Bab 1

Saat ini, Regina Hardian sedikit tenggelam dalam lamunannya sendiri.

Sejak siang tadi, semua yang bisa dia pikirkan hanyalah kata-kata dari dokter. "Selamat! Kamu hamil."

Tiba-tiba, Malvin Dirga mencubit lengannya dengan kuat dan menariknya kembali ke dunia nyata. Suara berat khas miliknya terdengar pada detik berikutnya. "Berhentilah melamun. Apa yang sedang kamu pikirkan?"

Sebelum dia sempat menjawab, Malvin mencium Regina dengan liar setelah memegang bagian belakang kepalanya dengan penuh kasih.

Kemudian, pria itu menuju kamar mandi.

Di tempat tidur besar, Regina terbaring tak bergerak. Helaian rambutnya yang basah kini menempel di pelipis dan pipinya. Dia menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca. Tubuhnya yang tanpa pakaian sedikit nyeri.

Setelah beberapa saat, dia mengeluarkan laporan tes kehamilan dari laci nakas.

Regina pergi ke rumah sakit karena terus-menerus mengalami rasa sakit perut yang mengganggu. Setelah menjalani tes urine, dokter menyampaikan kabar tersebut padanya. Usia kehamilannya hampir mencapai lima minggu!

Berita ini tentu sangat mengejutkannya. Dia dan Malvin selalu menggunakan pengaman setiap kali mereka melakukannya.

Setelah memutar otak, dia menelusuri ingatannya agar bisa menemukan waktu dia mulai hamil. Ternyata itu terjadi bulan lalu, setelah sebuah pesta. Malvin mengantarnya pulang dan tiba-tiba bertanya di depan pintu apakah dia dalam masa aman.

Sekarang, dia sadar bahwa waktu itu jauh dari masa aman!

Suara gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi. Malvin adalah suaminya. Sudah dua tahun mereka menikah secara diam-diam. Suaminya sendiri menjabat sebagai CEO Grup Dirga, yang juga merupakan atasannya di tempat kerja.

Semua ini terjadi begitu cepat. Dia baru saja bekerja di perusahaan tersebut ketika mereka secara tidak sengaja melakukannya untuk pertama kalinya setelah menghadiri pesta.

Beberapa hari kemudian, kakek Malvin jatuh sakit parah. Saat itulah Malvin menawarkan pernikahan palsu hanya untuk memenuhi keinginan kakeknya yang sekarat.

Mereka menandatangani perjanjian pranikah, setuju untuk menyembunyikan pernikahan mereka dari mata publik. Pernikahan mereka dapat diakhiri kapan saja.

Itu adalah hal yang tidak biasa untuk dilakukan. Namun, saat itu, Regina hanya menganggap dirinya beruntung.

Bahkan dalam mimpi, dia tidak pernah menyangka dia akan menikah dengan pria yang telah dia sukai selama delapan tahun. Dia menyetujuinya dengan senang hati.

Setelah pernikahan mereka, Malvin sangat sibuk. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja.

Regina berharap dia bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya di rumah. Namun, dia merasa tenang karena tidak ada rumor atau skandal apa pun tentang Malvin bersama wanita lain dalam dua tahun terakhir pernikahan mereka.

Selain sedikit ketidakpedulian yang dia tunjukkan, Malvin adalah seorang suami yang sempurna.

Perasaan Regina campur aduk saat menatap hasil tes kehamilan.

Akhirnya, dia memutuskan untuk mengungkapkan kehamilannya pada Malvin.

Untuk pertama kalinya, dia juga ingin memberitahunya bahwa dia belum mempelajari apa pun tentangnya sejak dua tahun lalu dan dia telah menyukainya selama bertahun-tahun sebelum mereka menikah.

Gemericik air di kamar mandi akhirnya berhenti.

Begitu Malvin keluar, ponselnya berdering. Dia pergi ke balkon hanya dengan handuk mandi dan menjawab panggilan tersebut.

Regina memeriksa waktu dan ternyata saat ini sudah tengah malam.

Entah kenapa, dia merasa tidak nyaman. Siapa yang akan menelepon Malvin di jam segini?

Malvin menghabiskan beberapa menit di balkon. Setelah itu, dia kembali ke kamar dan menanggalkan handuk mandinya.

Tubuhnya sungguh menarik untuk dilihat. Ada otot-otot menonjol yang menghiasi perutnya. Pinggulnya keras dan kakinya jenjang serta berotot. Sederhananya, pria ini memukau!

Ini bukan pertama kalinya Regina melihatnya tanpa pakaian. Meski begitu, dia masih tersipu dan jantungnya mulai berdebar kencang saat ini.

Malvin yang tidak menyadari tatapan mata yang tertuju padanya, mengambil kemeja dan celana jasnya dari tempat tidur. Dia mengenakannya dan kemudian mengikat dasinya dengan jari rampingnya. Garis wajah di wajah tampannya terlihat jelas, membuat Malvin tampak lebih berwibawa malam ini.

Dia sangat memanjakan mata.

"Tidak perlu menungguku pulang. Selamat malam," ucapnya.

Apa? Malvin hendak pergi? Tengah malam begini?

Cengkeraman tangan Regina pada hasil tes kehamilan semakin erat saat dia menatapnya dengan kecewa. Tanpa sadar, dia sedikit mundur. Setelah berpikir sebentar, dia berseru, "Ini sudah larut malam."

Jari-jari Malvin membeku di dasinya. Dengan senyum tipis, dia mencubit daun telinga istrinya dan bertanya, "Apakah kamu tidak ingin tidur malam ini?"

Mendengar pertanyaan ini, wajah Regina memerah seluruhnya. Jantungnya berdebar keras di dalam rongga dadanya. Dia hendak mengatakan sesuatu ketika Malvin melepaskannya dan berkata, "Jadilah gadis yang baik, oke? Ada sesuatu yang perlu kulakukan. Tidak perlu menungguku pulang."

Setelah mengucapkan itu, dia berjalan menuju ke pintu.

"Malvin."

Regina berlari dengan cepat dan berhasil mengejarnya.

Malvin berbalik dan memandangnya dengan serius.

"Ada apa?"

Ada sedikit aura dingin dalam suaranya. Awan es menyelimuti mereka saat mereka saling menatap satu sama lain.

Sedikit tertekan, Regina bertanya dengan suara pelan, "Aku ingin mengunjungi nenekku besok. Bisakah kamu menemaniku ke sana?"

Neneknya sudah tua, tubuhnya lemah dan sakit-sakitan. Dia selalu ingin bertemu dengannya. Alhasil, Regina ingin mengajak Malvin ke sana untuk meyakinkan neneknya bahwa mereka bahagia.

"Mari kita bicarakan ini besok, oke?" Tanpa menyetujui atau menolak, Malvin buru-buru pergi.

Berbagai macam pikiran terlintas di benak Regina saat dia mandi dan kembali ke tempat tidur. Dia sama sekali tidak bisa tidur.

Setelah cukup lama bolak-balik, dia bangun dari tempat tidur dan membuat segelas susu hangat untuk dirinya sendiri.

Beberapa notifikasi dari blog online masuk ke ponselnya.

Namun, dia tidak tertarik untuk memeriksanya. Ketika dia hendak menghapusnya, salah satu dari notifikasi yang masuk menarik perhatiannya. Nama yang familier itu membuatnya mengekliknya.

Berita itu berbunyi, "Hari ini, desainer terkenal, Leviana Mores terlihat di bandara bersama pacar misteriusnya."

Leviana mengenakan topi model ember. Sosok pria itu sedikit buram, tetapi bentuk tubuhnya cukup untuk menunjukkan bahwa dia tampan.

Regina memperbesar foto dalam artikel. Detik berikutnya, hatinya dipenuhi kesedihan.

Pria di foto itu tidak lain adalah Malvin!

Jadi, dia membatalkan rapat sore tadi hanya untuk menjemput mantan pacarnya dari bandara?

Regina linglung, seolah-olah ada batu besar di perutnya saat dia menyadari fakta ini.

Tangannya gemetar. Tanpa sadar, dia mencoba menelepon nomor Malvin.

Nada sambung yang terdengar di telinga menariknya kembali ke dunia nyata. Saat dia hendak menutup telepon, panggilan tersambung, dan sebuah suara datang dari ujung sana.

"Halo!"

Itu bukan suara Malvin, melainkan suara wanita yang sangat lembut.

Regina membeku sesaat lalu melempar ponselnya.

Dia tiba-tiba merasa mual di perutnya dan tenggorokannya tercekat.

Dengan tangan menutup mulutnya, dia berlari ke kamar mandi dan muntah di toilet.

Bab 2

Keesokan paginya, Regina berangkat kerja tepat waktu.

Malvin telah mencoba membuatnya berhenti bekerja setelah mereka menikah. Keras kepala dengan keputusannya, dia bersikeras menghasilkan uang sendiri.

Malvin tidak menentang keputusannya, tetapi dia memintanya untuk bekerja sebagai asistennya, membantunya melakukan pekerjaan sehari-hari.

Asisten utama Malvin yang bernama Musafa Jasri dibiarkan mengurus pekerjaan besar yang dimiliki Malvin.

Musafa adalah satu-satunya karyawan Grup Dirga yang mengetahui pernikahan mereka.

Sejak awal, hanya asisten pria yang bisa bekerja di kantor CEO. Regina adalah wanita pertama dan satu-satunya di sana. Penempatannya melanggar protokol yang sudah ditetapkan. Alhasil, karyawan lain bertanya-tanya apakah dia menjalin hubungan dengan Malvin.

Butuh beberapa saat sebelum mereka menyadari bahwa Malvin tidak pernah memberi perlakuan khusus pada Regina. Anehnya, hal ini membuat mereka semakin membencinya.

Lagi pula, tidak ada seorang pun yang akan bertahan lama dalam hal apa pun hanya dengan memanfaatkan penampilan mereka saja. Jadi, aneh sekali Regina mampu mempertahankan pekerjaannya selama ini.

Saat ini, salah satu rekan Regina menyerahkan sebuah dokumen dan memerintahkannya untuk membawanya ke kantor Malvin.

Semalam, Malvin tidak pulang ke rumah. Regina sangat khawatir hingga dia sama sekali tidak bisa tidur.

Yang dia pikirkan hanyalah wanita yang mengangkat panggilan teleponnya ketika dia menelepon. Apakah Malvin menghabiskan malam bersama wanita itu?

Regina sudah tahu jawabannya, tetapi dia masih berusaha menyangkal kenyataan.

Sulit baginya untuk menerima kenyataan tersebut.

Regina mencoba untuk tetap tenang sekarang. Dia beralasan bahwa apa pun yang terjadi, dia pantas mendapatkan akhir yang baik atas tahun-tahun yang dia habiskan untuk mencintai Malvin. Semua ini tidak mungkin berakhir sia-sia, kan?

Dia menekan tombol lift dengan tenang dan pergi ke kantor CEO. Sebelum dia keluar dari lift, dia merapikan rambutnya untuk memastikan dia tampil rapi.

Dia tiba di kantor, hanya untuk melihat bahwa pintunya sedikit terbuka. Suara seorang pria mencapai telinganya dan dia langsung berhenti berjalan.

"Ayolah, Bro! Sebenarnya kamu menyimpan perasaan pada Regina atau tidak?"

Suara itu milik Lugi Sanjaya, teman masa kecil Malvin.

"Apa sebenarnya maksud di balik pertanyaanmu itu?" tanya Malvin balik dengan suara dingin.

"Kamu tahu persis apa maksudku!" Lugi mendecakkan lidahnya dengan tidak sabar dan menambahkan, "Menurutku Regina adalah wanita yang baik. Benarkah dia bukan tipe yang kamu sukai?"

"Bagaimana kalau aku memperkenalkannya padamu?" tanya Malvin tanpa pikir panjang.

"Ah, sudahlah, lupakan saja!"

Tawa mengejek Lugi terasa sangat menusuk di telinga Regina.

Mereka membicarakannya seolah-olah dia adalah sebuah objek.

Regina menarik napas dalam-dalam dan mempererat cengkeramannya pada dokumen yang dia bawa.

Tidak lama kemudian, suara Lugi kembali terdengar.

"Omong-omong, aku melihat berita gosip tentang pacar misterius Leviana pagi ini. Itu adalah kamu, kan?"

"Ya, itu aku."

"Wah, wah! Kamu masih sepenuhnya berada di dalam genggaman tangan wanita itu. Kamu selalu ingin menyenangkan hatinya."

Lugi menghela napas dan terus menggoda Malvin. "Kalian berdua telah menghabiskan malam bersama. Seperti pepatah lama, perpisahan justru semakin mendekatkan hati. Katakan padaku, apakah kalian berdua ...."

Percakapan mereka seperti petir di siang bolong bagi Regina.

Wajahnya memucat dan tubuhnya sedingin es.

Leviana dan Malvin telah menghabiskan malam bersama!

Perpisahan justru semakin mendekatkan hati!

Setiap kata seolah menancapkan sebuah pisau ke dalam hatinya.

Beberapa suara bisikan memenuhi benaknya sekarang. Dia tiba-tiba merasa akan jatuh pingsan, penglihatannya menjadi kabur.

Dia memegang dinding dan mengambil satu langkah mundur. Tiba-tiba pintu kantor CEO terbuka dari dalam.

"Regina?"

Ternyata Lugi-lah yang membuka pintu. Tampaknya dia hendak pergi.

Regina mengepalkan tangannya, menoleh padanya, dan mengangguk untuk menyapa. "Halo, Pak Lugi!"

Tanpa menunggu pria itu menanggapi sapaannya, dia berjalan melewatinya dan memasuki kantor dengan membawa dokumen yang perlu diantarkan.

Seperti biasa, Malvin duduk di belakang meja kerja besar yang mewah. Pria itu mengenakan jas mahal dan dasi yang serasi, terlihat sangat tampan.

Regina menyadari bahwa jas Malvin berbeda dengan yang dikenakan saat meninggalkan rumah semalam.

Dengan mata menatap ke bawah, dia menelan pertanyaan itu dan malah berkata, "Pak Malvin, ini dokumen dari Departemen Pemasaran. Tolong tanda tangani."

Dengan wajah tanpa ekspresi, Malvin menandatangani dokumen itu setelah melirik sekilas.

Regina langsung berjalan keluar pintu setelah pria itu mengembalikan dokumen tersebut padanya. Di tengah semua ini, Lugi masih berdiri di ambang pintu.

Baru setelah Regina sepenuhnya menghilang dari pandangan, Lugi menoleh ke arah Malvin dan berkata dengan nada berbisik, "Aduh! Apakah menurutmu dia mendengar obrolan kita tadi?"

Saat ini, tidak ada emosi apa pun di mata Malvin yang menawan. Jelas dia tidak memperhatikan apa yang dikatakan Lugi.

Bagi Malvin, Regina selalu patuh dan tidak pernah merasa cemburu pada siapa pun.

Selama wanita itu berperilaku dengan baik, dia akan memperlakukannya dengan baik.

Sementara itu di dalam lift.

Regina menahan napas hanya untuk mengerahkan seluruh tenaga agar bisa menahan air matanya agar tidak tumpah. Sayangnya, itu sama sekali tidak membuahkan hasil.

Dia mengira dua tahun akan cukup bagi Malvin untuk menyadari betapa dia mencintainya dan membuatnya membalas cintanya.

Kini, ternyata itu hanya sebatas impian belaka.

Baru sekarang, dia menyadari bahwa dia akan selalu menjadi orang kedua di hati Malvin setelah Leviana, wanita yang jelas menjadi cinta sejati Malvin.

