Hotel Grand Everest, Kota ChesterLand
Haven Clark berjalan memasuki sebuah hotel berbintang di kota ChesterLand. Dengan senyuman di sudut bibir wajahnya yang tampan dan kokoh, Haven membawa sekotak roti sebagai hadiah ulang tahun pernikahannya yang ketiga dengan Alice Lee.
"Maaf, Pak. Hotel kami adalah hotel berbintang di kota ChesterLand, dan tidak ada sampah sedikit pun di sini." Seorang wanita resepsionis hotel tiba-tiba menghentikan langkahnya. Tak lupa, wanita itu menatap sinis penampilan Haven yang tampak seperti "pemulung" dan merusak keindahan hotel tempatnya bekerja.
Namun, Haven Clark tersenyum ramah meski dia tersinggung dengan maksud ucapan wanita itu. "Saya ingin menemui istri saya. Dia sedang menginap di sini."
"Siapa nama istri Anda?" tanya resepsionis yang lainnya dengan tatapan curiga.
Mereka sangat jijik dan heran dengan Haven Clark yang berpenampilan compang-camping mirip gelandangan, tapi berani masuk ke hotel berbintang dan mengaku memiliki istri yang sedang menginap di hotel itu.
Apa pria itu bercanda?
"Alice Lee. Dia menginap sejak kemarin malam karena ada urusan bisnis," jawab Haven berusaha tak peduli. Saat ini, dia hanya berharap segera bertemu dengan istrinya.
Malas menanggapi Haven, salah satu dari mereka akhirnya duduk di depan layar komputer.
Petugas resepsionis itu pun mulai mencari.
Beberapa detik kemudian mata resepsionis itu terbuka. Diliriknya Haven dari atas ke bawah. "Apa Anda yakin akan menemui istrimu saat ini juga?"
"Iya, Bu."
"Dia berada di kamar nomor 107, tetapi kurasa Anda jangan ke sana dan tunggu saja sampai istrimu pulang," ucap resepsionis itu lagi.
Wanita yang lainnya tampak terkejut ketika ikut melihat layar komputer. "Hm, saya sarankan sebaiknya Anda pulang saja. 'Istrimu' itu sedang bersenang-senang di hotel ini."
Haven tidak bodoh. Dia paham dengan maksud wanita itu, namun dia tetap berpikiran positif tentang istrinya. "Jangan bicara aneh-aneh. Istri saya menginap karena ada urusan bisnis. Dia adalah wanita yang baik dan saya sangat mencintainya," ucapnya.
Tanpa peduli lagi, Haven berjalan menuju ke kamar nomor 107 tempat keberadaan istrinya menginap.
Di salah satu lobby, dia melihat ada sekelompok lelaki mirip pengawal, sedang bermain kartu domino dan minum beberapa botol wine.
Sampai di kamar 107, Haven bergegas mendorong pintu kamar 107 dengan wajah mengekspresikan memberi kejutan.
Namun ….
Apa yang dilihat oleh Haven Clark ungguh menyayat hati! Istrinya tengah bercumbu di pangkuan seorang pria blasteran berwajah putih bersih dan berparas tampan di atas ranjang. Mereka saling menautkan bibirnya.
Bruk!
Sekotak roti yang terbungkus berwarna merah dengan sebuah pita di atasnya terjatuh ke lantai dan berserakan begitu saja. Dentuman jatuhnya makanan itu membuat dua insan yang tengah berbuat mesum terkesiap dan saling memisahkan tubuh mereka.
"Sayang, apa yang kau lakukan?!" teriak Haven Clark dengan bibir bergetar.
Alice Lee, istri Haven Clark, menampakkan raut wajah tidak suka begitu melihat Haven tiba-tiba berdiri di ambang pintu. Perempuan itu pun membenahi kemejanya dan mengaitkan kembali kancingnya dengan cepat, seolah tidak mengizinkan mata suami sahnya untuk melihat seinci pun dari tubuhnya.
Tak lama, Alice pun mendekat dengan raut ketidaksukaan atas kehadiran Haven yang dianggap mengganggu kesenangannya. “Siapa yang menyuruhmu kemari?”
"Apa kau sudah tuli? Aku bilang, jangan menyusulku kemari! Aku sedang bekerja!" ucap Alice Lee lagi. Kini dengan ketus dan mata melotot. "Ini kulakukan demi satu juta dollar investasi perusahaan keluarga Lee!"
Tangan Haven mengepal. Bekerja? Akan tetapi, yang dilihat oleh Haven sekarang adalah perselingkuhan istrinya dengan lelaki lain!
"Sayang, bukankah aku sudah bilang, aku akan membantumu mendapatkan uang satu juta dollar!" ucap Haven dengan raut marah, "tapi, kenapa sekarang kau mengkhianati pernikahan kita selama tiga tahun ini?"
Haven sangat mencintai Alice. Selama tiga tahun ini, Haven selalu melakukan apa saja untuk membuat Alice luluh dan mencintainya dengan tulus.
Setiap hari, semua pekerjaan rumah keluarga Lee dialah yang melakukannya seorang diri. Ketika siang hari, Haven selalu mengantarkan makan siang untuk istrinya yang bekerja di kantor perusahaan milik keluarga Lee. Ketika pagi dan sore, dia harus membuat sarapan dan makan malam. Siangnya, dia pun berbelanja di pasar untuk membeli bahan makanan.
Hari ini, Haven Clark sengaja mendatangi Alice Lee dengan tujuan memberikan kue sebagai hadiah di ulang tahun ke tiga pernikahan mereka.
Hanya untuk membeli sepotong kue di hari istimewa mereka dari salah satu toko roti terbaik di kota ChesterLand, dia rela menyisihkan uang simpanan sisa dari berbelanja yang jumlahnya hampir seribu dollar.
Akan tetapi, apa yang dia dapat dari pengorbanan selama tiga tahun ini? Pria ini justru melihat pengkhianatan yang terjadi di depan matanya sendiri. Alice bahkan tanpa malu berbuat hal tidak senonoh dengan pria lain. Jika Haven datang sedikit terlambat, mungkin mereka sudah berbuat lebih dari yang dia lihat saat ini.
PLAK!
Tamparan keras mendarat tepat di wajah Haven.
"Membantuku? Memangnya selama tiga tahun ini kau bisa apa?" ucap Alice dengan wajah mencemooh, "hidupmu saja bergantung pada keluarga Lee! Dan sekarang, kau mau memberi bantuan uang yang nilainya satu juta dollar?"
“Sayang, apa kau tidak percaya padaku sedikitpun sebagai suamimu?" Haven berkata dengan sungguh-sungguh, lalu menoleh ke arah pria selingkuhan Alice. "Aku mau kau jauhi istriku dan jangan pernah dekati dia lagi!"
Garfield Blackton tiba-tiba mengerutkan kening.
Dengan wajah putih, ketampanan yang begitu memukau--dia merasa jauh di atas Haven.
Apalagi, Garfield tampak begitu elegan dengan setelan pakaian brandet khas bangsawan italia yang harganya lebih dari ratusan ribu dollar. Sangat berlawanan dengan pakaian Haven yang hanya memakai kemeja lusuh dan celana compang-camping. Harga outfit pria itu bahkan tak sampai 10 dollar.
Garfield lantas tersenyum sinis. "Oh, jadi kau adalah si manusia sampah yang menjadi menantu tidak berguna di keluarga Lee? Astaga, aku sangat kasihan dengan kehormatan keluarga Lee yang tercemar oleh seonggok sampah menjijikkan sepertimu!"
"Pantas saja Alice membencimu, bahkan kau mirip seperti anjing jalanan! Asal kau tahu, Alice akan segera menceraikanmu dan menjadi milikku," tandas Garfield dengan angkuh.
Garfield lalu menoleh ke arah Alice. "Ayo, Sayang. Buka semua pakaianmu untuk melanjutkan kepuasan kita lagi. Setelah itu, aku akan memberikan dua juta dollar dan melamarmu di hadapan nenek Pricilla Lee."
'Kurang ajar! Beraninya kau mengatakan ini kepada istriku!' Haven mengumpat dalam hati.
Hanya saja tak seperti Haven yang terhina, Alice justru kini menggigit bibir bawahnya. Mata indahnya terbuka lebar ketika Garfield menyelipkan sebuah kartu debit Golden Card di kedua jarinya.
Siapa yang tidak mengenal kartu Golden Card? Sebuah kartu yang hanya bisa dibuat oleh para petinggi perusahaan besar seperti CEO Galaxi Company, yang menjadi perusahaan terbesar di kota ChesterLand.
Haven menggelengkan kepala menyadari itu. Dia tak mau kehilangan Alice bagaimana pun caranya.
Sayangnya, pria itu tak sadar bahwa istri cantiknya itu selama ini sudah muak dengan kehidupan bersama Haven yang selalu membawa sial baginya.
Selain terkenal sebagai salah satu wanita cantik di seluruh kota ChesterLand, Alice juga dikenal berbakat dan berprestasi dengan jabatan sebagai divisi ketua pemasaran di perusahaan Lee Group. Tapi, selama tiga tahun ini, dia harus menahan malu karena aib memiliki seorang suami tidak berguna yang di pungut oleh sang kakek.
Ketika itu, kakek Lee selaku kepala keluarga, tiba-tiba membuat surat wasiat yang membuat semua anggota keluarga Lee terguncang hebat.
Kakek Wallace meminta cucu perempuannya, yaitu putri dari Albert Lee, untuk dinikahkan dengan seorang lelaki yang belum diketahui asal-usulnya.
Tidak ada satu pun orang berani membantah perintahnya, termasuk Alice. Saat itu, dia yakin pilihan kakeknya adalah yang terbaik.
Seminggu setelah membuat surat wasiat, kakek Lee pun meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil.
Alice pun menurut. Dia juga bertahan untuk tak bercerai dari Haven dalam situasi apa pun--sesuai wasiat kakeknya.
Hanya saja, sang kakek mengizinkan keduanya bercerai setelah tiga tahun pernikahan. Itu pun harus mendapatkan persetujuan dari Haven Clark.
Saat ini, tepat tiga tahun pernikahan mereka. Penantian Alice selama ini untuk berpisah dengan Haven sebentar lagi akan tercapai.
"Tidak, Sayang! Jangan kau terima apa pun dari pria kurang ajar yang ingin merebutmu dariku!" ucap Haven sembari berusaha memegangi kedua tangan istrinya.
Haven Clark sangat yakin, sosok Garfield Blackton adalah pria pemain wanita. Buktinya saja, pria muda itu mau mendekati Alice yang jelas-jelas masih menjadi istri orang lain.
Namun, Alice justru mengibaskan tangannya dari pegangan Haven. "Siapa yang kau bilang pria kurang ajar, hah? Asal kau tahu, Garfield Blackton adalah pria mapan yang seribu kali jauh lebih baik daripada dirimu, Haven Clark!"
Haven tidak terima. Kartu debit yang terselip di tangan Garfield direbutnya lalu dipatahkan menjadi dua bagian.
KLAK!
"Haven, apa yang kau lakukan?!" teriak Alice dengan mulut menganga.
Suara retakan benda tipis bernilai dua juta dolar membuat Garfield terperanjat.
"Dasar, pria bodoh!" umpat Garfield. "Apa kau sadar dengan hal bodoh yang telah kau lakukan? Jika Golden Card hancur atau rusak sedikit saja, uang di dalam sana sudah dianggap hilang oleh pihak bank!"
"Bajingan! Kau sekarang telah membuang uang dua juta dollarku! Untuk gantinya, aku tidak akan membiarkanmu keluar hidup-hidup dari sini!" Garfield bangkit dan berjalan ke arah Haven dengan kedua tangan mengepal. "Karena kau telah mematahkan kartuku, sebagai gantinya aku akan mematahkan kedua tangan dan kakimu, anjing jalanan!"
Garfield sangat marah, dia merasa sangat perlu memberi pelajaran pada Haven.
"Matilah kau!" umpat Garfield sembari mengayunkan tinju ke arah wajah Haven yang tampan dan kokoh.
Namun, Garfield terkejut ketika Haven sigap menghindari serangannya.
Sebelum Garfield menyadari keberadaan targetnya, sosok Haven tiba-tiba berdiri tepat di hadapannya sembari memberikan tendangan ke arah perut dengan keras.
BRAK!
Garfield terpental, punggungnya membentur meja hingga meja itu hancur berkeping-keping. Siapa saja yang melihatnya, pasti akan bergidik ketakutan dengan keadaan itu.
Alice terkejut dan cemas melihat kekasih gelapnya terjatuh membentur nakas. Wanita itu tanpa malu sedikit pun membantu Garfield tanpa mempedulikan sosok Haven lagi.
"Sayang, jangan!" ucap Haven sembari mengulurkan tangannya mencoba mencegah tindakan bodoh Alice.
Alice tak menghiraukan Haven. Wanita itu justru membantu Garfield berdiri.
Garfield kini mengerang sambil memegangi perutnya, darah segar pasti mengalir dari mulut lelaki berpakaian elegan itu. "Sialan! Beraninya kau padaku!" umpatnya sembari mengusap darah di bibirnya.
Haven menampakkan raut wajah dingin. Siapa saja yang tahu identitas siapa dia sebenarnya, pasti akan menggigil ketakutan.
"Apa kau tahu siapa aku, hah? Aku adalah keponakan CEO Garrick Blackton dan sepupuku adalah seorang juara petarung martial arts kelas A!" ucap Garfield marah, "jangan bangga karena kau berhasil memukulku, brengsek!"
Garfield tidak terima ada orang yang berani dengannya, apalagi hanyalah seorang sampah, karena dia adalah keponakan kesayangan CEO Garrick, seorang lelaki berwibawa yang memimpin perusahaan besar Galaxi Company.
CEO Garrick adalah lelaki terpandang yang paling ditakuti di kota ChesterLand. Tidak ada satu orang pun yang berani menyinggung CEO Garrick maupun keluarganya.
Hanya dalam satu perintah dari sosok Garrick Blackton, seluruh kota ChesterLand akan terguncang dengan dahsyat.
"Cepat bersujud atau pamanku tidak akan mengampunimu!" teriak Garfield.
Alice terdiam tak mengatakan apa pun. Dia sebenarnya merasa ada yang berbeda dengan Haven.
Yang wanita itu tahu, Haven hanyalah lelaki sampah yang tidak pernah berani membantah sedikitpun. Di keluarga Lee, Haven sangat penurut dan jinak bagai seekor anjing.
Sekarang, dari sorot matanya saja, Haven menampakkan sorot mata yang berbeda. Mengintimidasi dan melenyapkan.
"Kenapa diam? Apa kau takut? Bagus jika kau takut dengan pamanku, tapi lebih baik kau cium kakiku daripada ketakutanmu itu menjadi kenyataan!" hardik Garfield dengan senyum menyeringai puas.
Takut?
Haven melirik ke arah sebuah meja yang di atasnya terdapat bekas botol White Wine. "Baiklah, akan kulakukan."
Haven melangkah dengan tatapan tenang, dengannya dengan cepat meraih sebuah botol bekas white wine yang berada di atas meja tanpa ada yang tahu pergerakan tangannya yang hampir tak terlihat.
Tepat berada di hadapan Garfield, Haven berdiri diam sejenak. Tatapannya lurus ke arah Garfield yang menampakkan raut wajah pria sialan.
"Ayo cium kakiku, anjing jalanan! Jika tidak, akan kupastikan kau hidup cacat dan menderita seumur hidupmu!" ancam Garfield sembari menunjuk ke arah kakinya yang terbalut sepatu outfit terbuat dari kulit asli. "Asal kau tahu, sepatuku jauh lebih mahal dari harga dirimu."
"Baiklah," ucap Haven. Tangan kanan yang membawa botol anggur di belakang tubuhnya, segera mengayun memukul kepala Garfield.
BLAMMM!!!
"Auwww!"
Garfield menjerit histeris! Wajah putih dan tampannya berubah mengerikan berlumuran darah
Siapa saja yang tanpa sengaja melihat ini pasti menggigil ketakutan, jika ada seseorang yang berani lancang dengan keponakan CEO Garrick Blackton.
Haven membalikkan tubuhnya. Lalu melirik ke arah Garfield. "Benarkah kau akan membuatku cacat?"
"Bajingan! Beraninya kau!" umpat Garfield
"Haven, kenapa kau melakukan hal bodoh?" tanya Alice dengan panik ketika melihat kekasih gelapnya kesakitan dengan kepala bagian atas mengucurkan darah segara. "Aku bersumpah kau sekarang dalam masalah besar!"
Saat itu, wajah blasteran Garfield yang tampan dan putih berubah sangat jelek. Tidak mencerminkan keponakan CEO terpandang, melainkan mirip anak monster terlaknat dengan keadaannya saat ini.
Garfield tiba-tiba berteriak dengan suara bergetar. "Pengawal!"
Garfield berada di hotel tak sendiri, melainkan membawa segerombolan pengawal. Sekelompok pengawal yang memiliki kekuatan hebat dalam bertarung.
Dari arah pintu, suara segerombolan manusia bertubuh besar berlarian semakin mendekat menuju ke arah kamar nomor 107.
Haven menatap ke arah pintu tanpa gentar sedikit pun. Seolah dia sedang menantikan hal yang ditunggunya dengan senyuman menyinggung dari wajahnya.
Dalam sekejab, enam pria bertubuh kekar dengan pakaian kemeja hitam sudah berdiri tepat di hadapan Haven.
"Dasar licik!" umpat Haven dalam hati.
Salah seorang pemimpin kelompok yang memiliki perawakan jangkung dan bertubuh kekar berjalan mendekati Haven. "Kurang ajar, apa yang kau lakukan pada tuan kami?! Dan Kenapa kau bisa ada di sini, hah?"
Tentu saja pemimpin sekelompok pria bertubuh kekar mengenal Haven Clark sebagai menantu paling tidak berguna yang hidup menjadi benalu di keluarga Lee.
Haven menyapukan pandangan matanya ke arah enam pria kekar di hadapannya. "Aku di sini bersama istriku."
"Apa? bersama istrimu? Kau lihat saja, istrimu sudah tidak sudi bersamamu dan memilih bersama tuan kami," ucap pemimpin kelompok dengan angkuh.
"Tunggu apalagi! Cepat bunuh si brengsek ini! Bila perlu keluarkan semua isi kepalanya untuk makanan anjing jalanan!" teriak Garfield sudah tidak sabar.
Keenam kelompok pria itu tersenyum menyeringai. Pemimpin mereka pun menganggukkan kepala. "Baik, Tuan Garfield. Serahkan saja anjing sialan ini pada kami. Aku bersumpah akan membuat anjing liar ini menyesal telah berurusan denganmu dan menderita di sisa hidupnya."
Keenam pria itu mengepung Haven dari segala sisi. Tepat di tengahnya, Haven berdiri sembari menatap bayangan musuhnya di lantai.
"Cepat katakan permintaan terakhirmu sebelum kami membawamu kembali ke tanah!" ucap pemimpin kelompok.
Tanah, harus kembali ke dalam tanah!
Namun ….
Dalam hitungan detik saja, keenam pria kekar dibuat melayang di udara oleh Haven, sebelum membuat serangan sedikit pun. Tubuh mereka membentur dinding, mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
"A-apa?" pekik Garfield setengah tak percaya. "Kenapa dia kuat sekali?"
Alice sendiri hanya bisa menepuk wajahnya beberapa kali. Apa yang dilihatnya seperti bukan si pecundang Haven. Kenapa Haven yang selama ini lemah dan penakut menjadi seorang monster yang mematikan?
Haven berdiri dengan Wajah dingin dan aura mengintimidasi. Sorot matanya melambangkan sesosok monster yang haus pembunuh. Keenam anak buah Garfield telah terkapar menjadi mayat hanya dalam hitungan detik.
PLAAKK!
"Dasar otak binatang! Apa dengan kemampuan yang kau miliki, kau bisa seenaknya melakukan ini?" ucap Alice dengan raut wajah sedikit takut, tetapi mencoba tetap tenang dan berani. Kedua kalinya dia menampar Haven hari itu.
"Sayang, aku hanya membela diriku sendiri. Tapi kau malah menyalahkanku," ucap Haven.
Alice lalu menelepon seseorang pekerja keluarga Lee untuk membereskan kekacauan di kamar itu, setelahnya dia membawa pergi Garfield ke rumah sakit.
Haven diam menatap Alice yang pergi semakin jauh bersama Garfield meninggalkan tempat itu.
Pria itu lalu melangkah dengan tatapan menunduk keluar dari hotel. Sebentar lagi, mereka akan segera resmi berpisah. Haven merasa ini seperti mimpi yang berharap tidak menjadi kenyataan.
Haven mengendarai motor tuanya membelah kota tanpa memiliki arah, dia merasa sangat bodoh setelah tiga tahun lamanya menjadi budak demi mendapatkan hati seseorang yang jelas-jelas tidak mencintai dirinya.
Pikirannya sedang tidak karuan, sampai-sampai motor tua keluaran tahun 90-an itu berada di puncak kecepatan tertinggi hingga mengeluarkan asap tebal.
Semua yang dia alami di negara obat berkaitan dengan kembalinya dirinya ke negara Obat lima tahun yang lalu.
Saat itu, terjadi perang besar. Negara Obat di serang oleh Negara Api hingga menyusup ke pusat ibu kota. Semua tentara dan petinggi militer Negara Obat sudah tidak dapat membendung serangan negara Api.
Saat semua tentara negara Obat sudah tidak kuasa melawan negara Api, di medan perang digegerkan dengan kemunculan seorang pria bertopeng berjalan sendirian menghadapi seratus ribu pasukan negara Api yang terdiri dari tentara dan jendral perang negara Api yang terkenal sebagai penakluk dunia militer.
Pria itu adalah Haven Clark, yang kembali ke negaranya untuk memberantas makhluk yang berani menyerang negaranya.
Legenda menjadi saksi pertempuran Haven Clark melawan sekitar seratus ribu pasukan negara Api.
Medan perang dari lautan pasir berubah menjadi lautan darah dan tumpukan gunung mayat. Pemuda itu berdiri di atas tumpukan gunung mayat dengan aura makhluk pencabut nyawa.
Sejak saat itu, semua dari kalangan militer menjadikan Haven Clark sebagai seorang Dewa Perang. Berita menyebar luas hingga menggemparkan pemerintah Negara Obat, tapi Haven menyembunyikan identitasnya dan hanya memberitahu namanya sebagai Clark. Orang-orang menyebutnya sebagai "Kakak Clark" saja.
Semua orang yang berada di dunia militer tunduk di dalam pengaruh Haven. Selama dua tahun dirinya menjadi beteng pertahan negara obat hingga negara Obat mencapai puncak kejayaannya.
Sampai akhirnya, dia mencari seorang kakek yang telah menolongnya ketika hampir mati saat berumur sembilan tahun akibat keluarganya terbantai.
Kakek Lee! Dia adalah seorang kakek yang saat itu bersama seorang gadis kecil yang menolongnya saat hampir mati kelaparan 18 tahun yang lalu dalam korban serangan musuh negara.
Lelaki tua itu membuat surat meminta Haven untuk menikah dengan cucu perempuannya. Kakek itu mengatakan jika gadis yang akan dijodohkan dengannya adalah anak yang bersama sang kakek saat menolong Haven saat kecil.
Sebagai balas budi, Haven mengabdikan hidupnya menjadi cucu menantu kakek Lee dan dia berjanji akan menjaga keluarga kakek Lee.
Haven menyembunyikan identitas aslinya atas permintaan kakek agar keluarga Lee tidak menjadi target musuh ketika mengetahui jika Haven adalah menantu keluarga Lee.
Sejak saat itu, sosok Clark sebagai sebagai Dewa Perang pemimpin militer di negara obat telah menghilang. Negara obat kehilangan dewa perang beteng pertahanan negara.
Gubrak!
Haven tersadar dari lamunannya. Motor tua yang dia kendarai dengan kecepatan tinggi telah menabrak sebuah mobil Supercar berwarna hitam.
Seakan seperti menabrak dinding, Haven terpental sejauh sepuluh meter dan berguling-guling di aspal.
"Akh, sial. Aku menabrak sebuah mobil," umpatnya sembari kembali bangun. Pikirannya terasa kacau dan tidak karuan.
Seorang pria berpakaian jas berwarna hitam keluar dari mobil Supercar berjenis Bugatti Chiron berwarna hitam glosy.
Setelah pria itu keluar, beberapa pria yang jumlahnya sekitar empat orang mulai keluar dari mobil mereka masing-masing. Langkah mereka begitu berwibawa. Semua pria itu tampaknya adalah para pengawal konglomerat dengan setelan jas hitam dan dasi merah marun.
"Kurang ajar! Beraninya kau menabrak mobil kami!" bentak pria berkumis tipis, pemimpin pria berjas hitam. "Di mana matamu, hah?"
Para pria berjas hitam tampak marah. Bagaimana tidak? Mobil milik bos mereka yang baru saja kembali dari bengkel perawatan, ditabrak hingga mengalami kerusakan oleh seorang pria miskin dengan motor tuanya.
"Maaf, saya tidak sengaja, Pak. Tapi, saya akan memperbaiki mobilmu," ucap Haven. Dia kembali bangun sambil membersihkan debu di pakaiannya.
"Memperbaiki? Memangnya kau punya uang berapa?" ucap Bentle, pemimpin pria berpakaian jas yang mengendarai Bugatti Chiron. "Kau kira mobil apa yang telah kau tabrak? Bahkan harga dirimu tidak akan cukup untuk membayar biaya perbaikan mobil milik Ketua Kami!"
Bentle lalu mengerahkan semua anak buahnya. "Hancurkan motor itu, setelahnya kalian patahkan kaki dan tangan pria itu untuk membayar perbuatan bodohnya!"
"Baik." Semua pria berjas hitam menganggukkan kepala lalu segera mengambil pemukul besi di mobil mereka, lalu mengayunkan ke arah motor tua milik Haven yang tergeletak di samping Supercar Bugatti Chiron.
"Hentikan! Tolong hentikan! Itu motor milikku satu-satunya," teriak Haven kepada Bentle.
Dalam sesaat motor milik Haven telah hancur dan meninggalkan kerangka saja. Lebih mirip seperti seonggok sampah.
Sial! Padahal itu motor satu-satunya milik Haven peninggalan kakek Lee yang telah menemaninya tiga tahun ini selama menjadi menantu di keluarga Lee.
"Kau akan berada dalam masalah besar, dasar anak binatang! Mobil yang kau tabrak adalah mobil milik Ketua Camela Wycliff. Bersiaplah untuk menerima konsekuensinya setelah kami menghubunginya!" ucap Bentle sembari memberi isyarat meminta anak buahnya untuk memukuli Haven.
Mobil itu adalah milik Camela Wycliff. Ketua perusahaan King Paradise. Perusahaan besar yang menguasai perusahaan-perusahaan di seluruh belahan dunia.
Dengan marah, Haven meraih ponsel tua dengan bentuk kecil dan sangat tebal, lebih layak disimpan di museum. "Aku tidak akan membiarkan kalian lolos begitu saja setelah hancurnya motorku!"
"Bocah! Memangnya kau bisa apa?" Bentle menatap rendah ke arah Haven. Dia sangat yakin pria miskin tidak akan bisa berbuat apa-apa selain mengakui kesalahannya karena telah menabrak mobil ketua mereka.
Haven menatap dingin ke arah anak buah Camela, ada tatapan marah dari sorot matanya. "Aku akan meminta pimpinan kalian untuk bertanggungjawab atas kebodohan kalian!"
"Maksudmu kau akan menghubungi Ketua Camela Wycliff? Kau kira kau siapa, hah?" dengus Bentle dengan arogan.
Beberapa detik kemudian terdengar suara seorang Camela di seberang sana. "Halo, dengan siapa?"
"Aku, Haven Clark." ucap Haven.
Camela yang berada di seberang telepon tergagap. Dia sangat terkejut mendengar suara yang sudah lama tidak dia dengar sejak lima tahun yang lalu, kini terdengar kembali.
Dengan raut wajah berbinar dan tidak percaya, Camela segara berkata. "Kakak Clark, apa ada yang bisa kubantu? Sudah lama sekali saya tidak mendengar suaramu."
Haven berkata sembari menatap dingin ke arah anak buah Camela. "Cepatlah kemari. Kuberi kau waktu tiga menit."
Pernyataan itu membuat Camela segera pergi ke lokasi setelah melihat di mana lokasi keberadaan Haven. "Baik, Kakak Clark. Aku akan segera ke sana tidak lama lagi."
Tiga menit kemudian, beberapa mobil berhenti tak jauh dari tempat Haven berdiri. Barisan paling depan adalah Rolls-Royce Phantom, sedangkan di belakangnya terdapat deretan dua puluh mobil jeep Rubicon monster berwarna hitam matte.
Seorang pria bertubuh kekar membuka pintu mobil Rolls-Royce Phantom, lalu seorang wanita berkulit putih dan berwajah cantik keluar dari dalam mobil itu.
"Ke-Ketua Camela? Kenapa dia kemari?" tanya Bentle dengan ekspresi terkejut. Padahal dia sama sekali tidak menghubungi Camela atas kejadian ini.
Apa ada yang menghubungi dirinya jika mobil kesayangan ketua Camela mengalami kecelakaan?
Pria itu menoleh ke arah anak buahnya. "Otak udang! Kenapa kalian dengan bodohnya menghubungi ketua kita!"
Para anak buahnya kompak menggelengkan kepala. "Kami sama sekali tidak menghubungi Ketua Camela, Pak. Tapi kurasa …."
Tidak mungkin!
Bagaimana bisa pria miskin dan lusuh ini benar-benar menghubungi Ketua Camela yang terhormat? Punya koneksi apa dia?
Bentle membungkukkan badan ketika Camela Wycliff berjalan dengan langkah cepat seperti tengah terburu-buru. Diikuti oleh semua pria berjas yang ikut membungkukkan badan mereka.
Camela melawati begitu saja Bentle, dia melangkah sampai akhirnya berada di hadapan Haven.
"Kakak Clark …."
Haven tersenyum menatap Camela. "Akhirnya kau kemari juga, Camela. Tapi kurasa sekarang kenapa dadamu semakin berisi, sepertinya kau mendapatkan nutrisi yang baik setiap hari."
DUARR!!!
Semua anak buah Camela seolah seperti disambar petir di siang bolong. Mulut mereka menganga lebar, rahang mereka hampir jatuh ke tanah.
Bagaimana tidak? Ketua yang begitu dihormati dan disegani, membungkukkan tubuh 90 derajat kepada seorang pria miskin berpakaian lusuh.
Haven bahkan berani membuat lelucon pada anggota tubuh Camela tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Camela kembali berdiri sembari menundukkan kepala. Dia sama sekali tidak memperdulikan semua anak buahnya yang menatapnya aneh.
Wanita itu kemudian menoleh ke arah belakang, tempat semua anak buahnya berdiri. "Kenapa hanya diam saja? Cepat beri hormat kepada Kakak Clark, atau akan kupenggal kepala kalian semua!"
Persetan! Apa ini?
Semua anak buah Camela segera membungkukkan badan mereka, sampai Camela meminta mereka kembali berdiri tegak lagi.
Camela Wycliff adalah ratu bisnis yang sangat terkenal di dunia bisnis. Tidak ada yang berani menyentuh dan menyinggung seorang Camela, jika berani, nyawa dan tahta yang menjadi taruhannya.
Satu keputusan darinya, sangat berpengaruh di dalam dunia bisnis. Tidak ada seorang pun di negara Obat yang tidak mengenal sosok Camela.
"Kakak Clark, apakah ada hal penting sampai kau sudi memanggilku kemari?" tanya Camela.
"Anak buahmu baru saja menghancurkan motorku." Haven menujuk ke arah motor tuanya, lalu beralih ke arah Bentle. "Apa kau mengajari mereka menggunakan kekuasaan untuk menindas kaum bawah?"
Camela membelalakkan kedua bola matanya setelah melihat motor milik Haven hancur akibat ulah para anak buahnya.
"Kakak, aku minta maaf. Aku bersumpah akan memberi hukuman kepada mereka." Camela membungkukkan tubuhnya, lalu berjalan ke arah Bentle.
Bentle gemetar ketakutan ketika Camela sudah berada di hadapannya. Tubuh kokohnya berubah lunglai seolah tanpa tulang.
Dalam sekejab Bentle ambruk di tanah dan berlutut di hadapan Camela. "Ketua, aku bisa jelaskan. Ini hanya kesalahpahaman. Aku menghancurkan motor rongsokan itu karena sudah menabrak mobil kesayangan milikmu hingga rusak."
"Dasar otak binatang! Aku tidak bisa memaafkanmu. Asal kau tahu, Kakak Clark adalah malaikat kehidupanku! Jika kalian berani menyinggungnya, itu sama saja kalian sedang menginjak wajahku!" ucap Camela.
Sial! Mereka berurusan pada orang yang salah.
"Apakah aku pernah meminta kalian untuk menindas orang-orang dengan sebuah kekuasaan? Kalian benar-benar tidak punya otak dan sangat bodoh!"
Camela memalingkan pandangan matanya ke arah sekumpulan anak buahnya yang tadi datang bersamanya. "Kalian urus mereka. Patahkan kaki dan tangannya, lalu asingkan dari negara ini!"