Duar!
Seorang pria terjun dari lantai sepuluh sebuah hotel bintang lima setelah terdengar bunyi tembakkan dari sana.
Pria itu terjatuh dari jendela di salah satu kamar hotel mewah itu hingga terkapar di area parkir dengan darah yang mengucur di kepala dan luka tembak di dada kirinya.
Saat itu baru pukul delapan malam. Orang-orang yang sedang melintas di sekitar hotel sontak menjerit melihat kejadian mengerikan di depan mata. Mereka segera menelepon pihak kepolisian dan ambulans.
Seketika area parkir tersebut dipenuhi mobil-mobil polisi, wartawan dan ambulans. Juga orang-orang yang berdatangan ingin melihat secara detail kejadian tersebut.
Sementara itu, di lantai sepuluh hotel terlihat seorang pria sedang berlari menuju salah satu kamar di sana. Sambil menggenggam ponsel ditangan, dia begitu tergesa-gesa.
Setiba di tempat yang dirinya tuju. Pria itu dibuat sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"A-ku sudah membunuhnya. A-ku tidak bermaksud begitu. Ta-tapi--"
Seorang wanita, pakaian berupa gaun selutut warna merah sedang berdiri gemetaran di sebuah kamar yang jendelanya terbuka lebar.
Wajah pucat dia tunjukan pada pria yang baru saja tiba. Aura ketakutan begitu kentara meliputi dirinya saat ini.
"Rei," lirih pria itu seraya bergerak maju menuju wanita di sana. Rasa terkejut sama sekali belum berkurang.
Pandangannya turun pada pistol dalam genggaman wanita bernama Reinata tersebut.
Joshua Pahlevi, satu jam yang lalu menerima telepon dari kekasihnya, Renata.
Dia diminta datang ke Hotel Cemara di pusat Kota Jakarta. Suara Reinata saat itu terdengar sedang ketakutan dan berada di bawah ancaman seseorang.
Rasa cemas menuntun Joshua meninggalkan tugas kuliah yang sedang dia kerjakan di kostannya.
Pria itu segera berlari, menyetop taksi dan langsung melesat menuju hotel yang dimaksud oleh Reinata.
Entah apa yang terjadi. Dia sangat terkejut melihat semua ini. Reinata telah membunuh seorang pria?
Entah ada urusan apa dan masalah apa. Joshua benar-benar tak mengerti. Namun, sekarang apa yang harus dirinya lakukan di situasi genting seperti ini?
Reinata bergerak maju dengan wajah yang sudah dibanjiri air mata. Dia benar-benar ketakutan.
Satu jam yang lalu dirinya pergi ke sebuah club untuk minum bersama temannya.
Di sana dia bertemu dengan seorang pria bernama Anton.
Anton, merupakan seorang dosen di kampusnya. Reinata tahu jika pria itu memiliki perasaan lebih padanya.
Di tanggal tua seperti ini, dia berpikir untuk menanfaatkan Anton yang mata keranjang.
Reinata yang berparas cantik tak perlu bersusah payah menggoda Anton.
Pria berusia 30 tahun itu langsung mengajaknya ke sebuah hotel.
Mereka sempat berciuman. Namun, saat Anton menginginkan lebih Reinata menolak.
Akhirnya terjadi pertingkaian yang berujung petaka.
"Joshua, aku harus bagaimana? Aku takut ditangkap polisi. Kumohon tolong aku--"
Reinata memasang wajah memelas di hadapan Joshua, berharap sang kekasih bersedia membantunya.
Dirinya dan Joshua sudah menjalin hubungan asmara sejak mereka duduk di bangku SMU.
Joshua merupakan sosok pria yang begitu baik bagi Reinata.
Saking baiknya, Joshua tak pernah tahu jika Reinata sudah sering tidur dengan banyak pria, menjajakan tubuh untuk membiayayai kuliah.
Joshua menatap dengan pandangan kosong, ia kebingungan. Namun, mereka tak memiliki banyak waktu.
Para polisi sedang menuju ke kamar hotel di mana mereka berada saat ini. Pria berusia 20 tahun itu segera memutar otak, berpikir. Dia harus menolong Reinata.
Dipejamkan mata itu oleh Joshua.
Dia teringat pada ibunya yang begitu menginginkan dirinya lulus kuliah dan menjadi seorang pria yang sukses.
Sang ibu rela bekerja apa pun demi dirinya bisa kuliah. Namun, kini sepertinya dia harus mengubur cita-cita itu.
Reinata sangat terkejut saat Joshua merampas pistol di tangannya. Mata basah itu terangkat ke wajah pria muda dengan hoodie hitam di hadapannya kini.
"Joshua--"
"Pergilah, Rei. Cepat pergi dari sini!" perintah Joshua tanpa mau menatap wanita itu.
Mungkin cintanya terlalu besar. Sampai-sampai dirinya bertindak bodoh seperti ini.
Reinata menggeleng. Dia tahu ini tidak benar, tapi dirinya pun tak mau masuk penjara.
Dengan berputus asa, wanita itu segera meninggalkan Joshua seorang diri di kamar hotel.
Di lorong, Reinata berpapasan dengan para polisi yang sedang berjalan cepat menuju kamar hotel di mana Joshua berada.
Ekor matanya menoleh. Punggung para polisi itu semakin menjauh.
"Angkat tangan! Lepaskan senjata Anda!"
Joshua yang sedang berdiri menghadap pada jendela dibuat terkejut oleh bariton peringatan dari arah belakang.
Mereka sudah datang?
Matanya terpejam, jantungnya berdegup kencang. Apakah dirinya sudah mengambil keputusan yang benar?
Dilepaskan pistol di tangan, lalu diangkat kedua tangan itu ke atas.
Joshua terjatuh setelah seorang petugas polisi menendang bokongnya. Seketika mereka langsung meringkus pria itu.
Reinata berdiri di antara puluhan orang yang berkumpul di depan pelataran hotel.
Air matanya berjatuhan melihat Joshua digiring oleh para polisi menuju mobil. Kepalanya menggeleng, dia segera berlari menuju mereka.
"Joshua, aku janji akan menunggu kamu. Aku janji, Joshua!"
Reinata menangis sambil menggenggam tangan Joshua yang sudah dipasangi borgol. Dirinya benar-benar merasa sangat bersalah pada pacarnya itu.
Joshua hanya mengangguk, dan para polisi segera memasukkannya ke dalam mobil.
Sirine dibunyikan seiring laju mobil para polisi meninggalkan lokasi. Reinata mematung di tempat memandangi mobil polisi yang membawa Joshua.
Setelah proses penyidikan selesai, Joshua langsung dimasukan ke dalam penjara.
Dirinya masih sulit percaya dengan semua ini. Apakah ini hanya mimpi buruk?
***
Satu bulan kemudian di Lapas Jakarta Pusat.
"Joshua, ibu kamu meninggal setelah mendengar kabar kamu di penjara. Aku sudah meminta izin pada pihak kepolisian untuk membawa kamu ke pemakamannya."
Joshua menjatuhkan wajah dengan hati yang hancur setelah temannya yang bernama Yuda datang ke lapas membawa kabar yang sangat buruk.
"Ibu, maafkan Joshua, Bu!"
Tiga orang petugas kepolisian dan satu teman Joshua hanya berdiri memandangi seorang pria muda yang sedang menangis di samping makam ibunya.
Joshua sangat terpukul dengan kematian sang ibu.
Yuda hanya menatap sedih melihat teman kecilnya begitu hancur. Dari mereka semua hanya Joshua yang beruntung karena bisa meneruskan kuliah.
Yuda tak menyangka kini pria cerdas itu malah masuk penjara karena kasus pembunuhan.
"Ibu kamu sangat kecewa padamu. Dia jatuh sakit setelah dua orang polisi datang ke rumah dan mengatakan kalau kamu sedang ditahan," ucap Yuda seraya berjongkok di samping Joshua.
"Aku benar-benar anak yang durhaka, Yud. Ibuku sudah bersusah payah membiayaiku untuk kuliah," raung Joshua meratapi.
Yuda mengangguk pelan lalu menepuk satu bahu Joshua."Iklaskan saja, semuanya sudah terjadi."
Setelah menumpahkan air mata kepahitan, Joshua segera dibawa kembali menuju lapas.
Namun, saat mereka hampir tiba di mobil polisi, Joshua dikejutkan dengan sosok wanita yang berada di dalam sebuah mobil mewah.
Reinata?
Wanita itu mengenakan gaun pengantin warna putih. Reinata sedang duduk berdampingan dengan seorang pria paruh baya.
Joshua belum berkedip saat sorot mata Reinata menatapnya seiring laju mobil mewah itu melintas.
Kepalanya menggeleng tak percaya. Kejam sekali, sungguh. Bahkan dirinya menjadi seperti ini demi wanita itu.
Hingga saat mobil polisi itu melaju meninggalkan area pemakaman Joshua hanya memalingkan pandangan pada jendela mobil.
Tak kira dirinya malah melihat Reinata yang sedang bersanding di pelaminan megah bersama pria lain.
Waktu seakan berhenti, dadanya tiba-tiba terasa sesak dan laju mobil begitu lambat saat melintasi sebuah gedung di mana terlihat pesta pernikahan yang mewah.
Lagi, Joshua merasa sedang dihancurkan. Tega nian Reinata melakukan semua ini padanya.
Dirinya harus mendekam di penjara sementara sang kekasih yang merupakan pelaku malah menikah dengan pria lain.
Benar-benar kejam!
Joshua tak menyangka wanita paling dicintai tega melakukan semua ini. Bahkan padanya.
________________________
Angin bertiup kencang sore itu. Menjatuhkan daun-daun pohon beringin besar yang berdiri di pelataran lapas tahanan Jakarta Pusat.
Beberapa orang narapidana terlihat sedang menyapu halaman, lainnya sedang berjongkok membersihkan rumput liar dan selokan.
Hari demi hari Joshua lalui di di bawah pengamatan para petugas polisi. Sebagai narapidana kasus pembunuhan dia cukup disegani.
Tak ada narapidana lain yang mau dekat dengannya. Terlebih Joshua tak pernah banyak bicara atau bergaul dengan sesama Napi.
"Cepat bersihkan selokannya! Setelah itu ambil makan di kantin!" teriak seorang polisi sambil berkacak pinggang di belakang para narapidana yang sedang bekerja bakti di pelataran lapas.
Joshua yang sedang membersihkan selokan bersama Napi lainnya hanya terdiam seolah tak mendengar suara bariton petugas polisi tersebut.
Hingga saat semua Napi berdiri hendak berjalan menuju kantin, dirinya yang masih berada di tempat dihampiri oleh seorang pria.
"Heh, nama kamu Joshua, kan?" tanya pria berpakaian sama dengan para Napi lainnya itu pada Joshua.
Pria yang sedang berjongkok di tepi selokan sontak bangkit.
Namun, Joshua tak menjawab pertanyaannya. Pria berkulit putih itu malah pergi begitu saja melewati dengan wajah acuh.
"Heh!" gertak pria itu sambil menyambar lengan kiri Joshua.
"Berani sekali kamu bersikap acuh padaku! Apa kamu tidak tahu siapa aku, hah?!" Baritonnya saat mata Joshua menatap.
Joshua hanya terdiam dengan wajah bosan."Saya tak punya urusan dengan Anda, dan saya tidak tertarik berurusan dengan Anda," ucap Joshua dingin seraya menepis tangan pria itu darinya.
"Banyak omong kamu!" Merasa kesal, pria bernama Baron itu langsung mengangkat tinjunya ingin menghajar Joshua.
Namun ternyata tidak semudah yang dia bayangkan. Tubuhnya terpelanting saat Joshua menangkis serangannya lalu mendorong tubuh Baron dengan kasar.
"Sudah saya katakan, saya tak punya urusan dengan Anda. Jadi, jangan memaksa saya." Joshua segera melenggang pergi setelah berhasil melumpuhkan Baron.
"Brengsek!" Baron hanya bisa mendengkus kesal karena kalah kuat dari Joshua. Dengan wajah penuh emosi dan malu, dia segera bangkit.
Baron sangat benci pada Joshua yang menurutnya lebih disegani oleh para Napi di lapas.
Padahal, sebelum pria itu datang dirinyalah yang paling berkuasa dan disegani di tempat itu.
Baron pikir dia bisa menghajar Joshua habis-habisan di depan para Napi lainnya.
Niat hati ingin menunjukkan kekuatannya, tetapi hanya malu yang dirinya dapatkan. Ternyata Joshua bukan pria lemah yang mudah dilawan.
Begitulah hari-hari yang dijalani Joshua selama dirinya berada di lapas.
Pihak pengadilan menjatuhi hukuman sepuluh tahun padanya. Masa depannya sudah hancur, ibunya telah mati dan pacarnya sudah menikah dengan pria lain.
Semua nestapa itu dipikulnya seorang diri. Joshua tak memiliki harapan lagi.
Dia bahkan tak tahu apa yang harus dirinya lakukan setelah keluar dari penjara.
"Sodara Joshua Pahlevi, Anda di bebaskan hari ini."
Tak terasa waktu yang panjang itu telah berakhir. Masa tahanannya sudah selesai.
Kini Joshua bisa menghirup udara segar di luar lapas. Beberapa Napi melihatnya melintas menuju pintu gerbang kebebasan.
Baron menaikan sudut bibirnya. Sekarang dirinya kembali berkuasa di lapas setelah Joshua bebas.
***
Kemeja hitam dengan kancing terbuka dilapisi kaus putih membalut tubuh atletisnya.
Dipadukan celana jeans yang terkoyak di bagian lutut, Joshua melangkah menyusuri trotoar jalan. Tas ransel hitam tersampir di pundak, kemana dia harus kembali?
Terdengar suara bising klakson mobil-mobil mewah yang terjebak macet sore itu, Joshua melanjutkan langkah menuju gang kecil yang akan membawanya tiba di kampung kumuh di pinggiran kota.
Sepuluh tahun sudah berlalu. Gang kecil itu masih belum berubah.
Joshua mengulas senyum tipis saat melintasi pedagang batagor yang dulu biasa dibelinya sepulang kuliah. Kakek tua si penjual batagor membalas senyum tipis.
Setibanya di tempat yang dituju, Joshua dibuat tercengang. Terlihat sebuah pesta pernikahan di rumah ibunya.
Pernikahan siapa? Bahkan dirinya tak memiliki saudara perempuan. Meski merasa kebingungan dia tetap melangkah maju.
Semua orang di sana sangat terkejut melihat Joshua datang.
"Bukankah itu si Joshua? Rupanya dia sudah bebas dari penjara?"
"Masih punya muka dia pulang ke kampung kita?"
"Dasar pembunuh!"
Suara-suara orang di pesta itu membuat hati Joshua teriris.
Mereka takkan percaya jika bukan dirinya yang membunuh pria bernama Anton di Hotel Cemara sepuluh tahun yang lalu.
Lagi pula tak ada gunanya, toh namanya sudah rusak setelah masuk penjara.
"Hei, Joshua! Buat apa kamu muncul lagi di sini? Bahkan di rumah ini!"
Seorang pria paruh baya segera menghadang langkah Joshua. Beberapa orang pria lainnya turut maju.
Semua orang itu menatap sinis pada pria 30 tahun di hadapan mereka.
Joshua menatapnya dalam. "Paman, ini rumah ibu saya. Harusnya saya yang bertanya, mengapa kalian semua membuat pesta di rumah ini?"
Mendengar ucapan Joshua orang-orang itu saling pandang lalu tertawa geli.
"Rumah ibu kamu? Mungkin Kinanti belum sempat mengatakan yang sebenarnya pada kamu," balas seorang pria yang berdiri tepat di hadapan Joshua.
Dia adalah Gunawan, adik ayah Joshua.
"Mengatakan yang sebenarnya? Apa maksud Paman?" Joshua mengernyitkan dahi mendengar ucapan Gunawan.
Pria paruh baya berpakaian rapi itu tersenyum miring lantas berkata, "Kamu bukan anak kandung Kinanti dan Arman, kamu cuma anak yang mereka pungut di sungai 30 tahun yang lalu, Joshua!"
"Apa?"
Seakan disambar petir, Joshua sangat terkejut mendengar ucapan Gunawan tentang dirinya.
Jadi, ibu dan ayahnya bukan orang tua kandungnya? Lantas, siapa dirinya yang sebenarnya? Seketika Joshua merasa tak memiliki identitas lagi.
"Ya, Kinanti itu perempuan mandul! Dia tak bisa mengandung. Sekarang Armand dan Kinanti sudah mati, kamu tak punya hak apa pun atas rumah ini. Pergi sana!"
Joshua hanya terdiam dalam perasaan hancur. Hingga saat Gunawan mendorongnya untuk pergi, pria itu tak melawan.
Orang-orang di pesta menertawakannya. Joshua menangis dalam hati sambil melangkah meninggalkan rumah ibunya.
Bingung karena tak punya tempat tinggal lagi, Joshua akhirnya beristirahat di pinggir gang kecil yang berada di belakang sebuah mall.
Suara bising kendaraan di jalan tak mengganggu dirinya yang sedang merenungi nasib.
Mengapa kenyataan ini begitu menyakitkan?
Jika dirinya bukan anak orang tuanya lalu siapa dia yang sebenarnya?
Joshua menyembunyikan wajah di antara kedua tangan yang mendekap lutut. Punggung itu bergetar dalam tangis.
Sementara itu di gang yang sama, terlihat seorang wanita yang sedang berlari menuju Joshua.
Wanita itu berteriak meminta tolong. Di belakangnya terlihat tiga orang pria yang sedang mengejarnya.
"Tolong saya, Mas!"
Wanita berambut panjang dengan gaun selutut warna hitam itu menepuk-nepuk bahu Joshua. Dia ketakutan melihat tiga pria sangar yang mengejarnya mendekat.
Joshua mengangkat wajahnya. Matanya melihat tiga orang pria berpakaian serba hitam sedang menuju padanya dan si wanita.
Tiga orang pria itu tersenyum remeh sambil memainkan pisau lipat di tangan.
Joshua segera bangkit. Sementara wanita itu langsung berlindung ke belakang punggungnya.
Alih-alih menghadapi para preman itu, Joshua malah meraih tas ranselnya lalu melenggang pergi begitu saja dengan wajah acuh.
Wanita itu dibuat tercengang melihatnya.
Sampai saat tiga orang preman itu mendekat dan langsung menyeretnya, dia hanya bisa menjerit ketakutan. Langkah Joshua terhenti.
Dia menoleh ke arah wanita tersebut. Si wanita hampir menangis ketakutan sambil berusaha berontak.
"Ayo ikut kami, Nona Kayla!"
"Lepaskan saya, tolong!"
"Shit!"
Joshua segera melempar tas ranselnya ke arah dua bajingan yang sedang menyeret wanita muda itu. Mereka dibuat kaget.
Joshua tak memberinya kesempatan. Pukulan dan tendangan kuat langsung menghantam dua orang pria itu. Mereka jatuh terjerembam.
"Brengsek!"
Melihat dua temannya terkapar di tanah, pria bertubuh gempal yang sedang berjalan di depan segera maju sambil menodongkan pisaunya pada Joshua.
Pertarungan satu lawan satu pun berlangsung sengit.
Pukulan demi pukulan Joshua lancarkan ke wajah hingga perut pria itu.
Namun, satu kesempatan pria itu berhasil menyayat lengan Joshua dengan pisaunya.
Satu-satunya wanita yang berada di sana menjerit melihat Joshua terluka.
Tak lama dari itu, para polisi nerdatangan bersama para bodyguard.
"Nona Kayla, apakah Anda baik-baik saja? Maafkan atas kelalaian kami." Seorang bodyguard menghampiri wanita yang sedang berdiri di sana.
Dia memasang wajah penuh sesal karena gagal melindungi putri bosnya.
Rupanya wanita muda yang ditolong oleh Joshua itu bernama Kayla Pricila Danuarta. Tak hanya seorang model dan artis terkenal, dia juga putri tunggal seorang konglomerat kaya raya.
"Saya baik-baik saja," jawab Kayla datar. Pandangannya tak luput dari Joshua.
Dia sedikit terkejut melihat punggung Joshua menjauh dari mereka. Buru-buru wanita itu menyusulnya.
"Tunggu!" Kayla berhasil menghadang Joshua.
Pria itu menatapnya heran.
"Terima kasih sudah menolongku. Namaku Kayla, kamu siapa?" Wanita cantik itu menyodorkan tangan kanannya pada Joshua sambil tersenyum manis.
Jangankan menyambut tangan wanita itu, Joshua bahkan tidak menjawab. Dengan wajah bosan dia segera melanjutkan langkah melewati Kayla.
Wanita itu dibuat tercengang. "Tunggu! Hei!" Dia buru-buru menghadang pria yang sudah menolongnya itu.
Joshua terpaksa menghentikan langkah. Wajah datar dia tunjukan pada wanita yang menghadangnya.
Pandangan Kayla turun pada lengan Joshua yang tersayat pisau para preman tadi. "Tangan kamu terluka, bisakah kita ke rumah sakit sebentar?"
"Tidak perlu," jawab Joshua sinis, lantas kembali berjalan melewati Kayla.
Kali ini Kayla tidak mengejar Joshua lagi. Ia hanya berdiri di tempat, memandangi punggung pria itu menjauh.
Pria dingin yang teramat tampan. Baru kali ini dia bertemu dengan pria yang bahkan tak tertarik melihatnya. Benar-benar mengagumkan.
Waktu terus berjalan. Kayla kesulitan melupakan pria yang menolongnya di gang kecil lima bulan yang lalu.
Hingga suatu hari saat dirinya sedang melakukan pemotretan di sebuah studio, Kayla melihat sosok pria itu kembali. Joshua, rupanya dia bekerja di studio itu sebagai ofice boy.
Kilat lampu kamera menyoroti seorang model cantik yang sedang berpose di sebuah ruangan.
Manik hazel wanita itu melirik pada pria dengan seragam OB yang sedang mengepel lantai tak jauh dari lokasi pemotretan.
Joshua tak sengaja melihat ke arah Kayla yang sedang dikerumuni oleh beberapa fotografer.
Orang-orang profesional itu sedang mengambil gambar dara jelita tersebut.
Tak begitu tertarik, Joshua tak merespon apa pun saat Kayla melempar senyum manis untuknya.
Setelah pekerjaannya selesai, Joshua pergi meninggalkan ruangan itu.
"Nona Kayla, Anda mau ke mana?" tanya Aslam, bodyguard Kayla.
Pria tinggi kekar itu dibuat terkejut melihat Kayla berjalan cepat hendak meninggalkan ruang pemotretan.
"Saya ingin menemui seseorang, kamu tak perlu mengawal saya," jawab Kayla dengan wajah agak sinis pada si bodyguard. Lalu pergi meninggalkan Aslam yang sedang didera kekhawatiran.
"Hei, tunggu!"
Sambil memegang tepi gaun warna merah yang cukup besar, Kayla berjalan cepat menuju dua orang office boy yang sedang berjalan menuju pintu keluar gedung studio tersebut.
"Joshua, ada yang memanggil kamu," tukas Denis, teman satu profesi Joshua sebagai ofice boy di gedung studio itu.
"Biar saja," ucap Joshua acuh tanpa mau menghentikan langkahnya.
Denis menoleh satu kali ke belakang. Matanya membulat penuh melihat siapa yang memanggil Joshua.
"Joshua, itu Nona Kayla yang memanggil kamu!" ucapnya begitu kaget dan antusias.
"Aku tahu, biarkan saja." Joshua tetap pada pendiriannya.
Denis tak bisa menahan pria keras kepala itu. Mereka meneruskan langkah meninggalkan gedung studio untuk segera pulang.
Kayla berdiri di depan lobi gedung studio. Dipandangi Joshua yang sudah pergi dengan rekannya dengan mengendarai sepeda motor matic.
Dihela napas lesu olehnya. Ya Tuhan, pria itu benar-benar aneh, bathin Kayla putus asa.
Esoknya saat Joshua kembali pada pekerjaannya di studio itu. Dia diminta menghadap manager studio tersebut.
Denis mengatakan mungkin hal ini ada kaitannya dengan Kayla. Sebagai rekan satu profesi dan satu kostan dia mencemaskan Joshua.
Namun, Joshua hanya menyikapi semuanya dengan santai.
Hingga saat dirinya memasuki ruang manager, Joshua hanya duduk dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh pria bernama Bima, selaku manager studio itu.
Akan tetapi, kemunculan Kayla di ruangan itu membuatnya sedikit terkejut.
"Joshua, mulai besok kamu tidak perlu bekerja sebagai office boy lagi di studio ini, tapi Nona Kayla sudah memilih kamu untuk menjadi bodyguard pribadinya."
Bima si manager studio yang bicara sambil duduk berhadapan dengan Joshua.
"Saya tidak memiliki bakat atau pengalaman sebagai bodyguard. Maaf, sepertinya saya tidak bisa menerimanya," ucap Joshua dengan wajah datar.
Bima dan Kayla saling pandang lalu menatap Joshua secara bersamaan. Pria berseragam OB warna hitam itu hanya diam dengan wajah datar.
"Kamu sudah menyelamatkanku tempo hari. Aku ingin kamu mendapat pekerjaan yang jauh lebih baik. Kumohon terima pekerjaan ini, Joshua. Aku tahu kamu berbakat menjadi seorang bodyguard," ucap Kayla sambil berdiri di samping Bima yang sedang duduk pada kursi kebesarannya.
"Benar, Joshua. Bukankah kamu juga sedang melanjutkan kuliah? Saya tahu kamu sedang membutuhkan biaya yang besar. Jadi, terima saja." Bima kembali meyakinkan Joshua.
Pria muda berseragam OB di ruangan itu tak buru-buru menjawab.
Joshua berpikir panjang untuk menerima pekerjaan barunya yaitu sebagai bodyguard pribadi Kayla Pricila Danuarta, model cantik yang sedang berkibar di tanah air ini.
Kayla menatap Joshua lekat-lekat.
Dia sangat berharap pria itu mau menerima tawarannya untuk menjadi bodyguard pribadinya.
Sementara Bima hanya menunggu sambil menatap pada Joshua. Pria muda yang tampan, gagah dan memiliki prinsip. Joshua sangat mengagumkan.
"Baiklah. Kapan saya bisa mulai bekerja?" tanya Joshua setelah hening cukup lama.
Kayla dan Bima tampak sangat berbinar mendengar ucapan Joshua. Mereka saling pandang sambil tersenyum senang.
"Besok kamu sudah boleh mulai bekerja!" pekik Kayla sangat bersemangat.
Singkat cerita, Joshua akhirnya bekerja sebagai bodyguard pribadi Kayla. Ke mana pun model cantik itu pergi dia selalu berada di sisinya.
Kedekatan mereka menciptakan perasaan yang berlebihan antara Kayla dan Joshua.
Terutama Kayla, wanita itu mulai jatuh hati pada sosok Joshua yang tampan dan jujur.
"Nona, mengapa saya harus mengenakan stelan jas ini? Bahkan ini bukan jas untuk seorang bodyguard."
Joshua sangat heran saat Kayla datang ke unit apartemennya dan memintanya untuk bersiap-siap malam itu.
Kayla yang sedang duduk pada sofa di kamar Joshua segera bangkit. Bibirnya mengulas senyum pada pria tampan di depannya.
"Malam ini kamu bukan datang sebagai seorang bodyguard, tapi aku ingin memperkenalkan kamu pada papa aku," ucapnya.
Joshua mundur satu langkah saat Kayla hendak membantu merapikan simpul dasinya. Jantungnya berdegup kencang. Tatapan liar wanita itu membuatnya curiga."Nona, apa maksud Anda?"
Kayla kembali maju sambil tersenyum manis."Joshua, berhentilah memanggilku dengan embel-embel Nona. Panggil aku Kayla saja, biar lebih akrab."
Joshua dibuat tak berdaya oleh suasana. Kayla berdiri tepat di depannya, sangat dekat.
Bahkan, wangi parfum wanita itu mulai merusak kewarasan pria 30 tahun itu. Hingga saat Kayla berbisik dan memeluknya, Joshua hanya terdiam dalam perasaan tak karuan.
"Joshua, aku mencintai kamu. Aku ingin kamu menemui Papaku malam ini," bisik Kayla di telinga Joshua.
Dihirup wangi cologne pria itu dan tubuhnya mulai terbakar. Dia menatapnya dalam dengan penuh hasrat.
"Kay, aku ..."
Joshua benar-benar tak menyangka jika Kayla akan mengatakan semua ini padanya.
Sejauh kedekatan mereka sebagai bodyguard dan bosnya, dia tak pernah menyangka jika Kayla memiliki perasaan lebih terhadapnya.
"Joshua, aku mencintai kamu," desah Kayla lagi. Tatapan sepasang manik hazel itu mengunci pandangan Joshua. Menginginkan dirinya melakukan lebih.
"Aku tak pantas untuk kamu, Kay."
"Aku hanya--"
"Mantan Narapidana?"
Joshua dibuat terkejut mendengar ucapan Kayla kali ini.
Dari mana wanita itu tahu tentang sisi gelap dirinya?
Dia hanya terdiam menatap wanita dengan gaun warna hitam di hadapannya itu.
"Aku tahu semuanya, Joshua. Setiap orang pasti punya alasan dengan tindakkan mereka. Aku tak perduli hal itu, aku tak perduli masa lalumu, karena aku ingin menjadi masa depanmu," ucap Kayla dengan tatapan penuh rayu.
Joshua masih terdiam menahan segala gejolak yang ada.
Hingga saat Kayla mengangkat kedua tumitnya, menyapu lembut pada bibirnya, pria itu tidak membalas. Kayla dibuat heran dengan kediaman Joshua.
Dia merasa kesal, malu, putus asa dan hendak pergi.
Detik itu juga Joshua langsung mencekal lengan Kayla. Menarik wanita itu kembali ke pelukannya dan langsung menyatukan bibir mereka.
Kayla dibuat takjub oleh keliaran Joshua. Dia membalas ciuman itu begitu bersemangat. Mereka berciuman dengan penuh gairah.
.............................................
Malam itu Joshua mengemudikan mobil Lamborghini Huracan merah menuju sebuah restoran di pusat kota.
Kayla duduk di sampingnya, memeluk lengan Joshua dan tak mau jauh-jauh darinya.
Mereka saling melempar senyum manis saat berpandangan.
Setibanya di restoran, mereka disambut dengan baik oleh beberapa pelayan dan manager restoran tersebut.
Orang-orang berpakaian rapi itu menggiring Joshua dan Kayla menuju meja VIP yang sudah dipesan khusus untuk mereka.
"Papa pasti senang bertemu dengan kamu," ucap Kayla disertai tatapan lembut pada Joshua saat mereka duduk bersama di dalam restoran.
Pria itu hanya tersenyum tipis. Ini pertama kalinya dia akan bertemu dengan orang tua pacarnya.
Apakah ayah Kayla mau menerima dirinya dan masa lalunya sebagai mantan narapidana kasus pembunuhan?
"Itu Papa datang!"
Kayla langsung bangkit dari bangkunya. Wanita itu melambaikan tangan pada dua orang yang sedang berjalan menuju pada mereka.
Joshua turut bangkit, dia tampak kikuk dan sedikit grogi.
Pria itu bahkan tak berani menoleh ke arah belakang di mana orang tua dari Kayla sedang berjalan menuju pada mereka.
"Papa!"
Kayla menyambut kedatangan ayahnya dengan wajah senang.
"Sayang, maaf sudah membuat kamu menunggu."
Beni Danuarta, pengusaha batu bara dan properti terkaya di Indonesia.
Dia berkata pada Kayla, lalu menatap intens pada pria muda yang berdiri bersisian dengan putrinya.
"Jadi, ini yang namanya Joshua? Pantas kamu begitu tergila-gila padanya." Beni tersenyum jahil pada Kayla.
Kayla hanya tersenyum sipu dibuatnya.
Sementara Joshua dengan sopan santunnya menyambut tangan Beni. Namun, dia dibuat terkejut saat melihat wanita muda yang datang bersama ayah Kayla.
Reinata?
Sama seperti Joshua, Reinata pun tak kalah terkejut melihat mantan pacarnya malam ini.
Matanya enggan berkedip. Dia hampir tak percaya. Joshua?
Ada hubungan apa dia dengan Kayla? Ekor matanya melirik pada putri suaminya.
Tidak mungkin!