Pagi hari dimulai dengan lembutnya cahaya matahari yang perlahan menyelinap melalui celah-celah tirai jendela, membangunkan dunia yang masih terlelap. Suasana terasa segar dan damai, dengan udara pagi yang dingin dan bersih.
Burung-burung mulai berkicau ceria, menciptakan simfoni alam yang menenangkan. Aroma kopi yang baru diseduh menguar dari dapur, menyebar ke seluruh rumah dan menambah kehangatan suasana.
Daun-daun di pohon-pohon yang basah oleh embun berkilau dalam cahaya matahari pagi, sementara jalan-jalan kota masih sepi, menunggu untuk mulai hidup dengan aktivitas sehari-hari. Setiap elemen pagi hari bergabung dalam harmoni yang membuat setiap awal hari terasa penuh potensi dan harapan.
Tak pernah terbayangkan oleh sosok wanita berambut panjang itu, kini dirinya sedang sibuk membersihkan noda kopi pada kemeja miliknya.
"Maaf Nona, saya tidak sengaja," ujar sosok pria dengan cup kopi yang sudah kosong karena tumpah dan membasahi kemeja wanita di hadapannya.
Tak terbayangkan seberapa jengkel wanita tersebut, dari raut wajahnya saja sudah tak enak dipandang karena merenggut.
"Lalu, solusi apa yang bisa anda berikan pada saya?" Tanyanya dengan kesal dan sinis.
"Ini kartu nama saya, anda bisa menghubungi saya dan akan saya berikan uang ganti rugi untuk pakaian anda.
Wanita itu langsung menepis kasar kartu nama yang diberikan padanya, seakan tidak terima dengan tindakan pria yang berada di hadapannya.
"Anda pikir semua akan langsung terselesaikan dengan uang? Saya juga punya uang!"
Setelahnya, ia pergi meninggalkan Selasar cafe tersebut. Membuat pandangan sang pria menatapnya dengan kesal.
Itulah Maheswari, terkenal dengan kerapian dalam berbusana dan selalu tepat waktu. Harusnya ia bisa sampai di kampus setengah jam lalu tetapi, ia terlambat karena harus berdebat dengan pria tidak tahu diri.
Keringatnya sudah membasahi kerah baju dan kening. Ia berlari sekuat tenaga agar tidak terlambat meghadiri kelas di semester baru.
Diketuknya pintu kelas yang sudah tertutup rapat, rasanya sangat gemetar sebab panik.
Maheswari tidak bisa mengontrol raut wajahnya, peluh sudah membasahi dahi serta tengkuknya karena berlari dan panik.
Tok tok tok
"Selamat pagi, mohon maaf saya terlambat Pak."
Bukan kalimat sindiran atau usiran yang di dapatkan, justru Maheswari disambut dengan gelak tawa.
Seolah kesadarannya kembali dengan penuh, wanita itu langsung berwajah masam sebab sang dosen belum tiba di kelas.
"Tumben banget telat, ada apa di jalan?" Tanya Dian, sahabatnya.
"Ada kucing garong."
Sungguh sial, Maheswari akan menandakan hari ini dengan stabilo merah sebagai hari sialnya.
....
Di lain tempat, terdapat sosok pria yang sedang menelpon seseorang dan marah-marah. Raut wajahnya sudah menggambarkan betapa risih dan tidak suka akan sesuatu.
"Sudah saya bilang, bidang ini bukan passion saya."
"Saya harap kamu bisa mengatakannya langsung pada Presdir. Saya hanya akan datang di pertemuan ini saja!"
Setelah panggilan itu selesai, handphonenya kembali berdering menampilkan nama "Mr. Rendy"
Lantas pria itu kembali menghembuskan napasnya dengan kesal.
"Selamat pagi Pak, ada keperluan apa menghubungi saya?" Tanyanya dengan sopan.
Pria bernama Rendy itu menjawab, "saya mau mengucapkan terima kasih karena Pak Abimana mau menjadi asisten dosen terkhususnya, di mata kuliah yang saya ampu."
"Tidak masalah Pak, saya tidak keberatan karena hanya diperlukan untuk satu pertemuan ini saja."
"Tidak Pak, anda akan menjadi asisten dosen saya selama satu tahun. Kontraknya bahkan sudah anda tanda tangani," ujar Pak Rendy.
Sungguh kacau, Abimana berhasil dijebak oleh ayahnya. Ia harus segera protes setelah pertemuan pertama ini usai.
"Baiklah Pak, akan saya bicarakan kembali nanti. Saya sudah terlambat masuk selama 15 menit."
Telepon disudahi dan Abimana kangsung bergegas mencari kelas 'Management'
Mencoba untuk menetralkan detak jantungnya, Pria itu mengetuk pintu dengan pelan dan penuh keyakinan. Semoga saja hari pertama ini bisa mengubah pikirannya.
"Selamat Pagi semuanya. Apakah benar ini ruang kelas prodi management?" Tanyanya kepada seluruh mahasiswa di penjuru kelas.
"Selamat pagi Pak, betul ini ruang prodi management."
Abimana berjalan dengan penuh rasa percaya diri walaupun dirinya merasa gugup karena ditatap oleh banyak mahasiswa di kelas tersebut.
"Oke, sebelum memulai perkuliahan hari ini. Saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu, saya Abimana Raharja selaku asisten dosen Mr. Rendy."
Pandangan Abimana mengedar ke seluruh penjuru kelas namun, dirinya terfokus pada kehadiran seorang wanita yang tampak tidak asing di matanya.
Bisa Abimana lihat dengan jelas, wanita itu juga sama terkejut saat melihat ke arahnya.
"Pak, ngajar kami sampai kapan? Mr. Rendy sering ada urusan ke luar kota jadi biasanya kita belajar jarak jauh dan menggunakan LMS saja," tanya salah satu Mahasiswa yang duduk paling depan.
"Nama kamu siapa?" Tanya Abimana padanya.
"Saya Chandra, ketua kelas prodi management B angkatan 2021."
"Salam kenal Chandra, saya akan bergantian mengajar dengan Mr. Rendy tetapi saya memiliki kontrak selama satu tahun di sini."
Abimana mengangguk singkat kepada Chandra, lalu pandangannya kembali terfokus pada wanita tadi. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, ia mengenal sosok itu dari suatu tempat yang ia sambangi pagi hari.
Tatapannya kembali bertemu dengan wanita tersebut, kali ini sedikit lebih intens. Wanita itu menundukkan kepala, terlihat canggung.
"Baiklah, untuk kelas hari ini, kita akan memulai dengan materi yang telah disiapkan oleh Mr. Rendy. Saya harap semuanya bisa bekerja sama dengan baik selama saya di sini," lanjut Abimana, berusaha mengalihkan pikirannya dari perasaan tak menentu yang melingkupinya.
Setelah memberikan penjelasan singkat mengenai tugas dan jadwal kelas ke depan, Abimana membagikan materi melalui LMS dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bertanya. Namun, pikirannya masih berusaha mencari tahu siapa wanita yang kini duduk di barisan tengah itu. Wanita yang berdebat dengannya di pagi hari.
Saat kelas berakhir, Maheswari tidak segera beranjak dari tempat duduknya. Pandangannya lurus ke depan, seolah ingin menghindari tatapan Abimana yang sejak awal sudah membuatnya gelisah.
Hatinya masih terasa kesal atas insiden di pagi hari, tetapi melihat Abimana sekarang sebagai asisten dosennya menambah lapisan ketegangan yang berbeda.
Di sisi lain, Abimana dengan cepat mengemas barang-barangnya. Sebelum benar-benar meninggalkan kelas, ia melirik ke arah Maheswari yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Maheswari," panggilnya dengan tenang, tapi cukup keras untuk membuat wanita itu menoleh.
Maheswari mendongak, wajahnya masih menyiratkan keengganan. "Ya, Pak?" suaranya dingin, lebih formal daripada saat mereka berdebat di Selasar cafe.
'Dari mana dia tahu namaku?' Batin Maheswari.
'Apa jangan-jangan karena mulut toa milik Dian?'
"Bisakah kita bicara sebentar di luar?" Abimana mencoba mengatur nadanya agar tidak terdengar seperti perintah, tetapi tetap tegas.
Setelah beberapa detik ragu, Maheswari akhirnya berdiri, mengikuti Abimana keluar kelas. Ketika mereka sampai di koridor yang cukup sepi, Maheswari memutuskan untuk lebih dulu berbicara.
"Pagi tadi..."
"Saya tidak menyangka kita akan bertemu lagi dalam situasi seperti ini," ujar Maheswari tanpa basa-basi, matanya menusuk Abimana dengan tatapan yang jelas mengandung amarah terpendam.
"Percayalah, saya juga tidak menduga. Pagi tadi... ya, itu kesalahan saya. Saya tidak bermaksud menumpahkan kopi pada kemejamu," Abimana mengawali dengan nada menyesal.
"Dan tentang tawaran ganti rugi-saya hanya ingin bertanggung jawab."
Maheswari melipat kedua tangannya, tatapannya tak melunak. "Kamu pikir uang bisa menyelesaikan semuanya?"
Abimana menghela napas panjang, merasa bahwa permintaan maaf biasa tidak akan cukup untuk wanita ini. "Tidak, tentu saja tidak. Saya salah menilai situasi. Aku hanya ingin memperbaiki kesalahan."
"Kalau begitu, anggap saja ini sudah selesai," ujar Maheswari, suaranya lebih tenang tetapi masih dingin.
Maheswari berbalik untuk pergi, namun Abimana tak bisa menahan rasa frustrasinya. Kesannya seolah-olah Maheswari menutup setiap celah komunikasi, dan itu mulai memancing amarahnya.
"Jadi segitu saja?" Abimana berseru sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan. Langkah Maheswari terhenti.
"Saya rasa permintaan maaf anda sudah cukup. Kita sudah tidak punya urusan selain urusan perkuliahan, saya pamit Pak."
Kata-katanya terasa menyengat, dan Abimana merasakan dorongan yang tak biasa. Dengan cepat, sebelum Maheswari bisa melangkah lebih jauh, Abimana maju dan tanpa berpikir panjang, ia meraih pergelangan tangan Maheswari, membuat wanita itu tersentak.
Wanita itu langsung menepis tangan Abimana, ingatlah mereka masih berada di wilayah kampus dan Maheswari tidak ingin ada gosip miring yang bisa mencoreng nama baiknya.
Abimana menatap Maheswari dengan intens, tatapannya tajam dan penuh emosi. Matanya bertemu dengan milik Maheswari, dan di sana ada sesuatu yang sulit diartikan-bukan hanya kemarahan atau kebencian, tetapi juga sesuatu yang lebih dalam.
"Apa lagi?" Tanya Maheswari dengan kesal dan tanpa sadar nada bicaranya naik satu oktaf.
"Saya tahu kamu bilang semuanya sudah selesai dengan permintaan maaf saya tadi, tapi saya tetap merasa harus bertanggung jawab. Setidaknya biarkan saya mengganti kerugianmu. Kemeja itu... saya yang membuatnya kotor."
Maheswari memutar tubuhnya perlahan, wajahnya terlihat sedikit lelah. "Kamu benar-benar tidak perlu melakukan itu. Permintaan maafmu sudah cukup. Ini bukan masalah besar, dan aku tidak mau memperpanjang urusan ini."
"Tapi aku merasa tidak enak," Abimana mendesah, setengah memohon. "Aku hanya ingin memastikan semuanya beres. Aku tidak mau meninggalkan kesan buruk di awal ini."
Maheswari tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Kesannya sudah cukup buruk, Pak. Tapi saya tidak akan mempermasalahkan hal sepele seperti ini lebih lanjut. Kalau itu yang kamu takutkan."
"Kamu pikir aku tidak tulus?" tanya Abimana, merasa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar insiden kopi tadi.
Maheswari menggelengkan kepala, nada suaranya menjadi datar. "Bukan begitu. Aku hanya tidak mau masalah ini jadi lebih rumit daripada yang seharusnya. Kita ini... hanya mahasiswa dan asisten dosen. Tidak perlu membesar-besarkan insiden kecil."
Abimana mengangguk pelan, meskipun hatinya masih belum puas. "Baiklah," katanya akhirnya, menyerah untuk saat ini.
"Kalau kamu memang merasa sudah cukup, aku tidak akan memaksa."
Maheswari menganggukkan kepala, lalu tanpa berkata lagi, ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Abimana berdiri sendirian, masih dengan perasaan bersalah yang belum hilang.
Abimana menghela napas panjang. Meski kata-kata Maheswari menandakan seolah semuanya selesai, dia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sesuatu yang belum terselesaikan di antara mereka.
...
(Maheswari POV)
Maheswari melangkah cepat, berusaha melarikan diri dari perasaan yang tak diinginkannya. Suasana kampus yang mulai sepi memberinya sedikit ruang untuk bernapas.
Matanya terus menatap ke depan, namun pikirannya terus memutar ulang percakapan dengan Abimana. Langkahnya akhirnya terhenti di sebuah taman kecil di sudut kampus, tempat yang sering ia datangi saat butuh waktu untuk sendiri.
Langkah kaki wanita itu membawanya duduk pada bangku yang ada di bawah pepohonan rindang. Menatap pada dedaunan yang bergoyang mengikuti arah angin, semakin membuat pikiran Maheswari bercabang.
Kemeja yang menjadi topik percakapan dengan Abimana masih melekat pada tubuhnya. Bercak tumpahan kopi yang sudah mengering dan pudar menjadikannya gelisah.
"Kenapa aku tidak bisa begitu saja melupakan kejadian tadi?" batinnya, sambil menyandarkan punggung ke bangku. Napas panjang ia tarik, mencoba mencari ketenangan.
Dalam benaknya, terlintas kembali tatapan Abimana-tatapan yang awalnya penuh penyesalan, namun semakin lama semakin terlihat tulus. Bukan hanya permintaan maaf biasa.
Ada sesuatu di balik sorot matanya, seolah pria itu benar-benar ingin lebih dari sekadar menebus kesalahan kecil itu. Maheswari menggigit bibirnya, merasa kesal pada dirinya sendiri karena terus memikirkan hal itu.
"Apa dia benar-benar merasa bersalah, atau... ada alasan lain?" pikir Maheswari, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Tatapan Abimana terlintas lagi dalam pikirannya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari yang ia harapkan.
Maheswari mencoba untuk menenangkan dirinya dengan menikmati keheningan dan kesejukan taman tempatnya beristirahat sejenak. Semakin lama, otaknya kembali memutar adegan antara dirinya dengan Abimana.
Maheswari menggelengkan kepala, mencoba menepis pikiran itu. "Sudah cukup," bisiknya pada dirinya sendiri.
"Aku tidak boleh terjebak dalam hal ini. Kami hanya asisten dosen dan mahasiswa, dan itu tidak akan berubah."
...
(Abimana POV)
"Kenapa dia begitu keras kepala?" pikir Abimana. "Aku hanya ingin memperbaiki kesalahan."
Abimana menghentikan langkahnya sejenak dan mengusap tengkuknya dengan lelah. Dia memang belum lama menjadi asisten dosen, tetapi pertemuannya dengan Maheswari adalah salah satu yang paling membingungkan baginya.
