“Say, tadi ada telepon tuh dari Jakarta, cuma aku nggak angkat,” ucap Dafa teman Tari.
“Siapa sih, ganggu banget, malas ah aku kantuk mau tidur!” sahut Tari malas.
“Telepon balik saja siapa tahu penting, itu kan dari Mamah kamu?” bujuk Dafa mengingatkan.
“Ih, bawel banget persis kaya emak-emak rempong, gampang nanti saja lagi malas,” jawab Tari sembari mengambil bantal untuk menutupi kepalanya.
“Fa, tolong ya nanti kalau mau keluar kunci pintunya, aku nggak mau diganggu dulu, pingin istirahat!” teriakku.
“Iya Say!” jawab Dafa tersenyum.
“Oh ya satu lagi Tar, besok kita di undang di salah satu kampus di sini, jadi nanti kita bisa meliput kegiatannya di sana, satu lagi jangan lupa telepon balik kasihan mamahmu itu,” lanjut Dafa lagi.
“Iya!”
“Oh ya kamu nggak malam mingguan nih?” goda Dafa kepada sahabatnya Tari.
“Malas ah paling-paling Bang Ammar lagi sibuk dengan anak band nya malam ini!” gerutunya kesal.
“Ciyee-ciyee enak dong punya pacar anak band setiap hari bisa request lagu penghantar tidur,” ucap Dafa tersenyum.
“Terus kamu mau jalan sama si doi?” tanya Tari sembari melihat Dafa yang lemah gemulai menyisir rambutnya dengan minyak rambut yang berbau menyengat.
“Iya bentar, ini juga mau siap-siap, aku tinggal nggak apa-apakan?” tanya Dafa nampak khawatir.
“Iya nggak apa-apa aku hanya kecapean saja,” jawabnya sembari menarik selimutnya untuk tidur.
“Aku pergi dulu, Assalamualaikum!”
“Wa’alaikumsalam!”
Dafa pun keluar dari kamar Tari karena ingin segera bertemu pacarnya.
Sedangkan Tari menutup semua badannya dengan selimut.
Tidak terasa Tari ketiduran tanpa menghiraukan panggilan telepon masuk beberapa kali dari sang Mamah.
Tari tidur dengan pulas karena seharian melakukan aktivitas yang padat bersama Dafa sepupunya sebagai reporter lapangan.
***
Pekerjaan yang menuntutnya agar selalu tampil prima setiap saat akhirnya hari ini tumbang, Tari kelelahan sehingga ponselnya sudah berdering berkali-kali tetapi tidak diangkat.
Setelah beberapa jam matanya mulai bisa membuka perlahan-lahan, dia lirik jam sudah menunjukkan jam lima subuh.
Badan terasa remuk semua sehingga Tari enggan bangkit dari tempat tidurnya.
Dia pun mencari ponselnya yang tertutup selimut dan setelah di dapatnya betapa terkejut Tari melihat puluhan panggilan tak terjawab dari mamahnya.
Dia lupa kalau harus menelepon mamahnya sesuai pesan dari Dafa.
Buru-buru Tari menghubungi mamahnya walaupun nanti ujung-ujungnya kena marah karena sudah mengabaikan telepon beliau.
@Ibu Arumi
{Assalamualaikum}
@Tari
{Wa’alaikumsalam, Mah}
@Ibu Arumi
{Ya Allah Tari kamu apa-apaan susah betul di hubungi, kakakmu masuk rumah sakit Nak, kamu disuruh pulang sama kakakmu, dia jatuh dari kamar mandi, sekarang dia lagi ditangani oleh dokter, cepat pulang Nak}
Tari tak kuasa mendengar berita kalau kakak satu-satunya mengalami itu, dia sangat menyayanginya, apa pun yang kakaknya minta selalu dikabulkan oleh Tari adik kandungnya.
Menurutnya kakaknya lah yang selalu ada di setiap Tari merasa sedih maupun bahagia. Rasa sayang dengan kakaknya melebihi dari dirinya sendiri setelah orang tuanya bercerai dan memilih mencari keluarga lain masing-masing dengan permusuhan yang berlarut-larut.
@Ibu Arumi
{Tari! Tari! Kamu masih di sana Nak?}
@Tari
{I-iya Mah, Tari akan pulang secepatnya suruh Mbak Lani tunggu Tari ya Mah, jangan tinggalin Tari lagi}
@Ibu Arumi
{Iya makanya kamu cepat pulang segera kalau bisa hari ini}
@Tari
{Iya Mah, Tari cari tiket pulang ke Jakarta, Assalamualaikum}
@Ibu Arumi
{Wa’alaikumsalam, buruan}
Setelah menutup telepon Tari langsung mencari tiket melalui online di ponselnya, namun tiba-tiba Dafa datang ke kamar Tari yang masih berantakan dan diapun belum mandi, padahal hari ini ada tugas yang sudah menantinya di luar sana.
“Tar, boleh aku masuk?” teriak Dafa dari balik pintu kamar Tari.
“Iya masuk saja!” teriak Tari dari dalam.
Dafa membuka pintu kamar Tari yang berantakan dan melihatnya panik.
“Ada apa Tar, kenapa kamu kelihatan panik, tenang Tar, ambil napas pelan-pelan lalu buang, tenang say!” ucap Dafa menenangkan Tari yang mudah panik mendengar berita yang mengejutkan dirinya.
Dafa berpikir pasti mamahnya yang memberikan informasi berita yang membuat Tari begitu panik.
“Sekarang jelaskan kenapa menjadi panik begini, kita harus siap-siap ke lapangan hari ini kita ada tugas pergi ke salah satu kampus ternama di sini,” ucap Dafa serius.
“Ta-tadi aku baru saja menelepon mamah, katanya mbak Lani masuk rumah sakit dia jatuh dari kamar mandi, sekarang tidak sadarkan diri, aku harus pulang sekarang Fa, kita harus pulang ke Jakarta, Mbak Lani sedang membutuhkanku!” teriaknya sembari menangis.
“Tenang Tar, tenang ada aku di sini ... tenang kita akan pulang hari ini, tapi mungkin sore, kita ambil penerbangan sore bagaimana?” bujuk Dafa.
“Aku maunya sekarang Fa, bukan sore!” teriaknya lagi.
“Aku ngerti Tar, tetapi ada tugas yang menanti kita, kita tidak bisa langsung pergi begitu saja dari kerjaan kita, banyak yang akan di rugikan, kamu tenang saja setelah kita berhasil meliput semua kegiatan kampus di sana, kita langsung pulang, aku janji Tar pegang janjiku ini,” ucap Dafa menenangkan Tari.
“Baiklah Fa, tolong atur semuanya, aku tidak mau sampai membuat mbak Lani menunggu lama, padahal sebulan lagi mereka akan menikah, bagaimana dengan acara pernikahannya?”
“Apakah calon kakak iparku sudah tahu kalau mbak Lani masuk rumah sakit?” tanya Tari bingung.
“Mana aku tahu, mungkin sudah tahu kali, memang kamu juga belum lihat siapa calon kakak iparmu itu?” tanya Dafa penasaran.
“Lah kita kan sama-sama pergi ke luar kota, mana sempat aku lihat orangnya, bahkan aku pernah minta fotonya kata mbak Lani nggak usah biar buat kejutan gitu,” jawab Tari yang juga menjadi penasaran siapa calon kakak iparnya itu.
“Mbak Lani kan di jodohkan sama anaknya teman mamah waktu kuliah, jadi perjodohan ini sama-sama asing buat mereka, baru juga tiga bulan mereka berkenalan.”
“Yang aku tahu pasti orang tajir melintir, banyak perusahaannya di mana-mana, karena itu yang disukai Mamah, yang penting kaya,” lanjut Tari dengan ketus.
“Ya sudah mengobrolnya nanti lagi, cepat salat setelah itu siap-siap kita ke kantor dulu mengambil peralatan dan langsung menuju ke TKP!” jelas Dafa sembari memesan tiket pulang ke Jakarta melalui aplikasi online di ponselnya.
“Nih udah aku pesan untuk tiket dua orang jam tiga sore aja yang ada, setelah selesai dari kampus kita balik ke hotel dan langsung beres-beres paling tidak acara di kampus itu jam dua belas siang sudah selesai jadi ada waktu kita berberes di hotel,” jelas Dafa tersenyum.
“Terima kasih Fa, kamu memang bisa diandalkan, kamu sepupu sekaligus teman curhatku yang paling gokil,” ucapnya membalas senyuman Dafa.
“Justru itu aku di sini supaya kamu kalau mengambil keputusan tidak gegabah, pantas saja mbak Lani masih ragu dengan kamu, soalnya kamu gampang panik!” sahut Dafa menjitak kepala Tari.
“Sudah aku tunggu di lobi, nanti habis waktu subuhnya!” perintah Dafa.
“Baik Bos Dafa!” jawab Tari sembari memberi hormat dan tersenyum.
Tari sedikit lega karena hari bisa pulang ke rumah melihat kakaknya, namun dia tidak tahu kalau jodoh kakaknya akan bertemu di sini juga yang berstatus calon kakak ipar Tari.
Bersambung
Udara pagi sangat menyejukkan, membuat hati Tari sedikit rileks, walaupun masih ada rasa gelisah.
Setelah salat subuh, Tari bergegas meninggalkan kamar hotel untuk melakukan tugasnya sebagai reporter lapangan.
Awalnya Tari hanya lulusan SMK sederajat, dia sangat malas untuk kuliah namun setelah melihat di televisi seorang reporter yang mampu membawakan berita dalam suasana genting memacu adrenalinnya untuk mengetahui lebih dalam bidang jurnalistik.
Mentari Khairunnafiza dua puluh tiga tahun, seorang gadis cantik, berambut cepak, berlesung pipit, hidung mancung, bibir tipis, bentuk wajah oval.
Selain sebagai reporter hobi memasak adalah kesukaannya tapi dia nggak suka makan yang bahannya dari ayam, selain itu Tari bisa juga melukis jika ada waktu senggang, benci warna merah muda karena menurutnya terlalu feminin.
Mentari adalah gadis tomboi, suka dengan keramaian, humoris, mudah bergaul sehingga banyak teman yang menyukainya. Hidup di keluarga yang broken home tak membuatnya minder.
Kedua orang tuanya sudah lama berpisah saat Tari masih berumur sepuluh tahun, membuat sosok Tari dari yang manja kini sudah membiasakan mandiri.
Melanie dan Mentari lebih memilih tinggal bersama omanya, karena mereka sangat membenci kedua orang tuanya sendiri yang sama-sama ketahuan berselingkuh.
Bayangan itu selalu datang setiap saat, bila mereka bertemu kedua orang tuanya.
Nasi telah menjadi bubur, begitu juga dengan keretakan suatu hubungan. Sedikit saja ada yang berlubang jika tidak diperbaiki, lama-lama lubang itu akan semakin membesar.
Ibu Arumi bekerja sebagai sekretaris sebuah perusahaan ternama sedangkan Pak Arsyad Dwiguna papahnya Mentari adalah seorang pebisnis sukses.
Kedua orang tua Mentari sangat sibuk dengan urusan mereka masing-masing, sehingga pola asuh anak mereka di ambil alih langsung oleh omanya yang terkenal disiplin dari bayi sampai Melanie berumur lima belas tahun.
Namun setelah omanya meninggal kini Melanie yang bekerja keras mencukupi kebutuhan mereka berdua.
Melanie tidak ingin membebani kedua orang tuanya karena merasa sudah tidak dianggap lagi sebagai anak, lantaran mereka berdua sudah menikah lagi.
Kini orang tua mereka hidup bahagia dengan keluarga barunya masing-masing tanpa memedulikan perasaan Melanie dan Mentari.
Melanie memang sering menerima uang pemberian dari mamah maupun papahnya setiap sebulan sekali dalam jumlah yang besar, namun Melanie selalu memberikannya ke panti asuhan untuk dikelola oleh pengurus panti.
Baginya bukan uang yang dia minta, tetapi kasih sayang yang dia minta, begitu juga dengan Mentari kecil masih sangat membutuhkan belaian kasih sayang dan cinta, tetapi tidak bisa dia dapatkan lagi karena mereka lebih sayang dengan keluarga barunya itu.
Melanie pun terpaksa mencari pekerjaan apa saja yang penting halal, bahkan menjadi buruh cuci sekalipun.
Melihat kakaknya bekerja, Mentari tidak segan-segan membantu kakaknya, dia pun kadang-kadang setelah pulang sekolah membantu di warung makan untuk sekedar mendapat uang tambahan.
Mentari sangat menyayangi kakaknya yang mau mengurus dan membesarkan dirinya, tak pernah Melanie berkata kasar atau memarahinya, malah Melanie sebisa mungkin bisa meredam amarahnya dalam hati agar Mentari tidak merasa sendirian.
Banyak warga mencemooh mereka, lantaran mereka sudah membuat aib di lingkungan masyarakat karena perbuatan orang tuanya.
Bahkan keluarga ikut menjauh karena takut mendapatkan kesialan, tetapi lagi-lagi uang yang berbicara, mereka takluk dengan uang sehingga bagi Melanie dan Mentari berpikir kalau keluarganya sama saja bisa dibeli dengan uang.
Namun tidak semuanya bertindak kasar kepada mereka, karena mereka hannyalah korban dari perceraian orang tua yang sama-sama berselingkuh.
Sepuluh tahun kemudian ...
Mentari tumbuh seperti gadis pada umumnya dan tomboi namun jika dia disakiti atau dibohongi dia akan membencinya seumur hidup, tetapi dibalik semua itu dia sangat penyayang dan rela berkorban untuk orang yang disayanginya.
Berbanding terbalik dengan sang kakak yang begitu pendiam tetapi murah senyum.
Dengan kelembutan dan kasih sayang dari kakaknya kini Mentari selalu mementingkan kakaknya terlebih dahulu daripada dirinya sendiri.
Melanie banyak berkorban untuk Mentari adiknya, dia rela tidak melanjutkan kuliahnya lantaran harus membanting tulang bekerja untuk memenuhi kebutuhan Mentari.
Berkat kegigihannya akhirnya Melanie bisa membuka sebuah toko kue yang cukup besar, hanya sebagai buruh cuci dia bisa menyisihkan sebagian uangnya untuk ditabung agar bisa berjualan kue.
Dari situlah Mentari bisa berkuliah dan berhasil menjadi reporter lapangan sesuai yang dia inginkan.
***
Mereka pun sebenarnya sudah tidak peduli lagi dengan orang tua kandungnya, namun setelah mendapat telepon dari mamahnya lagi yang baru muncul dan bersama kakaknya yang sudah terbaring lemah di rumah sakit membuat Tari menjadi bingung.
“Hey kok melamun pagi-pagi nanti kesambet loh!” goda Dafa mencairkan suasana.
“Eh nggak lah, aku juga bingung aja kok bisa ya mamah ada sama mbak Lanie, padahal kami jarang bertemu mamah semenjak beliau mempunyai keluarga barunya itu?” tanya Tari penasaran.
“Iya juga sih, mungkin saat itu Tante Arumi datang ke rumahmu dan melihat mbak Lanie sudah pingsan kali!” jawab Dafa santai.
“Bisa juga sih, cuma aku dari tadi menghubungi mbak Lanie tidak bisa, ponselnya tidak aktif!” ucap Tari tertunduk lesu.
“Kenapa kamu nggak menghubungi Tante Arumi saja, bagaimanapun juga beliau tetap mamah kandungmu Tar!” sahut Dafa menjelaskan.
“Malas ah!”
“Sudah yuk, tunggu apa lagi?”
“Kita langsung ke kampus?” tanya Tari.
“Iya sekalian kita lihat persiapan di sana, aku dengar ada seorang pengusaha tajir yang akan mengisi acara itu loh!” ucap Dafa.
“Dia sebagai contoh pengusaha muda yang berprestasi dalam bisnis, makanya dia di undang sebagai pembicara atau tamu undangan untuk mengupas tuntas, sepak terjangnya atau kunci sukses menjadi pengusaha yang handal,” jelas Dafa.
“Memang siapa namanya aku nggak kenal tuh?” tanya Tari sembari mencoba menelepon pacarnya yang sedari tadi malam sampai sekarang susah untuk di hubungi.
“Kalau nggak salah namanya Fajar Ali Wardana usianya baru tiga puluh dua tahun tetapi sudah memiliki empat perusahaan yang dia bangun sendiri dari nol,” ucap Dafa.
“Selain itu dia seorang dosen kalau nggak salah mengajar kelas manajemen marketing, hebat banget itu orang,” lanjutnya bersemangat.
“Sudah tajir melintir, muda, tampan, pengusaha lagi, dan yang pasti kalau wanita melihatnya langsung jatuh cinta, tapi sayang orangnya jutek, cool, penuh misteri,” lanjutnya lagi.
“Kamu dengar nggak sih yang aku omong?” tanya Daffa sedikit kesal melihat Tari sibuk dengan ponselnya.
“Iya bawel, aku ini dari tadi tidak bisa menghubungi Bang Ammar, ke mana sih dia susah banget?” jawabnya kesal.
“Aduh namanya juga anak band, kecapean kali makanya masih tidur,” ucap Dafa yang tidak suka dengan pacar sepupunya itu.
“Jadi bagaimana dong kalau kita pulang ke Jakarta nanti sore, sedangkan dia tahu kalau kita di sini sampai lusa nanti dia bisa marah kalau mendadak pulang!” sahut Tari khawatir.
“Alah tinggalin saja pacarmu itu anak band apaan, nggak terkenal juga, kaya juga dari orang tuanya, nah beda dengan laki-laki yang akan kita wawancara nanti,” ucap Dafa yang sangat antusias dengan pria misterius itu.
“Pacarmu itu anak manja, masa kamu kerja ke sini ngikut juga alasan juga diundang kampus lah, dia itu seperti nggak percaya saja sama kamu, betah banget sih sama dia?” gerutu Dafa.
Namanya juga cinta, apa bedanya sama si Nisa pacarmu itu, ngintil juga sampai ke sini!” kilah Tari tak mau kalah dengan sepupunya itu.
“Lah kalau Nisa rumah orang tuanya kan di sini, jadi sekalian dong bersilahturahmi dengan calon mertua,” sahut Dafa semringah.
“Sudah yuk, kita berangkat dan bertemu pengusaha itu, pasti kamu klepek-klepek kalau sudah lihat orangnya,” lanjutnya lagi.
Bersambung
Mereka pun pergi dari hotel itu bersama team lainnya ke Universitas itu yang berjarak sekitar lima kilometer dari hotel tempat mereka menginap.
“Sudah nggak usah di hubungi itu orang putus saja, lebih baik kamu sama pemuda yang satu ini, tapi kudengar orang ini perfeksionis banget kalah-kalah kamu yang selengekan begini,” ucap Dafa sekali lagi membuat Tari ingin marah dengannya.
“Aha ... aku ada ide bagaimana kita buat taruhan, jika kamu bisa menaklukkan hati itu orang berarti uang gajiku sebulan aku kasih ke kamu, tetapi jika pemuda itu jutek, cool, tidak menanggapi kamu sebagai wanita berarti gajimu selama sebulan untukku, bagaimana kamu terima tantanganku?” tanya Dafa bersemangat.
“Emmhh ... boleh juga usul kamu, lagian sudah lama kita tidak main seperti ini, aku jadi penasaran banget sama orang ini sebegitu tampan kah dia sehingga banyak yang memujinya?” tanya balik Tari yang penasaran.
“Kata orang sih dia sangat tampan dan jutek banget, tetapi dia sangat patuh kepada ibunya, dia sangat menghormati dan menyayanginya, pokoknya si Ammar mu itu kalah nggak ada apa-apanya, tampanan orang ini,” jawab Daffa lagi.
“Sepertinya kamu banyak tahu tentang orang ini, memang kamu kenal sama orang ini?” tanya Tari sembari mengecek ponselnya yang dari tadi tidak bisa dihubungi.
“Ya iyalah, sebelum kita wawancarai seseorang kita harus tahu dulu watak si orang yang akan kita kupas habis, takutnya nanti pas kita live orangnya nggak bersahabat sama kita,” jawab Dafa menjelaskan.
“Oke aku terima tantanganmu, jangan panggil aku Mentari Khairunnafiza jika tidak bisa menaklukkan seorang pria dengan pesonaku yang imut,” ucapnya dengan bangga.
“Belum tentu Say, nanti kita buktikan saja omongan mu itu benar atau tidak!”
“Aku nggak sabar bisa mendapatkan gajimu walau hanya sebulan bisa buat tambahan untuk menuju ke pelaminan,” lanjutnya lagi sembari sudah mengkhayal kalau Tari sudah menerima kekalahannya.
“Baiklah, kita lihat saja nanti siapa yang menang aku atau kamu!” ucap Tari bersemangat lagi.
Dafa sangat senang ketika melihat Tari tidak terlalu memikirkan kakaknya untuk sementara waktu setelah acara ini selesai.
Dafa tersenyum melihat Tari yang kembali ceria seperti biasanya, dan berharap kalau dia bisa menaklukkan pemuda itu ketimbang berpacaran dengan Ammar seorang anak band yang nggak jelas menurut Dafa.
Wajahnya memang tampan tetapi lebih tampan pemuda yang akan Tari wawancarai nanti di kampus itu.
Takdir akan mempertemukan mereka, kalau sebenarnya pemuda misterius itu adalah calon kakak iparnya.
Tari belum tahu kejutan apa nanti setelah pulang ke Jakarta, dia hanya tahu kalau kakaknya sangat membutuhkan dirinya.
Tari belum tahu bagaimana keadaan kakaknya sekarang, tetapi beberapa menit yang lalu karyawan kepercayaan mbak Lanie memberi kabar kalau kakaknya sudah sedikit membaik.
Hal itu membuat Tari sedikit lega, namun dia masih tertidur belum bangun sehingga Tari tidak ingin mengganggunya.
Tari ingin menyelesaikan tugas ini secepat mungkin agar bisa pulang dengan segera ke Jakarta.
****
Dua puluh menit kemudian sampailah mereka di Universitas itu, semua sudah disiapkan secara detail di area lapangan kampus.
Tari melihat takjub suasana kampus itu yang sangat bersahabat, kampus yang begitu luas dengan desain yang cukup memanjakan mata.
Udara pagi sangat menyejukkan, pemandangan yang asri menambah keindahan kota ini.
Semua sedang sibuk mengatur semuanya dari tempat acara sampai makanan yang disajikan.
Mereka disambut oleh pihak panitia yang menyelenggarakan acara tersebut.
“Selamat pagi Mas, Mbak!”
“Selamat pagi Pak!”
“Mari silakan duduk!”
“Terima kasih Pak!”
“Wah persiapannya banyak ya Pak, semua saya lihat sibuk dengan tugasnya masing-masing,” tanya Tari sembari memperhatikan suasana kampus yang sudah ramai jam tujuh pagi.
“Iya Mbak, maklum yang kami undang adalah pengusaha besar dan seorang pemuda single yang tampan!” jawab Pak Syamsudin selaku ketua panitia acara tersebut dengan tersenyum.
“Jadi dari segi acara sampai urusan perut harus semua tertata rapi, maklum orang yang kami undang sangat perfeksionis, jadi semuanya harus kelihatan rapi dan bersih.
“Oh ... gitu...!”
“Jam berapa kita mulai acaranya Pak?”
“Nanti jam sembilan pagi, tetapi seperti Mbak dan Mas lihat sudah banyak peserta yang ikut mengambil nomor antrean di sana, untungnya kami mengadakan acara ini di luar lapangan, kalau tidak bisa meludak kalau di dalam,” jawabnya lagi bersemangat.
“Pemuda ini sangat digandrungi oleh setiap wanita, cuma yaitu dia terlalu dingin kalau untuk begituan tetapi kalau masalah ilmu dia itu tidak pelit katanya siapa saja bisa mempelajarinya yang penting ada niat di dalam hati, pasti bisa terwujud,” jelas Pak Syamsudin bersemangat.
“Tuh benar kan yang aku bilang kalau orang ini sangat oke banget, kamu kan suka yang berbau seperti ini, sebuah tantangan yang sulit ditaklukkan tapi mudah bagimu iya kan Mentari Khairunnafiza?” ejek Dafa tersenyum kemenangan.
“Siapa namanya Pak, apakah orangnya sudah datang?” tanya Tari yang mulai penasaran kembali.
“Mungkin sebentar lagi orangnya datang biasanya satu jam sebelum acara beliau sudah datang.”
“Oh ya Mbak Tari satu lagi yang harus saya sampaikan jangan sampai Mbaknya mengungkit masalah orang tuanya terutama tentang papahnya, dan masalah kehidupan pribadinya.”
“Apalagi masalah wanita, soalnya saya dengar kalau Fajar Ali Wardana, SE sedang dijodohkan sama mamahnya, mungkin setelah acara selesai beliau langsung balik ke Jakarta,” jelas Pak Syamsudin.
‘Wah sama dong Pak, setelah selesai kami juga mau pulang ke Jakarta, jangan-jangan kita satu pesawat lagi sama dia, Tar!” sahut Dafa tambah bersemangat.
“Memang dia dijodohkan sama siapa Pak?” tanya Tari penasaran.
“Duh dari tadi penasaran melulu, bentar lagi orangnya datang, kita harus siap-siap dulu, tuh lihat sudah banyak keringat di keningmu, nanti malah ifil si Fajar lihat kamu, ayuk segarkan dulu dirimu biar nggak gugup saat wawancarai calon suamimu ups salah maksudnya Pak Fajar!” jawabnya semringah.
Tari hanya menganggapnya angin lalu, dia tidak ingin orang seperti Fajar menjadi suaminya kelak.
“Aku punya suami seperti itu bisa gila aku menghadapinya setiap hari, lebih baik seperti Bang Ammar yang romantis,” jawabnya tak mau kalah.
“Ammar romantis dari mananya, buktinya sekarang dia susah di hubungi, jangan-jangan dia sama cewek lain!” ucap Dafa cengengesan.
“Sudah ah, aku mau siap-siap dulu, capek aku ladeni kamu terus,” sahut Tari sembari meninggalkan Dafa menuju ruang ganti pakaian yang sudah disediakan oleh pihak penyelenggara.
Saat Tari pergi menuju ruang ganti, tiba-tiba dia dikagetkan dengan ada suara yang memanggil dia dengan kasar.
“Hey kamu!” teriak pemuda itu.
Tari menoleh ke sana kemari tetapi tidak ada orang satu pun, hanya dia dan pemuda itu.
Tari pun menghampiri pemuda jangkung itu dengan cepat.
“Maaf Mas panggil saya?” tanyanya dengan sopan.
“Ya iyalah saya panggil kamu, memang kamu lihat ada orang lain selain kita!” hardiknya dengan mata melotot.
Bersambung