"Ough!"
Tubuhnya menyatu sempurna di bawah sana bersama dengan wanita yang tidak ia kenal. Sama-sama dalam keadaan mabuk, Rejandra Christian Darius menyetubuhi perempuan cantik bernama Arawinda Divya Jovanka.
Dalam permainan yang mematikan dan ganas itu, tubuh Divya dihentak keras oleh Darius. Betapa nikmatnya ia rasakan.
"Oh my God! You look so amazing, Baby!" raung Darius-sapaan lelaki berusia dua puluh sembilan tahun yang terus menghentak keras tubuhnya di bawah sana.
"Stop it! Oughh ...." Divya mengerang keras. Tubuhnya seperti tersengat listrik sebab permainan yang semakin menggila oleh lelaki itu.
"Never stop, Baby. Kamu nikmat sekali. Aku ingin bermain lagi dan lagi denganmu, Sayang."
Darius semakin menggila. Tubuhnya sangat hebat mendorong di bawah sana. Sampai tidak peduli dengan erangan dan jeritan yang keluar dari mulut Divya.
Hingga satu jam berlalu. Keduanya sudah sama-sama lemas. Sampai akhirnya Darius pun menumpahkan semua lahar putihnya di bawah sana.
Lalu terbaring tak sadarkan diri di samping Divya sebab teler yang masih ia rasakan. Pun dengan perempuan itu. Keduanya sama-sama tidak sadarkan diri dan tertidur dalam keadaan tidak mengenakan apa pun.
Di pagi harinya. Jam sudah menunjuk di angka sembilan pagi. Divya membuka matanya dengan rasa pengar dan tubuh yang rontok ia rasakan.
Kemudian menolehkan matanya ke kanan dan kiri. "Aaw!" keluhnya pelan sembari memegangi pundaknya yang terasa pegal.
Tangan kekar merayap di tubuhnya membuat Divya tersentak kaget. "Aaaaaa!!" teriaknya kala melihat sosok laki-laki asing tidur di sampingnya.
"Siapa kamu?" teriaknya lagi kemudian melihat tubuhnya yang tidak mengenakan apa pun. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Darius membuka matanya lalu menguceknya pelan. "Heuh? Di mana ini?" tanyanya dengan suara seraknya.
Ia lalu menoleh ke samping dan mengerutkan keningnya. "Oh! Kamu, yang udah disewa Anton buat nemenin saya di sini? Sorry! Semalam saya mabuk dan belum kasih kamu tip."
"Hah? Gila kamu! Saya tidak pernah jual diri!" teriaknya kembali.
Darius terkekeh pelan. "Kenapa, setelah saya pakai malah bicara seperti itu?"
"Intinya kamu salah orang. Saya tidak pernah jual diri dan saya tidak berniat melakukan itu."
"Kalau begitu, kenapa kamu ada di sini, hem? Jangan mengelak lagi. Tunggu di sini, saya mau mandi dulu."
Darius beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah gontainya sebab rasa mabuk masih menyuat dalam dirinya.
Divya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan. "Nggak. Nggak mungkin. Aku gak pernah berniat melakukan itu meskipun aku memang kesepian. Tapi, kenapa aku dan dia ...."
Divya melihat lagi tubuhnya yang belum mengenakan apa pun itu. Lalu merasakan tubuhnya yang rontok akibat pergumulan yang dilakukan olehnya semalam.
Ia masih mencerna kejadian ini. Mengapa ia dan Darius ada di dalam satu kamar dan tidur dalam keadaan tidak mengenakan apa pun.
"Haiissh! Semalam aku mabuk. Mana mungkin ingat kejadian itu," ucapnya dengan pelan.
Sepuluh menit kemudian. Darius keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Berapa, uang yang kamu butuhkan?" tanyanya sembari mengambil dompet di atas nakas.
"Sudah saya bilang, saya bukan pelayan lelaki!" ucapnya tegas. "Ini hanya kesalahpahaman. Mungkin kamu yang sudah menyeretku ke sini dan melakukan itu."
Darius terkekeh pelan. "Jelas-jelas semalam saya sewa perempuan untuk melayani saya. Dan itu kamu. Kenapa kamu menyangkal seperti ini, hm?"
"Karena saya tidak merasa jual diri. Saya punya pekerjaan yang lebih buat saya nyaman. Jadi, jangan pernah mengira saya pelayan laki-laki!"
Darius menghela napasnya. Ia kemudian menghubungi Anton-asistennya. Untuk menanyakan tentang perempuan yang masih menyangkal bila dirinya adalah bukan wanita panggilan.
"Selamat pagi, Pak. Anda masih di kamar club?" tanyanya kemudian.
"Sepertinya iya. Wanita ini, tidak mengaku kalau dia adalah wanita yang aku minta ke kamu, Anton."
"Hah? Kok bisa? Kamar nomor dua puluh, kan?"
Darius menaikan kedua alisnya kemudian mengambil kunci pintu dan melihat nomor yang tertera di sana.
"Nomor sembilan belas, Anton. Kamu ini gimana sih! Terus, wanita yang ada di kamar ini siapa?" tanyanya sembari melirik ke arah Divya.
"Waduh! Kurang tahu kalau begitu, Pak. Mungkin Anda salah masuk kamar. Sudah saya minta kan, ke Anda. Agar saya temani. Malah mau pergi sendiri."
"Ck!" Darius menutup panggilan tersebut kemudian menoleh ke arah Divya yang masih duduk menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.
Darius mengatup bibirnya lalu meringis pelan. "Maafkan saya, karena sudah salah masuk kamar. Saya akan bertanggung jawab karena kejadian ini," ucapnya dengan pelan dan merasa bersalah.
Divya geleng-geleng kepala kemudian beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri tanpa mengatakan apa pun kepada Darius.
Sementara lelaki itu duduk di tepi tempat tidur sembari mengatup dagunya dengan kedua tangannya.
"Cantik," ucapnya kemudian tersenyum tipis. "Dia mau gak ya, dijadikan istri? Sepertinya cocok, untuk kujadikan istri."
Tak lama kemudian, Divya sudah kembali keluar dengan pakaian lengkap yang ia pungut tadi sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Darius." Lelaki itu mengenalkan dirinya kepada Divya.
"So?" tanyanya kemudian.
"Perkenalan diri. Nama kamu siapa?" tanyanya ingin tahu.
"Kita gak akan ketemu lagi dan sepertinya tidak perlu memberi tahu siapa nama saya. Hari ini saya ada acara grand opening di toko sahabat saya."
Divya kemudian mengambil tasnya dan pergi dari tempat itu tanpa memberi tahu namanya kepada Darius. Sebab pertemuan itu cukup sampai di sana.
"What? Dia ... gak tertarik sama sekali? Oh my God! Padahal sudah kuubek-ubek tubuhnya."
Darius tampak frustasi. Ia kemudian mengusap wajahnya dengan pelan dan mengembuskan napasnya dengan panjang.
Sementara di kediaman Divya. Perempuan itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tanpa harus was-was sebab sang suami masih berada di luar kota.
"Jam segini baru pulang."
Divya menoleh ke samping kanan di mana Luna-sang mertua tengah duduk di ruang tengah sembari melipat tangan di dadanya.
"Mami? Kok gak bilang, kalau mau ke sini?" tanyanya lalu menghampiri mertuanya itu.
Luna menghela napas kasar. Ia lalu beranjak dari duduknya dan menatap datar wajah Divya.
"Mentang-mentang Zion tidak ada di rumah, dengan seenaknya kamu pulang tidak beraturan seperti ini. Habis dari mana, huh?"
Divya menelan salivanya dengan pelan. "Nginep di rumah Sheril, Mi. Hari ini grand opening toko kuenya dan aku diminta untuk nemenin dia," jawabnya bohong.
Karena ia tidak tahu jika kejadian semalam bisa terjadi padahal itu bukan keinginannya bermalam dengan laki-laki lain.
Luna menatap wajah Divya dengan tatapan datarnya. "Kamu masih belum ingin menutup butik kamu dan memberi Mami cucu?"
"Mi. Udah aku bilang berkali-kali, Mas Zion yang mencegah aku hamil. Mami tolong percaya sama aku sekali aja."
"Halah! Di mana-mana yang tidak mau punya anak itu dari pihak perempuannya, Divya!" ucap Luna sedikit berteriak.
Divya mengangkat kedua tangannya kemudian menghela napasnya. "Terserah Mami. Karena sampai kiamat pun Mami nggak akan percaya sama aku."
Divya kemudian pergi meninggalkan mertuanya itu dan masuk ke dalam kamar.
"Divya! Mami belum selesai bicara!" pekiknya memanggil Divya.
Namun, perempuan itu tidak peduli. Ia tetap masuk ke dalam kamarnya karena ia harus menghadiri acara sahabatnya itu.
"Halo, Dyv. Elo jadi ke sini, kan? Semalam gue telepon kagak diangkat-angkat." Sheril menghubungi Divya.
"Jadi, Sher. Gue masih di kamar dan lagi ganti baju. Acaranya jam satu, kan? Sebentar lagi gue selesai."
"Oke, gue tunggu. Jangan mampir ke mana-mana dulu!"
"Iya, iya." Divya kemudian menutup panggilan tersebut dan mengambil hells-nya. Ia kembali keluar dari kamarnya.
Melihat sang mertua sudah tidak ada di sana membuatnya lega. "Jangan sampai manusia tidak punya hati itu ke sini lagi," gerutunya kemudian segera melangkahkan kakinya dengan sangat lebar.
Sesampainya di toko kue milik Sheril. Ia langsung menghampiri Sheril yang tengah berbincang dengan seorang laki-laki.
"Sheril?" panggil Divya lalu berdiri di samping perempuan itu.
Matanya membola usai melihat Darius lah yang tengah berbincang dengan Sheril. Lelaki itu kemudian melambaikan tangannya dan tersenyum hangat kepadanya.
"Kalian ... saling kenal?" tanya Sheril sembari menunjuk keduanya bergantian.
Divya mendekatkan wajahnya di telinga Sheril. "Siapa dia? Kok ada di sini, sih?" bisiknya bertanya kepada Sheril.
"Sepupu gue. Anaknya Om Bayu, kakaknya bokap gue."
Divya menelan salivanya. "Kok gue baru tahu, elo punya sepupu selain Meisya?"
"Meisya itu adiknya Darius, Divya. Dia baru pulang dari Jerman. Kenalan gih. Atau udah saling kenal?"
"Belum. Namanya siapa, Sher?" tanya Darius kemudian.
"Divya. Sahabat deket gue sama Meisya."
Darius manggut-manggut dengan pelan. "Hi! Akhirnya, tahu juga nama kamu. Divya. Nama yang cantik."
"Yeu! Gombal! Mentang-mentang kagak jadi tunangan. Main embat aja bini orang."
Divya menoleh cepat ke arah Sheril. Pun dengan Darius. Lelaki itu tampak terkejut dengan mode biasa saja padahal hatinya berteriak-teriak.
"Oh! Sudah punya suami," ucapnya dengan pelan.
Sheril mengangguk. "Iya. Nyari yang lain aja sono!" ucap Sheril kemudian menarik tangan Divya dan membawanya ke kerumunan orang-orang yang sudah tiba di sana.
Acara grand opening sudah selesai dilaksanakan. Toko kue yang diberi nama Beauty Cake sudah resmi dibuka dan sudah siap beroperasi.
"Lo kenal dari mana sih, sama Darius? Padahal baru tiga hari, dia di Indonesia," tanya Sheril ingin tahu.
Divya menghela napasnya dengan panjang. "Semalam gue ke club Gideon. Sekalian pesen kamar juga di sana. Kebetulan Zion juga gak ada di rumah dan elo juga tahu, dia gak pernah peduli gue di mana, sama siapa."
Sheril mengangguk. "Iya. Gue tahu itu. Zion nikahi elo cuma patuh sama orang tua dan jabatannya."
Divya tersenyum lirih. "Udah setahun, Sher. Gue sama dia nikah. Tapi, gue belum bisa luluhin hati dia. Dan masih berhubungan sama mantan tunangannya."
Sheril mengusapi lengan Divya. "Ya udahlah. Suatu saat nanti mertua elo bakalan lihat, mana yang bener dan mana yang salah. Elo udah berusaha semampu lo, tapi dia masih gitu. Biarin aja."
Divya tersenyum lirih. "Iya. Gue gak tahu awalnya kenapa gue sama Darius bisa kenal, Sher."
"Hah? Kok gitu? Maksudnya gimana coba?"
"Tadi lo bilang, dia batal tunangan. Kenapa?" tanyanya ingin tahu.
"Biasalah. Ceweknya hamil sama cowok lain."
Divya terkekeh pelan. "Kasihan banget."
"Dan elo belum jawab pertanyaan gue, kampret!" sengal Sheril kesal sebab Divya belum juga bercerita mengapa dia dan Darius bisa bertemu.
Divya menghela napasnya dengan panjang. "Dia salah masuk kamar gue. Kamar yang dia pesan nomor dua puluh dan bersebelahan sama kamar gue. Maybe, dia masuk ke kamar gue dan kita ... you know lah."
Sheril mengatup bibirnya menahan tawa mendengar cerita dari Divya.
"Are you kidding me? You and Darius ... oh my God. Kalian pake pengaman, kan?"
"Mana gue tahu, Sheril. Gue gak sempat lihat bekas sarung dia juga."
"Divya! Elo! Astaga! Kalau elo hamil gimana? Si Zion gak bolehin elo hamil, kan?" ucap Sheril dengan mata membola.
Divya menghela napas kasar. "Gak akan hamil. Gue udah dijaga sama pil kontrasepsi."
"Oh! Lega gue, Dyv." Sheril mengusapi dadanya sebab lega karena Divya tak lupa dengan pil kontrasepsi yang rutin ia minum karena titah dari Zion.
Pernikahannya yang tidak baik-baik saja membuatnya seolah tak menyesali perbuatannya semalam dengan Darius. Sebab selama ini ia tak pernah melakukan apa pun di belakang Zion.
Namun, lelaki itu masih sering menemui tunangannya. Mantan tunangan yang masih dianggap tunangan oleh lelaki itu.
Waktu sudah menunjuk angka lima sore. Divya masih betah di toko kue milik Sheril dan kini ia tengah menikmati satu potong redvelvet dengan segelas susu segar.
"Hi! Masih di sini rupanya." Darius menghampiri Divya.
Perempuan itu kemudian mengadah pelan dan tersenyum tipis. "Iya. Masih di sini," ucapnya pelan.
Darius kemudian menaruh ponselnya di atas mejanya. "Saya sudah minta nomor kamu ke Sheril. Boleh, saya mengabari kamu kapan saja?"
Divya menelan salivanya dengan pelan. "Kamu ingin suami saya memarahi kamu?"
"No! Saya tidak akan mengganggu rumah tangga kamu. Baiklah. Saya kirim nomor saya saja. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, kapan pun boleh chat saya."
Darius lalu mengirim pesan kepada Divya agar menyimpan nomornya. "Kamu boleh simpan dengan nama apa saja. Donna juga boleh."
Divya terkekeh pelan. "Customer Darius."
"What?" Darius tampak bingung.
"Saya punya butik. Pakaian pria dan wanita juga menyediakan gaun pengantin. Jangan salah paham dulu."
Darius meringis pelan lalu menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Terima kasih dan salam kenal," ucapnya lalu menjulurkan tangannya kepada Divya.
Melihat pria ini tampak baik dan pantang menyerah, Divya pun membalas uluran tangan itu.
"Divya."
"Darius." Lelaki itu kemudian menerbitkan senyumnya kepada Divya. 'Aku tidak pernah mendoakanmu yang buruk-buruk. Tapi, jika menunggu jandamu adalah pilihan terakhirku, maka akan aku lakukan,' ucapnya dalam hati.
Waktu sudah menunjuk angka tujuh malam. Karena toko kue tutup di jam sepuluh malam, Divya masih betah berlama-lama di sana menemani Sheril melayani para pelanggan yang datang hendak membeli varian kue di sana.
"Belum mau pulang?" tanya Darius menghampiri Divya yang masih duduk di sofa pojok sana.
Divya menoleh ke arah Darius. "Kamu sendiri, kenapa belum pulang juga?" tanyanya balik.
Darius mengulas senyumnya lalu duduk di depan Divya. "Suamimu ke mana? Sepertinya dia tidak peduli kamu tidak pulang juga."
"Lagi di luar kota. Besok pulang sih."
Darius manggut-manggut dengan pelan. "Kamu ... bahagia, dengan pernikahan kamu?" tanyanya ingin tahu. "Kalau tidak mau dijawab, tidak masalah. Saya hanya bertanya."
Divya menghela napasnya dengan panjang. "Kami dijodohkan. Tidak ada kata baik-baik saja, bagi orang yang sama sekali tidak mengharapkan wanita itu jadi bagian dari hidupnya."
Darius menatap wajah Divya yang terlihat begitu menyesali akan pernikahannya dengan Zion. Dan memang seperti itu kenyataannya. Yang mana ia hanya terpaksa menikah dengan lelaki itu.
"Sabar, ya. Bahagia yang kamu impikan pasti akan segera datang menghampirimu," ucap Darius kemudian menerbitkan senyumnya kepada Divya.
Perempuan itu kemudian tersenyum tipis. "Thanks," ucapnya dengan pelan.
Keduanya menoleh kompak keluar sebab melihat hujan turun begitu derasnya di luar sana.
"Kamu bawa mobil, ya?" tanya Darius kepada Divya.
Perempuan itu mengangguk. "Iya. Kenapa?"
"Nggak.Cuma nanya aja. Saya pik-"
"Eum ... Darius. Sepertinya tidak perlu menggunakan kata itu deh. Saya. Terlalu formal menurutku. Bagaimana jika aku saja?"
Divya tampak tak nyaman akan panggilan tersebut. Ia menginginkan memanggil yang biasa saja.
Darius terkekeh pelan kemudian menganggukkan kepalanya. "Oke. Lagi pula, kita sudah lebih dari kata kenal. You know what we do last night, right?"
Divya menelan saliva dengan pelan. "Ya. Dan aku hanya ingat saat tubuhku rontok, tidak mengenakan apa pun dan tidur di dalam dekapan tubuh kamu. But, Darius. Can you silent it? Please."
Darius mengangguk. "Don't worry. Hanya kita yang tahu," ucapnya dengan lembut.
"Dan Sheril. Dia tanya, kenapa aku kenal sama kamu sementar kamu baru tiga hari di sini."
"Oh! Oke. She's your bestfriend. Aku yakin dia bisa menjaga our secret."
"Ya!" ucapnya kemudian mengulas senyumnya dan menatap keluar lagi. Rupanya hujan masih mengguyur dengan derasnya di sana hingga membuat Divya menghela napasnya.
"By the way. Kamu sering menyewa perempuan?" tanyanya kemudian.
"Tidak akan lagi. Cukup kemarin malam yang terakhir kalinya."
Divya mengerutkan keningnya. "Why?"
"Nggak apa-apa. Cuma lagi gak mau kenal sama yang lain aja. Dan sebenarnya aku hanya minta ditemani saat itu. Bukan untuk tidur. Tapi, ternyata aku mabuk berat sampai tidur denganmu."
Divya menelan salivanya kemudian tersenyum tipis. "Dan tidak akan pernah menyewa perempuan lagi?"
Darius mengangguk. "Ya! Untuk apa? Sudah selesai semuanya. Pikiranku sedang kacau karena dia harus menikah dengan pria lain. Sebab sudah sejak lama pun sudah curiga.
"Tapi, aku masih mempertahankan dia. Tidak peduli dengan nasihat Mami Papi. Yang akhirnya aku dihukum oleh keadaan di mana dia hamil dari pria lain."
Divya tersenyum tipis. "Kamu yakin, itu bukan anakmu?" tanyanya kemudian.
"No! Dia sendiri yang bilang kalau itu bukan anakku. It's just was to end. Dia tidak menginginkanku jadi miliknya."
Divya manggut-manggut dengan pelan. "Begitu rupanya. Aku pikir kamu yang memutuskan untuk tidak bertanggung jawab."
Darius tersenyum tipis. Ia kembali menatap wajah Divya yang masih berada di sana menikmati gemercik air hujan di luar sana ditemani secangkir hot chocolate yang dia pesan.
"Divya. Suamimu mencintaimu?" tanyanya ingin tahu.
Divya tersenyum lirih. "Nothing love in our marriage, Darius. Entahlah, sepertinya aku gagal dalam membina rumah tangga ini. Yang seharusnya jadi bahagia untukku dan keluargaku. Rupanya tidak sebagus itu."
Divya menyandarkan punggungnya dan menghela napasnya. "Dan aku masih berharap orang tua Zion membuangku. Tidak menganggapku lagi agar aku bisa pergi dari sana. Namun, ayahku masih di penjara.
"Aku bisa pergi dari hidup keluarga itu jika aku sudah memberi mereka cucu, penerus harta kekayaan yang mereka miliki karena ulah Ayah yang telah membunuh anak kesayangan mereka."
"What?" Darius terkejut mendengar penuturan Divya.
"Kenapa? Kaget, aku berasal dari anak seorang pembunuh? Stay away! Jangan dekat-dekat."
Darius tertawa pelan. "Yang pembunuh itu ayah kamu, bukan kamu. Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk menjauhimu. Kita baru dekat, right?"
"Ya. Aku tahu. Kalau begitu, aku pulang duluan. Kalau kamu masih ingin di sini, silakan." Divya beranjak dari duduknya lalu mengambil tas miliknya.
Darius mengantar perempuan itu sampai di depan mobilnya. "Divya? May i ask something?" tanyanya sembari menahan tangan Divya.
"Apa?" tanyanya dengan pelan.
Darius menelan salivanya kemudian menarik wajah perempuan itu. Bukan hanya menarik wajahnya, melainkan mencium bibir Divya juga.
Membuat perempuan itu membolakan matanya kemudian menarik dirinya menjauh dari Darius.
"Are you crazy?" ucap Divya kemudian mengusap bibirnya dan menoleh ke kanan dan kiri.
Darius menaikan kedua alisnya. "Bukankah kita sudah melakukan lebih dari ini? Bahkan aku masih merasakan tubuh indah it-"
"Stop it! Jangan ingatkan aku tentang itu. Kamu gak malu, huh?"
Darius terkekeh pelan. "Kenapa harus malu? Toh! Tubuh kamu juga merangsang setiap belaian yang aku berikan. Perlu bukti? Aku bisa membuktikannya. Someday."
Darius kemudian membukakan pintu mobil untuk Divya dan melambaikan tangannya, meninggalkan perempuan itu seraya menerbitkan senyumnya.
Divya masuk ke dalam mobilnya kemudian mengusapi dadanya yang berdegup tak karuan.
"Nggak, nggak. Dia emang agak gila karena ditinggal tunangannya pergi." Divya geleng-geleng kepala kemudian mengembungkan pipinya.
Daripada berlama-lama di sana, ia pun memilih melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh pergi dari tempat itu.
"Halo, Dyv. Elo udah pulang? Gue baru selesai meeting sama yang lain, lihat keluar udah gak ada orang."
Sheril menghubungi Divya sebab memang perempuan itu tidak pamit lebih dulu padanya.
"Iya. Gue udah di jalan mau pulang. Sorry, ya. Gak bilang dulu ke elo tadi."
"Ya udah gak apa-apa. Thanks ya, Div. Udah nemenin gue sampai toko tutup. Kalau butuh kue, apa pun yang elo mau, tinggal bilang aja."
"Gampang. Ya udah, gue tutup. Udah mau sampai soalnya." Divya kemudian menutup panggilan tersebut.
Lima belas menit kemudian, ia telah sampai di rumah. Baru saja tiba di rumah, Divya sudah mendapatkan pesan dari mantan tunangan Zion.
Agatha: [Zion ada di rumah?]
Divya menghela napasnya dengan panjang. Tak ingin membalas pesan itu, ia memilih untuk mengabaikan pesan tersebut dan masuk ke dalam kamarnya.
Namun, tak henti di sana. Agatha menghubungi Divya sebab pesannya tak dibalas.
"Ck!" Divya berdecak pelan kemudian menerima panggilan tersebut.
"Nggak ada. Zion masih di Makassar. Kalau mau ke sini, besok aja. Dia baru balik!" ucapnya kemudian menutup panggilan tersebut.
Divya lalu mengganti pakaiannya dengan baju tidur panjang. Mematikan lampu kamarnya sebab sebentar lagi ia akan memutuskan untuk tidur lebih cepat.
Ting!
Notifikasinya kembali berbunyi. Ia pun mengambil ponselnya kembali dan melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
"Darius?" ucapnya pelan.
Darius: [Have a nice dream, Divya.]