Demi menyelamatkan seorang influencer muda yang terkena skandal, suamiku memintaku untuk bercerai dan menjadi kambing hitam.
Meisya, anak angkat dari mendiang sopirnya, tertangkap kamera masuk hotel dengan pria beristri.
Namun, Galvin justru menyuruhku mengorbankan diri.
"Indri, reputasimu bisa menyelamatkan Meisya. Kita cerai dulu, biarkan publik mengira kau istri yang jahat dan gila harta."
Di kehidupan sebelumnya, aku menangis dan menolak ide gila itu.
Akibatnya, Galvin merekam amukanku diam-diam, mengeditnya, dan menyebarkannya ke internet.
Aku dihujat satu Indonesia sebagai wanita kasar dan tidak tahu diri, sementara Meisya dipuja sebagai korban yang polos.
Depresi dan hancur, aku tewas dalam kecelakaan mobil saat dikejar wartawan.
Ketika membuka mata lagi, aku kembali ke momen saat Galvin menyodorkan surat cerai itu di ruang kerja kami yang dingin.
Dia menatapku, menunggu reaksiku yang biasanya histeris.
Tapi kali ini, aku tidak menangis.
Aku mengambil pena dengan tenang, menatap matanya, dan tersenyum tipis.
"Baik, aku setuju kita bercerai."
"Tapi ada syaratnya. Semua aset, saham perusahaan, dan rumah ini... harus dipindahnamakan atasku sekarang juga."
Bab 1
Indriani POV:
Udara di ruang kerja ini terasa dingin. Bukan karena AC, tapi karena kebekuan di hatiku. Aku menatap keluar jendela, ke arah gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang diselimuti kabut polusi. Empat tahun. Empat tahun aku mengorbankan segalanya demi pernikahan ini. Demi seorang pria yang kini berdiri di hadapanku, siap mengorbankanku demi wanita lain.
Ketukan pintu yang tegas membuyarkan lamunanku. Suara Galvin.
"Indri, kita harus bicara."
Suaranya datar, tanpa emosi. Sama seperti enam bulan lalu, saat berita tentang Meisya Herlambang, seorang influencer muda dengan citra polos dan rapuh, meledak di seluruh media sosial. Meisya, anak angkat dari mendiang sopir pribadi Galvin, dituduh terlibat skandal besar. Tertangkap kamera masuk ke hotel bersama investor pria beristri, diduga untuk mendapatkan peran film. Netizen Indonesia menyerangnya habis-habisan.
Saham perusahaan media milik Galvin anjlok. Semua orang panik. Aku ingat bagaimana Galvin mondar-mandir di ruang tamu, wajahnya tegang. Ia memegang ponselnya erat-erat, seolah berusaha menyelamatkan nyawa Meisya dari serangan publik.
Aku masih ingat. Malam itu, Galvin mendatangiku dengan mata memerah. Bukan karena sedih, tapi karena marah. Marah pada situasi, marah pada dunia, marah padaku yang seolah tak bisa memahami bebannya.
"Ini bukan salahku," kataku lirih.
"Tapi kau istrinya! Reputasimu, reputasi kita, bisa menyelamatkan Meisya!" Dia berteriak.
Di kehidupan lampau, aku menangis. Aku memohon. "Bagaimana bisa kau memintaku melakukan itu, Galvin? Apa yang akan terjadi pada nama baikku?"
Dia tidak peduli. Matanya hanya terpaku pada bayangan Meisya. Dia bersikeras aku harus bercerai dengannya, membiarkan dia memfitnahku di depan publik sebagai istri yang "gila harta dan kasar". Semua itu, hanya untuk menutupi berita buruk Meisya dan menyelamatkan saham perusahaannya.
Aku menolak. Aku mengamuk. Aku memohon. Aku bahkan mengancam akan membongkar kebusukannya. Tapi dia lebih pintar. Dia merekam semua amukanku secara diam-diam. Video itu menjadi bukti bahwa aku "tidak stabil", "gila harta", dan "kasar". Video itu diputar di mana-mana. Reputasiku hancur dalam semalam.
Aku depresi. Serangan panik menjadi teman setiaku. Ketika para wartawan mengejarku hingga ke jalanan, mobilku terguling. Aku ingat rasa sakit yang menusuk, kegelapan yang menelan segalanya. Dan kemudian, hanya kehampaan.
Sampai aku terbangun. Di tempat tidur kami, di ruangan yang sama, dengan udara dingin yang sama. Enam bulan setelah skandal Meisya meledak. Tepat di saat Galvin datang kepadaku dengan ide gila itu lagi. Aku terlahir kembali.
Kali ini, tidak ada tangisan. Tidak ada permohonan. Hatiku terasa kosong, dingin, namun dipenuhi tekad yang membara. Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkanku lagi.
"Indri?" Suara Galvin memanggil lagi, lebih dekat.
Aku berbalik. Dia berdiri di ambang pintu, memegang selembar kertas. Kertas itu tampak tidak berbahaya, namun mengandung racun yang mematikan. Surat cerai.
"Kita perlu bicara serius," katanya, masuk dan menutup pintu di belakangnya. Dia berjalan ke arah meja, meletakkan kertas itu dengan hati-hati.
Aku hanya menatapnya. Wajahnya masih tampan, penuh otoritas. CEO arogan yang selalu merasa harus menjadi pahlawan bagi semua orang, kecuali istrinya sendiri. Dia menganggap cintaku adalah sesuatu yang mutlak, yang tidak akan pernah hilang. Betapa bodohnya aku dulu.
Dia duduk di kursi di hadapanku. "Aku tahu ini sulit," dia memulai, suaranya terdengar lembut, palsu. "Tapi ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan Meisya. Dan perusahaan kita."
"Menyelamatkan Meisya, atau menyelamatkan dirimu sendiri, Galvin?" Aku bertanya, suaraku tenang, bahkan nyaris tanpa nada.
Dia terkejut. Matanya sedikit melebar. Ini bukan Indriani yang dia kenal. Indriani yang dulu akan menangis, meratap, memohon pengertiannya.
"Jangan memperumit masalah," katanya, nada suaranya mulai mengeras. "Meisya rapuh. Dia butuh perlindungan. Kau tahu ayah Meisya menyelamatkan nyawaku bertahun-tahun lalu. Aku berhutang budi padanya."
"Dan kau melunasi hutang itu dengan mengorbankan istrimu sendiri?" Aku mengamati reaksinya. Tidak ada penyesalan, hanya sedikit kejengkelan karena aku tidak kooperatif.
Dia menghela napas panjang, seolah aku adalah beban terberatnya. "Ini hanya perceraian palsu, Indri. Untuk sementara sampai badai ini berlalu. Kita bisa kembali setelah semuanya tenang."
"Palsu?" Aku mengulangi kata itu, membiarkan pahitnya memenuhi mulutku. "Seperti cintamu yang palsu?"
"Indri! Jangan kekanak-kanakan!" Dia membanting tangannya ke meja. Kertas di atasnya sedikit terangkat. "Kau harus mengerti. Reputasiku, reputasi perusahaan, semuanya dipertaruhkan. Jika saham terus anjlok, kita akan kehilangan segalanya!"
"Dan reputasiku? Namaku?" Aku menunjuk diriku sendiri. "Tidak ada nilainya, begitu?"
"Ini untuk kebaikan bersama!" Dia berkeras. "Kau akan difitnah sebagai istri yang gila harta, yang kasar. Tapi itu hanya akting. Aku akan pastikan kau mendapatkan kompensasi yang layak. Setelah semua ini selesai, kita akan rujuk. Kau tahu aku hanya mencintaimu."
Aku hampir tertawa. Hanya mencintaiku. Omong kosong. Dia hanya mencintai citranya sendiri sebagai pahlawan, sebagai penyelamat. Dan aku, aku hanyalah pion dalam permainannya.
Tiba-tiba, pintu terbuka lagi. Meisya masuk, mata sembab, rambut sedikit acak-acakan. Dia tampak seperti baru bangun dari tidur atau baru selesai menangis. Wajahnya sangat pucat, dan dia memegang tissue di tangannya.
"Kak Galvin... Kak Indri..." Suaranya pelan, bergetar. Dia berjalan mendekat, langkahnya seolah rapuh.
Galvin langsung berdiri, bergerak cepat ke sisi Meisya. Tangannya refleks meraih bahu wanita itu. "Meisya, kenapa kau keluar? Kau harus istirahat."
Meisya menggelengkan kepala, menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak bisa, Kak Galvin. Aku tidak bisa membiarkan Kak Indri menderita karenaku. Ini semua salahku. Aku... aku akan pergi saja. Aku tidak mau menghancurkan pernikahan kalian."
"Tidak!" Galvin membantah dengan tegas. "Ini bukan salahmu. Kau korban. Aku yang akan menyelesaikan ini."
Meisya memegang tangan Galvin erat-erat, lalu menatapku lagi. "Kak Indri, aku mohon... maafkan aku. Aku akan melakukan apa saja. Aku... aku akan berlutut jika perlu..." Dia mulai membungkuk, seolah ingin berlutut di hadapanku.
"Meisya, jangan!" Galvin segera menahan Meisya, menariknya kembali ke pelukannya. Dia memelototiku, seolah aku adalah penyebab Meisya bertindak seperti itu. "Lihat, Indri. Dia sudah seperti ini. Kau tidak kasihan padanya?"
Meisya terisak pelan di bahu Galvin. "Aku tidak sekuat Kak Indri..."
Aku hanya menatap mereka berdua. Mereka berakting begitu sempurna, begitu natural. Di kehidupan lampau, adegan ini membuatku gila. Aku melihat Galvin memeluk Meisya, membelai rambutnya, menenangkannya. Hatiku hancur berkeping-keping. Aku berteriak, mengamuk, menuduh mereka. Dan Galvin merekamnya.
Tapi sekarang, aku tidak merasakan apa-apa. Hanya rasa jijik yang dingin. Aku tahu Meisya hanyalah wanita manipulatif yang memanfaatkan Galvin. Dan Galvin, dia terlalu dibutakan oleh "hero complex"nya untuk melihat kebenaran.
Galvin mengangkat kepalanya dari Meisya, menatapku lagi dengan ekspresi kesal. "Jadi bagaimana, Indri? Jangan buang waktu lagi. Ini untuk kebaikan kita semua."
"Kebaikan siapa?" Aku bertanya, suaraku masih tenang. "Bukan kebaikanku, kan?"
"Ini bukan waktunya untuk egois!" Galvin menekan. "Aku tidak akan membiarkan perusahaan ini hancur. Kau akan menandatangani ini, atau-"
"Atau apa, Galvin?" Aku mengangkat kepalaku, menatap lurus ke matanya. Aku tahu persis apa yang akan dia katakan. Apa yang dia lakukan di kehidupan lampau. "Atau kau akan memfitnahku? Mengeluarkan video rekamanku saat aku marah? Menuduhku gila? Mencoreng namaku di depan publik, bahkan lebih dari yang kau rencanakan?"
Dia diam. Matanya sedikit menyipit. Dia tidak menyangka aku akan begitu tenang, begitu langsung. Dia merasa tertangkap basah.
Di kehidupan lampau, dia melakukannya. Dia bahkan memalsukan bukti bahwa aku berselingkuh dengan seorang pria di Bali, menggunakan foto-foto editan dan saksi bayaran. Dia bilang aku sengaja menghabiskan uang perusahaan untuk pria simpananku. Itu adalah pukulan terakhir bagiku. Kepolosanku benar-benar ditolak. Aku tidak pernah melakukan hal sehina itu. Aku berteriak membela diri, tapi tak ada yang percaya. Mereka menyebutku pelacur, wanita murahan, istri durhaka.
Kali ini, aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Aku akan mengakhiri permainan ini. Dengan caraku sendiri.
Aku memandang surat cerai di meja. Senyum tipis terukir di bibirku, dingin seperti es.
"Baiklah," kataku. "Aku setuju."
Galvin dan Meisya terdiam. Mata mereka membelalak kaget.
"Aku setuju untuk bercerai," lanjutku, melangkah mendekat ke meja. "Tapi ada syaratnya."
Inilah awal dari permainan baruku. Permainan yang akan menghancurkan mereka, satu per satu.
"Apa syaratmu?" Galvin bertanya, masih dalam keterkejutannya. Dia tidak tahu, dia baru saja membuka pintu neraka bagiku.
Aku mengambil pulpen dari meja, menatapnya, lalu ke arah Meisya yang masih terpaku di pelukan Galvin. Mereka berdua dalam genggamanku sekarang.
"Semua aset, atas namaku," kataku dengan tenang, menunjuk surat cerai. "Dan ini bukan perceraian biasa. Ini akan menjadi perceraian yang akan membuat kalian menyesal seumur hidup."
Senyumku mengembang, kali ini bukan lagi es, tapi api. Api yang siap membakar segalanya.
Indriani POV:
Di kehidupan lampau, setelah Galvin memfitnahku, namaku hancur dalam semalam. Media sosial menjadi medan perang. Aku dicap sebagai istri jahat, gila harta, dan penipu. Sementara Meisya, dia dipoles menjadi korban tak berdosa, seorang gadis rapuh yang membutuhkan perlindungan dari semua orang. Ironisnya, kini aku memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan.
"Semua aset, atas namaku," kataku lagi, memastikan Galvin mendengarnya dengan jelas. "Termasuk saham perusahaan. Dan ya, rumah ini juga."
Galvin menatapku, ekspresinya campur aduk antara terkejut dan sedikit geli. Mungkin dia berpikir aku masih wanita yang sama, yang bisa dibujuk kembali dengan janji-janji manis.
"Kau serius? Semua?" Dia bertanya, seolah itu adalah permintaan yang sangat berlebihan.
"Tentu saja," jawabku. "Ini adalah harga 'perceraian palsu' yang kau inginkan. Atau kau bisa memilih jalur yang sebenarnya. Biarkan aku menuntutmu di pengadilan atas perselingkuhan dan penipuan publik."
Dia mengeraskan rahangnya. Dia tahu aku tidak main-main. Reputasi sebagai CEO yang ceroboh dan selingkuh, itu akan jauh lebih buruk daripada mengorbankan aset untuk "istri gila harta".
"Baiklah. Aku setuju," katanya akhirnya, setelah beberapa saat hening. Ada nada meremehkan dalam suaranya, seolah dia yakin aku akan kembali padanya dan aset-aset itu hanya akan kembali ke tangannya.
Aku mengambil pulpen. Tanganku tidak gemetar. Bahkan sedikit pun. Dengan satu gerakan cepat dan tegas, aku membubuhkan tanda tanganku di atas kertas. Surat cerai ini, yang dulu akan merenggut jiwaku, kini terasa seperti tiket kebebasan.
Galvin menatap tanda tanganku, lalu menatapku. Matanya mencari jejak kesedihan, kemarahan, atau putus asa. Tapi dia hanya menemukan ketenangan yang aneh.
"Kau... tidak ingin membacanya dulu?" Dia bertanya, menunjuk dokumen itu.
Aku menggelengkan kepala. "Tidak perlu. Aku tahu apa yang kubutuhkan."
Ada sesuatu yang aneh di matanya. Mungkin sedikit ketakutan, sedikit kebingungan. Tapi itu bukan urusanku lagi. Dia tidak pernah mempedulikan apa yang kubutuhkan selama ini.
Aku ingat bagaimana dia dulu selalu membela Meisya. Bahkan sebelum skandal ini meledak, Meisya adalah prioritasnya. Aku pernah bertanya kepadanya, "Siapa yang lebih penting bagimu, Galvin? Aku atau dia?" Dia hanya menjawab, "Meisya tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, Indri. Kau punya aku." Dia melihatku sebagai wanita yang kuat, yang bisa mengerti dan berkorban. Dia melihat Meisya sebagai wanita rapuh yang harus dilindungi.
Betapa naifnya aku dulu, mempercayai kata-katanya. Dia selalu menganggap cintaku padanya mutlak, tidak akan pernah hilang. Dia menganggap aku akan selalu ada.
"Kapan kita bisa mengurus sisanya?" Aku bertanya, memecah keheningan. "Aku ingin ini selesai secepat mungkin."
Galvin mengangguk kaku. "Asistenku akan menghubungimu besok untuk mengatur jadwalnya."
"Bagus," kataku. Aku melepas cincin kawinku, yang dulu kusebut sebagai simbol keabadian. Kulemparkan cincin itu ke meja, tepat di samping surat cerai yang sudah kutandatangani. Cincin itu berputar beberapa kali sebelum berhenti, kilaunya terasa dingin dan asing.
Galvin menatap cincin itu, lalu menatapku. Tatapannya kosong.
"Aku sudah tidak membutuhkannya lagi," kataku.
Galvin tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia berdiri, dengan langkah berat ia berjalan keluar ruangan. Meisya, yang tadinya terdiam di pelukannya, kini mengangkat kepalanya, menatapku dengan senyum tipis. Senyum kemenangan.
"Semoga berbahagia, Kak Indri," katanya, suaranya manis, tapi matanya memancarkan ejekan.
Aku hanya membalas senyumnya. Bukan senyum manis, tapi senyum yang berjanji akan memberikan neraka.
Aku tahu dia berpikir dia menang. Tapi dia tidak tahu, di kehidupan ini, aku tidak lagi bermain sebagai korban. Aku adalah pemain. Dan kali ini, aku akan menulis ulang semua aturan.
Beberapa jam kemudian, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Dari Meisya. Dia mengirimkan foto. Foto dirinya sedang duduk di sofa mewah di apartemen kami, mengenakan kemeja Galvin yang terlalu besar untuknya. Senyumnya lebar, matanya berbinar penuh kemenangan.
Aku harap Kak Indri baik-baik saja. Kak Galvin sangat mengkhawatirkanku sampai tidak bisa tidur. Aku harus menemaninya di sini.
Aku membaca pesan itu. Tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi cemburu. Hanya rasa geli yang dingin. Dia begitu yakin dia bisa memprovokasiku. Dia begitu yakin aku akan menangis dan meratap seperti dulu.
Aku hanya tersenyum. Aku menyimpan tangkapan layar pesan itu. Bukti. Bukti yang akan berguna nanti.
Dulu, pesan seperti ini akan membuatku gila. Aku akan membalasnya dengan amarah, menuduhnya, dan melemparkan kata-kata pedas. Tapi itu adalah Indriani yang lama. Indriani yang mudah diprovokasi. Indriani yang naif.
Aku ingat saat teman-teman Meisya datang kepadaku di kehidupan lampau, setelah perceraian "palsu" itu meledak. Mereka berpura-pura iba, tapi sebenarnya menyudutkanku.
"Indri, kau harus mengerti Galvin," kata salah satu temannya. "Dia melakukan ini demi Meisya. Meisya sangat rapuh. Dia pernah mencoba bunuh diri beberapa kali."
"Dan aku?" Aku bertanya, air mataku mengalir. "Aku tidak rapuh? Aku tidak kesepian?"
"Kau kuat, Indri," kata yang lain, dengan nada yang terdengar seperti penghinaan. "Galvin butuh pahlawan. Meisya butuh pahlawan. Kau hanya seorang istri."
Mereka mengatakan Galvin menceraikanku karena ia harus melindungi Meisya, yang katanya di ambang kehancuran mental. Mereka bilang Galvin berhutang nyawa pada ayah Meisya, dan inilah cara dia melunasinya. Aku mencoba menjelaskan bahwa Meisya manipulatif, tapi mereka hanya menganggapku cemburu dan gila.
Di kehidupan ini, aku tahu persis bagaimana permainan mereka bekerja. Aku tahu Meisya bukan korban, tapi dalang. Aku tahu Galvin bukan pahlawan, tapi boneka yang mudah dimanipulasi.
Aku menghembuskan napas perlahan. Aku punya kesempatan kedua. Kesempatan untuk tidak lagi menjadi korban. Kesempatan untuk mengambil kembali hidupku.
Keesokan harinya, asisten Galvin menghubungiku. Dia terkejut saat aku mengiyakan setiap permintaannya tanpa protes. Termasuk kehadiran wajibku di konferensi pers yang akan diselenggarakan Galvin.
"Nyonya Indri, Tuan Galvin berharap Anda bisa hadir. Ini untuk menunjukkan bahwa perpisahan ini adalah kesepakatan bersama."
Aku tersenyum tipis. "Tentu saja. Aku akan hadir."
Dia mungkin berpikir aku bodoh, atau masih berharap Galvin akan berubah pikiran. Biarkan saja. Mereka tidak tahu apa yang sedang kurencanakan.
"Baiklah, Nyonya. Kami akan kirimkan detail acara dan busana yang perlu Anda kenakan."
Aku menutup telepon. Jadi, mereka ingin aku menjadi bagian dari drama mereka, ya? Mengikuti skenario mereka? Baiklah. Aku akan melakukannya. Tapi dengan sentuhan pribadiku.
Beberapa hari kemudian, aku tiba di lokasi konferensi pers. Ruangan itu penuh sesak dengan wartawan dan kamera. Lampu-lampu sorot menyilaukan mata, tapi aku tetap tenang. Aku mengenakan gaun yang mereka pilihkan, gaun sederhana berwarna pastel yang membuatku terlihat polos dan sedikit patah hati. Sempurna.
Tak lama kemudian, Galvin muncul dari balik panggung. Di sisinya, Meisya clingy seperti biasa. Meisya mengenakan gaun putih bersih, tampak pucat dan rapuh, bahkan memakai perban tipis di pergelangan tangannya. Drama queen.
Galvin segera mengapit Meisya, melindungi wanita itu dari kilatan kamera yang membabi buta. Dia berbicara dengan nada lembut kepada Meisya, seolah mengusirnya dari kerumunan, menenangkan. Mereka berdua memainkan peran mereka dengan sangat baik.
Galvin sejenak melihat ke arahku, matanya bertemu dengan mataku. Ada sedikit kekhawatiran di sana, mungkin juga sedikit rasa bersalah. Tapi itu bukan cinta. Itu hanya ketakutan. Ketakutan bahwa aku akan merusak permainannya.
Aku hanya membalas tatapannya dengan senyum tipis. Senyum yang tidak menunjukkan rasa sakit, tidak menunjukkan amarah. Hanya kekosongan.
Dalam benakku, aku masih memiliki setitik harapan yang bodoh. Berharap dia akan datang kepadaku, mengatakan semua ini adalah kesalahan, bahwa dia memilihku. Tapi itu hanya bisikan kecil dari Indriani yang lama. Indriani yang baru tahu dia harus membunuh harapan itu dengan tangannya sendiri.
Aku memejamkan mata sesaat. Ketika aku membukanya, harapan itu sudah mati.
Galvin dan Meisya telah naik ke podium. Waktunya pertunjukan. Bagiku, ini juga waktunya panggung. Panggung untuk kebebasanku.
Indriani POV:
Galvin menyelesaikan pidatonya, suaranya terdengar meyakinkan bagi para wartawan. Ia berbicara tentang komitmennya pada perusahaan, tentang bagaimana ia rela mengorbankan segalanya demi menjaga integritas media di tengah badai informasi. Tidak ada satu pun tatapan yang ditujukannya padaku. Seluruh perhatiannya tercurah pada Meisya, yang masih meringkuk lemah di sisinya. Meisya, korban yang rapuh.
Senyum tipis, nyaris tak terlihat, tersungging di bibirku. Betapa ironisnya. Dulu, aku akan hancur melihat pemandangan ini. Tapi sekarang, aku hanya melihat dua aktor yang sedang memainkan peran mereka dengan sangat baik.
Seorang wartawan mengangkat tangan. "Nyonya Indriani, bisakah Anda menjelaskan bagaimana hubungan Anda dengan Tuan Galvin saat ini?"
Aku berjalan maju sedikit, mengambil mikrofon yang disodorkan. Wajahku tenang, sorot mataku datar. "Tuan Galvin dan saya telah memutuskan untuk mengakhiri pernikahan kami. Kami sedang dalam proses perceraian."
Ruangan itu langsung dipenuhi bisikan. Kilatan kamera semakin gila.
"Tapi Nyonya Indri," wartawan lain menyahut. "Bukankah Tuan Galvin pernah melakukan hal-hal romantis yang luar biasa untuk Anda? Kami ingat saat Tuan Galvin menyewa seluruh bioskop untuk menonton film pertama Anda bersama. Bukankah itu menunjukkan cinta yang mendalam?"
Aku hampir tertawa. Romantis? Semua itu hanya bagian dari pencitraan.
"Itu adalah bagian dari masa lalu," jawabku, suaraku stabil. "Dan sejujurnya, itu lebih tentang citra publik daripada cinta yang mendalam. Bioskop itu, itu untuk acara amal perusahaan. Filmnya, film yang kebetulan kami berdua suka. Itu adalah bagian dari kampanye media sosial perusahaan."
Para wartawan saling pandang, terkejut dengan jawaban jujurku yang blak-blakan. Aku tidak lagi peduli menjaga citra palsu mereka.
"Jadi, Nyonya Indri," pertanyaan berikutnya datang, lebih tajam. "Apakah Anda masih mencintai Tuan Galvin?"
Galvin yang tadinya menatap lurus ke depan, kini sedikit menoleh ke arahku. Matanya mencari jawaban di wajahku. Ada sedikit ketegangan di sana. Dia mungkin berharap aku akan mengatakan sesuatu yang samar, sesuatu yang masih memberinya celah. Atau mungkin dia ingin aku menangis dan mengatakan ya.
Aku menatap lurus ke kamera, ke jutaan mata yang mungkin sedang menonton. "Tidak," kataku, lugas dan jelas. "Aku tidak lagi mencintainya."
Wajah Galvin menegang. Meisya, di sisinya, tersenyum tipis. Sebuah senyum kemenangan yang tak dapat disembunyikan.
"Terima kasih atas waktu Anda." Aku menyerahkan mikrofon kembali dan berbalik. Tanpa menoleh lagi ke arah Galvin atau Meisya, aku berjalan keluar dari ruangan itu. Pertunjukanku sudah selesai.
Keesokan harinya, seperti yang sudah kuduga, berita tentang perceraian kami meledak. Indriani Tampubolon, istri yang "diceraikan karena gila harta dan kasar", telah meninggalkan suaminya yang "sangat mencintai dan setia kepada mantan sopirnya." Aku menjadi judul utama di setiap media.
Foto-fotoku yang tenang di konferensi pers dipadukan dengan narasi bahwa aku adalah wanita dingin yang tidak berperasaan. Kemudian, muncul video-video lamaku yang direkam Galvin saat aku mengamuk di kehidupan lampau. Video itu dirilis oleh akun anonim yang diduga adalah orang terdekat Galvin. Tentu saja, itu adalah ulah Meisya atau Galvin sendiri.
"Lihat bagaimana dia berteriak pada suaminya!"
"Wanita ini jelas tidak waras."
"Bagaimana mungkin Galvin bisa bertahan dengannya?"
Meisya, di sisi lain, disebut sebagai "korban sejati," "gadis malang yang tak berdosa." Netizen bersimpati padanya, mengutukku. Diskusi tentang wawancaraku yang blak-blakan memenuhi media sosial. Aku dituduh egois, tidak tahu berterima kasih, dan tidak berperasaan. Mereka menyebutku Indriani si Jahat.
Aku hanya membiarkannya. Kata-kata itu tidak lagi menyentuhku. Mereka bisa mengatakan apa pun yang mereka mau. Aku punya rencanaku sendiri.
Beberapa hari kemudian, aku pergi ke kantor hukum untuk menyelesaikan semua dokumen perceraian. Galvin sudah menungguku di sana. Dia terlihat lebih kurus, pakaiannya sedikit kusut. Ada lingkaran hitam di bawah matanya.
"Indri," katanya, suaranya lelah. "Kau yakin dengan semua ini?"
Aku hanya mengangguk. "Tentu saja."
Dia mencoba meraih tanganku. "Indri, ini tidak harus seperti ini. Kita bisa bicara. Aku bisa menjelaskan semuanya. Aku masih-"
Aku menarik tanganku, menjaga jarak dengannya. "Tidak ada yang perlu dijelaskan, Galvin. Semuanya sudah jelas."
Dia menatapku dengan mata memohon. "Aku tahu kau marah. Tapi ini hanya sementara. Setelah semuanya reda, kita bisa kembali."
Aku hampir tertawa. Kembali? Setelah semua yang dia lakukan? Setelah dia menjadikan hidupku seperti neraka?
"Kita tidak akan kembali, Galvin," kataku, suaraku datar. "Ini adalah perpisahan yang permanen."
Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin. Kau tidak bisa begitu saja melupakanku. Semua yang kita lalui."
"Semua yang kita lalui?" Aku tersenyum pahit. "Kau hanya mengingat bagian mana? Bagian saat kau mengorbankanku demi Meisya? Atau bagian saat kau memfitnahku di depan umum?"
Tiba-tiba, aku menyadari ada beberapa wartawan yang berdiri agak jauh, mengarahkan kamera mereka ke arah kami. Galvin juga melihatnya. Ekspresinya berubah kaku. Dia selalu peduli dengan citra publiknya.
"Aku akan meninggalkan Jakarta," kataku, memutuskan. "Aku akan kembali ke kampung halamanku di Samosir."
Mata Galvin membelalak. "Apa? Tidak! Indri, kau tidak bisa pergi sejauh itu. Ini hanya sementara, kan? Kau akan kembali."
"Aku tidak akan kembali," jawabku tegas. "Tidak akan pernah."
Dia terlihat panik. "Indri, jangan lakukan ini. Hidupmu di sini. Kariermu. Teman-temanmu."
"Kehidupanku di sini sudah hancur," kataku dingin. "Kariermu yang membuat karierku hancur. Teman-temanku? Mereka semua sudah membuangku sejak kau memfitnahku."
"Tapi-"
"Aku sudah menandatangani surat cerai," potongku. "Aku sudah memenuhi semua permintaanmu. Sekarang, penuhi janjimu. Transfer semua aset yang sudah kita sepakati."
Galvin menatapku, tercengang. Dia mungkin baru menyadari bahwa kali ini, aku benar-benar pergi. Dia mungkin baru menyadari bahwa dia tidak bisa lagi mengontrolku.
Melihat ekspresinya, aku tahu dia mulai merasa takut. Ketakutan yang sama yang kurasakan di kehidupan lampau. Tapi kali ini, aku yang memegangnya.
Dulu, aku sempat berpikir untuk merobek surat cerai itu, menolak semua kesepakatan, dan melawan habis-habisan. Tapi itu hanya akan membuatku kembali menjadi korban. Menjadi Indriani yang histeris, yang bisa dengan mudah dicap gila.
Indriani yang baru, lebih tenang, lebih strategis. Aku tahu bahwa kadang, untuk menang, kau harus berpura-pura kalah.
Aku tersenyum tipis lagi, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. Itu adalah senyum kebebasan.
"Sampai jumpa, Galvin," kataku, lalu berbalik dan berjalan pergi. Aku tidak pernah menoleh ke belakang.