“Saya terima, nikah dan kawinnya Azanie Layli binti Parsa Zakaria dengan mas kawin berupa satu set perhiasan emas dibayar tunai!”
Gaungan kata sah membahana di seantero gedung yang sudah didekorasi secara mewah itu. Doa dilantunkan dan kemudian tradisi-tradisi lainnya dilanjutkan.
Innara memandang layar di hadapannya dengan hati teriris pedih. Bagaimana tidak, seharusnya, dirinyalah yang muncul di dalam layar itu. Menjadi wanita paling berbahagia di hari pernikahannya. Namun sayangnya, takdir berkata tidak. Belum waktunya dia untuk bahagia.
Innara mematikan layar dengan remote di tangannya. Jika saja dia tidak bisa mengendalikan diri, mungkin saat ini yang akan dilakukannya adalah melempat remote yang ada di tangannya ke layar sehingga layar itu rusak. Tapi untuk apa?
Alih-alih menuruti emosi dan kemarahannya, Innara memajukan kursi rodanya dan meletakkan remote tepat di samping televisi layar lebar yang ada di ruang keluarganya.
Innara tidak bisa mengatakan kalau paket dikirim ke rumah secara tidak sengaja. Adiknya—atau lebih tepatnya, adik sambungnya—tahu bahwa Innara saat ini tidak berdaya dan hanya bisa berdiam diri saja di rumah sehingga pastinya Azanie memerintahkan pihak WO yang mengurusi pernikahannya untuk mengirimkannya dengan jasa kurir tepat di siang hari dimana tidak ada orang lain disana selain Innara dan asisten rumah tangganya.
Innara memutar kursi rodanya dan ia berhadapan langsung dengan asisten rumah tangga yang sudah mengurusnya sejak kecil.
“Non,” lirih wanita paruh baya itu dengan tatapan sendu.
Innara mengangkat sudut mulutnya, menunjukkan senyum miris. Apalagi yang bisa dia lakukan? Apa dia harus memaki pembantunya hanya karena nasib sial yang menimpanya? Tentu tidak. Wanita itu tidak salah. Takdir Innara lah yang memang tidak beruntung.
“Aku baik, Bi. Bibi gak usah khawatir.” Ucapnya seraya melajukan kursi roda ke kamarnya. Kamar yang terpaksa diubah semenjak kecelakaan yang dialaminya.
“Non butuh sesuatu? Mau makan sesuatu?” Tanya Bi Tuti lagi seraya berjalan mendekat.
“Gak usah, Bi. Nara mau tidur aja.” Jawabnya dan memajukan kursi rodanya secepat yang tangannya mampu.
Sebisa mungkin Innara menutup pintu kamarnya dengan pelan. Lagi-lagi, dia harus mengendalikan emosinya meskipun yang diinginkannya saat ini adalah membanting pintu dengan keras.
Ia memajukan kursi roda menuju tempat tidur, memasang rem dan kemudian memindahkan tubuhnya dengan susah payah ke atas tempat tidur dan berbaring menatap langit-langit dengan nyalang.
Innara sudah lelah menangis. Dan ia pikir, ia sudah tidak lagi memiliki airmata. Tapi rupanya ia salah, airmata itu masih saja jatuh dengan begitu deras, sehingga yang bisa Innara lakukan adalah menutup wajahnya dengan menggunakan bantal. Menghalau suara isakan yang keluar tak tertahankan dari mulutnya.
Dadanya sesak. Rasanya teramat sangat sakit.
Pesta mewah yang ia siapkan untuk dirinya sendiri, yang ia buat seindah mungkin sehingga dia bisa menjadi seorang ratu akhirnya dimiliki oleh orang lain. Pernikahan yang ia bayangkan akan berjalan dengan indah, tidak lagi menjadi miliknya. Semua mimpi yang sudah ia buat akhirnya menjadi milik adik tirinya, Azanie Layli.
Bohong kalau Azanie tidak menginginkannya. Innara tertawa kecut. Sejak awal—entah kapan bermula dan karena apa—Azanie selalu menginginkan apa yang menjadi milik Innara. Entah apa alasannya, adik tiri yang dulu bersikap manis padanya berubah menjadi adik tiri yang sinis, seperti yang sering terjadi di drama-drama.
Innara memutar tubuhnya. Ia memandang jendela yang menghadap taman indah yang ditata rapi oleh ibunya. Ia tidak pernah membayangkan kalau semua hal indah akan berubah menjadi seperti ini. Tapi inilah takdirnya. Inilah yang harus Innara hadapi. Kenyataan, bahwa ia bukan hanya kehilangan calon suami dan kehidupan pernikahan yang berbahagia, tapi ia juga harus kehilangan adik tiri, menjaga jarak dengan ibu kandung dan ayah sambungnya dan yang tidak kalah buruknya, ia mengalami cacat fisik akibat kecelakaan yang ia alami.
Suasana taman kota di hari Minggu selalu saja ramah. Innara kecil menggoyangkan kaki mungilnya yang menggantung di atas jalanan batu di bawahnya. Kepalanya tertunduk memandang pita yang menjadi penghias sepatu berwarna merah mudanya. Dia bukannya tidak menikmati keadaan di sekitar, hanya saja, jika dia mendongakkan kepala, dia takut menangis karena merasa iri.
Di depannya, banyak sekali anak seusianya yang sedang asyik bermain dengan orangtua mereka. Ayah dan ibu, dan juga adik. Sementara dirinya, dia hanya bisa duduk sendirian, menunggu sang nenek datang kembali setelah menjanjikan akan membelikannya eskrim.
"Nara kenapa?" pertanyaan lembut itu membuat Innara mendongak. Mata kelabu sang nenek memandangnya dengan khawatir. "Ada yang salah? Nara sakit?" tanya sang nenek seraya menyodorkan eskrim rasa coklat padanya.
Innara mencoba mengembangkan senyumnya dan menggelengkan kepala. "Nara gak sakit, Nin." Jawabnya dengan suara ceria yang dia buat-buat.
Ya, untuk anak berusia tujuh tahun, Innara sudah bisa berakting dengan lihai. Ia pandai menutupi perasaannya yang sebenarnya dan selalu berusaha menunjukkan senyumnya pada dua orang wanita super yang menjadi pelindungnya.
"Disini panas, makanya Nara nunduk." Jawabnya seraya membuka bungkusan es krim berbentuk corong tersebut. Neneknya hanya tersenyum. Saat rambut Innara jatuh menghalangi pipinya, neneknya kemudian mengulurkan tangan dan memasangkan jepitan di rambutnya.
"Nara kecewa ya, karena gak bisa kesini sama Bunda?" tanya neneknya lagi.
Innara tidak menjawab pertanyaan sang nenek dan memilih untuk menjilat eskrim di tangannya sebelum es itu meleleh dan jatuh pada sela-sela jarinya.
"Nara harus inget, Bunda kerja buat Nara. Buat biaya sekolah Nara. Kan Nara dulu bilang kalo Nara juga mau jadi dokter kayak Bunda, bukan begitu?" tanya neneknya lagi yang dijawab anggukkan Innara.
Ya, ibunya adalah seorang dokter muda yang sedang mengambil spesialis kedokteran. Ia belum bisa membuka praktiknya sendiri karena masih menjalani masa residen. Saat masa akhir kuliahnya, ibunya bertemu dengan ayahnya yang kala itu sedang menengok saudaranya yang sedang proses melahirkan. Dan ibunya selalu mengatakan bahwa saat itulah mereka saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah beberapa bulan setelahnya.
Ayah Innara adalah seorang TNI Angkatan Laut. Dan saat usia Innara dua tahun, ayahnya tewas dalam baku tembak saat sedang menjaga perbatasan. Ada seorang penyelundup yang mengambil ikan dari perairan Indonesia secara illegal, dan saat mereka tertangkap, mereka ternyata bersenjata lengkap.
Menurut kesaksian rekan ayahnya, ayahnya yang kala itu sedang tak siap menjadi sasaran para penjahat. Beliau sudah mendapatkan pertolongan pertama, namun karena keadaan darurat dan tembakan yang mendekati jantung membuat ayahnya mengalami pendarahan hebat, ayahnya meninggal sebelum helikopter yang menjemputnya sampai ke daratan.
Innara jelas tidak mengingat kejadian itu. Dia mendengar semua itu dari cerita ibu dan juga neneknya, juga dari keluarga mendiang ayahnya. Di mata semua orang, ayah Innara adalah pria yang hebat. Ayah yang sayang sekali terhadap putrinya dan suami yang sangat mencintai keluarga. Dan di mata negara, ayah Innara adalah seorang pahlawan yang patut dibanggakan.
Dan ya, meskipun Innara tidak mengenal ayahnya, meskipun dia hanya mendengar tentangnya dari orang-orang di sekitarnya, Innara menjadi sangat mencintai pria itu. Ia bahkan menyimpan foto sang ayah di kamarnya, dan ibunya tak pernah melarang itu.
Hubungan ibunya dan juga keluarga mendiang ayahnya juga sangat baik. Meskipun tidak memiliki ayah, Innara tetap mendapatkan limpahan kasih sayang dari kedua neneknya. Ia tidak punya kakek, karena kakek dari pihak ayahnya sudah berpulang jauh sebelum Innara lahir. Sementara kakek dari pihak ibunya, meninggal dua tahun terakhir, dan hal itu membuat Innara kehilangan sosok ayah.
Ibu Innara anak tunggal. Jadi Innara tidak punya paman atau bibi. Sementara dari ayahnya, Innara punya dua orang bibi. Namun keduanya mengikuti suami mereka sehingga mereka tinggal berjauhan dan hanya bisa bertemu sekali dua kali kalau mereka datang ke Jakarta. Dan beberapa bulan yang lalu, ibu ayahnya itu pun diajak pergi oleh salah satu bibinya karena tidak tega ditinggal sendirian di Jakarta. Jadi kini, Innara hanya tinggal bersama ibu dan nenek dari pihak ibunya.
Innara sebenarnya tidak kekurangan cinta. Yang ia dapat dari ibu dan neneknya sudah lebih dari cukup. Tapi tetap saja, ia selalu merasa iri jika melihat teman sekolahnya datang ke sekolah atau pulang dengan dijemput oleh ayah mereka. Menceritakan akhir pekan mereka bersama ayah yang selalu terdengar menyenangkan di telinganya. Hal itu membuat Innara juga ingin tahu bagaimana rasanya dicintai seorang ayah dan berandai-andai ayahnya masih ada bersamanya.
"Nin, kalo misal Ayah masih ada, apa Bunda bakal sesibuk sekarang?" tanyanya dengan polosnya.
Nyonya Saidah mengusap kepala cucunya dengan pelan. Jadi inikah yang membuat cucu tersayangnya terdiam sejak tadi? Pikirnya dalam hati. Wanita paruh baya itu menyunggingkan senyumnya dan mengangguk. "Bunda masih akan sesibuk ini seandainya Ayah masih ada.” Jawabnya jujur. “Karena inilah pekerjaannya. Nara tahu kan kalau pekerjaan dokter itu adalah membantu mereka yang kesakitan?" Innara menganggukkan kepala. "Bahkan jika misalkan saat ini, Bunda tidak ada pekerjaan, lalu ada orang di depan sana jatuh dan membutuhkan pertolongan, maka Bunda akan bantu mereka. Itulah pekerjaan Bunda."
Innara kembali menganggukkan kepala. "Kalau Ayah masih ada, apa Nara bakal punya adik?" tanyanya lagi ingin tahu. Nyonya Saidah kembali tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Nara mau punya adik?" tanyanya ingin tahu. Nara hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. "Kenapa?" tanyanya lagi.
"Temennya Nara punya adik, dan dia bilang dia ada temennya kalo Mama sama Papanya sibuk. Nara juga mau punya temen main." Jawabnya apa adanya.
"Kalau Nara punya adik, memangnya Nara mau ngasuh adik Nara? Adik bayi itu sukanya ngeces, kalo pup dia bau, kalo nangis dia suka kenceng-kenceng nangisnya. Nara gak apa begitu?" tanya Nyonya Saidah lagi sebagai umpan. Nara kembali menganggukkan kepalanya dengan antusias. "Kalau begitu, minta Bunda nikah lagi, minta Bunda kasih Nara adik, biar nanti Nara gak kesepian lagi." Ucap neneknya yang hanya dijawab Innara dengan tatapan bingung.
"Bunda gak akan marah kalo Nara minta adik?" tanyanya ingin tahu.
Nyonya Saidah tersenyum dan menggelengkan kepala. "Bunda gak akan marah, tapi Nin gak bisa janji apa Bunda bakal ngabulin apa yang Nara mau atau tidak." jawabnya bijak. "Tapi, segala sesuatunya harus dicoba dulu, bukan begitu?" tanyanya yang dijawab anggukkan antusias oleh Nara.
Dan perbincangan itu Innara realisasikan beberapa hari kemudian. Ibunya sedang ada di rumah karena beliau tidak memiliki jadwal jaga di rumah sakit. Dan seperti kegemarannya, jika sedang berada di rumah, ibunya suka sekali membuat kue. Kue apapun itu, entah itu kue basah atau kue kering.
Seperti siang ini, ibunya sedang berkutat dengan adonan dan cetakan dan Innara memilih untuk mendekati sang ibu, duduk di seberangnya, melipat kedua tangannya di atas meja makan dan memperhatikan sang ibu dalam diam.
"Kenapa?" tanya ibunya dengan senyum geli di wajahnya. Innara terlihat seperti mendiang suaminya jika sedang menginginkan sesuatu. Duduk diam dan hanya memandangnya sampai ditanya.
"Bunda," panggil Innara dengan suara kecilnya.
"Iya, Nara Sayang." Jawab ibunya dengan nada lambat.
"Bunda bisa kasih Nara adik?" tanyanya dengan polosnya yang membuat Sita tertegun.
"Adik?" tanyanya dengan dahi berkerut memandang putri semata wayangnya. Innara menganggukkan kepala cantiknya dengan antusias. "Innara mau adik? Kenapa?" tanyanya bingung.
"Nara mau punya temen, dan kata temen Nara, adik juga temen. Bunda bisa ngasih Nara adik?"
Sita kemudian tersenyum dan kembali dengan pekerjaannya. "Ngasih adik itu gak semudah beli boneka, Sayang."
Innara menganggukkan kepala. "Iya, Bunda harus nikah dulu, trus bisa punya adik." Jawabnya masih dengan nada polosnya. Sita menganggukkan kepala mengiyakan ucapan putrinya. "Innara juga mau kok punya Ayah baru." Lanjutnya yang membuat Sita kembali membeku di tempatnya.
Ia memandang putrinya dan kemudian melihat ke belakang dimana ibunya yang sedang duduk di sofa tampak tertunduk dengan bahu bergetar. Tentu saja putrinya tidak akan sepolos itu memiliki sebuah ide 'brilian' jika tidak ada pendorongnya. Dan siapa lagi yang bisa mendorong Innara jika bukan ibunya.
"Sayang, tapi menikah tidak semudah itu." ucap Sita lagi dengan nada lemah lembutnya.
Innara lagi-lagi menganggukkan kepala. Tangan mungilnya terulur dan mencolek adonan yang ada di dalam mangkuk, lalu kemudian ia masukan ke dalam mulutnya. Hal yang membuat Sita kembali teringat pada kebiasaan mendiang suaminya.
"Tapi Nin bilang, sesuatu gak akan kita tahu hasilnya kalo gak dicoba. Makanya, Bunda coba aja dulu nikah, trus coba kasih Nara adik. Ya?" ucap gadis kecil itu dengan polosnya yang kembali membuat Nyonya Saidah terbatuk menahan tawa.
Sita hanya bisa memandang putrinya dengan senyuman di wajahnya. Ia mengangguk pelan dan mendapati senyum cerah di wajah putrinya. Seketika Innara bersorak gembira dan berlari mendekati sang nenek yang sejak tadi sudah mendengarkan percakapan ibu dan dan anak itu.
"Nin, Bunda bilang Bunda mau coba. Jadi nanti, Nara beneran punya Ayah baru sama adik baru kan ya?" tanyanya yang dijawab anggukkan oleh neneknya. Nyonya Saidah menoleh ke belakang, memandang putri semata wayangnya yang balas mencebik seraya memutar bola matanya pada sang ibu.
Tahun berlalu begitu saja, Innara kini sudah duduk di kelas enam SD. Setahun lagi dia akan masuk Sekolah Menengah Pertama dan dia sudah memiliki targetnya sendiri untuk masuk ke sekolah favorit yang ada di kotanya. Karena itulah dia belajar dengan sangat giat supaya bisa masuk kesana karena dari yang Innara dengar, ujian untuk masuk ke sekolah itu amatlah ketat. Selisih nol koma satu saja bisa membuatnya terhapus dari daftar siswa baru.
Di pertengahan semester, Innara cukup dibuat terkejut kala ibunya datang dengan membawa seseorang untuk dia perkenalkan pada Innara dan juga sang nenek. Itu adalah sosok pria tinggi besar dengan wajah ramah yang jika tersenyum akan membuat orang yang melihatnya turut tersenyum juga. Namanya Om Parsa Zakaria. Itulah yang ibunya beritahukan.
Innara menyukai Om Parsa, beliau pria yang baik dan perhatian. Dan di kali kedua pertemuan mereka, Om Parsa mengatakan bahwa Om Parsa memiliki seorang anak perempuan yang usianya dua tahun lebih muda dari Innara, namanya Azanie Layly. Dinamakan Azanie karena dalam bahasa Persia Azanie berarti perhiasan dan Layly artinya malam hari. jadi Azanie Layly adalah perhiasan yang terlahir saat malam hari.
Om Parsa juga mengatakan kalau ibu Azanie sudah tidak ada, sama seperti ayah Innara. Beliau meninggal dunia saat ibu Azanie akan memberikan adik untuk Azanie.
"Apa Azanie punya adik?" tanya Innara ingin tahu. Om Parsa menggelengkan kepala.
"Ibu Azanie dan adiknya tidak bisa selamat. Karena itulah sekarang hanya ada Om sama Azanie saja. Nara mau kenalan sama anaknya Om?" tanyanya dengan lembut. Innara hanya mengangguk antusias. Memikirkan dia akan punya teman dan sama-sama perempuan jelas membuatnya senang. Om Parsa kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan wajah seorang gadis cantik yang memiliki rambut kecoklatan dan kulit putih dengan mata lebar. Gadis itu tersenyum dan menunjukkan giginya yang ompong yang membuat Innara ikut tersenyum dibuatnya.
"Kalo Innara mau, nanti Om bawa Azanie main. Kalian bisa ketemu dan main sama-sama. Nara mau?" tanya pria itu lagi.
Innara kembali mengangguk antusias. Tanpa ia tahu kedua wanita yang selama ini membesarkannya hanya memperhatikan di salah satu sudut rumah dan mendengarkan. Keduanya tampak terlihat lega melihat cara Parsa mendekati Innara dan juga bagaimana respon positif yang ditunjukkan Innara pada pria pilihan ibunya.
Dan seperti yang sudah dijanjikan, keduanya pun di pertemukan.
Innara menyukai Azanie pada pertemuan pertama. Innara yang tertutup dan sedikit bicara, Azanie yang ceria dan sangat terbuka membuat hubungan itu tidak timpang. Kedua orang dewasa yang memperhatikan itu pun tak kalah bahagianya.
Waktu terus berlalu, dan proses pendekatan mereka rasa sudah cukup. Waktunya membahas pembicaraan yang lebih serius. Parsa dan Sita kemudian mengemukakan niatannya pada kedua gadis yang ada di hadapannya. Mereka meminta pendapat pada putri mereka masing-masing tentang kemungkinan untuk tinggal bersama sebagai sebuah keluarga. Menjelaskan secara pelan-pelan pada keduanya bahwa pada akhirnya Parsa dan Sita akan menikah. Dan dengan antusias keduanya mengangguk setuju. Maka kemudian terjadilah rencana itu. Parsa dan Sita menikah, dalam sebuah acara yang megah di sebuah hotel bintang lima yang ada di kota mereka tinggal.
"Bukankah ini indah?" suara kekaguman Innara diangguki oleh Azanie kedua bocah itu kini mengenakan pakaian yang sama yang sengaja dibuat khusus untuk acara pernikahan kedua orangtua mereka.
"Nanti, kalau sudah besar, Zanie juga akan minta Papa buat bikin pesta seperti ini." jawab Azanie dengan matanya bulatnya yang berbinar. Innara memandang adik tirinya dan tersenyum lantas menganggukkan kepala. Mereka lantas mendekati pelaminan dimana kedua orangtua mereka melambaikan tangan memanggil mereka untuk mendekat.
Enam tahun kemudian.
Suasana rumah di hari minggu memang selalu ramai. Ibu Innara yang kini sudah membuka tempat praktik sendiri sudah tidak lagi terlalu sibuk dengan pekerjaan di rumah sakit. Dan ayahnya juga selalu ada di rumah setiap akhir pekan karena dia memilih untuk menghabiskan watktu bersama keluarganya, terlebih setelah si kembar lahir. Ayahnya semakin betah di rumah dan membantu ibunya mengasuh anak mereka.
Innara dan keluarga barunya juga sudah pindah ke kediaman baru. Setelah menikah Ayah Parsa, Ayah Parsa memutuskan untuk membeli rumah baru yang lebih besar dari rumah yang selama ini Innara dan ibunya tinggali. Innara diberikan kamarnya sendiri, begitu juga dengan Azanie. Sementara nenek Innara memilih untuk tidak ikut dan tinggal sendirian di rumah yang dibelikan mendiang ayah Innara.
Kehidupan keluarga Innara, setelah ia memiliki Ayah Parsa jelas bisa dikatakan sempurna. Ayah Parsa adalah sosok pria yang baik. Beliau tidak pernah membedakan Innara dan Azanie. Dalam segala hal beliau selalu berbuat adil. Jika salah satu diantara mereka melakukan kesalahan—yang jarang sekali terjadi—ayahnya itu selalu menegur dengan cara yang lemah lembut dan baik-baik.
Ayahnya juga tidak pernah memaksakan kehendak pada Innara atau Azanie. Saat Innara dan Azanie menginginkan sesuatu—selama itu masuk akal dan bisa dipenuhinya—maka beliau akan mengabulkannya. Dan ketika permintaan Innara ataupun Azanie dianggapnya tak masuk akal, beliau akan memberikan pengertian atas alasan kenapa beliau menolak untuk mengabulkannya.
Dan hal itu masih tetap berlaku setelah ibu Innara kemudian hamil dan dinyatakan memiliki bayi kembar.
Semua orang yang Innara kenal—terlebih teman-teman sekolahnya—selalu menakutinya tentang ayah tiri yang hanya akan mencintai anak bawaannya saja atau hanya akan mencintai ibu Innara saja tanpa memedulikan Innara sama sekali. Tapi hal itu tidak pernah terbukti. Justru yang mengecewakan Innara adalah perubahan yang ada pada diri Azanie.
Adik sambung berparas cantik dan selalu bersikap manis itu perlahan berubah sikap. Saat Innara masuk ke sekolah menengah pertama, adik sambungnya yang saat itu masih duduk di bangku SD masih bersikap manis dan bahkan sering bermanja padanya seolah mereka adalah adik kakak kandung. Namun ketika Innara duduk di kelas tiga SMP dan adiknya masuk ke sekolah yang sama dengannya atas keinginannya sendiri, Azanie berubah.
Di sekolah, gadis itu bersikap seolah tidak mengenalnya. Bahkan saat mereka berpapasan, gadis itu tampak enggan menyapanya. Fakta bahwa ia tidak pernah mengatakan hubungannya dengan Azanie pada orang lain selain teman dekatnya membuat mereka bertanya-tanya "Kenapa dengan Azanie?"
Tentu saja mereka heran. Mereka bukan hanya sekali dua kali bertemu dengan Azanie saat mereka datang berkunjung ke kediaman Innara. Dan sampai saat sebelum Azanie masuk sekolah, gadis itu masih bersikap baik dan ramah pada teman-temannya. Tapi setelah masuk SMP, Azanie yang mereka kenal jelas berubah.
Innara tidak pernah banyak berkomentar. Pikirnya mungkin Azanie ingin membatasi dirinya saat di sekolah. Dan ia tidak keberatan akan hal itu. ia yakin kalau Azanie akan datang padanya jika memang dia memerlukan bantuan Innara. Tapi faktanya hal itu tidak pernah terjadi.
Ada yang aneh dengan adik sambungnya itu. Jika kedua orangtuanya bertanya tentang bagaimana sekolahnya, dia selalu bicara seolah hubungan mereka di sekolah baik-baik saja. Padahal faktanya tidak demikian.
Setahun itu Innara bertahan dengan sikap aneh Azanie, sampai kemudian dia masuk sekolah menengah atas favorit. Dua tahun masa sekolah SMA nya, Innara menikmatinya sebagaimana anak seusianya. Ia bergaul dengan teman-temannya. Ia sesekali ikut nongkrong di café bersama mereka diluar kerja kelompok dan ia menyukai itu. Hanya satu hal yang tidak Innara lakukan saat SMA, ia tidak berpacaran, ia tidak berkencan dan ia menjaga jarak dengan para pria.
Bukan karena Innara sombong atau tidak ingin merasakan berpacaran. Namun ia ingat nasehat ibu dan juga neneknya supaya dia lebih fokus dulu pada urusan pendidikan. Karena urusan asmara bisa dia kejar nanti setelah dirinya cukup dewasa.
"Bukannya Bunda melarang kamu untuk suka sama cowok. Bunda tahu anak Bunda ini gadis normal. Tapi coba Nara pikirkan. Kalau Nara berkencan, memang saat itu semangat Nara untuk belajar pastinya menjadi tinggi. Apalagi kalau pacar Nara satu kelas dengan Nara, pastinya Nara gak mau dapat nilai yang lebih jelek dari dia karena takut diejek.
“Tapi bayangkan saat kemudian kalian putus, suasana di kelas bakal gak nyaman, Nara juga bakal kehilangan semangat belajar karena patah hati. belum lagi saat tahu kalau mantan pacar Nara pacaran lagi sama temen Nara yang lain. Rasanya itu bener-bener gak enak loh." Ucap ibunya suatu waktu.
"Jadi kalo Nara mau jadi anak yang sukses di kemudian hari, saat ini Nara harus belajar sungguh-sungguh dulu. Nanti kalau Nara kuliah, Nara mau kencan sama sepuluh orang sekaligus juga Bunda gak akan larang, kalo Nara sanggup itu juga." Kekeh ibunya lagi yang juga dijawab kekehan Innara.
"Jangan takut kehabisan stok laki-laki. Laki-laki itu banyak di dunia ini, tapi kamu harus takut kalau kamu kehilangan kesempatan." Itulah nasehat yang diberikan neneknya pada Innara.
"Ayah sama Bunda kamu dulu gak pacaran lama-lama juga. Allah itu sudah menentukan jodoh seseorang sebelum dia lahir kedunia. Bukan berarti jodoh gak usah dicari, jodoh juga gak bakal datang sendiri kalo kamunya gak pernah keluar rumah. Mana dia tahu kalau dirumah ada gadis secantik kamu kalau kamu gak pernah nunjukkin wajah kamu sama orang-orang.
“Tapi bukan berarti juga kamu harus habisin waktu kamu dengan cari pacar sana sini trus bosan ganti. Jangan begitu, karena perempuan itu, entah dia cantik atau tidak, entah dia kaya atau tidak, entah dia sempurna secara fisik atau tidak, kita gak punya kuasa untuk memilih, karena kita itu nantinya akan dipilih oleh mereka.
“Dan kalau kamu mau dapat seseorang yang baik dan terbaik, maka kamu pun harus jadi yang baik dan terbaik itu.
“Anggaplah calon jodoh kamu itu sedang memperbaiki dirinya saat ini supaya dia bisa menjadi baik buat Nara, maka Nara pun mulai sekarang harus mulai menjaga diri Nara supaya nanti saat dia sudah merasa pantas dan datang sama Nara, Nara pun ada dalam kondisi siap dan pantas untuk dia sunting.
“Jadi gak usahlah Nara cari-cari pacar yang nantinya jadi mantan. Cukup cari satu kekasih aja yang nantinya bakal jadi suami di masa depan. Ngapain juga sih jagain jodoh orang, yang ada malah sakit hati nantinya." Ucap neneknya yang lagi-lagi hanya bisa Innara dengarkan dan jawab dengan anggukkan kepala.
Dan itulah yang Innara lakukan. Bukannya tidak ada pria yang mendekatinya dan menyatakan bahwa ia suka pada Innara. Sudah ada beberapa pria yang datang mendekatinya. Bukan hanya teman satu sekolahnya, tapi juga ada beberapa pria yang ia kenal dari media sosial dan bahkan beberapa senior yang sudah duduk di bangku kuliah yang datang ke sekolah hanya ingin bertemu dengannya.
Tapi Innara memilih untuk menolak, sehalus yang ia bisa. Ada juga beberapa orang yang sudah memiliki pekerjaan yang datang padanya dan pada ayahnya untuk menyatakan keseriusannya pada Innara. Tapi Innara kembali menolaknya dengan alasan dirinya masih sekolah dan masih ingin kuliah serta bekerja.
Sebagian dari mereka yang 'kekeuh' terus saja datang dan meyakinkannya bahwa mereka siap menunggu sampai Innara siap. Namun tidak demikian halnya dengan Innara. Karena ia memiliki ketegasannya sendiri. Ia menolak untuk berkencan dengan pria manapun sampai ia minimal duduk di bangku kuliahan atau sampai ia siap terikat dengan sebuah hubungan serius.
Namun prinsip Innara, jelas berbanding terbalik dengan Azanie. Jika Innara memutuskan untuk mengejar prestasi supaya bisa membanggakan kedua orangtuanya, maka Azanie lebih memilih untuk menjalani hidupnya dengan bersenang-senang.
Meskipun Innara tidak mengatakannya pada kedua orangtuanya, tapi teman-temannya tahu bagaimana Azanie bergaul dengan para pria di sekolah mereka. Hari ini dia dekat dengan si A, besok dia dekat dengan si B, dan besoknya lagi, dia sudah pergi bersama si C. Bukan hanya dengan teman satu sekolah mereka, tapi juga bisa dengan teman diluar sekolah mereka.
Dan terkadang—seringkali malah—Innara merasa takut sendiri jika adiknya itu pulang sekolah dengan naik motor atau mobil orang asing.
Sebagai seorang kakak, Innara ingin melindungi Azanie. Dia ingin adiknya itu lebih bisa menjaga diri. Ia mencoba untuk bicara berdua dengan adiknya itu, sekedar mengobrol supaya Azanie bisa lebih mawas diri dan berhati-hati dengan para pria. Namun bukannya menerima saran Innara, Azanie justru malah balik memarahinya, bahkan sikap gadis itu tempak seperti Innara mengatakan sesuatu yang menghina.
"Hanya karena kak Nara gak pacaran, bukan berarti Zanie juga harus ngelakuin hal yang sama." Ucap gadis itu dengan mata berapi-api memandang Innara. "Lagipula apa salahnya menikmati hidup, toh ini hidup Zanie, Zanie yang menjalani. Jadi kak Nara gak usah ikut campur. Gak usah lah sok peduli sama Zanie." Ucap adiknya itu dengan nada lantangnya.
Innara memandangnya dengan takjub. "Bukannya kakak melarang kamu bergaul, kakak cuma mau kamu berhati-hati aja. Kakak lihat kamu kemarin pulang dijemput mobil, dia pasti anak kuliahan kan? Kamu seharusnya berhati-hati, pergaulan anak kuliahan itu berbeda dengan kita yang masih duduk di bangku SMA, kakak takut kamu malah terpedaya." Ucap Innara dengan nada lembutnya.
Azanie berdecih. "Sok tahu, pacaran aja gak pernah. Deket sama cowok aja enggak, pake so-so'an ngasih peringatan. Harusnya kak Nara itu ngaca sebelum bahas ini sama Zanie." Ucap gadis itu dengan nada menghina.
"Udah lah, kak Nara gak usah repot mikirin Zanie. Zanie baik-baik saja, dan Zanie juga menikmati hidup Zanie yang sekarang." Ucap gadis itu yang dengan kasarnya memutar tubuh Innara dan mendorongnya keluar dari kamar.
"Awas aja kak Nara ngomong macam-macam sama Bunda sama Ayah. Zanie gak suka ya." Ucap gadis itu dengan nada mengancam.
Innara hanya bisa memandanginya, bahkan setelah pintu kamar ditutup dengan kasar di depan wajahnya. Ia hanya bisa menarik napas panjang dan kemudian membalikkan tubuhnya.
Ia tidak tahu sejak kapan ibunya ada disana dan mendengarkan pembicaraan Innara dan Azanie yang mereka lakukan dengan kondisi pintu kamar terbuka. Tapi wanita berusia pertengahan empat puluh tahun itu hanya memberikan senyumnya pada Innara seraya merangkul bahunya pelan.
"Kamu sabar aja, Ayah kamu tahu apa yang Azanie lakukan diluar sana. Jadi kamu gak perlu cemasin adik kamu sampai segitunya." Ucap ibunya yang hanya bisa dijawab anggukkan oleh Innara.
Dan sekarang, di pagi minggu yang cerah. Azanie tampak memasuki ruang tengah keluarga mereka dengan seorang pria di belakangnya. Pria yang Innara kenal. Kakak kelas satu tingkat di atasnya yang kini sudah menjadi mahasiswa di sebuah kampus bergengsi di Jakarta. Pria yang seminggu lalu mengatakan bahwa dia menyukai Innara sejak mereka masih satu sekolah dan mengatakan dia akan menunggu Innara untuk masuk ke kampus yang sama dengannya di tahun ajaran depan. Pria yang berjanji akan sabar menunggu Innara lulus dan menjadi mahasiswi supaya mereka bisa berkencan.
"Kenalin, Kak Aldy, pacar Zanie." Ucap Azanie dengan ekspresi cerianya. Azanie memandang Innara dengan tatapan menantang. Sementara Innara memandang Aldy dengan dahi mengernyit heran. Dan Aldy, pria itu tak berani memandang Innara dan memilih untuk menundukkan pandangan.
Innara tahu, sejak saat itu bahwa hubungannya dengan Azanie tidak akan pernah menjadi hubungan kakak beradik yang sehat.