"Sebelumnya saya minta maaf, apa kamu bisa melihat dengan jelas?"
Duar!
Baru kali ini ada seseorang yang bertanya seperti itu. Ya, aku terlahir dengan tidak sempurna tapi alhamdulillah Allah masih memberi penglihatan yang sempurna.
"Bisa Pak, saya bisa melihat semua. Walau mata saya seperti ini," jawabku dengan tegas.
Gita itulah nama panggilanku, aku terlahir dengan keadaan yang utuh tapi tidak sempurna. Hinaan dan cemoohan sering aku dapat sejak aku kecil. Sakit hati jelas aku sakit saat mereka dengan entengnya mengolok kekuranganku. Tapi tak apa aku yakin suatu saat ada seseorang yang mau menerima aku apa adanya dan kebahagiaan yang kelak aku rasakan.
Hari ini aku melamar di sebuah pabrik yang cukup terkenal di tempat ku. Saat melakukan wawancara managernya dengan blak-blakan menanyakan kondisi mataku. Tidak hanya beliau tapi satpam juga sebelumnya bertanya seperti itu.
Setelah wawancara sebentar, aku pun menjalani berbagai test dan semua hasilnya bagus. Namun sayang karena kondisi dan kekurangan yang aku punya saat pengumuman aku pun di tolak.
Sedih? Jelas aku sangat sedih. Karena aku berharap bisa diterima dan bisa lekas bekerja. Bukankah kita bekerja dengan tangan dan mata? Kalau mataku masih bisa aku gunakan dengan baik kenapa mereka tidak bisa nerima ku? Atau orang seperti ku tidak bisa kerja di pabrik besar dan milik Sultan?
"Semangat Gita! pasti ada tempat yang bisa menerima kamu. Jangan mengeluh!" kata ku menyemangati diri sendiri.
Hari masih siang ku lajukan kembali motor buntut milik bapak menuju tempat yang lain. Walau panas terik namun tak menyurutkan niatku untuk mencari pekerjaan. Aku tidak ingin membuat orang tuaku sedih karena pulang dengan tangan hampa.
"Permisi Pak, apa disini ada lowongan?" Motor yang baru aku matikan, aku tinggalkan begitu saja menuju satpam dan bertanya dengan sopan. Karena memang didepan tidak ada pengumuman.
"Maaf mbak, baru kosong. Kalau mau surat lamarannya tinggal saja," jawab Satpam itu dengan sopan. Aku pun meninggalkan berkas surat lamaran kepada beliau, berharap nanti ada panggilan kerja.
Tidak terasa waktu sudah beranjak sore dan belum ada satu pun tempat yang mau menerima aku. Kini aku pulang dengan rasa kecewa dan sakit hati. Bagaimana aku bisa mengatakan kepada kedua orang tuaku jika aku gagal lagi?
"Bagaimana Git? Dapat kerjaan?" tanya Ibu saat aku sudah sampai rumah. Tidak mampu aku menjawab dan hanya menggelengkan kepala.
***
Setelah hari itu, aku hanya mengurung di kamar. Tentunya, setelah membantu pekerjaan rumah aku hanya mendengarkan radio berharap ada informasi tentang lowongan pekerjaan.
"Gitttaaa.... kerjaan tiap hari kok hanya mendengarkan radio. Mbok ya cari kerja sana. Tanya ke temanmu, kali saja ada lowongan!" omel Ibu.
Namaku Anggita Anggreini sering di sapa Gita. Kini aku masih menganggur setelah menyelesaikan pendidikan SMK. Dulu aku berharap setelah lulus langsung bisa bekerja. Namun karena kekurangan yang aku miliki, membuat aku sulit untuk mendapatkan pekerjaan.
"Aku juga lagi cari info dari radio kok Bu, doakan saja agar aku lekas dapat pekerjaan. Ya sudah kalau begitu aku mau ke rumah Yeni dulu, kali saja dia sudah kerja nanti aku tak tanya dia,"
"Ya gitu, jangan cuma di rumah saja. Ibu budek dengar tetangga ngomongin kamu terus!"
Setelah selesai bersiap kini akupun melajukan sepeda motorku ke rumah Yeni. Yeni teman sebangku saat aku sekolah dulu, kami cukup akrab. Tapi tidak jarang dia juga suka menjelekkan saat dibelakangku.
"Assalamualaikum, Yeni," ucapku setelah sampai di rumah Yeni.
Rumah Yeni cukup jauh, dia tinggal di kecamatan sebelah. Butuh waktu 15 menit untuk sampai di rumah Yeni.
"Waalaikumsalam, eh, nak Gita. Ayo masuk nak, Yeni lagi mandi. Tunggu saja sebentar," jawab ibu Yeni dan ku cium tangan beliau sebelum aku duduk.
"Cepat banget sampainya, bagaimana kamu sudah dapat kerjaan? Atau mau kuliah?" tanya dia seraya memberiku minuman.
"Belum, kamu? Kalau ada info lah Yen, kabar kabar. Bosen aku di rumah terus. Dari kemarin melamar pekerjaan tapi nggak ada panggilan,"
"Aku juga belum dapat, coba nanti kalau ada aku kasih tau," jawab dia.
Tidak lama setelah kedatangan ku, datang juga Fia temanku satu desa bisa dibilang teman kecil ku. Dia datang bersama mas Agus, orang yang pernah ingin dekat denganku saat masih sekolah.
Kami saling bertukar cerita, Fia bilang sudah dapat kerjaan dan dia menawariku juga Yeni untuk ikut dengan dia. Tapi dari mana aku bisa mendapatkan uang untuk masuk kesana? Selama kami mengobrol sesekali aku melihat mas Agus sedang melihat dan memperhatikanku.
"Assalamualaikum, Yen___" ucap seorang cowok yang sepertinya dari tadi mondar-mandir di depan rumah Yeni.
"Waalaikumsalam, sini masuk Yo. Gabung! Kamu dari mana?" sapa Yeni dan cowok itu pun masuk dan langsung duduk di sebelahku.
Ternyata cowok itu teman Yeni saat masih SMP dulu dan dia juga lagi cari kerja. Oh, bukan dia lagi nunggu lowongan dari perusahaan motor. Karena dia ingin kerja disana.
Aku lihat jam sudah menunjukkan pukul 11.30 aku tak ingin mendapatkan omelan dari ibu karena main nggak ingat waktu. Padahal aku masih ingin kumpul seperti ini. Saat aku pamit pulang Fia juga ikut pulang dan juga cowok tadi pun ikutan pamit.
***
Klunting!
Satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
0853887***
[Assalamualaikum...]
[Benar ini nomer Gita?]
Anggita A
[Waalaikumsalam, iya benar. Maaf ini siapa ya?]
0853887**
[Alhamdulillah, boleh aku kenalan? Aku cowok yang tadi di rumah Yeni. Masih ingat kan?]
Anggita A.
[Oh... Ya, ha? Kenalan? Buat?]
0853887***
[Boleh tidak? Aku ingin kenal kamu lebih dekat? Namaku Prasetyo bisa kamu panggil Tyo. Nama lengkap kamu siapa?]
Anggita A.
[Salam kenal Tyo, panggil saja Gita. Kamu sudah tahu juga gitu, dapet nomerku dari Yeni pasti.]
0853887***
[Iya, maaf ya. Aku tadi nggak berani kenalan langsung. Oh ya, sebenarnya tadi aku sudah bolak-balik lewat rumah Yeni apa kamu nggak lihat?]
Anggita A.
[Lihat sih, terus kenapa?] Dia pun menceritakan alasan kenapa dia mondar-mandir.
Ya, aku memang selalu bersikap dingin dengan orang yang baru aku kenal. Entah aku sering membuat dinding agar tidak jatuh cinta. Aku takut sakit untuk kesekian kali karena jatuh cinta.
Apalagi nomerku yang sudah disebarkan oleh seseorang yang membuat aku jatuh cinta, membuatku sangat hati-hati dengan nomer baru.
"Kayaknya Tyo orang baik deh, semoga saja dia bisa membantuku melupakan Adi,"
Kami masih saling bertukar pesan, untung saja pekerjaan rumah sudah beres, Ibu sama Bapak juga tidak ada di rumah. Jadi aman dan tidak perlu takut akan kena marah.
Tiyo
[Judes banget neng, jangan judes judes napa? Nggak aslinya nggak di chat tetap saja judes. Lagi dapet?]
Ternyata dia orang yang cukup peka, tapi mau bagaimana memang ini lah sifatku. Judes dan pendiam, sebenarnya aku tidak percaya diri dan juga minder karena kekurangan yang aku miliki.
Pesannya pun aku abaikan, apalagi aku lagi sibuk membuat surat lamaran pekerjaan untuk esok hari. Malam semakin larut sudah ada 5 surat lamaran yang siap aku pakai esok hari.
Dret…
Dret…
Dret…
Terdengar suara getar ponsel yang aku taruh di atas meja. Aku memang sengaja tidak memberi dering, karena sering banget dapat telepon dari nomor yang tidak aku kenal. Dan kebanyakan mereka dapat dari Adi.
"Ya, halo," jawabku setelah tahu siapa yang telah melakukan panggilan.
"Assalamualaikum, ucap salam dulu Gita!" ucapnya dengan lembut.
Bibirku pun tertarik ke atas mendengar teguran dari Tyo. Mengenal Tyo, berbeda dengan teman-teman Adi.
"Waalaikumsalam, ada apa telepon?" jawabku masih dengan nada yang kurang bersahabat.
Entah kenapa hati ini masih ragu dan ingin membentengi agar tidak terlalu kenal lebih jauh dengan dia. Aku akui Tyo, adalah cowok tipe yang aku suka. Wajah yang tampan dengan sorot mata yang tajam dan postur tubuh yang perfect membuatku sedikit tertarik saat pertama bertemu.
"Kok pesanku nggak dibalas? Lagi sibuk? Atau lagi telponan sama cowok kamu?"
"Nggak juga sih, aku lagi buat surat lamaran,"
"Oh, ganggu nggak ini? Emang mau melamar kerja dimana lagi?"
"Belum tahu juga, lihat nanti yang ada dimana. Tapi kayaknya mau nyoba cari di toko atau minimarket, semoga saja diterima,"
"Amin… Git, boleh tidak aku tanya?" ucapnya yang terdengar serius. "Cowok yang kemarin ada di depanmu itu siapa? Apa dia cowok kamu? Kayaknya kok dia marah saat aku duduk disampingmu?"
"Bukan! Dia itu cowoknya Fia. Cewek yang di sebelah dia waktu itu,"
"Oh… tapi dia kok melihat kamu seperti itu? Kayaknya dia suka sama kamu!"
Pembicaraan masih saja berlanjut ada saja yang Tyo bahas. Sampai aku ketiduran karena mata yang sudah sangat berat dan akhirnya telepon ia matikan.
***
Semenjak hari itu, kami sering bertukar kabar. Tiyo orang yang asyik untuk diajak bicara. Aku pun merasa nyaman sama dia. Tidak hanya lewat pesan tapi juga dia sering telpon. Tentunya ketika di rumah tidak ada orang.
Kini hari-hariku semakin berwarna setelah kehadiran dia. Setiap hari selalu saja ada yan kita bahas, sedikit demi sedikit akupun bisa melupakan sakit hati yang pernah diberikan Adi.
Terdengar dari sebuah radio ada lowongan untuk bekerja di surabaya. Aku tak ingin melewatkan informasi ini, segera aku catat nomer telpon lembaga penyaluran tenaga kerja yang di maksud. Ya, iklan itu di buat oleh LPK. Tidak nunggu lama, segera aku telfon nomer itu.
"Halo, selamat siang. Dengan LPK Kencana ada yang bisa saya bantu?" ucap seseorang yang mengangkat telpon ku.
"Selamat siang Pak, begini pak tadi saya dengar informasi dari radio. Maksud saya telpon ingin tanya apa lowongan itu masih ada?"
"Oh, masih masih mbak. Lengkapi persyaratan nanti langsung datang ke kantor. Selebihnya nanti akan kami sampaikan di kantor,"
"Baik Pak, kalau boleh tau persyaratannya apa saja? Biar saya siapkan sama minta alamatnya ya pak?"
"Persyaratan seperti biasa mbak, alamatnya nanti saya kirim,"
Setelah menutup telfon kini aku persiapkan persyaratan yang dibutuhkan dan untungnya semua sudah lengkap. Alamat juga sudah dikirim. Masalahku kali ini bagaimana aku izin, karena ibu belum tau.
"Lagi apa Git?" tanya Ibu yang masuk ke dalam kamarku.
"Ini lagi nyiapke lamaran. Tadi aku dengar dari radio dan besok aku mau daftar, do'ain semoga bisa diterima ya bu,"
"Iya, memang kerja apa?"
"Aku belum tau bu, tapi ini dari LPK mungkin di pabrik," ucapku asal karna aku tidak tahu nanti mau disalurkan kemana.
***
Tidak hanya ibu yang aku beritahu, Tiyo juga. Aku bilang ke Tiyo lewat pesan. Dari hari ke hari hubungan kami semakin dekat jadinya aku terbiasa bilang ke dia apapun yang aku lakukan. Seperti hari ini, aku bilang ke dia kalau mau nglamar kerja.
Hampir saja aku tersesat dan mau pulang karena aku tidak menemukan kantor LPK itu. Namun aku tidak mau menyerah begitu saja, dan akhirnya kini aku sudah menemukan. Di kantor ini, Pak Dion orang yang mengelola LPK ini menjelaskan.
Ada dua pilihan mau di pabrik atau di minimarket dan aku milih di minimarket. Karena dulu aku sekolah bagian management bisnis dan bagiku itu sesuai dengan jurusan yang aku ambil.
"Bagaimana Gita? Di terima?" tanya Ibu antusias setelah aku sampai rumah.
"Alhamdulillah Bu di terima, tapi__"
"Tapi kenapa?" sahut bapak yang juga ingin tahu.
"Tapi di luar kota Pak, bu, dan ada biaya administrasi sebesar 800rb itu kalau di minimarket kalau di pabrik 1,5juta. Tadi aku bilang yang di minimarket bu. Apa bapak sama ibu ada uang buat bayar administrasinya? Kalau tidak ada nanti aku batalkan saja,"
"800ribu ya? Kita usahakan Pak, ibu sudah tidak tahan dengar omongan tetangga. Asal kamu bisa kerja ibu dan bapak akan usahakan Git, luar kotanya mana?" ujar ibu.
"Di Surabaya Pak, Bu. Makasih Pak, bu, aku janji akan bekerja dengan baik. Agar bisa mengganti uang Ibu,"
Alhamdulillah izin sudah aku kantongi, kini tinggal memikirkan bagaimana cara agar aku bisa segera berangkat kerja. Segera kukirim pesan pada Pak Dion dan bertanya kapan aku bisa berangkat. Betapa senangnya hatiku karena minggu depan aku bisa langsung berangkat.
Kring...
Kring...
Kring...
Panggilan masuk dari Tiyo, segera aku angkat. Karena seharian aku tidak sempat memberi kabar padanya.
"Halo, assalamualaikum. Ada apa?"
"Waalaikumsalam, bagaimana tadi? Lancar?"
"Alhamdulillah, minggu depan aku berangkat. Kamu bagaimana sudah ada kabar dari kakak kamu?"
"Belum, doakan semoga aku juga lekas dapat kerjaan. Tapi minggu depan aku mau nyusul kakak dan mencoba melamar disana. Doakan semoga aku bisa lekas dapat kerjaan,"
Selesai telponan aku bersiap untuk tidur. Seminggu lagi aku akan pergi, dalam hati ingin sekali aku bertemu lagi dengan Tiyo. Tapi apa mungkin dia mau?
***
Pertemanan kami semakin dekat sudah hampir satu bulan kami saling mengenal. Tiyo hari ini mengutarakan perasaan yang dia rasakan.
"Gita, aku boleh jujur? Sebenarnya aku sayang sama kamu. Aku ingin lebih dari sekedar teman. Apa kamu mau menjadi teman dekatku? Apa kamu mau untuk jadi orang spesial dalam hidupku?" ucap Tiyo lewat sambungan telepon.
"Biarkan hubungan ini mengalir apa adanya. Kita jalani seperti air yang mengalir dan tahu kemana nanti akan berhenti," jawabku tidak menolak atau menerima.
Jujur dalam hati memang aku sudah bisa menerima dia, tapi aku tidak ingin jika dia mengutarakan perasaan lewat dunia maya. Apa jika nanti kita ketemu dia mau mengutarakan perasaannya langsung? Atau dia malah akan menjauh karena jawaban dariku?
Klunting!
Pak Dion
[Mbak, tidak jadi berangkat minggu depan. Nunggu teman dulu, biar sekalian.]
Satu pesan masuk yang ternyata dari pemimpin LPK. Sedih, karena kepergianku harus tertunda padahal aku sudah tidak sabar untuk pergi dari rumah. Segera aku balas untuk menanyakan kepastian kapan berangkat. Buat antisipasi, jika memang tidak jadi aku akan mencari pekerjaan lain.
Gita
[Baik Pak, terus diundur sampai kapan Pak?] tanyaku sedikit takut, tapi untung saja uang pendaftaran belum aku berikan.
Pak Dion
[Habis lebaran mbak, biar sekalian. Nanti saya kabari lagi.]
Gita
[Baik Pak. Saya tunggu kabar baiknya.]
Tapi kalau aku pikir-pikir ada baiknya juga, dengan begitu aku masih bisa menjalani bulan Ramadhan di rumah bersama keluarga. Ku letakkan ponsel di atas meja belajar lagi dan kembali ku teruskan beberes rumah.
Baru saja aku selesai membersihkan diri terdengar suara motor yang berhenti di depan rumah. Dan benar saja tidak lama kemudian terdengar ucapan salam. Tapi tunggu siapa yang sebenarnya datang? Kok suara cowok.
"Assalamu'alaikum," ucap orang itu yang terdengar asing. Padahal semalam yang mau kerumah itu Yeni, biarlah paling tamunya bapak.
"Waalaikumsalam, cari siapa nak?" jawab Ibu yang terdengar dari kamar, aku masih saja berganti baju sambil menunggu Yeni datang.
"Gita ada bu?" saut orang tapi yang ini aku kenal suaranya, dia Yeni temanku. Aku jadi penasaran sama suara cowok tadi dan segera aku bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Nak Yeni, Fia, ayo masuk. Ayo nak silahkan masuk, duduk dulu Gita ada di kamar," ujar Ibu menyuruh mereka untuk masuk. "Nah itu Gita," tambah Ibu saat melihat aku keluar dari kamar.
Semakin langkah ini mendekat ke mereka semakin berdebar jantung ini. Tapi aku coba tepis dan bersikap biasa saja. Ku berikan senyum termanis pada Yeni dan Fia, tapi saat melihat seorang cowok yang sedari tadi melihat ke arahku rasanya pipi ini menjadi merah, apalagi dia juga membalas senyumku. Rasanya aku ingin terbang ke langit ke tujuh.
Apa ini cinta? Apa aku sedang jatuh cinta? Baru diberi senyum begitu saja hati ini sudah berbunga-bunga. Jangan Gita, jangan mudah kau memberikan hatimu. Ingat dulu saat kamu dekat dengan Adi, dia juga sama kan hanya karena salah paham kini dia membenci kamu. Jangan sampai kamu sakit hati lagi, anggap semua cowok itu sama.
"Sudah sampai saja, gimana mau langsung pergi?" tanyaku ke Yeni karena memang kami janjian untuk pergi hari ini.
"Tunggu bentar, nunggu Mas Agus sebentar lagi dia sampai!" saut Fia yang ternyata juga mau ikut aku dan Yeni pergi. Kalau Fia pergi paling mau kencan sama Mas Agus. Apalagi dia sudah jarang bertemu, kesempatan buat melepas rindu.
Benar saja baru saja Fia selesai bicara ada motor yang berhenti di depan rumah dan tentunya itu Mas Agus. Setelah mengucapkan salam, Mas Agus duduk di sebelah Fia dan lagi lagi duduknya tepat di depanku.
"Lho.. ada tamu lagi kok nggak bilang?" ucap Ibu saat memberikan minuman untuk kami.
"Sudah bu nggak apa-apa, malah merepotkan!" jawab Mas Agus dengan ramah dan santun.
"Bu, saya mau minta izin. Mau ngajak Gita buat…" ucap Tyo.
"Mau melamar kerja!" sahutku cepat sebelum Tyo bilang sebenarnya.
Bapak, Ibuku orang yang sangat disiplin. Jarang sekali mereka memberi izin untuk aku keluar rumah kalau tidak ada hal penting. Apalagi pergi sama cowok, sangat tidak boleh.
"Iya Bu, mau melamar kerja di tempat kenalan saya. Kebetulan perusahaannya lagi ada lowongan mungkin saja mereka bisa diterima," tambah Mas Agus menyakinkan Ibu.
"Oh… begitu, lho berarti nak.."
"Agus! Panggil saja Agus bu," suat Mas Agus saat Ibu kebingungan karena memang tidak pernah kenal dia.
"Berarti nak Agus sudah bekerja? Ibu kira tadi masih kuliah. Ya sudah, tapi nanti pulangnya jangan sore sore!" kata Ibu memberikan izin dan hanya dijawab anggukan oleh pacarnya Fia.
Dari tadi aku melihat ke arah Tyo, dia terus saja melihat ke arah cowok yang duduk di sebelah Fia dengan tatapan yang sangat tajam. Tyo sangat tidak suka apalagi saat Mas Agus memberi senyum ke arahku. Apa mungkin Tyo cemburu?
Tidak ingin berlama-lama aku pun segera mengambil tas dan juga berkas untuk melamar kerja. Dan kami sekarang siap untuk pergi. Tidak ingin membuat Ibu curiga aku putuskan untuk membonceng Yeni.
"Git, tanganku lagi sakit kamu bonceng sama Tyo ya…" ucap Yeni saat aku mengarah ke motornya.
"Apa aku saja yang boncengin kamu?" tanyaku merasa tak enak jika harus bonceng Tyo.
"Nggak usah, kamu bareng Tyo saja ya… lagian ini motor habis turun mesin jadi tidak boleh buat boncengan dulu!" kilah Yeni masih kekeh ingin aku bareng Tyo.
Dengan langkah yang terasa berat dan jantung seakan ingin copot aku melangkah ke arah Tyo, dan ternyata dia sudah menyiapkan helm untukku. Dia pun memasangkan helm itu untuk aku pakai.
Romantis…ya, apalagi senyuman manis yang ia beri serasa buat hati ini meleleh.
Yeni sudah pergi duluan disusul Fia juga Mas Agus sedang aku dan Tyo ada di belakang mereka. Aku duduk tanpa berpegangan,sedang tasku taruh di tengah-tengah antara aku dan dia. Bukan tidak ingin berpegangan tapi kami masih ada di dalam desa, ditambah aku juga malu dan grogi.
"Jauh amat duduknya? Aku bukan tukang ojek!" kata Tyo saat motor yang ia lajukan sudah keluar dari desa.
"Aku juga tahu kalau kamu bukan tukang ojek! Tapi aku nggak terbiasa?" kataku sambil menunduk, karena aku yakin pipiku sekarang tambah merah.
"Serius? Aku yang pertama berarti?" katanya dengan tersenyum saat aku lihat dari kaca spion. "Sini! jangan jauh-jauh!" katanya lagi sambil menarik tanganku agar duduk lebih dekat. Dan menaruh tanganku pada perutnya.
Selama perjalanan kami selalu berbincang, bahkan sesekali tangannya ia taruh diatas tanganku dan mengusapnya dengan lembut. Satu jam perjalanan akhirnya kami sampai, sebuah tempat wisata lokal yang ada di daerah pegunungan. Sebuah waduk yang dibuat sebagai tempat wisata.
Saat kami sampai ternyata Yeni ditunggu seorang cowok mereka terlihat sangat akrab. Setelah melihat kami sampai Yeni dan cowok itu pergi entah kemana, tinggal aku, Tyo, Fia dan Mas Agus. Kami berempat berjalan menyusuri jalan sambil melihat pemandangan. Tyo pun menggandeng tanganku dengan sangat erat.
Apa ini orang yang lagi pacaran? Seakan dunia milik berdua saja? Iya, Tyo tidak memperdulikan Fia dan Mas Agus yang berjalan dibelakang kami. Tyo masih tetap menggenggam erat tanganku dan kami menuju di tengah tengah bendungan. Melihat keindahan bendungan yang indah.
"Kalian sudah pacaran?" celetuk Fia saat kita berhenti diatas jembatan.
"Doakan saja yang terbaik," jawab Tyo yang masih setia menggenggam erat tanganku.
"Serius? Wih selamat ya… akhirnya Gita punya cowok juga. Sekarang kan aku nggak khawatir lagi," kata Fia yang membuat aku bingung.
"Maksudnya?" sahutku tidak suka. Dan saat aku melihat ke arah mereka lagi-lagi Mas Agus melihat kearah ku, bahkan dia terlihat tidak suka. Tapi kenapa Fia bilang seperti itu?