Wanita itu berbeda-dia tegas, mandiri, dan terlihat tidak mau menerima bantuan apa pun dari siapa pun. Sikapnya yang dingin membuat Abimana sulit untuk mendekat, meski niatnya hanyalah untuk memperbaiki kesalahan kecil.
Ia melanjutkan langkahnya, menuju gedung fakultas, tapi pikirannya tetap terpaku pada sosok Maheswari. Setiap langkah yang ia ambil justru semakin dalam menuntunnya untuk mencari tahu lebih banyak tentang wanita itu.
Ada sesuatu tentang Maheswari yang terasa... tidak selesai.
"Pak Abimana, bagaimana hari pertama anda mengajar?" Tanya Prof. Gunandar selaku kaprodi Management.
"Syukurlah berjalan dengan baik, semua mahasiswa sangat semangat dan aktif berdiskusi," jawab Abimana dengan antusias.
"Baiklah jika berjalan dengan baik, jika butuh bantuan jangan sungkan untuk mengatakannya pada saya."
Abimana mengangguk dan tersenyum pada Prof. Gunandar yang kini sudah pergi meninggalkannya sendirian di ruang dosen.
Waktu terus berjalan menunjukkan pukul satu siang. Cuaca yang terik semakin membuat Abimana betah berada di ruangan ber AC itu.
Dirinya fokusnya ke tugas-tugas yang menumpuk di meja. Namun, saat pintu ruang dosen tiba-tiba terbuka, Abimana mendongak, sedikit terkejut. Maheswari masuk ke dalam ruangan dengan langkah cepat, tampak tidak menyadari kehadiran Abimana yang duduk di ujung ruangan. Ia jelas mencari seseorang.
"Siang Pak, apakah Pak Hery ada?" tanya Maheswari tanpa melihat ke arah lain, fokusnya hanya pada salah satu meja dosen yang kosong.
"Pak Hery sedang tidak ada," jawab Abimana, suaranya terdengar lebih lembut dari yang ia kira.
Maheswari langsung menoleh, dan ekspresi terkejutnya seketika terlihat jelas. Mata mereka bertemu untuk beberapa detik, sebelum Maheswari cepat-cepat menormalkan ekspresinya dan kembali dingin.
"Oh, Pak Abimana," ucapnya datar. "Saya sedang mencari Pak Hery. Ada tugas yang harus saya konsultasikan."
"Sayangnya, Pak Hery sedang ada pertemuan. Tapi..."
"Sayangnya, Pak Hery sedang ada pertemuan. Tapi... kalau kamu mau, mungkin saya bisa bantu?" Abimana menawarkan, meski ia tahu bahwa tawarannya kemungkinan besar akan ditolak.
Maheswari terlihat ragu sejenak, matanya menatap Abimana dengan tatapan menimbang-nimbang.
"Saya rasa... ini lebih baik saya diskusikan langsung dengan Pak Hery," jawabnya akhirnya, seperti yang diduga Abimana.
Abimana hanya mengangguk, mencoba untuk tidak memperlihatkan kekecewaannya. Namun, ia tak bisa membiarkan percakapan berhenti di situ. Ada sesuatu yang membuatnya ingin memahami lebih banyak tentang wanita ini, meski tahu Maheswari lebih suka menjaga jarak.
"Kamu yakin nggak mau coba diskusi dengan saya dulu? Mungkin saya bisa beri perspektif yang berbeda," tambah Abimana, kali ini dengan nada yang lebih ringan, seolah mencoba membuka kesempatan lain untuk bicara.
Maheswari terdiam sejenak. Dia tampak berpikir, dan Abimana tahu bahwa ini adalah momen di mana wanita itu berjuang untuk memutuskan apakah akan tetap menolak bantuannya atau menerima tawarannya-meski dengan enggan.
