Bab 1

-Musim semi pertama

Sebenarnya, Max tidak ingin datang ke pesta pernikahan Edwin, karena harus membawa serta Jennifer bersamanya, namun mengingat semua jasa Edwin padanya beberapa tahun lalu rasanya tidak etis jika dia mengabaikan undangan untuk hadir di hari bahagia sahabatnya itu.

Max menyuruh Jennifer bersiap, dia juga berpesan agar Jennifer menyuguhkan penampilan terbaiknya, karena nanti di sana akan ada banyak orang orang penting dari kalangan atas juga kolega bisnis nya.

Dan kini Max sudah jenuh menunggu Jennifer bersiap, wanita itu sudah menghabiskan kurang lebih satu setengah jam di dalam kamar, namun tidak kunjung selesai.

"Apakah kau sudah selesai?" Tanya Max menahan geram dia sedikit berteriak agar Jennifer yang berada di lantai dua bisa mendengarnya.

"Sebentar lagi!" suara lantang Jennifer terdengar tidak mau diburu-buru. Max berkacak pinggang, kaki jenjangnya berjalan ke kanan dan ke kiri dengan resah.

"Lama sekali istri gila itu, apa yang dia lakukan disana?" gerutu Max, bahkan dia yakin kalau Jennifer memakan waktu lebih banyak di banding pengantin Edwin saat bersiap.

Baru akan meluapkan kekesalannya, berniat mendobrak paksa kamar Jennifer dan menyeret wanita itu. Max sudah di kejutkan dengan Jennifer yang berjalan menuruni tangga dengan gaun berwarna biru gelap tanpa lengan yang membalut ketat tubuhnya, paha dan betis wanita itu terekspose dengan menawan serta kakinya yang di bungkus dengan sepatu high heels berwarna silver berkilau.

Untuk beberapa saat Max terkesima, matanya terperangkap dan tak bisa lepas dari Jennifer . Namun dia segera mengerjap saat Jennifer menuruni anak tangga terakhir dan berjalan ke arahnya.

"Bagaimana penampilanku? Sangat cantik bukan? Untuk ukuran istri seorang Maximilian Jefferson aku rasa ini yang terbaik!" Jennifer berputar, memperlihatkan setiap sisi gaunnya pada Max.

"Seperti pakaian orang rimba!" komentar Max itu membuat Jennifer tidak senang, apalagi Max menatapnya dengan malas dan sunggingan jijik.

"Aku sudah sangat sexy, cantik, dan modis seperti ini kau bilang seperti orang rimba? Huh! Dasar tidak mengerti fashion!" Jennifer mencebikkan bibirnya, membuat Max sedikit tergoda, bibirnya yang terlihat mungil dan lembab ingin sekali Max lahap dengan ganas, tapi sekarang bukan waktu yang tepat.

"Ya, memang benar pakaianmu itu kurang bahan seperti orang rimba di zaman purba!" Max melipat kedua tangannya di depan dada kini tubuh kekar nya dia sandarkan ke tembok.

"Pakailah pakaian yang lebih sopan!" Max melotot seolah memerintah Jennifer untuk segera berganti pakaian.

"Bukannya dulu kau bilang aku itu tidak tahu sopan santun? Jadi, untuk apa aku memakai pakaian yang sopan?" balas Jennifer.

"Sudahlah, ayo kita berangkat!" Jennifer tak ingin melanjutkan perdebatannya dengan pria itu, dia memilih berbalik dan melangkah ingin segera pergi.

Max menghembuskan napasnya dengan kasar, tangan beruratnya menarik baju minim yang dikenakan Jennifer, dalam satu gerakan kain itu terlepas, dan memperlihatkan tubuh mulus Jennifer.

"Apa yang kau lakukan Max?!" Jennifer menyilangkan tangannya di depan dada dia terkejut sekaligus malu .

Tanpa menjawab Max menggenggam erat pergelangan tangan Jennifer menuntunnya ke kamar dengan langkah yang cepat, tak peduli dengan keadaan wanita itu yang setengah bugil.

Jennifer kesusahan mengimbangi langkah Max, pintu kamar di buka memakai tendangan kaki lalu Max mendorong Jennifer ke atas ranjang, sedetik kemudian tubuh Max sudah menghantamnya.

Jennifer menatap Max yang kini berada di atas nya, mengurung tubuhnya dengan kedua tangan besar, mata Max memancarkan kemarahan, Jennifer tau pria itu tidak suka di bantah dan sepertinya Max akan segera memberinya hukuman.

"Kau menolak untuk mengganti bajumu, apa kau tidak tahu memakai baju seperti itu akan mengundang mata pria berengsek untuk berpikiran kotor?" Bisikan Max itu terselip ancaman juga peringatan, suaranya tegas membuat Jennifer merinding.

"Dan kau..." Kata Jennifer dengan gemetar

"Ya, dan aku salah satu dari pria berengsek itu!" Dalam benaknyanya, dia mengakui kalau penampilan Jennifer sangat luar biasa.

Bahkan Max berkata dalam hatinya, "Damn Hot, Fucking sexy, Jennifer!"

"Bukan salah satu, aku adalah satu satunya, tidak akan ada pria lain yang melihatmu memakai baju jalang itu lagi!" Max menggeram, dia menyingkir dari atas tubuh Jennifer lalu turun dari ranjang dan berjalan menuju walk in closet.

Jennifer benar-benar terhenyak dengan setiap perkataan Max, dia merasa ada kecemburuan di sana, yang mungkin hanya sedikit.

Suaminya itu otoriter dan mudah emosi, Jennifer tahu ini masih terlalu jauh untuk mendapatkan hati seorang Maximilian Jefferson.

Setelah beberapa menit, Max keluar dari walk in closet, membawa gaun berwarna merah hati berlengan panjang, dengan tak sabaran Max menarik Jennifer berdiri, dan membuka gaun minim yang sudah robek dengan cepat, tanpa basa-basi Max memakaikan gaun merah yang dipilihnya pada Jennifer.

Pipi wanita itu sudah memerah, dia gugup dan tegang saat Max melihatnya hanya memakai pakaian dalam.

Batas gaun itu selutut, jadi Jennifer masih bisa bergerak bebas, kemudian Max menarik kain yang mengikat sanggulan rambut Jennifer, membuat helaian blonde ikal itu tergerai indah dengan bandu permata di tengahnya.

"Rambut panjangmu harus terurai agar lehermu tidak terlihat!" Kata Max sebelum Jennifer protes.

Max tahu Jennifer tidak suka mengurai rambutnya dia cepat merasa gerah dan tak betah.

"Baiklah terserah kau saja Master!" Jennifer memberikan senyum terbaiknya, tanpa pura-pura dia memang sangat senang diperlakukan seperti itu oleh Max.

"Sudah aku bilang jangan pernah tersenyum di hadapanku, Jenni!" Max tidak suka melihat wanita itu tersenyum, alasannya pada Jennifer adalah karena dia merupakan sumber penderitaan adiknya, dan Max tidak suka melihatnya bahagia. Namun, yang sebenernya tak bisa Max pungkiri senyuman Jennifer secara alami mendorongnya untuk tersenyum juga dia tidak ingin Jennifer Ge-er.

"Hm," Jennifer langsung menarik kembali senyumnya.

"Apa lipstikku terlalu merah?" Jennifer terkejut ketika melihat pantulan dirinya di cermin, dia merasa bibirnya terlalu mencolok entah karena dia memakai lipstiknya terlalu tebal atau karena gaunnya juga berwarna merah.

"Kita tidak punya banyak waktu!" Max melirik jam tangannya, lalu menarik Jennifer untuk segera pergi. Wanita itu menghempaskan tangannya dengan kencang membuatnya terlepas dari genggaman Max.

"Aku tidak cocok dengan riasan ini, terlalu mencolok"

"Tapi kita tidak bisa membuang waktu lagi, bisa terlambat." sambar Max.

"Aku mohon hanya sebentar!"

Max kesal, kenapa wanita itu tidak mengerti? Ini bukan pesta pribadinya yang bisa kapan saja dia datang, karena tidak punya cara lain Max pun menangkup wajah Jennifer, meraup bibirnya, lalu menjilat lipstik merah yang terpoles di bibir ranum itu, Jennifer terbelalak rasa sakit sekaligus geli menyerang secara bersamaan, bahkan lumatan Max terkesan kasar, Jennifer hampir saja menjerit jika tidak melihat sorot tajam mata pria itu.

Lama kelamaan ciuman itu terasa begitu menyesakkan, Jennifer merutuki dirinya andai saja dia dan Max bertemu dengan awal dan alasan yang baik, mungkin pria itu bisa membuka hatinya.

Max pun memejam, menutupi kilatan bersalah atas apa yang sudah di lakukan bertahun tahun silam, andai dia tidak memiliki masa lalu yang kelam, jika saja dulu dia tidak menjadi bajingan keji, mungkin dia bisa lebih leluasa menunjukkan cinta nya pada Jennifer. Entah sampai kapan dia bisa menyimpan kebohongan itu.

Bab 2

-Musim gugur

Lima bulan berlalu sejak tragedi mengerikan itu, Jennifer memutuskan hubungannya dengan Sean, tak pernah terpikir olehnya semua itu akan terjadi. Bahkan isak tangis Megan masih terdengar jelas di ingatannya, ketika Megan memergoki Jennifer dan Sean sedang berkencan, dia berharap saat itu Megan memaki dan menamparnya saja bukan menewaskan diri di tengah jalan.

Memori kejadian itu terekam jelas dalam otaknya sekeras apapun usaha Jennifer agar lupa dia tidak akan bisa, sempat berpikir gila ingin mengalami kecelakaan dengan sengaja agar dirinya kehilangan ingatan, karena obat terlarang yang menghapus ingatannya tak begitu efektif, malah membuatnya tambah depresi. Belum lagi rentetan kejadian lain yaitu setiap persaingan sengitnya dengan Megan juga ikut muncul, serta bagaimana dulu dia sering merundung wanita itu.

Mereka sudah dewasa dan cukup matang secara fisik dan psikologis. Tapi sikap keduanya seperti anak kecil yang tidak pernah akur karena berebut mainan.

Awalnya Jennifer hanya bermain main dengan Sean untuk membuat Megan cemburu. Jennifer melakukannya karena telah kalah saat bersaing memperebutkan posisi sebagai duta mahasiswa terbaik di jurusan bisnis dengan Megan, tapi nyatanya hal itu malah membawa petaka besar.

Tiga bulan lalu dia lulus, dan menggantikan posisi Megan saat berpidato di khalayak ramai, setelah hari itu, harinya kembali suram, bayangan Megan selalu menghantuinya.

Bahkan beasiswa dari universitas ternama di Inggris dia tolak, dia memilih untuk tetap berada di Jerman, dia akan makin merasa bersalah jika kabur ke negeri lain. Jennifer juga tidak bisa menyerahkan dirinya ke polisi karena itu bukan pembunuhan, Megan sendiri yang berdiri di tengah jalan dan membiarkan dirinya tewas tertabrak truk, supir truk itu juga tidak bersalah, tidak mungkin menghindari kejadian itu dengan mendadak saat Megan melakukannya. Lalu Sean, mungkin dia kandidat yang cukup bersalah, bagaimana pun dia tahu kalau Jennifer dan Megan adalah musuh bebuyutan dalam bidang akademis, prestasi, ataupun kekayaan, tapi pria itu tetap saja ingin memiliki keduanya.

Tapi nyatanya yang menderita adalah Jennifer seorang, dan lagi Megan pun sudah tidak punya orang tua. Bagaimana cara dia meminta maaf, menebus kesalahannya dan mendapat kedamaian dalam hidup?. Jennifer bisa gila jika terus seperti ini.

"Agatha, apa kau menemukan kabar mengenai keluarga Megan?" Tanya Jennifer saat berada di kantor Agatha, temannya itu sangat ahli dalam teknologi dia bisa mendapat banyak informasi dan melakukan pelacakan dengan mudah.

"Aku berhasil menemukannya Jenni, tapi dia adalah kakak tirinya Megan, apakah dia akan peduli?" Agatha memilih tak memberitahukan pada Jennifer dari awal mengenai informasi yang dia dapat. Agatha pikir kakak tiri tidak akan terlalu peduli, dan kabar yang dia dapat juga pria itu sudah memutus hubungannya dengan sang ayah lalu mengganti nama belakang dengan marga kakeknya.

"Memangnya kenapa jika kakak tiri, mereka tetap berasal dari sumber yang sama" Jennifer mengerutkan keningnya, bahkan jika itu adalah kakak angkat sekali pun dia tidak akan keberatan.

Agatha pun menjelaskan panjang lebar pada Jennifer mengenai hubungan kakak Megan dengan keluarganya. Jennifer mengangguk paham, tapi dia pikir itu adalah masalah pribadi dan yang tersisa kini hanyalah kakaknya Megan saja, jika memang kakaknya itu membenci Megan karena mereka saudara tiri, Jennifer akan siap menjadi pelampiasan kebenciannya.

"Kau gila! Hanya untuk bertemu Maximilian Jefferson saja kau harus melewati proses yang panjang, belum lagi jika meminta sesuatu padanya dan kau bukanlah siapa siapa kau harus bersedia merangkak di kakinya, dia pria yang kasar" tutur Agatha setelah mendengar keberanian Jennifer yang bersikukuh untuk menemui Maximilian Jefferson.

"Tidak apa apa, itu semua tidak sebanding dengan penderitaan yang sudah ku berikan pada Megan" Jennifer memasang raut bersalahnya, setiap kali mengingat Megan, penyesalan dalam benaknya selalu berontak.

"Maximilian adalah orang yang dingin dan otoriter, dia terlalu berkuasa dan juga kaya akan sangat sulit meluluhkan orang semacam dia"

"Aku tidak masalah Agatha, aku akan berusaha, jika perlu aku akan meminta menjadi istrinya agar aku terus mendapat perlakuan buruk darinya sama seperti perlakuanku pada Megan, sekarang kau berikan saja alamatnya" Jennifer berkata dengan yakin, dia tidak akan menyerah sebelum menebus kesalahannya, Agatha salut pada temannya itu, bertanggung jawab juga pemberani, tapi ide itu terdengar sangat gila.

Melihat Jennifer yang sudah bulat tekad nya Agatha pun mengiyakan, "Aku akan mengirimkannya lewat email, informasi lengkap mengenai pria itu, kau harus berjanji padaku untuk menjaga dirimu baik baik, aku tahu kau merasa bersalah tapi setidaknya, tetap perhatikan dirimu" peringatan Agatha terdengar sangat tulus, dia terlihat sangat mengkhawatirkan Jennifer, bahkan Agatha juga turut andil dalam merundung Megan, namun dia tidak punya keberanian sebesar itu untuk menebus kesalahannya.

"Terimakasih Agatha, mungkin aku akan membutuhkan bantuan mu lagi, jadi aku harap kau tidak keberatan" ujar Jennifer, satu satunya teman yang tahu keadaannya setelah kematian Megan adalah Agatha, dia berbagi segalanya dengan wanita itu. Meskipun mereka tidak terlalu dekat saat berada dalam satu lingkaran pertemanan namun keduanya selalu berhubungan baik, dan Agatha adalah orang yang paling bisa di andalkan.

"Hubungi aku kapan pun kau butuh" ujar Agatha.

***

Dengan mengenakan gaun rumahan bermotif bunga tulip kuning, Jennifer datang ke gedung megah MXJ holdings company, perusahaan estate terbesar di ibu kota Jerman.

Lantai marmer yang mengkilat menjadi pijakan kakinya ketika pertama kali menapak di sana. Mata biru langit nya mengerjap dan bergulir mengedar untuk menatap ke setiap sudut gedung itu. Orang orang berpakaian rapih dan berkelas berlalu lalang di hadapannya, terlihat sangat sibuk.

Jennifer berjalan menuju meja resepsionis menanyakan letak ruangan Maximilian Jefferson pemilik perusahaan raksasa real estate itu.

"Maaf nona, anda harus membuat janji sebelumnya, tuan Max sangat sibuk dan tidak bisa di ganggu" kata sang resepsionis, sebelum Jennifer berbicara lagi, dia sudah menyibukkan diri dengan mengangkat telepon, dan tidak mungkin meladeni Jennifer.

Jennifer tidak punya cara lain, dia pikir untuk bertemu orang sekelas Max dibutuhkan koneksi yang bagus, setidaknya orang yang memiliki hubungan bisnis dengan perusahaannya. Wanita itu juga berpikir untuk melamar kerja di perusahaan itu agar punya kesempatan bertemu dengan Max, tapi tidak mungkin juga, bahkan Jennifer belum memiliki pengalaman minimal dia harus melanjutkan S2 nya dulu agar punya tempat di perusahaan bergensi seperti MXJ holdings.

"Jennifer! Kau Jennifer kan?" Tanya seseorang yang berdiri di hadapannya, Jennifer mendongakkan kepala menatap pria itu dan berusaha keras mengingatnya.

"Edgar? Kau yang pernah tersesat itu kan?" Akhirnya Jennifer ingat, pria itu adalah orang yang berdiri di pinggir jalan saat tersesat, dia adalah orang Amerika yang di pindah tugaskan ke Jerman dan tidak hafal rute di kota Berlin, mobilnya mogok ponsel nya juga mati sehingga dia tidak bisa melihat maps. Pria itu tengah kena sial, dan Jennifer datang membantunya memperbaiki mobilnya yang mogok, setelah itu mentransfer bantrai ponselnya ke ponsel pria itu, kebetulan ponsel mereka satu merek.

Dan, swalla! Mereka bertemu lagi hari ini.

"Sedang apa kau disini?" Tanya Edgar dengan ramah.

"Kau sendiri sedang apa?" Jennifer balik bertanya karena tidak tahu harus menjelaskan dari mana mengenai kehadirannya di gedung perusahaan itu.

"Aku bekerja di sini, dan ini semua berkat kau juga, jika hari itu kau tidak membantuku mungkin aku akan langsung di pecat, bahkan surat pemindahan ku tidak akan ada artinya jika aku terlambat semenit saja" ungkap Edgar yang membuat mata Jennifer berbinar. Dia tak habis pikir alurnya akan seperti ini, Edgar bisa menjadi kartu emas untuk bisa bertemu Max.

"Apa kau kenal Maximilian Jefferson?"

"Tentu saja" jawab Edgar dengan yakin, lagi pula siapa yang tidak mengenal seorang Max, jangankan kota Berlin seluruh penjuru benua Eropa dan Amerika pun tahu siapa dia.

"Aku ingin menemuinya, anggap saja kita impas jika kau bisa membawaku menemuinya" Jennifer mengutarakan keinginannya yang sontak membuat Edgar terkejut.

"Kau gila? Tidak sembarang orang bisa bertemu dengannya apalagi orang luar" jelas Edgar.

"Iya aku tahu, tapi ini darurat" Jennifer menatap Edgar dengan penuh permohonan.

"Memangnya kenapa kau harus bertemu dengannya?"

Jennifer berpikir sejenak, dia tidak mungkin membeberkan kematian Megan sebagai alasan kedatangannya untuk menebus kesalahan, Jennifer memutar otak, untuk menemukan hal yang bisa dia jadikan alibi.

"Aku mengandung anaknya!" kalimat itu terlontar spontan dari bibir Jennifer ketika dia tidak menemukan alasan yang lebih baik di kepalanya.

Bab 3

Edgar terbelalak hampir saja mengeluarkan suara keras dengan ekspresi yang berlebihan jika tidak menyadari kalau mereka berada di tengah keramaian, "kau serius? Ini bisa jadi masalah besar jika kau membocorkannya pada media dan menjadi skandal yang merugikan untuk perusahaan"

"Aku tidak akan melakukannya, aku hanya ingin dia bertanggung jawab dan menikahiku, aku tidak mau anak ini lahir tanpa seorang ayah" Jennifer  memasang wajah menyedihkan yang membuat Edgar tersentuh tampaknya akan berhasil.

Edgar mengingat kembali istrinya yang berada di Amerika, ketika melahirkan buah hati mereka, dirinya tidak ada di samping sang istri dan itu benar benar menyesakkan, belum lagi untuk beberapa bulan istrinya itu harus mengurus buah hati mereka sendiri. Tiap kali mendapat keluhan dari istrinya Edgar selalu merasa bersalah. Dan, kini ada wanita yang mungkin akan mengalami hal serupa, tapi Edgar tidak akan membiarkannya. 

"Baiklah aku akan mengantarkan mu ke ruangannya, aku akan membantumu bicara dengan sekretaris tuan Max" Edgar tergerak untuk membantu Jennifer bukan untuk balas budi tapi dia mengiba jika seorang wanita harus berjuang melahirkan dan mengurus anaknya sendiri.

"Terimakasih Edgar" wanita itu bisa bernapas lega.

"Jangan berterima kasih dulu, aku tidak tahu akan berhasil atau tidak" sanggah Edgar.

"Ada satu hal yang ingin ku jelaskan padamu" mata Edgar menatap Jennifer dengan lebih serius, Jennifer mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan perubahan mimik wajah Edgar. Pria itu seperti di liputi ketakutan.

"Di dalam ruangan tuan Max kau tidak boleh melewati garis merah, itu adalah area terlarang dan berbahaya" Edgar berkata dengan serius.

"Apa dia punya penyakit?" Terka Jennifer.

"Bukan, jika kau bertemu dengannya di tempat lain mungkin tak masalah dengan jarak, tapi khusus ruangan pribadinya yang itu kau tidak boleh melewati garis merah yang dia buat, sebelum gedung megah ini di bangun tanah ini dulunya adalah tempat berdirinya sekolah menengah, dan di sekolah itu pula tuan Max mendapat perundungan, aku dengar dia di kubur hidup hidup dan garis merah itu adalah tempat dia terkubur dulu, siapa pun yang melewati garis itu artinya dia menyerahkan hidupnya pada tuan Max" penjelasan panjang lebar dari Edgar membuat kepala Jennifer pusing, wanita itu masih berusaha mencernanya.

"Benarkah seseram itu? Kalau begitu dia punya trauma masa lalu, dia membuat delusi dengan patokan garis merah itu, pria bodoh!" Ucap Jennifer sambil menggelengkan kepalanya.

"Sekali kau melangkahi garis merah itu, kau menyerahkan seluruh hidupmu padanya" cetus Edgar memperingati.

"Garis sialan itu terdengar sangat konyol, hidupku hanya milik tuhan, kenapa aku harus takut pada manusia biasa, sekeras apapun seorang Max itu, dia tetaplah manusia, yang dia butuhkan bukan tumbal untuk pelampiasan kemarahannya atas masa lalu yang buruk...."

Jennifer melirik ke arah Edgar berusaha membuat pria itu meyakini kata kata yang akan dia ucapkan, "dia hanya butuh di perhatikan, di hargai, dan di cintai semua itu adalah hal yang tidak dia dapatkan dulu sebenarnya dia hanya menginginkan itu saja"

"Kau jenius, aku berharap pria sakit itu cepat sembuh" Edgar mengangguk setuju, seseorang yang tersakiti tidak harus selalu menjadi orang jahat untuk menuntaskan dendamnya.

"Bagaimana sikap dan cara dia berkomunikasi dengan orang lain saat sedang meeting atau bertemu rekan kerja? Tanya Jennifer penasaran.

"Normal saja, namun ketika marah dia sangat menakutkan" Edgar hafal sekali dengan sikap yang di tunjukkan Max di berbagai situasi, dia cenderung pendiam dan tertutup, berkharisma, juga menakutkan ketika marah, Max termasuk kasar meski dia tidak suka mengotori tangannya untuk menyakiti orang, tapi Max punya cara tersendiri yang membuat seseorang jera berhadapan dengannya.

"Sekarang aku yang bertanya padamu, jalur apa kau bisa mengandung benih tuan Max? Cinta, bermain main, uang, atau hanya sekadar one night stand?" Meski pertanyaan itu bersifat privasi namun Edgar sangat penasaran, pria seperti Max tidak mungkin asal pilih wanita yang akan di sentuhnya.

"Emmm...one night stand" kilah Jennifer, mendengarnya Edgar hanya mengangguk paham, zaman sekarang sangat lumrah melakukan one night stand.

Cukup mengobrol, mereka pun berjalan bersama menuju ruangan Max, masih di lantai satu. Ruangan kerja Max begitu elit, di depan pintu besinya terdapat papan dengan nama pria itu yang di ukir indah dari batangan emas, di seberangnya ada sebuah pintu bercat hitam yang tidak lain adalah ruang pribadi Max yang di keramatkan. Lalu ada kubikel yang lumayan besar di sampingnya, itu adalah tempat sekretaris pribadi Max.

Jennifer tidak menyangka kalau sekretaris perusahaan besar tidak memiliki tempat pribadi dan malah berjaga di depan ruangan bosnya seperti seorang resepsionis.

"Freddy, wanita ini ingin menemui tuan Max" ucap Edgar pada sekretaris itu, Jennifer hanya tersenyum kaku saat Freddy menatapnya.

"Siapa kau? Tuan Max sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu" jawab Freddy dingin.

"Tolonglah ini sangat darurat, aku janji akan mentraktirmu seminggu ke depan jika mengizinkannya masuk ke ruangan tuan Max" Edgar merayu nya.

"Sudah ku bilang tuan sedang sibuk Edgar, kemarin aku hampir saja di gantung di puncak gedung karena mengizinkan bibi nya masuk, apalagi memasukkan orang asing aku pasti akan langsung di habisi" cetus Freddy menolak paksaan Edgar, dia sudah benar benar kapok bertindak di luar kendali boss nya.

Edgar mencondongkan tubuhnya lalu berbisik pada Freddy, "wanita itu sedang mengandung anak tuan Max"

Freddy terbelalak mendengarnya, kemudian dia melirik ke arah Jennifer , wanita itu hanya mengangguk lalu mengelus perutnya yang masih rata.

"Dia akan segera menjadi nyonya Jefferson" timpal Edgar.

"Baiklah kau bisa masuk" Freddy mudah sekali percaya dia pikir Jennifer adalah wanita spesial Max, dia pun menundukkan kepalanya di hadapan Jennifer dan membiarkannya masuk ke ruangan pribadi tuannya.

"Edgar, terimakasih kau sudah membantuku" ucap Jennifer sebelum masuk ke ruangan Max.

"Ini bukan apa apa, semoga kau berhasil memperjuangkan anakmu, dan ingat jangan melewati garis merah itu" pesan Edgar, pria itu mengusap bahu Jennifer lalu melenggang pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.

Jennifer mengumpulkan keberanian, mengatur ritme jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya, dengan satu tarikan dia membuka pintu itu, kakinya melangkah masuk meski sedikit ragu.

Ruangan itu cukup luas dengan interior klasik yang di dominasi warna hitam dan putih, di dindingnya terpajang lukisan menyeramkan yang membuat Jennifer hampir menjerit, suasana yang gelap dan dingin memenuhi ruangan itu, beberapa langkah berjalan dia mendapati lampu gantung mewah tepat di atas kepalanya, dan di depannya kini sudah ada meja hitam dengan kursi yang memunggunginya.

Jennifer berpikir, mungkin Max duduk disana hanya saja tidak terlihat karena kursi yang lebar,  kursi itu sangat besar layaknya singgahsana seorang raja.

"Permisi" sapa Jennifer dengan sopan.

"Aku Jennifer Turner, aku ke sini untuk bertemu tuan Max, aku ingin---"

Perkataan Jennifer terpotong saat pria yang duduk di kursi besar itu berdeham, rasanya seperti baru saja terkena cipratan lahar gunung berapi, tubuh Jennifer kepanasan di ruangan dengan suhu AC yang amat dingin.

"Tidak punya sopan santun, kau datang ke tempat ini tanpa seizinku" entah bagaimana suara baritone itu membuat dada Jennifer ingin meledak. Kenapa suasananya jadi horor? Ini terlihat seperti ruangan iblis di bandingkan ruangan seorang CEO perusahaan besar.

"Maaf, tapi ada hal yang sangat penting yang harus aku sampaikan padamu" ucap Jennifer.

Lama Jennifer tidak mendapat jawaban dia pun melanjutkan kalimatnya, "aku kesini untuk meminta maaf dan menebus kesalahanku. Megan, adikmu meninggal lima bulan lalu dia menewaskan diri ketika melihatku berkencan dengan kekasihnya, aku juga merundungnya sejak SMA sampai kuliah, aku tahu orang seperti ku tidak pantas mendapat ampun tapi aku ingin menebusnya aku akan menerima apapun keputusan mu aku tidak akan tenang sebelum aku mendapat balasan atas perbuatanku"

Pria itu, Max yang duduk di kursi besar nya tertawa keji mendengar penuturan Jennifer, mata hitam nya menyorot tajam dengan kilatan amarah. Meski tak bisa melihat rupa Max karena pria itu duduk membelakangi nya namun Jennifer sedikit bingung dengan respon Max, yang tertawa kencang seolah mendengar lelucon.

"Dengan apa kau ingin menebus kesalahanmu? Uang atau hanya sekadar kata kata? Karena aku tahu kau tidak akan sanggup untuk menyerahkan nyawamu"

Mendengar itu Jennifer merasa kesungguhannya di tantang, mata nya melihat sebuah gadis merah yang tergores tepat di depan kakinya, dengan satu tarikan napas Jennifer melangkahinya.

Mata Max mengerjap setelah mendengar suara ketukan sepatu Jennifer dengan lantai marmer, instingnya sangat yakin kalau wanita itu telah melewati garis merah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED