Erga Sutama dan Adam adalah sahabat karib di kampung. Keduanya hijrah ke kota merintis usaha sambil kuliah. Erga kuliah kedokteran dan Adam kuliah pertanian. Erga berasal dari keluarga miskin di kampung sementara Adam berasal dari keluarga kaya yang memiliki banyak sawah dan kebun. Sering Adam membantu Erga melunasi biaya kuliahnya sampai membiayai Erga membuka tempat praktik kecil-kecilan.
Erga menikah di kota dan Adam kembali ke kampung untuk di jodohkan dengan Lilis. Sejak itu, mereka jarang bertemu tapi selalu berkomunikasi lewat wartel. Erga memiliki satu putri. Adam memiliki tiga anak, anak pertama putri serta anak kedua dan ketiga putra. Keduanya sepakat ingin berbesanan. Namun, sebelum anak kedua Adam SMA, Adam sakit-sakitan dan meninggal. Diakhir hidup Adam, Erga berjanji akan mewujudkan keinginan Adam untuk berbesanan.
Keinginan itu lagi-lagi kandas, putra kedua Adam meninggal dua bulan yang lalu. Akhirnya Zahran yang menggantikan kakaknya. Tanpa semua orang tau, sejak kecil Zahran sudah jatuh cinta pada Khalila.
Walau jarang, Erga, kerap kali ada kesempatan, pasti berkunjung ke kampung. Khalila pernah menyelamatkan Zahran hanyut di sungai saat pertama kali belajar berenang. Saat itu usia Zahran masih 13 tahun dan Khalila sudah 19 tahun.
***
Sepulang dari sawah, Zahran mandi. Di kamar mandi rumah mereka yang sederhana, senyum Zahran tak kunjung pudar. "Kak Khalila, sebentar lagi Kakak akan jadi istriku. Tunggu dulu, Aku tidak perlu memanggilnya Kakak lagi kan? Masa istriku Ku panggil Kakak?" gumam Zahran, dia bahagia.
"Khalila Sayang, Aku janji akan jadi suami terbaik untukmu. Om Erga bilang dia ingin menantu seorang dokter hebat. Akan ku tunjukan kalau Aku akan menjadi dokter hebat yang selalu menyelamatkan pasiennya. Aku mencintaimu Khalila Permata Sutama. Kamu adalah permataku. Walau Aku sempat patah hati karena Kamu akan menjadi kakak iparku. Tak Ku sangka Allah punya caranya sendiri untuk menyatukan Kita. Kak Hasan, maafkan Aku karena Aku mencintai calon istrimu."
Setelah selesai mandi, Zahran berpakaian rapi lalu ke luar mendatangi kakak, kakak ipar dan keponakannya yang sedang duduk santai sambil menikmati kopi hangat dan Singkong rebus.
"Selamat ya Dek, bulan ini Kamu bakal nikah. Baik-baik ya sekolah di kota," pesan kakak iparnya.
"Bener kata suami Kakak. Baik-baik di Kota. Kuliah yang bener. Kerja di rumah sakit milik mertuamu nanti juga harus jujur," pesan kakaknya juga.
"Iya Mbak, Mas," jawab Zahran.
"Om Zahran, nanti Om bakal jadi dokter ya? Istri Om dokter, mertua Om juga dokter," kata Boby, keponakan Zahran yang masih berusia 7 tahun.
"Boby mau jadi apa kalau sudah besar?" tanya Zahran.
"Mau jadi montir kaya Ayah," jawab Boby polos.
"Aamiin, semoga tercapai," jawab Zahran.
"Zahran, itu Tina ya?" tunjuk Kasih.
Zahran pun menoleh. Tina mendekat lalu berkata," Zahran, bisa Kita bicara?" tanya Tina malu-malu.
"Bisa," jawab Zahran lalu berdiri. Dia dan Tina menjauh untuk bicara.
"Sayang, Aku pernah dengar pembicaraan murid-murid SMA di kampung Kita sewaktu mereka ke bengkel ku. Kata mereka Tina sudah lama suka sama Zahran," kata suami Kasih.
"Oh ya, Mas? Kasian sekali Tina. Tapi Zahran bersikap biasa-biasa saja sama Tina. Zahran bahkan senang mau menikah sama Khalila."
Zahran dan Tina bicara di kursi pinggir jalan tidak jauh dari rumah Zahran. "Aku dengar Kamu mau nikah sama dokter dan bakal pindah sekolah ke kota? Apa itu benar?" tanya Tina mulai bicara.
"Iya, Kamu hanya ingin menanyakan itu?" jawab Zahran.
"Zahran, Aku sebenarnya ... suka sama Kamu. Aku mau Kamu gak nikah sama dokter dari kota itu."
"Suka sama Aku? Sejak kapan?"
"Sejak dulu. Aku malu bilangnya."
"Tina, Kamu cantik dan pintar. Kamu anak kepala desa. Masih banyak yang mau sama Kamu. Maaf, Aku gak bisa membatalkan pernikahanku."
"Aku dengar dokter itu umurnya lebih tua dari Kamu. Kenapa Kamu gak nikah sama Aku aja? Umur Kita kan sama?"
"Tina. Maaf."
"Jangan minta maaf, Aku malu ... Aku sedih ..."
Zahran tidak tau harus berkata apa. Dia memang tidak punya perasaan pada teman sekelasnya ini. "Tina, Aku gak bisa balas perasaan Kamu. Aku harap Kamu ngerti. Maaf. Aku pulang dulu." Zahran tidak bermaksud menyakiti Tina, tapi perasaan Tina memang tidak bisa dia balas. Terpaksa, Zahran meninggalkan Tina yang menangis di sana karena ditolak. Dia ingin Tina melupakannya.
***
Keesokan harinya Erga dan Khalila datang ke kampung dengan menempuh perjalanan beberapa jam. Keluarga Zahran menyambut kedatangan mereka dengan tangan terbuka. Padahal Khalila hanya beda 2 tahun dari Kasih, tapi wajah mereka jauh berbeda. Khalila sangat cantik seperti ABG sementara Kasih seperti emak-emak karena terbiasa bekerja di sawah membantu ibunya.
"Khalila, walau kalian sudah bertemu beberapa kali, tetap saja harus berkenalan secara resmi. Dia Zahran Fahad Auzan, calon suami Kamu," kata Erga.
Sesaat, Khalila terpesona dengan ketampanan Zahran. Namun langsung dia tepis. Dia tidak ingin menjalin hubungan serius dengan bocil seperti Zahran. "Saya Zahran," kata Zahran memperkenalkan diri pada Khalila.
"Aku Khalila," sahut Khalila ketus. Zahran sudah tau kalau Khalila adalah gadis jutek, tapi dibalik itu tersimpan sosok gadis polos yang baik hati dan penolong.
"Mbak Lilis, bagimana kalau bulan ini mereka Kita nikahkan. Nikah siri saja dulu, setelah Zahran berusia 19 tahun, baru mereka menikah secara resmi," saran Erga.
"Kalau Saya apa Kata anak-anak saja, Mas Erga. Bagaimana? Kalian setuju?" tanya Lilis pada Zahran dan Khalila.
Erga memberi isyarat lewat mata pada Khalila. Dengan malas Khalila menjawab setuju. Sementara Zahran dengan mantap menjawab setuju.
"Zahran, setelah menikah dengan Khalila, Kamu mau ikut mereka ke kota? Kamu di sana akan membantu Om Erga di rumah sakit. Jadi Kamu dan istrimu nanti sama-sama kerja di rumah sakit," ucap Lilis.
"Ibu, Om, Kak Kasih, Kak Galang, Khalila, Aku akan menjadi dokter hebat, Aku janji," janji Zahran.
"Ini yang Om suka dari Kamu Zahran. Kamu pria hebat. Usia hanya angka. Semakin Kamu dewasa, semakin sikapmu bijaksana," puji Erga pada calon menantunya.
"Terima kasih pujiannya, Om," sahut Zahran malu-malu.
"Sok banget sih bocil ini? Seberapa pintar sih dia? Apa lebih cerdas dari Aku?" batin Khalila.
"Mbak Lilis, Saya janji akan memperlakukan Zahran sangat baik. Akan Saya pastikan Khalila akan menjadi istri terbaik untuk Zahran," janji Erga.
"Suami Saya sudah lama mengenal Mas Erga. Saya percaya pada Mas Erga. Bimbing anak Saya, Mas. Dia masih muda. Semoga dia menjadi suami terbaik untuk putrimu," ucap Lilis.
"Pasti," jawab Erga.
Kedua belah keluarga sangat bahagia dengan perjodohan ini. Khalila merasa hanya dirinya yang tidak terima dengan perjodohan ini.
Hari ini Zahran dan Khalila menikah secara sederhana di kampung. Sudah hal lumrah di kampung Zahran menikah muda dan menikah siri, jadi mereka tidak kaget lagi mengetahui ada pasangan muda menikah bahkan menikah siri. Walau Khalila dan Zahran menikah sederhana di kampung, banyak tamu yang datang memberi ucapan selamat untuk mereka. Erga dan keluarga Zahran berencana akan melangsungkan pernikahan mewah saat Zahran sudah cukup umur.
Berbalut kebaya putih dengan riasan natural namun tetap cantik, Khalila duduk di samping Zahran karena ijab qabul akan dilangsungkan. Penghulu dan tamu sudah datang. Teman-teman sekolah Zahran ada sebagian yang datang karena mereka penasaran, siapakah gadis kota beruntung yang mendapatkan hati Zahran, si idola sekolah.
"Wah, cantik sekali calon istri Zahran. Aku dengar dia dokter, usianya lebih tua dari Zahran. Kok mukanya lebih muda dari muka Kamu, Tina?" ejek Maya, teman dekat Tina.
"Tetap saja tua. Semoga Zahran cepat jadi duda," doa Tina. Sebenarnya Tina tidak ingin datang, tapi karena ayahnya kepala desa dan di undang, terpaksa dia datang.
"Kalau dokter muka bidadari kaya gitu, Aku juga mau cepat-cepat nikah," kata salah satu teman Zahran yang laki-laki.
Pujian demi pujian yang Tina dengar dari teman-temannya untuk calon istri Zahran membuat wajah Tina cemberut sepanjang acara. Tina masih belum bisa melupakan Zahran.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan Engkau, Zahran Fahad Auzan bin Adam dengan putri Saya Khalila Permata Sutama binti Erga Sutama dengan Mas Kawin uang 10 juta rupiah dibayar tunai." Erga sendiri yang menikahkan putrinya di dampingi oleh penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Khalila Permata Sutama binti Erga Sutama dengan Mas Kawin tersebut tunai." Hanya dengan satu tarikan nafas, tanpa kesalahan sedikitpun, Zahran berhasil mengucapkan kalimat ijab qabul.
"Bagaimana saksi, sah?" tanya Penghulu pada saksi dan semua tamu yang hadir.
"Sah."
Akhirnya Zahran dan Khalila sah secara agama menjadi suami istri. Khalila tidak percaya dirinya telah menjalin ikatan sah dengan pria muda yang tidak dia cintai itu. Terlihat dari raut wajah Khalila betapa dia kecewa. Saat bertukar cincin pun Khalila masih menunjukan ekspresi datar.
"Khalila, Aku janji akan menjadi suami terbaik untukmu. Insyaallah," ucap Zahran tulus. Lalu dia mencium kening Khalila cukup lama.
Tanpa menjawab, Khalila kemudian mencium punggung tangan suaminya.
***
Tak terasa, acara sudah selesai dilangsungkan. Sore ini pukul tiga, Erga, Khalila dan Zahran berangkat ke kota, ke kediaman mewah Sutama. Lilis sudah mengemas pakaian anaknya untuk di bawa. Tak henti-henti Lilis berpesan pada anaknya untuk menjadi suami yang baik. Dia takut anaknya mengecewakan istrinya, apalagi usia Zahran masih muda.
Perjalanan ke kota memerlukan waktu beberapa jam. Sekitar jam 9 malam baru mereka tiba. Di perjalanan, Khalila diam seribu bahasa. Dia bahkan tidak mau melihat wajah Zahran.
Sejak awal menikah, Zahran sudah bisa merasakan kalau Khalila cuek dan dingin padanya. Namun Zahran tidak ingin ambil pusing. Mungkin Khalila belum siap menikah dengannya. Zahran tidak ingin memaksa Khalila, biarkan waktu yang membuat Khalila terbiasa.
Beberapa jam kemudian, mobil yang dikemudikan supir Erga tiba di kediaman Sutama.
"Tuan, siapa di depan?" kata Sang Supir.
Erga yang masih terjaga sepanjang perjalanan melihat ke depan. Di depan gerbang rumahnya ada pria dan wanita seusia Khalila sedang menunggu. "Hentikan mobilnya!" titah Erga.
"Baik, Tuan." Mobil pun di hentikan. Zahran dan Khalila terbangun merasakan mobilnya berhenti.
"Sudah sampai ya, Om?" tanya Zahran.
"Sudah. Om keluar dulu, Zahran." Erga membuka pintu mobil lalu keluar.
"Dito? Yuana?" Khalila terkejut melihat pacar dan sahabatnya tengah menunggu di depan gerbang rumahnya. Khalila langsung keluar dari mobil menyusul ayahnya.
"Khalila, tunggu!" kata Zahran, namun Khalila tetap keluar. Zahran pun ikut keluar.
"Mau apa kalian malam-malam di depan rumah orang?" tanya Erga penuh curiga.
"Maaf, Om. Bukan maksud Kami," jawab Yuana tidak enak. "Khalila," panggil Yuana saat melihat Khalila berjalan ke arah mereka.
"Yuana? Dito? Kalian ngapain?" tanya Khalila terkejut.
"Jadi acara keluarga yang Kamu bilang adalah pernikahan Kamu di kampung?" ucap Dito langsung.
Khalila terdiam. Apa Dito tahu semua pikir Khalila.
"Khalila. Ini semua salahku. Aku gak sengaja salah kirim wa. Terkirim foto pernikahan kalian ke Dito," sesal Yuana.
"Jawab!" kata Dito lagi dengan meninggikan suara. Dia menatap kecewa pada Khalila. Bahkan matanya berkaca-kaca berwarna merah.
"Jangan berteriak pada istriku!" sahut Zahran marah. Dia tidak suka Dito meneriaki istrinya.
"Istri? Jadi benar Kamu sudah jadi istri orang? Kamu bilang batal dijodohkan karena calon suami Kamu meninggal. Kamu bohong?" cerca Dito pada Khalila.
Khalila diam seribu bahasa. Dia hanya menangis.
"Kamu pasti Dito, mantan pacar anak Saya. Kenalkan, ini Zahran menantuku. Anak Saya sudah punya suami, jadi jauhi dia!" tegas Erga.
"Sejak awal Om gak pernah merestui Saya dan Khalila. Apa karena Saya miskin? Karena Saya hanya karyawan biasa? Bukan dokter seperti Om dan Khalila? Tega sekali Om memisahkan Kami!" teriak Dito kesal.
"Lancang sekali Kamu bicara pada orangtua. Baguslah. Jadi Saya tidak menyesal tidak merestui kalian. Jangan pernah datang lagi ke rumah Saya," tegas Erga lagi. "Zahran, bawa Khalila masuk. Biar mereka Om yang usir," titah Erga.
"Baik, Om." Zahran membawa Khalila masuk. Khalila menurut karena tidak bisa berbuat apa-apa.
Di dalam, Zahran dan Khalila tidak tau apa yang terjadi lagi di luar. Yang jelas, Erga pasti mengusir Dito dan Yuana.
"Khalila, ayo masuk ke kamar!" ajak Zahran.
"Zahran, Kamu pasti penasaran kan siapa dia?" Khalila mulai berani bicara.
"Mantan pacar Kamu?" tebak Zahran.
"Kami belum putus. Dia bahkan tidak tau Aku menikah denganmu hari ini. Gara-gara perjodohan konyol ini, Aku dan dia berpisah. Apa sih yang Papa harapkan dari bocah seperti Kamu? Bisa-bisanya Papa ngotot menikahkan Kita? Aku benci sama Kamu Zahran, sangat benci. Harusnya Kamu tidak masuk ke kehidupanku." Khalila meluapkan kekesalannya pada Zahran, lalu naik ke atas, masuk ke kamarnya.
Zahran menatap nanar langkah Khalila hingga Khalila menutup pintu kamarnya di lantai atas. Hati Zahran sakit mengetahui istrinya ternyata menaruh perasaan cinta pada pria lain.
"Zahran, Kita harus bicara," kata Erga yang baru saja masuk.
"Iya, Om." Zahran mengikuti langkah Erga, mereka duduk di sofa.
"Kamu pasti terkejut melihat kedatangan pria itu? Ya kan?"
"Kata Khalila mereka belum putus Om."
"Zahran. Om sangat menyayangi Khalila. Anak Om memang berduri di luar tapi dia sangat polos. Mudah untuk pria jahat di luar sana membodohinya dengan cinta. Pria tadi namanya Dito. Dia bukan pria baik-baik. Walau Dimata Khalila dia pria terbaik di seluruh dunia."