Kirana driver ojol yang cantik menghentikan motornya di depan rumah, setelah itu dibiarkan dua penumpangnya turun dari motor tersebut. Dia telah mengantar penumpangnya dengan selamat hingga ke tujuan.
Gadis ini menekuni jasa kendaraan online hampir dua tahun, semua demi menopang hidupnya dan Malin sang ayah yang menderita radang otak sejak lima tahun silam akibat mempertahankan toko sembako milik Babah Suk tempat ayahnya bekerja selama ini.
Dia pun memutuskan berhenti kuliah, menjual rumah mereka di Payakumbuh, lantas ke Jakarta untuk membawa sang ayah berobat di rumah sakit khusus menangani masalah syaraf otak.
Uang hasil menjual rumah untuk mengontrak rumah sangat sederhana di gang sempit di kawasan Condet, membangun usaha kecil di rumah dengan berjualan nasi uduk. Hasil dari berjualan dikumpulkan untuk membeli motor second, lantas melamar menjadi driver ojol di Jakjol Company.
Dia melakukan semua ini tiada mengeluh karena menyadari perjuangan sang ayah sangat besar selama ini untuk mereka berdua. Dulu sang ayah adalah Sutradara dan pengusaha sukses. Namun kena tipu rekannya sendiri sehingga seluruh harta habis. Linda sang ibu tidak tahan, lantas kabur dengan membawa saudari kembarnya yang bernama Karina. Sejak itu dia hanya tinggal bersama sang ayah.
“Terima kasih, bu.” Terdengar suaranya mengucapkan terima kasih setelah menerima pembayaran dari sang penumpang, dihitung sejenak uang yang diterimanya, lantas segera merogoh tas slempangnya bermaksud hendak mengambil uang kembalian.
“Tidak usah dikembalikan, Mbak Rana.” Si penumpang yang adalah ibu paruh baya menghentikan apa yang Kirana lakukan, “Itu ekstra untuk mbak Rana.”imbuhnya saat sang gadis memandangnya dengan heran.
“Tapi bu, ekstranya banyak sekali.” Kirana memperlihatkan sehelai uang 100 ribu yang diberikan si ibu tersebut.
“Tidak mengapa, mbak.” Kekeh sang ibu, “Diterima ya mbak, meski sedikit.” Imbuhnya tulus.
Ibu ini salah satu yang berlangganan ojol ke Kirana, sesekali suka melebihkan uang pembayaran karena menyukai kepribadian gadis itu yang sederhana dan pantang menyerah dalam kehidupan yang keras di Jakarta.
Di JakJol Company, bisa meminta driver yang ingin mengantarkan penumpang ke tempat tujuan. Kirana salah satu driver favorit penumpang, karena kepribadian si gadis yang baik tersebut.
Lantas cucu si ibu memberikan satu kantung plastik berisi sekotak makanan ke Kirana.
“Tante Rana.” Ditegur si gadis, “Ini untuk kakek Malin dari Ikke ya.” Ujarnya.
Si ibu dan cucunya sering mengobrol sama Kirana, sehingga tahu gadis ini tinggal sama sang ayah saja yang butuh berobat rutin ke rumah sakit. Ketulusan si gadis menopang kehidupan si ayah menyentuh, sehingga bukan saja suka melebihkan uang pembayaran, suka memberi makanan atau pakaian.
“Ya Tuhanku,” ucap Kirana terharu, “Ikke ama nenek jadi repot terus ini.” Ujarnya tidak enak hati.
“Haiyah mbak Rana ngga usah segan.” Kekeh si ibu tulus, “Diterima ya mbak, karena tadi Ikke khusus minta saya belikan ayam kremes untuk pak Malin dan mbak.” Imbuhnya memberitahu kalau si cucu memang minta dibelikan makanan tersebut untuk Malin dan Kirana.
“Iya bu.” Kirana terpaksa menerima, “Terima kasih, bu.” Dia mengucapkan terima kasih, “Terima kasih Ikke.” Diucap juga terima kasih ke Ikke sambil mengusap sayang kepala bocah berusia 5 tahun ini.
Setelah itu sang gadis pamit karena harus segera ke rumah sakit tempat Malin dirawat saat ini. Dia sedikit memacu lebih cepat laju motornya di jalan raya Ibukota ini. Tidak terasa dia pun sampai di rumah sakit, bergegas memarkir motornya di parkiran basement, lantas segera masuk ke gedung rumah sakit menuju lantai 5 ruang rawat inap ICU.
Malin dirawat di sana sudah tiga hari karena jatuh pingsan di kamar mandi akibat merasa sakit luar biasa di kepalanya.
“Siang, suster Ani.” Disapa ramah suster Ani yang mendapat giliran menjaga ICU saat ini.
“Siang mbak Rana.” Sahut si suster ramah, “Mbak ditunggu dokter Kansil sedari pagi loh.”
Kirana terdiam mendengar ini, karena saat Malin diputuskan dirawat di ICU, dokter Kansil yang selama ini menangani penyakit sang ayah sudah mengatakan si ayah segera melakukan operasi, karena ada yang tidak beres di syaraf akibat jatuh di kamar mandi. Dia belum memutuskan setuju sebab masih belum tahu berapa jumlah biaya operasi.
Suster Ani melihat ini menjadi iba karena tahu sang gadis mengalami kesulitan keuangan, lantas hingga saat ini belum juga mendapatkan kartu berobat gratis dari pemerintah, entah apa alasan dari pengurus rukum warga sampai si gadis tidak direkomendasikan untuk mendapat kartu tersebut.
“Saya temui ayah dulu, sus.” Terdengar suara Kirana memutuskan menunda menemui dokter Kansil, “Terima kasih sudah menyampaikan pesan dokter Kansil ke saya.” Dia juga mengucapkan terima kasih ke suster Ani, lantas mengambil sehelai seragam pengunjung ICU dari lemari di depan desk suster jaga.
Dikenakan segera, lantas bergegas masuk ke dalam ruang dalam ICU, di dekati Malin yang terbaring lemah di mana terpasang alat elektroda di beberapa bagian kening dan kepala, serta di dada. Di hidung sang ayah terpasang selang nasal untuk membantu pernapasannya.
“Ayah.” Dia pasang senyum cerah menyapa ayahandanya yang tersenyum melihat kedatangannya. “Maafin Rana ya, tidak bisa selalu disisi ayah.” Ujarnya sambil duduk di kursi pengunjung menghadap sang ayah, tentengannya di taruh ke meja.
“Tidak mengapa, Rana.” Sahut si ayah dengan suara pelan, “Ayah malah merasa bersalah ke kamu. Karena kejadian itu, ayah menjadi seperti ini sampai sekarang. Membuatmu terbeban berat.”
“Ayah, Rana ikhlas melakukan semua ini, karena selama ini ayah pun ikhlas membesarkan Rana.” Si gadis meraih tangan kanan ayahnya ini, digenggam lembut, “Ayah yang penting tetap semangat untuk pulih, jadi Rana bersemangat pula bekerja untuk kita berdua.”
Si ayah tersenyum haru mendengar ini,
“Terima kasih, Rana.”
Kirana hendak memberi jawaban, tapi terdengar suara deheman seorang pria dari arah belakangnya.
“Ehm!”
Si gadis menghela napas pelan tahu siapa pria tersebut yang adalah dokter Kansil. Dia menduga suster Ani menghubungi dokter tersebut yang ruangannya berada di sebelah ruang ICU ini, memberitahu kedatangannya. Sebenarnya tidak masalah karena hubungan dia dengan sang dokter sangat baik.
Yang menjadi masalah dia mengalami kesulitan keuangan. Hasil kerjanya sebagai driver ojol hanya mencukupi biaya hidup sehari-hari dan obat rutin ayahnya. Bahkan seringkali untuk mencicil pinjaman yang dipinjam untuk berobat sang ayah.
“Rana.” Terdengar suara si dokter ganteng menegur Kirana. Dokter ini masih lajang, ada tersentuh hati ke si gadis, tapi menyadari sang gadis tidak menaruh hati ke dia. “Bisa kita bicara sebentar di ruangan saya?”
Kirana pelan kembali menghela napas, lantas bicara ke Malin.
“Ayah, Rana tinggal sebentar ya.” Dia berpamitan ke sang ayah.
Ayahandanya menganggukan kepala, sudah tahu mengapa dokter Kansil menemuinya. Pasti mengenai kondisi pria ini yang harus segera melakukan operasi.
+++
Kirana terhenyak saat membaca beberapa dokumen persyaratan untuk ayahnya bisa di operasi. Setelah bicara dengan dokter Kansil, dia segera ke administrasi rumah sakit untuk mengetahui persyaratan pasien melakukan operasi yang sudah tentu tercantum pula rincian biaya operasi dan lainnya.
“Mbak Rana.” Terdengar suara Ningrum petugas administrasi yang melayani si gadis.
“Emm,” Kirana terglegap, “Mbak, apa bisa semua biaya ini dicicil?” ditanya apakah seluruh biaya tersebut bisa dibayar dengan mengangsur.
“Jika di angsur, maka mbak membayar DP dulu sebesar 5 juta.” Sahut Ningrum dengan suara ramah di mana memandang iba sang gadis. “Lantas baru di angsur sebanyak 3x.”
“3x, mbak?!” Kirana terperanjat mendengar ini,”Apa mengangsurnya bulanan?”
“Tidak mbak, perminggu saja.”
Sang gadis kembali terhenyak mendengar ini. Uang sebesar 5 juta mungkin bisa dia usahakan. Tapi untuk mengangsur 10 juta selama 3 minggu berturut-turut, dari mana dia mengusahakannya?
“Baik mbak, saya paham.” Terdengar suara gadis itu disertai helaan napasnya, lantas beranjak pergi meninggalkan loket administrasi.
Sebenarnya dokter Kansil sudah menawarkan akan membiayai seutuhnya operasi tersebut, tapi sayangnya si dokter meminta Kirana berkenan menikah dengannya. Si gadis tidak mau karena punya harga diri tinggi. Dia tidak mau menikah hanya untuk memenuhi persyaratan pemberian bantuan.
Kirana segera mengambil motornya ke parkiran sambil terus memikirkan kemana harus meminjam uang sebesar 35 juta tersebut. Akhirnya dia memutuskan menemui Suman direktur Jakjol Company. Berharap bisa kembali mendapat pinjaman untuk biaya operasi dan berobat Malin.
+++
Di dalam ruangan direktur Jakjol Company, tampak Kirana terlihat nelangsa karena Suman menolak pengajuan pinjamannya.
“Maaf Rana,” desau Suman memandang si gadis, “Kali ini saya tidak bisa membantumu karena pinjamanmu yang terdahulu belum kamu kembalikan sebesar 20 juta.” Ujarnya mengemukan mengapa menolak pengajuan pinjaman sang gadis.
Kirana pelan menghela napas menyadari kesalahannya yang belum mengembalikan pinjaman tersebut ke Jakjol Company akibat kebutuhan berobat Malin bertambah tinggi.
Suman kemudian mengeluarkan sebuah map berisi dokumen, diletakan ke meja tepat menghadap si gadis,
“Rana.” Terdengar lagi suaranya, “Mohon maaf mulai hari ini saya memberhentikan kamu dari Jakjol Company.”
Kirana terhenyak kaget mendengar ini, menatap Suman tidak percaya.
“Sebenarnya kerja kamu bagus,” masih terdengar suara sang direktur, “Tapi akhir-akhir ini setoran dari kamu berkurang, mungkin karena kamu lebih banyak mengurus ayahmu, sehingga tidak mengambil orderan dari kantor ini.”
Si gadis menghela napas pelan menyadari di Jakjol Company memang semua driver diberikan kewajiban harus menyetor sekian rupiah setiap hari dari fee yang diberikan penumpang. Dalam sehari pun driver diwajibkan minimal mengambil order pesanan sebanyak 20 orang.
Dia akibat mengurus Malin yang sebelumnya juga dirawat di ICU karena patah tulang pinggang akibat terjatuh pingsan gegara serangan sakit di kepala menjadi tidak memenuhi aturan tersebut.
Suman menghela napas pelan, lantas mengeluarkan satu amplop berwarna coklat, diberikan ke Kirana,
“Ini sedikit pesangon dari perusahaan untuk kamu.” Ujarnya memberitahu apa yang terdapat di dalam amplop tersebut.
Kirana menerima ini dengan wajah pilu karena sumber penghasilannya ditutup dengan diberhentikan dari perusahaan. Bagaimana bisa dia mendapatkan sumber penghasilan dengan cepat? Bagaimana pula dia mengatasi masalah pembiayaan berobat Malin?
Kirana mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Tampak dia kurang konsentrasi saat ini, beberapa kali nyaris menyerempet atau ditabrak kendaraan lain, sehingga memutuskan menepi sejenak di satu tempat. Dia tidak menyadari sedari keluar dari kantor Jakjol Company dibuntuti dua mobil jip.
Setelah motornya berada di tepi bahu jalan, dilepas helm dari kepalanya, ditarik napasnya dalam-dalam, lantas dilepas perlahan. Seiring dengan itu bilur air mata jatuh bergulir dari kedua manik indahnya.
“Ayah,” dari bibir indahnya dipanggil sang ayah, “Maafkan Rana. Rana sungguh anak yang tidak berbakti ke ayah. Rana tidak mendapatkan uang untuk operasi itu, bahkan Rana dipecat dari tempat kerja Rana.” Diluapkan sesak hatinya dalam linangan air matanya.
“Rana juga tidak bisa menghubungi Datuk Sangka kakak ayah untuk meminta bantuannya.” Imbuhnya masih melepas beban dihatinya. “Ayah dan beliau tidak akur.” Imbuhnya lagi.
Malin memiliki dua kakak laki-laki yaitu Datuk Sangka dan Sutan Amir, lantas ada satu adik perempuan yaitu Puti Manik. Pria itu anak kesayangan orangtua mereka, membuat ketiga saudaranya iri. Ketika orangtua mereka meninggal, ternyata semua warisan diberikan ke ayahanda Kirana agar membantu perekonomian pria itu tersebut yang terperosok ke dalam lumpur.
Hal ini membuat iri menjadi benci, sehingga memutuskan hubungan persaudaraan. Malah di antara mereka ada yang berusaha mencelakai Malin dan Kirana. Perampokan toko sembako Babah Suk sebenarnya dibikin oleh Sutan Amir dan Puti Manik, agar membuat kehidupan Malin lebih terpuruk, berharap bisa mengambil rumah warisan orangtua mereka yang ditempati pria itu.
Namun Tuhan berkehendak, Kirana menjual rumah itu ke Babah Suk, lantas membawa Malin pindah ke Jakarta tanpa diketahui saudara-saudara pria tersebut. Di Jakarta, sang gadis berjuang sendirian demi mempertahankan kehidupan dia dan sang ayah.
Kirana menghela napas, menyeka air matanya, lantas bergegas memakai kembali helm, tidak lama melajukan motor. Dia memutuskan untuk tetap tegar, dan meyakini pasti Tuhan memberikan bantuan untuk mengatasi masalahnya saat ini. Sayangnya dia masih tidak menyadari dibuntuti dua mobil tersebut.
Hingga saat berada di jalanan sepi, salah satu mobil cepat menyalip dan berhenti tepat di depannya. Dia terkaget segera menghentikan motornya. Belum lagi dia sempat bersuara, dari dalam mobil turun beberapa pria yang memakai masker wajah berwarna hitam. Dia segera melepas helm, lantas terkaget lagi sebab dari arah belakang ada yang menariknya kasar sehingga terjatuh dari motornya.
“Chloe Bianco!” terdengar suara salah satu dari pria yang kini mengepung Kirana.
Kirana terkesiap mendengar ini, dipandang si pria dengan keheranan. Dia bukan Chloe Bianco, tapi Kirana Pratama.
Si pria menarik gadis ini berdiri, ditatap dengan sengit,
“Kamu Chloe Bianco kan?” ditanya si gadis dengan suara garang.
“Bu, bukan!” sahut sang gadis dengan suara gemetaran, “Aku bukan Chloe Bianco! Kalian semua ini siapa?” dipandang si pria dan rekan-rekan pria tersebut dengan sorot mata ketakutan.
“Kamu bohong kan?”
“Saya tidak bohong!”
“Hei nona!” terdengar seruan pria lain, “Lebih baik mengaku saja kamu itu Chloe Bianco, atau,” tidak diteruskan perkataannya, lantas segera ke dekat motor Kirana, tidak lama dipukul beberapa kali dengan keras menggunakan besi panjang.
“Akh!!” jerit Kirana pun terdengar, “Jangan lakukan itu!” dia hendak menyelamatkan motornya, tapi pria di depannya cepat membekap mulutnya dengan saputangan berbubuhkan obat bius.
Seketika dia jatuh pingsan, langsung di gendong dibawa masuk ke mobil terdepan. Sedangkan rekannya yang lain kembali menghantam motor sang gadis hingga mengalami kerusakan berat dan ditinggalkan begitu saja di jalanan.
+++
Tubuh Kirana digeletakan di atas lantai marmer yang dingin di dalam satu kamar mewah. Tampak di sana ada seorang pria tampan yang berpostur tubuh tinggi atletis. Pria itu adalah Rasta Emilio cucu tertua Bastian Emilio billionaire dari Italy yang bermukim lama di Jakarta ini.
Sang pria pun adalah presiden direktur dari perusahaan pribadinya yang bernama Emerald Company yang bergerak di bidang bisnis manufacture penyediaan spare part mobil balap di Grand Prix F1, dan juga perminyakan dunia di dua negara timur tengah.
Pria itu mengamati Kirana yang sedang diupayakan siuman oleh Vian asisten pribadinya dengan mengenduskan harum colonge menyengat di kedua lubang hidup si gadis. Tampak wajah pria tersebut arogan, dingin, dan penuh dendam.
‘Akhirnya,’ terdengar suara hati sang presdir, ‘Aku dapatkan juga kamu, Chloe Bianco!’ dia merasa puas bisa mendapatkan target incarannya, ‘Malam ini kamu akan menjadi perempuan paling menyedihkan, Chloe Bianco! Ini harga yang harus kamu bayar karena menghinaku dengan lantang di depan para pengunjung di night club sebulan lalu.'
Rasta tetap mengingat saat Chloe putri tunggal Karan Bianco salah satu saingan bisnisnya di sebuah night club. Saat itu sang gadis mengatakan dia adalah pria cabul yang hanya mampu bermain di ranjang sesaat saja dengan banyak perempuan selepas bercerai dari Lita istri pria tersebut.
Perkataan ini dirasa sangat menghina sang presdir. Saat itu kalau saja tidak dicegah Vian dan para ajudannya, ingin sekali dirobek-robek bibir seksi si gadis, ditelanjangi pula, dan diperkosanya di depan para pengunjung night club.
Sebenarnya Chloe berkata demikian karena kesal tidak berhasil membuat si duda tampan tersebut jatuh hati ke dia. Bahkan tidak berhasil membuat sang presdir mau mencumbunya di ranjang. Jika dia hina, pasti sang duda mencarinya, bisa langsung ditaklukan dengan pesonanya.
Tapi dia tidak mengenal si pria seutuhnya. Jika tersakiti, mampu membuat orang yang menyakiti hidup segan mati menderita. Bukan cumbuan yang akan di dapat si nona jika sudah begitu kan?
Kirana mulai siuman, di mana kedua matanya dikerjap-kerjapkan, lantas menyisiri ke sekitar. Melihat si nona siuman, Rasta segera bergerak mendekati, lantas mencengkram kedua sisi pipi sang gadis, ditatap sengit penuh dendam. Pria itu tidak menyadari yang dihadapannya bukan lah Chloe Bianco karena profil wajah dan bentuk tubuh Kirana sama persis dengan target si pria.
“Tu, tuan siapa?” terdengar suara Kirana yang gemetaran bertanya siapa Rasta.
“Jangan berlakon Chloe Bianco!” Rasta menghardik kasar sang nona, “Kamu mengenalku, Chloe!”
“Saya tidak mengenal anda, tuan.”
“Begitu kah? Lantas siapa yang kamu hina sebulan lalu di depan semua pengunjung night club?”
“Apa maksud anda? Saya tidak mengenal anda, mengapa bisa dikatakan menghina anda? Saya pun tidak pernah ke night club.”
Rasta mendengar ini merasa sedikit terheran, karena sorot mata Kirana saat bicara tiada berbohong. Namun dia meragukan itu karena kadung dendam ke Chloe. Diberi satu hadiah di pipi si gadis dengan keras, membuat gadis itu tersuruk mencium lantai. Setelah itu dia mendekati Vian, mengambil cambuk dari tangan sang asisten, lantas dilayangkan cambuk tersebut dengan keras ke lantai.
Kirana mendengar suara cletar dari cambuk terkaget, langsung memandang ke sang presdir. Tubuhnya menjadi gemetaran sebab sorot mata pria itu sangat kejam, dirasa sangat ingin mengakhiri hidupnya.
“Akh!” terdengar pekikannya karena terkena satu cambukan kuat dari Rasta, “Tuan!” jeritnya memandang sang presdir, “Anda ini siapa? Mengapa melakukan ini ke saya?” ditanya kembali siapa pria itu. “Akh!” pekiknya lagi karena cambuk kembali mengenainya.
“Berhenti berlagak tidak mengenalku, Chloe Bianco!” jerit Rasta yang dipenuhi kemarahan, “Aku Rasta Emilio yang kamu hina di night club sebulan lalu!”
“Aku bukan Chloe Bianco!” jerit Kirana lantang membantah dirinya bukan Chloe, “Aku Kirana Pratama, driver ojol!”
Rasta tersentak kaget mendengar ini, segera ke hadapan sang nona, dicengkram kembali sisi-sisi wajah cantik tersebut,
“Sejak kapan Chloe Bianco menjadi driver ojol?”
“Hais tuan! Saya sudah katakan bukan Chloe. Saya Kirana, dan bekerja sebagai driver ojol!”
Rasta terdiam, lantas tertawa sarkas, “Jangan membohongiku, Chloe!” dia masih tidak menyadari Kirana memang bukan Chloe, lantas menjauhi si nona, kembali diberi beberapa kali hadiah dengan cambuknya.
Tidak lama dia berhenti sebab Vian melihat si gadis tidak bisa bertahan lebih lama. Sangat sayang jika berakhir ke alam abadi, karena sang gadis begitu cantik dan lembut. Sang asisten pun mulai merasa nona ini bukan Chloe.
“Mengapa kamu hentikan aku?” Rasta menatap tajam asistennya.
“Tuan, saya merasa kita salah sasaran.”
“Salah sasaran katamu? Hei, Chloe itu perempuan penuh tipu muslihat! Buktinya sebulan ini kita tidak bisa menemukannya!”
“Tuan, saya merasa nona ini memang bukan nona Chloe, selain dari perkataannya yang berulang kali mengatakan bukanlah nona Chloe.” Vian mengemukan pendapatnya, “Lantas Riko dan orang-orang utusan anda mengatakan nona ini mengendarai motor matic, memakai jaket ojol, dan keluar dari gedung kantor Jakjol Company.” Imbuhnya mengatakan alasan lainnya mengapa merasa Kirana memang bukan Chloe.
Rasta terkesiap mendengar ini, segera di dekati Kirana yang sudah megap-megap kesakitan. Dicengkram wajah gadis itu, diamati dengan lebih teliti. Dia sangat ingat wajah Chloe yang menghinanya. Sang gadis dihadapannya sama persis dengan Chloe, bagai pinang dibelah dua.
Tidak lama dia menarik kasar sang gadis berdiri, diseret ke ranjang, lantas dilecuti pakaian si gadis yang sudah tercabik akibat hadiah-hadiah darinya tersebut.
“Jangan!” rintih Kirana memandang Rasta penuh ketakutan karena sang pria yang tanpa sehelai benang siap menerkamnya, “Akh!” pekiknya karena presdir itu memberinya serangan di oase miliknya yang masih perawan.
Rasta terkesiap mendengar pekikan ini, “Kamu masih perawan?” dipandang Kirana yang kesakitan kena serangannya tersebut, “Apa kamu operasi keperawanan?” ditanya pula sang gadis, mengira perawan karena operasi keperawanan.
“Anda memang tidak waras!” jerit sang gadis, “Aku memang masih perawan, bukan perawan karena operasi keperawanan!”
“Tidak mungkin!” hardik Rasta masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada pada Kirana.
Sang gadis memang masih perawan, tidak seperti Chloe. Chloe sudah mengobral oasenya ke beberapa pria seperti Rasta untuk kesenangan semata.
“Akh!” terdengar lagi jeritan si gadis sebab Rasta melanjutkan aksinya itu, “Hentikan tuan! Akh!” jeritnya kesakitan sekaligus panik.
Vian melihat semua ini menghela napas, merasa tuannya dikuasai dendam semata, sehingga tetap tidak menyadari sudah salah sasaran.
Rasta akhirnya berhenti setelah mendapat puncak kenikmatan sekaligus kepuasan merusak si gadis. Namun dia terkaget ketika menemukan bercak red liquid di permukaan luar oase sang nona. Segera saja dia mengecek lengan nona ini, lantas terhenyak karena tidak menemukan tanda lahir di sana yang dimiliki Chloe.
“Tuhanku!” desaunya tersadar sudah menyasar ke orang yang salah, “Vian!” dijeritin sang asisten, “Vian! Lekas minta Darno bawa mobil saya ke teras depan hotel! Lekas Vian, saya mau gadis ini selamat!” jeritnya panik karena melihat Kirana terkulai di ranjang antara sadar dan tidak dengan tubuh terhias red liquid.
Rasta berjalan mondar-mandir di depan bilik yang tertutup tirai di IGD Austin Hospital tempat di mana Kirana saat ini tengah ditangani dokter. Wajah pria ini terlihat sangat cemas berbaur penyesalan dikarenakan terbakar dendam ke Chloe membuatnya merusak seorang gadis yang tidak dikenalnya sama sekali.
Pria ini bukan lah pria jahat yang saat melakukan kesalahan fatal akan menghapus jejak kejahatannya, maka saat Kirana mengalami luka di permukaan liang oase tersebut segera saja dibawa ke rumah sakit untuk diselamatkan nyawanya. Dia sangat takut sang gadis dijemput malaikat maut disebabkan dirinya sangat brutal dan sadis.
Vian melihat kelakuan si bos menghela napas, ikut menyesal karena tidak mengecek dulu siapa gadis yang dibawa orang-orang suruhannya atas perintah sang atasan. Hatinya berharap sang gadis bisa diselamatkan dan dipulihkan. Namun apa bisa itu terwujud? Luka luar bisa sembuh, tapi luka hati?
Kirana masih gadis, tahu-tahu diperkosa, pasti akan melukai hatinya. Luka itu tidak bisa diobatin secara medis, hanya bisa disembuhkan dengan ketulusan si pemerkosa menyesali merusaknya. Namun apakah bisa Rasta yang di masa lalu terluka akibat Lita berselingkuh lantas mereka bercerai memberikan ketulusan penyesalan ke Kirana? Apalagi pria itu punya sifat arogan dan tinggi gengsi.
Rasta berhenti mondar-mandir, diputar pandangannya ke arah bilik, lantas merentakan satu kakinya ke lantai,
“Dams!” terdengar rutukannya, “Sial! Mengapa salah sasaran?” dia merutuki dirinya yang salah menyasar balas dendam, “Idiot sangat orang-orang suruhanku!” dirutuki pula orang-orang yang menculik Kirana, “Tuhanku!” dia mengusap kasar wajahnya, “Tolong selamatkan gadis itu.” Dia memohon Tuhan menyelamatkan sang gadis.
Vian mendengar ini mendekati si bos, “Tuan.”
“Kamu!” terdengar suara sang atasan yang sedikit melengking, “Kenapa tidak mengecek dulu sebelum membawa dia ke saya?” disemburkan kekesalannya ke sang asisten. “Kan saya sudah mengatakan ada tanda lahir di salah satu lengan Chloe! Gadis di dalam bilik ini tidak memiliki itu!” dia terus menyembur si asisten sambil mengacungkan telunjuk tangan kanannya ke arah bilik tempat si gadis berada.
Vian menghela napas, sang atasan memang sudah mengatakan mengenai tanda lahir tersebut, sudah pula hal itu disampaikan ke orang-orang suruhannya. Namun namanya menculik, mana sempat mencari tanda lahir itu toh?
Melihat si asisten hanya menghela napas, Rasta kembali merentakan satu kakinya di lantai sambil mendengus kesal. Dia pun kini berkacak pinggang, sesekali satu tangannya mengusap kasar wajah dan kepalanya. Seumur hidup, dia tidak pernah melakukan hal kejam ke perempuan.
Namun ketika Chloe menghinanya, entah kenapa dia sangat ingin berbuat kejam untuk membalas sakit hatinya ke si gadis. Sayangnya yang kena adalah Kirana, bukan Chloe.
Rasta lantas lebih ke dekat Vian,
“Apa kamu sudah mencaritahu identitas gadis itu?” ditanya si asisten yang disuruhnya mencari tahu identitas Kirana.
“Sudah, tuan.” Sahut sang asisten, karena kalau belum bagaimana bisa pihak IGD menangani sang gadis? “Apa anda mau mendengar laporan saya mengenai itu?” ditanya si bos apakah mau mendengar mengenai hasil penyelidikannya.
Pria itu menganggukan kepala, lantas segera duduk di bangku panjang yang terletak di sebelah kanan bilik-bilik pasien. Vian segera mengikuti, tapi tetap berdiri tidak duduk disebelah si bos.
“Ayo laporkan ke saya apa yang kamu dapat.” Terdengar suara sang presdir minta asistennya mulai memberi laporan ke dia.
“Baik, tuan.” Sahut Vian, “Gadis itu bernama lengkap Kirana Asmara Pratama, berusia 25 tahun, berstatus lajang, bertempat tinggal di Gang Asem Jawa RT:007 RW:05, Condet-Jakarta Selatan.” Diuraikan hasil penyelidikan sementaranya berdasarkan isi KTP sang gadis.
“Namanya Kirana Asmara Pratama?” Rasta menyebut ulang nama lengkap si gadis, “Pandai orangtuanya memberi nama, karena sesuai dengan kecantikan dirinya.” Ujarnya memuji orangtua sang nona yang bagus memberi nama. Lantas menghela napas, “Hanya itu yang kamu ketahui?” dipandang asistennya, “Apa benar dia bekerja sebagai driver ojol? Apakah di Jakjol Company?”
“Benar, tuan. Namun hari ini sudah tidak lagi bekerja di sana.”
“Apa maksudmu?”
“Saat saya menelpon ke perusahaan itu minta bicara dengan HRD manager, beliau mengatakan nona Kirana diberhentikan dari sana.”
Rasta terperanjat mendengar ini, “Dengan alasan apa memberhentikan nona itu?”
“Beliau tidak memberikan penjelasan.”
Si bos menghela napas, mendadak hatinya menjadi pilu karena gadis yang dirusaknya baru kehilangan pekerjaan. Dia pun merasa pasti hati si nona tengah sedih karena kehilangan pekerjaan, lantas diperkosa pula olehnya.
“Tuan.”
“Lantas kamu ada bilang,” Rasta kembali bersuara setelah ditegur Vian, “Nona itu mengemudikan motor matic saat dihadang orang-orang saya.”
“Benar tuan.”
“Motor itu punya Jakjol Company atau milik nona itu?”
“Milik nona Kirana, karena saya menemukan STNK dan BPKB motor tersebut di dalam tas slempangnya.”
Rasta terhenyak mendengar ini, lantas memukul satu telapak tangannya dengan kepalan tangan lainnya dengan raut wajah penuh sesal. Dia memang memerintahkan menghancurkan kendaraan yang dipakai Chloe, tapi tidak menyangka malah merusak motor milik Kirana yang diyakini satu-satunya sarana untuk si nona menghasilkan uang sehari-hari dengan mengojek.
Vian menghela napas, semua sudah terjadi, hanya bisa memungut kepingan penyesalan.
“Vian!” terdengar suara si bos, “Lantas di mana motor itu?”
“Masih saya caritahu dengan bantuan Jendral Barley, tuan. Karena saat orang-orang kita menciduk nona Kirana, otor itu dibiarkan tergeletak di jalan raya.”
Rasta mendengar ini bertambah menyesal karena dia memang memerintahkan agar kendaraan yang sudah dihancurkan dibiarkan saja di jalanan atau di mana saja.
“Tuan, kalau sudah diketahui di mana motor itu, apa yang anda inginkan?”
“Taruh saja di Polda Metro Jaya.” Sahut Rasta, “Lantas kamu belikan satu motor matic yang serupa keluaran tahun terbaru untuk menggantikan motor gadis itu.”
“Maaf tuan, motor itu sudah tidak diproduksi lagi. Tipe motor itu kan tercantum di BPKB dan STNK punya nona Kirana. Lantas juga motor itu motor second karena nama pemilik bukan nona Kirana.”
“Ya Tuhanku dewa penolongku!” desau Rasta terhenyak lagi, “Kenapa kalian semua dungu?” disemprot sang asisten karena tidak menyelidiki dulu siapa yang diculik orang-orangnya, “Ya sudah kalau begitu, kamu kirim orang-orang itu keluar kota di ujung Indonesia ini!” diperintahkan agar si asisten mengirim orang-orang tersebut keluar dari Jakarta, “Lantas kamu beli motor matic baru saja dari dealer, tidak beli yang second. Ribet nanti Kirana saat memperpanjang STNK dan BPKB.”
“Baik, tuan.”
Lantas dari bilik Kirana keluar dokter Mahmud,
“Maaf semuanya!” terdengar suara si dokter, “Apa ada keluarga nona Kirana Asmara Pratama di sini?”
Rasta mendengar ini segera berdiri dan bergegas mendekati sang dokter.
“Dok!” disapa pria itu, “Saya keluarganya.” Dia mengaku sebagai keluarga sang nona.
“Anda keluarganya? Suami beliau kah?”
Rasta tersentak mendengar pertanyaan tersebut, lantas menghela napas, memang pantas kah dia dikira suami sang nona? Lantas apa si dokter buta huruf, karena pasti dalam lembaran status medis pasien tercantum tulisan nona di depan nama Kirana, mengapa bertanya apa Rasta suami sang nona.
Vian hendak memberi jawaban, tapi,
“Iya dok, saya suami dia.” Sahut Rasta cepat, apa boleh buat mengaku sebagai suami si nona, agar tidak diketahui dia yang membuat sang gadis babak belur. “Gimana keadaannya, dok?” dialihkan pembicaraan karena dia sangat ingin tahu kondisi Kirana saat ini.
“Lukanya tidak berbahaya, hanya perlu dirawat beberapa hari di sini.” Sahut dokter Mahmud, “Maaf, apa yang sebenarnya terjadi dengan istri anda? Saya melihat dia dianiaya dan diperkosa.”
Dhuar, Rasta merasa bagai dihantam puluhan granat diberi pertanyaan tersebut. Vian yang bersamanya hanya menahan napas karena ikut tertohok.
“Tuan?” dokter Mahmud menegur si bos.
“Emm,” Rasta memutar otak cerdas, “Dok, baiknya anda bikinkan visum agar Vian asisten saya membawanya ke paman saya yang petugas kepolisian.” Dia tidak memberikan jawaban yang diinginkan si dokter.
“Baik, tuan.” Sang dokter paham mengenai Kirana adalah urusan keluarga, “Saya segera siapkan kamar perawatan untuk istri anda.”
“Baik, dokter.” Rasta setuju, “Vian, kamu urus administrasi kamar itu. Minta kamar VVIP untuk istri saya itu.” Diberi tugas tambahan ke sang asisten.
“Baik, tuan.” Sahut pria tersebut, “Tuan, baiknya anda menemui nyonya.” Dia minta si bos menemui Kirana, agar kebohongan sang atasan tidak terbongkar di depan dokter Mahmud.
“Iya Vian.” Rasta paham permintaan asisten setia ini, “dok, saya bisa menemui istri saya?” dia bertanya dulu ke dokter Mahmud.
“Silahkan.” Sang dokter memberikan izin.
“Terima kasih.” Sang presdir mengucapkan terima kasih, lantas bergegas masuk ke dalam bilik dengan raut wajah cemas.
Begitu di dalam bilik dia terhenyak melihat Kirana berbaring dengan wajah pucat berhiaskan beberapa red border line berbubuhkan obat luka. Di lubang hidung si gadis terpasang selang nasal, lantas di pucuk salah satu tangan terpasang jarum infusan.
Hatinya menjadi bertambah bersalah ke gadis ini. Pelan dia duduk di kursi menghadap sang gadis. Diamati rupa gadis ini dengan teliti.
‘Hmm,’ desaunya, ‘Gadis ini jauh lebih cantik dari Chloe.’ Dia menilai rupa si gadis lebih cantik dari Chloe perempuan yang menghinanya, ‘Kecantikannya begitu alami, bukan dempulan make up.’ Imbuhnya merasa kecantikan yang ada begitu alami, ‘Maafkan aku.’ Bisiknya dengan nada penyesalan, ‘Aku akan bertanggungjawab menyembuhkan semua lukamu ini.’ Imbuhnya berjanji bertanggungjawab menyembuhkan nona malang tersebut.
Pria ini menghela napas, teringat kembali saat menganiaya dan memperkosa Kirana. Hatinya menjadi nyeri penuh penyesalan karena merusak si gadis. Lantas jika ini diketahui Bastian sang kakek, dia pasti kena hukuman berat, karena si kakek pantang membiarkan pria menganiaya perempuan, apalagi sampai memperkosa.
Tidak lama kedua mata Kirana bergerak-gerak. Gerakan ini dilihat Rasta. Pria ini spontan saja mengulurkan satu tangan untuk menepuk-nepuk pelan salah satu pipi si gadis agar dibantu bangun.
Sang gadis pun terjaga, membuka kedua matanya, langsung melihat Rasta dihadapannya. Maniknya terbelalak sebab masih mengingat sosok pria tersebut yang tega menganiaya dan memperkosa dia.
“Akh!” menit kemudian terdengar jeritannya yang penuh ketakutan dan kemarahan, “Akh!”
Rasta tergelegep mendengar ini, lantas kebingungan karena teringat pula bagaimana dia melakukan kekejaman ke gadis tersebut.
“Akh!” kembali terdengar suara jeritan Kirana, “Jangan!” dia yang dipenuhi ketakutan mengira Rasta akan kembali menerkamnya, “Akh!” dia pun segera bangun sambil mengibaskan tangan untuk menyingkirkan tangan tuan presdir yang tadi menepuk pipinya, “Pergi kamu! Kamu biadab! Pergi!” jeritnya mengusir pria itu yang semakin terlihat kebingungan.
Jelas kebingungan karena dipenuhi penyesalan yang datang terlambat, lantas sifat pria ini pun arogan enggan mengakui sudah berbuat kesalahan.
Vian dan dokter Mahmud mendengar jeritan ini, segera ke dalam bilik, lantas menemukan Kirana histeris mengibas-kibaskan tangan mengusir Rasta.
“Nyonya!” seru si asisten cepat mengatasi masalah karena dilihat si bos kebingungan menghadapi Kirana, “Nyonya!” beliau memanggil sang nona dengan nyonya, “Anda tenanglah!” diminta si gadis untuk tenang, “Beliau ini tuan Rasta, suami anda.” Imbuhnya menunjuk sang atasan saat nona tersebut memandangnya heran karena dipanggil dengan nyonya.
“Suami aku?” Kirana terkaget mendengar ini, dipandang Rasta dengan sorot mata penuh kemarahan, “Dia bukan suami aku! Dia pria tidak waras yang sembarangan menganiaya dan memperkosaku karena mengira aku adalah Chloe perempuan yang menghinanya!” disemburkan kemarahannya.
Dhuar, Rasta dan Vian terkaget mendengar ini, saling berpandangan, harus melakukan apa karena Kirana mengatakan semua itu dengan suara lantang.