Hari telah berganti minggu, dan bulan telah berganti tahun. Dua anak kecil dengan rentan usia yang tak jauh berbeda kini telah tumbuh menjadi sosok remaja yang cantik dan tampan. Mereka tumbuh di tengah keluarga yang hangat dan harmonis.
Keduanya sering dipertemukan dalam suatu acara keluarga. Meski jarak yang cukup jauh memisahkan mereka didua negara namun keduanya menjalin keakraban.
Ara Qubilah Iskander, gadis berusia tujuh belas tahun dibesarkan di Turki dengan kasih sayang yang melimpah yang ia dapatkan pada semua anggota keluarga, dan menjadikannya gadis periang dan manja, namun begitu menjadikan Ara gadis dengan prilaku baik dan santun.
Gadis itu terus saja merajuk dan merengek agar keinginannya bersekolah di Indonesia dapat di penuhi oleh kedua orang tuanya. Tujuan utamanya adalah ingin lebih dekat dengan pamannya yang tak lain adalah adik dari anne Ika, namun Ara lebih menganggap sosok Chandra sebagai pangeran impiannya ketimbang menganggap Chandra sebagai pamannya.
“Aku berjanji saat berada di Indonesia tidak akan menyusahkan oma Cyra dan Opa Chaka, aku akan menjadi gadis manis, tidak banyak tingkah dan penurut.”
“Ayo lah Anne, ayolah Baba, boleh ya boleh ya.”
Ara terus saja merayu kedua orang tuanya agar diberi izin, segala upaya sudah iya lakukan untuk mengambil kepercayaan kedua orang tuanya, Ara ingin merasakan suasana dan pengalaman baru dalam hidupnya.
“Baiklah baba akan mengizinkan.”
Mendengar kata itu yang terucap dari baba Esad membuat Ara berloncat kegirangan, layaknya seorang anak kecil yang mendapatkan mainan baru.
Meski banyak pesan yang ia harus ingat dari kedua orang tuanya serta Nine ikut memberikan wejangan untuknya, namun tidak membuat gadis itu merasa bosan. Ia sudah sangat senang akan bertemu seseorang yang sebentar lagi akan selalu dapat ia lihat setiap hari.
“Ara apa kamu sudah mengerti dengan apa yang kita katakan?”
Gadis itu mengangguk dengan semangatnya.
“Apa?”
Ara terlihat berpikir, ia kurang mendengarkan, pikirannya sudah tertuju pada satu nama.
“Iya aku ingat Anne, Anne tenang saja,” katanya sambil menyengir.
“Benarkah? sepertinya yang anne perhatikan kamu tidak ingat satupun perkataan anne,” tebak Ika.
Ara menyengir semakin lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya, anne Ika selalu dapat menebak apa yang putrinya pikirkan serta apa yang akan Ara lakukan, anne Ika mama yaang terbaik yang Ara punya.
Anne Ika berdecak dengan tingkah putrinya itu, baginya Ara masihlah putri kecilnya hingga kapanpun.
Satu minggu setelah mengurus semua keperluan Ara dari surat-surat kepindahan sekolahnya, serta barang-barang pribadinya sudah Ara persiapkan. Dan selama satu minggu itu juga anne Ika, baba Esad serta nine El terus saja berpesan ini dan itu hingga membuat Ara hafal di luar kepala.
Karena sayangannya keluarga pada Ara membuat mereka tidak rela melepas kepergian Ara, mereka akan berjauhan dengan gadis manja itu.
Selama kurang lebih dua belas jam perjalanan Ara dari Turki menuju Indonesia, namun tidak membuat rasa lelah melandanya, ia sangat bahagia dan bersemangat.
Chandra Syauqi Abimana, anak bungsu dari Chaka Abimana, pria remaja yang tak banyak bicara, tidak suka diganggu dalam urusan pribadinya namun meski begitu banyak yang menggilainya karena ketampanannya yang menurun dari daddy nya.
Chandra sudah dapat mencium gelagat yang tidak mengenakan, mulai hari ini setelah ia mengetahui putri dari kakaknya akan tinggal di Indonesia membuatnya menjadi malas, gadis itu selalu menyusahkannya bahkan cenderung merepotkannya, bahkan gadis itu selalu menempel bagaikan perangko, membuat Chandra terusik ketenangannya.
Dan hari ini Chandra diminta oleh bunda Cyra untuk menjemput kedatangan Ara di bandara. Belum apa-apa sudah merepotkannya saja, pikir Chandra.
Ara melambaikan kedua tangannya, dengan senyum jenakanya, gadis remaja itu segera berlari ke arah Chandra, meninggalkan koper miliknya tertinggal di belakang. Meski dari kejauhan Ara sudah dapat melihat Chandra, pria tampan itu terlihat sangat kontras meski berada di antara kerumunan hingga mudah untuk Ara menemukan pangeran idolanya itu atau memang matanya hanya berfokus pada satu orang saja.
Sedangan Chandra berdecak, ia membalikan badannya, belum apa-apa ia sudah pusing terlebih dahulu melihat Ara yang begitu bersemangat, belum lagi pesan yang diberikan oleh kakaknya yang semakin membuat sakit kepala.
“Andra selama Ara di sana kamu harus menjaganya, awasi dia. Ara itu terkadang sangat ceroboh dan mudah percaya dengan orang lain, dia selalu berpikir jika semua orang itu baik.”
“Andra kakak titip Ara padamu, temani dia ke manapun, hanya kamu yang kakak percaya.”
Bla ... bla ... bla ...
Banyak lagi perkataan kakaknya yang membuat Chandra pusing dan terus berputar-putar di kepalanya.
Chandra berpikir jika kakaknya saat ini sedang menitipkan anaknya yang berusia lima tahun padanya, banyak sekali pesan yang dikatakannya itu, padahal kenyataannya adalah usia merekaa hanya terpaut satu tahun.
“Andra!” teriak Ara sudah merentangkan tangannya ingin memeluk pria itu.
Namun saat jarak mereka hanya sekitar tiga jengkal lagi, Andra menempelkan jari telunjuknya pada kening Ara.
“Mau apa kamu Ara?” katanya datar.
“Mau peluk, memangnya Andra tidak merindukanku? kita sudah beberapa bulan tidak bertemu,” ocehnya.
“Tidak ada peluk-peluk ya Ara,” tegasnya.
Ara mencebikan bibirnya. “Dasar pelit.”
Chandra tidak memperdulikan ocehan Ara, Chandra berbalik dan melangkah pergi.
“Ehh Andra mau ke mana?” tanya Ara.
“Pulang, memangnya kamu ingin menginap di sini,” katanya tanpa berbalik ke arah Ara.
“Bantu bawakan kopernya, apa Andra tidak kasihan pada Ara.”
Andra mendengus dan menghentikan langkahnya, ia berbalik badan menghadap Ara, gadis itu sudah tersenyum semeringah.
“Salah sendiri kenapa kamu membawa barang begitu banyak, padahal di mansion barang-barangmu sudah sangat banyak, apa kamu ingin mengubur mansion dengan barang-barangmu Ara. Jadi bawa sendiri.”
Kembali melanjutkan langkahnya.
Seketika senyum secerah mentari itu pudar dari bibir Ara, ia mencebikan bibirnya dan segera mengambil kopernya yang tadi sempat ia tinggal di belakang.
“Andra tungguin Ara!” teriak gadis itu.
“Cepatlah sedikit,” sahut Andra.
Ara cemberut sambil mengikuti Andra dari belakang.
Ara terus saja menggerutu hingga ia tidak memperhatikan depan.
Duk!
“Aaww.” Ara memegang keningnya yang tidak sengaja menabrak punggung Chandra.
Chandra berbalik badan, berdecak sambil menggeleng. Ara tidak pernah berubah menurut Chandra, gadis itu selalu ceroboh.
“Lain kali gunakan matamu dengan benar Ara.” Menarik koper yang berada di tangan Ara.
Ara tersenyum dengan tangan yang masih memegang keningnya, meski Chandra terlihaat acuh dan tidak perduli padanya namun kenyataannya Chandra yang selalu ada untuk membantunya.
“Kenapa masih berdiri di situ, aku akan meninggalkanmu Ara.”
“Ehh iya.” Berlari menyusul Andra, Ara melingkarkan tangannya pada lengan Chandra.
“Ara.”
“Sedikit saja, pelit banget, Ara sudah jinak tidak akan menggigit juga”
“Ara.”
“Iya-iya Ara tidak menyentuh Chandra lagi.”
Keduanya berjalan menuju mobil untuk pulang ke mansion.
Besambung ....
Chandra mengemudikan mobilnya hanya fokus menatap jalan. Chandra ya memang seperti itu, pria remaja yang tidak banyak bicara dengan pembawaan yang tenang.
Sedangkan gadis remaja yang duduk di sebelah Chandra, terbilang bertolak belakang, Ara tidak bisa diam, banyak bicara dan bertingkah.
Ara mulai merasa jenuh karena tidak melakukan apapun, Chandra sama sekali tidak mengajaknya mengobrol sama sekali, sekedar menanyakan kabar juga tidak.
Ara melirik Chandra lewat sudut matanya, mencebikan bibirnya karena sebal, Chandra tidak pernah berubah dari kecil.
“Andra,” panggil Ara.
Chandra tidak menjawab, ia sudah menebak jika Ara hanya ingin menggangunya saja.
“Andra,” panggil Ara lagi.
Masih belum ada sautan dari si pemilik nama.
“Andra.”
Ara cemberut kesal, Andra mengacuhkannya. Dengan sengaja Ara sedikit menyondongkan tubuhnya ke arah Chandra.
“Andra!” teriak Ara tepat di telinga Chandra.
Ciiittt!
Chandra menghentikan mobilnya secara mendadak sehingga mengeluarkan suara decitan ban mobil beradu dengan aspal.
“Ara apaan si?! kenapa teriak seperti itu, aku tidak tuli,” kesal Chandra sambil memegang telinganya yang berdengung.
“Tidak tuli apanya, Ara dari tadi panggil-panggil terus tapi Andra tidak mau menjawab panggilan Ara,” pungkasnya.
“Aku dengar, memang mau apa?”
“Tidak hanya panggil saja,” sahutnya santai.
Chandra berdecak sambil menggelengkan kepala.
Diam sejenak, namun setelah itu Ara memutar tubuhnya menghadap Andra yang kembali melajukan mobilnya.
“Andra,” panggil Ara lagi.
“Pakai seatbelt mu yang benar Ara,” kata Chandra memperingati, tetap tidak menoleh ke arah gadis itu.
“Ini aku juga sudah pakai.”
“Duduklah yang benar.”
“Iya-iya tapi sebelumnya Ara ingin mengajukan protes pada Andra.”
Chandra melirik lewat sudut matanya dengan menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti dengan perkataan yang di katakan oleh Ara.
”Sejak kita bertemu kenapa Andra tidak sedikitpun menanyakan kabar Ara, apakah Ara tidak penting untuk Andra?” Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut Ara yang dari tadi ingin Ara tanyakan.
“Ooh.”
“Ohh apa? Iihh Andra nyebelin.” Ara mencebikan bibirnya dan kembali mengubah posisi duduknya.
“Untuk apa aku menanyakan nya,” ucap Chandra.
“Paling tidak berbasa-basi gitu, kalau tidak Andra bisa tanya tentang baba atau anne.”
“Aku sudah tahu, jadi untuk apa aku menanyakan apa yang sudah aku tahu.”
Ara menoleh ke arah Chandra. “Andra tahu dari mana?”
Chandra berdecak. “Apa kamu lupa, hampir setiap hari kamu terus saja mengganguku, kau bercerita mengenai banyak hal dan aktivitas yang sudah kamu lakukan, jadi aku sudah tahu betul. Jadi untuk apa aku menanyakannya, buang-buang waktu saja,” jelasnya.
“Eeh iya-iya. Hehehe habis jika tidak menghubungi Andra, rasanya ada yang kurang saja.” Ara tersenyum manis ke arah Chandra.
Chandra menggeleng pelan tanpa berkata lagi.
Sepeluh menit suasan hening di dalam mobil, namun tidak akan bisa berlangsung lama, Ara sudah kembali ingin bicara, namun baru saja ia membuka mulutnya.
“Jangan katakan apapun, yang kau ingin katakan aku sudah tahu,” ucap Andra yang menyela perkataan Ara terlebih dahulu.
“Memangnya Ara ingin ngomong apa? Sok tahu Andra.”
“Kamu ingin bertanya tentang sekolah barumu kan?” tebak Andra.
Ara sedikit membuka mulutnya, tidak percaya. Mana mungkin bisa Andra menebaknya dengan sangat mudah, apa di wajah Ara terlihat tulisan yang ingin Ara katakan, pikir gadis itu.
“Kenapa Andra bisa tahu?”
“Tahu saja,” jawab Chandra.
“Tahu dari mana?”
“Dari wajah.”
Ara memegang wajahnya sendiri. “Jangan-jangan benar di wajah Ara ada tulisannya.”
Hening lagi, Ara sibuk bercermin untuk melihat wajahnya.
Hingga tidak terasa mereka sudah masuk ke jalan menuju mansion.
“Andra berhenti!” kata Ara tiba-tiba.
Karena terkejut Chandra menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.
“Ara ...” belum sempat Chandra bicara, gadis itu sudah keluar dari mobil.
Ara berjalan menuju taman favoritnya, di mana taman itu tidak pernah absen untuk Ara kunjungin setiap kali berada di Indonesia.
“Ara-Ara kenapa malah ke taman si, dia akan memiliki banyak waktu jika ingin pergi ke sini,” gumam Chandra yang masih memperhatikan dari dalam mobil.
Chandra mau tidak mau akhirnya turun dari mobil untuk menyusul Ara.
“Andra sini, ayo kita main jungkat jungkit,” ajak Ara yang sudah duduk di salah satu sisi jungkat jungkit.
“Kaya anak kecil aja, kamu nggak lihat di sini banyak anak kecil yang main,” protes Andra. “Dan kamu tidak sadar, berapa usiamu sekarang Ara.”
“Ayolah Andra sebentar saja ya, aku sudah lama tidak ke sini, aku rindu dengan semua permainan yang ada di sini.” Ara memohon sambil memasang wajah seimut mungkin.
Dengan malas Andra naik ke sisi satunya, Ara terlihat senang.
Dengan tidak perduli jika mereka bermain di tengah anak-anak yang sedang bermian juga. Ara tertawa senang, hanya bermain jungkat jungkit saja membuat gadis itu terlihat gembira, padahal diusia remaja mereka, khususnya kaum wanita pasti akan paling senang jalan ke mall, nonton dan nongkrong, tapi Ara malah asyik bermain di taman dengan permainan anak-anak, heran Chandra.
Ditengah keasyikan Ara main jungkat jungkit, tiba-tiba Andra berdiri. “Sudah ayo pulang, pasti bunda dan daddy sedang menunggu ke datangan kita.”
“Sebentar lagi ya Andra.” Ara beralih pada mangkuk putar, tidak memperdulikan wajah Chandra yang sudah sebal karena tingkahnya.
“Andra ayo putarin Ara dong,” pintanya.
Chandra mulai memutar mangkuk yang terbuat dari besi itu secara pelan.
“Hahaha seru. Lebih kuat lagi dong Dra, kamu belum makan ya, ke mana tenagamu.”
Karena kesal Andra memutar mangkuk putar dengan kencang.
“Hahaha, sekarag Ara pusing, jangan kencang-kencang Andra.”
Bukannya menghentikan, Andra malah semakin kuat memutarnya. “Katanya ingin kencang, aku sudah memunuhi keinginanmu Ara.”
“Aaaa! Andra Ara pusing!”
Kali ini Chandra yang tertawa dapat mengerjai Ara.
“Sudah ayo pulang, kapan-kapan kamu bisa datang ke sini sepuasnya, setiap jam juga tidak apa-apa asalakan jangan ajak aku, aku sudah besar bukan anak TK lagi sepertimu,” kata Chandra, berlenggang terlebih dahulu meninggalkan Ara.
“Andra tungguin Ara,” panggil Ara.
Ara turun dari mangkuk putar dengan kepala pusing, dan karena itu ia berjalan sempoyongan dan menabrak tiang ayunan.
Dukk!
“Aww sakit.” Ara meringis kesakitan sambil memegang keningnya.
Chandra menoleh saat mendengar suara Ara, menghela nafas. Ada-ada saja tingkah Ara yang membuatnya susah.
Mau tidak mau membuat Chandra berjalan mendekati Ara yang terduduk di atas pasir sambil memegang keningnya.
“Ada apa lagi Ara?”
“Ini nih tiang ayunannya kenapa menghalangi jalan, kening Ara jadi kejedot, lagian Andra kenapa tadi putarnya kenceng banget Ara kan jadi pusing,” omel Ara.
“Bukan tiang atau aku yang salah, tapi kamu yang ceroboh,” sahut Andra tidak mau disalahkan.
Ara cemberut dengan mengerucutkan bibirya, sebelah tangannya masih bergerak mengelus keningnya.
Tanpa berkata lagi, Andra pergi meninggalkan Ara.
“Sana-sana pergi, aku bisa ke mansion sendiri, aku akan pulang setelah kepalaku tidak pusing lagi,” gerutu Ara. “Aah tapi kenapa masih sakit, pasti keningku benjol deh,” sambungnya yang masih meringis kesakitan.
Saat Ara ingin beranjak dari duduknya, ada seseorang yang mengulurkan ice cream tepat di depan wajahnya.
Ara mendongak dan tersenyum, Andra kembali untuknya, Ara semakin merasa Andra pangeran impiannya, selalu menolongnya di kala ia membutuhkan.
“Kenapa bengong? Kamu masih mengenaliku kan? jangan bilang karena terbentur membuatmu lupa ingatan,” tebak Andra.
“Ya nggak lah.” Meraih ice cream yang berada di tangan Chandra.
Tanpa berlama-lama, Ara membuka ice cream itu. Sedangkan Chandra berjongkok tepat di depan Ara, ia sedikit menyibakan kerudung yang dipakai oleh Ara, terlihat keningnya memerah sedikit kebiruan, sangat kontras dengan kulit Ara yang putih.
“Apa ini sakit?”
Ara mengangguk.
Chandra mengeluarkan salep penghilang rasa nyeri untuk mengurangi lebam yang akan di timbulkan dari benturan dari benda tumpul itu.
Chandra mengolesnya secara perlahan sambil meniup-niupnya.
Ara tersenyum senang, perlakuan Andra membuatnya semakin mengagumi sosok Chandra.
“Ya sudah ayo kita pulang,” ajak Andra.
Ara mengangguk, Chandra menggendong Ara menuju mobil, memastikan jika Ara tidak lagi terjatuh karena kecerobohannya.
“Andra mau?”
“Tidak.”
“Ini enak loh.”
“Ya sudah makan saja.”
“Ya sudah kalau tidak mau, memang sayang juga si jika harus berbagi pada orang lain.” Ara tertawa renyah dan terus mengoceh.
Bersambung ....
Chandra dan Ara sudah memasuki halaman mansion, dengan melewati gerbang tinggi dan mewah. Baru melihat gerbangnya saja pasti orang sudah dapat menebak jika pemilik mansion itu bukanlah orang sembarangan.
Mansion yang tidak pernah sedikitpun berubah dari waktu ke waktu, hanya perubahan pada cat dindingnya saja. Sang pemilik rumah memang tidak ingin sedikitpun mengubah mansion itu, sebab mansion miliknya itu begitu banyak kenangan dari anak-anak mereka kecil, hingga anak-anak mereka sudah tumbuh besar bahkan memiliki keluarga masing-masing. Hanya si bungsu saja yang belum menikah.
Mobil yang dikendarai Chandra sudah berhenti tepat di depan mansion. Pria remaja itu keluar terlebih dahulu tanpa memperdulikan Ara yang masih berada di dalam mobilnya.
Baru beberapa langkah, Chandra sudah menghentikan langkahnya, Chandra berdecak dan kembali menghampiri ke arah mobilnya karena terdengar Ara mengetuk-ngetuk kaca mobil.
Dengan malas Chandra membukakan pintu mobil. “Ada apa Ara?” katanya.
“Kenapa meninggalkan aku? kan kening Ara sedang sakit,” sahut Ara beralasan.
“Yang sakit itu keningmu bukan tangan dan kakimu, kamu bisa membuka pintu mobil sendiri dan kakimu juga mampu untuk berjalan,” pungkas Chandra.
Ara cemberut. “Ya sudah sana, kenapa Andra harus kembali lagi.”
Chandra sudah merasa pusing, belum apa-apa Ara tinggal di sini, sudah membuat Chandra menjadi repot.
“Ya sudah sekarang mau apa? mau digendong atau mau berjalan sendiri?” tanya Chandra.
“Aku bisa sendiri,” ketus Ara dan berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam Mansion.
Candra mendengus kesal namun pria remaja itu juga ikut masuk ke dalam mansion. Jika ingin masuk kenapa harus merepotkannya untuk membukakan pintu, pikir Chandra.
“Assalamualaikum oma, opa, aku datang,” panggil Ara penuh dengan semangat.
Tidak lama sepasang suami istri itu keluar dar salah satu ruangan yang tak lain adalah ruang keluarga. Oma Cyra dan opa Chaka sejak tadi memang sudah menunggu kedatangannya.
“Waalaikum salam,” sahut Cyra.
Ara segera berhambur memeluk wanita paruh baya itu. “Oma aku rindu.”
“Iya Oma juga merindukanmu? apa kabar kamu sekarang?” tanya Oma Cyra lembut.
“Alhamdulilah Oma aku dalam keadaan baik, Oma sendiri bagaimana?”
“Oma dan opa juga baik.”
“Alhamdulilah Oma kalau begitu.”
Ara beralih memeluk opa Chaka. “Opa.”
“Ara kenapa baru datang? seharusnya kamu datang sejak empat puluh lima menit yang lalu,” tanya Opa Chaka.
Gadis Remaja itu hanya menyengir kuda, Chandra menghampiri kedua orang tuanya mencium punggung tangan sepasang suami istri itu.
“Bagaimana kami tidak telat Dad, Ara dengan seenaknya berhenti di taman untuk sekedar bermain,”sindir Chandra.
Ara mendelik ke arah Chandra. “Dasar pengadu.”
Pria remaja itu tidak peduli dengan perkataan Ara, Chandra merasa memang yang dikatakannya benar adanya.
“Oh ternyata cucu oma mau main dulu,” ucap oma Cyra.
“Hehehe iya oma, habis taman bermain yang di ujung sana selalu menarik perhatianku,” kata Ara.
“Ya sudah Bun, Dad, aku pergi ke kamar dulu ya,” kata Chandra yang sudah ingin segera melarikan diri dari obrolan yang membosankan menurut Chandra.
“Andra tunggu,” panggil Cyra lembut.
“Iya Bun,” sahut Chandra.
“Sekalian kamu antarkan Ara ke kamarnya pasti ia sudah merasa lelah, secara Ara menempuh perjalanan jauh.”
“Kenapa harus diantar Bun? Ara juga tahu kan kamarnya berada di sebelah mana.”
Ara juga mengangguk untuk membenarkan perkataan dari Chandra.
“Ara tidak menempati kamar yang biasa dia tempati, bunda menyiapkan kamar baru yang lebih besar untuknya. Kan mulai saat ini Ara akan tinggal bersama kita jadi Menurut Bunda kamar yang biasa Ara tempati kurang begitu nyaman untuknya,” jelas Bunda Cyra.
“Sebenarnya tidak perlu harus ganti kamar Oma, kamar yang biasa Ara tempati juga sudah sangat nyaman kok,” sahut Ara.
“Tidak Sayang menurut Oma kamar itu kurang begitu nyaman untukmu, jadi setelah Oma mendengar kamu ingin tinggal bersama dengan kami, oma sangat antusias mempersiapkan semuanya.”
Ara kembali memeluk oma Cyra. “Aaahh oma terima kasih, dan maaf telah membuat Oma menjadi repot karena Ara tingggal di sini.”
“Tidak Ara, oma tidak sama sekali direpotkan, yang ada oma sangat senang sekali kamu bisa tinggal di sini dan menemani oma dan opa.”
Ara mengangguk dengan tersenyum ke arah kedua orang tua itu.
“Iya yang dikatakan oleh oma mu benar, kami sangat senang saat mendengar kabar Jika kamu ingin tinggal bersama kami di sini,” ucap opa Chaka menimpali.
“Memang itu tujuan Ara berada di sini oma, opa,”sahut Ara.
‘Dan tentunya ingin selalu dekat dengan Andra.’
“Ya sudah cepat antarkan Ara ke kamar yang baru, kamar yang kemarin Andra lihat bunda keluar itu,” kata oma Cyra lagi.
“Iya Bun,” sahut Chandra.
Chandra melirik ke arah Ara. “Ayo,” katanya sebal.
“Oma, Opa Ara pergi ke kamar dulu ya.”
Oma Cyra dan opa Chaka menganggukkan kepalanya. “Ya sudah selamat istirahat Ara.”
Candra berjalan terlebih dahulu meninggalkan gadis itu di belakangnya, Ara terlihat berlari kecil untuk mengejar langkah kaki dari pria remaja itu, Chandra sengaja memilih menggunakan tangga dari pada harus menggunakan lift.
“Andra tunggu, Kenapa cepat sekali sih!” ucap Ara.
“Cepatlah kau berjalan seperti keong,” sahut Chandra tanpa menoleh ke belakang.
Ara cemberut dan semakin mempercepat langkahnya. Setelah berada di lantai tiga, Chandra berhenti di depan pintu salah satu kamar yang letaknya tidak jauh dari kamar miliknya.
“Ini kamarmu,” ucap Chandra datar.
“Kamar ini?” tunjuk Ara.
“Ya.”
“Kenapa tidak bilang dari tadi, bilang aja kalau kamar Ara berada di samping kamar Andra. Ara kan tidak usah cape-cape berjalan cepat.”
“ Ya sudah sana masuk,” ucap Chandra tanpa ingin menjawab perkataan Ara.
Ara menahan tangan Chandra agar pria remaja itu tidak meninggalkannya.
Candra menghela nafas panjang, belum selesai Ara membuatnya susah.
“Apa lagi? tugasku sudah selesai mengantarkanmu.”
“Kata siapa udah selesai, Ara masih butuh bantuan Andra.”
“Apa?” katanya malas.
“Apa di dalam kamar ini sudah aman?”
Chandra mengerutkan keningnya. “Aman?” ulangnya.
Ara mengangguk. “Di dalam sana sudah aman dari kecoa kan? Ara takut jika binatang itu sampai ada di kamar Ara.”
“Ada, bahkan sangat banyak,” sahut Chandra asal, ia ingin mengerjai Ara.
“Iih Andra, kalau begitu Ara tidak mau masuk, Ara tinggal di kamar Chandra saja,” ucap Ara.
Dan tanpa permisi lagi ia berjalan menuju kamar milik Chandra.
“Ara mau ke mana kamu!” tanya Chandra, dan segera menyusul langkah kaki Ara.
“Mau istirahat, Ara sudah capek,” sahutnya tanpa menoleh ke arah Chandra.
Ara masuk begitu saja ke kamar Chandra tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada sang pemilik kamar. Chandra mendengus kesal dan segera ikut masuk ke dalam kamarnya, ia melihat Ara sedang berbaring di atas tempat tidur miliknya.
“Ara jika ingin beristirahat, sana pergi ke kamarmu,” usir Candra.
“Tidak mau, Ara ingin di sini saja, jika mau Chandra saja yang di kamar sana, Ara tidak mau tidur bersama kecoa,” sahutnya.
“Aku hanya bercanda, tidak ada kecoa di kamarmu. Mana mungkin ada kecoa bersarang di mansion ini, banyak pelayan yang akan membersihkan kamar-kamar di Mansion.”
“Tidak mau.” Ara kekeh tidak mau berpindah kamar.
“Ara,” ucap Candra menekan perkataannya.
Gadis remaja itu bergeming di tempatnya, Ara malah memejamkan mata dengan menyilangkan kedua tangannya di perut.
“Pindah ke kamarmu atau ...” ucap Chandra menggantungkan perkataannya.
Ara merubah posisinya menjadi duduk. “Atau apa?
Chandra merasa sudah habis kesabarannya, Ara terus-terusan membuat Kepalanya pusing.
“Kenapa diam?” ucap Ara lagi.
Chandra berjalan mendekati Ara menarik tangan gadis itu agar ia turun dari tempat tidurnya. “Turun Ara, cepat pergi ke kamarmu.”
“Tidak mau, Ara sudah bilang jika Ara di sini dan kita bertukar kamar.”
Chandra menarik tangan Ara untuk keluar dari kamarnya namun gadis itu berhasil lepas dan kembali berbaring di atas tempat tidur milik Chandra lagi.
Chandra lagi dan lagi ingin mengeluarkan Ara dari kamarnya, namun baru ingin membuka handle pintu, Ara sudah berlari kembali ke atas tempat tidur.
Karena kesal Chandra mengangkat tubuh Ara, namun Ara tidak menyerah ia menggigit bahu Andra, dan karena Andra merasa sakit ia melepaskan tangannya pada tubuh Ara, gadis itu terjatuh ke atas tempat tidur dan karena Chandra kurang seimbang untuk berdiri, ia ikut terjatuh dan menindih tubuh Ara.
Pandangan mereka bertemu satu sama lain.
Bersambung ....