“Pokoknya elu kagak boleh nikah sebelum Mpok lu nikah!” Terdengar suara wanita sedikit serak begitu lantang dari ruang tamu.
“Ya gak bisa gitu dong, Nyak. Aye udah kepengin nikah nih! Udah ade jodohnye. Masa iye harus nunggu Mpok nikah dulu? Emangnye Mpok udah ada jodohnye? Beluman pan.” Kali ini suara lainnya mendebat.
Desahan pelan meluncur dari bibir seorang gadis yang sedang berdiri di depan cermin berukuran besar. Bola mata bulatnya berputar malas ketika mendengar perdebatan dengan topik yang sama selama satu minggu belakangan. Apalagi seputar permasalahan adiknya yang ingin menikah, tapi terhalang restu orang tua.
Lebih tepatnya sang Adik belum diperbolehkan menikah, jika dirinya masih melajang. Artinya, setelah ini, ia akan dicecar lagi dengan teror yang sangat menakutkan bagi wanita lajang berusia kepala tiga. Apalagi jika bukan masalah jodoh.
Gadis itu memastikan lagi rambut model bob yang menjadi ciri khasnya sejak dulu, telah disisir dengan rapi. Setelah mencantolkan tas ransel di pundak, ia melangkah keluar dari kamar seolah tidak mendengar percakapan yang sedang terjadi.
“Pergi dulu, Nyak, Cit. Dah!” teriaknya dari radius lima meter.
“Mpok tunggu dulu!”
“Dian. Sini lu!” panggil dua orang perempuan berbeda generasi itu bersamaan.
Tubuh yang hanya memiliki tinggi 160 centimeter dan berat ideal itu berputar 180 derajat. Lagi-lagi mata bulatnya menatap malas.
“Aye mau ada wawancara dua jam lagi sama politikus, Nyak. Nggak ada waktu lagi.” Gadis bernama Dian itu mengetuk ujung jari telunjuk di bagian lingkaran jam tangan merek Casio, berwarna biru muda yang dikenakan di tangan kanan.
“Mpok buruan cari jodoh gih. Masa aye mau nikah gak dibolehin Nyak,” protes adiknya dengan wajah berkerut-kerut.
“Udah nikah aja sih. Emang ada peraturan adik nggak boleh nikah kalau kakaknya belum nikah?” balas Dian memalingkan wajah malas.
Sang Ibu membuang napas pendek sebelum menghampiri putri sulungnya. “Mau sampai kapan lu jadi anak perawan? Inget umur lu, Di. Nyak juga udeh kagak mude lagi. Udeh tue. Kapan mau gendong cucu?”
“Babe lu udeh kagak ade, siapa nyang mau jagain lu kalau Nyak udeh meninggal?” sambung sang Ibu dengan logat Betawi kental.
Dian menarik napas dalam, sebelum mendekati ibunya. Kedua tangan naik, lalu menggenggam bahu yang terasa sedikit keras. Mata hitam dihiasi kelopak yang tidak terlalu lebar itu menatap paras wanita yang telah melahirkannya. Tampak kerutan menghiasi daerah sekitar netra dan dahi.
Dalam hati ia menyadari, wanita paruh baya itu tidak lagi muda. Tuhan bisa saja mengambilnya sewaktu-waktu, seperti yang terjadi dengan sang Ayah.
“Aye juga kepengin banget nikah, Nyak.” Dian memandang mata yang terlihat begitu lelah. “Apalagi Keysa juga udah nikah nyusul Gita, Rara dan Ina.”
Nama-nama yang disebutkan barusan adalah nama keempat sahabat Dian. Mereka semua bergabung di dalam geng Remponger5 yang beranggotakan lima orang perempuan kece dengan karakter berbeda. Meski yang lain sudah menikah, mereka masih sering bertemu ketika akhir pekan. Tentunya minus Raline yang sekarang menetap di London, bersama suami bulenya.
Tawa getir meluncur dari bibir tipisnya. “Tapi belum nemu orang yang bisa bikin hati bergetar. Gimana dong?”
“Cinte bisa tumbuh setelah nikah, Di. Buktinya Nyak dan Babe. Makenye lu coba ketemu dulu sama yang mau Nyak ketemuin itu,” tutur Royati, ibu Dian.
“Bener tuh, Nyak. Buktinye Kak Raline dan Mas Aaron. Cinta setelah nikah,” imbuh sang Adik semangat.
Dian langsung memelototi adiknya, Citra. Bibirnya bergerak tidak jelas dengan gigi beradu.
“Doakan aja Dian ketemu jodoh hari ini ye, Nyak. Sekarang aye mau kerja dulu. Dua jam lagi mau ada interview sama Krisdayanti. Susah ganti jadwal interview lagi sama anggota dewan.” Dian memberi kecupan di kedua belah pipi sang Ibu, kemudian ngacir dari sana.
Embusan napas lega keluar begitu saja setelah berhasil keluar dari rumah tanpa hambatan lagi. Sekarang saatnya fokus bekerja, karena harus berjibaku dengan waktu. Bekerja sebagai wartawan membuat Dian sangat menghargai waktu, jika tidak karirnya akan habis.
Langkah kaki yang tidak terlalu panjang itu bergerak menuju kendaraan Toyota Veloz berwarna silver. Di bagian dinding tertulis logo dan nama Yohwa.com and Magazine, tempat Dian bekerja saat ini. Sebuah perusahaan modal saham asing, milik Indonesia dan Korea. Gadis itu bekerja sebagai wartawan di berita politik, karena tidak suka dengan gosip artis.
“Oke, kita pantau jalanan ke senayan dulu pagi ini.” Dian menyalakan monitor yang ada di dashboard kendaraan. Dalam hitungan detik tampilan map wilayah Jakarta muncul di sana. Jari tangannya mengetikkan alamat yang dituju.
“Syukur belum macet. Untung aja Nyak nggak ceramah panjang, jadinya nggak telat,” gumamnya lagi kemudian.
Dian menghangatkan kendaraan yang dipinjamkan kantor tadi malam, karena hari ini ada beberapa tempat tujuan yang harus didatangi. Motor yang biasa digunakan ke mana-mana mendadak ngadat, sehingga ia harus mengendarai kendaraan beroda empat hari ini.
Sembari menunggu mesin mobil hangat, ia memeriksa pesan di aplikasi whatsapp. Ruang obrolan pertama yang dibuka adalah grup Remponger5.
“Pagi-pagi udah rame aja mereka.” Dian tersenyum semangat membuka chat yang belum dibaca.
Mata hitam bulatnya berkedip pelan ketika membaca pesan dari Raline.
Rara Kambing: Guys, weekend ketemuan yuk! Gue pulang ke Jakarta besok. Kangen!!!
“Si Kambing pulang ke Jakarta?!” serunya tak percaya.
“Kangen gue sama lo, Mbing.” Dian bermonolog sembari senyam-senyum sendiri.
Tilikan matanya berpindah ke chat berikutnya. Kali ini dari Keysa, sahabat seperjuangan jomlo yang kini sudah menikah.
Keykey: Dian, ketemuan nanti bawa koleksi film lo ya. Butuh banget nih buat angetin ranjang.
Tawa Dian semakin lebar ketika membaca pesan Keysa. Ternyata hobi mengoleksi film dewasa yang ia miliki bisa bermanfaat bagi sahabat-sahabatnya. Gadis itu kembali meletakkan ponsel di dalam tas, lantas menatap lurus ke depan. Kepala yang dihiasi rambut pendek tersebut bersandar lesu ke jok mobil.
“Calon imam gue ada di mana sekarang?” lirihnya terdengar menyedihkan.
Jauh di lubuk hati terdalam, Dian ingin menikah seperti keempat sahabatnya. Apalagi usia sudah memasuki pertengahan tiga puluh. Benar-benar rawan jika belum menikah dalam waktu dekat.
“Ingat. Kalau mau cari cowok baik-baik, kalian cari di masjid subuh-subuh. Pilih yang masih single, jangan yang sudah beristri.”
Kalimat yang pernah dilontarkan kakak sahabatnya beberapa tahun lalu kembali terngiang.
“Ah, masa sih bisa cari di masjid?”
Dian mengangkat bahu singkat ketika hal yang menurutnya konyol terlintas di pikiran. Seumur hidup, ia hanya dua kali dalam setahun datang ke masjid, yaitu ketika salat Idul Fitri dan Idul Adha. Itu jika sedang mood. Salat lima waktu pun tidak pernah dilakukan. Jangan ditanyakan lagi apakah ia masih hafal bacaan salat atau sudah lupa. Hanya dia yang tahu jawabannya.
Tarikan napas panjang terdengar dari sela hidung, kemudian keluar perlahan melalui mulut. Jari tangan yang dihiasi gelang karet berwarna hitam itu bergerak menurunkan rem tangan. Dian langsung menginjak gas, sehingga dalam hitungan detik kendaraan berwarna silver telah meninggalkan pekarangan rumah yang tidak terlalu besar.
Sepanjang perjalanan, gadis itu bersenandung seraya menganggukkan kepala. Jari-jari lentik miliknya mengetuk pelan setir mobil mengikuti irama lagu Shape of You milik Ed Sheeran yang mengalun di radio. Hingga beberapa menit kemudian, kendaraan yang dikemudikannya harus melaju pelan ketika memasuki daerah berwarna merah di map.
“Pulo Gadung selalu macet dah,” keluhnya bersandar lagi di jok mobil.
Dian mengeraskan radio yang sekarang berganti memutarkan lagu melow dari penyanyi Indonesia Shanna Shannon berjudul Rela. Lirik lagu tersebut membuatnya kembali bernostalgia dengan kisah cinta yang pernah dirajut lima belas tahun lalu, tepat ketika ia mengenyam pendidikan di bangku universitas.
“Lo pasti udah nikah dan punya anak sekarang,” desisnya menempelkan kepala di dinding kaca pintu.
Gadis itu kembali menekan pelan gas mobil ketika kendaraan di depan maju. Biasanya setelah melewati seratus meter dari area ini, jalanan kembali normal. Saat kembali berhenti, tiba-tiba terdengar bunyi gesrek di samping mobil. Kepala yang dihiasi rambut model bob itu langsung menoleh ke kanan.
“Astaga!!”
Dian auto panik ketika tahu seorang pengendara motor baru saja menyerempet mobilnya. Tanpa berpikir panjang, ia segera turun melihat kondisi dinding mobil. Netra hitam bulat itu mendelik nyalang ketika mendapati goresan panjang dan sedikit penyok di bagian samping belakang kendaraan.
“Mas apa-apaan sih nyerempet mobil saya?” cetusnya berkacak pinggang.
Si pengendara motor yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam tersebut langsung turun, kemudian membuka kaca helm full face. Sepasang netra cokelat berbentuk almond terlihat di sana.
“Maaf, Mbak. Saya nggak sengaja,” ucapnya dengan sorot mata bersalah.
Tangan pria tersebut bergerak cepat mengambil dompet dari saku celana berbahan chino warna beige yang dikenakan. Dalam hitungan detik sebuah kartu nama sudah keluar dari dompet kulit berwarna cokelat tua.
“Sekali lagi maaf, Mbak. Saya akan bertanggung jawab, tapi sekarang nggak punya waktu untuk urus kerusakan mobil Mbak.” Pria itu menyerahkan kartu nama yang dipegang kepada Dian. “Ini kartu nama saya. Mbak bisa hubungi saya lagi untuk membahas biaya perbaikannya.”
Kening berukuran tidak terlalu lebar tersebut mengernyit rapat. “Wah, nggak bisa gitu dong, Mas! Ini mobil kantor, bisa runyam masalahnya kalau Mas kabur kayak gini.”
Kepala yang ditutupi helm full face itu bergerak ke kiri dan kanan. “Saya nggak berniat kabur, Mbak. Ini kartu nama saya, jadi Mbak bisa hubungi saya.”
“Mana jaminan kartu nama yang Mas kasih asli?” Kedua alis Dian naik ke atas sehingga membuat matanya membulat sempurna.
“Astaghfirullah, Mbak. Saya benar-benar nggak bermaksud menipu.” Pria itu melihat ke sekeliling, ternyata kendaraan di depan Dian telah bergerak ke depan sehingga mobil di belakangnya menyalakan klakson bersahut-sahutan.
“Saya harus tiba ke kampus lima belas menit lagi. Saya dosen di Universitas Islam daerah Cempaka Putih.” Pria itu masih mengulurkan tangan dengan sebuah kartu nama terselip di sela jari. “Ini benar-benar kartu nama saya.”
Dian menarik napas singkat kemudian menerima kartu nama tersebut. Pandangannya beralih kepada pria yang sejak tadi tidak melepaskan helm yang dikenakan. Tilikan netra hitam itu bergerak ke atas hingga bawah tubuh pria tersebut. Setidaknya penampilan orang yang mengaku dosen ini memang terlihat rapi, seperti karyawan kantoran.
“Awas kalau berani nipu saya!”—Dian mengingat plat nomor motor yang menyerempet mobil,— “Saya lapor polisi loh,” ancamnya kemudian dengan tatapan sengit.
“Saya jamin 100% kartu nama itu asli, Mbak. Sekali lagi saya minta maaf. Jangan lupa hubungi saya tiga jam lagi,” pungkas pria itu segera kembali lagi menaiki motor keluaran Yamaha N-Max terbaru.
“PINGGIRIN MOBILNYA WOOI!!” teriak salah satu pengemudi mobil yang terhalang oleh kendaraan Dian.
Perhatian gadis itu teralihkan kepada mobil yang sudah menyalakan klakson bergantian. Dian langsung menaiki kendaraan beroda empat tersebut, sebelum melihat lagi pria yang menyebabkan dinding bagian belakang mobilnya tergores.
“Fajar,” gumamnya pelan seraya membaca kartu nama yang ada di tangan. Sorot matanya tampak menyeramkan seketika. “Awas aja lo kalau coba nipu gue! Sampai ke akhirat bakalan gue kejar.”
Bersambung....
Hai jumpa lagi di novel keempatku di Ceriaca. Semoga suka dengan novel ini ya. Ceritanya ringan, gak seberat tiga novel sebelumnya. Enjoy and happy reading. ^^
Jangan lupa follow IG @Leena_gie yaa.
Dian keluar dari gedung nusantara dengan wajah semringah. Wawancara dengan narasumber selesai dilakukan, setelah menunggu hampir dua jam. Memang tidak mudah mewawancarai anggota DPR, apalagi jika yang bersangkutan tidak berada di kantor. Harus menunggu terlebih dahulu hingga datang.
“Pantesan aja artis banyak yang minat jadi anggota DPR. Duitnya gila!” gumam Dian bermonolog dengan kaki melangkah menuju area parkiran.
“Kerja bisa nyantai, duit masuk ratusan juta. Beda sama gue yang harus pontang-panting kerja demi sedikit cuan,” racaunya lagi setengah berbisik.
Ponsel bergetar di dalam saku ketika ia membuka pintu mobil. Dian mengetuk sekali earphone bluetooth yang terpasang di telinga kiri. Dalam hitungan detik terdengar suara pria di seberang sana.
“Gimana, Di? Sukses?” tanya suara bas.
Dian memutar bola mata seraya meletakkan tas ransel di kursi penumpang kiri mobil. “Sukses dong, Pak. Dian gitu loh!” sahutnya bangga.
“Krisdayanti bilang apa tentang statemen sebelumnya?” Pertanyaan lain diajukan oleh redaktur.
Gadis itu duduk di dalam mobil, kemudian menyalakan mesin. Dia bersandar seraya memukul pelan pundak dengan kepalan tangan.
“Biasa, Pak. Meluruskan berita sebelumnya. Katanya sih dana reses itu nggak masuk ke dana pribadi, tapi untuk kegiatan aspirasi daerah,” jelas Dian sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Krisdayanti saat wawancara tadi.
Dia baru saja mewawancarai penyanyi kondang Indonesia yang sekarang duduk di kursi DPR. Sang Artis sebelumnya sempat membuat geger dengan pernyataannya mengenai detail gaji dan uang yang diterima oleh masing-masing anggota perbulan.
“Kirim beritanya sekarang, biar saya masukkan berita headline,” suruh redaktur tempat Dian bekerja.
“Sekarang, Pak?” Mata hitam itu membulat sempurna.
“Iya sekarang!”
“Yah, nggak bisa sekarang banget, Pak. Belum saya tulis artikelnya,” sahut Dian dengan wajah mengerucut.
“Lima menit bisa ya?”
Bibir tipis Dian auto berkerut-kerut. Perut yang belum diisi sejak tadi pagi sudah mulai berdendang di dalam sana. Niat untuk memakan ketoprak di daerah Senayan terpaksa ditunda.
“Dian?” Ternyata redaktur masih menunggu jawabannya.
“Ya udah deh, Pak. Lima menit tanpa editing ya,” tawar Dian pasrah.
Pekerjaan yang dilakoni memang seperti ini, semua kejar tayang. Apalagi berkaitan dengan isu yang sedang panas. Pasti berlomba-lomba dengan media lain dalam meluncurkan berita.
“Lo harus kerja baik-baik dulu di sana, Di. Mulai dari bawah lagi, biar cepet naik jadi redaktur.”
Kalimat yang pernah dilontarkan Raline sewaktu dirinya baru bekerja di Yohwa.com and Magazine kembali terngiang. Sang sahabatlah yang merekomendasikan Dian bekerja di perusahaan ini, karena jenjang karir yang bisa dikatakan bagus.
Setelah panggilan berakhir, Dian langsung menuliskan hasil wawancara dalam bentuk artikel berita. Dengan keahlian sepuluh tahun sebagai wartawan, ia menyusun kata demi kata yang menarik tapi tidak keluar dari jalur. Semua sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Krisdayanti, meski diberikan bumbu penyedap.
Menjelang menit kelima, sebuah artikel berjudul ‘Bukan Masuk Kantong Pribadi, Inilah Fungsi Dana Rp 450 juta Anggota DPR’ berhasil dikirimkan melalui email. Dian juga menuliskan pesan ke aplikasi chat milik redaktur, agar membuka surat elektronik.
Tak lama sebuah pesan masuk ke ruangan obrolan yang sama.
Redaktur Keceh: Dian jangan balik ke kantor dulu. Langsung ke balai kota, ada berita hangat. Nanti saya kirim detailnya.
“Astaga, Pak. Tanya kek saya udah sarapan atau belum. Ini udah minta kirimin berita cepet-cepet, eh sekarang disuruh ke balai kota.” Dian kembali mengeluh melalui monolognya.
“Mana belum ke bengkel benerin pintu mobil lagi,” sambungnya langsung membuat mata hitam bulat itu kembali mendelik. Sesaat kemudian ia mengacak rambut saking frustasi.
“Kenapa sih apes banget hari ini? Pagi udah dapet sarapan jodoh, trus keserempet, sekarang dikejar deadline lagi,” gerutunya membuang napas keras.
“Si Fajar. Bisa habis setengah gaji gue kalau benerin dinding mobil pakai duit sendiri,” cetusnya sembari mengeluarkan kartu nama dari saku celana katun yang dikenakan. Dia melihat jam tangan, waktu telah menunjukkan pukul 10.00. Artinya sudah lewat 3 jam dari waktu yang telah ditentukan pria itu.
Baru saja ingin menginput nomor yang tertera di kartu nama, sebuah panggilan video masuk ke aplikasi whatsapp. Nama Keysa tertera di layar monitor. Dian segera meletakkan ponsel di holder phone dashboard mobil, kemudian menggeser tombol hijau.
“Nggak kerja lo, Cong?” sapa Dian tak biasa setelah wajah Keysa muncul.
“Lagi gabut gue. Lo di mana sekarang? Tumben pake mobil, biasanya pake motor butut lo,” ujar Keysa dengan kening berkerut.
Dian mengambil lagi ponsel dari holder kemudian mengganti kamera belakang. “Nih lagi di senayan.”
Gadis itu kembali menukar kamera setelah mengambil gambar sekitar gedung nusantara. “Enak banget lo sekarang gabut. Gue harus buru-buru ke balai kota lagi disuruh sama Pak Gatot,” terangnya meletakkan lagi handphone di holder.
Keysa cekikikan di sana. “Lo kenapa nggak muncul sih di grup? Pada cariin tuh. Baca doang tapi nggak balas apa-apa.”
Dian mengganti tuas gigi, sebelum kendaraan Veloz itu bergerak meninggalkan area parkiran. “Kagak sempat, Cong. Pagi gue udah dicecar lagi masalah jodoh sama Nyokap, trus di jalan keserempet sama motor. Mana orangnya main pergi aja, cuma tinggalin kartu nama. Apes gue hari ini,” papar Dian geleng-geleng kepala tanpa menoleh ke ponsel.
“Makanya cepet cari suami, biar nasib lo nggak apes lagi. Kalau bisa buang tuh koleksi film dewasa lo. Kali aja itu yang bikin lo belum ketemu jodoh sampai sekarang. Lihat aja rambut lo sampai acak-acakan,” ledek Keysa cekikikan lagi.
Pandangan Dian beralih ke arah spion tengah. Apa yang dikatakan Keysa benar, rambut pendeknya kusut berantakan. Jari-jari tangan kiri langsung merapikan lagi rambutnya ke bentuk semula.
“Tahu ah, Cong. Kayaknya jodoh gue emang nggak ada deh di dunia.” Wajah Dian tampak menyedihkan ketika mengucapkan kalimat terakhir.
“Eh, nggak boleh gitu, Di. Nanti jadi doa loh. Beneran nggak ada jodoh lo baru tahu rasa,” balas Keysa berdecak kesal.
“Ya habisnya gitu.” Dian kembali fokus melihat jalan raya.
“Makanya cobain saran Bang Daffa deh. Cari di masjid subuh-subuh. Lo sih nggak ada effort buat cari cowok baik-baik.”
Dian terdiam sejenak ketika memikirkan kemungkinan hal itu berhasil. Kepalanya langsung bergerak ke kiri dan kanan.
“Kayaknya nggak mungkin deh, Cong. Dese ngadi-ngadi tuh suruh gue cari cowok di masjid subuh-subuh.” Dian menoleh sebentar ke ponsel, agar bisa melihat wajah bingung Keysa.
“Coba deh lo pikir. Masjid aja biasanya diisi sama orang umur 50an. Ya kali gue nikah sama aki-aki.” Dian bergidik ngeri membayangkan menikah dengan pria berusia di atas 50 tahun.
“Sotoy lo, Di. Siapa bilang sekarang masjid isinya aki-aki?” Keysa tergelak dengan raut kesal. “Lo aja ke masjid dua kali setahun, tahu dari mana coba?”
“Astaga, Dian. Gregetan gue sama lo deh. Coba aja dulu gih. Sekalian belajar salat lagi yang bener.” Keysa geram sendiri dengan kelakuan sahabatnya.
Dian garuk-garuk kepala seraya nyengir kuda. Andai mereka sekarang bertemu langsung, Keysa sudah pasti mencubit pipinya keras. Meski sudah tidak muda lagi, kelakuan Rempongers ketika bertemu masih seperti anak kuliahan. Mereka seru sendiri hingga lupa umur.
“Emangnya sekarang ada yang muda ya?”
“Iya. Coba aja lihat kalau nggak percaya.”
“Ya habis, selama ini yang gue tahu penghuni masjid kalau nggak aki-aki ya nini-nini.” Dian kembali melirik ponsel yang ada di dashboard.
“Nggak ada salahnya lihat dulu daripada menduga-duga.” Keysa menghela napas singkat kemudian menatap sendu layar ponsel. “Bang Daffa pasti tahu kondisi masjid sekarang gimana, Di. Makanya nggak sembarang kasih lo saran.”
“Gitu ya?” Giliran Dian bingung sendiri.
Keysa mengangguk semangat. “Besok mulai gih. Pasang alarm deh jam 4 subuh, trus mandi biar wangi dan siap-siap ke masjid. Semoga ketemu jodoh lo.”
“Iya deh, bawel.”
“Jangan lupa weekend ngumpul di GI (Grand Indonesia) ya. Rara pulang ke Indo besok.”
“Aman. Siap!”
“Sekalian cerita hasil observasi subuh lo ke kita-kita,” pungkas Keysa sebelum panggilan berakhir.
Dian meniup napas ke atas sehingga pinggir rambut yang menutupi area kening naik. Kepalanya bersandar lagi di jok dengan pandangan lurus mengawasi jalan.
“Cari jodoh subuh-subuh di masjid?” Raut optimis muncul di wajah Dian. “Siapa takut!”
Bersambung....
“Dian, besok kamu datang ke Kementerian Sosial. Coba cek kegiatan menteri sekarang apa saja? Berita tentang beliau tidak segencar awal menjabat belakangan ini,” titah Gatot, redaktur keceh Yohwa.com and Magazine.
“Untuk berita media cetak kamu bisa cari topik apa saja yang kontroversi. Kamu udah pintarlah cari hot topic tanpa perlu disuruh lagi,” tambah pria itu menepuk bahu Dian sebelum meninggalkan ruang rapat.
Gadis itu hanya bisa pasrah seraya membuang napas lesu. Pikirannya sekarang bercabang. Tidak hanya masalah pekerjaan, tapi juga teror jodoh yang dilayangkan oleh sang Ibu. Kasihan juga jika Citra tidak jadi menikah karena dirinya.
“Nggak pulang, Kak?” tanya wartawan satu bidang dengannya saat melihat Dian masih bergeming di tempat duduk.
Kepala Dian bergerak lesu ke kiri dan kanan. Dia mengambil laptop dan buku catatan sebelum berdiri.
“Lagi nggak mood pulang gue, Cong,” jawabnya dengan wajah malas.
“Kok gitu?” Perempuan berkerudung itu melihat Dian dengan kening mengernyit. Tampak kegalauan di paras bulat tersebut. Dia berjalan pelan menyusul senior yang sudah terlebih dahulu keluar ruang rapat.
“Lagi panas di rumah.”
Dian menarik napas pendek seraya meletakkan lagi laptop dan buku catatan di atas meja kubikel. Sedetik kemudian dia terduduk lesu di kursi kerjanya. Ruangan kerja di bagian berita politik memanjang. Setiap meja kerja wartawan hanya dibatasi kubikel berwarna hijau muda. Dian dan Syukria duduk bersebelahan, sehingga mereka menjadi dekat.
“Masalah jodoh lagi?” tebak perempuan yang berusia lima tahun di bawah Dian.
Kepala yang dihiasi rambut model bob itu mengangguk cepat. Tangan Dian mengambil sesuatu dari tas ransel, lalu mengeluarkan satu kotak brownies yang dibeli tadi siang.
“Nih camilan buat ganjel lapar, Syuk,” tawar gadis itu menyodorkan kotak brownies kepada Syukria.
“Makasih, Kak,” ucap Syukria mengambil satu potong brownies, kemudian menggigitnya sedikit.
“Emang kenapa sih Kak Dian nggak mau dijodohin?” sambung Syukria setelah menelan gigitan brownies.
Dian melihat brownies yang ada di tangan, lalu mencomotnya seperempat. Potongan brownies langsung masuk ke mulut.
“Males. Coba lo bayangin deh nikah sama orang yang nggak dikenal dan nggak dicintai. Gimana ceritanya tuh,” tanggap Dian bergidik ngeri.
“Sahabat kakak juga nikah tanpa cinta, tapi sekarang rumah tangganya langgeng tuh,” komentar Syukria membuat wajah Dian berkerut.
“Itu karena si Rara dapat laki baik banget.” Dian berdecak kagum membayangkan perubahan besar dalam diri sahabatnya, Raline, sekarang.
“Ya kali aja nanti dapat suami juga baik.” Syukria mengambil tumbler minuman yang ada di atas meja. Setelah meneguk dua kali air minum, ia kembali menghadap kepada Dian.
“Aku juga nikah dijodohkan loh, Kak. Awalnya nggak cinta, tapi alhamdulillah cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu,” jelas wanita itu seraya menyeka ujung bibir dengan tisu.
“Lo dijodohkan juga?” Dian menatap tak percaya.
Syukria menganggukkan kepala. “Lewat taaruf sih sama teman kakakku.”
Bola mata hitam bulat Dian berputar malas. “Yeey, sama orang yang dikenal enak, Cong. Lha cowok yang mau dikenalin nyokap gue nggak ada yang kenal satupun.”
“Auah, pusing banget gue. Adik gue yang kepengin nikah, malah gue yang didesak nikah,” keluh Dian mengembuskan napas singkat.
Kening Syukria kembali berkerut mendengar ucapan Dian barusan. “Aku juga langkahin Kakak kok, Kak. Emang kenapa kakak yang disuruh nikah? ‘Kan nggak ada hubungannya.”
Dian langsung menegakkan tubuh. “Serius? Emang boleh langkahi Kakak?”
Wanita berkerudung itu mengangguk lagi. “Kak Raline juga duluan nikah dari kakaknya, ‘kan?”
Gadis itu menaikkan bola mata seraya mencibir dan melempar tisu yang sudah diremas ke wajah Syukria. “Kakak si Rara cowok, Cong. Lha gue ‘kan cewek.”
“Eh, lo kok tahu banyak sih tentang si Rara?” Dian menyipitkan mata ketika melihat Syukria.
“Aku ngefans sama Kak Raline. Dari dulu ngikutin beritanya. Ikutan sedih juga waktu dia ditinggal kabur pas nikah. Untung dapat suami cakep, bule lagi,” komentar Syukria dengan wajah berbinar.
Dian manggut-manggut membenarkan perkataan Syukria. Menurutnya Raline memang wanita yang beruntung. Apalagi pernikahan yang berawal tanpa cinta, bisa langgeng hingga sekarang.
“Tapi nih ya, Kak. Dalam Islam nggak ada larangan langkahi kakak loh. Justru jika sudah ada jodohnya ya dianjurkan untuk menikah, bahkan bisa jadi wajib.” Syukria mengubah posisi duduk menjadi tegak dan menatap serius Dian. “Kasih pengertian aja sama mama kakak. Dosa loh larang orang nikah kalau nggak ada syariatnya.”
“Gitu ya? Jadi nggak harus gue yang nikah dulu?” Dian dan pengetahuan agama yang minim.
“Beneran, Kak. Tapi Kakak juga harus ikhtiar cari jodoh. Jangan sampai nggak nikah loh. Menikah itu sunah, barang siapa yang nggak mengamalkan sunah Rasulullah, orang itu bukanlah bagian dari umatnya.” Syukria memberi penegasan ketika mengucapkan bagian terakhir.
Dian kembali bergidik sembari mengusap tengkuk yang terasa merinding. Mata hitam bulat itu terpejam sebentar ketika ingat dengan nasihat yang diucapkan Daffa beberapa tahun lalu.
Oke, besok subuh gue akan berikhtiar cari jodoh di masjid, batinnya tanpa ragu.
***
Besok hari menjelang waktu subuh
Bunyi alarm ponsel terdengar nyaring memekakkan telinga. Dengkusan keras keluar dari sela hidung berukuran sedang milik gadis yang masih berada di bawah selimut. Berkali-kali ia mematikan alarm, suara nada dering kembali terdengar. Dian sengaja memasang empat alarm dengan rentang waktu lima menit dari alarm sebelumnya.
“Gue ngapain sih?” gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Cari cowok baik-baik di masjid subuh-subuh, Dian. Dasar pe’a, gerutu hatinya.
Dalam hitungan detik selimut yang menutupi tubuh langsung turun ke bawah. Mata yang tadi enggan dibuka, kini membulat sempurna.
“Bener, gue mau ke masjid cari jodoh!” serunya yakin.
Sesaat kemudian wajah yang tadi cerah, tiba-tiba berubah mendung.
“Kalau isinya aki-aki semua gimana?” Dian menarik lagi selimut menutupi hingga kepala.
“Nggak ada salahnya lihat dulu daripada menduga-duga.” Penggalan percakapan dengan Keysa kemarin kembali terngiang.
“Bener juga sih. Nggak ada salahnya dicoba dulu,” ujar Dian langsung mengubah posisi menjadi duduk. Dengan tekad yang bulat, ia langsung beranjak ke kamar mandi. Pagi ini, gadis tersebut memutuskan mandi terlebih dahulu agar wangi.
Selang lima belas menit kemudian, Dian sudah kembali lagi ke kamar mengenakan pakaian rumah. Langkah kaki bergerak menuju lemari, berniat mencari mukena yang sering dikenakan ketika melakukan salat Ied. Kepala auto terkulai lesu ke kanan saat ingat mukena dan sajadah yang dikenakan pasti berbau apek, karena sudah lama menjadi penghuni tetap lemari.
Bibir tipis itu melebar ketika tilikan mata berpindah ke arah pewangi pakaian. “Ayo, Di. Bau apek mukena dan sajadah bisa hilang pakai pewangi,” bisiknya seraya menaik-naikkan alis.
Sreet!
Sreet!
Sreet!
Beberapa semprotan telah memenuhi bagian permukaan satu setel mukena dan selembar sajadah. “Untuk menjaga kebersihkan kening, jadi bawa sajadah sendiri.”
Gadis itu mengendap-endap keluar dari kamar, khawatir jika ada yang memergoki. Bisa jadi bahan tertawaan jika sampai sang Adik melihat dirinya pergi ke masjid subuh-subuh. Dian paling tidak suka diejek dan diolok-olok oleh Citra.
Aman. Sekarang tinggal ke sana, batinnya menatap sengit pintu keluar rumah.
Kepala yang dihiasi rambut pendek itu bergerak ke kiri dan kanan dengan awas. Setelah memastikan belum ada pergerakan apa-apa di ruang tamu dan dapur, Dian segera melangkah cepat menuju pintu. Embusan napas lega meluncur begitu saja ketika berhasil melewati pintu rumah.
“Misi pertama selesai!” serunya mengantongi kunci rumah yang dipegangnya. Beruntung masing-masing penghuni memiliki kunci pintu masuk.
Dian menarik napas dalam terlebih dahulu, sebelum melangkah keluar pekarangan rumah. Jari tangan bergerak ke arah kepala, memastikan rambutnya sudah rapi. Pandangan turun ke bawah melihat pakaiannya telah layak dikenakan ke majid.
“Waktunya menjalankan misi berikut.”
Gadis itu melangkah maju tak gentar menuju masjid yang sebenarnya tidak jauh dari rumah. Hanya memakan waktu lima menit berjalan kaki. Namun selalu saja berat untuk dikunjungi.
Tiba di halaman masjid, netra hitam miliknya bergerak awas ke arah pintu masuk jamaah laki-laki. Seperti dugaan, mayoritas jamaah berusia lima puluh tahun ke atas. Sebentar! Kelopak mata Dian berkedip pelan, ketika melihat keberadaan anak berusia sekitar sepuluh tahun sedang melepaskan sandal sebelum memasuki masjid.
“Ada anak-anak juga ternyata.” Dian kembali bermonolog pelan. Paling tidak, kehadiran anak berusia sepuluh tahun, perlahan mengikis pikiran tentang usia jamaah masjid.
Suara adzan menyela monolog yang dilakukannya. Gadis itu segera melangkah menuju tempat mengambil air wudu. Begitu selesai mengambil wudu, Dian langsung dduduk di saf paling belakang. Pandangannya beredar melihat jamaah yang menunaikan salat sunah dua rakaat.
“Duduk depanan, Neng,” sapa seorang ibu-ibu berusia enam puluh tahunan seraya menepuk ruang kosong yang ada di samping, setelah melakukan salat sunnah.
Dian menganggukkan kepala seraya nyengir. “Di sini aja, Bu.”
Ibu itu mengibaskan tangan, lalu menepuk lagi ruang kosong yang di depan. “Jamaah wanita subuh-subuh tidak ramai. Biasanya satu saf,” jelasnya membuat Dian menelan ludah.
Yang ada di pikiran gadis itu sekarang adalah masjid yang didatangi jamaah ketika salat Ied dilaksanakan. Masjid yang ramai hingga penuh sampai bagian luar.
“Ya, Bu. Saya ke sana,” sahut Dian merasakan pipi yang memanas karena malu.
“Nah begitu. Habis salat subuh, katanya ada kultum dari ustaz lulusan Inggris.” Ibu tadi kembali mengajak Dian berbicara.
“Oya?” tanggap Dian kikuk.
“Ustaznya masih muda, tapi sudah punya gelar doktor,” balas perempuan paruh baya tersebut.
Wajah Dian langsung semringah mendengar perkataan wanita yang entah siapa ini. Pandangannya beralih ke arah saf laki-laki, meski terhalang tirai pembatas. Paling tidak, ada secercah harapan di hati dengan kehadiran pria yang katanya masih muda ini.
Suara ikamah menyela harapan yang mulai terpupuk di hati Dian. Saatnya menunaikan ibadah salat subuh. Tiba-tiba terasa colekan dari samping kanan, tempat ibu tadi berdiri.
“Ternyata ustaz itu yang jadi imam,” bisik perempuan paruh baya itu mengerling ke arah tempat imam berdiri.
Lirikan mata Dian beranjak ke tempat yang dimaksud oleh ibu tadi. Meski hanya melihat bagian belakang kepala hingga bahu, ia bisa memperkirakan usia pria yang kini bersiap untuk memimpin salat Subuh. Tubuh tinggi dan tegap, terlihat dari bahu. Rambut ditutupi peci berwarna putih.
Kayaknya masih muda banget tuh, duganya dalam hati.
Jantung Dian tiba-tiba menjadi gaduh ketika pria yang berdiri di tempat imam menoleh ke belakang. Mata hitam bulat itu tidak berkedip sedikitpun melihat sosok tampan nan rupawan sedang mengecek saf, sebelum salat dimulai. Hidung mancung itu terlihat begitu elok dari samping, ditambah lagi wajah sawo matang yang teduh karena sering terkena air wudu.
“Saf lurus dan dirapatkan,” ucap suara bariton membuat Dian merinding disko.
Abang Daffa bener. Gue ketemu malaikat pagi-pagi di masjid, bisik Dian di dalam hati dengan tatapan masih berbinar melihat sosok pria berparas tampan.
Bersambung....