Bab 2

"Nah, itu. Aku juga tahu kalau cinta itu tidak terduga. Tapi, Ma. Seperti kata Mama barusan soal kenyamanan, kalau boleh jujur, aku sudah nyaman dengan status teman antara aku dan Amel, Ma. Paling mentok status kakak dan adik. Aku hanya tidak mau membuat salah satu dari kami malah terluka, terkhusus Amel, Ma. Karena tidak adanya penerimaan dari laki-laki yang menjadi suaminya itu pasti sangat menyakitkan. Mama mau melihat aku menyakiti Amel karena tidak bisa memperlakukan dia selayaknya istri nantinya? Mama mau melihat aku menciptakan pernikahan yang tidak bahagia karena salah satu dari yang menjalaninya berdasar keterpaksaan? Menikah itu enggak mudah buat aku, Ma. Butuh persiapan matang. Iya, kalau Amel bisa sabar menghadapi aku, kalau tidak bagaimana? Terus bagaimana dengan keluarganya? Mereka pasti tidak akan terima kalau aku memperlakukan putri kesayangan mereka seperti itu.”

Aisyah berdecak di seberang sana. “Kamu ini anaknya siapa, sih, Dib? Pinter banget cari alasan. Sepanjang itu juga kalimatnya.”

“Ya anaknya Mama dan Papa dong. Anaknya siapa lagi?”

Aisyah terdiam dalam beberapa saat. “Lalu, kalau bukan Amel siapa, Nak? Mama milih Amel karena Mama yakin dia bisa jadi pendamping yang baik untuk kamu. Lagi pula selama ini kamu enggak pernah dekat dengan cewek selain dia. Bahkan banyak mahasiswimu yang terang-terangan ingin dekat denganmu, tapi kamu membentangkan jarak di antara mereka,” protes Aisyah.

Adib bukan tipe lelaki yang sangat tampan. Rupanya bisa dibilang biasa-biasa saja. Namun, lesung di pipinya yang muncul ketika tersenyum menjadi daya pikat tersendiri. Kulitnya tidak begitu terang, tetapi cukup memberi kesan manis. Meski begitu, banyak dari mahasiswinya yang mengaku suka, bahkan ada yang mengatakan kagum terhadap sosok Adib Al Faroby, yang menjadi dosen tetap Fakultas Tarbiyah, di universitas tempatnya mengajar tersebut.

Adib bukan tidak tahu jika banyak di antara mereka ada yang memang sengaja mendekatinya, tetapi sesuai yang dikatakan Aisyah, lelaki itu memang membentangkan jarak. Dalam artian, di dalam kelas dan dunia perkuliahan Adib akan menjadi sosok peramah dan sangat terbuka. Namun, tidak untuk hal-hal yang menyangkut privasinya.

“Perempuan di dunia ini bukan hanya Amel, Ma. Lagian Mama tidak bosan apa memaksakan sesuatu yang tidak aku inginkan? Aku saja bosan ditekan terus sama Mama,” aku Adib pada akhirnya.

Terdengar embusan napas kasar dari balik ponsel Adib. Aisyah bukan tidak memiliki alasan mengapa dia selalu mendesak putra semata wayangnya itu untuk segera menikah. Usianya sudah makin tua. Sedangkan penerus keluarganya hanya Adib seorang. Aisyah juga takut jika anaknya malah memilih melajang seumur hidup. Oh, tidak. Aisyah tidak bisa tinggal diam jika putranya benar-benar berpikir demikian.

Bagi Aisyah, sudah cukup dia membiarkan Adib bebas dari tuntutannya untuk segera menikah sejak lulus kuliah sarjana. Bahkan wanita itu tetap mengizinkan putranya untuk mengontrak rumah itu, padahal dia tahu tujuan Adib keluar dari rumah. Adib harus menikah secepatnya, begitu pikiran Aisyah. Belum lagi, desas-desus yang mulai terdengar tidak mengenakkan telinga karena Adib belum saja menikah. Memang, seharusnya kita tidak selalu mendengarkan ocehan orang lain tentang apa yang kita perbuat. Namun, jika terus-terusan dibiarkan begitu, yang ada mereka makin melunjak. Aisyah tidak mau lagi anaknya menjadi buah bibir para tetangganya.

Sementara itu, Adib tahu semuanya. Dia tahu dengan apa yang menjadi kekhawatiran sang mama hingga mendesaknya untuk segera berkeluarga. Karena memilih menghindari Aisyah dengan mengontrak rumah di dekat kampus, bukan berarti dia mengabaikan sang mama dan yang bersangkutan dengannya. Dia hanya meminta waktu untuk sukses terlebih dahulu di dunia karier, baru setelah itu akan menikah.

“Mama enggak akan bosan untuk yang satu itu, Adib. Kamu harus menikah, Nak.” Suara Aisyah kembali terdengar setelah beberapa waktu berlalu tanpa percakapan. “Mama hanya takut kalau kamu memilih sendirian selamanya, Nak.” Akhirnya alasan paling utama itu terucap dari bibir Aisyah. Suaranya sudah memelan. Hanya kekhawatiran yang tertangkap dari nada bicara wanita itu.

“Yang bilang aku tidak mau menikah itu siapa, mamaku sayang? Aku pasti menikah.” Tanggapan Adib itu membuat Aisyah menghela napas lega. Setidaknya, masih ada keinginan untuk menikah dalam diri putranya itu. “Tapi tidak dalam waktu dekat ini, ya, Ma. Lagi pula Adib baru dua puluh sembilan tahun, ‘kan, Ma.”

Aisyah yang semula berpikir bahwa putranya akan luluh setelah mengucapkan kalimat menenangkan seperti tadi, kembali dibuat kesal oleh kalimat lanjutan yang selalu mengarah pada pengelakan. Wanita itu kembali naik darah. “Baru dua puluh sembilan kamu bilang? Kamu mau nikah di umur berapa, Adib? Di usia empat puluh tahun? Yang benar saja? Kamu enggak lihat, adik-adik sepupu dan teman-teman kamu yang usianya jauh di bawah kamu aja udah punya anak. Bahkan udah ada yang punya dua dan tiga anak, Dib,” omel Aisyah lagi. Dia benar-benar tidak habis pikir mengapa putranya itu sangat keras kepala untuk urusan ini.

“Ada Alfa, kok, Ma. Orang tua dia malah santai banget, tidak seperti Mama.” Adib membekap mulut saat menyadari kalimat apa yang baru saja diucapkan kepada sang mama.

“Kamu ini, ya. Alfa, ya, Alfa. Itu bukan urusan Mama. Sekarang ini urusan kamu. Ayo, apa lagi yang kamu tunggu? Pekerjaan? Kamu sudah mempunyai pekerjaan tetap sebagai dosen, belum lagi kerjaan online kamu itu. Usia kamu juga sudah cukup matang untuk berkeluarga, Nak. Calon? Kan Mama sudah menawarkan Amel ke kamu? Tapi kamu malah menolak. Ayolah, Nak.”

Adib menghela napasnya perlahan. Berbicara dengan Aisyah dan menyangkut pernikahan, pasti akan selalu menguras tenaga. Adib yang bersikeras mengelak, sedangkan Aisyah yang bersikukuh menuntut, membuat pembicaraan di antara keduanya tidak akan pernah absen dari yang namanya perdebatan. Leaki bertubuh kurus tetapi cukup jangkung itu, memijat kening perlahan. Pusing mulai menyergap.

“Iya, Ma. Oke, oke. Terserah Mama saja, deh. Aku akan segera bawa gadis yang akan kujadikan istri, tapi bukan Amel orangnya, dan bukan dalam waktu dekat ini,” putus Adib pada akhirnya. Dia langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak dari Aisyah. Tidak sopan, memang. Namun, jika Adib tidak melakukannya, Aisyah tidak akan berhenti mengomel dan membuat waktunya terulur untuk menemui Amelia. Padahal hari sudah makin sore. Adib baru ingat jika telah menyetujui janji temu dengan Amelia tadi, sehabis keluar dari kelas.

Mengabaikan pikiran yang kacau karena perdebatan dengan mamanya tadi, Adib menghidupkan mesin mobil dan mulai mengemudi dengan kecepatan standar. Dia memilih untuk tidak terburu-buru karena kepalanya masih pusing. Lebih tepatnya menghindari bahaya, jika dia memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata pada saat pikirannya kalut.

Hampir sepuluh menit dari perjalanan, ponselnya yang berada di kursi samping kemudi berbunyi. Adib melirik sekilas layar benda elektronik yang masih menyala itu. Tertera nama Amelia di sana. Meski sebenarnya lelah melihat nama pemanggil yang tertera, Adib memutuskan memelankan laju mobilnya dan mengangkat panggilan dari perempuan itu.

“Iya, kenapa, Mel?” tanya Adib dengan suara yang dibuat setenang mungkin. Dia tidak mau terus-terusan berada dalam fase emosi. Bisa-bisa dia stroke mendadak.

“Kamu masih lama enggak, Dib? Aku udah nunggu kamu dari setengah jam yang lalu, lo. Kalau kamu emang enggak niat ketemu sama aku, enggak usah iya-in aja sekalian ajakanku, ‘kan bisa, Dib? Daripada molor kayak gini, bosen tahu sendirian di sini.”

Niat hati untuk bersikap tenang meski suasana hati memang tidak baik-baik saja, sepertinya tidak akan terealisasi. Bagaimana tidak? Baru pembukaan saja, perempuan yang akan Adib temui itu sudah marah-marah. Makin menambah kekesalan hatinya saja. Adib mengeratkan pegangan pada setir mobil. Giginya sudah bergemeretak, menahan gejolak emosi yang makin membuncah dalam hati. Ini salah satu alasan Adib tidak bisa menerima gadis ini masuk ke dalam hidupnya, melebihi batas teman. Amelia sering mengambil kesimpulan sepihak tanpa menanyakan alasan Adib terlebih dahulu. Ditambah kurang sabar, maunya marah terus kalau apa yang diinginkan tidak segera dikabulkan. Bisa dibilang childish, tidak, sih?

Bab 3

Adib memijat keningnya yang semakin terasa pusing. Dia memilih menepikan mobilnya sebentar untuk berbicara dengan Amel. Tentu saja menghindari risiko kecelakaan karena konsentrasinya akan terpecah.

“Harusnya kamu bisa mengerti aku sedikit saja, Mel. Setidaknya aku masih menghargai kamu dengan menerima ajakan pertemuanmu meski aku banyak kerjaan,” balas Adib dengan nada suara bercampur emosi.

“Ya, tapi enggak gini juga, ‘kan, Dib? Aku bosen, kamu juga harusnya ngertiin aku, dong. Kalau kamu mau telat kamu kasih tahu aku, biar aku bisa berangkat agak telat juga,” protes gadis itu tidak mau kalah dan tidak mau disalahkan. “Setelah kamu selalu nyuekin aku, enggak mau aku ajak bertemu sama teman-teman yang lain, sekalinya mau nerima ajakan pertemuan aku, kamu malah bikin aku kesal kayak gini. Capek tahu?!”

Terbuat dari batu atau bagaimana sih, Amelia itu? Adib menggelengkan kepala beberapa kali. Tidak mau makin emosi, akhirnya dia memutuskan, “Sudahlah, Mel. Daripada mengomel seperti itu, mending kamu pulang saja, deh. Aku juga sudah tidak ada mood buat bertemu kamu. Tidak ada gunanya juga aku banyak menjelaskan sama kamu. Yang ada kita malah terus berdebat. Asal kamu tahu, yang merasa lelah bukan hanya kamu, Mel. Aku pun. Banyak kerjaan, iya. Mahasiswiku hampir UAS, naskah yang harus aku benerin dari penerbit juga banyak.”

Karena selain menjadi dosen, Adib mempunyai pekerjaan sampingan, yaitu editor di salah satu penerbit mayor. Sebenarnya, dia sudah ingin berhenti saja menjadi editor. Namun, mengingat betapa sulit perjuangannya hingga bisa lolos menjadi editor di penerbit mayor yang cukup terkenal itu, Adib mengurungkan niatnya untuk resign. Dia tidak ingin perjuangannya itu hilang begitu saja. Meski sulit menjalani dua pekerjaan sekaligus, Adib memilih sabar saja. Dia berusaha mengatur manajemen waktunya sebaik mungkin agar tidak berbenturan, tentunya tidak merugikan dirinya sendiri.

“Maaf, aku membuat kamu kecewa lagi kali ini. Aku tidak mungkin menemui kamu dengan keadaan aku yang juga lagi kacau, Mel. Aku harap kamu bisa mengerti aku, ya?” pungkas Adib. Tanpa menunggu jawaban darinya, dia melempar ponsel itu ke kursi di sampingnya. Dia telungkupkan kepalanya ke sisi setir dan berdiam dalam beberapa saat untuk menenangkan diri. Embusan napasnya terdengar memburu, kentara sekali sedang menahan emosi. Namun, dengan keadaan belum benar-benar tenang, dia kembali menegakkan tubuh, bersiap untuk putar balik perjalanan menuju rumahnya sendiri. Biarlah sang mama akan mengomel kembali karena dia tidak jadi pulang ke sana. Daripada makin menambah masalah karena pikirannya sudah benar-benar kacau, lebih baik menghindarinya dengan tidak bertemu dengan orang-orang yang memang menjadi sumber pikiran itu.

Setelah menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, Adib perlahan memutar balik mobil yang dikendarainya. Namun, belum juga berhasil berbalik arah, dia dikejutkan dengan teriakan seorang perempuan berpenampilan acak-acakan yang muncul tiba-tiba. Adib memang berhasil tidak menabrak perempuan itu karena langsung mengerem mendadak, tetapi nasib nahas tetap tidak terelakkan. Tidak tertabrak mobil Adib, dia malah tertabrak mobil lain yang datang dari arah berlawanan. Perempuan itu berteriak saat tubuhnya terpental ke atas dan jatuh menubruk aspal dengan cukup keras. Darah-darah segar muncrat dari hidung, telinga, bahkan mulutnya.

Sementara Adib, menegang di tempatnya duduk. Dalam beberapa detik, matanya tidak berkedip sama sekali—tetap mengarah kepada perempuan yang sudah tergeletak mengenaskan agak jauh dari tempat mobilnya terparkir. Perlahan tetapi pasti, tubuh lelaki berkemeja liris putih-hitam itu bergetar. Keringat-keringat dingin menetes dari beberapa bagian tubuhnya karena perasaan terkejut yang sangat kentara. Bibir tebalnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Kedua bola matanya digenangi cairan-cairan bening. Karena bersamaan dengan itu, ingatan tentang kejadian tragis yang pernah dia alami beberapa tahun yang lalu, kembali terlintas.

“Papa,” desisnya seraya mengeratkan pejaman mata. Ternyata, lebih lima belas tahun berlalu, tidak bisa mengubah perasaannya. Dia tetap tidak baik-baik saja jika teringat kejadian itu lagi.

Cukup lama waktu berlalu dengan keheningan, pikiran Adib berangsur-angsur tenang. Dia terus melanggengkan istigfar dari bibirnya. Beberapa waktu kemudian, dia membuka mata, kemudian melongok ke jendela mobil. Tidak begitu lama melongok, dia menarik kepalanya ke dalam mobil karena tidak kuat dengan bau anyir yang langsung menyeruak ke hidungnya. Hampir saja lelaki itu muntah karena begitu menyengatnya bau darah itu. Tubuhnya yang semula mulai tenang, kembali bergetar. Ternyata dia masih setrauma itu dengan kecelakaan dan yang berhubungan dengan darah.

“Tenang, Adib. Jangan terbawa perasaan seperti ini.” Dia berusaha memberi ultimatum agar dirinya tidak makin kalut. Kalau dia tidak bisa menguasai diri, bagaimana bisa dia akan tiba di rumahnya? Dengan keadaan diri yang sedang kalut, tentu saja sangat berbahaya untuk mengemudi.

Setelah merelaksasi diri dalam beberapa saat dengan menarik napas kuat-kuat dan mengembuskannya perlahan, akhirnya dia kembali melongok ke sisi jendela mobil. Ekor matanya melirik sisi kanan-kiri jalan. Namun, meski sudah lebih lima menit berlalu dari kecelakaan itu, tidak ada tanda-tanda kemunculan orang yang akan membantu. Perempuan itu masih tergeletak tak berdaya di tempatnya. Tidak ada pergerakan apa pun. Jangankan bergerak, merintih pun tidak. Sepertinya dia langsung kehilangan kesadaran sesaat setelah tertabrak. Mobil Inova yang menabraknya pun sudah menghilang entah ke mana. Lagi pula, suasana jalan yang memang sepi, tidak ada rumah-rumah penduduk, mana mungkin ada yang lewat? Kecuali orang-orang yang memang mempunyai kepentingan seperti Adib.

“Kasihan sekali gadis itu. Tapi apa yang bisa aku lakukan?” lirih Adib seraya menatap lekat-lekat perempuan itu. Bukan tidak dengan alasan dia masih berada di dalam mobil sementara di luar ada orang yang membutuhkan bantuan. Adib menarik kepalanya kembali ke dalam mobil, kemudian menyandarkan tubuh di sandaran kursi. Lantunan istigfar dan kalimat-kalimat thayyibah masih terus dia baca untuk menenangkan diri. Dia ingin sekali segera membantu perempuan itu, tetapi bayangan masa lalu dan trauma itu membuatnya maju mundur untuk bertindak. Banyak pertimbangan yang dia pikirkan terlebih dahulu untuk menolong perempuan itu. Salah satunya tanggapan keluarganya serta keluarga perempuan itu nantinya. Dilema pun menyergap.

Namun, pada akhirnya, jiwa sosialnya yang tidak tega melihat tubuh perempuan korban tabrak lari yang tergeletak mengenaskan di pinggir jalan raya itu pun membuat Adib memilih memajukan mobilnya mendekati gadis itu. Begitu tiba di tempat yang cukup aman untuk memarkir mobil, dia lantas turun dan membuka pintu belakang mobil tersebut. Dengan menutup hidung menggunakan masker demi meminimalisir terciumnya bau anyir dari darah perempuan itu, Adib melangkah dengan pelan mendekati perempuan itu. Celingak-celinguk sebentar ke sisi kanan-kiri jalan, akhirnya Adib segera membopong gadis itu ke dalam mobilnya. Tidak peduli dengan darah segar yang terus mengalir dan berceceran mengotori kemeja dan mobilnya. Setelah itu, dia segera kembali ke kursi kemudi kemudian segera melajukan kendaraan beroda empat itu menuju rumah sakit langganan keluarganya. Karena memang tidak ada pilihan terbaik bagi Adib selain membawa perempuan itu ke rumah sakit. Dia butuh pertolongan dari orang-orang yang lebih paham.

Dalam perjalanan Adib menelepon Aisyah untuk datang ke rumah sakit itu tanpa memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia pikir lebih baik memberi tahu sang mama jika sudah tiba di sana. Sesekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan perempuan itu. Pikiran kacau karena ulah mamanya dan Amelia beberapa waktu yang lalu, seolah-olah menguap begitu saja. Berganti kepanikan dan kekhawatiran akan keselamatan perempuan itu.

Kendati demikian, dalam keadaan panik seperti itu, Adib harus tetap bisa mengendalikan diri agar tenang dan bisa selamat sampai tujuan. Dia mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata, tentunya dengan tetap berhati-hati dalam mengemudi, agar segera sampai di rumah sakit yang dituju.

“Please, bertahan, ya. Jangan membuat saya merasa bersalah untuk kedua kalinya, meski bukan saya yang membuatmu seperti ini,” lirih Adib saat mobilnya sudah memasuki parkiran rumah sakit. Dengan cekatan dia turun dari pintu depan, kemudian bergerak ke pintu belakang dan menggendong perempuan itu untuk segera membawanya ke ruang UGD.

“Dokter Andika!” teriak Adib kepada seorang pria paruh baya berkacamata minus yang hendak melangkah ke luar lobi rumah sakit. Entah keberuntungan atau apa, Adib sangat bersyukur bisa bertemu dengan dokter langganan keluarganya itu di sana. Padahal pada hari-hari sebelumnya harus membuat janji terlebih dahulu untuk bertemu. Kecuali dalam keadaan tertentu. “Tolong teman saya, Dok!”

Dokter itu lantas memanggil dua perawat laki-laki untuk membawa brankar dorong untuk membawa perempuan itu. Sementara Adib, terus melangkah menggendong perempuan itu mendekati Dokter Andika. Tidak ada ekspresi apa pun di wajah anak tunggal Aisyah itu selain kepanikan. Dia bahkan seperti tidak merasakan beban sama sekali, padahal sedang menggendong seseorang.

Begitu dua perawat laki-laki itu datang dengan membawa brankar dorong, Adib langsung membaringkan perempuan itu dan membiarkan para tenaga kesehatan itu membawanya ke ruang perawatan gawat darurat.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED