“Aku nggak mau nikah sama kamu. Gila apa. Ketemu aja baru sekali ini!” tandas Aileen emosional. Ditatapnya Samuel garang. Muka dan penampilan sih ok, puji gadis itu dalam hati. Tapi menjadi suami istri itu kan komitmen seumur hidup. Harus pengenalan lebih dulu. Mendalami karakter masing-masing. Lagipula kalau aku nikah sama dia, James mau dikemanakan? Kami sudah satu tahun pacaran. Dia pasti sedih sekali kalau kutinggal menikah dengan orang lain!
Samuel menghela napas panjang. Dia tak menyalahkan sikap gadis itu. Mereka tak pernah saling mengenal sebelumnya. Gadis mana yang mau begitu saja dijodohkan dengan laki-laki yang sangat asing baginya. Apalagi kalau dia tahu bahwa aku…, batin Samuel perih. Dia mendesah.
“Aku tahu papamu sudah membantu papaku melunasi hutangnya di bank. Terima kasih banyak. Tapi kalau papamu orang yang baik, dia pasti takkan meminta imbalan. Itu pamrih namanya!”
Hati Samuel sakit sekali bagaikan tertusuk sembilu. Bagaimanapun juga Papa hanya bermaksud membahagiakanku, anak semata wayangnya, pikir pemuda itu berusaha memaklumi. Orang tua mana yang tidak kuatir melihat putranya yang sudah cukup umur tetap melajang dan tak sedikitpun nampak tanda-tanda dekat dengan lawan jenis?!
“Begini saja,” kata pemuda itu kemudian. “Kita mengadakan perjanjian.”
Aileen mengerutkan kening. Gadis berambut panjang lurus berwarna kecoklatan tersebut tak mengerti maksud ucapan lawan bicaranya.
“Perjanjian apa maksudmu?” tanyanya menuntut penjelasan.
“Kamu sudah punya pacar belum?” balas Samuel balik bertanya.
Ekspresi wajah Aileen berubah. Gadis itu tampak terkejut. “Apa urusanmu aku punya pacar atau nggak?” sindirnya ketus. “Yang penting aku nggak mau menikah denganmu. Titik!”
“Dengar baik-baik, Gadis Manja!” seru Samuel penuh wibawa.
Ia tak sabar lagi menghadapi si nona rumah. Pemuda itu bangkit dari sofa ruang tamu dan berjalan maju mendekati lawan bicaranya. “Jangan besar kepala. Seolah-olah akulah yang menginginkan dirimu menjadi istriku. Ketahuilah, aku pun tak sudi memperistri perempuan yang tak pernah berarti apapun dalam hidupku. Tahu tidak, nasibku sebenarnya tak lebih baik darimu. Terpaksa memenuhi kehendak orang tua untuk menikah. Dengar itu? Aku terpaksa!”
Aileen kaget setengah mati. Dia tak menyangka Samuel yang sejak tadi pembawaannya tenang ternyata sanggup bersikap setegas itu. Gadis itu sampai mundur ketakuan hingga menabrak tembok di belakangnya.
Melihat paras lawab bicaranya yang berubah menjadi pucat pasi, Samuel akhirnya menurunkan nada bicaranya. “Ketahuilah, aku sendiri juga baru diberitahu tentang perjodohan kita kemarin sore. Aku tak kuasa mengelak. Karena kondisi kesehatan papaku kurang baik akhir-akhir ini. Sebagai anak tunggal, aku tak sanggup mengecewakan orang tuaku. Mengerti?”
Gadis di hadapannya mengangguk gugup. Mati aku, belum menikah dengannya saja sudah mati kutu begini, pikirnya panik. Gimana kalau tinggal serumah nanti? Bisa-bisa aku diatur-atur, disuruh-suruh, apapun itu demi menyenangan hati orang ini!
Tiba-tiba air mata mengalir membasahi pipi mulus Aileen. Semakin lama semakin deras. Dirinya merana membayangkan masa depannya yang terlihat suram.
Samuel terperangah. Dirinya paling tak tahan melihat orang menangis. Barangkali aku terlalu keras terhadap gadis ini, sesalnya dalam hati. Padahal kedatanganku kemari bertujuan untuk membicarakan solusi dari perjodohan ini. Agar masing-masing pihak tidak terlalu menderita….
“Maafkan aku,” ucap pemuda itu lirih. Sorot matanya menunjukkan penyesalan yang mendalam. “Sebenarnya aku tak bermaksud menyakitimu. Cuma emosi saja mendengar kata-katamu tadi yang seolah-olah menyalahkan diriku atas perjodohan ini. Padahal…aku juga merasa menjadi korban. Sama sepertimu.”
Samuel lalu membalikkan badannya. Lalu berjalan menuju soda dan duduk kembali. Diam-diam pemuda itu nyengir sendiri. Kok orang yang datang bertamu malah lebih galak daripada si nona rumah! Hehehe….
Aileen mengambil sehelai tisu lalu menghapus air matanya. Selanjutnya gadis itu duduk di sofa yang letaknya serong dengan yang diduduki Samuel.
“Maafkan aku juga,” ucapnya lirih. Perasaannya melunak. Hati kecilnya mengatakan bahwa tamunya ini bukan orang jahat. “Aku panik sekali mau dinikahkan dengan orang yang seratus persen asing bagiku. Itulah yang membuat sikapku jadi menjengkelkan seperti tadi. Sori, ya.”
Tatapan memohon gadis itu membuat hati Samuel semakin luluh. Pemuda itu mengangguk mengiyakan. “Ngomong-ngomong, umur berapa kamu sebenarnya?” tanyanya rileks. “Kata Papa sih, dua puluhan.”
Aileen membenarkan. “Iya. Umurku sekarang dua puluh dua tahun tepatnya. Baru lulus kuliah S1 Sastra Inggris. Kamu sendiri umur berapa?” balas gadis itu balik bertanya. Hatinya sudah semakin tenang sekarang.
“Dua puluh enam tahun,” jawab lawan bicaranya singkat. “Aku lulusan S1 Business Management di Ohio, Amerika. Sudah hampir tiga tahun ini bekerja membantu Papa di perusahaan. Aku anak tunggal.”
Aileen manggut-manggut. Kemarin ayahnya sudah memberitahunya bahwa orang tua Samuel adalah pemilik pabrik peralatan dapur terbesar di pulau Jawa. Panci, wajan, piring, mangkok, gelas, dan berbagai macam peralatan makan diproduksi secara massal lalu didistribusikan ke seluruh penjuru negeri ini.
Rupanya itu adalah perusahaan turun-temurun warisan keluarga. Reputasinya sangat baik dan kondisi finansialnya kuat sekali. Oleh karena itulah, ayah Samuel tak mengalami kesulitan melunasi hutang-hutang ayah Aileen pada bank yang jumlah nolnya fantastis!
Kedua orang tua itu saling mengenal sejak masih duduk di bangku SMA. Mereka berteman dekat kala itu. Keduanya lalu bertemu kembali sewaktu menghadiri reuni sekolah beberapa bulan yang lalu. Hubungan baik yang sempat terputus pun terjalin kembali.
Akhirnya Harris, ayah Aileen, memberanikan diri untuk mengutarakan kesulitan keuangan yang dihadapi bengkel mobilnya saat ini. Ruben, ayah Samuel, kemudian menawarinya jalan keluar dengan timbal-balik perjodohan di antara anak-anak mereka.
Harris yang semula merasa keberatan akhirnya berubah pikiran tatkala bertemu muka dengan Samuel. Pria yang telah banyak makan asam garam kehidupan itu tertarik pada kecerdasan, kesupelan, dan kebaikan hati yang terpancan pada diri pemuda itu. Dengan senang hati disetujuinya usul Ruben untuk menikahkan anak-anak mereka dalam waktu dekat.
“Aku juga anak tunggal,” cetus Aileen kemudian. “Tapi tak seperti dirimu, kemarin aku menolak habis-habisan permintaan Papa untuk dinikahkan denganmu. Kami sampai bertengkar hebat. Mama tak berdaya melerai kami berdua. Aku dan Papa baru berhenti setelah melihat Mama menangis tersedu-sedu….”
Samuel terkekeh. “Karaktermu keras sekali rupanya,” celetuknya spontan. “Pantas papamu buru-buru mau menikahkanmu. Hahaha….”
Suasana tegang mencair seketika. Aileen tersenyum. Dia mulai menyukai kepribadian pemuda di hadapannya.
“Kamu mau kupanggil apa? Mas atau langsung sebut nama aja?” tanyanya sopan.
“Langsung nama aja. Orang-orang biasa memanggilku Sam,” jawab sang pemuda ramah. “Jadi sudah jelas ya sekarang, Nona Aileen. Kita ini sama-sama korban. Bukan musuh.”
Si gadis mengangguk setuju. Dia lalu berkata, “Sesama korban harus saling support, Sam.”
Lawan bicaranya mengangguk setuju. “Sure!” jawab pemuda itu tangkas. “Begini rencanaku….”
Selanjutnya Samuel menjelaskan idenya, “Kupikir saat ini kita menuruti saja kehendak orang tua untuk menikah. Setelah itu kita kan, tinggal di rumah sendiri. Sudah nggak usah berpura-pura lagi. Kita jalani hidup kita masing-masing. Bagaimana?”
Aileen mengerutkan kening. Ide bagus, cetus gadis itu dalam hati. Tapi mau sampai kapan bersandiwara seperti itu? Lalu bagaimana dengan James?
“Kita cukup menikah dua tahun saja. Setelah itu bercerai,” lanjut Samuel seperti memahami kerisauan hati lawan bicaranya. “Akan lebih baik kalau pernikahan kita dikaruniai seorang anak….”
“Hah?!” sergah si gadis terperanjat. “Dua tahun itu waktu yang nggak sebentar, Sam. Terus gimana cara kita punya anak?”
“Ya kamu pura-pura hamil. Terus kita adopsi anak,” jawab sang pemuda enteng.
“Gila! Nggak mungkin!”
“Kenapa nggak? Kamu pakai aja bantal untuk membuat perutmu kelihatan besar seperti orang hamil. Beres, kan?”
“Kalau mamaku mau menyentuh perutku gimana?” tanya Aileen panik.
Samuel memandanginya sambil tersenyum. “Kalian kaum wanita biasanya kan pintar berstrategi. Kamu orang yang paling mengenal karakter mamamu. Pasti bisa menemukan cara agar dia tak sampai menyentuh perutmu. Apalagi waktu itu kalian kan sudah tidak tinggal seatap.”
Si gadis menggigit bibirnya. Perasaannya kalut sekali. Masa dia sampai hati membohongi ibunya sendiri? Tapi...tapi…Mama juga tega memintaku menjalani perjodohan yang tak kuinginkan ini, batinnya membela diri.
Aileen berusaha menguatkan hatinya. Dia lalu bertanya pada Samuel, “Terus rencana selanjutnya bagaimana? Sesudah bayi itu lahir, apa yang akan kita lakukan?”
“Tunggu sampai beberapa bulan,” sahut pemuda itu tangkas. “Lalu kita berdua ribut-ribut. Kamu menemukanku berselingkuh. Karena kecewa berat, kamu menggugat cerai dan tak mau mengurus anak kita. Akhirnya perkawinan berakhir dan hak asuh anak jatuh ke tanganku. Selesai!”
Si gadis terbelalak tak percaya. “Anak itu akan tetap kau asuh?” tanyanya meminta penjelasan.
Samuel mengangguk mantap. “Betul. Jadi orang tuaku takkan memaksaku untuk menikah lagi. Yang penting keluarga Manasye sudah mempunyai penerus. Bagus bukan rencanaku? Berakhir happy ending bagi kita berdua. Kau hidup bebas melajang lagi. Aku juga takkan diusik untuk menikah lagi karena orang tuaku kecewa dengan kegagalan pernikahan kita.”
“Kamu sudah merencanakan semuanya sebelum datang kemari,” cetus Aileen. “Cuma ada satu pihak yang...ehm...dirugikan dalam hal ini. Yaitu James, pacarku.”
Sang pemuda menatapnya penuh arti. “Karena itulah tadi aku bertanya apakah kamu sudah mempunyai kekasih. Kalau ya, it’s ok. Ceritakan saja rencana ini padanya. Jika pacarmu itu benar-benar mencintaimu, takkan menjadi masalah baginya menunggumu dua tahun lagi. Toh, kalian tetap bisa bebas bertemu selama kita menikah. Aku takkan melarang dia datang ke rumah. Pacaran saja sebebas-bebasnya. Aku nggak peduli. Asalkan jangan sampai ketahuan orang lain. Bisa-bisa skenarionya nanti berubah. Kamu yang berselingkuh. Bukan aku. Hahaha….”
Aileen terdiam selama beberapa saat. Dia sedang memikirkan baik-buruknya rencana Samuel bagi masa depannya. Gadis itu meringis. Setelah menikah dengan Samuel, dirinya mungkin akan lebih bebas berpacaran dengan James. Tidak ada jam pulang seperti yang selama ini berlaku di rumahnya. Tapi dia dan kekasihnya itu harus berhati-hati mencari tempat yang aman untuk memadu kasih.
Nggak bisa bebas pergi ke tempat umum lagi seperti sebelumnya, dong! kilah gadis itu dalam hati. Bergandengan tangan, berangkulan, makan di piring yang sama…. Semuanya itu harus dilakukan sembunyi-sembunyi. Aduh, James mau nggak ya, diajak backstreet kayak ABG? pikir Aileen cemas.
“Mikirin apa, sih? Kok lama banget?” tanya tamunya ingin tahu. Lucu juga cewek ini kalau lagi gundah, pikirnya geli.
Dipandanginya Aileen dengan sungguh-sungguh. Pilihan Papa sebenarnya bagus juga, batinnya memuji gadis itu. Cewek ini cantik. Penampilannya juga tak mengecewakan. Tubuhnya tinggi langsing. Penampilannya pun modis meski berada di rumah. Seandainya saja diriku tidak bermasalah, barangkali aku bisa belajar menyukainya….
“Dua tahun itu kok lama banget rasanya, ya,”cetus gadis itu membuyarkan lamunan Samuel. Pemuda itu sampai tergagap menanggapi komentarnya. “La…lama maksudmu? Itu…itu sudah waktu tersingkat yang sanggup kupikirkan untuk perkawinan kita. Kalau diperpendek, takutnya malah ketahuan. Bisa berabe nanti.”
“Aku mesti mendiskusikannya dulu dengan pacarku. Belum tentu dia setuju,” kata Aileen bersikeras.
“Silakan saja. Barangkali dia bisa mengusulkan ide yang lebih baik. Tapi seperti yang tadi kubilang. Kalau dia sungguh-sungguh mencintaimu, waktu dua tahun menunggumu itu tak ada artinya. Apalagi hanya sekadar formalitas saja. Kalian tetap berpacaran seperti biasa. Asal jangan menyolok di depan umum.”
Aileen menggigit bibirnya. Dia lalu mengungkapkan kekuatirannya, “Walaupun begitu, statusku sudah berubah menjadi istri orang, Sam. Kalau kita bercerai nanti, aku akan menjadi janda. Kamu tahu kan, bagaimana pandangan orang sini terhadap janda? Aku kuatir keluarga James tak bersedia menerimaku lagi karena status itu….”
“Itu adalah tugas pacarmu untuk menjelaskan pada keluarganya. Membuat mereka mengerti bahwa kamulah satu-satunya wanita yang dicintainya. Jangan kamu tanggung sendiri beban itu, Leen. Namanya sepasang kekasih ya harus saling berbagi suka dan duka. Bukan cuma mau sukanya aja….”
Masuk akal juga kata-katanya, pikir gadis itu. Justru ini dapat merupakan pembuktian seberapa besar cinta James padaku. Kalau aku yang berada dalam posisinya, bagiku tak masalah menunggu dua tahun saja. Toh, kami saat ini juga belum kepikiran untuk menikah.
“Ok,” cetus gadis itu mengambil keputusan. “Akan segera kubicarakan hal ini dengan pacarku. Kamu akan kuhubungi secepatnya.”
“Sip,” sahut lawan bicaranya lega. Pemuda itu lalu meraih ponselnya. “Berapa nomor WA-mu? Aku mau menyimpannya.”
Aileen menyebutkan sejumlah angka. Setelah menyimpan nomor itu dalam ponselnya, Samuel langsung meneleponnya. Ponsel gadis itu berbunyi.
“Nggak usah diangkat,” kata pemuda itu. “Itu telepon dariku. Supaya kamu bisa menyimpan nomor WA-ku.”
Gadis di hadapannya mengangguk. Dia menghela napas lega. Ditatapnya Samuel penuh terima kasih.
“Syukurlah kita berdua sepakat, Sam. Semoga semuanya berjalan lancar,” ucapnya lirih. Sorot matanya kini jauh lebih bersahabat.
Pemuda di hadapannya mengangguk mengiyakan. “Kalau ada apa-apa, jangan sungkan-sungkan menghubungiku kapan saja. Keberhasilan sebuah rencana membutuhkan kerja sama yang baik di antara kedua belah pihak.”
Giliran Aileen yang mengangguk. Terima kasih, Tuhan, batin gadis itu bersyukur. Kalaupun aku harus menikah dengan laki-laki yang tak kucintai, setidaknya dia bukan orang yang menyebalkan. Perkawinan itu juga untuk sementara waktu. Selanjutnya diriku akan bebas merdeka lagi sebagai Aileen Benyamin!
***
“Apa katamu? Kita backstreet?” cetus James tak mengerti. Ditatapnya Aileen penuh tanda tanya. Kekasihnya itu mengangguk mengiyakan.
Dia lalu menceritakan perjodohan antara dirinya dengan Samuel, putra kawan lama ayahnya. Dijelaskannya pula tentang ide pemuda itu untuk sekadar menikah di atas kertas dan bercerai dua tahun kemudian.
James termangu mendengar penuturan sang kekasih. Dirinya merasa tak terima dengan pengaturan pernikahan Aileen oleh orang tuanya.
Zaman modern begini kok masih ada perjodohan, protesnya dalam hati. Pemuda itu dongkol setengah mati.
“Kita kabur aja, yuk,” ajaknya tiba-tiba. Ditatapnya sang kekasih penuh harap.
“Hah?!” seru Aileen terkejut. “Kamu mengajakku kawin lari?” tanya sang kekasih tak percaya. Dia tak menduga James mempunyai ide senekad itu.
“Siapa yang mengajakmu kawin lari?!” sergah pemuda itu. “Aku cuma mengajakmu minggat.”
Aileen melongo. “Maksudmu kita kabur tanpa ikatan pernikahan begitu? Ogah, ah. Takut!” tolaknya tegas.
Sang kekasih menatapnya jengkel. “Kenapa mesti takut? Kita ini kan sudah dewasa. Bukan anak ingusan lagi. Sudah cukup umur untuk menentukan jalan hidup sendiri.”
“Tapi aku nggak mau menyakiti hati orang tuaku, James. Kalau aku minggat, Papa dan Mama pasti sedih sekali. Aku kan anak mereka satu-satunya,” ucap Aileen beralasan.
Kekasihnya menatapnya tak senang. “Maksudmu orang tuaku nggak akan sedih kalau aku kabur? Mentang-mentang saudaraku banyak. Jadi papa-mamaku pasrah saja kalau salah seorang anaknya pergi membawa lari seorang gadis?” balasnya sengit. Pemuda itu merasa sangat tersinggung.
Lho, kok malah jadi aku yang disalahkan? pikir Aileen galau. Padahal maksudku kan….
“Leen, aku nggak percaya sama omongan cowok yang dijodohkan sama kamu itu,” kata James berterus terang. “Laki-laki itu pada dasarnya lemah. Mana bisa tinggal seatap dengan perempuan yang berstatus sah istrinya tapi tak menyentuhnya sama sekali! That’s bullshit!”
“Lha, kamu sendiri mengajakku kabur,” sela kekasihnya tak mau kalah. “Seandainya kamu nggak sanggup menahan diri dan membuatku hamil gimana?”
“Ya udah. Kita langsung nikah aja. Beres, kan?” balas sang pemuda enteng. Dia menyeringai lebar.
Si gadis melongo. “Jadi kalau aku nggak hamil, kita nggak akan nikah? Itu artinya kita cuma jadi pasangan kumpul kebo?!” tuduhnya sengit. Hatinya mulai merasa jengkel.
James menyeringai. “Bukan begitu maksudku, Sayang. Kamu kan tahu aku sangat mencintaimu,” rayunya gombal.
Dicubitnya lembut hidung mancung sang kekasih. Aileen merajuk manja. Pemuda itu jadi gemas melihatnya. Dengan sigap dikulumnya bibir merah merekah itu penuh gairah. Bibir dan lidah James menari-nari dengan lincahnya. Sang kekasih membalasnya tak kalah bergelora.
Bibir pemuda berambut jabrik itu perlahan bergerak turun. Mencumbu mesra leher jenjang si gadis. Aileen mendesah penuh kenikmatan. James semakin berani. Bibirnya bergerak semakin turun dan….
“Stop, Sayang,” pinta Aileen sembari melepaskan diri dari sang kekasih. “Jangan diteruskan lagi. Takut semakin jauh.”
James mendengus kesal. Diturutinya kehendak gadis itu seperti biasa. Namun kedua tangannya masih nakal menyentuh bagian depan blus Aileen yang menutupi dua bukit kembar asetnya.
“Kapan aku dapat menikmati si kembar, Sayang?” tanya pemuda itu manja. “Sedikit aja boleh, dong. Kujamin nggak sampai hamil, deh. Hehehe….”
Aileen sontak menjauhkan kedua tangan kekasihnya tersebut dari bagian depan tubuhnya.
“Hush!,” tegurnya sambil melotot. Dia berpura-pura marah. “Ini kan di kos, James. Kamu nggak takut tiba-tiba ada yang mau masuk ke dalam kamar ini?”
Pemuda itu terkekeh geli. “Ya udah, kalau gitu. Kukunci aja pintunya sekarang. Jadi kita bebas bermesraan, Sayang,” celetuknya sambil beranjak menuju ke pintu kamarnya.
“James!” tegur kekasihnya belingsatan.
“Iya, Sayang,” jawab pemuda itu manis.
“Yang serius, dong. Aku datang kemari kan untuk berdiskusi denganmu.”
Pemuda itu mendesah. “Memangnya apa yang perlu didiskusikan denganku? Kamu sepertinya sudah mencapai kata sepakat dengan cowok pilihan papamu itu,” katanya kecewa.
Mata Aileen mulai berkaca-kaca. “Maafkan aku, Sayang. Cobalah untuk mengerti keadaanku saat ini. Aku nggak sanggup melawan kehendak Papa. Waktu kami bertengkar dua hari yang lalu tentang masalah ini, Mama menangis terus tanpa henti. Aku nggak tega melihatnya, James….”
Dan kini kamu yang menangis, Cintaku, batin James dongkol. Dia sangat antipati melihat perempuan meneteskan air mata. Bukannya membuat hatinya menjadi luluh, tapi justru merasa muak. Namun seringkali perasaannya itu ditutupi dengan sikapnya yang pintar merayu kaum hawa. Hal itulah yang membuat banyak perempuan jatuh cinta kepada pemuda tampan itu. Termasuk Aileen Benyamin, gadis yang menjadi pacarnya satu tahun terakhir ini.
“Sudahlah, Sayang. Jangan menangis. Sini biar kupeluk,” katanya lalu merengkuh sang kekasih. Biasanya gadis itu langsung tenang kalau dipeluk olehnya. Perempuan memang lemah, ejeknya dalam hati. Dikit-dikit nangis. Nggak ada cara lain apa untuk mengungkapkan kesedihan!
Benar saja. Aileen berangsur-angsur tenang kembali dalam pelukan kekasihnya. Mereka lalu duduk bersama di atas tempat tidur.
“Jadi gimana, James?” tanya gadis itu kemudian. Dipandanginya sang kekasih penuh harap.
“Gimana apanya?” balas sang pemuda acuh tak acuh.
“Apakah kamu mau menungguku dua tahun lagi? Kita masih bisa pacaran seperti ini, kok. Kamu boleh datang ke rumahku nanti….”
“Rumah barumu dengan cowok kaya itu?” sindir James sinis.
Aileen mendesah. Dia tahu dalam lubuk hatinya yang paling dalam, kekasihnya itu agak rendah diri dengan kondisi finansialnya yang di bawah Samuel. Maklum, James sudah lama hidup mandiri.
Semenjak lulus SMA di Lumajang, sebuah kota kecil di Jawa Timur, pemuda itu pergi merantau ke Surabaya. Ia menumpang tinggal di rumah pamannya selama empat tahun.
James bekerja serabutan di rumah makan masakan Jawa milik kakak kandung ayahnya itu. Puas dengan kinerja pemuda itu, si paman lalu membuka cabang baru di sebuah mal. Laki-laki itu mempercayakan pengawasan rumah makan itu pada keponakannya tersebut.
Saat itulah James mengutarakan niatnya pada sang paman untuk hidup mandiri. Dia berkata ingin belajar mengurus dirinya sendiri sebagaimana laki-laki dewasa.
“Lagipula kos tempat James tinggal nanti dekat dengan mal itu, Om,” kata pemuda itu berupaya meyakinkan sang paman. “Jadi lebih praktis dan fleksibel. Nanti seminggu dua kali aku akan main ke rumah Om sembari memberikan laporan operasional cabang baru itu.”
Dengan berat hati, sang paman akhirnya setuju. Selanjutnya James hidup mandiri di rumah kos. Dia kini merasa bebas melakukan apapun yang dikehendakinya. Jauh berbeda dengan dulu sewaktu masih tinggal di rumah pamannya. Di sana tindak-tanduknya senantiasa dijaga agar tetap sopan dan tidak melanggar norma-norma yang berlaku. Dirinya juga tak punya waktu untuk mencari kekasih karena kesibukannya membantu di rumah makan pusat setiap hari.
Begitu tinggal terpisah dari pamannya, James bagaikan burung yang lepas dari kandang. Pemuda itu mulai mendekati gadis-gadis cantik yang datang bersantap di rumah makannya. Triknya macam-macam. Mulai dari memberi diskon langsung pada si gadis waktu membayar, memberi makanan atau minuman tambahan gratis sebagai bentuk compliment, menghadiahi voucher diskon atau cashback jika datang kembali di lain waktu, dan lain sebagainya.
Berbekal ketampanan, kegagahan, dan kepandaiannya berbicara, James berhasil menarik hati sejumlah gadis pelanggannya. Beberapa ada yang sempat menjadi kekasihnya dan berhasil diajaknya berhubungan intim. Namun hubungan-hubungan percintaannya tak berlangsung lama. Lambat laun gadis-gadis itu menyadari hanya dipermainkan saja oleh pemuda itu. Akhirnya mereka putus dan tak pernah datang ke rumah makan itu lagi.
James yang merasa jenuh memutuskan untuk tak lagi menggoda gadis-gadis pelanggan rumah makannya. Dia lalu memanfaatkan waktu luangnya untuk berlatih binaraga di pusat kebugaran yang terletak di lantai atas mal tersebut. Di sanalah pemuda itu berkenalan dengan Aileen. Dirinya langsung tertarik pada gadis itu pada pandangan pertama.