Ketika lift berhenti di lantai tujuannya, Regina menyeka air matanya. Selain wajahnya yang pucat, dia tampak normal ketika pintu terbuka.

Dia memaksakan diri pergi ke ruang istirahat, berniat membuat secangkir teh untuk dirinya sendiri.

Sekarang, ada beberapa karyawan sedang asyik mengobrol di dalam ruang istirahat.

"Sudahkah kalian mendengar kabar? Leviana Mores sudah kembali!"

"Siapa dia?"

"Astaga! Kamu tidak tahu siapa dia? Leviana adalah pewaris Grup Mores sekaligus desainer kelas dunia. Yang terpenting, dia satu-satunya pacar yang pernah dipamerkan Pak Malvin di depan umum. Dari yang aku dengar, dia adalah cinta pertama Pak Malvin!"

"Kenapa kepulangannya seolah-olah merupakan berita besar? Bukankah ada rumor yang mengatakan bahwa Pak Malvin mungkin menjalin hubungan dengan Regina?"

"Regina? Mungkin dia salah satu dari banyak wanita yang menjadi mainannya. Pak Malvin tidak pernah mengakui bahwa dia berkencan dengannya dan ini sama sekali tidak mengherankan bagiku. Lagi pula, lihatlah dia. Dia bahkan tidak secantik itu, tapi dia bertingkah seolah-olah dia sudah menjadi nyonya rumah Keluarga Dirga. Sungguh naif!"

Berdiri di pintu, Regina tersenyum mengejek diri sendiri saat dia mendengarkan obrolan mereka. Ternyata selain dia, semua orang dapat melihat kebenarannya.

Cintanya bertepuk sebelah tangan.

"Hahaha ... apakah nyonya rumah Keluarga Dirga akhirnya terbangun dari mimpi liarnya?"

Suara mengejek tiba-tiba terdengar dari belakang. Regina berbalik untuk melihat Teresa Liborius, sepupu Malvin, yang selalu membencinya.

Teresa pasti juga telah mendengar para karyawan bergosip.

Bab 3

Hal yang paling tidak ingin dilakukan Regina sekarang adalah berdebat dengan Teresa di perusahaan. Dia berbalik untuk pergi, tetapi Teresa menghalangi jalannya.

Dengan secangkir kopi di tangannya, Teresa berkata dengan sinis, "Kak Leviana sudah kembali sekarang. Apakah menurutmu Kak Malvin masih akan memedulikanmu?"

Regina memilih diam, tidak memberi tanggapan apa pun.

Beberapa detik kemudian, Teresa mengejeknya lebih jauh. "Aku dengar kamu cukup terampil di tempat tidur. Bagaimana kalau aku mengenalkanmu pada beberapa pria? Mereka bisa mencoba menggunakan layananmu nanti."

Regina mengepalkan tangannya dan berkata dengan dingin, "Nona Teresa, kita sedang berada di perusahaan, bukan di tempat hiburan. Jika kamu tertarik dengan bisnis semacam itu, kamu tahu ke mana harus pergi."

"Kamu!"

Baru saja, Regina menyindir bahwa dia adalah seorang penjual pria. Ini membuat wajah Teresa berubah.

Detik berikutnya, Teresa mengangkat tangannya dan menuangkan secangkir kopi panas ke seluruh tubuh Regina.

Regina tidak menyangka bahwa Teresa akan melakukan hal gila semacam ini. Dia mengangkat lengannya agar bisa menghalangi cairan panas dari wajahnya. Dalam waktu singkat, kopi panas tersebut membakar lengannya dan kulitnya menjadi merah.

"Aduh!" Regina mengernyit kesakitan. "Kenapa kamu melakukan itu? Apakah kamu sudah gila?"

Sekarang adalah jam istirahat makan siang dan banyak karyawan yang luang untuk menonton drama tersebut. Teresa bahkan semakin berpuas diri ketika dia melihat penonton terus bertambah.

Dia memasang wajah judesnya sambil berkata, "Apa yang membuatmu bisa bersikap begitu arogan setiap hari, hah? Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa orang lain tidak tahu bahwa kamu hanya anak di luar nikah yang tidak memiliki orang tua? Beraninya kamu ...."

Tiba-tiba terdengar suara nyaring yang bergema ke seluruh ruangan.

Teresa bungkam karena tamparan panas yang mendarat di wajahnya.

Dia terpana sampai melongo. Dia tidak pernah menyangka Regina yang biasanya pendiam dan penakut sampai berani menamparnya.

Teresa memegangi pipinya dan menatap kosong beberapa saat. Kemudian, dia tergagap, "Kamu ... menamparku?" Beraninya kamu!"

Regina memandangnya dan menjawab, "Ya, benar! Aku sedang mengajarimu apa itu sopan santun."

Memang benar Regina kehilangan orang tuanya ketika dia masih kecil. Akan tetapi, itu tidak berarti dia akan membiarkan seseorang menghinanya karena itu.

Teresa begitu marah hingga wajahnya memucat. Sebagai sepupu Malvin, dia terbiasa dimanjakan dan dihormati oleh semua orang. Ini pertama kalinya dia diperlakukan seperti ini.

"Dasar tidak tahu malu!"

Teresa menerjang Regina seperti banteng yang mengamuk, mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk membalas tamparannya.

Kali ini, Regina sepenuhnya siap menghadapinya. Dia mencengkeram pergelangan tangan Teresa begitu erat sehingga Teresa tidak bisa bergerak sedikit pun.

Teresa lebih pendek dari Regina. Alhasil, Teresa meronta seperti gurita yang salah satu kakinya tersangkut di perangkap ikan.

Teresa mengumpat dengan marah, "Beraninya kamu menyentuhku dengan tangan kotormu? Kamu pikir kamu siapa? Kamu tidak lebih dari sekadar mainan Malvin. Kamu lebih buruk dari wanita yang sudah tidur dengan banyak pria!"

Perkataan kasar ini menarik lebih banyak orang ke ruang istirahat.

"Cukup!"

Tiba-tiba, suara bariton datang dari belakang. Malvin telah meninggalkan kantornya dan tidak sengaja menemui keributan ini.

Seluruh ruangan seketika sunyi.

"Kak Malvin?" Darah Teresa menjadi dingin saat melihat Malvin. Sejak dulu, dia selalu takut padanya. Ibunya juga memperingatkannya agar tidak membuatnya marah.

Namun, ketika dia ingat Regina menamparnya, dia memasang ekspresi memelas dan mulai menangis. "Kak Malvin, lihat wajahku. Dia sudah menamparku."

Sinar matahari dari luar menyinari wajah tampan Malvin.

Tiba-tiba Regina merasa sangat sedih, dan menundukkan kepalanya untuk melihat bagian belakang lengannya yang melepuh karena kopi.

Tatapan mereka sekilas bertemu di udara. Dengan kerutan dalam di wajahnya, Malvin memandang Regina dan berkata, "Regina, apakah kamu lupa peraturan perusahaan?"

Kekejaman yang dia tunjukkan membuat napas Regina terhenti. Dia tidak bisa memercayai apa yang baru saja didengarnya.

Tidak ada satu orang pun yang berani bersuara sekarang.

Regina hanya berdiri tegak di tempat.

Ketika dia dipekerjakan di sini, Malvin memberitahunya bahwa Grup Dirga bukanlah tempat baginya untuk bermain-main dan pria itu tidak akan membiarkannya melakukan kesalahan apa pun.

Regina bisa mengerti kenapa pria itu mengambil keputusan tegas ini.

Namun, saat ini, dia sangat penasaran apakah Malvin telah mendengar kata-kata ejekan yang dilontarkan yang Teresa itu atau dia hanya pura-pura tidak mendengar karena dia menyetujui kata-kata tersebut.

Apakah pria itu benar-benar melihatnya sebagai mainannya?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED