Bab 2

Samar-samar terdengar ponsel berdering. Tangan kokoh itu berusaha menyelusup ke bawah bantal sofa mencari keberadaan gadget tersebut. Kelopak matanya mulai mengerjap agar bisa melihat dari siapa panggilan tersebut.

Netra hitam itu langsung terbuka lebar ketika menyadari sekarang sudah pukul 07.00, artinya sudah lewat dari waktu subuh. Tilikan beralih kepada nama yang tertera di layar ponsel. Kakak Cantik.

“Assalamualaikum, Kak,” sapa Farzan setelah menggeser tombol hijau.

Dia beralih ke posisi duduk sambil mengurut pelipis. Pemuda itu tidak bisa tidur nyenyak, setelah insiden yang tidak terduga tadi malam. Pandangannya beralih melihat gadis yang masih terbaring di atas kasur.

“Waalaikum salam. Katanya tadi malam mau video call,” balas Arini di seberang sana.

“Maaf banget, Kak. Aku sampai apartemen udah kemaleman banget, kakak pasti tidur nyenyak,” ujarnya beralasan.

Terdengar tarikan napas berat. “Di sini sekarang udah siang. Mana nih? Kakak mau lihat wajah kamu.”

Farzan tersenyum lebar. Dengan hal kecil seperti ini sudah cukup berarti baginya. Dia juga mendapatkan kasih sayang dan perhatian Arini, meski tidak bisa memilikinya.

Sekali lagi, ia cukup tahu diri dengan posisi sebagai anak dari perempuan yang telah merenggut kebahagiaan wanita lain.

“Bentar, Kak. Aku cuci muka dulu.”

Arini berdecak berkali-kali. “Salatnya jangan lewat dong, Dek. Dosa loh ditinggalin. Apalagi salat Subuh.”

Farzan hanya nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala. “Ketiduran, Kak. Biasanya nggak begini. Cuma tadi malam nggak bisa tidur aja.”

“Lain kali kalau ketiduran, langsung salat jangan ngapa-ngapain dulu. Ngerti?”

“Ngerti, Kakak Sayang. Ya udah, sekarang aku cuci muka dulu. Habis itu kita video call,” janji Farzan sebelum mengakhiri panggilan.

Kedua tangannya terangkat ke atas meregangkan tubuh yang terasa pegal. Menggendong tubuh kurus perempuan tadi malam, ternyata bisa membuat ototnya menegang. Farzan mengembuskan napas lesu saat ingat ada orang asing di flatnya.

“Bahaya kalau kakak lihat,” gumamnya mulai panik.

Sambil mengucek mata, ia berdiri lantas beranjak menuju tempat tidur.

“Mbak,” panggil Farzan membangunkan.

Perempuan itu bergeming.

“Mbak,” ulangnya lagi menendang pinggir tempat tidur, sehingga wanita tersebut tersentak.

Netra hitam lebar itu langsung membesar, kemudian beredar ke sekeliling. Sedetik kemudian, ia meringis karena kepala terasa pusing.

Farzan hanya berdiri sambil berkacak pinggang. “Udah sadar, ‘kan? Sekarang silakan pergi.”

Lagi-lagi perempuan berwajah tirus itu melotot bingung. “Lo siapa? Kenapa gue bisa ada di sini?”

Dia menarik selimut menutupi tubuh yang masih berpakaian lengkap. “Lo apain gue tadi malam?” tanyanya sambil meraba di bagian bawah selimut.

Tawa singkat keluar dari sela bibir Farzan. “Makanya kalau minum jangan kebanyakan, Mbak. Untung ada saya yang tolongin. Kalau nggak, mungkin udah diculik dan diperkosa sama dua bule tadi malam.”

Bibir terisi penuh itu sedikit terbuka ketika kening berkerut. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi tadi malam, sebelum tertunduk lesu.

“Udah ingat? Nah, sekarang silakan pergi dari sini sebelum ada yang datang,” usir Farzan berusaha sopan.

“Sorry, udah nuduh lo macam-macam. Thanks juga udah tolongin gue.” Wanita itu mengangkat pandangannya.

“You’re welcome.” Farzan menyatukan kedua tangan di depan kepala. “Please, sekarang Mbak pergi ya. Saya nggak mau ada kesalah pahaman.”

Perempuan itu keluar dari selimut yang membungkus tubuh, kemudian mengambil tas yang tergeletak di lantai. Dia malu sekali karena telah menuduh Farzan yang bukan-bukan. Seperti anak kecil yang melakukan kesalahan, ia berdiri takut-takut sambil membungkukkan tubuh.

“Sekali lagi makasih ya,” ucapnya sembari merapikan rambut di sela pusing yang masih terasa.

Farzan mengangguk singkat sambil melirik jam dinding. Dia ingin gadis ini cepat pergi, agar bisa memenuhi janji untuk video call dengan Arini.

Pemuda itu mengulurkan tangan ke arah pintu. “Silakan.”

Perempuan bertubuh semampai itu melangkah menuju pintu, namun kembali membalikkan tubuh menghadap Farzan.

“Nama gue Nadzifa. Gue ke sini cuma buat liburan aja.” Dia nyengir kuda sebelum melanjutkan perkataan. “Gue tahu ini nggak penting buat lo. Tapi gue nggak mau lo berpikir aneh-aneh tentang gue.”

Farzan memiringkan kepala sambil mengerling ke arah pintu. Pertanda gadis itu sudah harus pergi dari sana. Khawatir juga jika Bram datang pagi-pagi ke flatnya. Apalagi pemuda berkacamata tersebut tinggal di flat sebelah.

Gadis bernama Nadzifa itu kembali memutar tubuh menghadap pintu, lantas mengayunkan kaki lagi. Langkahnya berhenti ketika Farzan membukakan pintu.

“Wah kebetulan lo buka pintu, Zan. Tadi ma—” Tiba-tiba sosok yang tidak ingin ditemui Farzan muncul di sela pintu.

Netra di balik kacamata itu memelotot ketika melihat perempuan berada di flat sahabatnya pagi-pagi sekali. Keningnya berkerut ketika pandangan berpindah kepada Farzan. Sudah pasti menuntut penjelasan.

“Nanti gue ceritain,” ujarnya.

Nadzifa hanya tersenyum gugup kepada Bramasta.

“Sekali lagi thanks ya. Kalau lo nggak datang tepat waktu, gue pasti—”

“Udah, Mbak. Saya terima kok ucapan permintaan maaf dan terima kasih dari Mbak. Sekarang pergi ya,” kata Farzan tak sabar.

Kepala Nadzifa manggut-manggut. Tanpa mengucapkan kata-kata lagi, ia pergi dari sana dengan langkah gontai.

“Ternyata lo diam-diam menghanyutkan, Man,” goda Bramasta menepuk pelan dada Farzan setelah gadis itu menghilang di dalam kotak besi.

“Sialan.” Tangan Farzan naik ke atas, lalu mengusap wajah Bram.

Mereka berdua berjalan memasuki flat yang terlihat berantakan, gara-gara kejadian tadi malam.

“Cuci dulu tuh otak lo. Jangan salah paham.” Farzan mengempaskan tubuh di sofa.

Bram ikut duduk di sebelah sang Sahabat dengan tenang. Ah, tidak tenang juga karena senyum usil masih tergambar jelas di parasnya.

“Gimana nggak suuzan coba. Pagi-pagi ada cewek di flat lo.” Bram tampak antusias. “Udah gitu tadi malam pulang dadakan, tanpa pamitan juga. Wajar dong kalau gue pikir kalian ngapa-ngapain.”

Farzan berdecak malas sambil bersandar di sofa. Dia mulai menceritakan kejadian tadi malam tanpa mengurangi atau melebihkan. Termasuk dengan celotehan Nadzifa ketika bangun, sebelum tertidur lagi.

“Dia ngajak lo nikah?” seru Bram tak percaya.

Farzan mengangkat bahu singkat. “Jangan berpikir kalau lo percaya dengan ucapan orang mabok.”

Bram menegakkan tubuh sambil memangku tangan. “Zan, Zan. Lo pikir ucapan orang mabok nggak bisa dipercaya?”

“Justru orang mabok itu suka ngomong jujur,” sambungnya lagi.

“Udah ah, nggak penting juga.” Farzan mengibaskan tangan malas. Dia kemudian berdiri lagi, berniat membersihkan wajah di kamar mandi.

“Mau ke mana lo?”

“Cuci muka. Ngantuk banget. Nggak bisa tidur tadi malam,” sahut Farzan tanpa menoleh kepada Bran.

“Nggak bisa tidur karena ada cewek cakep?” Bram tidak berhenti menggoda sahabatnya.

“Cakep apaan? Kurus kayak gitu,” teriak Farzan yang sudah berdiri di depan wastafel.

“Iya deh. Bagi lo yang paling cantik itu Kak Arini,” balas Bram ikutan teriak juga.

Farzan hanya tergelak sambil geleng-geleng kepala. Dia segera menggosok gigi, kemudian mencuci muka. Tak lupa juga membasahi rambut bagian atas, agar rapi ketika disisir.

“Sana gih balik. Gue mau VC sama Kak Arini,” usir Farzan mengibaskan tangan singkat.

Senyum usil tergambar jelas di paras Bramasta. Dia berdiri setelah membuang napas singkat. Tangannya bergerak menepuk pundak Farzan dua kali.

“Take your time, Man. Jangan lupa dua jam lagi kita ke kampus,” tutur Bram sebelum beranjak ke luar flat.

Farzan hanya geleng-geleng kepala melihat ekspresi sahabatnya. Setelah memastikan pintu flat tertutup, ia langsung bergerak menuju sofa. Tempat dirinya tidur tadi malam.

Tak lama setelah melakukan panggilan video, wajah cantik Arini sudah memenuhi layar ponsel.

“Akhirnya bisa lihat kamu, Dek,” kata Arini tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipi.

Pemuda itu tersenyum mengamati wajah kakak iparnya yang tampak sedikit pucat. Meski begitu, tidak mengurangi kecantikan alami yang dimiliki perempuan berusia awal empat puluh tahun tersebut.

“Maaf tadi malam ada masalah dikit, jadi nggak bisa VC sama kakak.”

Kening Arini berkerut bingung. “Masalah apa? Kamu nggak kenapa-napa ‘kan, Dek?”

Farzan menggelengkan kepala dengan seulas senyum. Dia suka Arini yang perhatian seperti ini. Ternyata penyakit yang diderita tidak membuat wanita tersebut melupakan dirinya.

“Aku keluar sama teman-teman, trus lihat ada cewek Indonesia yang diganggu sama dua orang bule.”

“Trus?” Arini tidak bisa menutupi raut khawatirnya.

“Alhamdulillah mereka langsung kabur waktu aku ancam.”

“Syukurlah kalau gitu.” Sesaat kemudian iras wajah Arini berganti jail.

“Cewek yang digangguin cantik nggak? Masih muda? Single?” cecarnya sambil menaik-naikkan kedua alis.

“Kakak apaan sih?” sungut Farzan dengan wajah mengerucut.

“Ya kali aja ketemu soulmate gitu, Zan. Jangan sampai ketikung sama Alyssa loh nanti. Udah ada yang nungguin tuh anak,” tanggap Arini tersenyum lebar.

Aku berharap perempuan itu kamu, Kak, batin Farzan terasa sesak.

“Al dan El lagi di sekolah ya, Kak?” tanya Farzan mengalihkan pembicaraan.

Wanita berkerudung itu berdecak dua kali. “Kamu ini persis kayak Mas Brandon. Kalau nggak mau tersudutkan, langsung ganti topik.”

“Bukannya Kakak yang gitu? Kok malah nuduh Mas Brandon,” balas Farzan menyipitkan mata elangnya.

Bola mata Arini naik ke atas seperti sedang berpikir.

Farzan kembali memperhatikan reaksi kakak iparnya. Dia tahu sekarang memori Arini kembali kacau.

“Kakak udah minum obat?”

Wanita itu bergeming.

“Kak?” panggil Farzan.

“Eh? Apa?” Arini kembali melihat ke kamera. “Kamu cepat pulang ya, Dek. Kakak kangen.”

Pemuda tersebut mengangguk berkali-kali dengan tubuh mulai bergetar. Perasaannya terasa sakit melihat kondisi Arini seperti ini.

“Pasti, Kak. Aku akan pulang secepatnya. Aku janji akan jagain Kakak baik-baik,” desisnya tercekat.

Bersambung.....

Bab 3

Delapan bulan kemudian

Hampir delapan belas jam perjalanan dari Zürich menuju Jakarta, membuat Farzan tidak bisa memejamkan mata sedikit pun. Dia sudah tidak sabar bertemu lagi dengan Arini, wanita yang sangat dirindukan saat ini. Sejak beberapa jam yang lalu, foto wanita itu yang selalu dilihatnya di pesawat.

Akhirnya Farzan selesai menempuh pendidikan di kota yang dikenal dengan nama lain Turicum tersebut. Pemuda itu berencana untuk bekerja di perusahaan otomotif dibandingkan harus mengelola perusahaan sang Ayah yang kini ditangani oleh Brandon, kakak tirinya. Apalagi perusahaan The Harun’s Group tidak bergerak di bidang otomotif, melainkan properti dan garment.

Dua jam kemudian, pesawat yang ditumpangi Farzan berhasil mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta. Seperti biasa, tidak ada yang menjemputnya di bandara karena kondisi kesehatan Arini sedang tidak baik. Kedua keponakannya juga bersekolah, sementara Brandon sibuk dengan pekerjaan di perusahaan.

“Pulang sama apa, Zan?” tanya Bram menepuk bahu Farzan.

“Taksi. Biasa,” jawab Farzan singkat.

Bramasta senyam-senyum melihat wajah semringah sahabatnya. “Senang banget mau ketemu sama pujaan hati.”

Farzan meninju pelan perut Bram, lantas melingkarkan tangan di lehernya. “Pujaan hati apanya?” sungut pemuda itu.

Pemuda berkacamata itu meringis kesakitan dan berusaha melepaskan lingkaran tangan sahabatnya.

“Lo udah janji nggak bakal bahas itu di Jakarta, Bram,” protes Farzan setelah menurunkan lengannya.

“Ya sorry. Lagian gue ‘kan nggak nyebut merek, Zan,” ucap Bram menggerakkan leher yang terasa sedikit sakit.

Farzan kembali mengalihkan pandangan ke tempat baggage conveyor berada. Sorot mata elangnya mencari keberadaan dua koper besar yang diangkut dari Zürich.

“Cari pacar gih sana, biar nggak berlarut-larut tuh perasaan,” saran Bram membuat Farzan kembali menoleh kepadanya.

Pemuda bertubuh tinggi tegap tersebut mengangkat bahu singkat, lantas menggelengkan kepala.

“Kenapa?”

“Ngapain cari pacar kalau cuma buat pelarian,” tanggapnya singkat, “kasihan anak orang dong.”

Bram tertawa mendengar perkataan sahabatnya. Entah berapa kali ia menyarankan hal yang sama kepada Farzan dan sudah berapa kali juga mendengar jawaban serupa.

“Ya udah. Gue harap, lo bisa kuat, Zan.” Bram menepuk lagi pundak sahabatnya tiga kali.

Setelah menemukan barang bawaan masing-masing, mereka berdua segera keluar dari area pengambilan bagasi. Senyuman kembali menghias paras tampan Farzan, karena sebentar lagi akan bertemu dengan Arini.

Begitu tiba di pintu keluar terminal kedatangan, senyuman itu memudar seketika. Langkah Farzan berhenti saat melihat perempuan yang tidak ingin lagi ditemuinya, kini berdiri di antara puluhan orang yang menunggu kedatangan keluarganya.

“Kenapa, Zan?” Bram bingung sendiri melihat reaksi aneh Farzan.

“Hah?”

“Apanya yang hah? Kenapa berhenti? Counter taksi ada di sebelah sana,” kata Bram menunjuk sebelah kanan pintu masuk terminal.

Farzan menelan ludah, kemudian menurunkan topinya ke bawah. Dia mempercepat langkah menuju tempat pemberhentian taksi.

“Lo kenapa sih, Zan?” Bram sudah berjalan di samping Farzan setelah mengejarnya dengan napas mulai tersengal-sengal.

“Gue pengin cepetan nyampe rumah aja. Kangen sama Mama dan Papa,” desis Farzan asal.

Bramasta menatap curiga sahabatnya. Dia tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan pemuda itu. Empat tahun mengenal Farzan, ia tahu persis ada yang disimpan olehnya.

“Ya udah. Gue cabut duluan ya. Jangan lupa weekend kita nongkrong di Beer Garden,” pungkas Farzan ketika melihat taksi yang dipesan tiba.

Dia segera meninggalkan Bram yang kebingungan dengan perubahan sikapnya barusan. Taksi mulai berjalan pelan meninggalkan area terminal kedatangan internasional, termasuk dengan perempuan yang dilihat Farzan. Mata elangnya terpejam erat saat tubuh bersandar di jok mobil.

“Gimanapun, dia adalah Ibu kamu. Dia yang melahirkan kamu, jadi harus tetap berbakti ya, Dek.”

Penggalan nasihat yang kerap diberikan Arini kembali terngiang di pikiran pemuda itu. Tangannya naik lagi ke atas, mengusap wajah dengan kasar. Dia mendesah pelan sebelum bersuara.

“Pak, boleh balik lagi ke tempat tadi?” pintanya merasa tak tega meninggalkan perempuan paruh baya itu sendiri di depan pintu terminal.

Taksi segera berputar arah lagi menuju terminal kedatang internasional. Selang beberapa menit kemudian kendaraan roda empat tersebut berhenti di area drop-off penumpang.

“Bisa tunggu sebentar, Pak? Saya cuma sebentar. Argo jangan dimatikan,” ujar Farzan sebelum membuka pintu mobil.

Setelah memastikan Bram sudah tidak ada lagi di sana, ia segera turun dari mobil lalu melangkah ke tempat wanita paruh baya itu berdiri. Ternyata sosok yang ingin dihindari tadi masih berdiri di sana, menunggu kedatangannya.

Farzan menghela napas berat, sebelum menarik tangan kurus itu menjauh dari kerumunan. Sorot matanya menjelajahi wajah yang kini sudah menua. Tidak ada lagi kecantikan yang dulu dibanggakan di sana. Kerutan sudah menghiasi area mata dan kening. Rambut putih juga mendominasi mahkota hitam tebal yang dulu melengkapi sempurnanya kecantikan seorang Rahayu Harun, istri kedua Sandy Harun.

“Kenapa Mommy bisa ada di sini?” tanya Farzan dengan sorot mata dingin kepada wanita yang telah melahirkannya.

Perbuatan Ayu di masa lalu benar-benar membuat Farzan malu. Apalagi ia juga hasil dari perbuatan buruk sang Ibu yang menjebak ayahnya hingga hamil sebelum menikah. Bagi pemuda itu hanya Maylisa Harun yang diakui sebagai ibu di depan teman-temannya.

“Arini yang kasih tahu kalau kamu datang hari ini,” jawab Ayu tanpa bisa menyembunyikan kerinduan dengan buah hati.

Lagi-lagi Farzan mendesah. “Mommy nggak ngerecokin Papa lagi, ‘kan?”

Ayu menggeleng lesu. “Mommy ke sini hanya ingin ketemu sama kamu, Nak. Mommy kangen.”

Tangan yang mulai berkerut itu naik membelai pinggir wajah Farzan yang sudah menunjukkan sisi dewasanya. Dia tumbuh menjadi pemuda yang tampan melebihi kakaknya dulu.

“Sekarang udah ketemu, ‘kan? Sekarang Mommy balik lagi ke Uluwatu.” Farzan memperlihatkan wajah memohon.

Ayu kembali menggeleng seraya mengulas senyum. “Arini sudah pesankan apartemen untuk Mommy tinggal selama satu minggu.”

“Kamu nggak perlu khawatir, Mommy janji nggak akan ganggu Mas Sandy dan Mbak Lisa lagi.” Ayu menggenggam erat kedua tangan Farzan. “Toh kamu juga sudah cukup untuk menjamin kehidupan Mommy,” sambungnya kemudian.

Kening Farzan berkerut dalam ketika mencoba menganalisa perkataan Ayu.

“Kamu akan handle perusahaan Papa, ‘kan?” Ayu mengajukan pertanyaan yang membuat Farzan terkesiap. “Tentu iya, ‘kan? Mommy tahu kamu pasti akan dapat setengah dari group perusahaan itu.”

Pemuda itu tidak menyangka sang Ibu masih saja memikirkan materi. Bahkan setelah dipenjara, Ayu masih belum berubah. Dia tidak habis pikir bagaimana Arini bisa membiarkan ular berbisa seperti ini berkeliaran di Jakarta.

Sorot mata elang Farzan menajam ketika menatap Ayu lurus. Kedua tangan menggenggam erat bahu yang begitu kurus.

“Jika itu alasan Mommy ingin tinggal bersama denganku di sini, sebaiknya buang aja jauh-jauh.” Farzan menarik napas mencoba mengendalikan amarah yang mulai naik. “Aku nggak mau kerja di perusahaan Papa. Lagian perusahaan itu milik Mas Brandon. Jadi jangan pernah berpikir hidup Mommy akan sejahtera denganku.”

Farzan kembali menegakkan tubuh. Dia melangkah pergi meninggalkan wanita itu tak jauh dari pintu keluar terminal kedatangan. Hati terasa sakit ketika menyadari sang Ibu hanya menginginkan materi, bukan murni karena rasa sayang layaknya seorang ibu kepada anaknya.

“Farzan,” panggil Ayu namun tak dihiraukan.

Pemuda itu terus melangkah menuju taksi yang akan membawanya ke rumah keluarga Harun. Tempat di mana ia bisa mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Lisa dan terutama Arini.

Sekuat tenaga Farzan menahan bulir bening yang ingin keluar dari netra hitamnya. Dia mendadak menjadi anak laki-laki cengeng. Saat ini yang dibutuhkan adalah bahu Arini, tempat ia biasa menumpahkan air mata ketika merasa sedih dengan nasibnya.

Bersambung....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED