Rania berjalan menunduk sambil membersihkan gaunnya yang terkena noda, seseorang tak sengaja menyenggolnya saat ia sedang menikmati hidangan di pesta pernikahan temannya. Rania harus segera ke toilet sebelum noda pada gaun nya mengering dan pasti akan sulit dihilangkan nantinya.
Karena berjalan menunduk, Rania tak melihat jika ada orang di depannya. Alhasil, kepala Rania pun menabrak punggung orang tersebut.
"Aduh." Rania merintih sambil mengelus kepalanya yang terasa sakit.
Rania mendongak, ternyata yang ditabraknya adalah punggung seorang pria.
"Itu punggung atau tembok sih, keras banget," gerutu Rania dalam hati.
Merasa ada seseorang yang menabraknya, pria tersebut pun membalikkan badan dan betapa terkejutnya ia saat melihat siapa yang sedang berdiri di hadapannya itu.
Rania membelalakkan mata ketika menyadari pria yang ditabraknya adalah orang yang paling tidak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.
"Devan," lirih Rania.
Rania tak menyangka kalau dia akan bertemu kembali dengan Devan setelah enam tahun berlalu.
"Rania," gumam pria itu yang ternyata adalah Devano.
Rania tersadar, dia harus segera pergi dari tempat itu. Tanpa pikir panjang lagi, Rania mengambil langkah seribu dan pergi dari sana, tak peduli dengan gaunnya yang kotor. Namun, sebelum ia berhasil kabur tangannya sudah dicekal oleh Devan, dan lelaki itu menarik Rania hingga menjauh dari keramaian.
Sekuat tenaga Rania berusaha untuk melepaskan cekalan tangan Devan, tapi tenaganya tidak cukup kuat dibandingkan dengan pria itu.
Devan terus saja menarik tangan Rania, dan menyeretnya keluar dari gedung resepsi pernikahan itu berlangsung. Tak peduli meskipun para tamu undangan disana memperhatikan mereka hingga sampailah mereka di tempat sepi yang ada di belakang gedung tersebut.
"Lepas!"
Rania menyentak kasar tangan Devan hingga berhasil terlepas lalu dia bersiap untuk kabur. Namun, lagi-lagi dengan cepat Devan menarik tangannya sampai tubuhnya tertarik dan menabrak dada bidang milik Devan.
Devano pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dipeluknya erat pinggang Rania hingga merapat ke tubuhnya agar wanita itu tak bisa lagi melarikan diri.
"Mau melarikan diri lagi, hmm," sindir Devan membuat Rania harus mendongak agar bisa melihat wajahnya.
Glek.
Rania menelan ludahnya dengan susah payah, tatapan mata Devan begitu tajam bagai elang yang siap menelan mangsanya. Rania terus memberontak dalam dekapan Devan, berusaha untuk melepaskan dirinya.
Namun, ancaman Devan membuat nyalinya menciut.
"Kalau kamu terus bergerak seperti ini, maka aku pastikan kamu tidak akan bisa pulang dan kejadian enam tahun lalu akan terulang kembali malam ini."
Rania mendelik dan seketika Rania pun berhenti memberontak.
"Lepasin aku, Dev," pinta Rania.
"Melepaskan kamu? Jangan mimpi Rania. Setelah apa yang kamu lakukan padaku, jangan pernah berharap kamu bisa lepas lagi dariku."
Ya, ketika tadi Devan melihat Rania ada di hadapannya, Devan berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah melepaskan wanita ini lagi.
Devan harus membalaskan rasa sakit hatinya enam tahun lalu, Rania harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah dilakukannya kepada Devan.
"Enggak, aku gak mau berurusan lagi sama kamu. Kita sudah tidak ada hubungan apapun."
"Oh ya? Kata siapa kita tidak ada hubungan lagi. Bukankah aku tidak pernah mengatakan putus dengan kamu? Justru kamu yang meninggalkan aku begitu saja waktu itu," balas Devano dengan tatapan tajamnya.
Rania memalingkan wajahnya tak ingin melihat Devan. Namun, dengan sigap Devan langsung menarik wajah Rania hingga wanita itu kembali mendongak menatapnya.
"Jangan pernah palingkan wajah kamu saat sedang berbicara denganku," geram Devan membuat Rania tak bisa berkutik.
"Kenapa kamu tinggalkan aku dan pergi begitu saja setelah malam itu?" tanya Devan namun tak ada balasan dari Rania.
"Jawab aku Ran," ucapnya lagi.
Meskipun saat ini Rania sedang ketakutan, tapi sebisa mungkin ia mencoba untuk tidak memperlihatkan ketakutannya di depan Devan. Rania mencoba membalas tatapan mata Devan dengan tak kalah tajam.
"Karena aku sudah tidak mencintaimu lagi," jawab Rania
Devan menatap intens mata Rania, mencari kejujuran di balik mata tersebut. Sesaat kemudian Devan menyeringai membuat Rania bergidik ngeri.
"Benarkah?" tanya Devan tak yakin. "Bagaimana kalau aku membuktikannya sekarang."
"Apa maksud kam … , mmmphh"
Tanpa di duga, Devan langsung melahap bibir Rania dengan rakus sebelum wanita itu sempat menyelesaikan ucapannya. Rasanya devan ingin meluapkan kerinduannya terhadap Rania selama enam tahun ini. Meskipun Devan mengatakan membenci Rania, tapi di sudut hatinya yang terdalam, Devan masih sangat mencintai Rania.
Rania mulai kehabisan nafas, dia terus memukuli dada Devan meminta lelaki itu untuk melepaskannya. Tapi, bukannya dilepaskan, ciuman Devan malah semakin dalam. Tangan besarnya menahan tengkuk Rania agar wanita itu tak bisa bergerak.
Tak tahan lagi, Rania pun terpaksa menggigit bibir bawah Devan hingga berdarah. Pria itu mengerang kesakitan, inilah kesempatan Rania untuk kabur.
"Aku harus kabur sekarang," bisik Rania dalam hati, namun sebelum itu…
Aaarrgh.
Devan menjerit karena kakinya diinjak oleh Rania menggunakan heels 5 cm yang dikenakannya.
Sekuat tenaga Rania berlari saat Devan sedang kesakitan, Rania sengaja menginjak kakinya agar Devan tak bisa mengejarnya.
"Aaakh, sial!" umpat Devan karena kakinya terasa berdenyut dan Rania berhasil kabur. Devan tak bisa mengejarnya, dia hanya bisa melihat Rania yang berlari menjauh hingga bayangannya menghilang dalam kegelapan malam.
"Lari lah Rania, lari lah sejauh yang kamu bisa. Meski kamu berlari sampai ke ujung dunia sekalipun, aku pasti akan bisa menangkapmu," gumam Devan sambil menyeringai.
***
"Jam segini kok sudah balik Ran? Cepat banget, katanya pulang jam 10. Lah, ini masih jam 9 sudah pulang aja?" tanya Amelia ketika mendengar suara mobil Rania memasuki halaman rumah mereka. Malam itu Rania meminta Amel untuk menjaga anaknya di rumah karena dia harus pergi ke pesta pernikahan Karina, salah satu rekan kerjanya.
Rania tak menjawab, wanita itu terus berjalan melewati Amel, masuk kedalam rumah lalu menghempaskan tubuhnya di sofa.
Amel yang bingung melihat sahabatnya itu, hanya bisa mengikuti dari belakang dan ikut duduk di sebelah Rania.
"Gue kabur dari sana," jawab Rania sambil bersandar di sofa.
"Kabur dari apa?"
"Dari Devan," jawab Rania cepat.
"Maksud lo?" tanya Amelia lagi karena tak mengerti maksud ucapan sahabatnya itu.
"Tadi gue ketemu sama Devan." Rania menegakkan badannya dan menghadap ke arah Amel.
"Haah! Serius lo?" tanya Amel tak percaya.
"Serius, Mel. Gue ketemu sama dia di pestanya si Karina tadi."
"Kok bisa?"
"Gue gak sengaja nabrak dia pas gue mau ke toilet. Duh, Mel. Tatapannya itu loh, tajam banget. Sudah kayak harimau yang siap melahap mangsanya tau gak. Seram banget, iiih." Rania sampai bergidik mengingat tatapan tajam dari Devan tadi.
Rania pun menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Devan tadi saat di pesta, dan bagaimana dia berhasil kabur dari dekapan Devan.
"Gila lo, Ran. Kalo dia marah terus nyariin lo gimana?"
"Gue sih gak takut ya kalo dia mau nyariin gue, yang gue takutin itu gimana kalo seandainya dia tau tentang Al. Gue gak bisa bayangin Mel dan gue gak mau dia ngambil Al dari gue."
"Gak mungkinlah dia bakalan tau, bisa aja kan dia ngira nya lo udah nikah sama cowok lain terus punya anak. Lagi pula, belum tentu juga Devan dan Al bakalan ketemu," ujar Amelia dengan entengnya.
"Gak mungkin gimana sih, Mel. Devan pasti bakal langsung tau lah kalo Al itu anaknya. Lo gak lihat itu muka Al plek ketiplek sama muka nya Devan, cuma mata sama hidungnya doang yang mirip sama gue," omel Rania kesal.
"Eh, iya juga ya. Kok gue gak kepikiran sampe sana ya," balasnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Emang lo gak pernah mikir kan," ledek Rania.
"Sialan lo." Amel memukul Rania dengan bantal sofa yang ada di tangannya.
***
Di lain tempat dan waktu yang sama, Devan sedang berada di ruang kerjanya sambil memandangi sebuah foto.
Foto dirinya bersama seorang gadis berambut panjang. Dalam foto tersebut keduanya terlihat sangat bahagia, Devan memeluk gadis itu dari belakang dan meletakkan dagunya di atas bahu sang gadis.
"Rania, akhirnya kita bertemu lagi," gumam Devan seraya menggenggam erat foto tersebut.
Ya, Devan sedang memandangi foto dirinya bersama Rania, wanita yang pernah menjadi kekasihnya 6 tahun lalu.
Puas memandangi foto kenangannya bersama Rania, Devan menyimpan kembali foto tersebut ke dalam laci meja kerjanya.
Kemudian Devan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja dan menghubungi seseorang.
"Halo bos," jawab orang tersebut dari seberang telepon.
"Saya punya tugas buat kamu."
"Apa itu bos."
"Saya mau kamu cari informasi tentang seseorang. Detailnya akan saya kirim ke email kamu."
"Siap bos."
Setelah panggilan berakhir, Devan pun mengirimkan data-data seseorang pada orang suruhannya tersebut.
"Aku tidak akan pernah melepaskan kamu lagi, Ran. Tidak untuk yang kedua kalinya," gumam Devan sambil tersenyum miring.
***
"Pagi, Ran. Sudah mau berangkat kerja ya," sapa Rayyan, tetangga sekaligus sahabat Rania.
"Pagi juga Ray, iya nih. Tapi aku mau nganter Al ke sekolahnya dulu baru ke kantor," balas Rania.
"Om Ray gak adil, masa cuma mom yang disapa. Al malah di cuekin," omel Al sambil memanyunkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Ray terkekeh melihat bocah 5 tahun itu merajuk, wajahnya terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Rayyan pun mengangkat tubuh kecil Al dan menggendongnya.
"Pagi jagoan om Ray yang ganteng," sapa Rayyan membuat Al tersenyum.
"Pagi juga om," balasnya yang sudah kembali ceria.
"Mau om Ray antar gak."
"Mauuu…" dengan cepat Al menjawabnya, tanpa meminta persetujuan dari ibunya terlebih dahulu.
"Gak usah deh, Ray. Entar ngerepotin kamu lagi. Kamu kan juga harus berangkat kerja," tolak Rania karena merasa tak enak hati.
Padahal mereka bukan baru sehari dua hari kenal, tapi sudah lima tahun mereka bertetangga dan bahkan bersahabat.
Namun, Rania masih sering merasa sungkan setiap kali Rayyan menawarkan bantuannya untuk menolong dirinya.
"Kamu ini ya, Ran. Kayak baru sehari dua hari saja kenal sama aku. Sudahlah, biar aku saja yang antar Al ke sekolahnya. Kamu berangkat saja ke kantor, aku tau kamu hari ini ada pertemuan dengan klien kan."
"Iya sih. Ya sudah deh kalo gitu," Rania pun pasrah, percuma dia berdebat dan menolak bantuan Rayyan. Pria itu akan terus mendesaknya sampai akhirnya Rania berkata 'ya'.
"Tapi makasih loh ya, sebenarnya aku memang lagi buru-buru sih ini," sambung Rania.
"Nah kan, ya sudah sana pergi, biar Al aku yang urus," usir Rayyan membuat Al terkekeh.
"Hihihi. Mom diusir sama om Ray," bocah Lima tahun itu cekikikan dalam gendongan Rayyan.
"Berani kamu ketawain mommy." Rania menggelitiki putranya yang sudah meledeknya. Al hanya bisa tertawa kegelian dan menggeliatkan badannya demi menghindari serangan dari ibunya.
"Sudah, Ran. Cepat pergi, nanti kamu terlambat." Rayyan kembali mengingatkan Rania.
"Ya sudah, kalo gitu aku pamit ya," ucapnya pada Rayyan. Lalu ia beralih pada Al, "mom pergi dulu ya sayang. Muaach." Rania mengecup pipi sang anak.
"Aku gak di cium juga Ran," celetuk Rayyan dan langsung di hadiahi pukulan pada lengannya. Alvaro tertawa kesenangan melihat tingkah kedua orang dewasa itu. Tak ingin terlambat, Rania pun bergegas memasuki mobil dan mengendarainya dengan kecepatan normal.
Pagi ini dia ada jadwal pertemuan dengan klien dari perusahaan property yang ingin membangun sebuah apartemen.
Masih ada sisa waktu 30 menit lagi sebelum jadwal pertemuannya di mulai.
***
"Makasih banyak ya, Ran. Berkat kamu, meeting kita kali ini sukses dan klien sangat suka dengan presentasi kamu tadi," ucap Kiara memuji keberhasilan Rania.
Pagi ini Rania melakukan presentasi tentang contoh bangunan apartemen yang di inginkan kliennya. Mulai dari bentuk bangunannya, desain interiornya, fasilitas dan sebagainya. Tentu saja presentasinya itu sangat di sukai oleh klien mereka. Karena sudah sesuai seperti yang mereka minta bahkan melebihi ekspektasi mereka.
Untuk itu Kiara mengajak Rania makan siang di sebuah restoran tak jauh dari tempat meeting mereka tadi.
"Ah, mbak Kiara ini, jangan terlalu memuji saya seperti itu. Entar telinga saya jadi panjang kayak telinga kelinci gimana," canda Rania membuat Kiara tertawa.
"Hahaha, kamu ini bisa saja bercandanya,"
"Biar jangan serius kali mbak, soalnya serius sudah bubar. Hehehe."
"Ih, kamu ini ya." Kiara menepuk bahu Rania pelan. "Eh, Ran. Lihat deh cowok yang duduk disana itu, ganteng banget gak sih," Kiara menunjuk seorang laki-laki yang duduk tak jauh dari mereka.
Rania pun melihat ke arah yang ditunjuk oleh Kiara. Jika dilihat dari posisi mereka saat ini, yang terlihat hanyalah wajah sisi sebelah kanannya saja. Meskipun hanya terlihat dari samping, sudah bisa dipastikan kalau pria itu memiliki wajah yang tampan.
"Ganteng dari mananya sih mbak, yang kelihatan cuma sebelah doang. Jangan-jangan yang sebelah lagi mukanya rata. Hihihi."
"Hush, kamu ini. Hati-hati kalo ngomong, bisa gawat entar kalo dia dengar ucapan kamu," tegur Kiara.
"Gak mungkinlah dia bisa dengar mbak, kecuali kalo dia punya antena yang bisa menangkap sinyal suara di atas kepalanya."
Kedua wanita itu sedang asik mengomentari tentang pria yang duduk tak jauh dari mereka. Namun, siapa sangka tiba-tiba pria itu menoleh dan menampakkan seluruh wajahnya.
Baik Kiara maupun Rania, keduanya sama-sama tercengang saat melihat wajah pria itu. Kiara menatap dengan tatapan memuja, wajah tampan pria tersebut mampu membuatnya tak bisa berkedip sedikitpun.
"Ran, ganteng banget. Sumpah!" Bisik Kiara tepat di telinga Rania, "dia jalan ke sini Ran, jangan-jangan dia dengar apa yang kamu ucapkan tadi," bisiknya lagi.
Berbeda dengan Kiara, Rania terkejut saat tau siapa pria yang sedang mereka bicarakan. Jantungnya tiba-tiba berpacu dengan cepat, tak di pedulikan lagi apa yang sedang di bisikkan Kiara padanya. Sebisa mungkin Rania menutupi wajahnya sebelum pria itu melihatnya.
Namun, terlambat. Pria itu sudah melihat keberadaan Rania, bahkan mata mereka sempat saling bertemu walau hanya satu detik saja. Karena Rania langsung membuang pandangannya ke arah lain.
Pria itu tersenyum membuat Kiara yang salah mengira hampir menjerit kesenangan. Dia berpikir pria itu tersenyum padanya. Sedangkan Rania berdoa dalam hati dan berharap kalau pria itu tak mendatangi mejanya.
Tapi sepertinya doanya tidak dikabulkan oleh Tuhan, pria itu berjalan mendekati meja mereka. Berjalan dengan gagah dan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.
Kini pria itu sudah berdiri tepat di hadapan Rania, membuat Rania terpaksa harus mendongak.
"Hai! Kita bertemu lagi."
****
"Kamu beneran gak kenal sama cowok tadi, Ran?" tanya Kiara penasaran. Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil, menuju kantor mereka.
"Enggak. Aku gak kenal," jawab Rania cepat.
"Tapi kok, kayaknya cowok tadi kenal sama kamu deh."
Rania bingung harus menjawab apa, sepertinya Kiara tidak akan berhenti bertanya jika Rania tidak memberikan jawaban yang memuaskannya.
"Aku beneran gak kenal mbak, cuma kebetulan pernah ketemu di pestanya Karina kemarin. Aku gak sengaja nabrak dia, mungkin dia masih marah sama aku," jawab Rania berbohong.
Kiara manggut-manggut mendengar jawaban Rania, sepertinya wanita itu mempercayai ucapannya. Karena setelahnya Kiara tak menanyakan apapun lagi hingga mereka sampai di kantor.
Rania menghempaskan tubuhnya di kursi kerja miliknya, tubuhnya terasa lelah begitu juga dengan pikirannya yang sejak tadi terus mengingat pertemuan kedua nya dengan Devan di restoran tadi siang.
"Apa kabar Rania," tanya Devan, lelaki itu masih tetap berdiri di depan Rania.
"Baik," jawab Rania singkat. Meskipun ia terlihat tenang, tapi sebenarnya dalam hati ia sedang berdoa semoga Devan bisa segera pergi dari hadapannya.
"Bisa bicara berdua sebentar?" tanya Devan sambil melirik Kiara, seolah memberi isyarat agar Kiara pergi dan memberikan waktu mereka untuk bicara berdua.
Kiara yang peka dengan isyarat itu pun langsung berpamitan dengan Rania dan akan menunggu di dalam mobil. Awalnya Rania menolak dan meminta Kiara untuk tetap tinggal, namun melihat tatapan mata Devan yang tajam membuat Kiara sedikit takut dan pergi meninggalkan Rania dan Devan berdua saja.
Kini tinggal Rania dan Devan berdua, tak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Rania yang sibuk menundukkan wajahnya dan menghindari tatapan tajam dari Devan, sedangkan Devan masih setia menatap wajah Rania, wajah yang sangat ia benci sekaligus ia rindukan.
"Sepertinya takdir mempertemukan kita kembali, Rania." ucap Devan dengan senyum sinis nya.
"Saya malah berharap kalau ini adalah pertemuan terakhir kita," balas Rania dengan masih menunduk.
"Oh ya?"
"Ya."
"Bagaimana kalau kita taruhan."
Rania mendongak menatap Devan penuh tanya.
"Jika nanti kita bertemu untuk yang ketiga kalinya, saya mau kamu menjadi asisten pribadi saya," ujar Devan menampilkan seringainya.
Rania menatap tajam Devan, rasa takut yang tadi ia rasakan menghilang begitu saja dan berganti dengan perasaan marah dan benci terhadap laki-laki yang ada di hadapannya ini.
"Jangan harap. Karena saya bisa pastikan kalau hari ini adalah terakhir kali kita bertemu," desis Rania lalu pergi dari hadapan Devan.
"Menarik. Kita lihat saja nanti," gumam Devan sambil memandangi punggung Rania yang semakin menjauh.
***
"Ini bos, data-data orang yang anda minta," ucap seseorang sambil memberikan sebuah amplop besar berwarna coklat.
Devan menerima amplop tersebut lalu membukanya, kemudian ia pun membacanya. "Hanya segini saja informasi yang bisa kamu dapatkan?" tanya Devan pada orang suruhannya tersebut.
"Maaf bos, tapi memang tidak ada informasi apapun selain yang tertera di kertas itu," jawab orang itu tertunduk.
"Apa kamu yakin, sudah mencarinya dengan benar?"
"Yakin bos," jawabnya yakin.
Devan menghela nafasnya karena informasi yang ingin ia ketahui ternyata tidak sesuai dengan harapannya.
"Sepertinya aku harus mencari tau sendiri," gumam Devan. "Ya sudah, kamu boleh pergi," perintah Devan, orang suruhannya itu pun membungkukkan badannya lalu pergi dari sana.
"Sepertinya kamu sengaja menutup informasi tentang dirimu. Kita lihat saja Rania, akan aku pastikan kamu tidak akan bisa lepas lagi dariku. Jangan panggil aku Devano Dirgantara jika tidak bisa mendapatkan kamu kembali," monolog Devan sambil menyeringai.
***
"Mom, I'm hungry," ucap Alvaro, bocah lima tahun yang akrab disapa Al itu adalah anak semata wayang Rania. Anak itu sedang bermain mobil-mobilan di ruang tamu. Sedangkan sang ibu sedang sibuk membuat desain sebuah gedung bertingkat untuk kliennya. Saking seriusnya ia bekerja sampai lupa mengajak anaknya untuk makan malam. Rania terpaksa harus membawa pekerjaannya ke rumah. Karena ia tak mungkin lembur di kantor, sementara anaknya tak ada yang menjaga.
"Iya, sebentar sayang," balas Rania.
Rania pun meninggalkan pekerjaannya sejenak, ia beranjak ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk anaknya.
"Al, makan dulu sini," teriak Rania memanggil sang anak. Al pun berlari menghampiri ibunya di ruang makan.
"Cuci tangannya dulu sayang," tegur Rania mengingatkan sang anak yang langsung ingin melahap makanannya.
"Oh iya lupa, hehehe," ucap Al cengengesan. Bocah itu pun langsung turun dari kursinya dan berlari menuju wastafel. Ia menaiki bangku kecil yang digunakan sebagai pijakan karena tinggi badannya belum bisa menggapai kran air yang ada di wastafel tersebut.
"Sudah mom," ucapnya sambil menunjukkan tangannya yang sudah bersih setelah dicuci.
"Ya sudah, habiskan makanannya."
"Siap, mommy," Al pun segera melahap makanannya, nasi dengan lauk ayam goreng favoritnya serta sayur bayam.
Rania begitu senang melihat anaknya yang memakan makanannya dengan lahap, itu artinya sang anak sangat menyukainya. Sebenarnya Al bukan termasuk anak yang suka pilih-pilih makanan, dia akan memakan apapun yang dimasakkan oleh ibunya.
Namun, menu ayam goreng dan sayur bayam adalah makanan favorit Al, ditambah dengan sambal bawang buatan Rania. Al melahap makanannya hingga tandas, anak itu kekenyangan sampai bersendawa.
"Hehe. Sorry mom," ucap Al malu membuat Rania geleng kepala.
Selesai makan Al langsung menyimpan piring kotornya di wastafel.
"Tugas sekolah kamu sudah di kerjakan, Al?"
"Sudah mom," jawab Al sambil menguap. Rania yang menyadari anaknya sudah mengantuk pun membawa sang anak ke kamarnya.
"Kita tidur yuk, kayaknya kamu sudah mengantuk nih," ajak Rania. Keduanya berjalan bersama menuju kamar sang anak. Kamar bernuansa tata Surya dengan dinding yang di cat berwarna biru gelap dan gambar tata Surya seperti matahari, bulan, bintang dan planet-planet, tak lupa juga ada gambar astronot. Meskipun baru berusia lima tahun, tapi Rania sudah mengajarkan anaknya itu mandiri dan tidur terpisah dengan ibunya.
Rania membaringkan anaknya di tempat tidur. Lalu ia pun berbaring di sebelah anaknya sambil menepuk-nepuk sang anak agar cepat tidur.
"Mom," panggil Al yang ternyata belum tidur.
"Ya sayang," jawab raniya sambil tak berhenti menepuk-nepuk sang anak.
"Apa Al punya ayah?" tanya Al membuat Rania terdiam. Ia tak tau harus menjawab apa. Karena baru kali ini Al menanyakan tentang ayahnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
Al bangkit dan duduk di kasur nya menghadap sang ibu, "teman-teman Al semuanya punya ayah. Mereka di antar ke sekolah sama ayahnya, sedangkan Al hanya di antar sama mom atau kadang-kadang sama om Ray," ucap Al tertunduk.
"Setiap hari mereka cerita tentang ayah mereka, bermain bersama ayah, belajar bersama ayah, Al juga ingin seperti mereka. Al juga ingin punya ayah seperti mereka," ucap Al sendu.
Tiba-tiba tubuh Al bergetar menandakan bahwa dia sedang menangis, Rania pun langsung membawa anaknya ke dalam pelukannya. Sebenarnya Rania tak tega melihatnya, Al adalah anak berusia lima tahun yang tak pernah melihat dan mengetahui seperti apa ayahnya. Tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, sejak lahir bahkan sejak dalam kandungan hingga Al sebesar ini, anak itu tak pernah sekalipun bertanya kemana sang ayah pergi. Sehingga Rania pun bisa tenang menjalani hari-harinya bersama sang anak.
Rania pikir, dengan berperan sebagai ibu sekaligus ayah, itu sudah cukup untuk Al. Tapi ternyata semua itu berbeda, melihat teman-temannya yang memiliki ayah membuat Al mencari dimana keberadaan ayahnya.
Rania bingung, tak tau harus mengatakan apa. Apakah ia harus menceritakan hubungan rumit orang dewasa pada anak usia lima tahun, apakah Al akan mampu menerimanya.
"Mom, apakah Al punya ayah?" Al mendongak menatap sang ibu dan mengulangi pertanyaan yang sama karena sejak tadi Rania tidak menjawabnya.
"Sayang, maafkan mom ya," ucap Rania lembut. "Suatu hari nanti kamu pasti akan bertemu dengan ayah kamu," ucapnya lagi.
"Memangnya ayah kemana, kenapa dia tidak pernah ada bersama kita."
"Ayah kamu … " Rania memikirkan alasan yang tepat agar bisa diterima oleh anak seusia Al. "Ayah kamu sedang berada di tempat yang jauh, dan untuk saat ini dia belum bisa pulang dan berkumpul bersama kita," akhirnya Rania bisa memberikan alasan yang masuk akal.
"Ayah kerja di tempat yang jauh ya mom?" tanya Al yang percaya dengan ucapan ibunya.
"Iya," jawab Rania yang akhirnya bisa bernafas lega. Untung saja Al percaya dengan ucapannya.
"Sekarang kamu tidur ya, sudah malam dan besok kamu harus sekolah kan," bujuk Rania dan langsung di turuti Al. Anaknya itu langsung memejamkan matanya dan terlelap hingga terbuai ke alam mimpi.
Setelah memastikan Al benar-benar sudah tidur, Rania pun beranjak dari tempat tidur Al dan menarik selimut hingga menutupi sebatas dada anaknya. Ia mematikan lampu utama dan menggantikannya dengan lampu tidur.
'Cup'
Rania mengecup kening anaknya seraya berbisik, "selamat tidur sayang, semoga kamu mimpi indah." Setelah itu baru lah Rania beranjak dan keluar dari kamar sang anak.
***
Di dalam kamarnya Rania sedang memikirkan pertanyaan Al mengenai ayahnya. Selama ini ia tenang-tenang saja saat mereka hanya tinggal berdua saja. Rania tak memikirkan anaknya yang semakin tumbuh besar dan semakin mengerti tentang sebuah keluarga yang berarti ada ayah, ibu dan anak. Selama ini keluarga yang dipahami Al hanyalah ibu dan dirinya tanpa seorang ayah.
Namun, saat anak itu sudah besar ia bisa melihat perbedaan antara keluarganya sendiri dengan keluarga teman-temannya. Saat ia melihat ada sosok ayah di keluarga temannya, saat itulah Al mulai menanyakan dimana keberadaan ayahnya.
"Maafkan mom sayang, maafkan mom yang tak bisa memberikanmu keluarga yang lengkap. Mom terpaksa harus membawamu pergi jauh dari ayahmu, ini semua mom lakukan agar kamu bisa tetap hidup dan lahir ke dunia ini," monolog Rania sambil memandangi foto Al saat baru lahir.
***