Bab 1

Selamat membaca....

••

Sore itu, Vante Adinan membawa langkah kakinya memasuki kediamannya yang terbilang mewah. Kendatinya, pria itu seperti tergesa-gesa dan langsung menuju kamar utamanya untuk menemui sang istri, Andara Jeo. Tadi siang, dia mendengar dari Renan yang merupakan sekretaris pribadinya, bahwa Andara sedang tidak enak badan dan mengalami gejala demam.

"Kau sudah tidur?" tanya Vante, dia berjalan mendekati istrinya yang sedang berbaring di pinggiran ranjang. Tepat, memunggungi Vante.

Enggan menanggapi perkataan Vante, Andara terus mengunci mulutnya. Dirinya malas untuk sekedar berbincang dengan Vante sore ini. Terlalu muak dengan perlakuan pria itu yang selalu manis dan mengatakan cinta, namun masih kembali pada masa lalu.

"Aku tahu, kau belum tidur," bisik Vante lembut di telinga Andara. Dia membawa bahu Andara untuk berbalik menghadapnya. Dadanya sedikit dibusungkan dan mendaratkan kecupan singkat di surai hitam panjang milik sang istri. Aroma stroberi terkuak dan membuat Vante selalu ketagihan.

"Jangan ganggu aku, aku benci aromamu," celetuk Andara masih dalam posisi mata yang terpejam. Ingin sekali menampar pipi pria yang selalu menyakiti hatinya ini. Namun, rasa cintanya juga besar untuk Vante Adinan. Ya, Andara tahu bahwa dirinya bodoh.

Vante menghela nafas pelan, rasa bersalahnya selalu datang belakangan. Kini, bibirnya bergerak mencium bibir istrinya. Si manis yang selalu ia sakiti, namun dia tidak bisa melepaskan Dena juga.

"Jangan menciumku seperti ini, aku tidak suka berbagi bibir suamiku dengan wanita lain," sela Andara. Tangan kanannya menjolak bahu Vante dengan kuat. Menyuruh pria itu untuk menjauhinya, Andara marah.

Oh, jelas saja, Andara adalah istrinya.

Vante pun dengan pelan membuka kancing bajunya satu persatu. Sedari awal pulang tadi, baju pria itu bahkan sudah berantakan. Kemudian, dengan beraninya dia menaiki tubuh sang istri sehingga membuat mata Andara terbuka dan terbelalak karena kaget.

Manik kelam milik Vante yang tulus dan dalam itu tengah memandang istrinya yang selalu terlihat cantik dan manis di saat yang bersamaan. Tidak ada fakta yang berbohong, Andara memang telak jauh-jauh lebih cantik dan disayang Vante daripada Dena.

"Maaf." Kini, Vante bersuara. Dia tulus meminta maaf karena selalu menaruh duri pada luka Andara yang terus menganga karenanya.

"Aku tidak peduli," balas Andara dengan ketus. Maaf saja tidak cukup, sampai saat ini Andara masih sabar untuk menunggu Vante menyadari semuanya. Sadar, bahwa hanya Andara yang boleh dibahagiakan sebagai istri. Dena hanyalah pengganggu dalam hubungan mereka.

Vante memejamkan matanya sebentar, menetralisir perkataan istrinya yang kesal tersebut. Setelah itu, ia mulai melepas piyama Andara dengan perlahan. Tanpa menggunakan bra, Vante dapat melihat jelas aset berharga milik istrinya, dimana pemandangan itu akan selalu membuat jantung Vante berdebar tidak karuan.

Mata Andara berkaca-kaca saat diperlakukan seperti itu. Vante seolah-olah hanya datang di saat dia menginginkan tubuh Andara. Selebihnya, dia hanya terus-menerus datang ke Dena. "Kau terus saja seperti ini, kau tidak peduli dengan perasaanku…," lirih Andara, dia meluruhkan air matanya begitu saja dan menangis terisak namun tidak pecah.

"Maafkan aku, kau istriku. Tentu saja, aku menyayangimu, sayang," ujar Vante dengan deru nafasnya menerpa kulit permukaan wajah Andara. Pria itu melanjutkan perkataannya lagi, "tapi, aku juga milik Dena jauh sebelum kau memilikiku."

Tanpa melihat ekspresi dari istrinya lagi, Vante dengan lembut mencium bibir kemerahan milik Andara. Dia juga menggigiti bibir ranum milik wanita itu. Bagi Vante, bibir Andara adalah yang terbaik, mungil dan manis, membuat Vante selalu ketagihan saat menyesapnya.

Selanjutnya, jari-jari Vante yang panjang mulai menelusuri tubuh Andara, mengabsen tiap inchi seluk beluk tubuh si kesayangan. Kebiasaan yang membuat istrinya tergoda agar menginginkan lebih jauh dari ini. Tapi, sepertinya Andara tidak menikmati sama sekali.

"Sayang. Tolong cintai aku tanpa melihat lelaki lain. Aku benar-benar menyayangimu, Andara," kilah Vante sembari mencium telinga Andara.

"Aku akan tinggalkan Mas Raihan, asalkan kau juga melepaskan Dena," balasnya dengan tatapan tajam dan penuh penekanan. Dia tidak berselingkuh dengan Raihan, Vante sendiri yang mempekerjakan Raihan sebagai bodyguard Andara. Sehingga, Andara merasa lebih dekat dengan Raihan Atmadja daripada suaminya sendiri.

Vante terdiam. Ini kesalahannya yang fatal, dia tidak menyangka bahwa efek Raihan begitu besar sebagai obat penawar luka hati Andara.

Lalu, Andara melanjutkan lagi ucapannya dengan terkekeh kecil. "Kau tidak mau? Baik, aku juga tidak akan meninggalkan Mas Raihan. Dia laki-laki yang tulus memberikan perasaannya padaku. Dia menjagaku seperti ratu dan memperlakukanku bagai wanita yang tidak boleh disakiti. Sudahlah, aku benci padamu, Te."

***

"Sedari awal, Vante Adinan adalah milikku. Dia hanya gadis aneh yang datang ke kehidupan Vante dan membuat hati ibunya Vante luluh. Tapi, lebih dari itu, aku jauh-jauh lebih cantik dari Andara. Semua orang tahu itu, aku lebih dari segala-galanya dan Vante tidak akan bisa lepas dariku."

"Dena, kau yakin? Tapi, Vante sepertinya hanya mencintai Andara dan merasa kasihan padamu saja," balas Lia dengan memandang Dena.

Dena pun mengalihkan perhatiannya pada Lia. "Kau, tutup saja mulutmu. Kau tidak akan tahu seberapa banyak Vante memanjakan aku lebih daripada Andara!" sela Dena dengan begitu percaya diri. Dia yakin sekali, Vante akan kembali padanya seutuhnya dan segera menceraikan Andara.

Lia, lalu berdiri dan membuka kulkan untuk mengambil minuman bersoda. "Terserah kau sajalah, aku tidak tahu lagi harus memberikan komentar seperti apa," celetuk Lia sembari membuka kaleng minuman sodanya dan meneguk sebanyak tiga kali.

Kemudian, Dena kembali terlarut dalam pikirannya untuk membuat suatu rencana agar Vante segera membuang Andara dan menjadikan dirinya sebagai nyonya Adinan satu-satunya. Tentu, dia akan membuat hidupnya sendiri bahagia dan hidup tenang bersama Vante. Persetan dengan perasaan perempaun lain, dia tidak peduli dan bukan salahnya juga, karena sedari awal dirinya jauh lebih dulu memiliki Vante daripada Andara.

"Oh, iya. Bagaimana dengan keadaanmu ibumu? Apa dia sudah mulai membaik? Kudengar, dia menjalani berbagai terapi mahal, semoga ibumu lekas sembuh." Lia kembali duduk di kursinya dan bergabung bersama Dena lagi.

"Vante yang membiayainya, dia sendiri yang menawarkan."

Lia tampak menaikkan dua alisnya karena sedikit terkejut. "Benarkah?" tanyanya dengan serius.

"Sudah kubilang, Vante terlalu mencintaiku. Jadi, dia tidak ingin melihat ibuku juga menderita. Apa hal ini sudah cukup untukmu, sebagai bukti bahwa Vante mencintaiku lebih dari Andara?"

Lia tampak mangut-mangut dan menatap Dena sembari memicingkan kedua matanya. "Apa kau yakin? Aku jadi berpikir kalau Vante sebenarnya hanya kasihan padamu."

"LIA!"

Tentu, Dena sangat marah dengan kalimat yang dilontarkan Lia. Itu terkesan menghina dan merendahkan harga dirinya.

••

Bersambung....

Bab 2

Selamat membaca.

••

Sebesar apapun membencinya, perasaannya tetap sama. Mencintai lebih dari yang dibayangkan.

"Hahhhh," lenguh Andara saat membuang nafas keputusasaannya. Tubuhnya yang sedang dalam posisi menyamping, bergerak memeluk tubuh kekar Raihan dengan sangat erat. Sesekali, bibir Andara yang berwarna kemerahan itu dengan lancang mencium otot-otot perut Raihan tanpa izin. Kebetulan, Raihan sedang tidak mengenakan atasan di tengah hari seperti ini.

Andara terus menenggelamkan wajahnya pada dada bidang pria itu. Enggan sekali rasanya untuk sekedar berbicara, pikirannya terlalu kalut karena kelakuan suaminya yang selalu membuat hatinya terluka.

"Kau, kenapa lagi? Apa dia menyakiti perasaanmu lagi, Andara?" Raihan tampak khawatir pada wanita yang memeluknya ini, dia sangat peduli pada perasaan Andara. Dia mencintai Andara jauh sebelum Vante mengenal wanita ini.

"Dia menyakiti perasaanku setiap hari. Jujur, aku sudah mulai kelelahan jika dihadapkan pada sifatnya yang selalu merengek jika aku abaikan. Padahal, dia sendiri berselingkuh dan tidak mau melepas Dena. Lalu, aku ini apa baginya, Mas? Kenapa dia menikahiku, jika hatinya masih terpaut pada Dena?"

Raihan memahami perasaan Andara yang tergores luka menyakitkan itu. Hal yang sangat berat untuk menghadapi kenyataan, bahwa pasangan kita sendiri memilih selingkuh. 

Selanjutnya, Raihan menyentuh dagu Andara dengan lembut, dibawa mendongak menatap ke arahnya. Sorot matanya yang tulus sangat ingin membuat Andara selalu bahagia dan hidup dengan penuh kasih sayang yang melimpah. "Kau mencintainya, aku tahu itu," bisik Raihan tepat di depan wajah si manis, Andara.

"Kenapa Mas berbicara seperti itu? Apa Mas sudah tidak mencintaiku lagi?

"Hey. Aku selalu mencintaimu, Andara. Tapi, aku sangat tahu diri, kau adalah istri dari Vante. Kau miliknya secara sah, aku hanya bertugas untuk menjagamu dan mendapatkan gaji dari suamimu kala itu. Sejujurnya, aku tidak berhak atas dirimu, Andara. Bahkan, kasta kita berbeda, aku hanya pria miskin yang bekerja banting tulang mencari nafkah."

Andara hanya diam mendengar jawaban dari Raihan. Selalu saja pria itu merendahkan dirinya dan membandingkan kasta. Andara tidak suka jika dalam cinta, kasta selalu dipermasalahkan.

"Aku tidak suka jika Mas berbicara seperti itu. Kasta tidak penting, percuma jika kaya dan memiliki kasta tinggi tapi hatinya jahat, seperti Vante," celetuk Andara dengan gamblang, menyindir suaminya sendiri.

Raihan mendekap tubuh Andara lagi dengan erat. Dia tersenyum tipis mendengar penuturan Andara. "Sayang sekali laki-laki seperti dia menyia-nyiakan Andara. Andai saja kau mencintaiku juga, aku akan membawamu kabur dan menghilang dari hadapan Vante."

"Jangan pernah meninggalkanku, Mas…." Andara berlirih seolah-olah tidak ingin Raihan mengabaikannya. Andara hanya punya tempat bersandar paling aman jika sedang bersama Raihan.

"Mas tidak akan meninggalkanmu, percayalah," balas Raihan. Dia memberikan Andara sebuah janji yang membuat hati wanita itu menjadi lega.

Lambat laun, mereka saling mengobrol dengan tenang, Andara juga tanpa sadar telah tertidur, diikuti oleh Raihan. 

***

Di tempat lain, dua orang yang telah meyakiti hati wanita tulus seperti Andara tengah berkelana dengan hasrat masing-masing. Tanpa pernah memikirkan perasaan Andara yang terluka, Dena dan Vante selalu melakukan hubungan menjijikkan itu setiap bertemu. Tidak peduli seberapa banyak Andara mengeluh dan menangis, Vante akan tetap memberikan kasih sayang dan cinta untuk Dena, mantan kekasihnya.

Dena bergerak meletakkan kepalanya di atas dada bidang mikik Vante. Mereka baru selesai melakukan hubungan terlarang itu, bahkan Dena tidak memakai baju sehelaipun, sama seperti Vante.

"Kau, kenapa?" tanya Dena karena raut wajah Vante terlihat seperti datar dan masa bodoh pada kehadiran Dena yang bermanja-manja padanya.

Vante menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menelpon istriku," kilah pria itu sembari mengambil ponselnya di atas nakas. Lalu mengaktifkannya dan mencari nomor istrinya.

Wajah Dena tampak tidak enak, dia seperti merengut karena Vante membahas tentang istrinya. Apa tidak bisa untuk tidak memikirkan istrinya itu? Apa kurangnya Dena?

"Pilih aku atau istrimu?" tanya Dena dengan percaya diri. Pasti Vante akan memilih dia yang jauh-jauh lebih memuaskan daripada Andara.

"Tentu saja aku pilih istriku." Vante menjawab dengan tenang dan tegas. Dari kata-katanya, tidak ada terdengar gugup, itu sangat mantap sekali dan penuh keyakinan.

Dena sempat terkejut, lalu dia berusaha membalasnya. "Te, kau milikku lebih dulu."

"Aku memaafkanmu setelah aku menikahi Andara. Kau juga dari awal yang menghianatiku, aku memaafkanmu karena kau ingin bunuh diri waktu itu. Kesalahanmu yang menggodaku lagi, jika kau masih ingin menjelek-jelekkan Andara, maka sudahi saja perselingkuhan ini, Dena," perjelas Vante sembari menekan tombol call pada nomor telepon Andara. Ya, jika saja bukan karena kesehatan mental Dena yang terganggu, Vante pasti akan setia pada Andara.

"Kau jahat…," lirih Dena. Matanya bahkan berair, dia tidak menyangka akan mendapat respon menyakitkan ini dari Vante.

"Jika aku jahat, aku akan membiarkanmu mati hari itu, Dena," sungut Vante dengan suara beratnya yang cukup dingin. "Apa kau ingin menyudahi hubungan kita ini? Jika begitu, aku siap," sambung Vante lagi.

Dena menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kencang. "Tidak! Tidak! Kau juga milikku, aku tidak ingin berpisah darimu. Aku mencintaimu, Vante," ungkapnya sambil semakin mempererat pelukannya pada tubuh Vante.

"Ya, sudah. Mulai sekarang bersikaplah selayaknya kau seorang selingkuhan. Jangan mencoba mengganggu Andara, dia istri sahku. Apapun yang ia lakukan di kantorku, kau tidak boleh protes karena dia adalah nyonya Adinan. Apa kau paham, Dena?"

Mau tidak mau Dena mengangguk dengan terpaksa. Lihat saja, Dena akan berbuat sesuatu untuk mempercepat perpisahan Vante dan Andara. Segala cara akan Dena lakukan.

Akhirnya, sambungan telepon Vante terjawab, di seberang sana tampak terdengar sedikit grasak-grusuk, membuat Vante manaikkan sebelah alisnya.

"Sayang, kau dimana? Mas jemput, ya?" tanya Vante, senyumnya terbit karena Andara mengangkat teleponnya. Rencananya dia akan mengajak Andara makan malam diluar hari ini.

"Aku Raihan."

Sontak, Vante terduduk dan melepaskan pelukan Dena pada tubuhnya. Pria ini tampak murka dengan wajah yang memerah menahan amarah.

"HEY! KENAPA KAU YANG MENGANGKAT TELEPON ISTRIKU! APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAP ISTRIKU?" berang Vante dengan suaranya yang memekik keras, dia tidak terima jika ponsel Andara dengan bebas dikendalikan oleh Raihan. Bahkan, Otaknya sudah berpikir jauh membayangkan bagaimana Raihan yang tengah menjamah tubuh istrinya. Vante sangat tidak terima, dia tidak rela Andara disentuh oleh mantan bodyguard-nya itu.

Melihat bagaimana Vante yang sangat marah karena istrinya bersana orang lain. Maka, semakin hasrat Dena ingin menghilangkan Andara dari kehidupan Vante.

Dia dan dirimu berbeda, berlian dan batu kerikil tidak akan pernah bisa disandingkan.

••

Bersambung....

Bab 3

Selamat membaca

••

Jika sudah waktunya, maka dia akan menyerah juga.

Vante tengan berdiri di depan mobilnya dengan melipat tangan di dada. Wajah pria itu begitu merah, dia menahan amarah yang tidak bisa disembunyikan dengan baik saat mengetahui bahwa istrinya tengah bersama lelaki lain. Sekarang, Vante melihat dengan jelas bagaimana Andara berjalan ke arahnya dengan  menggandeng lengan Raihan.

Sungguh, sangat menjengkelkan dan membuat Vante geram. Ingin sekali dia menghilangkan Raihan dari muka bumi ini.

"Lepaskan!" bentak Vante sembari menepis lengan Raihan yang bersentuhan dengan istrinya. Lalu, Vante dengan cekatan meraup tubuh Andara hingga wanita itu benar-benar menjauh dari Raihan.

Andara berdecak dan berusaha keluar dari dekapan Vante. "Jangan peluk aku! Aku tidak suka bau parfum Dena yang menempel di bajumu. Akh!" Usaha Andara terlihat sia-sia karena tenaga Vante jauh lebih besar darinya.

"Istriku … jangan seperti ini ya, sayang." Vante mengusap surai hitam panjang milik Andara yang basah, sepertinya wanita itu baru habis mandi. "Rambutmu kenapa basah, sayang?" tanyanya dengan kegundahan hati yang melanda-landa. Semoga, tidak ada sesuatu yang benar-benar terjadi Antara Raihan dan Andara.

Tatapan Andara yang menajam, kini menusuk relung hati Vante. "Aku habis mandi bersama dengan mas Raihan," jawabnya dengan berani tanpa ada keraguan. Tentu, hal itu membuat telinga Vante semakin panas mendengarnya.

Raihan sama kagetnya mendengar penuturan Andara. Itu, sama sekali tidak benar. Namun, dia paham karena Andara sengaja mengatakannya agar Vante merasa cemburu.

Vante tampak mengeratkan pelukannya pada pinggang Andara. Tatapan tajam yang seperti mata elang itu tengah menatap Andara dengan penuh kemarahan.

"Kau ingin aku hukum, istriku?" tanyanya dengan nada bariton khas yang sangat serius, mampu membuat bulu kuduk Andara merinding sekarang.

"Kau tidak boleh menghukum Andara, kau yang jahat disini, Vante." Raihan menegur pria itu agar setidaknya jangan menyakiti Andara. Seharusnya, Vante harus memahami situasi tentang bagaimana Andara yang lelah dengan kelakuan pria itu.

Vante melirik Raihan dengan jengkel dan sedikit meremehkan pria yang pernah bekerja dengannya sebagai bodyguard Andara. "Cih!" desis Vante. Selanjutnya, tangan laki-laki itu memilih untuk menggandeng tangan Andara dan masuk mobil.

***

Saat mereka tiba di rumah, Andara lebih dulu berjalan mendahului Vante. Dia enggan berjalan beriringan bersama suaminya yang tukang selingkuh itu. Lihat saja, dia akan mencoba mendiami lagi, setidaknya ada kesadaran sedikit dari laki-laki itu, bahwasanya Andara juga bisa marah dan habis kesabaran.

Melihat istrinya yang mengambil langkah besar dan terlihat terburu-buru, Vante tahu alasannya. Kini, dia juga ikut mengambil langkah besar dan langsung memeluk istrinya dari belakang.

"Andara, suamimu ini sangat merindukanmu…," lirih Vante, dia memang sangat merindukan Andara, walau dirinya bersenang-senang dengan Dena. Bahkan, Vante bingung dengan kelakuan bejatnya yang sulit dihentikan itu.

Andara menggeram dan mengepalkan kedua tangannya. "Lepaskan aku, kau buaya! Aku muak!" berang Andara, dia benci dengan Vante yang selalu seperti ini.

Vante menghembuskan nafasnya di ceruk leher Andara, kelihatan dia sedang sangat lelah. "Aku ingin dilayani oleh istriku yang cantik ini," bisiknya dengan napas yang sedikit terengah-engah.

Andara memutar bola matanya dengan malas, alasan klasik dan basi untuk menghasut dirinya. "Apa kau tidak capek? Apa kau belum puas bermain dengan Dena?" Andara mencoba melepaskan tangan Vante yang melingkar di perutnya tersebut.

"Apa kau tidak ingin bermain dengan dada bidangku ini, sayang?" Bibir Vante yang sedikit tebal dan basah itu, perlahan menempel pada tengkuk Andara, hampir membuat Andara kegelian.

Andara pun berusaha untuk menolak, dia tidak suka dibutuhkan hanya untuk hal yang seperti ini saja oleh Vante. "Aku sudah cape, seharian melayani mas Raihan," jawabnya dengan kebohongan, tentu hanya ingin membuat Vante naik pitam.

Mendengar penuturan Andara yang seperti itu, membuat Vante memejamkan matanya dan menggertakkan giginya menahan amarah. Bayang-bayang Andara yang memanjakan Raihan, justru kini berputar di kepalanya. Sungguh, hal menjijikkan itu sangat membuat Vante darah tinggi.

"Aku mohon … jangan berkata seperti itu lagi, sayang. Aku tidak ingin mendengar hal itu keluar dari mulutmu, jangan mempermainkan suamimu ini, sayang. " Vante mencoba membalikkan tubuh Andara untuk menghadap ke arahnya. 

Selanjutnya, kedua tangan kekarnya itu menangkup pipi Andara dengan lembut. Wajah sang istri yang begitu cantik tanpa harus memakai make up selalu membuat Vante terhipnotis, hingga tanpa sadar Vante telah mencium pipi Andara dengan lamat. 

Vante berusaha menatap istrinya, sepertinya dari manik cantik itu Vante menemui pesan yang tersirat. Andara sudah lelah dan begitu terluka akibat ulahnya yang mungkin tidak akan bisa dimaafkan dengan mudah.

Dengan kehati-hatiannya, Vante mengikis jarak antara dia dan Andara dengan cara mencium bibir Andara serta melumatnya lebih dulu. Tidak pernah berubah, jantung Vante masih tetap berdebar kencang saat berciuman dengan bibir mungil Andara yang seperti jelly itu.  

"Aku milikmu sayang. Hanya Andara yang boleh menyentuhku sesukanya. Aku tidak pernah membiarkan Dena menguasai tubuhku sesukanya, aku selalu memberi batasan."

Karena Andara yang sudah jenuh dengan buaian Vante, terserah Vante ingin berkata seperti apa lagi. "Gendong aku ke kamar, setelah itu kau mandi, sehabis mandi kau gendong aku lagi mengitari halaman rumah," titah Andara dengan asal.

Tentu, Vante menyetujui perintah Andara dengan senang hati. Dia sedikit menunduk dan membuat kedua tangan kekarnya menggendong tubuh Andara. Begitu juga dengan Andara, dia memilih menyandarkan kepalanya pada bidang lebar Vante. Enggan bersuara lebih lanjut, Andara memilih untuk memejamkan matanya saja.

Vante pun tidak tinggal diam, seperti diberi sebuah kesempatan, pria ini langsung melangkahkan kakinya menuju kamar utama mereka. Sembari berjalan, disitulah Vante mencuri kesempatan dengan menciumi seluruh permukaan wajah sang istri. Kadang, dia juga menggigit hidung dan bibir istrinya dengan pelan.

"Andara sangat manja sekali hari ini. Aku benar-benar suka," bisik Vante, hingga hembusan nafasnya di telinga Andara membuat wanita itu sedikit terperanjat karena merasa geli. "Kau benar-benar istriku, bukan milik orang lain ataupun milik Raihan," sambungnya lagi dan berakhir mencium bibir Andara. 

Setelah sampai di ranjang king size mewah itu, Vante membaringkan tubuh Andara dengan hati-hati. 

"Mau aku gantikan bajumu, sayang? 

Sebagai jawaban atas pertanyaan itu, Andara menggeleng singkat. Dia tidak berminat untuk bermanja lebih jauh pada lelaki itu.

"Baik, aku ingin itu seperti anak bayi," pinta Vante.

"Minta yang lain saja, atau kau minum susu saja di kulkas."

"Aku ingin bermain denganmu." Kini, tangan Vante berhasil membuka dua kancing teratas dari baju yang dikenakan Andara.

"Jangan!" Andara menahan lengan Vante, dia sedang tidak berminat untuk melakukan hubungan suami istri tersebut.

"Sayang, kau menolak?"

"Aku ingin cerai," ucap Andara dengan serius tanpa ada nada candaan sedikitpun. Iya, dia ingin lepas dari Vante dan menemukan kehidupan yang jauh lebih baik dari ini.

Dia begitu lelah dan kecewa pada dirinya sendiri.

••

Bersambung....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED