"Aku di PHK, Tar," ujar Bang Hanif dengan suara datar. Raut kesedihan tampak jelas di wajanya.
Aku terkejut mendengar berita itu, hingga seketika hening menyelimuti ruang tamu kami. Rasanya semua mimpi dan harapan yang kami bangun, mendadak runtuh. Baru beberapa bulan menikah, kami langsung diberi cobaan.
"Gak papa, Bang," jawabku sambil menggenggam tangannya, mencoba memberi ketenangan. "Mungkin rezeki kita memang sudah habis di pabrik itu. Nanti aku coba ikut cari kerjaan juga bareng kamu. Kita pasti bisa lewatin ini."
Bang Hanif menggeleng pelan. "Ngak usah, Tar. Selama di perjalanan pulang tadi, Abang, sudah pikirkan usaha untuk menghidupi keluarga kita."
"Apa itu, Bang?" tanyaku, penasaran dan sedikit berharap.
"Kita pindah aja ke rumah ibu sama bapakku, ya." Bang Hanif menatapku sambil tersenyum. "Toko Ibu sama Bapak 'kan besar, masih ada petakan yang kosong. Jadi kita buka usaha aja di sana, sepetak buat Abang buka bengkel, sepetak lagi buat kamu jualan nasi goreng sama mie rebus, dan sisanya untuk ibu dan bapak tetap jualan kebutuhan sehari-hari. Aku rasa muat kok."
Aku diam sejenak, memikirkan rencana itu. Bang Hanif terdengar penuh keyakinan, tetapi perasaanku dilanda kekhawatiran. "Memangnya kamu ada modal, Bang?" tanyaku, sedikit ragu.
"Ada kok, Tar," jawab Bang Hanif sambil mengeluarkan selembar amplop cokelat dari sakunya. "Ini uang pesangon dari pabrik. Lumayan, daripada habis hanya untuk kebutuhan sehari-hari, lebih baik kita coba putar untuk usaha. Siapa tahu nanti bisa berhasil."
Mendengar hal itu, aku merasa ada harapan baru dalam rasa putus asa yang menyelimuti kami. Pikiranku mulai melayang, membayangkan kami berdua berjuang bersama, membangun masa depan yang lebih baik.
"Aku setuju, Bang. Kita coba saja," ujarku, tersenyum lebar.
Bang Hanif tersenyum lega, menggenggam tanganku erat. "Makasih, ya, Tar, sudah percaya sama abang. Nanti kita jalani ini sama-sama, apa pun yang terjadi."
Aku tidak khawatir untuk tinggal serumah dengan mertua. Selama kami pacaran, Ibu dan Bapak Bang Hanif selalu memperlakukanku dengan baik, penuh kasih sayang. Memikirkan mereka, aku merasa lebih tenang.
Dengan penuh semangat, aku dan Bang Hanif bersiap menjalani hidup yang baru, menghadapi cobaan dengan usaha dan doa.
=====
Beberapa bulan menjalani usaha, kami sadar bahwa jalanya tak semudah yang dibayangkan. Ternyata membangun sebuah usaha itu agar berkembang dan maju cukup sulit.
Bengkel yang Bang Hanif buka tidak seramai harapan kami. Setiap hari, hanya ada beberapa motor yang mampir untuk diperbaiki, itu pun sering kali hanya sekadar mengganti oli atau memperbaiki kerusakan kecil.
Di sisi lain, jualanku juga sepi, hanya ramai ketika malam minggu saja, itu pun saat sore dan malam, tapi hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, di tengah kesibukan mencari rezeki, ada sesuatu yang mulai membuatku merasa tak nyaman di rumah ini. Semakin hari, sikap kedua mertuaku terasa berubah, dan itu membuatku bertanya-tanya.
Awalnya aku berpikri mungkin itu cuma perasaanku saja karena kami baru mulai beradaptasi tinggal dan hidup bersama. Namun entah kenapa, perlahan-lahan aku merasa bahwa perubahan sikap mereka bukanlah sekadar dugaanku saja.
Malam ini, saat aku tengah mengemasi peralatan masak, samar-samar terdengar suara Bapak mertua dari dalam toko sebelah, berbicara dengan suara yang rendah tapi jelas sampai di telingaku.
"Enak banget dia nyuruh-nyuruh si Hanif melayani pelanggan. Malu aku kalau anak kita jadi pelayan," gumam ayah mertua dengan nada kesal.
Jantungku terasa berdegup lebih cepat. Aku berhenti sejenak, berpura-pura fokus pada pekerjaanku. Namun, rasanya sulit untuk mengabaikan kata-kata itu.
"Iya," sahut ibu mertua, suaranya tak kalah dingin. "Besok aku coba ngomong baik-baik sama Tari. Aku juga nggak suka kalau Hanif disuruh-suruh seperti itu. Kita aja nggak pernah suruh-suruh anak kita."
Aku menarik napas panjang, menahan segala perasaan yang muncul begitu saja. Rasanya sakit mendengar mereka bicara seperti itu. Padahal, aku tidak pernah memaksa Bang Hanif untuk membantu di lapak jualanku. Ia melakukannya dengan sukarela.
Bukankah wajar jika suami istri saling membantu? Aku tidak berniat merendahkan Bang Hanif atau memposisikannya sebagai pelayan. Kami bekerja sama untuk membangun kehidupan yang lebih baik, tapi sepertinya mertuaku tidak melihatnya seperti itu.
Setelah semuanya rapi, aku masuk ke kamar dengan perasaan yang masih tertahan. Bang Hanif tampak sudah duduk di ujung ranjang, terlihat kelelahan, tapi tetap tersenyum saat melihatku masuk.
"Kamu udah selesai, Sayang?" tanyanya lembut sambil mengulurkan tangan.
Aku mengangguk pelan, lalu duduk di sebelahnya. Namun, tatapanku kosong, memandang lurus ke lantai.
Bang Hanif sepertinya menyadari bahwa ada yang tak beres. "Ada apa, Tar? Kamu kelihatan sedih," tanyanya.
Aku ragu-ragu sejenak, tapi akhirnya kuputuskan untuk jujur. "Aku tadi dengar percakapan Bapak dan Ibu, Bang," ucapku lirih. "Mereka nggak suka kalau kamu bantuin aku di lapak. Katanya mereka malu kalau kamu terlihat seperti 'pelayan'."
Bang Hanif tertegun, lalu menghela napas panjang.
"Kamu nggak salah, kok, Tar," ujarnya. "Abang memang ingin bantu kamu, ini juga usaha kita bersama. Abang nggak merasa rendah atau malu, malah abang bangga bisa bantu kamu."
Aku tersenyum kecil mendengar kata-katanya, meskipun hatiku masih terasa pedih. "Aku cuma takut mereka salah paham, Bang. Aku nggak mau hubungan kita jadi tegang dengan mereka."
Bang Hanif mengangguk pelan. "Besok abang coba bicara sama Bapak dan Ibu. Abang mau mereka tahu kalau ini kemauan Abang, bukan kamu yang menyuruh atau memaksa."
Pagi harinya, saat aku sedang mempersiapkan dagangan di dapur, ibu mertua tiba-tiba menghampiriku dengan wajah datar. "Tar, kamu bisa nggak, ya, lebih rajin lagi jualannya? Jangan minta bantuan Hanif terus, soalnya dia pasti juga capek di bengkel," katanya tanpa basa-basi, nada suaranya terdengar menekan.
Aku mencoba tersenyum, meski hati ini terasa teriris. "Iya, Bu, saya akan berusaha sebaik mungkin," jawabku dengan sopan.
Setiap hari, aku merasa sikap Ibu dan Bapak mertua semakin dingin, nyaris tak pernah tersenyum atau berbicara hangat seperti dulu.
Setiap kali bertemu, Bapak mertua selalu menghindar, ia bahkan tak mau menyentuh makanan atau minuman yang aku buatkan. Yang lebih pedih, beliau akan memberikan makanan dan minuman itu kepada orang lain yang datang ke tokonya.
Begitu juga dengan Ibu mertua yang hanya mengangguk singkat, lalu berlalu tanpa sepatah kata, apalagi ucapan terima kasih ketika aku membantunya di toko.
Mungkin Bang Hanif belum sempat bicara dengan mereka soal yang kemarin dan sepertinya mereka agak marah padaku. Jadi, aku mencoba memaklumi dan memilih untuk mengurus semuanya sendirian.
Sejak saat itu, aku berusaha melayani pelanggan tanpa bantuan siapa pun. Aku bekerja lebih keras dari sebelumnya, menyajikan pesanan nasi goreng, mie rebus, dan melayani pelanggan satu per satu. Malam ini, saat warung sedang ramai, Bang Hanif datang dan menghampiriku.
"Biar Abang bantu, Tar," ujarnya sambil mengangkat kuali besar di depanku.
Aku tersenyum kecil, menahan rasa letih yang mulai terasa di sekujur tubuh. "Nggak usah, Bang. Kamu pasti capek di bengkel seharian. Istirahat aja sana. Aku bisa, kok," jawabku, mencoba terdengar tegar.
Bang Hanif menatapku dengan raut wajah bingung. "Kamu yakin, Tar? Abang nggak mau kamu kecapekan sendirian kayak gini."
Aku hanya mengangguk sambil memasang senyum tipis. "Iya, Bang. Nggak apa-apa kok. Anggap aja ini latihan buat aku, supaya kuat," ujarku, meski dalam hati aku merasa ingin menyerah.
Malam demi malam berlalu, dan aku tetap berusaha menjalankan semuanya sendiri. Kadang sampai tengah malam, aku masih melayani pelanggan yang datang, membersihkan peralatan, dan merapikan lapak jualanku tanpa bantuan siapa pun.
Namun, tubuhku mulai tak kuat. Pagi ini saat hendak menyiapkan dagangan di dapur, tiba-tiba pandanganku terasa berputar. Tubuhku mendadak lemas, dan seketika keringat dingin mengalir di dahiku.
Aku pamit pada Ibu mertua yang sedang ada di sini dan memutuskan untuk tidak berjualan. Badanku terasa lelah dan pegal, jadi kuputuskan untuk istirahat sejenak.
Aku tidur hingga sore hari, berharap bisa pulih. Ketika terbangun, perutku terasa kosong, membuatku langsung menuju dapur dengan harapan bisa menemukan sesuatu untuk dimakan.
Namun, saat membuka lemari dan melihat meja makan, tak ada satu pun makanan di sana. Hatiku terasa kembali teriris. Aku sadar, mungkin ini hal sepele, tapi di tengah kondisi yang seperti ini, rasanya seperti luka yang semakin dalam.
Aku menghela napas panjang, lalu memutuskan untuk ke toko, mencari Bang Hanif. Saat itu, ia masih berada di bengkelnya yang tak jauh dari rumah. Ketika melihatku mendekat, ia tersenyum.
"Bang, kamu sudah makan?" tanyaku, mencoba terdengar biasa saja meski ada getir yang kutahan dalam hati.
Bang Hanif mengangguk. "Udah, tadi. Ibu sama Bapak beli nasi bungkus. Jadi, mereka sekalian beliin buat aku juga, soalnya kamu nggak masak katanya."
Aku tercekat sejenak. Jadi, mereka sudah makan dan mereka seakan melupakanku. Padahal Ibu mertua tahu sejak pagi tadi aku tidak enak badan. Hatiku bergetar, tapi aku menahan perasaanku agar tak pecah di depan Bang Hanif.
"Terus... buat aku nggak ada?" tanyaku, mencoba mencari kepastian takut kalau dugaanku salah.
Bang Hanif menatapku, tampak sedikit heran. "Kamu mau? Aku bisa pergi beliin lagi, kok," katanya, mencoba menawarkan.
Aku tersenyum tipis, menahan rasa kecewa yang semakin kuat. Ternyata, Ibu dan Bapak mertuaku benar-benar tak peduli. Mereka tahu aku tidak sehat, tapi tetap tak menganggap keberadaanku. Bagiku ini terasa menyakitkan, tapi bagi mereka, mungkin ini hanya hal kecil yang tak perlu dipikirkan.
"Nggak usah, Bang," jawabku akhirnya dengan senyum yang kupaksakan. "Aku masak mie aja, nggak apa-apa kok."
Aku kembali ke dapur dengan langkah perlahan, menyiapkan sebungkus mie instan yang kubeli di toko Ibu mertua. Aku menyeduh mie instan dengan air panas, sambil berusaha menelan perasaan kecewa yang mengalir deras.
Ketika duduk di meja makan, aku menyendok mie dengan perlahan, air mata tak terasa menggenang di pelupuk mata. Aku tidak ingin terlihat lemah atau mengeluh di depan siapa pun, tapi kali ini rasanya tak tertahankan.
Saat itu, tanpa kusadari, Bang Hanif masuk ke dapur, melihatku dengan raut wajah yang cemas. "Tar, kamu kenapa?" tanyanya pelan, duduk di sampingku sambil menggenggam tanganku.
Aku menunduk, berusaha menyembunyikan air mata yang sudah menetes. "Aku nggak apa-apa, Bang," bisikku dengan suara parau. Namun, hatiku berkata sebaliknya, ingin mencurahkan semua perasaan yang kupendam.
Bang Hanif memandangku dalam-dalam. "Tar, kalau ada apa-apa bilang ke Abang. Jangan pendam sendiri."
Aku menelan ludah, mencoba merangkai kata yang sulit kuutarakan. "Bang ... aku merasa ... kalau aku nggak pernah dianggap ada di rumah ini. Kadang aku merasa sendirian, Bang. Aku berusaha buat baik sama semuanya, tapi mereka seolah nggak peduli. Padahal tadi pagi Ibu tahu aku lagi nggak enak badan ... tapi dia seolah melupakanku. Bahkan sekadar membelikan makan saja, dia tak ingat." Suaraku bergetar, dan kali ini aku tak mampu lagi menahan isak kecil.
Bang Hanif menghela napas panjang, lalu ia menggenggam tanganku lebih erat. "Mungkin tadi mereka lupa, Tar ... atau mungkin mereka pikir kamu nggak suka nasi bungkus, atau khawatir nasinya keburu basi kalau nggak dimakan langsung," ujarnya.
Mendengar jawaban itu, hatiku terasa semakin terluka. Entah kenapa, kata-kata Bang Hanif justru menambah rasa kecewaku. Seolah-olah, secara halus ia menyiratkan bahwa sikapku yang keliru, bahwa aku mungkin berlebihan dalam merasakan ini semua. Diam-diam aku berharap suamiku lebih memahamiku, tetapi yang kurasakan saat ini hanyalah jarak yang mulai tercipta.
=====
Demamku baru saja reda kemarin, badan terasa lebih ringan. Namun, giliran Bang Hanif yang terserang flu. Semalam dia merasa sekadar lelah biasa, tapi pagi ini ia terbangun dengan hidung tersumbat dan kepala berat.
"Nif, kamu nggak usah buka bengkel dulu, ya," ujar Ibu mertua dengan lembut, mendekati Bang Hanif yang duduk bersandar di sofa dengan wajah kusut. "Kamu istirahat saja, biar badanmu cepat pulih."
Bang Hanif hanya mengangguk pelan, kepalanya disandarkan ke belakang, matanya terpejam. Melihatnya anaknya sakit, Ibu mertua tampak begitu khawatir.
Aku hanya duduk diam, memperhatikan interaksi mereka. Dalam hati, ada perasaan ganjil yang sulit kujelaskan. Kemarin saat aku sakit, hampir saja jatuh di dapur karena badan lemas, tapi ibu mertua hanya melihat sekilas dan kembali sibuk dengan kegiatannya. Tak ada perhatian, tak ada ucapan agar aku istirahat. Bahkan, aku harus mencari makan sendiri. Perbedaan itu begitu terasa.
"Kalau flu begini kamu harus makan yang hangat-hangat, Nif" ujar Ibu mertua tiba-tiba, menyadarkanku dari lamunan. Lalu, ia menoleh padaku. "Tari, buatkan suamimu bubur sama sup dan jangan lupa siapkan air panas buat diminum."
"Iya, Bu," jawabku patuh.
Segera, aku melangkah ke dapur. Sambil menyiapkan bahan-bahan untuk bubur dan sup, pikiranku melayang-layang. Aku berusaha memahami, wajar memang kalau ibu mertua lebih perhatian pada anaknya sendiri. Mungkin aku tak seharusnya berharap banyak.
Namun, aku sudah resmi menjadi bagian dari keluarga ini. Statusku sebagai menantu seharusnya berarti aku juga diperhatikan. Namun, kenyataannya, aku merasa seperti orang asing, tetap dianggap orang lain.
Dari balik pintu dapur, aku mengintip ibu mertua yang masih duduk di dekat Bang Hanif, berbicara pelan padanya. Aku menarik napas panjang, mencoba menghilangkan rasa sepi di hatiku. Setelah semua siap, aku membawa semangkuk bubur dan sepiring sup hangat ke meja.
"Bang, makan dulu, ya," ucapku lembut pada Bang Hanif sambil menyodorkan mangkuk bubur. Ibu mertua tersenyum puas, seolah lega melihat anaknya dirawat dengan baik.
"Makasi, Tar," ujar Bang Hanif, matanya sedikit terpejam. Aku hanya tersenyum kecil sambil duduk di sampingnya, memastikan ia benar-benar makan. Ibu mertua tersenyum puas, lalu meninggalkan ruangan ini menuju warungnya.