"Ada sesuatu yang terasa gatal dan tidak nyaman. Kemarilah dan tolong aku."
Alisa Pohan merasa tubuhnya seakan seperti sedang terbakar. Dia menggeliat, lalu mencium jakun pria itu dengan sungguh-sungguh, dan memohon padanya untuk berhubungan s*ks dengannya.
Sudah pasti tidak akan ada yang bisa menolak wanita cantik seperti dirinya. Dia adalah sosok yang sangat indah, menawan, dan juga tidak bermoral.
"Baiklah, kamu yang memintanya," ucap pria itu dengan jakun yang bergerak naik dan turun. Terpikat oleh pesonanya, dia pun memegang pinggangnya, mengangkatnya dan membungkuk untuk mulai menyetub*hinya.
"Ukh ...." terdengar suara Alisa yang mulai mengera*g dengan penuh kenikmatan.
Jika hanya didengar dari suaranya, sulit untuk mengetahui apakah dia sedang kesakitan atau hanya terangs*ng secara s*ksual.
Dengan cepat, dia didorong oleh nafsunya untuk melingkarkan lengannya di sekeliling bahu pria itu dengan sembrono. Dorongan tubuh yang keras dan cepat dari pria itu segera membuatnya mencapai org*sme. Tubuhnya pun berkedut saat dia berbaring telentang di atas ranjang. Dia merasa sangat lelah dan ingin beristirahat. Namun sebelum dia menutup matanya, dia sempat melihat bekas luka yang cukup mencolok pada dada berkeringat pria itu.
... ...
Pada keesokan paginya, Alisa bangun dengan kepala yang terasa sangat sakit. Detik ketika dia membuka matanya, dia langsung dapat merasakan seluruh tubuhnya terasa ngilu, khususnya tubuh bagian bawahnya. Dia pun mengangkat tangannya dan menggosok pelipisnya, mencoba untuk menyadarkan dirinya kembali.
'Apa yang sebenarnya telah terjadi? Bukankah semalam aku minum di kamar Agnes? Siapa pria yang tidur denganku itu?' tanyanya dalam hati.
Tadi malam, Agnes Destia mengundang Alisa ke sebuah pesta kapal pesiar, lalu kemudian ...
Brak! Pintu itu dibanting terbuka.
"Astaga! Alisa! Semalam, kamu ...." Sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, raut keheranan lebih dulu menyelimuti seluruh wajah Agnes.
Pria yang sedang berdiri di sampingnya, Alfred Hermawan, bahkan terlihat lebih terkejut darinya.
Dengan panik, Alisa segera menutupi tubuhnya dengan selimut, namun itu sama sekali tidak cukup untuk menutupi semua gigitan cinta di sekujur tubuhnya. Ada beberapa bekas memar pada leher dan lengannya, dan suasana yang romantis di dalam ruangan itu menunjukkan bahwa dia telah bercint* dengan seorang pria tadi malam.
"Alfred, aku tidak ..." ucap Alisa yang ingin menjelaskan dirinya kepada pacarnya.
"Alisa, kamu benar-benar sudah meminta seorang gigol* untuk tidur denganmu! Bagaimana kamu bisa sampai melakukan hal seperti itu? Kamu sudah menyelingkuhi Alfred!" sela Agnes yang kini tampak sangat marah. Dia terdengar seperti dirinyalah yang baru saja diselingkuhi.
Pada saat ini, Alisa menatapnya dengan tatapan tidak percaya. "Aku sama sekali tidak melakukan hal seperti itu! Agnes, kenapa kamu mengatakan hal yang tidak benar?"
Hanya dalam beberapa detik, Alisa kemudian mengingat semua hal yang telah terjadi tadi malam dan langsung menghubungkan segalanya.
"Apa-apaan ...? Sekarang aku mengerti. Alfred! Agnes yang sudah mengatur semua ini, aku—"
"Diam! Alisa, kamu memang tidak lebih dari seorang pel*cur!" raung Alfred, menyela ucapan Alisa. Matanya berkilat marah dan nada suaranya dipenuhi dengan rasa jijik. "Alisa, kamu tidak lebih dari seorang perempuan jal*ng. Kamu sama saja seperti ibumu! Kalian berdua memang suka merayu pria. Jika saja dia tidak melakukan hal yang begitu bodoh, Grup Pohan mungkin tidak akan pernah jatuh bangkrut. Semua ini salahnya bahwa Grup Pohan berakhir seperti ini!"
"Apa yang sebenarnya sedang kamu bicarakan, Alfred? Apa yang terjadi dengan ibuku?" Pikiran Alisa menjadi kosong seraya dia duduk membeku di atas tempat tidur.
"Jangan pernah menunjukkan wajahmu di hadapanku lagi!" Setelah menyelesaikan kalimatnya, Alfred pergi dengan gusar.
Begitu pria itu meninggalkan ruangan, Agnes memasang senyum licik di wajahnya. "Alfred, tunggu aku!"
Alisa akhirnya mendapatkan kembali ketenangannya setelah dia menyadari sesuatu. Kemudian, dia segera mengenakan jubah mandinya dan mengikuti Alfred ke dek kapal. Dia benar-benar perlu bicara dengannya.
"Alfred, apa maksud dari perkataanmu itu? Bagaimana Grup Pohan bisa bangkrut? Dan katakan padaku, bagaimana orang tuaku meninggal?" tanya Alisa yang akhirnya berhasil meraih bahu Alfred, wajahnya menunjukkan ekspresi khawatir.
Sebersit perasaan bersalah melintas di mata Alfred, tetapi segera digantikan oleh kemarahan. "Enyah! Bukankah aku baru saja memperingatkanmu untuk tidak pernah menunjukkan wajahmu di hadapanku lagi?" ucapnya sambil mencoba untuk melepaskan diri dari cengkeraman Alisa.
"Langsung katakan saja yang sebenarnya dan aku akan meninggalkanmu sendirian. Tolong ... aku perlu mengetahuinya." Alisa terus memegangi Alfred bahkan ketika air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Sekarang, dia sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang berdiri di samping pagar pembatas. Di balik pagar itu, tepat di bawahnya, adalah laut tak berujung.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan. Sekarang lepaskan aku!"
Alfred kini sudah kehabisan kesabarannya dan akhirnya mendorong Alisa lalu pergi. Pada saat Alfred baru saja akan memasuki kabin, seseorang diam-diam menghampiri Alisa, tiba-tiba memeluknya dan terjun ke laut bersamanya.
"Ahhh!"
Mendengar jeritan Alisa, Alfred berbalik dan berlari kembali hanya untuk melihat ombak lautan yang bergejolak. Alisa bahkan sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk meminta bantuan pada siapa pun. Kemudian, orang-orang yang tadinya sedang tertidur di kapal pesiar akhirnya bangun satu per satu. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa ada seorang wanita yang telah jatuh ke laut dan sekarat.
... ...
Lima tahun kemudian, di bandara. Alisa sedang mendorong kereta bagasi dan berjalan keluar.
Efendi Pohan memasang ekspresi wajah yang serius dan berkata, "Biar kubantu, Ma."
Mendengar ucapannya, Alisa menurunkan kepalanya dan mengelus rambut anaknya yang lembut itu. "Aku sungguh memiliki seorang anak lelaki yang penuh perhatian!"
"Bagaimana denganku, Ma?" tanya putrinya, Emilia Pohan, yang sedang duduk di atas kereta bagasi sambil menjulurkan kepalanya. Matanya yang berkilauan membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
"Yah, kalau kamu sih, cukup perhatian untuk menambah beban berat barang bawaan kami," komentar Efendi dengan sinis.
Emilia pun segera berdiri di atas kereta bagasi dan memelototi kakaknya.
Alisa tertawa kecil ketika dia melihat anak-anaknya berinteraksi, matanya dipenuhi dengan tatapan kasih sayang.
Setelah itu, ponselnya tiba-tiba bergetar. Senyum di wajahnya seketika menghilang setelah dia melirik ke arah pesan yang baru saja dia terima itu. Pesan itu dari Johan Bintoro.
"Hubungi aku jika kamu sudah sampai. Aku sudah menyiapkan seorang pengasuh dan sebuah mobil untukmu." bunyi pesan itu.
Sementara matanya terpaku pada layar ponselnya, Alisa tidak bisa berhenti memikirkan sikap sopan pria itu. Dia merasa ragu-ragu apakah dirinya harus menelepon Johan atau tidak.
Karena dia sudah terlalu asyik dengan pikirannya sendiri, dia sampai tidak menyadari apa yang tengah terjadi pada anak-anaknya.
Emilia sedang memegang mainan favoritnya, yaitu sebuah beruang kristal yang berbentuk bundar. Dia sedang bermain dengan gembira. Namun tiba-tiba, ada seseorang yang sedang lewat tidak sengaja menyenggol tangan Emilia, mengakibatkan beruang mainannya itu terjatuh ke lantai. Bandara itu sedang penuh sesak, jadi ketika beruang malang itu terjatuh, dia ditendang-tendang oleh orang-orang yang sedang berjalan.
"Beruangku!" seru Emilia.
"Emilia, tunggu!" teriak Efendi yang berusaha mencegah adiknya untuk berlari.
Emilia dengan tergesa-gesa mengejar beruangnya, sementara Efendi mengejarnya. Segera setelahnya, beruang mainan itu pun berguling ke kaki seorang pria.
"Akhirnya aku menangkapmu!" Emilia mengambil beruang itu sambil tersenyum, kemudian dia melihat ke atas.
Pria yang sedang berdiri di hadapannya itu tinggi dan tegap. Dia mengenakan setelan serba hitam. Wajahnya sangat enak dipandang dan dia memiliki mata yang dalam. Kehadirannya yang mengintimidasi membuat orang-orang yang lewat menjaga jarak darinya, tetapi dirinya malah memikat Emilia.
Pria itu menundukkan kepalanya dan kemudian menatap mata gadis kecil itu. Mata mereka terlihat sangat mirip. Sorot mata Emilia seketika berbinar dan dengan cepat, dia melingkarkan lengannya di paha pria itu.
"Papa!" serunya.
Marvin Mulyadi tertegun.
Dia menatap gadis kecil yang menempel kepada kakinya.
Gadis kecil itu sangat cantik. Matanya yang bulat dan lucu terpaku kepadanya.
Marvin benar-benar terpikat sehingga dia tidak bisa mengalihkan pandangan darinya.
Dia belum pernah melihat seorang anak kecil selucu ini.
Sambil menatap mata gadis kecil itu, Marvin bertanya, "Hei, di mana ibumu?"
Pada saat ini, Alisa sedang mencari anak-anaknya dengan panik di bandara.
Tiba-tiba, dia mendengar suara seorang pria yang dikenalnya datang dari belakangnya.
"Alisa!"
Setelah berbalik, dia melihat seorang pria memegang sebuah buket mawar yang besar dan cerah, dan pria itu menatap tepat ke arahnya.
Dia kemudian melepas kacamata hitamnya dan akhirnya bisa melihat wajah pria itu dengan jelas.
Pria itu tidak lain dari Alfred.
"Alisa, apakah itu benar-benar dirimu?" tanya Alfred dengan suara yang gemetar namun penuh semangat.
Lima tahun yang lalu, dia secara tidak sengaja mendorong Alisa dari kapal pesiar dan membuatnya terjatuh, dan tidak pernah ada berita lain tentang dia yang terdengar sejak saat itu.
Selama lebih dari seribu hari dan malam terakhir, dia telah memaafkan Alisa atas pengkhianatannya, dan dia telah mulai berharap bahwa dia akan kembali kepadanya.
Alfred mengambil langkah lebih dekat ke Alisa, berusaha untuk memeluknya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
Sebuah suara yang melengking datang dari dekat.
Ketika Alfred menyadarinya, dia segera menarik tangannya kembali.
Ketika Alisa melihat wanita yang baru saja berbicara, sebuah seringai licik muncul di wajahnya.
'Benar-benar suatu kebetulan! Semua musuhku telah berkumpul di satu tempat,' batinnya.
Wanita itu ternyata adalah Agnes.
"Dari mana asalmu, dasar jal*ng? Beraninya kamu merayu suamiku? Kamu—"
Agnes berhenti berbicara di tengah-tengah kalimatnya. Matanya melebar dengan ngeri ketika dia menunjuk ke arah Alisa dengan gemetar, hanya bisa terdiam dalam keterkejutannya.
Sepertinya dia terkejut dengan penampilan Alisa yang tiba-tiba. Wanita itu seharusnya sudah mati!
"Apakah kamu seorang hantu atau manusia?"
Alisa mengerutkan alisnya dengan heran. Kemudian, sudut bibirnya yang cerah melengkung dan membentuk sebuah senyuman. Sejujurnya, dia benar-benar terlihat seperti hantu yang cantik.
"Ada apa, Agnes? Apakah kamu tidak menyangka bahwa aku bisa memanjat keluar dari kedalaman neraka untuk mencarimu?"
Hanya dengan mendengarnya mengatakan kalimat itu saja sudah membuat hati Agnes menciut dan suatu rasa dingin yang menggigil menjalari tulang punggungnya.
Dia mengingat bagaimana dirinya telah merencanakan untuk membuat Alisa kehilangan keper*wanannya lima tahun yang lalu, yang menyebabkan dia berselisih dengan Alfred. Terlebih lagi, Alisa bahkan terjatuh ke laut dan ditelan oleh ombak.
'Apakah dia benar-benar sudah kembali untuk membalas dendam?'
Saat pikiran itu terlintas di dalam benak Agnes, dia mulai gemetar ketakutan.
Alfred, di sisi lain, tidak berpikir bahwa kemunculannya adalah suatu hal yang buruk. Untuk sesaat, dia melupakan fakta bahwa dia sudah menikah dengan wanita lain.
Hatinya diliputi dengan kegembiraan ketika dia melihat kekasih sejatinya telah datang kembali.
Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengulurkan tangannya, ingin menyentuh wajah cantik yang dia telah rindukan setiap siang dan malam.
Tiba-tiba, Alisa menampar wajahnya dengan keras.
"Alisa, apa kamu sudah gila?"
Agnes memelototinya dan menyentuh pipi Alfred yang memerah, segera merasa kasihan kepadanya.
Tapi kemudian, Alfred mendorong Agnes untuk menjauh dan menatap Alisa dengan tatapan yang penuh kasih sayang.
"Alisa, aku tidak akan berusaha membuat alasan ... aku pantas mendapatkan tamparan darimu itu. Aku sudah memaafkanmu karena mengkhianatiku. Apakah ada kemungkinan bahwa kamu bersedia untuk kembali padaku?" tanyanya.
Kali ini, Alisa sudah terlalu muak dengan perilaku Alfred yang tidak tahu malu.
"Astaga ... pengakuan cintamu sangat menyentuh, ya? Jika aku belum pernah mati sekali, aku pasti sudah akan menangis dengan terharu sekarang. Maaf untuk memecahkan imajinasimu, tapi aku tidak butuh dimaafkan. Agnes yang mengatur segalanya agar dia bisa menikahimu!"
Alfred melirik Agnes dan bertanya, "Apa yang dimaksud oleh Alisa dengan itu?"
Tiba-tiba, wajah Agnes menjadi pucat pasi. "Jangan dengarkan omong kosong wanita itu!"
Sebuah pertunjukan yang menghibur akan segera terjadi. Pada saat itu, siaran bandara bergema di seluruh bandara.
"Pengumuman darurat bagi para pengunjung bandara. Jika ada seorang pengunjung yang kehilangan anaknya, mohon perhatikan pengumuman berikut. Kami telah menemukan dua anak di sini, satu perempuan dan satu laki-laki. Nama anak perempuan itu adalah Emilia Pohan, dan nama anak laki-laki itu adalah Efendi Pohan. Jika salah satu dari Anda adalah orang tua mereka, silakan datang ke aula layanan bandara sesegera mungkin. Saya ulangi, silakan datang ke..."
'Efendi dan Emilia!'
Alisa segera pergi dengan tergesa-gesa ke arah aula layanan dan meninggalkan Alfred dan Agnes.
Alfred ingin mengikutinya, tapi Agnes segera menghentikannya.
Dia berdiri di sana dan menyaksikan Alisa yang semakin menghilang ke kejauhan, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Setelah melihat reaksi suaminya, Agnes menggertakkan giginya dengan geram. Kebencian yang dalam segera memenuhi matanya.
Sekali lagi, Alisa telah berhasil mengalahkannya.
Dia sangat mencintai Alfred dan dia telah melakukan semua yang dia bisa lakukan hanya untuk menikahinya. Lima tahun telah berlalu sejak saat itu, tapi pria itu masih belum bisa melupakan Alisa. Dan sekarang, wanita jal*ng itu ternyata masih hidup dan telah muncul kembali ke dalam kehidupannya. Agnes hampir hancur.
Begitu Alisa tiba di aula layanan, dia melihat Emilia dan Efendi duduk di dua kursi dengan tenang.
"Oh, anak-anakku! Aku sangat ketakutan. Aku mengira bahwa aku akan kehilangan kalian berdua selamanya."
Dia buru-buru menghampiri untuk memeluk mereka. "Kalian berdua berlari ke mana?"
"Aku sedang pergi untuk mencari papa kita!" ucap Emilia dengan nada gembira dan polos.
"Papa kalian? Siapa dia?" Alisa tercengang mendengar jawaban itu.
"Ini semua adalah salah Emilia. Dia melihat seorang pria tampan tadi dan dia segera memanggilnya 'papa'," keluh Efendi.
Mendengar itu, Alisa menjadi khawatir dengan perilaku putrinya yang sembarangan.
"Emilia, tolong jangan lakukan itu lagi. Itu sangat berbahaya. Apakah kamu mengerti maksudku?"
Emilia mengangguk dengan patuh.
Alisa menghela napas dan membungkuk kepada staf di samping yang telah menjaga anak-anaknya.
"Maaf telah merepotkan kalian. Siapa yang mengirim mereka ke sini? Saya ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikannya."
Sang staf tersenyum kepadanya dan menjawab, "Anak-anak Anda sangat beruntung karena mereka telah bertemu dengan seorang pria terkemuka yang baik hati. CEO dari Grup Mulyadi adalah orang yang membawa mereka ke sini."
Jantung Alisa berdegup dengan kencang ketika dia mendengar itu. Dia meraih anak-anaknya dan berlari keluar, menyebabkan kedua anak kembarnya ketakutan.
Tetapi, pada saat dia berlari keluar, pria itu sudah pergi dan tidak dapat ditemukan. Satu-satunya hal yang bisa dia lihat hanyalah sebuah Maybach yang melesat melewati mereka.
Dia melihat ada seorang pria yang duduk di dalam mobil. Ketika dia melewati mereka, dia menaikkan jendela mobil.
Maybach itu segera menghilang, dan Alisa bahkan tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas.
Saat mesin Maybach itu menderu, Marvin melesat melewati Alisa dan si kembar.
Tepat sebelum dia menutup jendela, dia melihat kelompok tiga orang itu dengan sekilas.
Marvin mengerutkan keningnya dan merasa sedikit tidak puas dengan wanita yang belum pernah dia temui itu.
'Sungguh wanita yang benar-benar ceroboh! Bagaimana dia bisa kehilangan dua anak-anak lucu seperti itu?'
Tapi ketika wajah imut Emilia terlintas kembali di benaknya, hati Marvin melunak.
Dalam sekejap mata, Maybach itu menghilang setelah berbelok, meninggalkan Alisa dalam keadaan linglung.
"Ma, ada apa denganmu? Apa Mama masih marah denganku?" Emilia berbisik dengan perlahan, meraih tangan ibunya.
Efendi memutar bola matanya dengan kesal. "Ini semua adalah salahmu. Mengapa kamu memanggil seseorang yang asing sebagai 'papa'?"
"Ma, aku berjanji aku tidak akan melakukannya lagi," janji Emilia dengan sungguh-sungguh.
Baru pada saat itulah Alisa kembali sadar. Dia tersenyum kepada putrinya dengan lembut. "Aku tidak marah padamu."
"Lalu mengapa Mama tidak menjawabku?" tanya Emilia, cemberut dalam kebingungannya.
Mendengar pertanyaan itu, Alisa terdiam sekali lagi.
Dia hanya berpikir bahwa itu merupakan suatu kebetulan.
Selama lima tahun terakhir, dia tidak pernah melupakan bahwa seseorang telah dengan sengaja merencanakan untuk membuat Grup Pohan bangkrut. Setelah terus menyelidikinya tanpa henti, dia akhirnya menemukan beberapa petunjuk.
Dia telah menemukan bahwa Alfred juga terlibat dalam urusan itu, tetapi dia hanyalah satu dari banyak pion. Ada orang lain di balik kejadian itu.
Sebelumnya, dia pernah berpikir bahwa ayahnya telah melompat dari gedung karena dia tidak tahan dengan pukulan yang dialaminya, dan bahwa ibunya juga bunuh diri karena dia tidak tahan dengan kematian suaminya. Namun, sekarang Alisa bertanya-tanya apakah ada cerita yang lebih dalam di baliknya.
Sepertinya, Grup Mulyadi berada di balik semua kejadian ini.
"Ma, Mama tidak menjawabku lagi!" Emilia memanggilnya dengan cemberut dan menggoyang-goyangkan tangan Alisa dengan penuh semangat.
Akhirnya, dia kembali lagi ke akal sehatnya. Dia menyentuh kepala si kembar dengan ringan.
"Ayo kita pergi dan temui orang yang telah datang menjemput kita."
Dengan satu tangan di tangan masing-masing anaknya, Alisa menunggu di pintu masuk bandara.
Setelah beberapa saat, sebuah mobil Lincoln memekik berhenti di depan mereka.
"Nona Pohan, Anda akhirnya tiba di sini!" Seorang wanita paruh baya yang ramah segera turun dari mobil. "Anda bisa memanggil saya Kusmiati. Tuan Bintoro telah mengatur segala persiapan untuk semuanya. Ayo, silakan masuk ke mobil dulu."
Emilia dan Efendi melompat-lompat dengan girang. "Hore! Om Johan telah mengirim seseorang ke sini untuk menjemput kita!"
Alisa dan si kembar masuk ke dalam mobil itu dan segera melesat ke rumah yang telah diatur Johan untuk ditinggalinya.
Setelah meletakkan barang-barangnya, Alisa mengeluarkan ponselnya dengan sedikit ragu-ragu. Akhirnya, dia menelepon seseorang.
"Terima kasih banyak, Johan," ucap Alisa dengan sopan.
"Alisa, tidak perlu terlalu formal denganku." Suara pria itu rendah dan menyenangkan untuk didengar. "Aku tahu bahwa kamu telah kembali ke rumah untuk menyelidiki masalah mengenai Grup Pohan. Aku ingin membantumu. Hubungi aku jika kamu membutuhkanku."
"Sekali lagi, terima kasih."
Selain dari berterima kasih, Alisa tidak tahu apa lagi yang bisa dia katakan kepada Johan.
Johan adalah orang yang telah menyelamatkan hidupnya ketika dia terjatuh ke laut.
Setelah dia diselamatkan olehnya, mereka mengetahui bahwa dia ternyata sedang hamil.
Dokter mengatakan bahwa dia berada di dalam kondisi fisik yang buruk, dan sebuah aborsi dapat membahayakan nyawanya. Jadi, berkat bantuan Johan sekali lagi, dia berhasil melahirkan Emilia dan Efendi.
Dia berutang nyawanya kepada Johan, tetapi tidak peduli seberapa keras dia mencoba, dia tidak bisa memaksakan dirinya sendiri untuk mencintai Johan. Karena dia bisa merasakan bahwa Johan memiliki perasaan untuknya, sulit baginya untuk menghadapinya.
Dia akan menganggap dirinya tidak berperasaan dan tidak tahu balas budi jika dia menolaknya, tetapi dia juga tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri untuk menerimanya. Singkatnya, dia terjebak di antara dua masalah yang sulit.
Setelah menutup teleponnya dengan Johan, Alisa menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran kacau itu.
Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menjalin hubungan romantis. Prioritas utamanya adalah menyelidiki kebenaran tentang kebenaran di balik kejadian yang terjadi pada Grup Pohan!
Dia melihat ponselnya sekali lagi dan mengetuk tawaran pekerjaan dari Grup Mulyadi.
"Nona Pohan yang terhormat, selamat datang di Grup Mulyadi!"
Dia mengepalkan tangannya dengan erat-erat dan mulai membuat rencana.
Kebangkrutan mendadak yang menghantam Grup Pohan, diikuti oleh kematian orang tuanya ... Dia harus menyelidiki semua peristiwa itu sendiri!
... ...
Keesokan harinya, Alisa pergi ke kantor Grup Mulyadi.
Grup Mulyadi memiliki lokasi yang strategis, dan gedung mereka yang bernama Menara Kembar sangat tinggi dan megah.
Seorang resepsionis membawa Alisa ke dalam kantor dan mengingatkannya dengan suara rendah, "Ini adalah Gita Astari, direktur dari Departemen Desain."
Alisa mengangguk dan segera berjalan masuk.
Seorang wanita duduk di sofa di tengah-tengah ruangan. Dia melihat Alisa dari atas kepala hingga ke ujung kakinya.
Tatapan wanita itu membuatnya merasa tidak nyaman. Namun, Alisa tetap tenang dan membalasnya dengan tersenyum sopan. "Halo, saya adalah Alisa Pohan."
"Selamat datang di Grup Mulyadi." Gita tersenyum padanya. Dia menatap Alisa dengan penuh makna dan berkata, "Aku ada rapat dengan klien malam ini. Kamu bisa ikut pergi denganku."
"Malam ini?" Alisa terkejut, tetapi dia segera menyembunyikan keterkejutannya. "Baik."
Gabrielle mengangguk dengan puas dan berjalan menuju pintu, mengayunkan pinggulnya dengan pelan. "Ikuti aku sekarang."
Alisa bersiap untuk menjalani formalitas masuk kerja. Ketika mereka melangkah keluar dari lift, dia melihat wajah para karyawan menjadi serius, seolah-olah mereka dihadapkan dengan seorang musuh yang tangguh.
Sebuah sosok yang tinggi berjalan keluar dari ruangan kantor, dikelilingi oleh para eksekutif senior. Dia mengenakan setelan yang rapi, dengan postur tubuh yang tegap. Sudah jelas bahwa orang itu bukan seorang karyawan biasa.
Alisa mengedipkan matanya dan menatap pria itu. Dia tampak tidak asing baginya.
Pria itu berhenti di lorong itu dan menoleh.
"Alisa," Gita memanggilnya dari belakang.
Alisa diseret ke samping sebelum dia bisa bereaksi sedikit pun.
Wajah Gita menggelap dan tatapannya menjadi dingin. "Kamu harus tahu tempatmu. Tuan Mulyadi adalah seseorang yang kejam dan sulit untuk didekati. Jika kamu menunjukkan sikap yang tidak pantas terhadapnya, kamu akan segera dipecat tanpa basa-basi."
Pria itu adalah Marvin, CEO dari Grup Mulyadi.
Alisa berpikir sejenak sebelum menundukkan kepalanya dengan patuh. "Saya mengerti."
Gita mendengus dengan kesal dan terus berjalan ke kantor, tetapi Alisa tetap tidak bergerak. Dia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah lorong itu lagi.