" sepuluh menit lagi, ijab qobul akan segera di mulai, bagaimana ini, kenapa keluarga dari pihak nak Vero belum ada yang datang?," Kata pak Rahmat, Ayah Rihanna dengan wajah cemasnya.
" Aku tidak tau, ponsel miliknya tidak aktif, padahal kemarin semua masih baik-baik saja," jelas Rihanna tak kalah panik.
Rahmat masih terlihat mondar mandir gelisah.
" Permisi, apa saya bisa bertemu dengan ,pak Rahmat?," Tanya seorang pria tampan, nan rupawan itu.
" Mas nya siapa ya?, kok nyariin suami
Saya, apa Anda perwakilan dari keluarga
Vero?," Tanya Retno, pada pria itu.
" Maaf Bu, saya nggak kenal Vero, saya
datang ke sini karena, undangan dari pak
Rahmat sendiri,"ucapanya dengan sopan.
" Oh. mari masuk, sepertinya Anda bukan teman suami saya, karena, ini pertama kali saya melihat Anda?," Ucap Retno.
Belum sempat menjawab, mereka sudah tiba di ruangan tempat keluarga inti berkumpul.
Di sana ada ,Rihanna yang sedang menangis di dalam pelukan sahabat nya.
Pak Rahmat yang melihat kedatangan pria yang sangat dia segani, dia pun segera menyambut kedatangan pria itu.
" Pak Radit, mari masuk pak.silahkan duduk," ucap Rahmat.
" Maaf pak, sepertinya kedatangan saya tidak dalam waktu yang tepat," ucap Radit.
Belum Rahmat menjawab ucapan pemilik perusahaan tempatnya bekerja, Retno, sang istri langsung memberondong dengan banyak pertanyaan. Retno tidak tau kenapa tiba-tiba Rihanna menangis, dan keluarga vero pun belum ada yang datang.
Lalu indah, sahabat baik Rihanna menunjukkan setatus sosial media milik sepupunya Rihanna, yang bernama Sera.
Di sana, terdapat sepasang manusia berada di dalam selimut di sebuah kamar hotel. wajah pria itu bahkan tidak di sensor, entah sengaja atau lupa, yang jelas semua yang ada di sana mengenali wajah pria itu, terkecuali Radit.
Karena, pria itu tidak pernah sekalipun bertemu dengan keluarga Rahmat.
Raditya Herland. Adalah seorang CEO, di mana Rahmat bekerja selama ini. Radit memenuhi undangan Rahmat karena, menurut sang ayah pria matang itu sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun,dan sangat setia pada perusahaan.
Jadi ayahnya menyarankan untuk mewakili dirinya dan perusahaan menghadiri pesta pernikahan anak nya.
Semua orang tercengang melihat wajah di balik selimut itu.
Ya Itu adalah wajah vero, pria yang sedang terlelap sambil memeluk Sera, bahkan mereka terlihat seperti tidak menggunakan sehelai benang pun. itu bisa di simpulkan dari bahu mereka berdua yang terlihat polos.
" Ya ampun Sera, kenapa dia tega sekali, pantas saja mas Bambang, sama Mbak Sari nggak datang ke sini, apa sebenarnya mereka sudah tau?," Ucap Retno.
Rahmat tiba-tiba jatuh, sambil memegang dadanya yang nampak kesakitan.
Semua orang yang ada ruangan itu panik, begitu juga dengan Radit, dia segera bangun dari duduknya, dan segera menghampiri Rahmat.
Radit membantu Rahmat duduk di bangku, Retno segera mengambil air putih.
" Ya ampun , yah, maafin Hana yah, Hana udah bikin Ayah malu. karena, pernikahan ini akan gagal, Hana nggak mungkin terima penghianatan ini yah, maafin Hana yah," Rihanna bersimpuh di kaki Rahmat. pria matang itu, masih terlihat menahan sasakit.
" Kamu nggak salah nduk, Ayah yang salah , karena, sudah sempat menerima lamaran pria itu", ucap Rahmat terbata.
Radit masih melihat interaksi, antara Ayah dan anak itu.namun, tiba-tiba ponsel miliknya bergetar, di sana terlihat nama ayahnya yang menghubungi.
Radit sedikit menjauh, dari orang yang sedang berkumpul.
" Halo. Ada apa yah?"
("Bagaimana pestanya akad nya sudah selesai?,") tanya Erlangga, kepada anaknya.
Kemudian Radit menceritakan,apa yang dia lihat dan dia dengar di sana pada ayahnya.
(" Berikan ponsel nya pada Rahmat, saya mau bicara") ucap nya lagi.
Radit berjalan kembali, menuju tempat di mana Rahmat masih duduk di kursi itu sambil memeluk putrinya.
" Permisi, pak Rahmat, Ayah saya ingin bicara dengan Anda"
Rahmat melepaskan pelukan putrinya, dan menerima ponsel dari Bos nya itu.
" Halo, pak Angga" ucap Rahmat sambil berlalu dari tempat itu.
Rihanna sudah berhenti menangis, entah lelah atau sudah kering air matanya.
Tidak lama kemudian,Rahmat kembali masuk ke dalam ruangan itu, lalu memberikan kembali ponsel milik Radit.
" Pak Radit, maaf ini pak Rangga ingin bicara dengan Anda," ucap Rahmat.
Sama seperti Rahmat, Radit pun meninggalkan ruangan itu.tak berapa lama dia kembali masuk dengan wajah berubah dingin.
" Pak Rahmat, bisa kita mulai sekarang,"
Mendengar perkataan Radit, semua orang melihat ke arah Rahmat, lalu berganti ke arah Radit.
" Apa ,pak Radit yakin?," Tanya Rahmat, sedikit ragu.
" Apa saya terlihat sedang main-main?," Tanyanya kembali.
Rahmat segera membawa Radit ke ruangan ganti untuk pengantin pria.
Tak berselang lama, terdengar ijab qobul di laksanakan.
Di dalam sana, Rihanna dan yang lainnya terperangah, saat mendengar nama mempelai pria di sebut oleh penghulu.
Sakit yang masih basah dalam hati Rihanna,kini dia harus kembali di kejutkan oleh suaminya yang baru saja dia temui, bahkan dia tidak tau nama pria itu.
Setelah selesai ijab qobul, kini Rihanna di apit oleh ibunya dan sahabat nya, untuk menemui suaminya.
Rasa canggung menghinggapi kedua mempelai itu, saat Rihanna menyalami tangan Radit dan mencium punggung tangan pria itu.
Kini resepsi pun berlangsung, setelah usia ijab qobul, banyak tamu yang merasa bingung melihat mempelai pria yang berbeda,tak sedikit yang berbisik bisik dan menduga duga.
Namun, Rihanna dan keluarga, sudah siap dengan semua itu, mereka justru bersyukur karena tidak jadi menanggung malu karena, perbuatan Vero. Hingga acara selesai, tidak ada satupun dari keluarga Sera yang datang, padahal Bambang, sendiri adalah adik dari Rahmat.
Acara pun selesai, Rihanna kembali ke kamar yang sudah di persiapkan, untuk pengantin baru di hotel itu, Radit pun mengikuti wanita yang telah sah menjadi istrinya.
Setelah masuk ke dalam kamar, tiba-tiba atmosfer di dalam kamar, berubah mencekam.
Keduanya tidak ada yang memulai pembicaraan, hingga Rihanna selesai membersihkan tubuhnya, di dalam kamar mandi.
Wanita itu melihat suami yang belum dia tau namanya itu, sedang tidur di sofa yang berbeda di sana.
Perlahan Rihanna mendekat, dan melepaskan sepatu yang masih melekat pada kaki Radit.
Sebenarnya Radit sempat terkejut, saat merasakan ada yang menyentuh kakinya, dia membuka sedikit matanya, untuk melihat siapa pelakunya. saat melihat Rihanna melakukan itu, sudut bibirnya sedikit terangkat, lalu kembali memejamkan matanya, dan kembali tidur, karena, dia merasa sangat lelah hari ini.tidak hanya lelah fisik, namun juga fikirannya, dia yang tiba-tiba di paksa menikah oleh ayahnya, bagaimana dengan kekasihnya, bila tau dia sudah menikah, Radit benar-benar di buat pusing oleh ayahnya.
Setelah melepas sepatu milik Radit, Rihanna langsung naik ke atas ranjang, Rihanna tak kalah letih dari Radit, bahkan wanita itu sudah menahan rasa sakit akibat penghianatan dari kekasih dan juga sepupunya.
Sebenarnya, banyak sekali pertanyaan dalam benak nya, bagaimana bisa pria yang sedang terlelap itu mau menjadi suami nya bahkan dia belum tau sekedar namanya.
Rihanna terlelap, setelah sibuk dengan fikirannya.
Namun, saat dia bangun, sayup-sayup terdengar suara orang sedang berbincang melalui sambungan telepon.
" Aku tidak bisa. maaf, Aku sungguh minta maaf, tapi kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini," ucap Radit. Lalu dia mengakhiri panggilan telepon nya.
Radit membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah ranjang, di mana ada seorang wanita, yang kini bergelar istri itu masih terlelap, tanpa dia tau, Rihanna bahkan sudah mendengar pembicaraan nya tadi .
Entah apa yang pria itu rasakan saat ini, dia sedikit kesal dengan wanita itu, namun,dalam hati berkata, apa salahnya, bahkan dia tidak meminta untuk di nikahi oleh dirinya, hanya saja dia yang tidak bisa menolak perintah ayahnya.
Radit keluar dari kamar itu, dia akan menemui seseorang di lobby hotel. setelah kepergian Radit, kini Rihanna bangun dari tempat tidur, wanita itu bergegas menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya, tidak lama kemudian, dia sudah berganti baju dan sedang menggunakan makeup nya tipis-tipis, dia menghembuskan nafasnya perlahan.
" Kemana perginya dia?" Tanyanya pada diri sendiri.
" Mungkin dia sudah pergi, dan tidak akan kembali, lagi pula dia tidak ada tanggung jawab pada ku bukan, dia hanya pria baik hati, yang sudah menyelamatkan keluarga ku.ya ampun, Hana kenapa kamu terlalu berharap," ucapanya lagi, sambil memukul kepalanya sendiri,dan saat itu pintu kamar terbuka.
Radit mengerutkan keningnya, melihat istrinya memukuli kepalanya, pria itu berfikir, apakah wanita itu sedang sakit kepala, akibat terlalu banyak fikiran.
Sedangkan Rihanna, dia menjadi salah tingkah , ketika melihat Radit, tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
" Ehem" Radit berdehem " kita turun untuk sarapan, sepertinya semua anggota keluarga sudah menunggu, di restoran bawah," ucap Radit.
" Ah. Iya."
Kemudian mereka berdua jalan beriringan, menuju lift yang akan membawanya ke restoran.
Di dalam lift, Radit menatap wajah Rihanna. membuat wanita itu kembali di buat gugup.
Radit mengulurkan tangannya,dan dengan sedikit ragu, Rihanna menyambut telapak tangan itu.
"Raditya Herland" ucap pria itu.
" Rihanna, pangil saja Hana," ucap Hana.
Setelah itu, mereka kembali berjalan setelah lift terbuka.
Benar saja, seluruh keluarga besar sudah menunggu di sebuah meja makan yang sangat besar. Kali ini Rihanna melihat seorang pria paruh baya, dan seorang wanita yang tidak begitu tua, juga tidak begitu muda, namun Rihanna merasa tidak mengenal mereka, mereka duduk di antara semua keluarga nya.
" Beliau, adalah Ayah ku, dan wanita di sebelah nya, adalah istrinya," ucap Radit, tepat di samping wajah Rihanna, membuat wanita itu berjingkat sedikit kaget, Radit yang melihat itu, mengulum senyum nya.
Dalam hati, Rihanna berkata. Apa tadi dia bilang, itu adalah ayahnya, lalu kenapa tidak menyebut wanita itu ibunya, tapi kenapa malah istrinya, dasar aneh. Ucapnya dalam hati.
" Tidak usah mengumpat ku, dalam hati," ucap Radit kembali, membuat Rihanna kembali terkejut.
Rihanna segera menyalami, tangan kedua orang tua Radit.
" Selamat ya nak, maaf kemarin tidak bisa hadir, Ayah nitip anak Ayah, yang sedikit bandel itu," ucap pak Angga, Ayah Radit. Rihanna hanya membalas dengan senyuman, dan anggukan kecil.
Radit yang mendengar perkataan ayahnya, di buat terperangah, bagaimana bisa dia mengatakan dirinya bandel, Radit menghembuskan nafasnya perlahan.
Rihanna berganti menyalami wanita di sebelah pak Angga, wanita itu tidak memperlihatkan senyum sedikit pun, walaupun dia mengulurkan tangannya, untuk menyambut uluran tangan Rihanna.
Setelah acara sarapan pagi dengan penuh perbincangan basa basi, antara kedua keluarga itu, kini Rihanna dan Radit kembali ke kamar hotel, kamar pengantin itu sebenarnya sudah di booking selama tiga hari,
. namun, Radit mengatakan kalau dia harus bekerja, dan Rihanna berfikir juga, untuk apa mereka berada di sana, toh mereka tidak akan melakukan apapun.
" Kau ingin pulang ke mana?," Tanya Radit.
" Heh" Rihanna terlihat bingung.
"Em, begini maksud ku, kamu ingin ikut aku tinggal di apartemen, atau aku yang akan ikut dengan mu?," Radit memperjelas pertanyaan nya.
" Oh. Aku terserah kamu saja," ucapanya pelan.
" Apa tidak papa, kalau Aku membawa mu tinggal di apartemen ku?. Maksudku, apa nanti keluarga mu tidak keberatan?," Tanya Radit memastikan.
"Bukankah, seorang istri harus mengikuti langkah suaminya." Jawab Rihanna.
Radit mengangkat ujung bibirnya sedikit, dalam hati pria itu merasa senang, dia tidak akan canggung bila mereka tinggal di apartemen.
" Baiklah kemasi barang-barang milik mu."
Tak berselang lama, pintu kamar di ketuk dari luar, Radit segera membuka pintu, dan muncullah seorang pria, terlihat sedikit lebih muda dari Radit.
" Pagi Bos," ucap pria itu.
" Pagi Rio, tolong kamu, bawakan barang-barang milik istriku ke dalam mobil,"
Mendengar perkataan Bos nya, Rio terkejut. pasalnya Radit tidak menceritakan apapun, dia hanya menyuruhnya datang ke tempat itu.
Apa tadi katanya, istri, sejak kapan Bosnya punya istri, bukankah, kekasih nya bernama Calista, model yang lagi naik daun itu. masih banyak pertanyaan yang berbeda di dalam hati Rio.
" Hai. Apa kamu masih ingin berdiri di sana," Rio tersadar dari lamunannya, karena, suara Radit kali ini cukup keras.
" Cekk, nggak usah teriak Bos, saya nggak budek," ucap Rio.
" Kalo bukan budek, lalu apa, saya bahkan sudah panggil kamu tiga kali, tapi kamu hanya berdiri di sana," ucap Radit sedikit kesal.
Rihanna yang melihat itu,di buat tersenyum.
Melihat istrinya tersenyum di pada orang lain, Radit memberi kan tatapan tajam,dan itu sukses membuat Rihanna kembali menunduk,
Lalu terdengar Rio menggerutu.
"Dasar posesif," ucap sang asisten.
Rio adalah asisten pribadi Radit, semua dia ceritakan pada Rio, apa pun tentang kehidupan nya, namun, kali ini, Radit tidak bicara tentang pernikahan nya, membuat pria itu sedikit heran.
Mendengar gerutuan Rio, kini tatapannya tak kalah tajam, dia tunjukkan pada asisten itu.
" Sudah bosan bekerja dengan ku?," Tanya Radit dengan nada dingin.
" Hah. Nggak lah Bos, mana berani aku bosan,"
" Kalau begitu, jaga pandangan mu,"
" Glek," Rio menelan salivanya susah payah, dalam hati berkata, siapa sebenarnya istri Bosnya itu, sehingga membuat seorang Raditya berubah menjadi pria posesif.
Selama menjadi asisten, Rio Tidak pernah melihat Radit seposesif itu, bahkan kepada Calista sekalipun.
Siapa sebenarnya wanita itu?.
Itulah yang saat ini sedang Rio fikiran.
Setelah mendengar ancaman dari Bos nya. Rio bergegas membawa koper milik Rihanna, dia jalan terlebih dahulu, lalu di ikuti pasangan pengantin baru itu.
Radit membukakan pintu untuk Rihanna, pria itu meletakkan telapak tangannya di atas kepala Rihanna, saat wanita itu hendak memasuki mobil.
"Terima kasih," ucap Hana.
"Kembali kasih," jawab Radit.
Pemandangan itu tidak luput dari mata Rio,yang sesekali mencuri pandang ke arah Bos nya.
Pria itu lagi-lagi di buat heran dengan sikap Bos nya, tiba-tiba begitu perhatian terhadap seorang wanita.
" Apa Bos lagi kesambet ya,?"gerutu Rio.
setelah Radit dan Hana masuk, kini Rio segera menutup pintu mobil, dia pun masuk di kursi kemudi.
" Kita pulang ke mana Bos?, ke rumah, atau,,,,,"
Rio sengaja menggantungkan pertanyaannya.
" Apartemen," jawab Radit singkat.
Mobil membelah jalanan kota itu, di dalam mobil, tidak ada satupun yang bicara, ketiga nya Sibuk dengan fikiran masing-masing.
Rio. Pria itu sedang merasa heran dengan Radit, Rihanna. wanita itu sedang menduga-duga, akan seperti apa kedepannya, dan Radit. pria itu yang paling galau, apa yang akan dia lakukan pada Rihanna, dan bagaimana dengan Calista, wanita itu tidak mungkin terima begitu saja kenyataan ini.
Tak lama, mobil memasuki halaman gedung apartemen. Rio kembali berjalan mendahului Radit, pria itu tidak ingin melihat kemesraan yang sedang Radit pamerkan.
Sesampainya di apartemen.
"Silahkan masuk, Nona, selamat datang di rumah," ucapnya sambil membungkuk.
"terima kasih," balas Hana.
Setelah meletakkan koper milik Hana, Rio pun pamit, karena, harus menggantikan Radit dalam sebuah pertemuan.
Rihanna berjalan mengelilingi apartemen itu, dia begitu terpesona saat melihat kemewahan apartemen suaminya, matanya memindai setiap sudut ruangan itu.
setelah puas berkeliling, Hana mencari keberadaan Radit, ternyata pria itu sedang menyandarkan tubuhnya di sofa, setelah mereka bertemu Radit menunjukkan kamar yang akan mereka tempati kepada Hana, wanita itu mengerutkan keningnya saat Radit mengatakan mereka akan tidur dalam satu kamar.
Di sana ada tiga kamar, satu kamar utama, yaitu kamar yang di tempati Radit, ada satu kamar tamu, dan satu kamar di fungsikan sebagai gudang.
" Apa tidak ada kamar lain?," Tanya Hana, dengan sangat berhati-hati.
" Ada. Kamu mau tidur di sana?," Tanya Radit, dan di angguki oleh Hana."baiklah Kalau begitu, aku bisa membawa teman wanita ku tidur di sini tanpa gangguan," kata Radit, sambil melihat ekspresi wajah Hana.
Rihanna terkejut mendengar perkataan Radit, seketika dia menggeleng.
" Aku, tidur di sini saja," ucapanya kemudian.
Mana mungkin dia akan membiarkan suaminya tidur dengan wanita lain, diatap yang sama, membayangkannya saja dia sudah merasa ngeri.
Radit mengangkat ujung bibirnya sedikit, bukan dia ingin tidur bersama Hana, wanita yang baru dia kenal, sekaligus nikahi.
dia hanya tidak ingin orang lain tau, hubungan seperti apa yang sedang mereka jalani, Cukup mereka berdua saja yang tau, dan akan belajar bersama, bagaimana caranya, menjalankan hubungan tanpa dasar cinta di antara mereka.
Radit tidak ingin mempermainkan pernikahan, tapi bukan berarti dia sudah menerima.
Radit tidak mau ada orang lain yang akan memanfaatkan hubungan mereka nantinya, karena itu, dia tidak bercerita kepada siapapun, tentang terjadinya pernikahan mereka, termasuk pada, Rio.
Bukan tidak percaya pada asisten pribadi nya, tapi lebih kepada, menghargai privasi dirinya dan Hana.
" Letakkan semua baju yang kamu bawa di sebelah punyaku," Radit sedang menunjukkan tempat penyimpanan baju, dan berbagai aksesoris yang biasa dia gunakan.
" Terima kasih," ucap Hana lirih.
" Untuk,?" Tanya Radit.
" Semuanya," jawab Hana.
" Hemm," Radit berdehem, lalu dia kembali ke arah ranjang, merebahkan tubuhnya di sana, dan memejamkan matanya.
Rihanna menggelengkan kepalanya, melihat Radit yang kembali tidur, wanita itu hanya bisa berkata dalam hati, "bukankah dia bilang akan pergi bekerja hari ini?, karena itulah harus cepat-cepat meninggalkan hotel."
setelah itu Hana keluar dari kamar, dia ingin melihat ada apa di dapur yang sangat bersih itu, dapur yang seperti tidak pernah di gunakan, karena, terlalu bersih.
" Apa dapur ini bisa untuk memasak? Mari kita coba, dan kita lihat ada apa di dalam kulkas," Hana berbicara sendiri, sambil membuka kulkas.
" Cekk, kenapa tidak ada sayuran dan sejenisnya? Apa dia hanya akan minum, bila sedang di rumah?," ucapnya lagi, karena dia hanya melihat berbagai macam minuman di sana.
" Apa kulkas bisa di ajak bicara ?,"
Hana berjingkat, hampir terjatuh ke lantai, dia tidak menyangka, Radit sudah berada tepat di belakang tubuhnya, bahkan wajah pria itu ada di samping wajahnya, untung Radit segera meraih tubuh mungil itu.
" Maaf," cicit Hana.
" Tidak masalah. Tapi untuk apa kamu mencari sayur dan kawan kawan?," Tanya Radit.
"Tadinya aku hendak memasak," ucapnya.
" Oh. Baiklah nanti kita belanja apa yang menurut mu perlu.tapi, untuk siang ini kita pesan makanan saja, bagaimana?," Tawar Radit.
" Tidak buruk," jawab Hana.
Setelah sepakat, Radit segera membuka aplikasi online,untuk memesan makan siang.
Mereka berbincang ringan sambil menunggu makanan yang di pesan datang.
" Apa kegiatan mu, sebelum menikah?," Tanya Radit.
" Tadinya aku bekerja di sebuah perusahaan, namun, saat kami sedang menyiapkan pernikahan, Vero meminta ku untuk berhenti bekerja, katanya dia ingin aku menjadi seorang ibu rumah tangga saja, tapi,,,,,,,, ah sudahlah,"
Radit mendengarkan Hana bercerita, hingga pria itu menatap wajah cantik Hana dengan intens.
Melihat wajah tampan Radit begitu dekat, Hana jadi salah tingkah, Hana menjauhkan diri dari hadapan suaminya.
Radit pun merasakan hal yang sama, ketika pria itu menyadarinya, dia segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
" Ehem, apa kamu ingin bertemu dengan dia?," Tanya Radit.
"Hah. A, apa maksud mu?," Jawab Hana gugup.
" Apa kamu tidak ingin mendengar penjelasan dari nya, mungkin?," Tanya nya lagi.
Hana tersenyum miris, wanita itu kemudian menggeleng
" Untuk apa meminta penjelasan, sedangkan bukti sudah berbicara," ucapnya parau.
Radit merasa bersalah, karena, mengingatkan Hana pada luka, yang bahkan masih sangat basah.
" Apa, kamu ingin bekerja lagi?," Radit mencoba mengalihkan perbincangan.
"Apa boleh?," Tanyanya dengan berhati-hati.
Radit mengangkat satu alisnya, tanda bertanya.
Kemudian Hana kembali bicara.
"Sekarang, aku bukan hanya tentang diriku, dan keluarga ku, tapi, apa pun yang akan aku lakukan sekarang, hanya atas izin dari kamu saja," terangnya.
Radit mulai berfikir, kenapa Vero membuang wanita seperti Hana, apa salah wanita itu?, Tanyanya dalam hati.
" Baiklah, besok datang ke kantor ku, temui HRD, mintalah di tempatkan sesuai kemampuan mu.bagaima?,".