Bab 1

"Buka lebih lebar!" Damar memerintah sambil menggeser kasar, melebarkan kaki putih Elmi yang jenjang. Pusakanya menegang, sudah siap menerjang.

Sementara Elmi, istrinya, terbaring di atas tempat tidur dengan tubuh yang kaku. Bola mata Elmi menyipit, menatap langit-langit kamar yang gelap, sementara desah napas Damar terdengar berat di telinganya. Tangan Damar mencengkeram bahunya, terlalu kuat, dan ia menggigit bibir untuk menahan erangan yang hampir keluar.

"Ehmm. Damar, tolong ... Pelan-pelan," suaranya lirih bergetar, hampir tidak terdengar.

Namun, Damar tidak mendengar atau lebih tepatnya tidak peduli. Gerakannya tetap kasar, seakan tidak menyadari bahwa tiap sentuhannya membuat tubuh Elmi semakin meringkuk. Air mata Elmi mulai menggenang di sudut matanya, menyesakkan dada yang sudah penuh dengan rasa sakit dan perih. Tidak ada kelembutan, tidak ada rasa kasih sayang. Semua terasa seperti hukuman yang tak berkesudahan.

Elmi berusaha menutup mata, berharap bisa melarikan diri dari kenyataan ini, tapi rasa sakit itu nyata, terus menghantamnya berulang kali tanpa ampun. "Damar, pelan sedikit ... kumohon..."  bisiknya lagi, tapi suaminya hanya merespons dengan geraman tidak sabar.

Dia tahu, dalam hati kecilnya, bahwa Damar tak akan berhenti sampai ia puas. Dan Elmi hanya bisa pasrah, menahan segala perasaan yang ingin ia muntahkan keluar. Rasa perih di hatinya jauh lebih menyakitkan daripada rasa sakit yang menjalar di tubuhnya. Elmi ingin berteriak, menangis, atau mungkin melawan, tapi tubuhnya lemas, dan suaminya jauh lebih kuat.

Ketika semuanya akhirnya berakhir, Damar menarik diri tanpa sepatah kata pun. Ia bangkit dari tempat tidur, mengambil handuk, dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Elmi yang masih tergeletak kaku. Elmi menarik selimut, menutupi tubuhnya yang gemetar. Dia menggigit bibirnya lebih keras, berharap rasa sakit di bibirnya bisa menumpulkan perih di hatinya. 

Sambil menahan isak, Elmi bergumam pada dirinya sendiri, "apa memang rasanya sesakit  ini?" Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban, seperti harapan yang sudah lama hilang entah ke mana.

**

Walaupun hari ini Elmi libur, bukan berarti dia bisa bersantai dan bangun siang sesuka hatinya.

Elmi meletakkan piring terakhir di atas meja, mengusap keringat yang mulai membasahi dahinya. Matahari baru saja terbit, tapi dapur sudah ramai dengan aroma masakan. Dia telah bangun sejak subuh, memastikan semua siap sebelum Damar dan ibu mertuanya turun dari kamar.

"Selamat pagi, Bu." Elmi menyapa dengan senyum tipis saat Ibu Damar memasuki ruang makan.

Ibu mertuanya itu hanya mengangguk singkat tanpa membalas senyuman Elmi. Wanita paruh baya itu duduk di kursi sambil mencebik pelan, lalu menatap piring-piring yang tersaji di depannya dengan pandangan kritis. "Masak apa?"

"Elmi bikin nasi goreng ayam, Bu. Saya tambahkan sayuran seperti yang Ibu minta kemarin. Dan ada omelet keju untuk Damar," jawab Elmi hati-hati. Tangannya mengeratkan pegangannya pada serbet di pangkuannya.

Ibu mertuanya mengernyit. "Kamu pikir ini enak? Nasi gorengnya terlalu berminyak. Sayurannya pasti layu karena dimasak terlalu lama. Dan omelet keju ini-" Wanita itu mengambil potongan kecil dengan garpu, lalu memasukkannya ke mulut, "- ck! Ya ampun, ini terlalu asin."

Elmi merasakan dadanya mencelos. Dia sudah bangun sejak pukul empat pagi, mencoba segala cara untuk membuat sarapan yang terbaik. Tapi, lagi-lagi, semua usahanya seolah tak ada artinya di mata ibu mertuanya.

"Maaf, Bu, saya akan coba lebih baik lagi besok," ucap Elmi pelan. Kata-katanya terselip rasa kecewa yang dalam.

"Nggak usah repot-repot kalau hasilnya cuma seperti ini. Kamu sebaiknya belajar dari pembantu rumah tangga kami yang dulu. Dia bahkan lebih tahu selera keluarga ini dibanding kamu," kata Ibu Damar tanpa basa-basi. Dia mendorong piring nasi goreng menjauh seolah makanan itu beracun.

Elmi menunduk, menahan air mata yang menggenang di sudut matanya. Bukan hanya rasa sakit karena lelahnya yang tak dihargai, tapi juga kata-kata ibu mertuanya yang menusuk hati. "Baik, Bu," sahutnya lemah. 

Saat itu, Damar turun dari lantai atas. Pandangannya terarah ke meja makan, lalu ke wajah Elmi yang pucat. Tanpa berkata apa-apa, dia duduk dan langsung menyendok omelet ke piringnya.

"Damar, omelet ini terlalu asin, bukan?" tanya ibunya, menatap putranya dengan harapan pembenaran.

Damar hanya mengangkat bahu. "Biasa saja, Bu. Lagi pula aku suka asin. Elmi, tolong buatkan kopi," katanya tanpa ekspresi, seolah situasi itu tidak ada artinya.

Elmi mengangguk, buru-buru melangkah ke dapur untuk menyembunyikan kesedihan yang mulai tak tertahankan. 

Saat ia sedang merebus air untuk membuat kopi, ia masih bisa mendengar ibu mertuanya masih mengomel tentang betapa tidak becusnya Elmi sebagai seorang istri. Kata-kata itu seolah meresap ke dalam setiap pori-porinya, membuatnya merasa semakin kecil dan tak berarti. Tangannya gemetar saat ia menuangkan air panas ke dalam cangkir, mencampurnya dengan kopi dan gula. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri.

"Elmi!" panggil  Damar lagi, mengejutkannya. "Nanti bawakan kopinya ke ruang tengah." Ucap Damar lebih seperti perintah ketimbang permintaan tolong.

Ibu mertuanya menghela napas, lalu melirik Elmi. "Kamu benar-benar harus belajar lebih keras, Elmi. Menjadi istri yang baik itu bukan sekadar bisa memasak. Kamu bahkan gagal dalam hal yang paling sederhana ini."

Elmi hanya bisa diam, mengangguk lemah. Tubuhnya terasa berat, seolah beban yang tak terlihat menindihnya semakin dalam. Setelah ibu mertuanya juga meninggalkan meja, Elmi tetap berdiri di sana, memandangi piring-piring kotor bekas sarapan. Usahanya lagi-lagi tak ada artinya.

Elmi memandangi rumah mereka yang luas dengan perasaan campur aduk. Ini adalah rumah yang dibeli dari uang warisan orang tuanya, hasil jerih payah keluarganya selama bertahun-tahun. 

Namun, semua itu disembunyikan dari Ibu Damar. Sejak rumah orang tua Damar disita oleh bank, ibu mertuanya itu ikut tinggal dengan Damar dan Elmi. Sebenarnya Elmi tidak keberatan, masalah utamanya adalah Damar berdusta bahwa rumah ini hasil kerja keras Damar, dan Elmi hanya bisa diam, menelan ketidaknyamanan yang semakin hari semakin menyakitkan.

"El! Kopi! Mana kopi!" Suara Damar membuyarkan lamunan Elmi.

"Iya, ini, sebentar lagi," jawab Elmi, mencoba tetap tenang. Dia tahu Damar sedang dalam suasana hati yang buruk. Hari-hari seperti ini semakin sering terjadi, terutama sejak Damar kehilangan pekerjaannya  dua tahun lalu. Sejak saat itu, Damar hanya bergantung pada tabungan serta uang gaji hasil kerja keras yang masih Elmi miliki.

Dengan cepat, Elmi meletakkan cangkir di depan Damar. "Maaf, ini kopinya."Saat dia menyerahkan kopi itu, Damar mengambilnya tanpa mengucapkan terima kasih.

Damar menyesap kopi itu tanpa berkata apa-apa lagi. Elmi berdiri di sampingnya, merasa seperti seorang pelayan yang menunggu instruksi lebih lanjut. Ibu Damar masih menatapnya dengan sorot merendahkan, seolah kehadiran Elmi saja sudah merupakan kesalahan besar.

"Ibu mau ke kamar dulu," Ibu mertua Elmi itu bicara datar lalu berbalik cepat menuju ke arah kamarnya yang ada di ujung rumah.

Elmi diam mematung menatap suaminya yang duduk manis di sofa, menghidupkan televisi tanpa benar-benar menonton. Tatapannya kosong, seakan sedang memikirkan sesuatu yang jauh dari jangkauan Elmi. 

"Damar," Elmi memulai dengan hati-hati, "aku ingin kita bicara."

Damar mendesah, lalu mematikan suara televisi. "Mau bicara apa lagi?"

"Kapan kamu akan memberitahu Ibu tentang kondisimu yang sebenarnya?" Elmi memberanikan diri menatap suaminya. "Ibumu masih berpikir kalau rumah ini hasil kerja kerasmu. Padahal semua ini dari uang orang tuaku. Bahkan sampai sekarang kita masih menggunakan uang tabungan dan uang gajiku untuk keperluan sehari-hari."

Damar meletakkan cangkir kopinya dengan kasar. "Kamu mau mulai berdebat lagi? Aku sudah bilang, aku akan cari pekerjaan baru. Ini kan nggak selamanya, hanya sementara."

Elmi menggeleng pelan, merasakan kepahitan yang menyelip di hatinya. "Tapi ... Sudah hampir tiga tahun, Damar. Kita tidak bisa terus begini. Aku juga yang harus menanggung semua ini, bukan hanya masalah keuangan, tapi juga semua kebohongan yang kamu ciptakan."

Damar berdiri, ekspresinya marah. "Kamu pikir aku tidak berusaha? Aku sudah mencoba segalanya! Ini bukan salahku kalau cari kerja masih sulit setelah pandemi! Ck! Kamu ini perhitungan sekali sama suami sendiri!"

"Tapi bukan berarti kamu harus terus berbohong, apalagi pada keluargamu sendiri." Elmi berusaha menahan getaran di suaranya. "Aku tidak ingin kita hidup dengan kebohongan, Damar."

Damar tertawa kecil, tapi tidak ada kebahagiaan dalam suaranya. "Oh, jadi kamu ingin bilang sama Ibuku kalau aku ini pengangguran yang hanya mengandalkan uang istrinya? Kamu pikir itu akan membuat semuanya lebih baik?" Damar melotot.

Elmi terdiam. Dia tahu ini bukan saat yang tepat, tapi kebohongan ini semakin memberatkan hati dan pikirannya. "Aku hanya ingin kita jujur satu sama lain, dan pada keluargamu. Ini bukan hanya soal uang, tapi soal bagaimana kita bisa saling mendukung sebagai pasangan."

Damar menatap Elmi dengan dingin. "Kamu tahu apa? Mungkin kamu benar. Mungkin aku ini tidak berguna. Tapi jangan pikir aku akan membiarkan kamu menghina harga diriku di depan Ibuku.

"Damar, aku nggak pernah bermaksud begitu..."

"Sudah cukup, Elmi!" Damar memotongnya. "Aku mau keluar sebentar. Pusing dengar yang ngomel!"

Sebelum Elmi bisa mengatakan apa-apa lagi, Damar sudah meraih jaketnya dan pergi, membanting pintu dengan keras. Elmi berdiri kaku di ruang tengah yang hening, matanya terpejam menahan air mata yang ingin tumpah. Rasa muak ini semakin menghancurkan mereka, perlahan tapi pasti. Elmi hanya bisa berharap, suatu saat nanti, Damar akan menyadari bahwa kebohongan bukanlah jalan keluar.

Dia menghela napas panjang, kemudian berbalik menuju dapur. Piring-piring yang belum dicuci menantinya, seperti tumpukan masalah yang belum terselesaikan. Dengan tangan gemetar, dia mulai membersihkan, mencoba menghilangkan beban di hatinya dengan setiap gesekan spons dan air sabun. Tapi tetap saja, rasa sesak itu tidak hilang.

***

Bab 2

Elmi duduk terdiam di tepi tempat tidur, pandangannya tertuju pada kalender di dinding. Lima tahun sudah berlalu sejak dia dan Damar mengucap janji pernikahan. Dia teringat dengan jelas, awalnya semua tampak begitu menjanjikan. Mereka adalah teman satu kampus yang saling mendukung, menghabiskan waktu bersama di perpustakaan, mengerjakan tugas, bahkan berdebat soal masa depan.

Elmi jatuh cinta pada Damar karena melihatnya sebagai sosok yang bertanggung jawab. Pemuda yang selalu menepati janji, tak pernah absen membantu teman-temannya yang kesulitan. Ia yakin bahwa Damar adalah pilihan yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya.

Pernikahan mereka berlangsung sederhana, penuh harapan akan kebahagiaan. Semua tampak baik-baik saja di awal. Damar memiliki pekerjaan tetap, dan mereka memutuskan untuk membeli rumah dengan uang warisan dari keluarga Elmi. Namun, setelah bulan madu usai, Damar mulai menunjukkan keinginan untuk menunda kehamilan.

"Sayang, bagaimana kalau kita tunda dulu punya anak?" kata Damar suatu malam, saat mereka sedang menikmati makan malam sederhana di rumah baru mereka. "Aku pikir, kita perlu menabung yang banyak dulu. Aku ingin kita punya rumah yang benar-benar nyaman sebelum ada anak di sini."

Elmi mengangguk setuju saat itu. Logika Damar terdengar masuk akal. Mereka baru saja memulai hidup baru, dan menabung lebih banyak untuk masa depan anak-anak mereka sepertinya keputusan yang bijaksana. Dia pun menjalani hari-harinya dengan penuh harapan, membayangkan masa depan di mana mereka memiliki keluarga kecil yang bahagia.

Namun, semua bayangan itu mulai memudar setelah tiga tahun berlalu. Hingga suatu malam, setelah perdebatan kecil tentang keinginan Elmi untuk berhenti mengonsumsi pil KB, Damar akhirnya mengungkapkan kebenaran yang selama ini dia sembunyikan.

"Kenapa kamu ngotot banget, El?" Suara Damar terdengar frustrasi. "Aku udah bilang dari dulu, aku nggak siap punya anak."

"Tapi, Dam, sudah tiga tahun kita menunda. Aku juga ingin menjadi ibu," balas Elmi, suaranya bergetar. "Kamu bilang hanya butuh waktu untuk menabung. Sekarang kita sudah cukup punya simpanan. Jadi kenapa?"

Damar menghela napas panjang, lalu menatap Elmi dengan tatapan lelah yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. "Kamu nggak ngerti, ya? Ini bukan soal uang. Aku memang nggak mau punya anak. Aku nggak suka anak kecil!"

Kata-kata itu menghantam Elmi seperti pukulan telak. Dia menatap suaminya, mencari tanda-tanda bahwa ini hanya lelucon buruk, tapi tatapan Damar tetap dingin dan datar.

"Damar ... Apa maksud ucapanmu?" Elmi seolah baru saja mendengar kabar buruk.

Damar mengusap wajahnya, tampak jengkel. "Denger baik-baik! Aku nggak suka anak kecil. Mereka berisik, merepotkan, dan aku nggak mau hidup kita berubah karena kehadiran mereka. Aku hanya nggak bisa bayangin punya anak di rumah ini."

Elmi terdiam, hatinya seketika itu hancur berantakan. Dulu dia yakin Damar akan menjadi sosok ayah  yang bertanggung jawab, seseorang yang bisa ia percayai untuk membangun keluarga. Tapi kenyataan yang ada sekarang, dia merasa telah salah menilai. Dia merasa tertipu.

"Kenapa baru sekarang kamu bilang ini?" Elmi bertanya pelan, menahan air mata yang menggenang di matanya. "Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau kamu nggak mau punya anak?"

Damar mengangkat bahu, tampak tak acuh. "Aku pikir perasaanku bisa berubah. Tapi ternyata nggak. Dan aku nggak mau memaksa diri untuk sesuatu yang aku nggak suka."

Elmi terdiam, menatap Damar dengan pandangan tak percaya. Selama ini, dia sudah berkorban banyak. Menunda keinginannya untuk menjadi ibu, menahan segala kerinduannya akan kehadiran seorang anak. Dan sekarang, dia merasa seluruh pengorbanannya sia-sia.

"Jadi, selama ini... kamu cuma pura-pura?" Elmi berusaha menahan getaran suaranya. "Kamu bohongin aku?"

Damar tak menjawab. Dia hanya menatap Elmi dengan pandangan datar, seolah apa yang dia katakan tadi adalah hal yang sepele. Elmi merasa seperti jatuh ke jurang yang dalam, kehilangan pijakan yang selama ini dia pikir kokoh. Semua janji, semua harapan yang pernah mereka bangun bersama, kini hancur berantakan.

Saat itu, Elmi menyadari bahwa pria yang dia nikahi bukanlah sosok yang dia kira. Damar yang dulu terlihat penuh tanggung jawab dan perhatian hanyalah bayangan semu, topeng yang perlahan-lahan terkikis seiring berjalannya waktu. 

Dan kini, dia terjebak dalam pernikahan tanpa arah, tanpa masa depan yang jelas. Tepat di saat itu, Elmi menyadari bahwa kebahagiaannya sudah lama hilang, terperangkap di antara kebohongan dan harapan kosong yang perlahan terus memudar.

**

Lamunan Elmi seketika buyar ketika terdengar suara Ibu Damar memanggilnya dari ruang tengah. Suara yang terdengar tak sabar itu membuat Elmi buru-buru mengelap air matanya.

"Elmi, cepat, ke sini sebentar!" panggilan itu memenuhi rumah, memberikan kesan tak sabar. Elmi bergegas keluar dari dalam kamar tidurnya, buru-buru menghadap Ibu Damar yang sudah berdiri di sana dengan tangan bersilang di depan dada, ekspresi tidak puas menghiasi wajahnya.

"Ada apa, Bu?" Elmi mencoba tersenyum sopan meski hatinya sedikit berdebar. Setiap kali berhadapan dengan wanita paruh baya itu, dia selalu merasa seperti tersudut.

"Hendra baru saja kirim pesan ke ibu, katanya dia mau datang untuk makan siang di sini. Kenapa kamu belum masak apa-apa?" nada bicara Ibu Damar seperti biasa, tajam dan penuh tuntutan.

Elmi menatap ibu mertuanya, terkejut. "Oh, aku tidak tahu kalau mas Hendra akan datang, Bu. Maaf, tadi Damar nggak bilang ke Elmi kalo mas Hendra mau mampir ke rumah."

Ibu Damar mendesah keras, seolah-olah ketidaktahuan Elmi adalah kesalahan fatal. "Kamu ini gimana sih? Sebagai istri Damar, kamu harusnya peka! Masa harus selalu diberi tahu soal hal-hal seperti ini?"

Elmi menundukkan kepala, menahan diri untuk tidak membantah. Sejak awal menikah, ibu mertuanya selalu memiliki standar yang tinggi untuk segalanya. Hanya karena berasal dari kampung, apa pun yang Elmi lakukan selalu dianggap salah dan kurang.

"Baik, Bu. Saya akan segera ke pasar untuk membeli bahan makanan," kata Elmi, mencoba untuk tetap tenang.

"Jangan lama-lama! Keluarga Hendra itu orang penting, jangan sampai kita mempermalukan keluarga sendiri. Kamu harus pastikan semua hidangan nanti sempurna!" tegur Ibu Damar dengan tatapan penuh tekanan.

Hendra adalah suami dari Risma, kakak kandung Damar. Hendra bekerja sebagai pegawai negeri yang mempunyai jabatan cukup tinggi. Membuat ibu mertuanya kerap kali membanggakan menantunya itu. Ibu mertua Elmi memiliki dua anak, Risma dan Damar, mereka bersaudara kembar.

Elmi mengangguk patuh sebelum bergegas mengambil dompet dan ponselnya. Tanpa sepatah kata lagi, dia melangkah keluar rumah, merasakan perasaan tak nyaman menyelimuti hatinya. Dia tahu bahwa hari ini akan panjang dan melelahkan, bukan hanya karena tamu yang akan datang, tetapi juga karena dia harus menyiapkan semuanya sendirian tanpa bantuan.

Saat tiba di pasar, Elmi berusaha mengingat semua hal yang mungkin diinginkan oleh keluarga kakak iparnya. Dia sudah terlalu sering mendengar cerita tentang keluarga kakak iparnya itu dari Ibu Damar-bahwa mereka adalah keluarga terpandang dengan selera makan yang tinggi. Elmi memilih bahan-bahan terbaik yang bisa dia temukan, menghabiskan hampir seluruh uang belanja yang tersisa di dompetnya.

Dengan keranjang belanjaan yang penuh, Elmi kembali ke rumah. Saat dia tiba, waktu sudah hampir tengah hari. Tanpa membuang waktu, dia langsung masuk ke dapur dan mulai menyiapkan semua bahan makanan. Tangannya bekerja dengan cekatan, memotong sayuran, membersihkan daging, dan menyiapkan bumbu-bumbu.

Elmi berusaha sebaik mungkin untuk menyiapkan hidangan yang istimewa. Dia membuat sup buntut, ayam panggang dengan saus jamur, sayur lodeh, dan sambal terasi. Meski tubuhnya mulai lelah, dia tetap berusaha agar semua makanan itu sempurna. Bau harum masakan mulai memenuhi dapur, membuat Elmi merasa sedikit lega.

Namun, ketika dia sedang sibuk menyiapkan hidangan penutup, Ibu Damar berjalan mendekat ke arah dapur. Wanita itu berdiri di ambang pintu, matanya mengamati semua persiapan yang sudah Elmi lakukan.

"Elmi, kamu ini masak apaan sih?! Kok lama banget!" suara Ibu Damar terdengar meninggi, membuat Elmi tersentak. " Astaga! Apa ini??Risma dan Hendra nggak makan sambal terasi dan sayur lodeh kayak gini. Mereka lebih suka makanan yang modern, bukan yang kampungan begini."

Elmi menatap ibu mertuanya dengan kebingungan. "Tapi, Bu, saya pikir..."

"Udah, nggak usah pake mikir segala! Kalau nggak bisa masak yang benar, bilang dari tadi, udah biar Ibu saja yang pesan catering dari restoran!" Ibu Damar memotong dengan tegas. Dia meraih ponsel dari saku bajunya, lalu mulai menelepon seseorang.

Elmi berdiri di tengah dapur, merasa usahanya memasak sedari tadi sia-sia. Keringat yang mengalir di dahinya terasa dingin. Dia melihat masakan yang sudah dia siapkan dengan susah payah, dan tiba-tiba saja, perasaan kecewa dan marah menguasainya. Tapi dia tetap menahan diri, mencoba mengendalikan emosi yang bergolak.

"Maaf, Bu. Saya hanya ingin yang terbaik," bisik Elmi dengan suara lirih.

Ibu Damar menatapnya dengan tatapan menghina. "Kalau kamu benar-benar ingin yang terbaik, kamu harusnya sudah tahu apa yang harus dilakukan dari awal. Jangan asal-asalan kayak begini."

Tanpa menunggu tanggapan, Ibu Damar berbalik, meninggalkan Elmi yang masih berdiri di tengah dapur dengan rasa kecewa yang semakin menumpuk. Elmi menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang hampir tumpah. Hari ini, sekali lagi, dia merasa gagal. Dan kali ini, rasa gagal itu menyisakan luka yang lebih dalam, karena tidak ada yang lebih menyakitkan daripada merasa tak pernah cukup di mata orang yang seharusnya menjadi keluarganya sendiri.

***

Bab 3

Keluarga Hendra tiba tepat waktu, membuat Elmi berusaha keras untuk bersandiwara menyambut mereka dengan senyuman meski hatinya terasa berat. Saat mereka memasuki rumah, aroma masakan yang menggugah selera memenuhi ruangan. Ibu Damar ternyata tidak jadi memesan makanan dari restoran yang sempat diucapkannya untuk menghina masakan Elmi.

Seperti biasa, penampilan Hendra dan Risma terlihat sangat modis dan glamor. Ibu Damar segera menyambut kedatangan mereka dengan hangat, seolah melupakan semua ketegangan yang sebelumnya terjadi dengan Elmi.

"Selamat datang, Nak Hendra! Risma! Senang sekali kalian bisa mampir datang ke rumah Damar," Ibu Damar berkata sambil memeluk mereka. "Ibu sudah menyiapkan hidangan istimewa untuk kalian." Elmi menghela napasnya sesaat. Padahal tadi jelas sekali, ibu mertuanya itu menghina hasil masakannya.

Hendra, yang memakai setelan rapi, tersenyum ramah. "Wah, Hendra yakin masakan ibu pasti enak sekali. Terima kasih, Bu!"

Risma, yang mengenakan gaun modis, melirik Elmi dengan tatapan tajam. Entah kenapa, Risma selalu saja iri dengan penampilan Elmi, yang meskipun berpakaian sederhana tetap saja terlihat mempesona.

"Semoga masakannya tidak mengecewakan, ya, ibu kan bukan koki profesional." Ibu Damar tertawa kecil. "Ya kan, El ..."

Elmi tersenyum paksa. "Aah, iya ... Saya harap semuanya sesuai selera Mas Hendra dan Mbak Risma."

Mereka semua duduk di meja makan. Ibu Damar dengan antusias mulai memuji Hendra, menggambarkan betapa beruntungnya Risma memiliki suami sepertinya. "Hendra ini sangat sukses, kerja di perusahaan besar. Kamu harus banyak belajar dari dia, Elmi," Ibu Damar terus berbicara sambil menatap Elmi dengan senyuman sinis.

"Dan Risma, beruntung sekali ya bisa menikahi pria seperti Hendra. Kamu tidak pernah salah memilih," Ibu Damar melanjutkan, membuat Risma tersenyum bangga.

Hendra dan Risma tinggal di kota yang berbeda dengan Damar dan Elmi. Mereka hanya mampir setiap kali ada urusan di kota yang sama dengan tempat tinggal Damar.

Elmi menatap makanan di hadapannya, berusaha tidak terpancing oleh pujian yang berlebihan dilontarkan ibu mertuanya. Namun, saat Risma mulai mengalihkan topik pembicaraan, suasana semakin tidak nyaman.

"Eh, Elmi, kalo nggak salah, tahun ini, kalian sudah lima tahun menikah, ya? Kapan mau hamil? Kan, katanya kamu pengen banget jadi ibu?" Risma menyindir dengan nada menyengat. "Aku aja rencananya mau nambah lagi tahun ini." Risma tersenyum sambil menepuk pundak suaminya, "ya kan, Mas."

Sementara Hendra yang mulai sibuk mengambil makanan cuma mengangguk setuju. Damar yang baru saja ikut bergabung langsung duduk di sebelah Elmi.

Elmi menahan napas, berusaha tetap tenang. "Kita sedang berusaha, Risma. Semoga saja tidak lama lagi," jawabnya dengan diplomatis, meski hatinya seperti dicubit.

Damar yang duduk di samping Elmi tampak terdiam, tidak melakukan apa pun untuk membela istrinya. Dia hanya fokus pada piringnya, seolah berusaha menghindari lirikan tajam dari Elmi.

Ibu Damar, yang tidak menyadari ketegangan itu, menambahkan, "Benar, Elmi. Kamu harus berusaha lebih keras. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada memiliki anak."

Elmi merasa semakin tertekan. "Saya mengerti, Bu. Kami berusaha yang terbaik."

Risma menyeringai. "Jangan-jangan kamu hanya minta suami yang lebih baik? Kita semua tahu Damar tidak terlalu berambisi." Dia tertawa sinis, dan tawa itu diikuti oleh Ibu Damar, yang tampaknya menikmati lelucon tersebut.

Elmi merasa semakin tidak nyaman. Dia ingin Damar mengekspresikan perasaan tidak nyaman dan ingin agar Damar membantu dirinya untuk menyuarakan perasaannya, tetapi dia tahu itu hanya akan memperburuk keadaan. Sebagai gantinya, dia berusaha menyibukkan dirinya dengan menyajikan hidangan lain.

Elmi kembali ke meja dengan hidangan penutup, berusaha untuk tetap tersenyum. Namun, hatinya terasa hancur mendengar sindiran-sindiran itu. Semua harapan dan impian tentang kebahagiaan pernikahan mulai terasa samar, tergerus oleh lelucon dan sindiran yang datang dari orang-orang terdekatnya.

Dia terus melihat Damar, berharap setidaknya suaminya itu bisa memberikan sedikit dukungan. Tapi Damar tampak terjebak dalam ketidakberdayaan, memilih untuk tidak terlibat dalam ketegangan yang terjadi. Elmi menghela napas, menyadari bahwa dia kini harus berjuang sendiri untuk mempertahankan hubungan ini, meski semakin sulit dengan setiap kata yang terlontar.

Setelah Risma dan Hendra pamit pulang, suasana tegang di rumah sedikit mereda. Namun, perasaan kecewa dan sakit hati yang dirasakan Elmi tidak bisa hilang begitu saja. Dia membersihkan meja makan dengan hati-hati, berusaha mengalihkan pikirannya dari kejadian penghinaan saat makan siang. Begitu semua selesai, Elmi berjalan menuju kamar dan menemukan Damar sedang berbaring di tempat tidur, seperti biasa, memainkan ponselnya tanpa terlihat peduli.

**

Elmi baru saja selesai mandi, tubuhnya masih basah dengan aroma sabun yang lembut. Dia berjalan menuju cermin, menyisir rambut panjangnya yang masih setengah basah, lalu mengenakan pakaian tidur yang nyaman. Namun, pikiran Elmi masih terpusat pada kejadian makan siang tadi. Bagaimana ibu mertuanya dan Risma mempermalukannya di depan Damar, dan yang paling menyakitkan, Damar tidak melakukan apa pun untuk membelanya.

"Dam, kamu tidak keberatan mereka berkata seperti itu tadi?" tanyanya dengan suara pelan, nyaris seperti berbisik, namun jelas terdengar getir.

Damar menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada layar ponselnya. "Mereka cuma bercanda, El. Jangan terlalu diambil hati."

Elmi menghela napas panjang. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Apa yang dikatakan Damar seolah membuat semua kejadian tadi menjadi tidak penting. Padahal, bagi Elmi, itu lebih dari sekadar lelucon. Itu adalah penghinaan yang membuatnya merasa tidak berarti.

"Cuma bercanda?" Elmi berbalik, menatap Damar yang masih asyik dengan ponselnya. "Mereka menghina kita, menghina aku. Kamu nggak merasa marah?"

Damar mengangkat bahu, tidak menanggapi dengan serius. "Sudahlah, El! Jangan memperpanjang masalah. Mereka memang begitu, tidak usah dipikirkan."

"Kamu selalu bilang begitu setiap kali mereka merendahkan aku." Suara Elmi mulai bergetar. "Aku ini istrimu, Dam. Kenapa kamu tidak pernah berdiri di pihakku? Kenapa kamu selalu membiarkan mereka mempermalukan aku?"

Damar menurunkan ponselnya, menatap Elmi dengan mata yang terlihat sebal. "Kamu ini kenapa, sih? Sudahlah, jangan lebay. Mereka sudah pergi, kan? Urusan selesai. Kenapa kamu masih membahas ini?"

Elmi terdiam, merasakan amarah dan kesedihan bercampur menjadi satu. Bagaimana bisa suaminya bersikap begitu acuh?

"Karena ini menyakitkan, Dam," akhirnya Elmi berkata pelan, menahan tangis yang mengancam pecah. "Aku ini kan istrimu. Aku butuh kamu untuk membelaku. Kalau bukan kamu, terus siapa lagi?"

Damar memutar bola matanya, tampak semakin kesal. "El, aku capek. Bisa nggak sih, kita nggak usah drama-dramaan kayak gini?"

Kata-kata itu seperti pisau yang menyayat hati Elmi. Dia menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. "Drama-dramaan? Apa menurutmu semua yang aku rasakan ini cuma drama, Dam?"

Damar mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah. "Ya sudah, aku salah. Maaf, ya? Tapi, tolong, jangan bahas ini lagi. Aku capek. Aku mau istirahat."

Elmi menelan ludah, menahan rasa pahit yang menyebar di tenggorokannya. Dia tahu, Damar tidak akan pernah mengerti perasaannya. Dan dia juga tahu, tidak peduli seberapa keras dia berusaha, Damar tidak akan pernah berubah.

"Ya, sudah. Istirahatlah," jawab Elmi akhirnya dengan suara parau. Dia mematikan lampu kamar, menyisakan hanya lampu tidur yang remang. Sambil berbaring di sebelah Damar, Elmi memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri.

Namun, meski matanya terpejam, pikirannya tidak bisa tenang. Kata-kata Risma dan Ibu Damar terus terngiang di telinganya, menambah luka yang semakin menganga di hatinya. Sementara Damar, yang kini tertidur pulas di sampingnya, menjadi saksi bisu dari semua rasa sakit yang harus dia tanggung sendirian.

Malam itu, Elmi kembali tersadar, bahwa dalam hubungan yang telah mereka bangun selama lima tahun ini, ternyata dia masih berdiri sendirian. Dan seiring berjalannya waktu, dia semakin menyadari bahwa tidak ada yang lebih sepi daripada merasa sendirian di tengah kebersamaan yang seharusnya bisa memberikan kehangatan.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED