Bab 1

Jakarta, 21 Desember 2022, jam 22.00

“Kenapa? Mas mau menceraikanku?” Dara menatap suaminya dengan perasaan tak karuan. Kakinya terasa tidak berpijak saat dia mendapati Adam dan Sarah sedang bermesraan, di kamarnya.

Hatinya tambah teriris saat tadi kedua anaknya ketakutan saat dia mengamuk dan menampar Sarah. Hati ibu mana yang tidak terluka mendapati buah hatinya yang lahir dari rahihmya malah membela wanita lain. Dia adalah ibu kandungnya, kenapa kedua anaknya itu malah menangis dan memeluk wanita itu? Seharusnya dirinya lah yang mendapat pelukan dan kekuatan itu!

Dara masih menatap nanar suami dan Sarah, kakak kandungnya itu. Dia masih belum percaya ternyata kakak kandungnya yang sangat dia percaya tega menusuknya dari belakang! Sarah bahkan mencuri kedudukannya, bahkan tempatnya di hati suami dan anak-anaknya. Bagaimana ada seorang wanita berhati iblis seperti kakaknya itu?

Adam menghela napas berat. Dia membelai kepala kedua anaknya itu dengan lembut. Dan matanya menatap Sarah dengan lembut. “Ajak anak-anak ke kamar, aku mau bicara dulu dengan Dara,” ucapnya.

Sarah mengangguk, wanita itu langsung meraih kedua lengan Permasuri dan Arjuna. Wanita itu tersenyum tipis seolah sedang mengejek Dara yang menangis.

“Mau dibawa kemana anak-anakku!” bentak Dara. Suaranya nyaring, dia tidak sudi membiarkan wanita itu mengambil anak-anaknya.

"Diam kamu, Dara!" Adam meninggikan volume suaranya, menatap istrinya dengan penuh amarah.

Dara tidak menyangka bahwa suaminya yang lembut dan selalu mencintainya selama 7 tahun mereka menikah, detik ini meninggikan volume suaranya di hadapan kedua anaknya! Bahkan yang membuat hati Dara semakin perih adalah Adam tega menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang istri di hadapan selingkuhan pria itu!

“Mas Adam membentakku?” Dara mengatakannya dengan suara bergetar.

Adam hanya tersenyum mengejek. “Seharusnya dari dulu aku sadar kalau kamu bukan wanita yang pantas disebut ibu dan istri!”

“Maksudnya?” Dara bertanya tak mengerti.

Adam tak langsung menjawab, pria itu malah meminta Sarah untuk membawa kedua anaknya pergi.

Dara tidak terima, dia ingin mencegah kepergian Sarah yang membawa kedua anaknya, namun tangan yang kokoh menahannya sangat keras. Kekuatan tangan itu bahkan membuatnya meringis kesakitan.

“Sakit,” lirih Dara.

Adam dengan tega langsung melepaskan tangannya dengan kasar. “Aku rasa rumah tangga kita tidak bisa dipertahankan lagi. Aku sudah terlalu sabar selama 7 tahun menikah denganmu dan 2 tahun terakhir aku mencoba membuang egoku agar rumah tangga ini tidak berakhir karena kamu mengabaikanku dan anak-anak. Aku selalu mencoba mempertahankan mahligai ini, nyatanya... aku tidak mampu menjaganya seorang diri dan aku menyerah.”

Dara merasa takjub karena saat ini dia tidak mengenal pria yang ada di hadapannya ini. Suaminya yang selalu berkata lembut seolah telah mati dan juga pria itu tidak memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’, dan tidak menyebut dirinya dengan sebutan ‘mas’. Apa ini memang sedang bermimpi?

“Ada apa? Aku salah apa? Bukankah kita ini tidak ada masalah apapun selama ini? Kemarin kita baik-baik saja, kan? Bahkan Mas masih mengantarku ke bandara lusa kemarin,” ucap Dara dengan suara yang tercekat.

“Kamu yang berpikir rumah tangga kita baik-baik saja, kan? Kamu lah yang mengabaikanku, Dara. Bahkan kamu mengabaikan anak-anak! Anak-anak butuh kamu, ibunya! Mereka masih ingin bermanjaan dengan kamu, tapi kamu malah mengabaikan mereka! Kamu hanya sibuk dengan bisnismu... bisnismu, dan juga teman-temanmu itu! Bahkan kamu mengabaikanku, suamimu! Kamu tidak merasa bersalah?”

Dara berpikir sejenak dan dia menatap Adam dengan senyumnya yang getir. “Bukankah Mas Adam sudah mengizinkanku untuk mengurus bisnisku? Mas juga tidak mempermasalahkannya, bahkan aku selalu meminta izin darimu setiap aku melakukan perjalanan bisnisku. Jadi, letak kesalahanku dimana?”

Adam setengah tertawa. Dia menatap istrinya dengan perasaan yang kecewa. “Kamu mengabaikan surgamu, Dara. Bahkan kamu mengantarkan surga baru untuk kami, kamu menghilangkan cinta yang hangat di rumah ini dan kamu tahu bagaimana cinta yang hilang itu bisa membuat aku dan anak-anak terisi lagi?” tanyanya, dan dia menjeda ucapannya sejenak. “Cinta itu datang dari Sarah, dia lah yang membuat kekosongan di hatiku dan anak-anak. Apa yang kamu hilangkan, dia isi kembali. Sarah selalu ada untuk anak-anak, bahkan untuk mengerjakan PR saja, Sarah selalu ada untuk anak-anak. Sedangkan kamu, ibunya... kamu hanya sibuk dengan duniamu! Kamu mengabaikan istanamu! Aku sudah muak, Dara. Aku tidak mau lagi rumah tangga ini dilanjutkan karena terasa pincang.”

“Mas menyalahkanku? Mas Adam ingin bercerai denganku?” tanya Dara, dia ingin memastikan kalau pikirannya itu salah.

Adam tidak menjawab apa-apa, pria itu hanya menganggukan kepalanya.

“Pergilah! Aku akan mengurus berkas perceraian ke pengadilan, dan masalah anak-anak... mereka akan berada di pengasuhanku.”

Dara menggelengkan kepalanya. “Mas Adam! Semudah itu kamu menceraiakanku? Kamu tidak ingin kita bicara lagi?”

“Maaf, Dara. Aku sudah lelah menghadapimu, aku juga merasa hampa menjalani mahligai ini. Aku takut jika kita melanjutkan rumah tangga yang pincang ini hanya akan melukai satu sama lainnya. Aku tidak mau menunda perceraian ini.”

Dara setengah tertawa. “Hanya karena wanita itu? Kalian adalah pasangan yang keji! Kalian bermain di belakangku! Dan masalah anak-anak, aku tidak akan membiarkan pengasuhan mereka jatuh ke tangan kalian berdua! Permaisuri dan Kaisar adalah anakku, jadi aku lah yang akan mengasuhnya!”

“Kamu baru menyadari kalau kamu punya anak? Selama ini, kamu kemana? Kamu lupa kalau kamu adalah seorang ibu?” sindir Adam dengan sengaja.

“Aku adalah ibunya! Jadi aku lah yang berhak atas mereka!”

“Oke. Kita bisa bertarung di pengadilan dan jangan lupa kalau Kai dan Suri bahkan lebih memilih Sarah daripada ibu kandungnya sendiri. Mereka hanya menganggap Sarah adalah ibunya. Dan kamu... adalah wanita yang hanya melahirkan kedua anakku saja!”

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Adam dan ini pertama kalinya Dara menampar suaminya.

"Kamu kejam, Mas! Kamu tega membuatku hancur!”

“Kamu lah yang menghancurkan dirimu sendiri, jangan salahkan orang lain atas kehancuranmu!”

Dara menangis. Air matanya tidak pernah mengering kali ini. “Apa kamu tidak mencintaiku lagi?”

Adam terdiam tiga detik, lalu dia mengnggukan kepalanya. “Iya, di hatiku tidak ada lagi nama kamu, Dara. Saat aku mengabaikanku, di hatiku telah diisi wanita lain.”

“Itu Kak Sarah?”

Adam diam seribu bahasa. Dia melihat arlojinya. “Silakan kemasi barang-barangmu dan tinggalkan rumah ini!” ucapnya dengan kejam. Adam langsung meninggalkan wanita itu yang masih kacau.

Setelah Adam pergi, Dara menjatuhkan tubuhnya di atas lantai. Dia tidak percaya suami dan kedua anaknya mengabaikan dirinya. Mereka tidak lagi mencinbtainya dan ingin membuangnya!

Dalam keadaan hatinya yang hancur, Dara bangkit. Dia langsung pergi dari rumahnya, yang mungkin esok bukan mnjadi rumah baginya. Dengan tangan yang gemetar, dia membuka pintu mobilnya dan langsung pergi meninggaljab rumah itu.

Di dalam mobil, Dara masih saja kalut. Dia mengendarai mobil dengan kacau. Bahkan hampir beberapa kali dia menabrak kendaraan di depannya. Beruntung malam ini agak larut, jadi kendaraaan tak banyak yang lewat.

Dara masih tidak menyangka Adam selingkuh, dan yang membuat dia semakin sakit wanita yang menjadi selingkuhan suaminya adalah kakak kandungnya sendiri, seseorang yang sudah dia anggap bagian dari dirinya. Kenapa Sarah begitu kejam menusuk jantung hatinya? Kenapa Adam dengan tajamnya melukai hatinya? Kenapa? Apa salahnya?

“Jika memang Mas Adam memintaku untuk di rumah, kenapa tidak bicara? Jika Mas Adam tidak puas denganku, kenapa Mas malah mencari kepuasan di wanita lain? Kenapa Mas tidak bicara?” Dara terus saja menangis.

Dan di saat Dara kalut, tiba-tiba dia tidak bisa mengendalikan kecepatan mobilnya, dan dia merasa panik saat rem tidak berfungsi, tanpa pikir panjang dia langsung membanting stir dan mendadak semuanya gelap!

Bab 2

“Sayang, ada apa?”

Dara langsung membuka kedua matanya, dia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan ini adalah kamarnya.

Ini bukan mimpi, kan?

“Sayang, kamu mimpi buruk?”

Suara Adam membuyarkan lamunan Dara, dia langsung menatap suaminya, dan dia pun menangis, memeluk suaminya erat. “Ini bukan mimpi, kan?” tanyanya terisak.

Dan di saat Dara kalut, tiba-tiba dia tidak bisa mengendalikan kecepatan mobilnya, dan dia merasa panik saat rem tidak berfungsi, tanpa pikir panjang dia langsung membanting stir dan mendadak semuanya gelap!. “Kamu kecapean karena kemarin sibuk ya, Sayang?” suaranya lembut, pria itu mengecup puncak kepala Dara lembut.

“Mas Adam... kamu masih mencintaiku, kan?” Dara malah bertanya ke hal lain.

Adam semakin bingung, dia langsung menatap istrinya. Dia melihat ada kegelisahan luar biasa di mata indah itu. Air mata terus saja mengalir di kedua pipi Dara.

Adam menghela napas pendek, dia menghapus air mata itu dengan jemarinya. “Pertanyaan yang kamu juga tahu jawabannya, Sayang,” balasnya tersenyum hangat.

“Mas Adam masih menganggap aku menarik, kan?”

Adam semakin tidak mengerti, alisnya pun terangkat. “Sebentar, Mas ambilkan minum dulu buat kamu, Sayang.” Pria itu beranjak dari tempat tidur.

Tak berselang lama, Adam langsung menyerahkan segelas air mineral pada Dara dan istrinya itu langsung meminumnya habis.

Dara mengatur napasnya, dia masih saja kalut dan takut dengan mimpi buruknya tadi. Dia memeluk Adam lagi. Sungguh, Dara tidak mau kehilangan suami dan anak-anaknya. Mereka adalah surganya, dan dia akan menjaga istana ini dengan segala kekuatannya. Siapapun tidak berhak mengambil surganya itu.

Adam mengecup kening Dara. Sebenarnya dia ingin bertanya pada istrinya itu, kenapa dia mendadak menangis dan ketakutan dan juga bertanya tentang perasaannya, namun Adam mengurungkan niatnya, dia hanya ingin Dara kembali tidur karena malam masih larut.

“Sudah tenang, Sayang?” suara Adam memecahkan keheningan itu.

Dara mengangguk, lalu dia tersenyum menatap suaminya itu. “Mas Adam, maafkan aku, ya!”

“Ada apa, Sayang?”

“Aku memang bukan istri yang sempurna, dan aku juga bukan ibu yang baik untuk Suri dan Kai. Maafkan aku jika aku banyak kurangnya selama ini. Tolong katakan saja apa yang harus aku lakukan, aku tidak ingin kalian berpaling dan membuangku.”

Kedua alis Adam terangkat sempurna, dia merasa ucapan Dara malam ini terasa aneh. Kenapa istrinya itu mengatakan hal yang tidak masuk akal?

“Kamu adalah istri dan ibu yang luar biasa, Sayang. Kami sangat mencintaimu dan bangga padamu, jadi kenapa kamu harus risau?”

Dara tersenyum dan dia pun menangis lagi. Dara hanya menundukan wajahnya, dia tidak tahan menatap tatapan hangat Adam.

Adam mengangkat dagu istrinya itu. “Jangan menangis, Sayang! Jika kamu tadi bermimpi buruk, itu hanya mimpi dan tidaak akan nyata. Kami sangat mencintaimu dan sangat membutuhkanmu.” Pria itu tersenyum dan mengecup bibir Dara singkat, “Kita tidur, ya! Besok bukankah kamu harus pergi ke Singapura? Kamu bilang padaku untuk bangun lebih awal.”

Dara mengernyit, dia tidak ingat apa-apa. “Ke Singapura? Untuk apa?”

“Besok kamu memang ada peresmian gerai baru di sana, kamu lupa mau buka cabang baru di sana?”

“Cabang baru? Itu... bukankah sudah lewat?”

Adam menatap Dara tak mengerti. “Besok baru peresmiannya, Sayang. Kamu benar-benar lupa?”

“Itu tanggal 7 Maret kan?”

“Iya, besok.”

“A-apa? B-besok tanggal 7 Maret?” Dara terkejut.

Adam semakin tak mengerti karena istrinya berbicara asal. “Sayang pikir besok tanggal berapa?”

“Sekarang bulan Desember, kan?”

“Apa? Sayang... kamu kenapa sampai lupa tanggal dan bulan?” Adam menggelengkan kepalanya, lalu dia mengambil ponselnya yang ditaruh di atas nakas dan langsung menunjukkan waktu. “Lihat, kamu percaya sekarang itu masih tanggal 6 Maret?”

Dara tidak langsung menjawab. Dia melihat layar ponsel suaminya. Lalu, dia memeluk suaminya erat. Air matanya pun tumpah lagi.

Adam semakin tidak mengerti dengan kelakuan istrinya malam ini. Tapi, Adam membuarkannya, dia hanya ingin memeluk Dara agar istrinya itu bisa tenang kembali.

Dara hanya menangis dalam pelukan suaminya, dia merasa Tuhan sedang memberinya keajauban. ‘Tuhan, terima kasih atas kesempatan kedua ini. Aku tidak akan menyia-nyiakannya!’ batinnya dalam hati.

***

“Bunda!”

Dara menatap anak kembarnya yang terkejut karena melihatnya pagi ini. Wanita itu menyiapkan sarapan untuk Kai dan Suri. Dia tersenyum dan meletakkan roti tawar di atas piring keduanya.

“Ini cukup tidak untuk cokelatnya?” Dara malah bertanya balik.

Kai dan Suri tidak menjawab pertanyaan bundanya, keduanya saling menatap satu sama lainnya dengan takjub. Keduanya tidak menyangka bahwa mereka bisa melihat pemandangan yang sangat langka di pagi hari.

Bundanya ada di rumah? Menemani mereka untuk sarapan? Apa ini mimpi?

Dara tertegun menatap kedua anak kembarnya yang melamun. Dia langsung menghampiri Kai dan Suri dan mengecup pipi kedua anaknya itu. “Selamat pagi, kesayangan Bunda... “

Kai dan Suri tersentak, keduanya pun tersenyum lebar.

“Bunda, nggak kerja?” tanya Suri dengan polosnya.

“Hmm... Bunda masih kerja, Sayang.”

“Lho kok masih di sini?” Suri menatap bundanya dengan heran.

“Kenapa? Suri tidak suka kalau Bunda masih di rumah sepagi ini?”

Suri langsung menggelengkan kepalanya. Dia langsung memeluk bundanya erat. “Suri senang, Bunda. Suri kangen sekali sama Bunda,” balasnya pelan.

Deg!

Hati Dara tentu saja sakit mendengar jawaban anaknya itu, dia pun baru menyadari bahwa selama ini dia tanpa sadar mengabaikan kerinduan kedua anaknya. Dia pikir, kedua anaknya baik-baik saja, tapi ternyata kedua anaknya yang masih berusia 6 tahun ini masih butuh sosok ibu. Hatinya pun perih, sungguh dia tdak menyadarinya sama sekali.

Dara langsung tersenyum dan membelai lembut puncak kepala Suri. “Maafkan Bunda, ya! Kemarin Bunda terlalu sibuk, tapi mulai pagi ini dan seterusnya... Bunda pasti akan usahakan selalu duduk di meja makan menemani kalian.”

“Bunda janji?” tanya Suri tak percaya.

“Bunda, nggak bohong, kan?” timpal Kai.

Dara memgangguk menatap anak kembarnya itu. “Bunda pasti akan menepati janji ini!”

Suri dan Kai bersorak bahagia, keduanya memeluk bundanya dan mencium pipi Dara. “Bunda itu hebat! Kami sayang sama Bunda!”

“Ya, itu harus! Kalian hanya harus sayang sama Bunda!” tukas Dara dengan mimik wajah yang terlihat serius.

Di sisi lain, Adam menatap pemandangan yang tak biasa. Dia pun mematung melihat ketiganya berpelukan. Adam tersenyum, dia merasa terharu karena Dara akhirnya bisa menyempatkan waktu menemani anak-anak mereka untuk sarapan pagi.

“Terima kasih, Sayang,” lirih Adam tersenyum. Baru saja dia mau menghampiri ketiganya di meja makan, ponselnya berdering. Dia mengernyitkan keningnya saat tahu siapa yang menghubunginya sepagi ini.

Dengan langkah hati-hati, Adam pergi mencari tempat yang agak menjauh dari ruang makan. Dia menerima panggilan itu di dekat kolam renang.

“Iya, ada apa Sarah?”

“Ah, kamu lama sekali mengangkatnya,” balas Sarah di ujung sana. “Bagaimana? Anak-anak sudah siap? Aku jemput mereka sekarang, ya!”

“Itu tidak perlu.”

“Lho, kenapa? Kamu mau mengantar mereka ke sekolah? Bukankah kamu ada meeting pagi ini?”

“Bukan aku yang mengantar anak-anak.”

“Lalu, siapa? Pak Gunardi? Kamu membiarkan anak-anak hanya dengan sopir?”

“Bukan. Anak-anak ada Dara yang mengantarnya pagi ini.”

Jawaban dari Adam membuat suasana hening sejenak. “A-pa? Dara? Dia ada di rumah sepagi ini? Bukankah dia harus pergi ke Singapura?”

Baru saja Adam mau menjawabnya, suara Dara pun langsung memanggilnya dengan mesra.

“Mas Adam, kamu di sini ternyata.” Dara tersenyum dan menghampiri suaminya yang sedang menerima telepon.

Adam tertegun, dan dengan refleks dia memutuskan panggilan selulernya. “Ada apa, Sayang?” tanyanya.

“Mas Adam sedang menelepon siapa?”

“Ini staff di kantor, dia bertanya masalah meeting pagi ini,” balas Adam. Dia terpaksa berbohong karena tidak mau nanti Dara malah salah paham.

“Oh... aku sama anak-anak mau berangkat, Mas. Mau pamit.”

Adam mengangguk, dia langsung merangkul istrinya untuk menemui anak-anak mereka yang sudah menunggu.

Namun, di sisi lain... Dara merasa aneh dengan gelagat suaminya. Apa benar yang menghubungi Adam itu adalah hanya salah satu staff di perusahaan suaminya?

***

Bab 3

Dara tersenyum melihat kedua anaknya yang terus saja berkicau sepanjang jalan. Dia terus saja konsentrasi dengan kemudinya. Rasanya sudah sangat lama... mungkin sangat jarang baginya untuk mengantar si kecil ke sekolah. Dara terlalu sibuk dengan bisnis kecantikannya, apalagi produk skincare-nya sangat booming sampai ke negara tetangga.

Waktu untuk anak-anak pun otomatis sangat berkurang. Setiap hari hanya sibuk memikirkan peluasan bisnisnya di Asia.

“Bunda, nanti sore jemput kami, kan?” tanya Kai.

“Hmm... nanti Bunda lihat dulu jadwalnya ya, Nak.”

“Oh, oke. Kalau Bunda sibuk nggak apa-apa, nanti Kai diantar sama Tante Sarah saja,” balas Kai.

Kening Dara mengernyit saat Kai mengatakannya. “Tante Sarah? Kai dan Suri selalu pergi sama Tante Sarah, ya?”

“Iya. Kemana-mana kita selalu diantar sama Tante Sarah. Kan Bunda yang bilang kalau hanya Tante Sarah yang bisa menggantikan Bunda.” Kai menjawabnya dengan polos.

Deg!

Jawaban Kai tadi membuat hati Dara tidak karuan, dia sampai tidak menyadari bahwa wanita lain bisa menggantikan posisinya.

Tidak! Dara tidak akan membiarkan posisinya digantikan oleh siapapun! Dara tidak akan pernah mengizinkannya!

“Kamu memangnya pulang sekolah mau kemana?” tanya Dara. Dia mencoba bicara dengan tenang.

“Mau menjenguk Revan, Bunda. Revan sudah tiga hari tidak masuk sekolah,” balas Kai.

“Bunda saja yang antar kalau begitu, nanti sore Bunda yang jemput kalian.”

“Bunda mau jemput?” Kai tidak percaya.

“Iya, kebetulan Bunda tidak sibuk hari ini.”

Kedua mata Kai langsung berbinar. “Yes! Nanti aku bisa tunjukkan pada teman-teman kalau aku punya bunda yang perhatian dan luar biasa!”

Kedua mata Dara menyipit. “Kenapa memangnya, Nak?”

Kai tidak langsung menjawab, suasana dalam mobil hening sejenak.

“Karena teman-teman bilang kalau Bunda tidak sayang sama kami lagi,” timpal Suri dengan polosnya.

“Kenapa teman-teman kalian mengatakannya seperti itu?”

“Karena setiap sekolah mengadakan acara, Bunda tidak pernah hadir. Ayah... hanya beberapa kali dan itu selebihnya kami hanya ditemani Tante Sarah,” balas Suri.

Hati Dara remuk mendegar jawaban anaknya. Dia mencoba menghela napas dalam-dalam agar hatinya kembali tenang. “Mulai saat ini, kalau sekolah kalian ada acara, Bunda lah yang akan menemani kalian! Jangan bersedih lagi!”

“Kami sangat sayang sama Bunda!” si kembar membalasnya dengan kompak.

“Tentu! Harus itu!” balas Dara tersenyum.

Wanita itu langsung parkir di halaman sekolah. Dan turun dari mobilnya. Tepat saat dia menggandeng tangan si kemnbar. Semua orang terlejut menatapnya.

Dara Kahiyang, wanita nomor satu yang saat ini diperbincangkan ada di sini? Apa mereka tidak salah lihat?

***

Sarah mengernyitkan kening saat tadi Adam mengatakan kalau Dara lah yang akan mengantarkan kedua anaknya ke sekolah. Bukankah Dara selalu tak pernah ada waktu? Kenapa adiknya itu malah mendadak bisa meluangkan waktu pagi ini?

Sarah penasaran, dia mencoba mengecek jadwal Dara, dan benar hari ini harusnya Dara menghadiri cabang baru di luar kota, tapi kenapa dia malah batal ke sana?

“Ada apa? Apa ada sesuatu?” tanya Sarah bergumam.

Lantas tanpa pikir panjang, Sarah langsung menghubungi Adam. Tak butuh lama, pria itu mengangkat teleponnya.

‘Halo, Sarah. Ada apa?”

“Kamu sedang sibuk?”

“Iya, aku nanti ada meeting pagi. Paling 15 menit lagi dimulai,” balas Adam. “Ada apa?”

“Nggak. Aku hanya ingin tahu kenapa Dara mendadak membatalkan pergi ke luar kota? Apa ada masalah?”

“Hmm.. aku juga tidak tahu, tapi aku senang karena dia mau mengantar anak-anak, tadi Kai dan Suri sangat happy karena bundanya mau antar mereka.”

Sarah terdiam, dia mulai memikirkan hal yang aneh-aneh. Perubahan mendadak Dara tentu saja membuat dia bertanya-tanya.

"Sarah...”

“Iya, ada apa?”

“Ada yang lain? Kalau tidak ada, aku tutup teleponnya, ya! Aku mau diskusi dulu dengan sekretarisku,” kata Adam.

“Iya.”

Panggilan telepon diakhiri. Sarah langsung menghela napas panjang. Dia masih penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan Dara. Sebab, yang Sarah tahu kalau Dara adalah wanita yang gila kerja, dan juga perfeksionis, bagaimana bisa wanita itu membatalkan peresmian cabang barunya di luar kota?

Pasti ada rahasia di balik sikap Dara dan Sarah harus tahu! Wanita itu pun langsung mengirim pesan WhatsApppada adiknya itu.

Sarah: Dara, kamu dimana? Kamu beneran antar anak-anak?

Tak terlalu lama menunggu, Dara pun membalas pesan dari Sarah.

Dara: Iya, Kak. Aku yang mengantar anak-anak ke sekolah.

Sarah: Wah, senangnya... pasti anak-anak happy.

Dara: Tentu... anak-anak pasti lebih happy jika ibunya lah yang mengantar. Tidak ada yang bisa menggantikan peran ibu, hehehe.

Deg!

Sarah merasa Dara seperti menyindirnya secara halus, apa hanya halusinasinya saja atau tidak, tapi dia beranggapan Dara sengaja mengetik balasan pesan seperti itu.

Sarah: Hmm... tapi, anak-anak tahu kamu sibuk karena untuk mereka juga. Kamu pasti jadi bunda yang paling hebat di mata mereka. Kalau kamu memang sangat sibuk, jangan dipaksakan. Ada Kakak, biar kakak yang membantumu untuk menjaga mereka.

Tidak ada balasan, Sarah hanya menatap layar smartphone-nya yang hanya centang biru, itu artinya Dara sudah membacanya. Tapi, kenapa adiknya itu tidak membalas pesan darinya?

***

“Ini Dara Kahiyang, ya?”

Suara itu membuat lamunan Dara buyar, dia langsung tersenyum dan mengangguk sopan pada wanita paruh baya yang menyapanya.

“Ah, ternyata benar! Cantiknya, akhirnya saya bisa bertemu dengan wanita yang selalu jadi trending di media sosial”

Dara hanya tersenyum, dia tidak tahu kalau dirinya ternyata selalu dibicarakan.

“Ah, maaf kalau lancang. Nama saya Mey, saya di sini lagi antar cucu saya. Satu kelas juga sama Kai dan Suri.”

Dara mengulurkan tangannya. “Salam kenal, Bu Mey. Saya Dara, bundanya Kai dan Suri. Senang berkenalan dengan Anda.”

Mey langsung tertegun. Dia takjub karena wanita yang ada di hadapannya bukan hanya terkenal, cantik, tapi juga tutur katanya sangat lembut! Benar-benar sempurna! Siapapun pasti iri pada sosok Dara.

“Ah, ternyata selain cantik wajah, hatinya juga cantik,” puji Mey.

“Bu Mey terlalu memuji berlebihan,” balas Dara.

Lalu, keduanya pun mengobrol dengan asyik, sampai Dara baru menyadari kalau dia harus kembali ke perusahaan karena ada panggilan telepon dari Nurma, asistennya. Setelah itu, dia pun pamit pada Mey dan berjanji akan mengundang wanita itu ke rumahnya.

Dara langsung masuk ke mobilnya, dan saat itu pikirannya pun menerawang jauh. Tentang mimpi buruk itu dan juga tentang kebahagiaan kedua anaknya. Dara sampai mengutuk dirinya sendiri yang hanya sibuk mengejar dunianya, mungkin semua wanita ingin menjadi dirinya, tapi dia lupa selangkah lagi dia berjalan, maka surganya akan terlepas. Bagi, Dara surganya itu sempurna saat suami dan kedua anaknya membutuhkannya.

“Aku akan menebusnya, aku akan menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya,” gumam Dara.

Ponselnya berdering, dan itu dari Axel, salah satu orang yang dia tugaskan untuk menyelidiki sesuatu.

“Halo, bagaimana? Kamu sudah mendapatkan informasi yang saya minta?”

“Sudah, Bu. Apa kita perlu bertemu?”

“Besok jam 9 pagi, saya tunggu di kantor,” balas Dara.

“Siap.”

Panggilan berakhir.

Dara menghela napas pendek, mulai pagi ini, dia akan memperbaiki semuanya, memperbaiki benang kusutnya.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED