Sorotan mata orang tua Andre terasa begitu menusuk bagi orang tua Sherly yang duduk di depan mereka. Sebuah penolakan keras baru saja keluar dari mulut Andre yang tidak ingin menjadikan Sherly sebagai pendamping hidupnya.
"Maafkan kami, Pak, Bu," ucap papahnya nya Andre dengan suara yang gemetar, merasa malu yang luar biasa pada orang tua Sherly. "Anak kami belum siap untuk menjalin hubungan yang lebih serius."
Sherly yang duduk di samping orang tuanya tampak menundukkan kepalanya. Air mata yang mengalir di pipinya menampakkan betapa dia merasa kecewa dan hancur hatinya. Ia mengepalkan tangannya di pangkuannya, berusaha untuk tetap tegar di hadapan semua orang.
"Tidak apa-apa om, Tante, mungkin Andre masih butuh waktu untuk menerima cintaku." Ucap Sherly dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itu, Andre berdiri tegak dengan tatapan dingin, tidak menunjukkan rasa penyesalan atau belas kasihan pada Sherly. Tidak ada yang tahu apa yang ada di pikiran pria itu, tetapi sikapnya yang keras membuat situasi menjadi semakin tidak nyaman.
Orang tua Sherly merasa begitu hancur, tetapi mereka tetap berusaha untuk menjaga martabat mereka. "Tidak apa-apa, Pak, Bu," kata Papahnya Sherly dengan suara yang berat. "Kami menghargai keputusan Andre. Semoga anak-anak kita bisa menemukan kebahagiaan mereka masing-masing."
Mereka pun akhirnya meninggalkan rumah Andre dengan hati yang gundah, merasa kehilangan wajah di depan keluarga yang seharusnya menjadi keluarga besar mereka. Andre sendiri merasa tidak peduli, ia yakin telah mengambil keputusan yang tepat, meskipun menyakiti banyak hati di sekitarnya.
"Mau mamah dan papah apa sih? Andre itu sudah dewasa pah, mah! Andre bukan anak kecil lagi, Andre juga bisa mencari pasangan hidup sendiri, papah, sama mamah, tidak perlu repot-repot menjodohkan Andre dengan wanita yang bukan pilihan Andre."
Andre tidak mau menikah dengan pilihan orang tuanya, ya walaupun anak orang kaya dan berwajah tampan tapi tidak mudah mencari pasangan hidup. Walaupun sebenarnya banyak yang jatuh hati pada Andre tapi belum ada yan cocok di hatinya.
"Terus mau kamu apa Dre! Mamah sama papah sudah mencarikan kamu wanita terbaik di bumi ini, dia cantik, berpendidikan, anak orang kaya, coba apa yang kurang pada Sherly?!" Mamahnya begitu marah karena Andre tidak mau menerima Sherly, sudah berkali-kali Andre di jodohkan oleh orang tuanya, tapi tak ada satupun yang di terima.
"Terserah! Kamu mau jadi apa Dre, papah sudah tidak mau lagi mengurusi kamu!" Papahnya juga ikut marah karena Andre tidak mau menerima Sherly sebagai pendamping hidupnya, padahal Sherly adalah anak dari kawan bisnis papahnya Andre.
"Baik pah, mah, jika kalian sudah tidak menginginkan Andre di rumah ini lagi, Andre pergi dari sini, Andre bisa cari uang sendiri tanpa harus meminta sama Papah dan Mamah!" Andre pergi ke kamarnya sambil membanting pintu.
Jebret.....!!
Tanpa berlama-lama dikamar, Andre keluar dengan membawa tas ransel berisi pakaian dia berencana meninggalkan rumah dalam jangka waktu yang lama entah akan kembali atau tidak.
"Mau kemana sih kak? Kalau kakak pergi siapa yang akan anter Erni sekolah kak?" Erni adiknya Andre merasa sedih ketika kakaknya mau meninggal rumah.
"Kamu kan sudah gede cantik.... masa, mesti bareng kakak terus. Kakak mau cari ketenangan dulu, jaga diri kamu baik-baik yah." Ucap Andre pesan pada adik perempuannya.
Andre menghentakkan kakinya keluar dari rumah, dia menggunakan Mogenya untuk pergi jauh, Andre ingin mencari ketenangan setelah terjadi pertengkaran hebat dengan Papah dan Mamahnya. Andre merasa sangat tertekan, keputusasaan dan kecewa mendalam mewarnai hatinya.
Papah dan Mamahnya sama sekali tidak peduli dengan kepergian Andre. Mereka merasa Andre sudah terlalu keras kepala dan tidak mau mendengarkan nasehat orang tua. Andre telah menolak perjodohan yang mereka rancang dengan Sherly, gadis pilihan mereka yang dianggap sempurna untuk menjadi istri Andre.
Di kejauhan, Andre mengendarai Mogenya dengan penuh amarah dan air mata yang mengalir deras di pipinya. Dia merasa tak ada yang mengerti perasaannya, bahkan orang tuanya sendiri. Andre berusaha mencari tempat yang sepi dan damai untuk menenangkan pikiran dan hatinya.
Sementara itu di rumah, Papah dan Mamahnya duduk di ruang tamu sambil menghela napas panjang. Walaupun mereka mencoba untuk tidak peduli, namun di lubuk hati mereka, tetap merasa cemas akan nasib Andre
"Kamu mau pergi kemana sih ndre" gumam Mamahnya dalam hati.
Namun, keteguhan hati mereka untuk menjodohkan Andre dengan Sherly tidak dapat digoyahkan. Mereka merasa telah melakukan yang terbaik untuk masa depan anak mereka, meskipun Andre tidak menyadarinya saat ini.
Dalam kegelapan malam, Andre duduk di bawah pohon rindang yang menjadi tempat persembunyiannya dari dunia. Dia merenung, mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikirannya. Apakah dia harus tunduk pada kehendak orang tuanya, ataukah harus berjuang untuk menentukan takdirnya sendiri?
Pikirannya kalut, sesaat terbesit di dalam benaknya untuk mengakhiri hidupnya, karena selama ini dia belum menemukan apa yang dia cari. Entah wanita seperti apa yang Andre cari. Walaupun Sherly kaya, cantik, dan pintar, tapi Andre sama sekali tidak berminat menjadikan dia sebagai istri.
Karena di pengaruhi setan Andre nekat ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan, sesekali dia memandang ke bawah, dimana hamparan batu begitu luas di bawah sana. "Waduh kalau aku jatuh ke sana pasti tubuhku hancur berkeping-keping" pikirannya bingung antara ingin mengakhiri hidupnya atau melanjutkan untuk mencari sesuatu yang dia inginkan.
Andre masih berdiri di tepi jembatan yang cukup lengang, karena posisinya berada di perkampungan yang jarang penduduk. Sementara itu Amira yang sedang berjalan bersama Nurjanah sahabatnya, melihat Andre berdiri di tepi jembatan dan hendak melompat.
Amira dengan cepat menarik tangan Andre agar tidak jatuh ke dasar jembatan. "Hey.....! Apa kamu sudah tidak waras!" Teriak Amira sambil menarik tangan Andre. Andre langsung jatuh menimpa tubuh Amira, namun Andre dan Amira tidak melihat jelas wajah mereka, karena kondisinya gelap.
"Apa urusannya kamu dengan hidupku! Memang kamu siapa..!" Andre marah saat Amira menolong dirinya dari maut yang akan menjemputnya.
"Hey...! Kamu sadar kalau kamu jatuh ke dasar sana tubuhmu hancur dan pastinya kamu mati, tapi masuk neraka, karena kamu melakukan hal yang di larang agama. Aku sudah peduli sama kamu tapi kenapa kamu malah marah!" Amira langsung membalikkan badannya dia ingin pergi meninggalkan Andre.
"Sudahlah Ra, kita pergi saja, bukannya berterima kasih, malah marah-marah!" Ucap Nurjanah yang begitu sewot pada Andre.
Pada saat berbalik ada cahaya lampu mobil yang kebetulan lewat dan menyinari wajah mereka berdua sehingga mereka saling tau bagaimana wajah mereka masing-masing. Begitu melihat wajah Amira, seketika Andre langsung jatuh hati padanya.
"Kenapa hatiku berdebar saat melihat wajah gadis ini, apakah ini yang dinamakan cinta?" Gumam Andre dalam hati.
Amira dan Nurjanah bergegas pulang ke rumah, karena mereka sangat kesal dengan sikap Andre. "Tunggu....!" Andre menghentikan langkah mereka. "Maaf...tadi aku sedang emosi karena aku sedang dalam tekanan, jadi pikiranku sedang tidak sehat." Andre menyodorkan tangannya untuk meminta maaf.
"Maaf kita bukan muhrim, di larang bersentuhan dengan sengaja. Ucapan kamu sudah aku maafkan, sudah aku lupakan." Jawab Amira.
"Baiklah, tapi aku boleh kenal sama kamu tidak? Aku Andre dari kota, aku sengaja pergi kemari untuk mencari ketenangan, namun tadi pikiranku tidak karuan karena tekanan. Apakah kalian tau ada rumah yang di kontrakan di kampung ini, aku ingin tinggal disini agar pikiranku tenang." Andre menjelaskan pada mereka berdua tentang apa yang baru saja terjadi pada dirinya.
"Aku Amira, dan ini Nurjanah sahabatku, aku tidak tau ada atau tidaknya rumah tang di kontrakan di daerah sini, tapi kalau ada nanti aku kasih tau, mas bisa datang besok ke rumah yang ada di ujung jalan." Ucap Amira menjawab pertanyaan Andre.
"Waduh bagaimana yah, aku butuh sekarang untuk istirahat, kalau besok baru dapat info, lalu, malam ini aku tidur di mana?" Andreas bingung karena saat ini sudah malam, dan di kampung ini tidak ada hotel atau penginapan lainnya.
"Kalau mas mau, mas ke arah sana, ikuti jalan ini, nanti di sana ada villa, karena itu tempat wisata, tapi, cukup jauh ya sekitar satu jam perjalanan dengan mengendarai motor." Sahut Nurjanah memberi tau pada Andre.
"Baik kalau begitu, terimakasih Amira, Nurjanah, aku akan kembali besok, soalnya aku merasa nyaman di kampung ini." Ucap Andre berterima kasih pada Amira dan juga Nurjanah.
Andre langsung pergi meninggalkan Amira dan Nurjanah yang telah menolongnya hari ini. Kedua wanita itu telah menjadi pahlawan baginya, namun kini ia harus mencari tempat berlindung untuk bermalam. Langit sudah gelap, bintang-bintang mulai bertebaran, dan angin semilir menyapa tubuhnya yang lelah.
Andre pergi dengan menggunakan Mogenya, mencoba menemukan penginapan yang layak di sepanjang jalan. Sesekali ia menghela napas panjang, merasakan apa yang membebani pikirannya. Ia merasa bersalah telah meninggalkan Amira dan Nurjanah tanpa ucapan terima kasih yang pantas, namun ia tahu bahwa saat ini yang terpenting adalah mencari tempat untuk melepas lelah.
Di kejauhan, Andre melihat sebuah bangunan yang tampak seperti penginapan. Ia mempercepat laju Mogenya, berharap bahwa ia akan menemukan tempat yang aman dan nyaman untuk menghabiskan malam. Setelah beberapa lama mengendarai Mogenya, akhirnya Andre tiba di depan penginapan tersebut. "Akhirnya ketemu juga penginapan." Gumam Andre.
Ia menatap bangunan itu sejenak, memastikan bahwa tempat ini adalah tempat yang ia cari. Setelah yakin, ia menghampiri resepsionis yang tersenyum ramah kepadanya. "Permisi, apakah ada kamar kosong untuk malam ini?" tanya Andre dengan suara yang lelah.
Resepsionis itu mengangguk, kemudian mengecek ketersediaan kamar. "Ada satu kamar tersisa, Pak," jawab resepsionis itu. "Silakan isi formulir ini, dan kamar Anda siap."
Andre mengucapkan terima kasih, kemudian segera mengisi formulir yang diberikan. Setelah selesai, ia menyerahkan kembali formulir itu kepada resepsionis dan menerima kunci kamar. Ia berjalan menuju kamar yang diberikan, merasa lega karena akhirnya menemukan tempat untuk bermalam.
Sesampainya di kamar, Andre melepas sepatunya dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Ia merenung sejenak, mengenang kebaikan Amira dan Nurjanah yang telah menolongnya. Andre berjanji dalam hati bahwa suatu hari nanti, ia akan membalas kebaikan mereka. Namun untuk saat ini, yang bisa ia lakukan hanyalah beristirahat dan mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang akan datang.
Sudah beberapa saat Andre tidak bisa tidur, dia terus terbayang wajah Amira yang begitu cantik. "Amira....kamu gadis desa, tapi kecantikan kamu mengalahkan gadis kota, kecantikan kamu benar-benar murni tanpa polesan, aku benar-benar jatuh hati padamu Amira." Pikirnya dalam hati.
Mata Andre terus memandangi langit-langit kamar, sementara pikirannya terus memikirkan Amira yang masuk ke dalam imajinasinya, Andre berharap bisa menjalin hubungan dengan Amira. "Aku bertekad akan berjuang sebisa mungkin untuk mendapatkan cintanya Amira, apapun syaratnya akan aku tepati." Hati Andre sangat menggebu-gebu ingin mendapatkan cintanya Amira.
Baru kali ini Andre jatuh hati pada seorang wanita, sebelumnya banyak perempuan yang mengejar cintanya Andre, tapi Andre malah menolaknya, namun kali ini Andre benar-benar di buat kesengsem sama Amira gadis cantik putri seorang kyai.
Akankah Andre mampu mendapatkan cinta Amira yang merupakan putri kyai yang taat beragama, sedangkan Andre pemuda yang belum kenal agama.
Matahari pagi mulai menyinari kamar villa tempat Andre menginap, sinar mentari tersebut menyentuh wajahnya dan membuatnya terbangun dari tidur. Seakan tubuhnya merasakan energi yang mendalam, ia segera menyadari bahwa ini adalah hari yang sangat penting. Tanpa ragu, ia bangkit dari tempat tidur dan bersiap-siap menghadapi tantangan yang menunggu di depan.
Hari ini, Andre memiliki janji untuk menemui Amira, putri Kyai di kampung ini, yang akan membantu mencarikan kontrakan rumah baginya. "Apa yang akan terjadi jika Amira tidak bisa membantuku? Apakah aku akan bisa bertahan hidup di kampung ini saat hatiku sedang gelisah?" bisik hati kecil Andre. Setelah mandi dan berpakaian rapi, Andre melangkah keluar dari penginapan dengan langkah pasti. Rasa percaya diri memenuhi pikirannya, karena hari ini adalah awal dari babak baru dalam kehidupannya.
Perjalanan menuju rumah Amira adalah suatu pengalaman tersendiri, sekitar lima kilometer di tengah suasana kampung yang indah dan tenang. Jalanan yang dipenuhi oleh pohon-pohon hijau dan suara burung yang berkicau membuat suasana pagi di kampung ini begitu mengesankan. Andre merasa bahagia dengan keputusan yang telah diambilnya, bahwa ia siap menjalani petualangan dan menjelajahi tempat baru. "Sekarang semua bergantung pada pertemuan dengan Amira. Semoga dia mampu membantu menuntaskan masalahku saat ini," gumam Andre sambil melangkah semakin dekat ke rumah Amira.
Kali ini, ia tidak ingin gagal lagi seperti masa lalu yang pernah dihadapinya. Tetapi ia yakin, selama ada niat baik dan kerja keras, pasti ada jalan keluar. Tak lama kemudian, Andre tiba di rumah Amira yang terlihat megah dan indah, dengan pagar tinggi yang melindungi area sekitar rumah. Ia mengetuk pintu rumah dan disambut oleh seorang pelayan yang membukakan pintu untuknya.
"Maaf mau ketemu dengan siapa?" Ucap Fikri yang merupakan seorang abdi kyai.
"Saya Andre, mau bertemu dengan Amira, pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih, karena Amira telah menolong saya. Kedua saya ingin mencari sebuah rumah yang di kontrakan atau di jual, untuk tempat tinggal saya di sini." Jawab Andre.
Andre kemudian diperkenankan menemui Amira yang sedang duduk di teras sambil membaca Al-Qur'an.
"Selamat pagi, Amira. Saya Andre, masih ingatkan laki-laki yang kamu selamatkan semalam? Saya ingin menanyakan mengenai kontrakan rumah yang ingin saya sewa," ujar Andre dengan sopan.
"Hssssssttt....mas ucapkan Assalamualaikum.... begitu, ini rumah pak kyai bukan selamat pagi yang mas ucapkan." Ucap Fikri memberi tau pada Andre.
Amira tersenyum ramah dan menutup Al-Qur'an yang ia baca, "Oh, ya. Silahkan masuk dan duduk dulu, Andre. Nanti kita akan bicarakan mengenai kontrakan rumahnya, karena yang tau masalah itu Nurjanah." Mereka pun duduk bersama di teras rumah Amira, sambil menikmati secangkir teh hangat yang telah disediakan oleh pelayan. Amira menunggu Nurjanah datang.
Tak lama kemudian, Nurjanah sampai di rumah Amira. "Assalamualaikum....! Nurjanah mengucapkan salam saat masuk ke halaman rumah Amira.
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarrakatuh." Jawab Amira yang langsung berdiri menyambut Nurjanah, sahabatnya.
"Nah.... kalau datang kemari, mas ucapkan salam seperti itu yah..!" Bisik Fikri yang mulai akrab dengan Andre.
"Oh....ok deh kalau begitu.. terimakasih yah." Sahut Andre lirih.
Setelah mereka semua duduk, Nurjanah mulai menjelaskan beberapa pilihan kontrakan rumah yang ada di kampung ini, lengkap dengan harga dan fasilitas yang ditawarkan. Andre merasa bersyukur bisa bertemu dengan Amira dan Nurjanah yang begitu ramah dan membantu. "Mereka benar-benar orang baik, aku beruntung sekali bisa bertemu dengan mereka di saat yang sulit ini," batin Andre. Setelah berdiskusi cukup lama, Andre akhirnya memutuskan untuk menyewa sebuah rumah kontrakan yang sekiranya nyaman. "Apakah rumah ini akan cocok untukku? Apakah lingkungannya nyaman dan aman?" gumam Andre dalam hati.
Nurjanah pun menawarkan untuk mengantar Andre ke rumah kontrakan tersebut agar bisa melihat kondisinya secara langsung. Dengan rasa senang karena menemukan kenyamanan dalam hidupnya, Andre berkata dalam hati, "Aku berharap ini menjadi awal yang baik dalam kehidupanku yang baru. Terima kasih, Amira dan Nurjanah. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian."
"Terima kasih banyak, Amira, Nurjanah. Saya sangat berterima kasih atas bantuan kalian," ucap Andre tulus.
Nurjanah tersenyum, "Sama-sama, mas. Semoga kamu betah tinggal di kampung ini dan semoga kontrakan rumahnya sesuai dengan keinginan kamu."
"Iya mas, kalau ada perlu apa-apa panggil Fikri saja, dia Ajan membantu mas jika di perlukan." Sahut Amira.
"Ok.... sekali lagi aku ucapkan banyak terimakasih buat kalian, oh...ya ini ada sesuatu buat kalian tolong di terima." Ucap Andre sambil menyodorkan sebuah amplop berisi uang sebagai tanda terima kasih pada mereka.
"Tidak usah mas, kita semua iklhas membantu kamu." Amira menolak secara halus pemberian dari Andre.
"Baiklah kalau begitu aku mau beres-beres dulu." Andre menyimpan kembali amplop tersebut, dalam hatinya berkata. "Kalian memang gadis yang sangat baik, baru kali ini aku bertemu gadis seperti kalian, aku akan gunakan uang ini untuk membeli sesuatu untuk kalian."
"Mas Fikri, tolong bantu mas Andre beres-beres rumah." Ucap Amira menyuruh Fikri untuk membantunya.
"Baik mbak, saya akan bantu mas Andre hingga selesai." Jawab Fikri yang langsung memegang sapu untuk bersih-bersih.
"Ya sudah, kita berdua pamit dulu, assalamualaikum.." ucap Amira yang langsung pergi bersama Nurjanah.
Andre dan Fikri bersemangat membersihkan rumah yang baru saja akan mereka kontrak. Andre telah sepakat untuk tinggal di rumah ini karena dia ingin menenangkan pikiran, akibat tekanan dari kedua orangtuanya. Sekarang, Andre telah siap untuk mulai membersihkan serta mengatur rumah agar siap ditempati.
"Kita mulai dari mana, mas?" tanya Fikri sambil menatap ke sekeliling rumah yang masih berdebu dan berantakan.
"Kita mulai dari ruang tamu dulu, nanti kita lanjut ke kamar dan dapur," jawab Andre sambil mengambil sapu dan kain lap dari kotak yang mereka bawa.
Mereka mulai bekerja sama membersihkan ruang tamu. Fikri menyapu lantai, sementara Andre mengelap jendela dan perabot yang ada di ruang tersebut. Setelah selesai, mereka melanjutkan ke kamar tidur yang juga memerlukan perhatian ekstra karena debu menumpuk di setiap sudut ruangan.
"Kamu fokus mengatur kasur dan lemari, nanti aku bersihkan kamar mandinya," ucap Andre kepada Fikri yang mengangguk setuju.
Setelah beberapa jam bekerja keras, rumah kontrakan tersebut mulai terlihat rapi dan bersih. Keduanya merasa puas dengan hasil kerja mereka dan tidak sabar untuk segera menempati rumah baru ini.
"Bagaimana apa sudah bersih, mas? Kita berhasil membersihkan rumah ini dengan cepat," ujar Fikri sambil menepuk pundak Andre. Mereka sekarang makin akrab walaupun baru kenal.
"Tidak masalah, Bro. Terimakasih sudah mau membantuku untuk membersihkan rumah ini bersama, sekarang aku ingin membeli beberapa barang yang aku butuhkan, aku minta kamu anterin aku ke pasar, karena aku belum paham daerah sini bro." Andre mengajak Fikri untuk menemaninya membeli barang yang dia butuhkan.
"Baik mas, mari aku antarkan mas ke pasar." Jawab Fikri. Mereka berdua berboncengan. Fikri yang baru saja merasakan di bonceng pakai moge, dia merasa senang .
Sesampainya di pasar, Andre membeli berbagai macam barang yang di butuhkan, agar dia merasa nyaman dan tenang selama berada di sini. Dia juga ke minimarket untuk membeli makanan serta minuman sebagai stok, karena lokasi pasar cukup lumayan jauh. Setelah cukup Andre menyewa kendaraan untuk mengangkut barang yang dia beli. Beberapa lama kemudian mobil yang membawa barang dari pasar tiba di depan rumah yang di kontrak Andre.
Mereka mulai mengangkut barang-barang mereka ke dalam rumah, menata perabot dan menghias ruangan agar terasa lebih nyaman dan hangat. Setelah selesai, keduanya duduk di sofa ruang tamu, menikmati hasil kerja keras mereka sepanjang hari itu.
"Bro, makan dulu nih, kamu pasti sudah lapar kan?" Ucap Andre sambil menyodorkan kotak makanan yang berisi, nasi lengkap dengan lauk pauk yang dia beli saat mereka di kota.
"Wah.... terimakasih mas, kelihatannya enak ini." sahut Fikri yang langsung menyantap makanan tersebut
Tanpa terasa, waktu sudah sore, Fikri pamit untuk kembali ke rumah Amira, karena disana Fikri bekerja sebagai penjaga rumah Amira. "Mas, aku pamit dulu yah soalnya sudah sore, nanti di cariin sama Abi dan Umi kalau aku belum balik."
"Abi sama Umi itu siapa bro?" Tanya Andre yang masih belum paham.
"Abi itu bapaknya mbak Amira, dan Umi itu ibunya. Oh....ya kalau ada butuh sesuatu mas hubungi nomer aku saja yah." Sahut Fikri yang langsung menyebutkan nomor ponsel yang dia miliki.
"Ok... baik bro, sekali lagi terima kasih, dan ini buat kamu bro, sebagai tanda terima kasih." Andreas memberikan uang untuk Fikri sebagai tanda terima kasih.
"Terimakasih mas, ya sudah aku pulang. Assalamualaikum!" Fikri langsung pergi meninggalkan Andre seorang diri di rumah kontrakan yang dia tempati.
Andre merasa seolah menemukan ketenangan di tengah kehidupan yang penuh kebisingan dan kesibukan. Kampung yang baru ia singgahi ini sungguh membuat hatinya merasa damai. Setiap pagi, ia menikmati udara segar dan suara burung-burung yang berkicau riang. Ia bahkan tidak merasa terbebani untuk membantu penduduk kampung menyelesaikan pekerjaan mereka sehari-hari. "Sungguh, tempat ini begitu berbeda dari tempat asalku. Aku merasa semuanya serba lengkap di sini.
Kampung yang seolah terlupakan oleh waktu, namun memberikan kedamaian yang sulit kudapatkan di kota yang ramai," batin Andre dengan senyuman. Namun di balik kedamaian itu, hati Andre terus terbayang wajah Amira yang selalu hadir dalam pikirannya. Sejak dia bertemu Amira saat itu, Andre merasa ada yang berbeda dalam dirinya. "Aku selalu merindukan senyum Amira dan saat-saat kami saling menatap mata. Sejak pertama kali bertemu dengannya, entah mengapa aku selalu ingin ada di dekatnya," gumam Andre pada diri sendiri. Dia berharap suatu saat bisa lebih dekat dengan Amira. Meskipun belum ada kata-kata yang terucap, namun Andre merasa ada benih-benih cinta yang mulai tumbuh di hati keduanya.
Setiap hari Andre mejalani hidup berbaur bersama penduduk kampung, perasaannya terhadap Amira semakin menguat. "Tak bisa kulupakan momen indah itu. Dalam setiap embun pagi, dalam setiap hembusan angin, di tengah kesunyian malam, aku merasa begitu dekat dengan Amira. Aku ingin memegang tangannya, mengajaknya berbicara, menenangkan hatinya. Namun, bisakah aku meraih cintanya? Bisakah aku menjadi sosok yang ia butuhkan, sosok yang bisa menemani hidupnya?" desah Andre dalam hati, mencoba menyelami kedalaman perasaannya. Andre tahu tak ada yang pasti dalam kehidupan. Namun, setiap kali tatapannya bersua dengan Amira, keyakinan itu tumbuh subur di dalam hatinya; keyakinan bahwa ia pantas mendapatkan cinta Amira dan bersama-sama membangun masa depan yang indah di kampung yang damai itu.
Di malam yang sunyi, saat ia terjaga sambil memandangi langit berbintang, perasaan Andre mulai kacau. Andre merenungi kehidupan yang telah ia jalani dan bagaimana kehadiran Amira telah membuatnya merasa lebih hidup. "Apakah ini cinta yang membuatku begitu merasa lengkap?" gumam Andre pelan. Dia mulai merasakan ketenangan yang ia cari selama ini. Keputusannya untuk berhenti sejenak dari kesibukan kota dan menyepi di kampung ini ternyata menghadirkan kebahagiaan tak terduga.
Kini, Andre semakin yakin bahwa ia ingin tinggal lebih lama di kampung ini. Bukan hanya karena ketenangan yang ia dapatkan, namun juga karena hatinya yang telah terikat erat oleh cinta pada Amira. "Apakah dia juga merasakan hal yang sama, ataukah ini hanya perasaanku saja?" kekhawatiran itu mulai menyelinap, tetapi perasaan bahagia membayangi dirinya saat ia membayangkan kehidupan bersama Amira di kampung yang indah ini. Andre berharap suatu hari nanti, dia bisa mengungkapkan perasaannya, membangun masa depan bersama Amira, dan menciptakan kebahagiaan bersama di kampung ini yang penuh kedamaian.
Mentari pagi yang cerah menyambut Andre saat ia membuka jendela kamar di rumah kontrakannya. Angin segar berhembus lembut di wajahnya, membuat Andre merasa nyaman di lingkungan perkampungan yang jauh dari kota tempat dia biasanya tinggal. Dengan semangat, Andre segera mandi dan mengenakan pakaian terbaiknya, lalu menuju ke rumah Amira.
Di dalam hati, Andre sangat ingin melihat senyuman manis Amira yang begitu mempesona. Walaupun belum ada kepastian apakah perasaannya akan dibalas oleh Amira, Andre tetap yakin bahwa perjuangannya untuk menaklukkan hati gadis itu akan membuahkan hasil.
Setelah berjalan tidak jauh, Andre tiba dengan cepat di rumah Amira. Pintu gerbang rumah itu terbuka lebar, dan di sana Andre bertemu dengan Fikri, penjaga rumah yang setia kepada keluarga Pak Kyai, orang tua Amira. Fikri tersenyum ramah sambil menyapanya, "Assalamualaikum, mas Andre. Apa kabar?"
Andre membalas sapaan itu dengan senyum simpul, "Waalaikum salam, bro. Alhamdulillah, baik. Amira ada di rumah?" Jawab Andre pada Fikri.
Fikri mengangguk, "Nah begitu mas, ingat yah, kalau mau masuk, jangan lupa ucapkan salam, apalagi kalau ketemu pak kyai. Iya, mbak Amira ada di dalam. Tapi sebelumnya, ada pesan dari Pak Kyai untuk mas. Beliau minta kamu menunggu sebentar di ruang tamu. Nanti Amira akan datang menyambutmu." Jelas Fikri.
Andre mengangguk, hatinya berdebar-debar menantikan pertemuan dengan Amira. Dia duduk di kursi tamu, tangannya gemetar karena gugup, dan matanya terus mengamati gerbang rumah yang seolah-olah akan segera membuka pintu bagi malaikat dalam hidupnya, Amira.
Kemudian Fikri berjalan cepat menuju kamar Amira, "Assalamualaikum mbak Amira, mas Andre ada di ruang tamu. Dia ingin bertemu mbak Amira," kata Fikri dengan nafas terengah-engah.
Amira yang sedang berada di kamarnya langsung beranjak, "Waalaikum salam, baiklah, aku segera turun." Amira mengambil jilbab yang tergantung di dinding, mengenakannya dengan rapi, dan berjalan menuju ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu yang terbuka, Amira melihat Andre sudah duduk di salah satu kursi. "Assalamualaikum, Andre," ucap Amira dengan suara lembut dan ramah.
Mendengar suara Amira, Andre menoleh dan terpana melihat kecantikan Amira yang begitu alami. Sinar matahari yang masuk dari jendela menambah aura indah dari wajah Amira. Andre terpesona, seolah tak mampu mengalihkan pandangannya dari wajah Amira.
Amira menunggu sapaan balasan dari Andre, namun Andre tampak terdiam. Amira pun menyadari bahwa kehadirannya membuat Andre terpukau. Dengan tersenyum, Amira duduk di kursi yang berhadapan dengan Andre, "Ada yang bisa saya bantu, Andre?"
Andre tersadar dari lamunannya dan segera merasa malu, "Oh, maaf... Waalaikumsalam, Amira. Saya... eh, aku ingin membicarakan sesuatu," kata Andre dengan terbata-bata, masih terpengaruh oleh kecantikan Amira. Andre terdiam sejenak sambil sesekali mencuri pandang. "Aku ingin memperdalam ilmu agama, apakah kamu bisa membantuku?" Ucap Andre meminta tolong pada Amira.
Rupanya Andre sudah benar-benar jatuh hati pada seorang gadis kampung anak kyai, sehingga dia ingin mendekati Amira dengan cara yang lain, Andre berharap Amira bisa tau kalau ia jatuh hati pada Amira.
Amira tersenyum mendengar keinginan Andre yang ingin belajar agama, Amira senang mendengarnya, dia terdiam sejenak dan kemudian Amira menjawab pertanyaan Andre. "Baiklah ndre, aku akan bicara dengan Abi, mungkin besok pagi kamu baru bisa kemari lagi untuk memastikan bisa atau tidaknya, sebab kalau saat ini Abi sedang tidak di rumah." Jawab Amira pada Andre.
"Tidak apa Amira, semoga Ayah kamu bisa membimbing aku mendalami ilmu agama. Ya sudah aku pamit pulang dulu, Assalamualaikum..." ucap Andre yang langsung pamit pada Amira.
"Waalaikum salam, hati-hati yah mas Andre." Sahut Amira, hati Andre begitu berbunga-bunga walaupun hanya mendengar ucapan dari Amira.
"Fikri....! Antar mas Andre pulang." Ucap Amira menyuruh Fikri untuk mengantarkan Andre.
"Baik mbak." Sahut Fikri yang langsung pergi bersama Andre menuju ke rumah kontrakan yang di tempati Andre.
Dalam perjalanan menuju rumah kontrakan, Andre mengungkapkan keinginannya untuk belajar agama kepada Fikri. "Aku ingin belajar ilmu dasar agama, bro," kata Andre dengan wajah penuh harap. Andre, yang selama ini hidup tanpa mengenal agama, kini mulai ingin mempelajarinya setelah bertemu Amira, gadis cantik yang merupakan putri dari seorang kyai di kampung tersebut.
"Loh....mas Andre memangnya belum bisa toh?" Tanya Fikri kaget karena orang yang sudah dewasa seperti Andre baru mau belajar ilmu agama. Walaupun tidak ada yang salah, tapi Fikri kaget, karena di kampung ini dari kecil sudah belajar ilmu agama.
"Enggak lah bro, aku benar-benar tidak mengenal agama dari kecil, walaupun di KTP agamaku Islam, tapi aku belum tau bagaimana cara shalat, karena kedua orang tuaku juga tidak pernah melakukan hal tersebut, jadi ya beginilah." Andre menjelaskan pada Fikri tentang apa yang ada di keluarganya.
Fikri tersenyum, menatap Andre dengan penuh simpati dan kehangatan. "Baiklah mas, kita mulai dari yang paling dasar, ya," kata Fikri. Sesampainya di rumah kontrakan, Fikri langsung membuka lembaran Al-Qur'an yang telah lama tersimpan rapi di dalam lemari. "Kita akan mulai dengan mengenal huruf-huruf Al-Qur'an," ujar Fikri dengan sabar.
Andre duduk bersila di depan Fikri, memperhatikan setiap gerakan tangannya yang menunjukkan huruf demi huruf Al-Qur'an. "Ingat, mas Andre, setiap huruf ini memiliki cara pengucapan yang khas. Jadi, kita harus belajar melafalkannya dengan benar," pesan Fikri.
Setelah menguasai huruf-huruf Al-Qur'an, Fikri mulai mengajari Andre tata cara shalat. Dari takbiratul ihram hingga salam, Fikri dengan sabar menjelaskan setiap gerakan dan bacaan yang harus dilakukan. Andre menyimak dengan penuh perhatian, meresapi setiap petunjuk yang diberikan. Andre merasa terharu melihat keikhlasan dan kesabaran Fikri dalam mengajari seorang Muslim yang tidak mengenal ajaran agamanya sendiri seperti Andre.
Tak ada yang meragukan hati, hanya keinginan tulus untuk berbagi ilmu dan mengajarkan kebaikan. Dalam hati, Andre bersyukur atas pertemanannya dengan Fikri dan berharap bisa membalas budi ini suatu hari nanti. Sambil mengikuti petunjuk Fikri, Andre berusaha keras menghafal setiap detail yang diajarkan.
Andre ingin memahami esensi shalat, sebagai wujud rasa hormat dan pengejawantahan keyakinan yang kuat. Setiap gerakan, setiap bacaan, dan setiap niat dalam hati, Andre mencoba untuk menjiwai semuanya. "Semoga aku bisa melakukan ini dengan benar, dan menghormati kepercayaan Fikri," gumam Andre dalam hati.
Meski awalnya kesulitan, lambat laun Andre mulai bisa mengikuti tata cara shalat dengan baik. Andre merasa terbantu oleh kesabaran dan dukungan Fikri. Andre semakin akrab dengan ibadah ini, semakin banyak pula yang bisa ia gali tentang agama Islam dan nilai-nilai yang diajarkan. Walaupun tadinya merasa susah, Andre bisa mempelajari dengan bertahap, ia tahu bahwa persahabatan mereka telah memberi makna yang lebih mendalam bagi mereka berdua.
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar, hingga senja mulai memerah di langit. Andre merasa lelah, namun hatinya penuh kebahagiaan. "Terima kasih, bro. Aku tidak akan melupakan ilmu yang kau ajarkan ini," ucap Andre dengan tulus.
Fikri tersenyum lembut, menepuk bahu Andre. "Sama-sama, mas Andre. Ingat, ilmu agama adalah jalan menuju kebahagiaan yang hakiki. Semoga apa yang kau pelajari hari ini menjadi awal yang baik untuk perubahan dirimu," ujar Fikri dengan penuh harap.
Setelah selesai mengajari Andre, Fikri pamit pulang, karena waktu sudah sore. "Mas, aku pulang dulu yah takut nanti pak kyai mencariku."
"Tunggu bro aku ikut sekalian sholat jamaah di masjid bareng kamu." Ucap Andre meminta Fikri untuk menunggunya. Fikri pun menunggu Andre untuk berganti pakaian yang pantas untuk shalat. Setelah Andre siap mereka segera bergegas menuju ke masjid, di mana masjid tersebut letaknya di dekat rumah Amira, seorang gadis pujaan Andre.
"Mas Andre silahkan ke masjid saja dulu, aku mau ganti pakaian dulu." Ucap Fikri pada Andre, agar Andre menunggu dirinya di masjid. Andre menganggukkan kepalanya dan dia langsung masuk ke dalam masjid. Sementara Fikri berganti pakaian terlebih dahulu.
Saat Andre memasuki masjid banyak mata tertuju pada Andre, karena dia adalah orang baru di kampung ini. Selain itu penampilan Andre sangat kontras dengan penduduk kampung tersebut, di mana pakaian yang Andre kenakan terlihat lebih mewah, serta wajah Andre yang bersih dan sangat tampan, dan bertato.
Para gadis kampung yang melihat Andre, langsung terpesona, mereka tak berkedip saat melihat ketampanan Andre. Tak lama kemudian Fikri datang menghampiri Andre yang masih berdiri di dekat pintu masjid. "Loh... kok belum masuk mas bro?" Ucap Fikri bertanya pada Andre.
"Belum bro, gak enak lah, masa ninggalin kamu begitu saja, sama kawan harus solid bro." Sahut Andre. Fikri pun tersenyum dan merangkul Andre masuk kedalam dan duduk di saff paling depan, karena sebentar lagi shalat akan di mulai.
Saat shalat berjamaah sudah di mulai, Andre berusaha mengikuti gerakan imam yang tepat berada di depannya, Andre masih terlihat kaku, karena baru kali ini dia melakukan gerakan shalat, setelah selesai shalat berjamaah, Andre dan Fikri keluar dari masjid.
Saat mereka keluar ternyata banyak gadis yang telah menunggu Andre. Mereka ingin melihat wajah ganteng Andre, karena bagi mereka ini adalah hal yang langka. "Mas Fikri..! Boleh dong kenalin ke aku." Ucap salah seorang gadis meminta Fikri untuk mengenalkan Andre pada mereka.
"Boleh saja, tapi untuk lebih afdol langsung saja ke orangnya yah." Sahut Fikri menggoda mereka. Andre tersenyum melihat para gadis yang ingin berkenalan dengan dirinya. Dia pun langsung memperkenalkan diri, karena Andre orangnya tidak sombong.
"Baiklah semua, namaku Andre, aku tinggal di rumah di ujung jalan, aku baru saja tinggal di kampung ini baru dua hari, jadi kalau aku butuh bantuan boleh yah minta bantuan pada kalian." Canda Andre, senyum Andre membuat para gadis klepek-klepek.
"Dengan senang hati aku akan membantumu mas Andre." Jawab Ningsih anak pak lurah.
"Ya sudah terima kasih yah semuanya, maaf aku mesti ke rumah pak kyai dulu, soalnya ada perlu." Ucap Andre yang langsung pergi meninggalkan mereka. Dia ingin bertemu Amira anak pak kyai.
Andre dan Fikri berjalan kaki menuju rumah Pak Kyai yang hanya berjarak beberapa langkah dari masjid. Langkah mereka cepat dan mantap, tak ingin membuang waktu sedetik pun. Sesampainya di depan rumah Pak Kyai, mereka menemukan Amira, putri Pak Kyai, sedang duduk di teras rumah sambil memegang sebuah buku.
Amira terkejut melihat kehadiran Andre dan Fikri di rumahnya pada malam hari. Sebelumnya, Amira sudah memberitahu Andre untuk datang bertemu ayahnya besok pagi, namun entah mengapa kini Andre malah datang saat malam menjelang. Wajah Amira tampak bingung dan khawatir.
"Mas Andre, kenapa kamu datang sekarang? Aku kan sudah bilang, kalau ingin bertemu Abi besok pagi saja," ujar Amira dengan nada terkejut dan sedikit ketus.
Andre tersenyum tipis, mencoba menenangkan hati Amira yang tampak gelisah. "Maafkan aku, Amira. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Ayahmu." jawab Andre dengan nada tenang namun tegas.
Fikri yang diam sejak tadi, akhirnya angkat bicara. "Amira, tolong sampaikan kepada Abi bahwa mas Andre ingin bertemu dengannya segera. Ini adalah masalah yang sangat mendesak dan mas Andre membutuhkan bantuan beliau."
Amira menghela napas panjang, kemudian mengangguk lemah. Ia berdiri dan masuk ke dalam rumah, hendak menyampaikan pesan Andre dan Fikri kepada Ayahnya. Sementara itu, Andre dan Fikri duduk di teras rumah, menunggu dengan hati berdebar-debar, berharap Pak Kyai bisa memberikan solusi pada Andre.