"Baiklah," ucap Maheswari akhirnya. "Tapi ini hanya sebentar."
Abimana tersenyum tipis. "Tentu, sebentar saja."
Maheswari berjalan mendekat dan duduk di kursi di seberang meja Abimana. Ia mengeluarkan catatan dari tasnya, meletakkannya di atas meja.
Saat itu, meski suasana tampak tenang, Abimana merasakan ada ketegangan di antara mereka. Bukan ketegangan yang buruk, tapi lebih seperti perasaan tak terucapkan yang menggantung di udara, sesuatu yang keduanya coba hindari namun terasa jelas hadir di sana.
Sambil membolak-balik halaman catatannya, Maheswari mulai menjelaskan tugas yang ingin ia konsultasikan. Namun, pikiran Abimana terus kembali ke hal-hal lain-tatapan Maheswari, cara suaranya sedikit berubah saat berbicara, dan bagaimana dia tampaknya berusaha keras untuk tetap menjaga jarak.
"Tugas ini cukup kompleks," ucap Maheswari saat Abimana mulai melihat catatannya.
Abimana menatap catatan yang dikeluarkan Maheswari dengan serius. Ia mulai membaca dengan teliti, mencoba menangkap inti permasalahan yang dihadapi Maheswari. Suasana di ruang dosen terasa hening, hanya diisi oleh suara lembaran kertas yang dibolak-balik dan sesekali bunyi pena Abimana yang menulis catatan.
"Jadi, sepertinya kamu menghadapi kesulitan dalam memahami hubungan antara teori dan praktik dalam tugas ini?" tanya Abimana, berusaha memecahkan kebekuan di antara mereka.
Maheswari mengangguk. "Ya, terutama dalam menerapkan teori ekonomi mikro pada studi kasus yang saya pilih. Saya merasa ada beberapa aspek yang saya belum benar-benar pahami."
Abimana menatap Maheswari, berusaha membaca ekspresi wajahnya. "Mungkin kita bisa mulai dengan membedah bagian yang paling membingungkan terlebih dahulu. Kadang-kadang, menguraikan masalah bisa membantu membuatnya lebih jelas."
Maheswari mengangguk, lalu mulai menunjukkan bagian-bagian tertentu dari catatannya. Abimana mengamati dengan seksama, mendengarkan penjelasan Maheswari tentang teori yang digunakannya dan bagaimana dia berusaha mengaplikasikannya dalam studi kasus.
"Dari apa yang saya lihat, mungkin masalah utama adalah dalam menerapkan teori ini pada konteks spesifik kasus kamu," kata Abimana setelah beberapa saat.
"Cobalah untuk lebih fokus pada variabel kunci."
Maheswari menulis beberapa catatan cepat, tampaknya mulai merasa lebih jelas. Namun, Abimana tidak bisa mengabaikan fakta bahwa dia masih merasa ada sesuatu yang belum sepenuhnya diungkapkan oleh Maheswari.
"Kalau ada yang ingin kamu diskusikan lebih lanjut atau ada pertanyaan lain, jangan ragu untuk bertanya," Abimana menawarkan bantuan dengan harapan bisa berbicara lebih lama dengan wanita itu.
Maheswari memandangnya sejenak, dan ada keraguan dalam tatapannya. "Saya... rasa itu sudah cukup untuk saat ini," ujarnya dengan hati-hati.
Maheswari mengemas catatannya, berdiri untuk pergi. "Terima kasih, Pak Abimana. Saya akan mempertimbangkan saran Anda."
Abimana tersenyum. "Sama-sama. Semoga diskusinya dengan Pak Hery nanti juga berjalan lancar."
...
Di sore hari menjelang malam, jalanan kota tampak sibuk dan penuh warna. Langit yang mulai gelap dihiasi semburat merah dan oranye, memberikan latar belakang dramatis pada keramaian di bawahnya.
Jalan-jalan utama dipenuhi kendaraan umum yang bergerak lambat, seperti bus dan angkutan kota, yang terjebak dalam kemacetan.Di dalam bus, suasana terasa sesak dengan penumpang yang berdiri dan duduk berdesakan.
Suara klakson dan mesin kendaraan bercampur dengan percakapan penumpang dan suara radio dari kendaraan yang lewat. Di luar jendela, lampu-lampu jalan mulai menyala, menciptakan pola berkilauan di atas aspal yang basah oleh sisa hujan sore.
Orang-orang di trotoar tampak terburu-buru, mencoba menyeberangi jalan di antara arus kendaraan yang tidak bergerak. Itulah yang dilakukan oleh Maheswari, dengan tubuh yang lelah serta beban bawaan selama kuliah membuatnya ingin segera merebahkan diri di kasur miliknya.
Sepanjang jalan menuju kompleks rumahnya, Maheswari sudah membayangkan betapa lezatnya masakan sang ibunda. Langkah kakinya semakin cepat saat rumah lantai dua dengan cat tembok biru muda itu sudah terlihat.
"Halo Bund, aku pulang!" Serunya dengan semangat seakan rasa lelahnya langsung menguap entah kemana.
"Anak bunda sudah pulang. Mandi dulu baru makan, ini sudah mau malam, keburu dingin," ujar wanita paruh baya itu pada putrinya.
"Iya-iya tapi habis itu temenin aku makan ya bund, kak Tara katanya pulang malam."
"Iyaa nanti bunda temani."
Maheswari meletakkan tasnya di sudut ruangan dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dari kelelahan seharian.
Ia merasa segar setelah mandi, menghilangkan lelah dari tubuhnya. Ketika ia keluar, aroma masakan dari dapur menyambutnya, menggugah selera.
"Selamat makan, Nak," ujar ibunya sambil duduk di kursi di seberang meja.
Maheswari mulai makan dengan lahap, menikmati setiap suapan makanan yang dimasak dengan penuh cinta oleh ibunya.
"Makanannya enak sekali, Bun. Terima kasih."
"Senang kamu suka. Ngomong-ngomong, gimana kuliah hari ini? Ada cerita baru?" Tanya sang bunda, Rini.
Maheswari menatap ibunya sejenak, merasa ada beban yang ingin ia ceritakan. "Ada, Bu. Tadi aku sempat diskusi dengan Pak Abimana. Dia membantu aku dengan tugas kuliah, walaupun awalnya aku agak ragu."
"Kalau ragu, kamu bisa berdiskusi lebih lanjut dengan beliau."
Maheswari tersenyum dan mengangguk. "Iya, Bu. Aku akan lakukan jika ada kesempatan bertemu dengan beliau."
Tiba-tiba, suara pintu depan berbunyi. Ayah serta kakaknya, Tara, baru pulang. Tara, yang terlihat kelelahan setelah seharian beraktivitas, menyapa mereka. "Halo, semua. Maaf, kami telat."
Maheswari berdiri dan memeluk kakaknya. "Tidak apa-apa, Kak. Ayo, makan malam dulu."
"Ayah mau langsung makan atau mandi dulu?" Tanya Rini pada suaminya. Sementara kedua anaknya langsung menyantap hidangan makan malam di atas meja.
"Langsung makan, keburu dihabisi sama dua anak ini," ujar Herman dengan nada bercandanya.
Malam itu gelak tawa memenuhi ruang makan, kondisi rumah yang ceria dan hangat semakin menambah kesan harmonis keluarga.
Hal inilah yang membuat Maheswari merasa lebih siap menghadapi tantangan berikutnya dalam kuliahnya maupun kehidupan cintanya kelak. Seiring dengan suasana malam yang semakin tenang di luar, keluarga kecil itu menikmati kebersamaan mereka, menguatkan ikatan yang selalu ada di tengah kesibukan dan kesulitan.