Bab 1

"Lahirkan anak untukku!" ucapnya dengan datar nan dingin. Pemuda dengan pahatan yang tampak sempurna itu menyodorkan uang merah pada perempuan di depannya.

"Apa Pak? Melahirkan?" Terdapat rona keheranan dari seorang wanita berjilbab tersebut.

"Maaf, Pak. Saya hanya ingin pinjam uang 200 juta untuk pengobatan ibu saya. Bukan berarti saya ingin mengorbankan keperawanan saya!" Perempuan bernama lengkap Kinara Ariana menggeleng pelan, dia menatap heran sang atasan.

Kinara yang terjebak dalam masalah ekonomi membuat dia bertekad menemui sang atasan. Bukan karena apa-apa, tapi saat ini sang ibu tengah terbaring di atas kasur. Dengan rasa sakit yang dia derita membuatnya harus segera ditangani.

Dokter menyarankan untuk melakukan operasi sang ibu, namun tentu ada administrasi untuk semuanya. Dan hal yang paling Kinara menyerah adalah masalah uang. Dia tidak mempunyai simpanan banyak untuk operasi Ibunya.

"Anggap saja ini sebuah tawaran. Saya akan memberimu uang lebih dari 200 juta kalau kau mau melahirkan anak untukku!" ucap pria tersebut tetap kukuh. Dia menatap dingin perempuan di depannya.

"Jika tidak, maka pintu di sana terbuka untuk kau---"

"Maaf, Pak. Bukannya saya enggak sopan, tapi, Bapak kan tajir, kaya raya, tampan bahkan terbilang sempurna. Tapi, apa untuk melahirkan seorang anak harus melakukan cara seperti ini? Maksud saya, Bapak kan bisa memilih wanita yang mungkin lebih cantik, seksi dan kaya dari saya. Dengan begitu, keturunan Bapak tidak akan jauh seperti itu."

"Jadi, kamu menolaknya?" tanya Aarav dengan muka paling tidak mengerti Kinara. Dia menampilkan raut dingin tanpa ekspresi.

"Saya tidak suka basa-basi. Jadi, saya akan memberimu waktu 5 menit untuk kau berpikir," ucap Aarav. "Saya akan memberimu 500 juta jika kau bersedia melahirkan anak untuk saya. Tidak hanya itu, uang akan saya tambahkan bila mana anak itu benar-benar lahir dari rahimmu!"

Kinara semakin dibuat melongo. Tidak percaya akan semua ini. 500 juta? Dilebihkan lagi?

Kinara benar-benar bimbang. Antara menerima atau menolak. Jika dirinya menerima itu berarti keimanannya pula sedang diperjual belikan. Siapa yang mau melahirkan anak tanpa status pernikahan? Dan jika pun menolak, bagaimana dengan Ibu di sana yang tengah berjuang untuk tetap hidup?

Bagaimana ini? Apa yang harus Kinara lakukan?

'Ya Allah ... apa yang harus aku lakukan?' tanya Kinara dalam hatinya. Dia meremas jari-jemarinya dengan resah.

Tidak!

Kinara memejamkan matanya. Keimanan seseorang tidak bisa digantikan dengan apapun. Seberat apapun hidup, seorang muslim tidak seharusnya mengorbankan keimanannya ber-hanyakan uang.

"Jadi, apa pilihan mu?" tanya Aarav setelah lama dia memberikan waktu Kinara untuk berpikir.

"Saya---saya---"

Derrtt Derrttt

Suara dering ponsel terdengar. Membuat ucapan Kinara terkatup. Dia merogoh saku gamisnya kala getaran itu semakin terasa bergetar.

Lusi.

Ah, adiknya.

"Maaf, Pak. Saya izin waktu sebentar," ucap Kinara.

"Apa saya memberimu izin? Di sini, kau seharusnya memiliki etika ketika berbicara dengan atasan!" Ucapan dingin nan datar itu membuat nyali Kinara semakin menciut. Membuat dirinya yang hendak beranjak terurung sudah.

"Angkat!" Satu kata Aarav membuat Kinara dengan gemetar menekan ikon hijau. Dia menatap terlebih dahulu Aarav yang juga menatapnya tanpa ekspresi.

"Assalamu'alaikum? Kak? Kakak di mana? Kondisi ibu semakin memburuk kak ...." Di sebrang sana suara tangisan terdengar. "Dia dari tadi nyebut nama Kakak terus."

Hati Kinara terasa menciut, tidak terasa air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja. Dia menatap Aarav sang atasan. Berharap dia mau memberikan pinjaman uang tanpa harus mengorbankan hal lain. Namun sama saja, Aarav hanya menampilkan raut cueknya tanpa ekspresi.

"Kakak cepat ke mari.... "

"Iya, Dek. Sekarang Kakak ke sana. Kamu temenin dulu Ibu ya, Lus? Jangan sampai tinggalin Ibu. Sekarang kakak ke sana!" Tanpa menunggu lagi Kinara dengan cepat mematikan sambungan telfonnya. Rasa khawatir akan kondisi ibunya benar-benar membuatnya takut.

Dengan derai air mata yang sudah jatuh Kinara menatap Aarav dengan resah.

"Saya menerimanya, Pak! Tapi tolong, tolong beri saya pinjaman uang. Saya mohon Pak. Hanya untuk hari ini saja, saya mohon Pak ...."

Pada akhirnya Kinara menyerah, dia memohon dengan menautkan kedua tangannya di dada.

"Saya akan melahirkan anak untuk Bapak. Tapi saya mohon untuk Bapak kasih pinjam saya uang sekarang juga," ucapnya kembali dengan menunduk. Kemudian pelan kepala Kinara terangkat, dia menatap Aarav yang tidak ada di depannya.

"Ikuti saya!" ucap Aarav yang sudah berada di ambang pintu. Tanpa menoleh dia pergi dengan wajah khasnya. Tanpa ekspresi!

Kinara mengusap pipinya yang basah. Tidak ada waktu lain, dia harus segera menemui sang Ibu sebelum semuanya terlambat.

Kinara berlari menyusul Aarav yang sudah naik ke dalam mobil. Dengan segera dia juga ikut masuk ke dalamnya. Namun sebelum benar-benar masuk ...

"Saya bukan sopirmu! Jadi duduk di depan!" perintahnya dingin.

Kinara menurut, dengan segera dia berpindah duduk menjadi di depan. Belum sempat memakai pengaman, mobil itu sudah melesat cepat membelah jalan.

**

"Di mana Ibu?" tanya Kinara selepas dia bertemu Lusi. Sedari tadi Kinara menangis akan kondisi ibunya. Rasa takut semakin menjadi-jadi.

"I--ibu ada di dalam," ucap Lusi terbata-bata. Hidung merah, mata bengkak, terbukti sudah bahwa Lusi pun sedari tadi menangis.

"Bu?!"

Kinara langsung menyerobot masuk. Menatap sang Ibu yang kini dipenuhi dengan alat-alat rumah sakit.

"Ibu ..." Kinara menangis, mendekap Ibunya dengan linangan air mata. Tangisnya tidak bisa dicegah, dia menangis dengan terisak.

"Ibu, ibu bakal sehat kok. Ya, ibu bakal sehat. Ini Kinar Bu ... Kinar di sini ...." Bibir Kinara bergetar, dia semakin memeluk Ibunya dengan rasa takut. Setelah Ayahnya pergi, Kinara tidak ingin ibunya juga cepat pergi begitu saja.

"Kinar ...?" Suara parau nan lemah itu terdengar. Membuat Kinara semakin tidak bisa menahan tangisnya.

"Sekarang Ibu bakal di operasi. Ibu bakal sehat lagi. Kinar yakin bahwa Allah pasti bakal bantu kita Ibu," ucap Kinara mencium seluruh wajah Ibunya.

"Kinar, lihat Ibu," ucap Run—-ibunya Kinara.

"Kinar enggak perlu melakukan hal ini demi Ibu. Ibu tau, biaya operasi ibu enggak cukup satu atau dua juta. Butuh biaya banyak untuk operasi ibu ini ... untuk itu, Ibu tidak apa-apa jika memang harus pergi. Ibu udah ikhlas---"

"Enggak Ibu! Enggak. Kinara enggak mau kehilangan Ibu. Udah cukup Ayah ninggalin Kinar, sekarang Kinar enggak mau kehilangan Ibu juga. Lagipula, Kinar ada biaya kok buat Ibu operasi. Kinar dapat uangnya Bu ... dengan begitu Ibu bakal sehat lagi." Kinara menghapus air matanya, dia juga menghapus air mata Runi dengan pelan.

"Kinar ... ada satu hal yang sangat Ibu inginkan. Apa kamu, bisa memenuhi keinginan Ibu?" tanya Runi dengan tatapan sayu.

Dengan segera Kinara mengangguk. "Apapun Ibu. Apa yang Ibu mau, Kinar akan mengabulkannya," ucap Kinara dengan mengeratkan genggaman tangan pada sang Ibu.

Tangisnya yang tidak bisa berhenti semakin menangis kala sang Ibu berucap ...

"Ibu ingin, Kinar menikah ... "

Bola mata Kinara melebar sudah.

"Ibu ingin lihat Kinar menikah dengan lelaki pilihan Allah ... Kinar, keinginan satu-satunya Ibu adalah ingin melihat kamu menikah. Setiap doa yang Ibu panjatkan, setiap ingin yang selalu Ibu harapkan. Hanya itu yang Ibu inginkan. Apa Kinar, mau mengabulkan keinginan Ibu untuk yang terakhir kalinya?"

Kinara mengigit bibir bawahnya. Tidak tahan dengan semua ini.

Bukan, bukan karena tidak mampu dirinya untuk menikah. Tapi, sejauh ini tidak ada yang mau menikah dengan dirinya. Tidak ada lelaki yang mau menerima dirinya dengan sepenuh hati. Hingga sejauh ini, Kinara bukannya tidak ingin menikah, hanya saja ... semua lelaki justru menolaknya sebelum dirinya yang datang meminta untuk dinikahi.

"Kinar ...," ucap Runi dengan pelan. Dia menghela nafas panjang. Merasakan rasa sesak di paru-parunya.

Kinara menunduk,bingung juga apa yang harus ia katakan. Untuk membiayai ibunya sendiri pun Kinara harus merelakan kesuciannya? Jika begitu, bagaimana Kinara akan menemukan cinta sejatinya?

"Bu, Kinar-- Kinar---"

"Kinara akan menikah dengan saya Tante! "

Mata Kinara yang semula memejam langsung terbuka lebar. Dia terdiam bagaikan patung.

Bab 2

"Perkenalkan, nama saya Aarav, calon suami Kinara." Dengan pelan Aarav menyalami Runi. Mencium punggung tangan wanita berkepala empat itu. 

"Kamu? Calon suami Kinar?" tanya Runi dengan tatapan tidak percaya. Lirikan matanya beralih menatap Kinara yang termenung dengan melamun. 

"Kamu sudah punya calon, Kinar? Tapi, kenapa kamu enggak kasih tau Ibu?" Tatapan Runi mengarah pada Kinara yang menatap Aarav. Dia masih tercengang atas ungkapan Aarav padanya. 

Apa maksudnya? Menikahinya? 

"Kinar, Kinar berani nyembunyiin masalah ini dari Ibu? Kamu bilang gak ada yang mau sama kamu. Tapi ini apa? Bahkan ini lebih dari sempurna Kinar. Ya Allah ...." Terdapat raut senang dari wajah Runi kala menatap Aarav. 

Tidak senang bagaimana? Wajah Aarav yang putih berseri begitu memenuhi wajahnya. Alisnya tebal, hidung mancung, kulit putih. Tidak lupa, bibir yang manis saat tadi dia tersenyum membuat Runi yakin bahwa Aarav pria yang telah Allah pilihkan untuk putrinya ini. 

"Bu, i--ini bukan---"

"Saya akan menikahi Kinara secepatnya Tante. Kalaupun mau sekarang, saya siap untuk menikahi Kinara." Ucapan Kinara terpotong kala Aarav langsung menyahut. Dia menatap Runi tanpa melihat Kinara yang sudah melotot dibuatnya. 

"Ya Allah ... alhamdulillah. Putri Ibu akan segera menikah. Alhamdulillah ...."

Kinara menelan salivanya pelan. Dia menatap sang Ibu yang begitu kentara akan kebahagiaan. Terasa menggetarkan hati Kinara yang kini dibuat bimbang akan semuanya. 

Kinara mengerti akan raut bahagia itu. Raut kebahagiaan yang sangat menginginkan putri pertamanya ini untuk segera menikah. 

Bagaimana tidak? Kinara yang sudah memasuki umur 30 tahun, tapi menikah belum juga dia lakukan. Bukan tidak ingin, hanya saja sejak itu Kinara lebih memfokuskan dirinya dalam mencari uang untuk sang Ibu dan adik-adiknya. 

Kinara punya adik tiga. Dan semuanya perempuan, sedang Kinara sendiri anak pertama dari empat bersaudara. 

Diumur 20 tahun, Kinara mencari uang untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Dia berpikir akan menikah jika tanggungan sang adik sudah selesai. Minimal adik-adiknya lulus SMA lebih dahulu, setelah itu dia akan membiarkan adiknya untuk memilih antara bekerja atau kuliah. 

Saat itu Kinara tidak terlalu memikirkan akan nasib dirinya yang sudah berumur. Diumur yang seharusnya menikah malah Kinara habiskan dengan mencari uang. Karena ternyata harapannya tidak sesuai ekspetasi. 

Ia kira kedua adiknya akan bekerja setelah lulus dari SMA, tapi ternyata tidak. Mereka nganggur tanpa mau bekerja. Katanya pekerjaan di Jakarta susah, membuat mereka jenuh sendiri karena pekerjaan tak kunjung mereka dapatkan. 

Kinara memaklumi mereka, dengan begitu dia semakin bekerja keras dalam mencari uang. Apapun pekerjaan akan Kinara lakukan demi membiayai ekomomi keluarganya. Seakan anak pertama adalah tulang punggung membuat Kinara melakukannya dengan sepenuh hati. 

Tidak ingat umur, tidak ingat akan menikah. Tidak ingat pula untuk menabung uang kelak untuk masa depan. Semuanya Kinara lakukan hanya untuk keluarganya. 

Hingga tepat saat Kinara berumur 26 tahun, Adiknya Karin ingin menikah.

Saat itu Runi menolak siapa saja untuk menikah. Bukan tidak ingin, hanya saja Runi ingin Kinara lah yang lebih dulu menikah ketimbang anak yang lain. Katanya melangkahi perempuan pertama adalah 'Pamali' membuat Runi takut jika Kinara tidak kunjung ada yang mau nantinya. 

Namun takdir tidak ada yang tahu. Adiknya Kinara keukeuh ingin menikah, sampai adik yang satunya bernama Dara juga ikut-ikutan ingin menikah. Hingga saat itu, Kinara harus dilangkahi langsung oleh kedua adik perempuannya. 

Mereka sudah menikah. Sedang Kinara semakin susah dalam mencari pasangan. Tidak ada yang mau menikah dengannya. Semua lelaki seakan tahu bahwa Kinara bukanlah perempuan yang cocok untuk mereka. 

Kinara menyerah. Dia menyerah dalam keinginan untuk menikah. Karena pada akhirnya dia akan ditolak kembali. Pernah dia melamar seorang laki-laki. Tentu dengan perantara dari orang lain, melalui sebuah surat Kinara menuliskan keinginan dalam melamarnya. Namun lagi, dia ditolak. 

Setelah hari itu, Kinara tidak pernah berpikir untuk menikah. Dia sudah memasrahkan semuanya kepada Allah. Jika memungkinkan, dia lebih baik tidak menikah saja. Sudah lelah akan segalanya. Hatinya, jiwanya. Kinara sudah lelah. 

Hingga tepat saat dirinya berumur 30 tahun, seseorang tiba-tiba saja mengatakan ingin menikahinya. Hal yang jelas membuat Kinara menatap tidak percaya. Mematung bagaikan mayat hidup. Dia menatap pria yang secara tiba-tiba mau menikahi perawan tua sepertinya. 

Entah senang atau tidak tapi ... melihat senyum ibunya yang merekah membuat Kinara terenyuh akan semuanya. Seakan dunianya kembali hadir, semangatnya dalam hidup kembali membara. 

"Nak Aarav, kalau nikahnya hari ini, boleh tidak? Ibu sangat ingin sekali melihat putri Ibu ini menikah," ucap Runi membuat kesadaran Kinara tersadarkan. Ah, dia bahkan tidak tahu apa yang sedari tadi mereka bicarakan. 

Namun detik berikutnya Kinara menggeleng. "Bu, kalau nikah secepat itu---"

"Bisa kok. Hari ini pun saya siap, Ma!"

Kinara melotot saat Aarav menatapnya, dia bahkan sudah memanggil Runi dengan nama 'Mama. 

Ish! Sejak kapan mereka jadi sedekat itu? 

"Saya akan menyiapkan segalanya. Kalian tidak perlu khawatir," ucap Aarav kemudian berlalu begitu saja. 

Kinara menatap kepergian Aarav dengan raut tidak percaya. Terlihat dia sedang bertelfon dengan seseorang yang entah siapa. 

"Alhamdulillah ... akhirnya Ibu bisa lihat kamu menikah, Kinar. Ibu benar-benar bahagia," ucap Runi tersenyum haru. Dia menggenggam erat Kinara dengan tampang bahagia. 

Kinara membalas senyuman sang Ibu dengan senang. Menautkan telapak tangannya untuk menggenggam sang Ibu. 

Niat hati ingin mengatakan kalau Aarav itu bukan siapa-siapa selain orang yang ingin meminjamkan uang untuknya, tapi melihat keceriaan dari sang Ibu membuat niat itu terurungkan. Rasa bahagia melihat Ibunya tersenyum membuat Kinara tidak bisa berkata-kata. Karena bahagianya jelas ada pada Ibunya ini. 

Namun dibalik itu, rasa resah nan bimbang Kinara rasakan pula kala Aarav benar-benar ingin menikahinya. Entah sebuah keberuntungan atau kesialan, tapi Kinara merasa bersyukur kala seorang lelaki ingin menikahinya. Secara mendadak lagi. 

Hingga selang beberapa menit orang-orang dengan berpenampilan jas dan kopea memasuki ruangan di mana Kinara berada. 

Mereka, tak lain wali hakim dan para saksi. Masuk dengan penuh kharisma. 

"Waktu baik sebaiknya dilakukan dari sekarang, untuk calon mempelai laki-laki, silahkan Anda duduk di sebelah kanan. Dan untuk mempelai perempuan silahkan duduk di sebelah mempelai laki-laki," ucap wali hakim menegaskan. 

Sumpah demi apapun, kegiatan akad nikah diselenggarakan secara mendadak. Benar-benar mendadak! Membuat Kinara harus gelagapan sendiri. Gemetar sudah kaki dan tangannya. 

Jantungnya berdebar sangat kencang, antara percaya dan tidak percaya akan semua ini. Bahwa sebentar lagi, dirinya akan benar-benar berganti status. 

Di atas ranjang sana, Runi menangis terharu tatkala Aarav mengucapkan ijab qobulnya. Yang mana detik itu juga putrinya Kinara resmi berstatus suami-istri. 

Benar-benar, tidak ada kebahagiaan yang paling Runi inginkan kecuali melihat sang putri pertamanya menikah. Apalagi dengan pria yang begitu terlihat baik nan rupawan. Membuat Runi mengucap syukur terus-menerus. 

Proses akad terlaksana sudah. Kinara menangis dengan penuh haru. Menunduk dengan terisak. 

"Karena kalian sudah resmi menjadi suami-istri, sekarang sang istri bisa mencium punggung tangan sang suami. Dan untuk suami, bisa mencium kening istrinya," ucap penghulu tersebut. 

Kinara dengan patuh segera menyalami punggung Aarav yang kini resmi sudah menjadi suaminya. Bergetar pula tangannya saat genggaman halus itu ia rasakan. 

Menunduk malu, Kinara memejamkan matanya saat sebuah ciuman mendarat halus di keningnya. Hingga detik berikutnya hanya rasa kehangatan yang kini hadir dalam hati Kinara. 

Namun, kebahagiaan itu tidak cukup lama. Karena tepat saat Aarav mencium kening Kinara.

Sang Ibu sudah menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya. Memejam dengan bibir melengkung ke atas. Satu butir air mata jatuh di kelopak matanya. Hingga detik berikutnya Kinara berteriak histeris saat mengetahui kalau sang Ibu ... sudah tidak bernyawa lagi.

Bab 3

Kinara meluruhkan segala asa yang ada. Menangis sejadi-jadinya tatkala menatap sang Ibu yang sudah tidak bernyawa lagi. Termasuk Lusi yang sekarang ikut menangis histeris. 

Semua yang melihat ikut memprihatin, mendoakan yang terbaik untuk Runi agar diterima di sisi-Nya. Hingga menit berikutnya jenazah Runi langsung dipulangkan dengan segera. 

Selang beberapa jam kemudian. 

"Ini salah Kakak! Kalau saja kakak menjaga Ibu dengan baik, mungkin Ibu enggak bakal ninggalin kita. Mungkin sekarang Ibu masih hidup berkumpul di rumah ini," ujar Karin, adik kedua Kinara. 

Dia menatap marah Kinara, seakan kejadian ini memang kesalahan kakaknya itu. 

Kinara terdiam, dia hanya menatap lurus dengan tatapan kosong. 

Setelah proses pemakaman Runi selesai, Kinara hanya diam tanpa banyak bicara. Menangis kemudian menghapus air matanya. Menangis kembali berakhir menghapusnya. 

Tidak bisa dipungkiri. Hatinya masih belum ikhlas akan kepergian Ibunya. Belum menerima sepenuh hati atas apa yang terjadi. Karena di sisi lain pula, ia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Ibunya. 

Jika saja operasi itu lebih dulu dilakukan mungkin masih ada harapan untuk Runi bertahan hidup. Tapi tidak, dia bahkan pergi sebelum memeluk sang anak untuk yang terakhir kalinya. 

"Sudahlah Rin, ini semua udah takdir. Semua ini bukan salah kakak kamu," ucap Andara suami Karin. Pria itu menenangkan Karin dengan mengusap-usap punggungnya. 

"Tetap aja, Mas! Ini salah Kakak! Dia sudah ceroboh dengan membiarkan Ibu sakit begitu saja." Tampaknya Karin pun belum ikhlas akan kepergian sang Ibu membuat dia menyalahkan Kinara terus-menerus. 

"Jangan menyalahkan Kak Kinar terus, Kak! Ini juga kesalahan kita. Semenjak Ibu sakit, apa kakak pernah menjenguk Ibu?" Kini Dara yang angkat suara. Adik kedua Kinara itu membuka suara untuk menyangkal tuduhan kakak keduanya. 

"Jadi kamu menyalahkan Kakak?" tanya Karin dengan nafas memburu. 

"Dara bukan nyalahin Kakak. Tapi Dara cuman membetulkan kalau sakitnya Ibu, itu juga kesalahan kita. Kak Kinar udah bersusah payah dalam menjaga Ibu selama ini, tapi, apa pernah kita tahu akan hal itu? Tidak kan? Kita bahkan hanya disibuki untuk menjaga suami saja," ujar Dara membuat Karin terdiam. 

"Kak Kinar bahkan rela enggak nikah demi kita, lalu, apa Kakak masih mau menyalahkan Kak Kinar?" Dara menatap Karin dengan sendu, membuat pandangan adik-kakak  itu saling bertemu. 

"Sekarang lebih baik kita---"

"Pergi kalian dari sini!" ujar Kinara memotong ucapan Dara. 

"Kak?"

"Aku bilang pergi dari sini!" ulang Kinara tanpa menoleh ke arah siapapun. 

"Kak, maafin Karin."

"Sudah aku bilang pergi dari sini!" Untuk ketiga kalinya nafas Kinara memburu. Menatap antara Karin dan Dara bergantian.

Hingga detik berikutnya mau tak mau kedua adiknya itu berakhir pergi. Pulang ke rumah suaminya dengan perasaan dongkol. 

Kinara menghela nafas pelan. Permasalahan yang terjadi sudah cukup membuat Kinara mengerti. Kalau adik-adiknya tidak pernah memperdulikan akan keadaan dirinya dan Ibunya selama ini. Kedua adiknya itu hanya bisa merasakan enaknya tanpa mau mengeluarkan keringat sedikit pun.

Menyalahkan tanpa mau merasakan penderitaan. Termasuk Dara yang sedari tadi hanya berpura-pura saja. Seolah-olah dia membelanya, padahal kenyataannya ada maksud lain yang tengah dia perbuat. 

Namun walaupun begitu, sampai kapanpun Kinara tidak bisa membenci mereka. Karena keduanya adalah adik yang ia sayangi. 

**

Kinara berjalan mengikuti Aarav dari belakang. Merangkul Lusi yang ia ajak untuk ikut dengannya. 

Atas apa yang terjadi hari ini membuat Kinara mau tidak mau harus ikut ke mana suami barunya pergi, karena memang ia sudah menjadi hak suaminya itu. Membuatnya harus menurut saja. 

"Ahhh, shhhh ... pelan-pelan ... akh!"

"Eum, ahh ..."

Suara desahan yang tiba-tiba terdengar membuat Kinara menolehkan lirikan matanya,termasuk Lusi yang kini dalam rangkulan Kinara.

Suara itu terdengar semakin jelas ke dalam telinga keduanya. 

"Hiraukan suara itu, nanti kau pun tidak jauh akan berteriak sepertinya," ujar Aarav seakan tahu apa yang dipikirkan Kinara. 

"Akh!"

"Eh, pocong! Pocong!" Kinara menarik jas yang dikenakan Aarav kala suara itu kembali terdengar dengan keras. Bersembunyi dibalik ketiak milik lelaki tersebut dengan mata terpejam karena takut. 

"Kakak, suara apa itu?"

Lusi, sang adik berumur 15 tahun itu membeo, yang mana membuat Kinara lupa akan adiknya. Namun detik berikutnya Kinara yang sadar telah memepet pada Aarav langsung menjauh. 

"Ma--maaf Pak. Saya benar-benar tidak sengaja. Ha--habisnya, teriakan itu membuatku takut," ucap Kinara terbata-bata. Dia langsung kembali ke tempat asalnya. Merangkul Lusi yang tadi dia tinggalkan. 

Duh malunya. Mana main narik-narik jas Aarav lagi. Membuat sang empu menatapnya datar. 

Seperti biasa, Aarav hanya menampilkan raut tanpa ekspresi. Bagaikan tembok yang dimasukan ke dalam kulkas. Dingin nan datar. Eh, kok tembok ke kulkas sih? 

Kinara mulai merasakan canggung, menghiraukan suara aneh yang sedari terdengar. Mana keras lagi membuat bulu kuduknya ikut meremang. 

Ah, ia jadi teringat pula akan perjanjiannya dengan Pak Aarav itu. Bahwa ia akan melahirkan keturunan untuk sang CEO. Setelah tadi proses akad nikah, kemudian Ibunya yang meninggal membuat Kinara harus mengurus jenazah sang Ibu lebih dulu.

Diikuti beberapa tetangga lain yang ikut membantu. Sang adiknya Karin dan Dara ikut datang karena memang itulah kewajiban seorang anak kala orangtuanya sudah pergi. Membuat proses pemakaman tersebut tidak menghabiskan banyak waktu. 

Dan sekarang di sinilah Kinara berada. Ia dibawa oleh Aarav setelah masalah dengan kedua adiknya terselesaikan. 

Entah akan dibawa ke mana takdir ini. Setelah kepergian Ayah dan Ibunya membuat Kinara tidak tahu ke arah mana ia harus menuju. Apa ia akan mengikuti sang suami saja? Bahkan perjanjian itu pun hanya bernilai tawaran di atas kertas. Membuat Kinara yakin bahwa kelak saat ia mengandung dan melahirkan, maka ia akan dilempar sedemikian jauh oleh pria tanpa ekspresi itu. 

"Ganti pakaianmu. Untuk sekarang kita akan tinggal di sini," ucap Aarav membuyarkan lamunan Kinara. 

Kinara terdiam baru sadar bahwa ia sudah berada di kamar hotel, membuat bola mata hitamnya menelusur dalam menatap ke sekeliling.

Kamar yang di desain mewah, begitu rapi nan wangi. Kursi empuk berjejer di dekat jendela. Kasur yang besar pun terlihat pula di sana. Terlihat nyaman. Kinara pun belum pernah merasakan suasana seindah dan senyaman ini.

"Bersihkan badanmu, setelah itu kau boleh menidurkan adikmu itu. Tapi setelah adikmu tertidur, datang ke kamarku dengan pakaian ini." Aarav menyodorkan sebuah baju berwarna merah pekat pada Kinara. 

Diambilnya baju tersebut oleh sang empu, kemudian tatapan matanya mengarah pada Aarav yang sudah pergi begitu saja menuju kamar lain. 

Tanpa ekspresi tanpa senyuman pria itu meninggalkan Kinara yang termenung. 

"Kakak? Itu apa?" tanya Lusi menatap pada baju merah tersebut. 

Kinara menunduk, dia juga tidak tahu baju apa ini. Namun tepat saat Kinara menjuntaikan bajunya ke bawah seketika matanya membelakak. Detik berikutnya dia menyembunyikan baju tersebut dibalik jilbab panjangnya. 

"Udah, sekarang Lusi bersih-bersih. Kita tidur!" ucap Kinara mengalihkan topik. 

"Kakak, yang tadi itu suami kakak, kan? Apa itu berarti kita tidak tinggal di rumah dulu lagi?" tanya Lusi sebelum berjalan menuju kamar mandi. 

Kinara menatap sendu adiknya. Namun kemudian dia mengangguk. 

"Untuk sekarang Lusi bakal ikut kakak. Tapi nanti, setelah semua urusan ini selesai, kakak bakal bawa kamu pergi jauh dari sini, hm? Jadi Lusi enggak perlu khawatir," ucap Kinara sembari mengusap bahu Lusi pelan. 

"Kenapa Kak? Padahal kakak itu tampan, Lusi suka sama dia," celetuk Lusi dengan tampang binar. 

"Ck, udah sana pergi. Kita tidur," ujar Kinara kembali menyuruh Lusi agar membersihkan dirinya. 

Lusi menurut, dia pergi setelah berhasil menertawakan sang kakak. 

"Ganteng sih ganteng, cuman sayang. Dingin banget kayak kulkas sepuluh pintu! Mana muka datar banget lagi, gak ada belokan sama sekali!" gerutu Kinara setelah Lusi pergi dari hadapannya. 

Kinara menghela nafas. Tangannya seketika bergetar kala menarik kembali baju tersebut. 

Yang mana ... 

Sebuah lingerie berbahan tipis tercekat jelas di sana. 

"Ya Allah ... habis sudah nasibku sekarang!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED