?” tanya Audra lirih mendekati Inigo.

“Bilang saja kamu tidak bisa meminumnya, alasan kesehatan,” jawab Inigo.

Hanya Chawki yang minum air putih, semua orang sudah memegang gelas. Inigo menunggu Audra menolak bahwa dia tidak bisa meminumnya. Gelas diangkat, namun Audra malah meminumnya.

“Rupanya seperti ini rasanya.” Audra meletakkan kembali gelasnya.

“Kamu belum pernah minuman semacam ini?” Clare melihat ke arah Audra.

Inigo merasa kesal, dia tidak ingin disusahkan jika wanita ini mabuk. Inigo segera berdiri. “Kek, terima kasih atas persiapan yang sangat mengesankan ini. Tapi, kami ada acara lain yang harus didatangi juga. Jadi, kami permisi dulu,” pamit Inigo.

“Kenapa kalian tidak makan malam dulu?”

“Aku dan Audra akan membuat rencana mengenai bulan madu kami, Kek. Lagi pula , aku harus segera menemui kedua orang tuanya untuk meminta izin dan restu,” ungkap Inigo.

Audra memaksakan tersenyum, padahal ini salah satu tekanan terberat dalam hidupnya. “Benar sekali, cucu Kakek satu ini sangat tidak sabaran.” Audra memukul tangan Inigo penuh tenaga.

“Ya sudah, kalian cepat pulang. Rencanakan tempat yang bagus, agar hasilnya juga menawan,” sahut Chawki.

Merekapun keluar, Audra menepis tangan Inigo. “Apakah keluarga anda yang lain serupa dengan sikap mereka? Terus apa maksud Kakek dengan hasil menawan?”tanya Audra.

“Hm, satu kesatuan pasti serupa. Jangan pura-pura polos, Kakek ingin memiliki cucu sama dengan hasil yang menawan.” Inigo masuk ke dalam mobil.

Audra terpaku dengan jawaban Inigo, ikut masuk juga. “Saya harap ini pertama dan terakhir saya menginjakkan kaki ke sini. Saya tidak akan mau lagi membohongi Kakek dan lainnya. Jadi, satu bantuan yang anda berikan sudah saya lunasi dengan bantuan juga. Oke?” Audra menunggu balasan Inigo yang tampak berpikir.

Audra mendekatkan wajahnya pada Inigo. Dia masih berharap bahwa pria ini tidak lagi mengganggu hidupnya. Harus menjauhinya sekarang, bukannya mendapat keinginannya. Audra mendapat serangan tiba-tiba.

Cup!

Bibir Inigo mengecup kening Audra. “Jangan banyak tanya, kalau tidak ingin … ini yang akan aku sentuh.” Inigo memegang bibir Audra sekilas.

Sontak Audra menjauhkan dirinya. “Dasar mesum! Cepat antar saya pulang!” pekik Audra sembari mengusap keningnya.

“Bukankah barusan kamu menggodaku?” tanya Inigo.

“Siapa yang mau menggoda, anda saja yang pikirannya kotor. Ayo, jalankan mobilnya,” pekik Audra lagi.

Di perjalanan menuju apartemen, Audra kembali menghubungi Selena. Kesialan lagi-lagi menimpanya. Selena sedang main dengan pacarnya, pulang pasti sangat terlambat. Selena malah menyarankan Audra untuk tinggal sebentar di tempat Inigo sambil menunggu kepulangannya.

“Argh! Sungguh sial,” umpat Audra.

“Hentikan saya di sebuah hotel, karena teman saya pulang larut. Dia sedang bersama pacarnya,” pinta Audra.

“Menginaplah di tempatku!” Inigo mengatakannya tanpa beban.

Bab 3

“Om, jangan bawa aku masuk ke apartemen. Aku mau hotel!” pekik Audra yang setengah sadar.

Inigo sedang menggendong wanita ini. “Jangan bicara terus, kamu sangat berat. Mau dilemparkan ke lantai, hah?!” Inigo membenarkan tangannya agar Audra tidak terjatuh.

Di dalam lift, Audra malah menangis, tenggelam dalam dada bidang Inigo. Pria itu sontak melihat ke bawah. “Ada apa lagi dengan wanita ini?” batin Inigo.

“Ak-aku mau muntah, Om,” ujar Audra terbata-bata.

“Ja-jangan sekarang, tahan sampai ka …,” ucapannya terhenti.

Terlambat, Audra sudah menumpahkan cairan dari mulutnya. Meski tidak banyak, namun Inigo sangat kesal sampai menggertakkan giginya.

“Inilah kenapa aku tidak mau direpotkan, pasti akan terjadi juga,” desis Inigo yang melepaskan jasnya perlahan sambil menahan badan Audra agar tak terjatuh.

Ulah Audra sendiri yang semakin terjebak dalam keadaan semacam ini. Dia memang tidak pernah meminum alkohol sebelumnya. Untuk kali pertama karena nekat meneguknya sekali habis. Jadilah kegaduhan lain yang harus dia rasakan.

Pintu terbuka, Inigo membenarkan gendongannya yang susah payah membawa Audra. Inigo mengetuk seberang kamar miliknya yang katanya sahabat Audra berada. Mengingat perkataan wanita yang masih dalam dekapannya ini, bahwa sahabatnya lambat pulang.

Inigo mengambil langkah untuk membawanya masuk ke apartemennya saja. Tidak ada niatan lain selain membantunya, entah kenapa Inigo yang terkenal dingin dengan sikapnya bisa menolong Audra yang baru saja dia kenal.

“Haruskah aku mengganti pakaiannya? Aku tidak sudi dia berada di ranjangku dalam keadaan kotor,” gumam Inigo yang memperhatikan kondisi Audra.

Wanita itu belum memejamkan mata sepenuhnya, namun tidak juga dikatakan sadar. Audra mencoba berdiri, kepalanya yang pusing membuatnya tidak bisa menyeimbangkan badannya.

Ponselnya berdering, Inigo terpaksa merogoh dari dalam tasnya. “Audra, maaf banget aku gak bisa balik sekarang. Kamu bisa nunggu dulu, kan? Sekitaran dua jam lagi mungkin,” ucap Selena.

Inigo memicingkan matanya, suara yang keras dan tak asing lagi di pendengarannya. Dapat dipastikan bahwa sahabat Audra sering kali pergi ke club malam.

“Dia akan menginap di tempat saya,” balas Inigo seraya memutuskan panggilan yang sedang berlangsung itu secara sepihak.

“Jangan-jangan wanita ini menipuku? Sahabatnya saja sering clubbing masa iya dia terkapar hanya karena seteguk alkohol,” kata Inigo mencurigai Audra.

***

Pagi harinya, Inigo sudah bersiap untuk pergi bekerja. Dia masih melihat belum ada pergerakan dari Audra. Inigo menggelengkan kepalanya, inilah yang disebut pengangguran akut.

Dia memang belum mengetahui lebih dalam bagaimana sosok Audra. Jelasnya ada hal menarik yang membuatnya ingin tahu. Sengaja Inigo meletakkan sebuah kertas untuknya.

Beberapa jam kemudian, Audra mengerjapkan matanya. Mengganti posisinya menjadi duduk, merentangkan tangannya memperlihatkan tempat yang belum pernah dia lihat.

“Apa ini masih mimpi, ya? Aneh banget tulangku kayak mau patah semua,” ujar Audra yang berkeluh kesah.

Audra mengucek matanya pelan. “Kenapa kayak nyata banget, bentar-bentar semalam apa yang terjadi denganku?” Audra memperhatikan sekujur badannya yang sudah berganti pakaian serba putih.

“Ya ampun Audra, akal sehatmu belum kembali normal. Ini bukan surga, kan? Hah … ini baju cowok gak, sih?” Audra membuka selimut yang sejak tadi menutupinya.

Audra terpental dari kasur saking kagetnya. Di mana keberadaannya? Dia mengelilingi kamar itu hingga puas.

“Jangan bilang aku sudah melakukan itu. Om mesum itu benar-benar berbuat semuanya, bagaimana aku bisa hilang kendali?” Audra merutuki dirinya dan mengacak rambutnya yang memang acak-acakan.

Audra yang masih tak percaya dengan perbuatannya. Dia menggerakkan bagian bawahnya, benar saja dia tidak merasakan apapun. Hanya pegal-pegal yang masih dirasakannya.

“Apa aku perlu menanyakannya?” tanyanya nampak berpikir.

Dia keluar kamar itu, melihat sepucuk kertas di atas meja. Audra mengambilnya dan membaca pesan singkat itu. Terdapat nomor telepon yang dapat dihubungi, Audra mencari tasnya.

“Temui aku di jam makan siang. Alamatnya nanti aku kirimkan,” ucap Inigo.

“Kurang ajar, main matiin aja. Aku belum selesai ngomong,” gerutu Audra memandangi layar ponselnya.

***

Di tempat lain, Inigo sedang disibukkan dengan pekerjaannya. Matanya fokus menatap komputer, dia memeriksa desain-desain yang dikirimkan bagian divisi desain yang akan meluncurkan produk baru. Inigo ingin memastikan bahwa produknya ini dapat diterima semua kalangan.

Ketika fokusnya belum teralihkan, tanpa aba-aba pintu pada ruangannya terbuka. Tatapan tajam dia layangkan pada wanita itu.

“Kamu yakin akan menikahinya? Ini hanya lelucon saja, kan?” tanya wanita itu.

“Di mana sikap kesopananmu? Datang-datang langsung melontarkan pertanyaan yang tidak penting. Keluar!” bentak Inigo tegas.

Bukannya nyalinya menciut, dia duduk di atas meja kerjanya Inigo. Mengenakan rok di atas lutut, memamerkannya percaya diri. Wanita itu menyilangkan tangannya, menatap Inigo.

“Sebelum kamu menjawab pertanyaanku. Aku tidak akan beranjak dari sini,” balasnya.

Wanita yang mengejar-ngejar Inigo semenjak kepeduliannya pernah dia berikan padanya disalah artikan.Wanita ini tidak lain Clare. Ada hal yang Inigo tidak katakan pada Audra mengenai hubungannya dengan keluarga ini.

“Lakukan semaumu, aku tidak akan peduli,” balas Inigo dingin.

“Aku tahu kamu membayarnya, kan? Kamu tidak perlu mengeluarkan uang kalau memilihku. Kita tidak ada ikatan darah, Inigo. Apa yang kamu takutkan?!” ujar Clare meninggikan suaranya.

“Mau aku usir atau pergi dengan tenang?” sahut Inigo lagi yang membuat Clare semakin marah.

“Setelah pengakuan cinta yang aku ucapkan, kamu semakin berubah. Apa kurangnya aku? Tatap aku seperti dulu, Inigo!” ucap Clare yang benar-benar mengganggu Inigo.

Dia mencengkram tangan Inigo kuat, namun Inigo sama sekali tak teralihkan. Dia masih tidak mau menatap wanita yang ada di sampingnya.

Inigo sudah menahan sabar, dia menarik Clare paksa untuk keluar dari ruangannya. Perusahaan ini memang milik kakeknya, akan tetapi saat ini puncaknya dipegang olehnya. Inigo tak merasa bersalah mengusir Clare seperti itu.

“Kamu akan menyesalinya, Inigo!” pekik Clare yang memegangi pergelangan tangannya yang panas.

Beberapa jam kemudian, Inigo pergi dan memberikan dokumen penting pada sekretarisnya yang sudah menunggu. Inigo bisa pergi setelahnya, dia akan menemui Audra.

Di sebuah kafe yang tidak terlalu jauh dari apartemen Inigo, Audra sudah menanti kedatangan pria itu. Audra pun memakai pakaian Inigo lantaran Selena yang belum juga menghubunginya. Untuk bawahan, dia memakai celana pendek Inigo.

“Baru kali ini, keluar tapi pakaiannya gak ada kalem-kalemnya. Minimal kalau ngajak siapin pakaian, ini enggak peka banget,” gerutu Audra yang jika dihitung sudah tak terhingga hasilnya.

Bahkan dia juga berangkat bersama ojek yang dipesan secara online. Sungguh malang, permasalahan perjodohan belum usai. Ada lagi masalah baru yang harus dia selesaikan.

“Lama banget, Om. Karatan nunggunya,” tegurnya pada Inigo yang baru saja datang.

“Ngapain pake baju itu? Aku sudah siapkan di belakang pintu baju untukmu,” ucap Inigo.

“Telat banget ngasih tahunya,” balas Audra mengerucutkan bibirnya. “Lama-lama Om gak lagi bicara formal, ya,” ucap Audra yang menyadarinya.

“Biar lebih akrab,” jawabnya.

Audra sudah memesan minuman, sehingga pelayan membawakan keduanya minuman bersamaan. Inigo menyeruput duluan.

“Mau ngapain ngajak ketemuan di sini?” tanya Audra.

“Aku mohon bantu aku lagi,” pinta Inigo menatapnya sangat serius.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED