Isabelle Greystone berlari menuju perbatasan. Ia harus segera sampai di sana. Ia tidak punya pilihan, semua ini salahnya. Ia mengutuk dirinya sendiri karena telah berbohong hari itu. Ia sudah melanggar aturan dan menjadi penyebab perang mematikan antara dua klan vampir yang kejam.
Napasnya memburu saat mencium aroma kakaknya di udara. Ia sudah dekat. Tapi, nyawanya seperti merosot keluar dari tubuhnya ketika ia mencium aroma lain, dia juga ada di sana.
Akhirnya, pria itu akan tahu siapa dirinya. Sial, kenapa dulu dirinya harus berbohong?
Bukan berarti Isabelle menyesalinya. Ia telah menemukan cinta sejatinya, belahan jiwanya. Tapi semua ini seharusnya tidak terjadi. Ia seharusnya tidak jatuh cinta pada musuh. Sekarang, ia harus memilih. Antara keluarganya dan cintanya. Belahan jiwanya. Mate nya.
Isabelle berbelok tajam, hampir kehilangan keseimbangan saat melihat mereka, kekasihnya dan saudaranya. Keduanya saling menggeram dalam wujud vampir mereka.
"Berani sekali kau menyentuh adikku?" geram kakak tirinya, Kevin. "Berani sekali kau berpikir bisa memilikinya? Aku akan mencabik-cabikmu sampai tak bersisa! Kau akan mati! Mati! Aku bersumpah!"
"Apa yang kau bicarakan? Aku lebih baik mati tenggelam dalam kolam Lumora daripada menyentuh wanita murahan dari klanmu," balas River, terkejut sekaligus muak dengan tuduhan itu.
"Jangan pura-pura tidak tahu apa yang ku maksud!" geram Kevin, tetap dalam posisi siap menyerang. "Kali ini kau sudah melampaui batas. Aku tidak akan memaafkanmu. Aku akan mencabikmu hingga tak bersisa. Keluarga adalah batas yang tak boleh kau langgar!"
Kakak-kakak Isabelle yang lain mendukung pernyataan kakak tertua mereka, menggeram marah ke arah kekasihnya.
"Seperti yang sudah kukatakan," River memulai, napasnya berat. Rambut pirangnya yang basah menempel di keningnya yang berkilau.
"Aku sama sekali tidak tahu omong kosong apa yang kau bicarakan. Tapi kalau kau berani menginjakkan kaki di wilayahku, aku sendiri yang akan menghajarmu. Persetan dengan perjanjian."
River menyelipkan tangannya ke dalam jaket kulitnya, menggeram kesal saat berbalik. Ia sudah muak berbicara dengan vampir Dravein yang arogan itu. Kevin hanya mengganggunya, sementara ada hal lain yang lebih penting di pikirannya. Tapi sebelum pergi, ia berhenti sejenak, menatap vampir Dravein itu.
"Oh, dan satu hal lagi, sebenarnya aku sudah punya mate ku sendiri."
Kata-katanya tampaknya tidak berpengaruh sedikit pun pada Kevin. River tahu ia harus memperjelas maksudnya agar bisa menembus kepala batu pemimpin Dravein yang keras kepala dan menjijikkan itu.
"Wanita dari klanmu bahkan tidak selevel dengan River Blackwood," ujarnya dengan seringai licik.
Namun, ekspresi wajah Kevin tetap datar, tak tergoyahkan. River ingin memastikan dirinya keluar sebagai pemenang dalam pertukaran ini, dengan kata-kata terakhir yang menusuk.
Ia melangkah lebih dekat ke lawannya, senyum masih melekat di wajahnya.
"Tapi kalau adikmu masih menginginkan kesenangan, suruh saja dia datang. Aku yakin ada seseorang dari klan ku yang bersedia menunjukkan padanya seperti apa rasanya bersama pria sejati."
Isabelle nyaris menggeram sebagai respons. River memang punya kebiasaan buruk mengeluarkan ejekan pada orang yang salah di waktu yang salah. Kevin menggeram marah dan hampir melancarkan serangan ketika Isabelle berteriak,
"Berhenti!"
Semua mata langsung tertuju padanya. Mata River melebar saat melihatnya berdiri di sana. Wajahnya mencerminkan keterkejutan dan kengerian mendalam karena menemukan Isabelle berada di wilayah musuh.
Isabelle tahu persis apa yang ada di benak mate nya itu. Vampir pria sangat protektif terhadap pasangannya, mereka bisa mencabik siapa pun yang berani menatap pasangan mereka dengan cara yang salah. Berdiri di wilayah musuh berarti hukuman mati seketika di tangan klan rival.
Namun, yang kekasihnya tidak tahu adalah bahwa Isabelle juga bagian dari wilayah ini. Dia tidak tahu bahwa ia adalah adik tiri Kevin Greystone-musuh terbesarnya.
"Isabelle," River mengembuskan napas, suaranya dipenuhi ketakutan. Dia tahu Kevin bisa saja melukai pasangannya kapan saja.
Kevin berbalik menghadapnya, matanya merah menyala karena amarah.
"Isabelle! Bukankah sudah kubilang untuk tetap di rumah? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Tolong... jangan... kumohon," dia memohon dengan mata berkaca-kaca, suaranya nyaris bergetar.
Tatapannya berpindah ke mate nya, yang masih terlihat bingung. Namun, perlahan-lahan, kesadaran muncul di wajah River.
"Isabelle, kau... adik Kevin Greystone," ucapnya. Itu bukan pertanyaan, itu sebuah kepastian.
Wajah River yang biasanya dingin dan tanpa emosi tiba-tiba dipenuhi berbagai perasaan.
Terluka, karena Isabelle telah menyembunyikan hal sebesar ini darinya.
Jijik, karena dia ternyata adalah adik musuh bebuyutannya.
Panik, karena ia tahu ia tidak bisa hidup tanpa pasangannya itu.
Kevin pasti tidak akan pernah membiarkannya memiliki Isabelle. Mereka telah menjadi musuh sejak lahir. Ia harus berpikir cepat. Ia menolak untuk menyerah pada pasangannya. Isabelle mengangguk, mengonfirmasi pernyataannya.
"Ya, aku berencana memberitahumu, tapi-"
Kata-kata Isabelle terputus ketika ia mendengar geraman dari adik laki-laki kekasihnya.
"Sudah kubilang," ujar Ryan tajam. "Bukankah sudah kukatakan? Ini semua jebakan. Dia pasti mengirimnya untuk menghabisi kita semua. Dan Kevin, ini tindakan yang sangat rendah."
"Tch!" Kevin mendengus sinis. "Sudahlah! Jangan berpura-pura seolah ini bukan bagian dari rencana licik kalian. Kalian menjebak adikku yang polos, menggunakannya untuk menyingkirkanku, dan merebut wilayahku. Sayangnya bagi kalian, aku mengetahuinya lebih dulu." Kevin mendesis penuh kebencian ke arah Ryan.
Isabelle menundukkan kepala, menghindari tatapan River yang penuh luka dan kekecewaan.
River tidak bisa mempercayainya. Setelah bertahun-tahun, akhirnya ia membuka hatinya untuk seseorang. Setelah sekian lama, ia jatuh cinta pada gadis yang kini berdiri di hadapannya. Seorang vampir tidak mudah jatuh cinta, tetapi sekali jatuh, tidak ada jalan untuk kembali.
Ia telah menjadikan Isabelle sebagai mate nya. Mereka telah berbagi darah, gadis itu kini resmi menjadi miliknya. Lalu bagaimana bisa dia mengkhianatinya seperti ini? Apakah semua ini hanya permainan baginya?
Pasti Kevin yang menyuruhnya. Itu bukan hal yang mengejutkan dari makhluk rendahan, sakit, dan haus kekuasaan seperti Kevin Greystone. Tapi Isabelle... Isabelle selalu tampak begitu polos dan tak berdosa. Bagaimana mungkin dia melakukan ini?
Tentu saja dia bisa, pikirnya. Dia adik Kevin. Tapi bagaimana dengan dirinya? Ia tidak pantas menerima ini, ia mencintai Isabelle. Pikirannya berteriak.
"Ryan!" Isabelle memohon. "Tidak ada rencana apa pun. Tolong biarkan aku menjelaskan."
Tapi semuanya sudah terlambat. Dalam sekejap, dengan kecepatan kilat, sahabat mate nya, Erik, melintasi batas wilayah dan mencengkeram lehernya, menggeram marah dengan mata vampirnya yang kini bersinar. Isabelle menjerit.
Secara naluriah, River langsung membelanya, mendorong Erik menjauh darinya. Erik terlempar ke sisi lain wilayah Nocturn. Sesaat kemudian, Kevin juga sudah berada di sisi Isabelle. Ia mendorong River menjauh dari adiknya dan berdiri di depannya, melindunginya.
Kevin tidak tahu bahwa kini adiknya itu adalah milik River.
"Kevin!" Isabelle memohon. "Kevin! Tolong! Jangan sakiti dia! Dia mate ku. Kumohon, jangan."
Ia berusaha berdiri di antara dua vampir yang sedang murka. Kata-katanya hampir mengguncang hati Kevin. Ia menatap Isabelle dengan tidak percaya, tatapan tajamnya membuat Isabelle menciut ketakutan.
"Kau berbagi darah dengan adikku. Kau menjadikannya mate mu. Beraninya kau?!"
Kakaknya menggeram marah ke arah River sebelum langsung menyerangnya.
"Kevin!" Isabelle menjerit. "Tidak!"
Seorang pria terbangun dengan tiba-tiba begitu mimpinya berakhir. Dengan hati-hati, ia menyingkirkan tangan wanita yang tidur di sampingnya dari bahunya, lalu bergegas ke lemari, mengambil sketsa dan pensil.
Hari ini, dia melihat bibirnya. Bibir yang indah dan menggoda.
Mimpi-mimpi ini semakin tidak beraturan, dan itu membuatnya gelisah karena dia sangat menyukai setiap pertemuan dengan seseorang ini. Namun, pria pirang itu tidak pernah bisa melihat wajahnya secara utuh. Kadang hanya bibirnya, kadang hanya rambut hitamnya yang indah, atau jika dia cukup beruntung, dia bisa melihat matanya.
Bola mata hitam dengan bias coklat yang besar dan lembut.
Dia mencintai matanya. Dia terobsesi dengan matanya.
Mata itu begitu penuh dengan kepolosan. Warnanya begitu berbeda-seperti sinar matahari hangat yang menyebar di langit saat fajar menyingsing. Mata itu memancarkan cinta yang murni, kepedulian, ketulusan, serta kilatan nakal yang samar.
Sayangnya, mata itu tidak ada dalam kenyataan. Mata yang begitu memukau seperti itu sepertinya mustahil untuk benar-benar ada.
Pria itu mulai menggambar bibir yang baru saja dia lihat dalam mimpinya.
"Siapa dia?" suara nyaring menusuk telinganya.
Ugh! Wanita disampingnya sudah bangun.
Dia benar-benar tidak suka ketika mereka mulai berbicara. Tapi hari ini, suasana hatinya sedang cukup baik. Setelah seminggu penuh, akhirnya dia bisa melihat "dia" lagi dalam mimpinya.
"Aku tidak tahu," jawabnya singkat.
Pria itu, River Blackwood membuka halaman lain di bukunya, menatap gambar mata yang ia sketsa sebulan lalu. Gambar itu sudah hampir sempurna, tetapi tetap saja, rasanya belum cukup untuk menangkap keindahan aslinya.
"River?" suara wanita itu kembali memanggil, berusaha menarik perhatiannya.
"Amy! Kembali ke tempat tidur," perintahnya. "Atau, kita sudahi saja untuk malam ini. Aku sudah cukup mendapatkan darah, dan aku pun sudah merasa puas. Sebaiknya kau pergi."
"Tapi ini masih tengah malam."
"Aku bilang pergi."
Amy mendengus kesal, lalu menggumamkan sesuatu pelan sebelum mengambil pakaiannya dan pergi.
River membuka kembali buku catatannya. Ini mulai terasa konyol.
Sudah dua tahun sejak ia mulai melihatnya. Ia bahkan pernah menceritakan tentang "dia" kepada Martha-pasangan sahabatnya yang juga seorang penyihir. Namun, bahkan Martha pun tak bisa mengetahui siapa sebenarnya wanita itu.
Mimpi-mimpi tentangnya mulai menghilang enam bulan lalu, dan itu membuatnya panik. Ia sudah terlanjur terikat padanya. Karena itu, setiap kali melihatnya, ia akan segera membuat sketsa wajahnya.
Ryan, adiknya, mengatakan bahwa wanita itu hanyalah bayangan dari imajinasinya. Namun, entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang menghubungkan mereka begitu dalam.
River meletakkan buku catatannya di meja samping, lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur. Ia berharap bisa memimpikannya lagi malam ini.
*****
Isabelle menghentikan mobilnya di depan rumah kakaknya. Sebelum keluar, ia memeriksa lip gloss di cermin. Dengan senyum ramah kepada penjaga gerbang, ia bergegas menuju aula. Seperti biasa, ia terlambat lagi.
Begitu masuk, ayahnya, Robbin, menatapnya tajam. Isabelle segera menyadari bahwa semua kakaknya sudah hadir. Matanya mencari sosok ibunya, tetapi tidak menemukannya. Pasti ibunya sedang menghadiri pertemuan lagi setelah mengantarnya ke rumah Wali Kota untuk kompetisi.
"tuan dan nyonya sekalian!" suara ayahnya menggelegar. "Ini putri bungsuku, Isabelle, dan sekarang dia akan menjelaskan kenapa dia terlambat... lagi."
Isabelle menatap orang-orang yang duduk di seberang meja.
Bagus, pikirnya. Keluarga vampir lagi.
"Hai... Aku... um... Aku sibuk mempersiapkan kompetisi Miss Ravenbrook. Aku... Aku bersama Ibuku," ucapnya dengan gugup, menundukkan kepala.
Isabelle tidak takut. Bagaimanapun, ia juga seorang vampir. Ia berasal dari salah satu keluarga vampir paling berkuasa di dunia, The Dravein.
Ayahnya, Robbin, telah hidup lebih dari seribu tahun dan merupakan salah satu vampir paling ditakuti di planet ini. Ibunya, Maria, adalah istri kedua ayahnya, seorang vampir yang baru berusia sekitar tiga puluh tahun sejak berubah. Istri pertama ayahnya tewas dalam perseteruan dengan keluarga vampir di seberang perbatasan.
Isabelle adalah adik bungsu dari tiga vampir paling mematikan di dunia-Kevin, David, dan Rhea. Meskipun mereka hanya saudara tiri, hubungan mereka tetap sangat dekat.
Dia merasakan Rhea menggenggam tangannya di bawah meja, memberikan dukungan.
"Mereka adalah keluarga Storm," kakaknya, Kevin, memperkenalkan. Isabelle mendongak untuk menyapa.
"Hai!" katanya dengan senyum ramah kepada para vampir yang duduk di seberang mereka.
Isabelle tetap diam sementara kedua keluarga mendiskusikan perjanjian aliansi dengan keluarga Storm. Saat ia mengangkat kepala, matanya bertemu dengan seorang vampir tampan berambut coklat madu yang menatapnya dengan penuh minat.
"Kami akan mendukung kalian melawan The Nocturn jika terjadi pertempuran. Meskipun, kurasa mereka tidak akan berani," jawab Darren Storm, vampir yang sejak tadi memperhatikannya, ketika ayahnya mengarahkan pertanyaan kepadanya.
"Aku tahu mereka tidak akan berani. Meskipun mereka memiliki keuntungan dengan menanam pohon ek, mereka masih terlalu muda. Jika sampai terjadi pertarungan, bahkan jika mereka bersatu, mereka tetap tidak bisa mengalahkanku," kata ayahnya dengan nada profesional.
"Aku lebih tua dan lebih kuat. Lagi pula, mereka sebenarnya belum melanggar perjanjian, tapi Kevin ingin kita bersiap-siap, untuk berjaga-jaga."
"David berhasil menyudutkan salah satu dari mereka beberapa hari yang lalu. Kami menemukan fakta bahwa mereka kini memiliki dukungan dari para penyihir Rowena, dan para manusia serigala," tambah Kevin.
"Hal itu cukup mengkhawatirkan. Meskipun mereka mungkin tidak berencana menyerang dalam waktu dekat, aku rasa kita tetap harus bersiap."
Darren Storm dan Jack Storm mengangguk. Sebuah dentuman keras mengalihkan perhatian mereka.
Mata semua orang langsung tertuju pada sumber suara itu-Jennifer Evergreen tengah berusaha menahan seperangkat porselen agar tidak jatuh dari rak. Namun, tangannya secara tidak sengaja menyenggol piring-piring di sana, menyebabkan rak itu roboh bersama seluruh isinya. Suara pecahan bergema di ruangan.
Tepat sebelum pecahan porselen melukai Jennifer, Kevin berlari ke sisinya dengan kecepatan vampir dan menariknya menjauh, menyelamatkannya dari cedera-meskipun, seandainya terluka, itu tidak akan permanen.
Jennifer adalah seorang vampir dan lukanya akan sembuh dengan cepat. Namun, Kevin adalah pasangannya. Vampir pria terkenal sangat protektif terhadap pasangan mereka.
"Dia memang vampir paling ceroboh di dunia," ujar David sambil tertawa.
"Sayang!" Kevin berkata sambil melingkarkan lengannya di pinggang Jennifer. "Aku sudah bilang untuk tetap di dalam kamar."
"Kevin," Jennifer mendesah kesal. "Aku ini istrimu, bukan budakmu. Aku wanita mandiri yang bisa melakukan apa pun yang ku mau, aku menolak untuk diperintah-perintah."
Jika ada satu hal yang paling Jennifer benci, itu adalah diperintah. Ironisnya, ia menikah dengan pria yang senang mengatur orang lain.
"Dan aku juga sudah bilang, bersihkan cangkirmu setelah minum. Aku benci noda darah di cangkir baruku. Sudah diputuskan, kau tidak akan menggunakan cangkir baru lagi. Aku butuh sepuluh menit untuk menggosoknya sampai bersih... Oh! Kita punya tamu..." katanya, akhirnya menyadari keberadaan Darren dan Jack yang tampak terhibur dengan celotehannya.
"Hai! Aku Jennifer Evergreen-Greystone," katanya sambil tersenyum.
"Dia adalah mate ku," Kevin menambahkan.
"Bukankah aku sudah bilang untuk tidak memanggilku seperti itu?" gerutu Jennifer. "Mate, kedengarannya aneh, bukan? Aku ini istrimu, Kevin. Istri. Gunakan istilah manusia. Aku tahu kita melakukan semacam pernikahan vampir aneh dan sekarang aku jadi milikmu, tapi aku tetap independen. Aku lebih suka kau memanggilku istri daripada pasangan."
Kevin menunduk, sedikit malu. Ia adalah vampir yang dulu membuat dunia gemetar ketakutan, tapi kini justru diomeli oleh istri vampirnya yang baru saja berubah.
"Isabelle!" serunya sambil mengertakkan gigi. "Belle! Bisa kau temani istriku tercinta? Aku ada urusan penting yang harus didiskusikan dengan Tuan Storm di sini."
"Hebat!" Jennifer mengoceh sambil berbalik, diikuti oleh Isabelle. "Abaikan saja aku. Aku tidak tahu kenapa aku bisa mencintaimu."
Rhea bersyukur Kevin tidak memilihnya untuk menemani Jennifer, terutama saat suasana hatinya seperti ini. Rhea memang tidak pernah akur dengan vampir pirang itu. Isabelle, sebaliknya, bisa bergaul dengan siapa saja, termasuk Jennifer, karena mereka telah berteman sejak kuliah.
Kevin pertama kali bertemu Jennifer saat mengunjungi Rhea di kampus. Saat itu, Jennifer hanyalah sahabat Isabelle, tetapi Kevin langsung jatuh hati padanya. Jennifer mengetahui segalanya dan dengan sukarela berubah demi Kevin. Setelah itu, Kevin menjadikannya pasangannya.
Meskipun mereka telah terikat selamanya oleh hukum vampir, Jennifer tetap menginginkan pernikahan manusia. Mereka memang sudah menikah secara hukum, tetapi Jennifer menginginkan pernikahan yang sesungguhnya. Kevin, yang tergila-gila padanya, dengan senang hati memenuhi keinginannya.
Jennifer juga ingin mengundang semua kerabatnya yang masih sepenuhnya manusia. Namun, untuk melindungi mereka dari ancaman The Nocturn-keluarga rival mereka dari seberang perbatasan-mereka membutuhkan bantuan. Itulah tujuan pertemuan yang diadakan hari ini. Bagi The Dravein, keluarga adalah segalanya. Mereka rela mati dan membunuh demi satu sama lain.
"Aku tidak mengerti kenapa ini jadi masalah besar, sayang," Jennifer mengoceh, dan Kevin harus menahan senyum. "Maksudku, baiklah, The Nocturn memang berbahaya, tapi tidakkah kita bisa, kau tahu, pergi ke perbatasan dan berbicara baik-baik dengan mereka? Meminta mereka untuk tidak menjadikan keluargaku santapan makan siang? Kita bahkan bisa mengundang mereka ke pernikahan. Itu pasti keren. Permusuhan berabad-abad bisa berakhir hanya dengan sikap ramah kita."
Dia begitu polos dengan cara yang begitu indah.
"Itu tidak sesederhana itu, Jennie," kata Isabelle sambil bersandar di pagar atap. "Mereka adalah musuh kita."
"Aku tahu... aku tahu... permusuhan berabad-abad..." Jennifer menghela napas.
Isabelle mengangguk.
Jennifer menyandarkan tubuhnya, mengingat saat Isabelle pernah menjelaskan sejarah mereka kepadanya.
Ravenbrook terbagi menjadi dua wilayah. Satu bagian dikuasai oleh The Dravein, sementara bagian lainnya milik The Nocturn. Mereka tidak pernah melintasi batas wilayah masing-masing, karena hukuman bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di wilayah lawan adalah kematian.
Permusuhan mereka yang berakar pada perebutan darah semakin sengit setelah ibu Kevin tewas dalam salah satu pertarungan mereka sekitar seratus delapan tahun yang lalu. Insiden itu memicu perang besar yang menyebabkan banyak vampir dari kedua pihak terbunuh.
Sebagai kaum yang lebih tua, The Dravein memiliki kekuatan lebih besar dibandingkan The Nocturn. Namun, The Nocturn memiliki penyihir dan manusia serigala di pihak mereka, menjadikan kekuatan kedua kubu seimbang.
Karena perang yang tiada akhir ini, keluarga vampir dari kota-kota sekitar memaksa kedua pihak untuk menandatangani perjanjian. Isi perjanjian itu menetapkan bahwa masing-masing keluarga harus tetap berada di wilayah mereka sendiri, hanya boleh berburu di area yang telah ditentukan, dan dalam keadaan apa pun, laki-laki dari satu keluarga dilarang melakukan ikatan pernikahan vampir dengan perempuan dari keluarga rival.
Kedua keluarga itu menaati aturan tersebut dengan ketat. Vampir perempuan bahkan tidak diizinkan mendekati perbatasan. Meskipun begitu, tidak ada yang mengeluh.
Rhea sendiri sudah bahagia dengan pasangannya, Theo, yang juga merupakan salah satu sahabat Kevin. Dengan hubungan itu, keluarga Theo pun otomatis menjadi sekutu bagi The Dravein.
Kini, hanya Isabelle dan David yang masih lajang dalam keluarga Greystone, terutama setelah Kevin menemukan cinta sejatinya.
Bagi Kevin Greystone, keluarga dan kehormatan adalah segalanya. Ia adalah orang kedua dalam komando setelah ayah mereka. Klan Dravein harus mengikuti semua perintahnya, dan tak seorang pun berani menentangnya. Satu-satunya hal yang lebih dia cintai daripada kekuasaan adalah keluarganya, yang selalu dia lindungi dengan segenap jiwa.
Harta paling berharga bagi Kevin adalah adik bungsunya, Isabelle Greystone. Dia memiliki kemampuan rahasia-sebuah kekuatan yang sangat langka di kalangan vampir. Hanya keluarganya yang mengetahui hal ini.
Sementara itu, Jennifer tidak bisa menahan diri untuk memikirkan para vampir lajang di klan mereka yang mungkin cocok untuk Isabelle. Naluri penjodohnya langsung menangkap ketertarikan Darren pada Isabelle.
"Apa kau pernah pergi melihat wilayah mereka?" Jennifer membuyarkan lamunan Isabelle.
"Kau bercanda? Kevin pasti akan menancapkan pasak ke dadaku jika itu terjadi."
"Tepat sekali, Adikku," Kevin menyahut saat dia muncul di belakang Jennifer, melingkarkan lengannya di sekelilingnya.
"Jennie, Sayang," Kevin berkata tegas. "Dengarkan aku baik-baik. Aku tahu kau memiliki hati yang penuh kebaikan dan tidak menyukai pertempuran serta permusuhan, tapi ini masalah serius. Dalam keadaan apa pun, kau tidak boleh mendekati garis perbatasan. Belum lagi, kau masih baru dalam dunia Vampir. Kekuatanmu belum cukup untuk menghadapi mereka, jadi jangan pernah mendekati perbatasan. Mengerti?"
Jennifer mengangguk. Dia masih baru di dunia mereka, tentu saja dia membutuhkan bimbingan.
"Tuhan! Aku sangat mencintaimu," kata Kevin sambil membungkuk untuk menciumnya.
"Eww... ini benar-benar bukan sesuatu yang ingin kulihat," Isabelle mengerang dengan jijik.
"Kau bisa pergi kalau mau," geram Kevin.
Isabelle mendengus kesal sebelum akhirnya pergi, meninggalkan pasangan bahagia itu. Namun, senyum kecil tersungging di wajahnya saat ia menuruni tangga. Ia senang melihat kakaknya akhirnya menemukan belahan jiwanya setelah penantian yang begitu lama.
Bukan berarti ia sendiri sudah lama hidup. Ia juga vampir baru. Hanya saja, ia sedikit berbeda.
Saat ia melompat turun dari anak tangga terakhir, ia menabrak seseorang. Matanya langsung menatap sosok di depannya.
"Aku sungguh minta maaf, Tuan Storm," Isabelle segera meminta maaf.
"Tidak apa-apa," pria itu memperkenalkan dirinya. "Panggil saja aku Darren."
"Isabelle, tapi teman-temanku memanggilku Belle," jawabnya sambil mengulurkan tangan.
"Belle," Darren tersenyum.
"Itu hanya nama panggilan," Isabelle buru-buru menjelaskan, merasa gugup hingga membuat Darren tertawa kecil.
"Aku tidak sedang menggoda. Nama itu diberikan oleh Kevin."
"Kau benar-benar cantik seperti panggilanmu," puji Darren. "Dan sekarang, aku sedang menggoda," tambahnya, membuat wajah Isabelle merona.
"Maukah kau pergi keluar denganku suatu saat nanti?" tanyanya.
("Wow, itu cepat," pikir Isabelle.)
"Aku... tentu," jawab Isabelle.
Pria itu tampan, berwibawa, dan memiliki kekuatan. Isabelle tahu keluarganya tidak akan keberatan jika ia pergi bersamanya. Namun, ia tetap harus memastikan dengan kakaknya. Tidak ada satu pun hal dalam keluarganya yang terjadi tanpa persetujuan Kevin.
"Besok pukul sepuluh?" tanyanya dengan senyum lebar.
Isabelle mengangguk sambil tersenyum.
"Apakah kau bersedia menemaniku sampai saudaraku menyelesaikan pembahasan perjanjian dengan Tuan Greystone?" tanya Darren dengan nada tergesa. Pria itu tidak ingin Isabelle pergi begitu cepat.
"Tentu."
"Jadi, kau ikut serta dalam ajang Miss Raven Brook tahun ini?" tanya Darren saat mereka berjalan menuju teras.
"Ya," jawab Isabelle. "Aku sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan kontes kecantikan, tapi ini lebih seperti warisan keluarga yang harus kuteruskan. Lihat saja! Ibuku pernah menang, kakakku Rhea juga, dan sekarang giliranku."
"Aku yakin kau akan menang," kata Darren.
Isabelle menghela napas.
"Kevin memberitahuku bahwa dulu kau pernah belajar di Night Shade," Darren memulai topik lain.
"Ya," jawab Isabelle. "Aku sudah menyelesaikan programku, dan sekarang berencana melanjutkan ke sekolah pascasarjana setelah pernikahan Jennie. Meskipun, aku tidak yakin Kevin akan mengizinkannya."
"Kau tidak terlalu menyukai Raven Brook?" tanya Darren, menilai dari sikapnya.
"Bukan begitu!" jawab Isabelle dengan mata berbinar. "Aku suka Raven Brook. Tapi ada begitu banyak masalah di sini, dan aku tidak ingin menghabiskan sisa hidup abadiku di kota kecil ini. Aku ingin menjelajahi dunia. Bertemu orang-orang baru. Mengalami budaya baru."
Darren tersenyum saat mendengarnya berbicara dengan penuh semangat tentang ambisinya.
"Kau bisa melakukan semua itu setelah menemukan pasanganmu," kata Darren. "Suatu hari nanti. Itulah indahnya keabadian. Kita punya waktu selamanya."
Isabelle tersenyum dan berkata, "Suatu hari nanti. Untuk saat ini, aku masih punya tanggung jawab terhadap keluargaku. Mereka bahkan tidak akan membiarkanku keluar dari kota tanpa sekelompok vampir untuk menjagaku."
"Mereka hanya ingin melindungimu," ujar Darren, membela niat Kevin. Ia tahu persis mengapa Kevin tidak ingin Isabelle lepas dari pengawasannya. "Kau tahu seberapa berbahayanya para vampir dari klan Nocturn? Mereka selalu mencari kesempatan untuk mencelakai kakakmu dan keluargamu. Selain itu, kau masih vampir muda. Kekuatanmu belum cukup besar. Kau butuh vampir yang lebih tua untuk menjagamu."
"Ya, aku tahu, tapi kadang-kadang keluargaku benar-benar membuatku kesal," balas Isabelle.
"Kau tahu, Belle... Isabelle," ujar Darren, melihat kesedihannya. "Aku bisa meminta izin pada Kevin dan membawamu keluar kota. Aku cukup tua, jadi kurasa kita tidak perlu vampir penjaga untuk melindungimu."
Isabelle tersenyum dan berkata, "Aku akan sangat menyukainya."
"Kalau begitu-" sebelum Darren bisa menyelesaikan kalimatnya, Maria tiba-tiba masuk tergesa-gesa melalui pintu depan.
"Oh, ternyata kau di sini, Belle," kata Maria sambil berjalan mendekati Isabelle.
Matanya yang tajam meneliti Darren dengan penuh perhitungan sebelum akhirnya tersenyum.
"Mom, ini Tuan Darren Storm," kata Isabelle memperkenalkan mereka. "Mereka datang ke sini untuk... yah, kau tahu... pernikahan Jennie. Dan Darren, ini ibuku, Maria Greystone."
"Senang sekali bertemu dengan Anda, Tuan Storm," ujar Maria dengan senyum antusias. "Saya sudah banyak mendengar tentang Anda dari Kevin."
Isabelle hanya memutar mata, sudah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan ibunya. Sejak Kevin menikah, ibunya terus berusaha mencarikannya pasangan.
"Senang bertemu dengan Anda juga, Nyonya Greystone," balas Darren sopan.
"Umm, aku harus pergi mencicipi kue untuk pernikahan," kata Isabelle buru-buru sambil melangkah menuju pintu.
"Permisi."